[Mini Series] Mr. and Mrs. Huang – Chapter 2

i

Mr. and Mrs. Huang

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

SNSD Sooyoung || EXO-M Tao || SNSD Yuri || EXO-M Kris

EXO-K Suho || SNSD Sunny || 2NE1 CL || CN Blue Yonghwa || TVXQ! Changmin

Super Junior Siwon || f(x) Sulli

Length : Mini Series || Rating : PG-15 || Genre : Romance, Friendship, Marriage Life

Disclaimer :

The casts are not mine, but the plot is truly mine

So, don’t dare to take it without my permission

Inspired by :

Mr. and Mrs. Smith (film) and Dating Agency : Cyrano (K-drama)

Warning!

Age Manipulation!

Note :

Sebenernya, aku udah terlanjur janji buat post ff ini beberapa hari yang lalu. Tapi, karena penyakitku nggak bisa diajak kompromi dan aku masih harus ikutan reuni keluarga dadakan, akhirnya publishnya harus diundur beberapa hari /bow/

Aku putusin buat update ff ini duluan, karena banyak yang minta ff ini buat di-update duluan.

Yang mau baca ff ini, aku saranin dengerin Crazy Love-nya DBSK. Sumpah, asyik banget. Aku aja nulisnya sambil jejingkrakan (emangnya bisa? -_-) Yah, intinya begitulah -_-v

Oke, tanpa banyak bicara, aku ucapkan,

Selamat membaca ^^

.

we do have some secrets

-Mr. and Mrs. Huang-

.

Perjanjian Pernikahan

1. Huang Zhi Tao bersedia membantu Choi Sooyoung dalam bentuk apapun tanpa meminta balasan sedikitpun selama terikat dalam pernikahan.

2. Karena pernikahan ini tidak didasari cinta, maka Huang Zhi Tao dan Choi Sooyoung tidak diperbolehkan untuk melakukan kontak fisik yang berlebihan. Kontak fisik hanya diperbolehkan jika dihadapan keluarga atau khalayak banyak.

3. Huang Zhi Tao dan Choi Sooyoung wajib membuat pernikahan ini nyata di hadapan umum.

4. Karena pernikahan ini tidak didasari cinta, maka Huang Zhi Tao dan Choi Sooyoung berhak menjalin hubungan asmara dengan orang lain di luar sana, namun hubungan ini tidak boleh diketahui oleh pihak-pihak lain.

5. Jika salah satu pihak telah mendapatkan pendamping hidup baru, maka kontrak pernikahan ini berakhir dan terjadilah perceraian. Hal ini sama sekali tidak bisa diganggu gugat.

6. Pernikahan ini bisa tetap berlanjut hanya jika kedua pihak yang menyetujuinya.

Tertanda,

Huang Zhi Tao dan Choi Sooyoung

Aku hanya bisa mendesah panjang setelah membaca surat perjanjian yang telah kubuat bersama Tao. Ah, sebenarnya, sejak tadi pun aku sudah menghela nafas beberapa kali. Perjanjian yang telah kutulis dengan Tao sangatlah konyol. Aku tak pernah membayangkan memiliki pernikahan semacam ini. Tapi, mau bagaimana lagi? Ini adalah satu-satunya jalan yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan keluargaku? Kalaupun aku bekerja, aku tak yakin jika aku berhasil membantu keluargaku dalam waktu dekat. Mungkin, perusahaan keluargaku malah semakin mudah runtuh.

Ah ya, aku belum bercerita, ya?

Well, akhirnya aku sudah menikah dengan Tao, sekitar 2 minggu yang lalu. Pernikahan tersebut berlangsung sangat cepat, sejak hari kami membuat kesepakatan ini. Pernikahan yang digelat pun tidak terlalu mewah, meski ini adalah pernikahan antara keluarga Huang dan keluarga Choi, dua keluarga yang cukup terkenal (begitu kata para media). Hal ini karena Tao yang tak menginginkan kemewahan, padahal ibunya sangat menginginkan pernikahan yang serba mewah. Entahlah, dari hal itu (dan juga banyak hal lainnya), aku mencium ketidakharmonisan hubungan antara Tao dan keluarganya. Kurasa, Tao yang tidak menyukai keluarganya sendiri. Dan berdasar keputusan Tao tersebut, aku hanya bisa menyetujuinya. Selain kenyataan bahwa Tao adalah calon suamiku, fakta bahwa ia adalah penyelamat hidupku membuatku harus patuh padanya.

Semenjak resmi menikah, Tao memutuskan untuk membeli sebuah apartemen untuk kami tinggali berdua (hal ini juga membuatku berpikir bahwa Tao ingin menjauh dari keluarganya). Sepertinya, Tao memang sengaja membeli apartemen dengan 3 kamar tidur. Ya, satu kamar tidur untuknya, satu kamar tidur untukku, dan satu kamar tidur yang digunakan sebagai kamar tamu. Dan aku cukup heran, kenapa Tao justru mempersilakanku untuk menempati kamar utama? Hei, Tao kan, yang membeli apartemen ini! Tapi setiap kali kutanya, dia justru menyahut dengan jawaban seperti ini, “Kau mau, atau tidak? Kalau tidak, silakan tidur di ruang tengah.” Aish, pria itu benar-benar menyebalkan!

Ah, meski kami tidur di kamar yang berbeda, namun sesuai kesepakatan kami, kami harus tidur di kamar yang sama, yaitu di kamarku, jika ada anggota keluarga kami yang menginap. Dengan catatan, aku tidur di ranjang, dan Tao tidur di sofa yang terdapat dalam kamar utama. Yah, kupikir, Tao adalah pria yang pengertian, hanya saja, caranya mengekspresikannya selalu salah sasaran dan membuatku semakin jengkel padanya.

Aku melirik ke jam dinding yang menggantung di ruang tengah, dari ruang makan yang sedang kutempati saat ini. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 sore tepat. Pada jam seperti ini, biasanya Tao sudah pulang dari pekerjaannya. Dan sebagai kewajibanku, aku akan menyiapkan makanan untuk makan malam kami.

Oh ya, sesungguhnya, aku pun masih penasaran dengan pekerjaan Tao. Selama ini, Tao selalu tutup mulut mengenai pekerjaannya. Mengingat bahwa ia adalah satu anggota keluarga Huang, mungkin aku bisa menebak bahwa Tao bekerja di salah satu perusahaan yang dimiliki keluarga Huang. Namun, jika melihat hubungan Tao dengan keluarganya yang tak cukup baik, sepertinya, Tao tidak bekerja disana. Lagipula, pekerjaannya pun tidak terlihat seperti orang sibuk. Ia bekerja seperti pegawai kantor biasa, berangkat pukul 8 pagi dan pulang pukul 5 sore. Sesampainya di rumah, ia juga terlihat santai. Bahkan, ia sering menghabiskan waktu untuk menonto TV bersamaku.

Aish! Kenapa aku harus mengingat momen-momen saat kami hanya berdua? Ah, lagipula, kami tidak pernah melakukan apa-apa selain menonton TV bersama, sarapan dan makan malam bersama, atau sekedar mengobrol di ruang tengah. Sungguh!

CKLEK!

“Aku pulang!”

Aku nyaris saja terjungkal dari kursi yang kududuki karena kaget dengan suara Tao. Aduh, berapa lama aku melamun? Aku bahkan belum memanaskan makanan yang sudah kumasak tadi. Aish, Choi Sooyoung pabbo!

“Apa yang kau lakukan?”

Aku melirik ke arah Tao.

Tatapan pria itu seperti sedang bertanya-tanya dan penuh keheranan.

Memangnya, apa yang sedang kulakukan, huh? Ya Tuhan! Aku baru sadar, kalau tanganku terangkat ke atas sambil memukul-mukul pelan kepalaku sendiri. Hah, bagaimana aku bisa bertingkahsebodoh ini di hadapan Tao, sih? Aku pun segera menurunkan tanganku sambil menunjukkan cengiran khasku. “A-aniyo. Aku hanya merasa bodoh, karena lupa belum memanaskan makanan untuk kita,” balasku malu-malu.

Tao memalingkan wajahnya. Namun, aku bisa melihat bahwa ia menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman kecil. “Bukannya kau selalu bodoh, Adik kecil?” tanyanya setengah menyindirku. Ia kembali menatapku. Kali ini, ia menunjukkan seringaian usil di wajahnya.

Aku hanya bisa memberengut kesal. Aku malas meladeni ucapannya. Jadi, aku memutuskan untuk berlalu ke dapur untuk segera memanaskan masakanku. Namun, baru 2 langkah, tanganku sudah dicekal.

“Kau mau kemana?” Suara Tao kembali terdengar.

Aku membalik tubuhku sambil menghentakkan cengkraman tangan Tao pada pergelangan tanganku. “Aku ingin ke dapur, memanaskan makanan,” jawabku ketus. Aku pun kembali mengambil langkah, ketika Tao kembali bersuara.

“Kita makan di luar saja.”

Aku menghentikan langkahku dan kembali membalik tubuhku menghadapa Tao. “Apa?”

“Kita makan di luar saja. Aku akan mentraktirmu,” tegas Tao.

Aku melongo. Apakah Tao tidak salah bicara? Dia ingin makan di luar? Dan mengajakku ikut serta?

Suara Tai membuyarkan lamunanku. “Jangan melongo begitu. Aku akan segera mengganti pakaianku. Dan kita akan segera berangkat,” ucap Tao ringan, lantas berjalan meninggalkanku, menuju kamar tidurnya.

Aku masih terpaku di tempatku.
Kenapa aku berpikir, seolah Tao sedang mengajakku berkencan, ya?

.

Tao memelankan laju mobilnya, ketika kami sudah memasuki kawasan downtown Seoul yang dipenuhi dengan kendaraan lain dan para pejalan kaki. Mata Tao memandang ke sekeliling, berusaha mencari lokasi yang masih bisa digunakan untuk memarkir kendaraannya, sambil bergumam, “Ayo, ayo, aku mencari tempat yang kosong.”

Aku tertawa kecil melihatnya. Tingkahnya benar-benar seperti seorang anak kecil yang sedang mengucapkan harapan ketika ada bintang jatuh melintas di hadapannya. Aku pun mengikutinya, mencari tempat kosong yang bisa digunakan untuk parkir. “Nah, itu dia!” Refleks, tanganku meraih lengan Tao dan menggoyangkannya. Jari telunjukku mengarah pada salah satu tempat yang kosong di tepi jalan.

“Ah, iya, iya!” Tao pun nampak semangat, seolah baru saja menemukan harta karun. Ia pun segera mengemudikan mobilnya menuju arah yang kumaksud.

Aku menunggu Tao yang sedang memarkirkan mobilnya, sambil mengecek ponselku. Ah, ternyata ada satu pesan masuk dari Chaerin.

Sooyoung-aa! Kau benar-benar setuju untuk bekerja dengan Cyrano, kan?

Jika iya, kau bisa datang ke kantor kami besok, pukul 7 pagi. Kutunggu ^^

Aku terpekur sejenak. Ah iya, Tao memang sudah pernah setuju bahwa aku akan bekerja. Hanya saja, aku belum membicarakannya lagi, setelah kami menikah. Hm, bagaimana, ya? Bagaimana kalau Tao tidak menyetujuinya? Ah, tapi kan, dia sudah sepakat untuk membantuku, apapun yang kumau. Hal ini juga termasuk sebagai bantuan, bukan?

“Kau tak ingin makan, heh?” Suara jengkel Tao membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh ke arahnya. Kulihat, dia sudah mendekatkan wajahnya ke arahku, memasang tampang terjengkel yang pernah kulihat. “Eh, iya, iya, aku mau makan kok!” balasku cepat sambil menyeringai.

Tao mendengus pelan. “Dasar perut karet,” gumamnya pelan. “Ayo turun.” Dan tak lama, ia sudah membuka pintunya dan melompat turun dari mobil dalam gerakan yang cukup cepat.

Rasa marahku karena dijuluki ‘perut karet’ itu pun mendadak musnah, karena rasa takjub akan gerakannya itu. Kupikir, tubuhnya sangat lentur dan fleksibel.

Hei, hei, bukankah Tao lebih pantas disebut sebagai manusia karet? Hahaha~

.

“Tao~” Aku memanggil namanya, ketika aku sudah menyelesaikan makan malamku dan meletakkan sendok dan garpuku di samping piring. Mataku menatap ke arahnya yang masih asyik menikmati makanannya. Aish, dia sudah mengejekku sebagai perut karet, lantas kenapa dia justru yang terlihat lahap makan, eoh?

“Urm~” Tao menyendokkan makanan ke mulutnya lagi, lantas mendongak menatapku. Pipinya itu menggembung, karena makanan yang memenuhi rongga mulutnya. “Akda appah? (ada apa?)” tanya Tao susah payah.

Aku mencibir pelan. “Kenapa kau seperti anak kecil, eoh? Habiskan dulu makanan dalam mulutmu, lalu bicaralah padaku!” perintahku. Meski begitu, dalam hati, aku tertawa kecil melihatnya. Jarang sekali, aku melihat sisi lain dari Tao seperti ini. Selama kami makan di rumah bersama, Tao tak pernah terlihat sekonyol ini.

Tao mengangguk sekilas, lantas segera mengunyah makanannya.

“Hati-hati, kau bisa tersedak,” kataku mengingatkan lagi.

Tao pun berhasil menelan makanannya dan segera meminum air putih miliknya. “Hm, ada apa?” Kini, raut wajahnya yang lucu itu berubah menjadi datar dan dingin seperti biasa.

“Tentang pekerjaanku,” ucapku.

Tao terdiam, belum merespons.

Aku menundukkan kepalaku, sementara jemarik saling bertautan satu sama lain di bawah meja. “Kau benar-benar mengijinkanku untuk bekerja, bukan?” tanyaku pelan. Mataku mencuri pandang ke arahnya, melalui poni yang agak menutup mataku.

“Tentu saja. Hal itu sudah termasuk dalam perjanjian, bukan?” balasnya santai.

Aku mengangguk sekilas, meski kepalaku masih belum terangkat, karena aku masih belum berani menatap wajahnya ketika berbincang seperti ini. “Kalau begitu, aku akan mulai bekerja besok pagi,” jelasku.

“Hm.” Bisa kulihat, Tao mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia justru kembali menikmati makanannya.

Aku terdiam menatapnya dari celah rambutku. Hanya begitukah responsnya? Ia tak ingin bertanya lebih jauh tentang apa pekerjaanku? Atau bagaimana aku berangkat bekerja besok pagi? Atau berapa lama aku bekerja? Bagaimana pekerjaan rumahku jika aku harus bekerja?

Ah, sepertinya, aku memang tak diperbolehkan berharap agar Tao memperhatikanku sedetail itu. Tao adalah pria yang cuek dan tak terlalu perhatian pada orang lain. Lagipula, siapa aku bagi Tao? Hanya istri kontraknya, kan?

Hahaha, seharusnya, kau menyadari itu, Choi Sooyoung~

.

Maaf, aku harus berangkat pagi sekali hari ini.

Dan kau, berhati-hatilah selama bekerja. Aku tak ingin dibunuh oleh Oppa-mu itu, jika aku sampai membiarkanmu celaka. Mengerti?

Pria yang tampan,

Huang Zhi Tao

Kenapa pria itu selalu berhasil menjungkir balikkan perasaanku? Semalam, aku kesal karena dia tak cukup baik dalam merespons ucapanku. Lalu, pagi ini, dia justru menulis catatan kecil ini untukku. Dan sialnya, catatan ini justru menunjukkan bahwa pria itu memiliki rasa perhatian padaku, sehingga membuat hatiku semakin berbunga.

Tanganku melipat kertas kecil itu dan mendekapnya di depan dadaku. Duh, aku kelihatan seperti remaja yang sedang jatuh cinta? Ya, jatuh cinta, namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Menyedihkan~

Tak apalah. Setidaknya, catatan ini bisa membuatku semakin bersemangat untuk menjalani hari ini. Lagipula, hari ini adalah hari pertamaku bekerja, bukan?

Ah, Ya Tuhan! Kenapa aku sampai lupa? Aish, ini semua gara-gara pria itu!

Aku pun segera berlari kembali ke kamarku untuk mandi dan mempersiapkan diri.

Yosh! Fighting, Choi Sooyoung!

.

“Semuanya! Perkenalkan, dia adalah Choi Sooyoung!” Chaerin merangkul tubuhku dari samping dan memperkenalkanku pada seluruh rekan di Cyrano dengan riang gembira.

Aku tersenyum canggung. Aku memang dikenal sebagai gadis yang ramah dan periang, tapi kadang, aku juga memiliki sisi gugup seperti ini. Apalagi, ini adalah lingkungan kerjaku, yang menentukan karirku nanti. Yah, meskipun Chaerin telah menjanjikan segala yang terbaik untukku (mengingat bahwa Cyrano adalah milik salahsatu keluarganya), namun aku akan tetap berjuang sesuai dengan kemampuanku. “Annyeong!” sapaku seramah mungkin. Meski aku yakin, seluruh orang bisa melihat bahwa aku sangat gugup.

“Annyeong!”

“Annyeong, Nona Choi!”

“Wah, selamat datang di Cyrano!”

Aku merasa sangat senang, karena seluruh rekan di Cyrano yang berada di hadapanku saat ini nampak begitu ramah dan menerima kehadiranku. Yah, bukankah orang-orang yang bekerja di agensi semacam ini memang harus terlihat ramah dan mudah akrab dengan banyak orang? Ah, aku tahu alasan kenapa Chaerin mempekerjakanku disini. Pasti karena dia mengenalku sebagai gadis yang periang dan ramah.

“Baiklah, aku ingin mengajak Sooyoung ke ruangan bos untuk tugas pertamanya, oke?” Chaerin berpamitan pada rekan kerja lainnya, lantas menyeret tubuhku menjauh.

“Ne, ne!”

“Choi Sooyoung, fighting!”

Aku merasakan atmosfir yang menyenangkan di Cyrano. Sepertinya, aku akan betah bekerja disini.

Namun, kalimat yang meluncur dari mulut Chaerin justru membuatku kalang kabut.

“Kau memang sudah menikah, tapi aku harap, kau bisa merahasiakan statusmu ini dari karyawan lain apalagi bos, mengerti?”

.

“Kau masih single, kan?”

Ah, pertanyaan itu muncul juga, kan? Aku hanya terdiam. Meski Chaerin berulang kali menginstruksikan padaku untuk menjaga rahasia statusku yang telah menjadi istri Tao, namun aku masih bimbang. Apakah aku harus berbohong? Atau aku harus mengatakan yang sejujurnya saja? Tapi, aku bahkan tak tahu dengan Tao. Aku tak tahu, apakah dia juga mengatakan statusnya pada rekan-rekan kerjanya? Jika aku berbohong, aku hanya takut jika suatu saat nanti, rahasia ini terbongkar dan membuat banyak orang merasa sakit hati.

“Tenang saja, Sooyoung masih single, kok.” Sebelum sempat memutuskan jawaban, Chaerin justru sudah menjawab pertanyaan yang ditujukan padaku.

Aku pun hanya bisa mengiyakan ucapan Chaerin dengan sebuah anggukan lemah.

Pria bernama Jung Yonghwa yang sedang duduk di hadapanku (dia adalah pimpinan Cyrano) menatap diriku cukup lama. Akhirnya, ia pun menarik nafas dalam-dalam. “Baiklah, kalau begitu. Kau kuterima di Cyrano,” ucapnya. Ia bangkit dari duduknya, lantas mengulurkan tangannya padaku. “Selamat bergabung di Cyrano Agency, Nona Choi.”

Aku pun membalas uluran tangannya, sambil menyunggingkan senyuman kecil. Dalam hati, aku senantiasa merapalkan doa.

Ya Tuhan, lindungi aku selama bekerja di Cyrano.

.

“Hei, hei, siapa gadis itu?”

“Apakah dia murid baru?”

“Wah, dia kelihatan cantik sekali, ya?”

“Ya Tuhan! Lihatlah kakinya yang indah itu! Duh, kapan aku bisa memiliki kaki seindah itu, ya?”

Aku berusaha menulikan pendengaranku. Kepalaku tetap terangkat. Kakiku menapak tanah dengan mantap. Aku tak peduli dengan bocah-bocah SMA yang sedang membicarakan kehadiranku di sekolah mereka.

Ya, hari ini, di hari pertamaku bekerja, aku sudah mendapat tugas untuk mencomblangkan sepasang anak SMA. Client-ku bernama Kim Joonmyeon. Dan karena hal ini, aku juga harus menyamar menjadi murid SMA, yakni SM High School, untuk memudahkan pekerjaanku.

“Berjalanlah yang agak cepat, Choi Sooyoung.” Pria jangkung yang sempat berjalan mendahuluiku itu mendesis pelan. Pria itu bernama Shim Changmin. Dia menyamar menjadi kakak laki-lakiku.

Aku memberengut kesal. “Ne, ne,” balasku dan aku pun mempercepat langkah semampuku, mencoba mengimbangi langkah panjang yang diambil Changmin, karena kaki-kaki pria itu sangatlah panjang. “Memangnya, kita mau pegi kemana dulu, Changmi-”

BRUK!

“AH!”

Karena tak memperhatikan jalanku dan justru memperhatika Changmin yang berjalan di sampingku, tubuhku justru menabrak sesuatu. Aku pun segera menolehkan kepalaku dan melihat apa yang kutabrak.

“Gwaenchanaeyo, Yuri-ssi?”

Aduh! Ternyata, aku baru saja menabrak seorang wanita. “Ah, mianhae, mianhae,” ucapku dengan segera.

Wanita itu menolehkankan kepalanya ke samping. “Ne, gwaenchana, Tao-ssi.”

“Aish, berhati-hatilah, Sooyoung.”

Tunggu dulu. Kenapa aku mendengar nama Tao sedang disebut-sebut? Aku pun mengedarkan pandanganku dengan cepat.

DEG!

Aku melihatnya.

Huang Zhi Tao…

Pria itu sedang berdiri di hadapanku dengan tatapan yang sulit diartikan.

.

“Namanya Lee Sunkyu, Noona. Tapi, aku senang sekali ketika memanggilnya Sunny, karena dia terlihat seperti matahari di mataku. Dia selalu berhasil mencerahkan hariku, bla, bla, bla, dan bla, bla, bla…”

Aku hanya bisa menghela nafas panjang berulang kali. Aku sama sekali tak mendengarkan ucapan-ucapan yang diluncurkan oleh Joonmyeon, client-ku yang sudah duduk manis di hadapanku. Pandanganku justru menerawang ke arah langit-langit kantin yang kukunjungi ini. Aku masih mengingat-ingat kejadian ketika aku menabrak seorang wanita (yang kuduga sebagai guru di SM High School). Kejutan selanjutnya yang nyaris membuatku berhenti bernafas adalah aku bertemu dengan Tao di sekolah ini!

Saat ini, banyak pertanyaan yang muncul di otakku. Apa yang sebenarnya dilakukan Tao di sekolah ini? Apakah di bekerja di sekolah ini? Atau dia hanya sedang berkunjung? Lalu, kenapa Tao harus bersama wanita cantik (dan seksi juga)? Mungkinkah wanita itu adalah kekasih Tao?

ARGH! Kejelasan hubungan Tao dan wanita itu jelas-jelas sangat menyita perhatianku. Ah, apakah aku mulai cemburu?

Tiba-tiba, bayangan wajah Tao terlintas di otakku. Wajah dinginnya yang biasa ditunjukkan padaku itu, mendadak menunjukkan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Keningnya itu berkerut. Matanya itu nampak sedikit lebih sayu dan tatapannya pun tidak terlalu tajam. Sudut bibirnya agak turun.

Tao, apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan?

Aku benar-benar kesulitan menebakmu, Huang Zhi Tao.

.

“Kau sakit? Wajahmu nampak pucat.” Changmin segera mengomentari wajahku, ketika aku sudah masuk ke dalam mobilnya. Sosok Changmin kali ini terlihat lebih ramah dan santai. Aku baru ingat bahwa ekspresinya yang dingin itu hanya sebagai kamuflase.

Aku segera menyentuh wajahku sendiri. “Jeongmal? Wajahku pucat?” tanyaku penasaran. Aku melirik ke arah cermin. Ah, benar juga, wajahku memang terlihat pucat.

“Hu’um.” Changmin mengangguk pelan, sambil melajukan mobilnya, menjauhi SM High School. “Jadi, bagaimana tugasmu hari ini?” tanya Changmin.

“Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Kurasa kau benar, aku memang sedang sakit,” jawabku lemah. Aku tahu, sebenarnya aku sedang tidak sakit. Aku hanya terlalu lelah dengan pikiranku tentang Tao tadi. Syukurlah, Joonmyeon bisa mengerti keadaanku. Aku berjanji padanya untuk bekerja dengan lebih baik besok. Aish, pemuda itu benar-benar sangat pengertian. Andai saja, Tao seperti itu~

“Lalu, bagaimana dengan client-mu? Siapa namanya? Joonmyeon, ya?” tanya Changmin yang masih fokus pada kemudinya.

Aku menyandarkan punggungku dan memejamkan mataku. “Aku sudah meminta maaf padanya atas kinerjaku. Untung saja, dia mau mengerti,” jelasku.

Terjadi hening yang cukup lama di dalam mobil Changmin.

Hingga akhirnya, ponselku pun berbunyi, tanda sebuah pesan masuk. Aku segera membuka mataku dan mengecek pesan tersebut. Dalam diam, aku berharap itu adalah pesan Tao. Yah, siapa tahu, dia ingin menanyakan sesuatu padaku atau apa.

From : Yonghwa

Pergilah ke Starlight Cafe. Ada seorang client yang harus kau temui disana.

Aku menghela nafas panjang. Ternyata, itu bukan pesan dari Tao. Aku segera menepuk pundak Changmin. “Antarkan aku ke Starlight Cafe saja. Yonghwa memberiku tugas tambahan.”

Changmin menoleh sekilas ke arahku. “Kau serius akan kesana? Kalau kau sakit, katakan saja pada Yonghwa. Aku yakin, dia pasti mengerti,” ucap Changmin.

Aku tersenyum kecil. “Gwaenchana.” Dan kembali menyandarkan punggungku dengan mata terpejam.

Yah, setidaknya pekerjaan ini bisa menjadi suatu pelarian untukku.

Pelarian dari Huang Zhi Tao.

.

“Apakah Anda Choi Sooyoung?” tanya seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut hitam yang dipotong cepak. Dari wajah yang kuamati, aku menduganya bukan sepenuhnya orang Korea.

“Ne,” jawabku sambil mengerjapkan mataku, karena masih agak bingung. Hm, mungkinkah pria ini adalah client yang dimaksud Yonghwa.

Pria itu tersenyum kecil dan duduk di kursi di hadapanku. “Aku Kris Wu. Aku diminta Yonghwa-ssi untuk menemui gadis bernama Choi Sooyoung disini,” jelas pria yang mengaku bernama Kris Wu itu.

Aku mengangguk paham. Aku percaya saja padanya. Lagipula, pria itu terlihat baik-baik dan bukan tipikal penjahat. Aku juga malas untuk berpikir banyak, karena pikiranku benar-benar masih dipenuhi oleh sosok Tao. “Ah, ne, aku mengerti,” balasku lirih.

Senyuman yang terukir di bibir Kris itu pun menghilang seketika. “Kenapa kau tampak murung? Wajahmu juga terlihat pucat. Apakah kau sakit?” tanya Kris dengan nada yang cukup cemas.

Aku hanya tersenyum sambil menggeleng pelan sebagai jawabannnya. “Jadi, apa yang bisa kubantu, Kris-ssi?”

Ya Tuhan, dari sekian banyak pria di sekitarku, seperti Changmin, Suho, bahkan Kris, yang terlihat begitu perhatian padaku, kenapa kau justru menjadikan Tao yang cuek itu sebagai suamiku?

.

Chagiya, ajaklah Tao berkunjung ke rumah besok, ne? Umma akan memasak banyak makanan untuknya.

Aku membaca pesan singkat dari ibu Tao ketika berjalan menuju apartemenku. Aku pun merasa bimbang. Karena setahuku, hubungan Tao dan keluarganya tidak cukup baik. Lantas, bagaimana aku bisa menyampaikan pesan ini padanya? Aku yakin, kemungkinan yang terjadi adalah bahwa Tao akan menolak ini. Tapi, aku tak bisa menolak ajakan ibu Tao, karena wanita itu sangat baik dan penyayang.

Tanpa terasa, aku pun sudah berdiri di depan pintu apartemenku. Aku mencoba memutar kenop pintunya dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Apakah Tao sudah pulang? “Aku pulang,” ucapku dengan suara yang agak keras, meski terdengar seperti kaleng yang diseret. Aku pun melepas sepatuku. Mataku memandang ke sekeliling dan mendapati Tao yang sudah duduk di depan TV. Aku pun segera menghampirinya. “Tao, aku…”

BRAK!

Tao menjatuhkan remote TV ke atas meja dengan cukup keras, sehingga menimbulkan suara. Ia tidak menganggap keberadaanku dan justru melenggang pergi menuju kamarnya.

BRAK!

Dan Tao pun membanting pintu kamarnya dengan cukup keras.

Aish, sebenarnya, apa yang terjadi pada pria itu, eoh?

TBC

.

Aloha~

Penulis yang cantik, manis, baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung ini mau minta maaf sama seluruh readers yang pernah aku PHP-in, gegara ff series lama nggak dilanjut atau requestnya lama nggak ditanggapi /bow/ Mumpung ini masih bulan Syawal, jadinya aku mau minta maaf sekalian, kkk~

Gimana Mr. and Mrs. Huang chapter kali ini? Udah muncul chara-chara baru disini. Ada Suho, Yuri, Kris, dan Changmin. Seharusnya, kalian bisa nebak, siapa aja yang bakalan jadi pengganggu hubungan Tao-Sooyoung disini ^^

Dan aku mau ngasih penjelesan. Soalnya ada seseorang yang pernah nanya, kenapa style nulisku di tiap ff itu berbeda. Itu karena disesuaikan dengan genre ff itu sendiri. Kalau ff ini kan, cenderung humor dan ditulis dengan 1st POV, jadinya bahasnya lebih santai. Beda lagi kalau kalian baca ff-ku yang 96 itu. Kalau disitu, bahasanya emang agak selangit gitu /halah/ Yah, soalnya, banyak yang bilang pada suka bahasa yang aku pake disana, soalnya lebih sastra gitulah~

Hehe, sekian penjelasanku.

Don’t forget to leave your review ^^

Anyway, ff mana yang harus aku lanjut dulu? EOL atau Another Paradise? Atau 96? Tell me~

Love,

Jung Minrin

50 responses to “[Mini Series] Mr. and Mrs. Huang – Chapter 2

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s