[3shots Collection] 96 – Broken Past (1st shot)

96-broken-past-jung-minrin-storyline

[3shots Collection]

96 – Broken Past : 1st Shot

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

SNSD Jessica || EXO-M Kris || Hello Venus Yooara

f(x) Krystal || TVXQ! Yunho || Song Yura (OC)

Length : 3shots || Rating : PG-15 || Genre : Romance, Family, Friendship, Sad

Inspired by :

other fanfictions, novels, mangas, movies, and songs

Disclaimer :

The casts are not mine, but the plot is truly mine.

So, don’t dare to take it without my permission

Dedicated to :

SNSD and SONE for 6th Anniversary of SNSD

Thanks to :

Lee Yongmi @ Cafe Poster for the awesome poster :3

Note :

In this part, there are not many Krissica moments. But there are many hints for whole story of 96.

So, please pay attention😉

The rest, happy reading to you all ^^

.

Teaser

.

when I walked away and you just disappeared from this universe

will fate meet us again?

.

Recommended Song : Don’t Go – EXO

.

Fifth Avenue, Manhattan

New York City, United States of America

Kawasan Fifth Avenue, Senin pagi itu nampak sedikit lebih lengang dari biasanya. Padahal, Fifth Avenue seolah tak kenal lelah menyajikan pemandangan keramaian para pejalan kaki yang sibuk berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan terbaik di dunia itu.

Salah satu butik di Fifth Avenue yang biasanya ramai dikunjungi pun nampak agak sepi dan hanya dikunjungi oleh beberapa orang. Para shop assistant yang sedang bertugas pun tidak terlalu kewalahan seperti biasanya saat melayani pelanggan. Bahkan, beberapa di antara mereka nampak bersantai atau sekedar merapikan barang dagangan di butik tersebut.

Dan salah satunya adalah Jessica Jung.

Gadis berambut blonde dengan wajah khas Asia itu justru sedang asyik memandangi layar MacBook-nya. Kedua tangannya menyangga dagunya dan sepasang matanya sama sekali tak berkedip, seolah begitu takjub. Layar MacBook dihadapannya itu sedang menampilkan wajah tampan Shia LaBeouf yang sedang bermain peran dalam film ‘New York, I Love You’. Ia sudah duduk manis di hadapan MacBook-nya selama 30 menit yang lalu hanya untuk menonton salah satu film favoritnya itu. Dan ya, dia selalu dibuat kagum oleh Shia LaBeouf. Itulah sebabnya mengapa matanya sama sekali tak berkedip.

Bahkan, Jessica mengabaikan suasana di sekitarnya. Ia tak ikut membantu karyawan lainnya untuk melayani pembeli atau menata beberapa barang yang dipertunjukkan dalam butik JD Boutique-nama butik tersebut.

“…sica-ya…”

Termasuk mengabaikan sebuah suara berat yang memanggil namanya.

“Jessica…”

“Jessica Jung…”

“JUNG SOOYEON!”

Jessica terlonjak kaget ketika mendengar namanya dipanggil dengan suara yang cukup keras.

Sialnya, suara itu tak hanya mengagetkan Jessica, melainkan juga para shop assistant dan pengunjung JD Boutique-nama butik tersebut.

Jessica mengerjapkan matanya ke arah pria yang sudah berdiri di balik mejanya. “A, eh, Oppa…” gumamnya kikuk.

Pria tampan bermata musang itu mendengus pelan. “Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan, eoh?” tanya pria itu ketus dengan bahasa Korea yang fasih dan aksen yang kental. Wajah pria ini pun memiliki ciri khas Asia, seperti wajah Jessica. Kepalanya melongok untuk mengintip layar MacBook milik Jessica, mencari tahu apa yang sedang ditonton olehnya.

Jessica langsung membanting layar MacBook-nya dengan cukup keras, sehingga tertutup. “Aniyo!” balas Jessica mencoba menutup-nutupinya. Ia tak suka jika urusan pribadinya dicampuri oleh kakak laki-lakinya ini, Jung Yunho. Ia hafal betul tabiat Yunho yang selalu mengejeknya, apalagi jika hal itu berurusan dengan cinta. Jessica memang payah dalam urusan cinta, berbeda dengan Yunho dan adiknya, Krystal Jung. Maka dari itu, hal itu akan semakin mengundang Yunho untuk meledeknya. Apalagi, kalau Yunho mengetahui hobinya yang suka menonton film romantis, padahal ia tak pernah berhasil dalam menjalin hubungan asmara -__-

Yunho menyipitkan mata musangnya, seolah tak percaya pada ucapan adiknya. “Kau sedang menonton yadong, ya?” tebak Yunho asal-asalan.

Jessica melongo untuk sesaat. “Yak, Oppa! Kenapa kau berpikiran kotor seperti itu, eh?” tanya Jessica tak percaya. “Kau tak tahu ya, kalau adikmu ini masih sangat polos, eum?” ucap Jessica sambil menunjukkan puppy eyes-nya.

Yunho mendecih pelan melihat tingkah kekanakan Jessica yang tak pernah berubah, padahal usianya sudah menginjak 24 tahun. Namun, detik berikutnya, ia justru tertawa cekikikan, karena ide untuk menjahili adiknya pun terlintas di benaknya. “Ah iya, aku baru ingat kalau adikku yang polos ini juga tak pernah punya kekasih, ya?” goda Yunho.

Jessica mendengus pelan, lantas mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Ia sama sekali tak menyangka jika ucapannya itu justru menarik Yunho untuk mengusili dirinya lagi. “Aish, berhenti menggodaku, Yunho Oppa,” ucapnya ketus.

Yunho tertawa pelan sambil mengacak rambut Jessica. “Arra, arra,” gumamnya di sela-sela tawanya.

“Jadi, kenapa Oppa menemuiku?” tanya Jessica mencoba mengingatkan Yunho atas tujuannya untuk datang menemuinya di butik ibu mereka. Ya, JD Boutique adalah butik milik ibu Jung bersaudara, atau lebih tepatnya hanya ibu Jessica dan Krystal. Karena sesungguhnya, Yunho adalah saudara seayah Jessica dan Krystal. Meski begitu, Yunho tetap menyayangi istri baru ayahnya dan kedua adiknya itu.

“Ah…” Yunho seolah baru teringat. Tangannya merapikan jas berwarna krem yang dikenakannya dan mulai menjelaskan. “Aku pergi kesini untuk memintamu melakukan sesuatu,” ucap Yunho setengah berbisik.

Jessica pun harus mendekatkan wajahnya ke arah Yunho supaya bisa mendengar suara pria itu. “Apa?” tanyanya dengan suara yang pelan juga.

Kali ini, Yunho mendekatkan bibirnya ke telinga Jessica. Sepertinya, apa yang ingin dibicarakannya adalah suatu rahasia yang tak boleh bocor ke telinga orang asing begitu saja. Padahal, apapun yang dikatakan Yunho pasti menggunakan bahasa Korea. Dan kemungkinan orang-orang di New York memahami bahasa Korea, sengatlah kecil. “Aku ingin kau menemani kekasihku jalan-jalan di New York,” ucap Yunho.

Jessica melongo lagi. “K-kekasih?” Jessica terkejut. Ia menatap Yunho lekat-lekat. Well, Yunho memang selalu bernasib baik dalam menjalin cinta. Namun, yang diketahui Jessica, akhir-akhir ini, Yunho sedang menjomblo.

Yunho mengangguk pelan. “Kau mau, kan?” tanya Yunho nampak penuh harap.

“Tapi, siapa?” tanya Jessica penasaran.

Yunho menyeringai. “Sudahlah. Kau mau tidak?” tanya Yunho sekali lagi. “Aku akan memberimu uang jajan tambahan untuk berbelanja. Bagaimana, bagaimana?” bujuk Yunho.

Jessica nampak menimbang-nimbang sejenak. Meskipun Yunho selalu menjahilinya, tapi Jessica tahu kalau Yunho adalah tipikal kakak laki-laki yang loyal pada adik-adiknya. Maka dari itu, Jessica tak ingin melewatkan kesempatan bagus ini. Namun, ia ingin sedikit bermain-main dengan kakak laki-lakinya ini. “Hm, uang jajan untuk ke Shops at Columbus Circle?”

“HAH?!” Kali ini, Yunho yang dibuat melongo oleh Jessica. Mendengar kata Shops at Columbus Circle meluncur dari mulut seorang gadis adalah sebuah malapetaka bagi para pria. Sekaya apapun pria itu, Shops at Columbus Circle seolah sudah menjadi momok besar bagi pria dan teman baik para wanita. Shops at Columbus Circle selalu berhasil memanjakan pengunjungnya yang sebagian besar adalah para wanita dan tentu saja itu berharga sangat mahal. Dan tentu saja, Yunho pun agak takut dengan hal ini.

“Mau atau tidak?” tanya Jessica dengan suara menggoda.

Yunho berpikir sejenak. Setidaknya, jiwa shopaholic Jessica tidaklah separah Krystal. Jadi, uang yang digelontorkannya pun tidak terlalu banyak. Yah, lebih baik memberikan tawaran ini pada Jessica dibanding pada Krystal, bukan? Yunho pun mendengus pelan. “Baiklah. Uang jajan untuk Shops at Columbus Circle.” Yunho mengulurkan tangannya. “Deal?”

Jessica menyeringai puas. “DEAL!” Ternyata, membalas kejahilan seorang Jung Yunho tidaklah sesulit yang ia bayangkan.

.

Fifth Avenue Starbucks, Manhattan

“Jessica Jung?”

Jessica menatap lekat-lekat ke arah wanita bertubuh tinggi semampai yang berhenti di hadapannya. “Ya?” balas Jessica dengan ragu. Wajahnya menunjukkan raut kebingungan karena ia merasa tak pernah mengenal wanita cantik di hadapannya ini.

“Jadi, kau benar-benar Jessica Jung? Jung Sooyeon, adik dari Jung Yunho?” tanya wanita itu lagi.

Jessica mengerjapkan matanya beberapa kali. “Ya, aku memang adik Yunho. Maaf, tapi kau siapa?” tanya Jessica masih kebingungan. Hari itu, Jessica sedang menikmati kopi paginya di Starbucks Manhattan. Dan tiba-tiba saja, wanita cantik itu menghampirinya dan bersikap seolah sudah mengenalnya. Namun, Jessica sama sekali tak mengenal wanita itu. Hanya saja, meningat wanita ini menyebut nama kakak laki-lakinya, Jessica menduga bahwa wanita ini hanyalah salah satu contoh dari rentetan wanita yang mungkin pernah dikencani Yunho. Apalagi, fisik yang dimiliki wanita ini adalah tipe ideal seorang Jung Yunho. Tubuh tinggi semampai dan sexy, kulit yang berwarna agak gelap, dan wajah Asia. Yah, menurut pengamatan Jessica, hampir seluruh wanita yang dikencani Yunho selalu memiliki darah Asia.

Wanita itu mengulurkan tangannya, mengajak Jessica berkenalan. “Perkenalkan, aku Song Yura,” ucap wanita itu dengan suara yang ramah. Meskipun wajahnya nampak seperti orang Asia, namun bahasa Inggrisnya sangat fasih dan aksen Koreanya tidak terdegar, jauh berbeda dengan Yunho yang sangat payah dalam melafalkan bahasa Inggris.

Jessica mengangguk pelan, meski ia masih belum bisa mendefinisikan siapa wanita ini.

“Hm, bolehkah aku duduk disini?” tanya Yura.

“Silakan,” balas Jessica sambil menunjuk kursi kosong di hadapannya.

Yura tersenyum manis, lantas duduk di kursi yang ditunjuk Jessica.

“Maaf, bisakah kau menjelaskan padaku, bagaimana kau bisa mengenal aku dan Yunho?” tanya Jessica penasaran.

Yura tersenyum kecil. “Aku kenal dengan Yunho. Kami sedang menjalin hubungan yang khusus saat ini,” jelas Yura malu-malu. Bisa dilihat rona merah yang menghiasi pipinya yang bulat dan agak berisi itu. “Dan Yunho sering menceritakan tentang dua adiknya padaku. Dia juga pernah menunjukkan fotomu dan adikmu. Ah, siapa namanya? Krystal, ya?” celoteh Yura.

“Ah, jadi begitu,” komentar Jessica pelan. Dalam hati, Jessica merutuki mulut Yunho yang tak bisa dijaga dengan baik itu. Kakak laki-lakinya itu memang sering mengumbar cerita tentang dirinya dan Krystal pada kekasih-kekasihnya, sehingga hidup Jessica dan Krystal tak bisa tenang. Maklum saja, wanita-wanita itu selalu berusaha menarik perhatian dua adik Yunho supaya bisa menggaet Yunho.

“Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan disini, hm?” tanya Yura. “Apakah kau sedang menunggu seseorang?”

Jessica menggeleng pelan, sambil tersenyum. “Tidak, aku sedang sendiri, kok. Ini memang rutinitasku sebelum membantu pekerjaan di butik ibuku,” jelas Jessica. “Apakah kau tidak ingin memesan sesuatu?” tanya Jessica menawarkan.

“Ah, tidak. Aku baru saja sarapan dengan teman lamaku,” tolak Yura sopan. “Butik ibumu juga berada di kawasan ini? Oiya, ngomong-ngomong, ini daerah apa?” tanya Yura sambil memandang celingukan ke sekelilingnya.

“Ya, butik ibuku berada di kawasan ini, Fifth Avenue,” jelas Jessica.

Yura pun kembali menatap Jessica. “Ah, aku mengerti,” gumamnya pelan. “Maaf, aku memang jarang sekali berkunjung ke New York. Makanya, aku tidak mengenal daerah di kota New York,” jelas Yura.

“Tak apa,” balas Jessica. Jessica pun teringat pada permintaan Yunho padanya mengenai menemani kekasihnya jalan-jalan di New York. Mengingat bahwa Yura masih baru mengenali New York, mungkinkah wanita itu adalah kekasih baru kakaknya?

.

Jung Mansion, Manhattan

“Namanya Song Yura?” Jessica sedang berbincang di ruang tengah bersama Yunho yang baru saja pulang dari kantornya.

Yunho yang hendak melepas sepatu yang dikenakannya itu pun langsung menghentikan kegiatannya dan membungkan mulut Jessica dengan tangannya. “Yak, kecilkan suaramu!” pekik Yunho. “Bagaimana kalau Umma dan Appa sampai mengetahui hal ini, eoh?” tanya Yunho jengkel.

Jessica melepaskan tangan Yunho dari mulutnya. “Aish, baiklah, baiklah,” gerutunya pelan. “Memangnya, kenapa kalau Umma dan Appa mengetahuinya?” tanya Jessica penasaran. Biasanya, Yunho tidak sepanik ini ketika orang tua mereka mengetahui tentang kisah cintanya dengan banyak wanita di luar sana.

Yunho nampak gugup. “Eum, ini karena… karena… karena mereka selalu suka ikut campur dalam urusan cintaku,” jawab Yunho terbata.

Jessica yang menyadari kegugupan Yunho itu pun mengernyit heran. Ada kejanggalan yang ditunjukkan oleh kakaknya.

“Kali ini, aku memang sedang ingin serius dengan wanita itu. Maka dari itu, aku tak ingin Umma dan Appa mengganggu hubunganku dulu,” lanjut Yunho menjelaskan.

Jessica mengangguk paham dan setuju atas ucapan Yunho. Kedua orang tua mereka memang selalu ingin ikut campur dengan urusan anaknya, terutama untuk urusan cinta. Dan jika Yunho ingin serius kali ini, sepertinya gangguan dari orang tua mereka itu memang harus disingkirkan sejenak. Jadi, alasan Yunho memang cukup masuk akal. “Ah, begitu. Aku paham,” gumamnya.

“Jadi, bagaimana menurutmu?” tanya Yunho penasaran.

“Apanya yang bagaimana?” Jessica justru balik bertanya dengan penuh kebingungan.

Yunho mendengus pelan. “Aish, tentu saja tentang wanita itu. Bagaimana pendapatmu?” tanya Yunho sekali lagi.

Jessica menggumamkan kata ‘oh’. “Yah, dia adalah wanita yang menyenangkan dan sepertinya dia berbeda dengan mantan-mantan kekasihmu,” komentar Jessica memberikan pendapat tentang sosok Song Yura.

“Benarkah?” Mata musang Yunho berbinar-binar.

Jessica mengangguk mantap. “Dia nampak sederhana dan tidak berlebihan. Dia juga tidak kelihatan seperti sedang menarik perhatianku, sebagai adikmu, seperti yang dilakukan wanita lainnya,” lanjut Jessica.

Yunho mendesah lega. “Ah, syukurlah. Sepertinya, kali ini, pilihanku tidaklah salah,” gumamnya penuh kelegaan.

“Seepertinya, aku juga harus segera melaksankan tugasmu, Oppa, sebelum wanita itu tersesat di New York dan direbut oleh pria lain,” celetuk Jessica sambil membuka majalah fashion yang terletak di atas pangkuannya.

“Kenapa begitu?”

“Dia sangat buta dengan New York. Dia bahkan tak kenal Fifth Avenue yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbaik di New York, bahkan dunia!” seru Jessica.

“Oh, ya?” Yunho nampak takjub.

“Hm.” Jessica hanya bergumam pelan sebagai jawabannya, karena pandangannya sudah terfokus pada majalah yang dibacanya.

“Baiklah kalau begitu. Cepat laksanakan tugasmu dengan baik, okay?” kata Yunho mengingatkan.

“Ya, ya.”

“Aku pergi ke kamarku dulu, Jess,” pamit Yunho, lantas langsung melesat pergi kemarnya yang terletak di lantai dua rumah keluarga Jung yang megah itu.

“Yunho Oppa!” teriak Jessica.

Yunho menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah Jessica. “Apa lagi, Jess?” tanyanya ketus.

Jessica menoleh ke arah Yunho dan menatapnya tajam. “Berhenti mengumbar cerita tentang aku dan Krystal di hadapan kekasih-kekasihmu itu!”

“YAH!”

.

Shops at Columbus Circle, Manhattan

“Bukankah pakaian ini sangat indah, Jess?” tanya Yura memastikan pada Jessica yang duduk di kursi tunggu di hadapan kamar pas salah satu butik Gucci, di kawasan Shops at Columbus Circle.

Jessica mengerjap kagum ketika melihat Yura dengan balutan mini dress berwarna kuning yang sangat kontras dengan kulitnya yang agak gelap dan memamerkan kakinya yang jenjang. “Wah, ini sangat indah!” puji Jessica. Selain karena mini dress itu memang memiliki desain yang mengagumkan, tubuh Yura memang sangat cocok saat mengenakan pakaian itu. Bahkan, Jessica berpikir bahwa seharusnya, Gucci mengontrak Yura untuk memeragakan mini dress tersebut.

Yura tersenyum kecil. Ia nampak tersipu mendengar pujian Jessica. “Haruskah aku membelinya?” tanya Yura meminta pendapat.

“Tentu saja! Pakaian ini sangat indah saat kau kenakan,” ucap Jessica mantap.

“Tapi, kita sudah berbelanja banyak pakaian tadi,” ucap Yura.

“Ya, ya, tapi kau belum membeli pakaian dari Gucci, bukan?” tanya Jessica. “Oh ayolah, jangan melewatkan kesempatan menarik ini ketika kau bisa berada di Columbus Circle dan berbelanja apapun yang kau inginkan!” seru Jessica semangat. Sejujurnya, ia agak gemas pada kekasih kakaknya yang terlihat begitu polos ini.

“Ah, baiklah. Aku akan membelinya,” ucap Yura. “Aku akan mengganti pakaianku dulu,” katanya, lalu kembali menghilang di balik kamar pas.

Jessica terkikik geli melihat tingkah wanita itu. Dalam hati, ia mengagumi selera fashion yang dimiliki oleh Yura, meskipun kenyataannya, wanita itu terlihat polos dan sederhana. Namun, sedari tadi, pakaian-pakaian yang dipilih Yura selalu memuaskan. Bahkan, Jessica juga sempat beberapa kali meminta saran pada Yura saat hendak membeli baju. Sayangnya, Yura adalah tipe wanita yang kurang percaya diri, sehingga ia pun sempat beberapa kali meminta saran pada Jessica.

Ah, Yura hanya belum tahu jika Jessica memiliki selera yang cukup payah, padahal ibunya adalah seorang fashion designer dan pemilik butik terkenal.

SRET!

“Ayo, Jess!” Yura pun sudah kembali lagi mengenakan pakaiannya semula. “Kurasa kita harus segera pergi mencari makan siang, sebelum uangku habis untuk berbelanja pakaian lagi.”

Jessica pun bangkit dari duduknya, sambil tergelak.

.

“Kau serius tak ingin membawakan sesuatu untuk Yunho?” tanya Yura pada Jessica, ketika mereka keluar dari Starbucks untuk membeli minuman.

Jessica menyedot minumannya sambil berpikir sejenak. Ia sudah mendapat uang jajan dari Yunho. Yah, setidaknya, ia harus membalas budi pada kakaknya itu, bukan? “Hm, kurasa bukan ide yang buruk,” balas Jessica.

“Jadi, kita harus berkeliling lagi di Shops at Columbus Circle?” tanya Yura.

“Nope,” balas Jessica santai. “Sepertinya, aku bisa membelikan sesuatu untuk Yunho di Fifth Avenue saja,” lanjut Jessica ringan. Yah, lagipula, Yunho tak akan pernah peduli dimana benda yang diberikan untuknya itu dibeli.

Yura tertawa pelan. “Tampaknya, kau tak seloyal Yunho,” komentar Yura atas sikap Jessica.

“Iya, aku dan Krystal mem-”

BRUK!

“AH!” pekik dua suara bersamaan.

Jessica yang tak fokus pada jalannya pun menumbuk sesuatu secara tak sengaja. Ia pun segera menghadap ke arah depan dan mendapati tubuhnya yang menabrak tubuh seorang gadis berambut panjang dan berwarna coklat kemerahan. Ia segera melirik ke arah gelas Starbucks yang dibawanya, karena khawatir jika minumannya tumpah dan membasahi tubuh gadis itu. Dan syukurlah, tak ada satu pun tetes yang keluar dari gelas tersebut. “Ah, maaf, maaf, aku tak memperhatikan jalanku dengan baik,” ucap Jessica cepat.

Gadis itu mendongak perlahan. “Ya, tak apa. Aku ju-” Ucapannya terhenti ketika matanya bertemu dengan mata Jessica. Wajahnya yang nampak manis itu mulai terlihat dingin. Nampak garis-garis kerutan samar di keningnya. Tubuhnya pun seperti membeku.
Jessica yang bingung melihat tingkah gadis itu pun ikut-ikutan mengernyitkan dahinya. Ia menatap heran ke arah gadis itu. Menurutnya, pandangan gadis itu seperti sedang ketakutan setelah melihat hantu.

“Maaf Nona, apakah kau baik-baik saja?” Yura yang menyadari keheningan tersebut pun segera menginterupsi.

Gadis itu pun langsung tersadar dan menoleh cepat ke arah Yura. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis. “Ya, aku baik-baik saja,” balasnya pelan. “Maaf, aku harus segera pergi. Sekali lagi, maaf atas kecerobohanku,” ucapnya sambil membungkukkan badannya sekilas dan segera melesat pergi meninggalkan Jessica dan Yura.

Jessica dan Yura sama-sama menatap heran ke arah perginya gadis itu.

Jessica masih penasaran atas sikap gadis itu padanya. Wajah gadis itu terlihat seperti orang Asia dan sopan santun yang ditunjukkan pun mirip dengan kebudayaan Timur. Jadi, mungkinkah gadis itu pernah bertemu atau mengenal Jessica sebelumnya?

Ah, Jessica bingung memikirkannya~

.

JD Boutique, Fifth Avenue

Manhattan, New York City

“Hahaha, kau membelikanku sesuatu, Jess?” tanya Yunho takjub, ketika melihat sebuah tas yang diberikan Jessica padanya pagi itu. Sebelum berangkat ke kantor, Yunho memang sengaja mampir ke butik ibunya untuk mengantar Krystal yang sedang libur dari kuliahnya dan hendak membantu kegiatan di butik.

Jessica hanya mendengus pelan. “Harusnya kau berterima kasih pada kekasihmu itu, Oppa. Dia benar-benar wanita yang baik hati dan pengertian,” ucap Jessica.

“Hei, hei, apakah aku melewatkan sesuatu?” celetuk Krystal yang baru saja datang setelah mengganti pakaiannya. “Memangnya, Yunho Oppa memiliki kekasih baru, ya?” tanya Krystal sambil memeluk tubuh Yunho dari samping.

“Aish! Ya Tuhan, kenapa Kau memberiku dua adik yang cerewet dan memiliki mulut yang mirip ember bocor?” jerit Yunho frustasi sambil menengadahkan kepalanya ke atas.

“Itu karena kau juga memiliki mulut yang ember, Oppa. Siapa suruh kau membeberkan tentang aku dan Krystal pada kekasih-kekasihmu itu, eh?” cibir Jessica lagi.

Yunho hanya bisa menggerutu pelan.

“Aish, jadi tak adakah salah satu dari kalian yang ingin menceritakan sesuatu padaku?” tanya Krystal memelas sambil menunjukkan puppy eyes-nya.

“ANI!” tolak Jessica dan Yunho bersamaan.

“Lebih baik, kita bekerja sekarang!” seru Jessica semangat. “Dan kau, Yunho Oppa, cepat berangkat ke kantormu sana!” perintah Jessica sambil mendorong-dorong tubuh kekar Yunho.

“Aish, arra, arra.” Yunho pun hanya bisa pasrah dan segera pergi meninggalkan JD Boutique. “Aku pergi dulu. Annyeong!” pamitnya pada dua adik perempuannya.

“Ya-yah! Unnie-ya, kau berhutang penjelasan padaku!”

.

“Terima kasih atas kunjungan Anda hari ini, Nona,” ucap Jessica ramah pada wanita muda yang baru saja dilayaninya.

Wanita muda itu tersenyum kecil, lantas berlalu meninggalkan Jessica.

Jessica mencatat dengan giat pesanan yang diinginkan wanita itu.

“Nona Jung…”

Jessica mendongak sekilas. Pagi itu, ada dua gadis yang mungkin dipanggil dengan sebutan Nona Jung, yakni dirinya dan Krystal. Jadi, bisa jadi, yang dipanggil saatitu adalah dirinya atau Krystal.

Dan sepertinya seseorang tersebut sedang memanggil Jessica.

Jessica pun menghentikan kegiatannya sejenak dan mendongak menatap sosok yang baru saja memanggilnya “Ya? Ada apa?” tanya Jessica.

“Kurasa, Anda harus melayani satu pelanggan lagi, Nona,” ucap orang tersebut, salah satu pekerja di JD Boutique.

“Ah, baiklah,” balas Jessica. “Cepat antarkan pelanggan itu menemuiku,” perintah Jessica.

“Baik, Nona.”

Jessica pun kembali menunduk dan mencatat kembali dengan kecepatan yang tinggi. Yah, tugas Jessica di JD Boutique memang seperti wakil dari ibunya yang sibuk dengan kegiatannya di luar butik. Jadi, Jessica-lah yang mengkoordinir pesanan yang masuk ke butik mereka dan menyampaikannya pada ibunya nanti.

“Selamat siang, Nona Jung,” sapa sebuah suara berat dan agak serak.

Jessica yang telah menyelesaikan kegiatan mencatatnya pun segera mendongak dan membalas salam suara tersebut. “Selamat si… ang.” Bibir Jessica tidak langsung tertutup. Ia kaget dengan sosok yang berdiri di hadapannya saat ini. Sosok yang mengingatkannya pada masa lalunya yang buruk dan menakutkan.

Seorang pria yang berdiri di hadapannya itu pun tersenyum kecil. “Aku ingin memesan desain sebuah pakaian untuk klien-ku,” ucap pria itu.

Jessica menundukkan kepalanya dalam-dalam. Batinnya mengumpat dalam diam. Mengapa dari sekian banyak pelanggan di butik ibunya, ia harus bertemu dengan pria brengsek yang menyebalkan ini?

“Hei, aku bicara padamu, Nona,” celetuk pria itu dengan nada bicara yang terdengar gusar dan jengkel.

Jessica tidak bergerak selama beberapa detik. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk mendongakkan kepalanya dengan penuh keyakinan. Matanya menatap dalam sepasang mata milik pria jangkuk di hadapannya itu. “Maaf, apa yang bisa kubantu, Tuan Wu?” tanya Jessica dengan desisan yang terdengar tajam.

Pria yang dipanggil ‘Tuan Wu’ oleh Jessica itu mengernyitkan dahinya. “Maaf? Kau memanggilku apa?” tanyanya dengan suara yang agak pelan, seolah sedang tidak percaya atas apa yang telah didengarnya. “Kau tahu namaku?”

Jessica tak bisa berkata-kata lagi, selain mengerjapkan mata indahnya beberapa kali. Ia meneliti setiap detail pria yang berdiri di hadapannya itu. Ia yakin bahwa ia tak salah lihat. Pria itu sangat mirip dengan Kris Wu. Yah, kecuali jika ada seseorang yang dengan sengaja mengoperasi wajahnya sehingga mirip dengan Kris Wu.

Tapi, jika pria itu benar-benar Kris Wu, bagaimana mungkin, Kris tidak mengenalinya?

“Apakah kau mengenalku? Kau memanggilku Tuan Wu, bukan?” tanya pria itu yang diduga Jessica sebagai Kris Wu.

Jessica pun segera menutup mulutnya yang tak terkontrol itu. “A-ah, maaf, Anda hanya salah dengan, Tuan,” cicit Jessica. “Jadi, ada yang bisa kubantu?” tanya Jessica, sambil berusaha salah tingkah dan kegugupannya.

Pria itu nampak ragu untuk melanjutkan perbincangannya dengan Jessica mengenai pemesanan desain baju. Ia nampak penasaran karena Jessica telah memanggilnya dengan sebutan Tuan Wu. Namun, ia merasa ia tak punya hak untuk mengorek hal ini terlalu jauh. Ini adalah Amerika yang menyukai kebebasan. “Ah, aku ingin memesan pakaian,” ucap pria itu, akhirnya.

“Baiklah, model seperti apa yang Anda inginkan, Tuan?”

.

Jung Mansion, Manhattan

Jessica mendudukkan tubuhnya di atas sofa di ruang tengah rumahnya. Punggungnya bersandar pda sofa, matanya terpejam, dan tangan kanannya terangkat menuju pelipisnya, lantas memijatnya perlahan. “Aish, kenapa pria itu muncul lagi?” gumamnya pelan sambil mengingat kejadian ketika ia bertemu lagi dengan Kris Wu.

Ya, Jessica benar-benar sudah yakin bahwa pria itu adalah Kris Wu yang pernah dikenalnya. Selain wajah mereka yang sangat mirip, pria itu juga telah memperkenalkan dirinya sendiri sebagai Kris Wu.

Ingatan yang berputar di otak Jessica mengenai pertemuannya dengan Kris di butik, justru berlanjut pada kenangan masa lalunya yang cukup buruk.

“Kau tahu, Jessica hanyalah wanita penggoda.”

“Ya, ya, bukankah buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya.”

“Eh? Jadi, benarkah gosip yang mengatakan bahwa ibu Jessica itu hanyalah istri kedua dari ayah Yunho?”

“Ya, itu memang benar. Aku kasihan pada Yunho. Pria itu sangat baik, kenapa ia harus memiliki dua saudara tak tahu diri seperti Jessica dan Krystal?”

“Hah! Dan sekarang, kudengar, Jessica sedang berusaha mendekati Aiden. Ah, sepertinya Jessica mendapat pelajaran yang baik dari ibunya dalam hal menggaet pria-pria kaya raya, ya?”

“Iya. Dulu, dia dekat dengan Kris. Dan sekarang, saat Aiden muncul, Jessica meninggalkan Kris dan mulai mendekati Aiden. Dasar wanita murahan!”

“Tidak, aku tidak seperti itu,” gumam Jessica ketika mengingat kenangan-kenangan tersebut. Seluruh hinaan yang ditujukan padanya dan Krystal hanya membuatnya sakit hati dan frustasi. Ia meremas dadanya yang terasa mulai sesak. Matanya yang terpejam itu mulai meneteskan air mata. “Hiks, hiks.” Gadis itu pun mulai terisak pelan.

“Aigo, Sooyeon. Apa yang terjadi padamu?!” Suara Yunho terdengar menggema di ruang tengah. Pria itu segera menghampiri adiknya.

Jessica membuka matanya yang basah itu secara perlahan. “A-aniyo, Oppa. Aku baik-baik saja,” ucapnya bohong. Menceritakan hal ini pada Yunho bukanlah keputusan yang baik. Ia hanya tak ingin membuat Yunho terlibat lagi dalam masalahnya yang hanya akan menyusahkan pria bermata musang itu. “Aku pergi ke kamar dulu, Oppa. Aku sangat lelah dan ingin istirahat,” kata Jessica, lantas bangkit dari duduknya secara perlahan. Sesungguhnya, kakinya pun kesulitan menyangga tubuhnya. Namun, tekad yang kuat berhasil menopang tubuhnya saat itu. Jessica pun mulai beranjak dari ruang tengah dan pergi ke kamarnya.

Dalam hati, Jessica sudah bertekad. Apapun yang akan terjadi pada dirinya dan Kris di masa mendatang, ia tak akan pernah berniat melibatkan Yunho di dalamnya.

Karena itu hanya membawa luka yang semakin dalam bagi semua orang.

TBC

Finally, selesai juga 1st shot-nya, setelah berjuang untuk lolos dari banyak godaan, kkk~

Krissica-nya masih belum banyak. Yang banyak, justru momen keluarga Jung. Tapi next shot bakalan lebih banyak momen Krissica, kok. Tenang aja~

FF 96 ini emang agak berat dan banyak konfliknya. Antara 1 ff dengan yang lain itu saling berkaitan. Makanya, kalian perhatikan setiap detail dalam setiap ff, ya? Karena siapa tahu, hint dari satu ff itu muncul di ff sebelumnya atau sesudahnya ^^

Oiya, kira-kira, habis ini, kalian mau aku update ff yang mana? EOL? Another Paradise? Atau Mr. and Mrs. Huang? Tell me, please~

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s