[Oneshot] Maybe Baby

Maybe Baby

An Alternate Universe Fanfiction

Maybe Baby

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

SNSD Sooyoung || EXO-K Suho

SNSD Tiffany || DBSK Changmin || Super Junior Siwon || SNSD Yuri || EXO-M Kris || f(x) Sulli || EXO-M Tao

Length : Longshot -_-v || Rating : PG-17 || Genre : Romance, Fluff, Family, Sad, Marriage Life

Author Note :

I tell you, it’s a longshot, anyway. It’s the longest fic I’ve ever write.

And, please notice the rating of this fic ^^

The rest, happy reading to you all!
.

there is no inadvertence in this life

-Kim Joonmyeon-

.

CKLEK!

Joonmyeon mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk yang tergantung di lehernya. Matanya tertuju pada sosok yang tengah meringkuk di atas ranjang. Alisnya terangkat sebelah karena heran. Ia pun segera meletakkan handuknya di atas sofa sederhana di dalam kamar tersebut, lantas berjalan menghampiri ranjang, mengabaikan rambutnya yang masih basah dan meneteskan beberapa air. Joonmyeon langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan memeluk sosok yang tengah meringkuk itu dari arah belakang.

Sosok yang dipeluk Joonmyeon itu tersentak karena pelukan Joonmyeon yang mendadak itu.

Joonmyeon seolah bersikap tak peduli. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan mencium tengkuk sosok tersebut, menghirup aroma khas dan menyimpannya dengan baik dalam memorinya.

“J-joonmyeon…” Sosok tersebut mulai menggeliat resah dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Joonmyeon.

“Hm?” Joonmyeon hanya bergumam pelan. Ia masih sibuk menghirup aroma wangi yang disukainya.

Sosok tersebut pun mulai membalikkan tubuhnya, sehingga menghadap ke arah Joonmyeon sepenuhnya. Kedua matanya mengerjap lucu. Bibirnya pun mengerucut. Gadis yang kita kenal sebagai Choi­-atau Kim-Sooyoung itu terlihat semakin menggemaskan.

Joonmyeon tersenyum kecil melihat tingkah gadis yang baru saja dipersuntingnya pagi ini. Hidungnya itu digesekkan dengan lembut pada hidung Sooyoung. “Ada apa, Sooyoungie?” tanyanya lembut.

Tangan Sooyoung mendorong pelan dada Joonmyeon. “A-aku merasa tidak nyaman,” bisik Sooyoung sambil menundukkan kepalanya, tak berani menatap Joonmyeon secara langsung.

“Waeyo?” tanya Joonmyeon sambil menyisikan poni Sooyoung yang mulai memajang dan menutupi wajah cantiknya. “Bukankah kau selalu merasa nyaman dengan pelukanku, hm?” tanya Joonmyeon memastikan. Selama ini, pelukan Joonmyeon memang selalu berhasil menenangkan Sooyoung.

“T-tapi aku…” Sooyoung menggigit bibir bawahnya gugup. Ia tak tahu bagaimana cara menyampaikan isi hatinya pada Joonmyeon.

Joonmyeon yang melihat pemandangan tersebut merasa tergoda untuk mencicipi bibir Sooyoung yang memang belum pernah disentuhnya itu. Selama ini, Joonmyeon berusaha menghormati Sooyoung sebagai seorang wanita. Ia juga hanya memberikan sentuhan seperti pegangan tangan atau pelukan, dan tak lebih dari itu. Tanpa meminta persetujuan Sooyoung, Joonmyeon pun mulai mendekatkan wajahnya dan menyentuhkan bibirnya dengan bibir Sooyoung. “Lembut,” pikir Joonmyeon.

Mata Sooyoung terbelalak karena tingkah tiba-tiba Joonmyeon.

Joonmyeon pun mulai melumat pelan bibir bawah Sooyoung. “Manis sekali,” batinnya.

Sooyoung semakin terkejut. Ia mulai berontak dalam pelukan Joonmyeon, berusaha terlepas dari ciuman itu.

Joonmyeon sudah terbawa nafsu. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Sooyoung dan sama sekali tak berniat melepaskan ciumannya pada bibir Sooyoung. Ia berusaha untuk mengeksplor bagian dalam mulut Sooyoung. Namun sepertinya, Sooyoung menolak membuka mulutnya. Dengan terpaksa, Joonmyeon menggigit bibir Sooyoung.

“Nggh…” Sooyoung melenguh pelan, sehingga bibirnya pun terbuka.

Joonmyeon sama sekali tidak melewatkan kesempatan itu. Ia segera menelusupkan lidahnya dan menjelajahi rongga mulut Sooyoung. Ia mulai menggelitik langit-langit mulut Sooyoung.

Sooyoung berusaha mendorong keluar lidah Joonmyeon dengan lidahnya.

Sialnya, Joonmyeon justru menganggap bahwa Sooyoung sedang membalas ciumannya dan mengajak berperang lidah dengannya. Joonmyeon semakin bergairah dengan permainannya dengan Sooyoung, membuat salah satu organ tubuhnya di bagian bawah mulai mengeras.

Sooyoung bisa merasakan hal itu di bagian pahanya. Karena terlalu terkejut dan gugup, secara refleks, Sooyoung menendang bagian selangkangan Joonmyeon dengan lututnya. Dan…

BRUK!

“Auw!” Joonmyeon memekik ketika pantatnya mendarat di atas lantai kamar hotel yang dihuninya dengan Sooyoung malam itu.

Sooyoung yang seolah baru menyadari perlakuannya pada Joonmyeon pun langsung mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Kedua tangannya menutupi mulutnya yang ternganga. “Aigo,” pekiknya.

“Ah…” Joonmyeon mengusap pelan pantatnya yang ngilu karena menghantam lantai. “K-kenapa kau menendangku, Soo?” tanya Joonmyeon heran. Selain menahan rasa sakit di pantatnya, Joonmyeon juga harus menahan rasa sakit di bagian selangkangannya akibat tendangan Sooyoung.

Sooyoung masih terdiam. Matanya justru mulai berkaca-kaca.

Joonmyeon mendongak dan menatap Sooyoung. Ia terkejut ketika melihat istrinya yang hampir menitikan air mata. Sambil menahan rasa sakit di tubuhnya, Joonmyeon pun segera bangkit dan naik ke atas ranjang lagi. “Sooyoungie, kenapa kau malah menangis?” tanyanya cemas. Ia membawa Sooyoung dalam pelukannya dan mendekapnya dengan penuh kehangatan.

Sooyoung pun mulai terisak pelan. “M-mianhae, Joonmyeonnie,” bisik Sooyoung di tengah isakannya.

Joonmyeon menarik nafas dalam-dalam. “Ne, ne, aku pasti memaafkanmu, Sooyoungie. Maafkan aku juga karena telah menciummu tanpa izin darimu,” balas Joonmyeon sambil mengusap lembut punggung Sooyoung.

Sooyoung melepaskan pelukan Joonmyeon pada tubuhnya, lantas mengusap air mata di wajahnya. “A-apakah kita akan melewati malam pertama kita malam ini juga?” tanya Sooyoung takut. Matanya meniratkan kekhawatiran yang mendalam.

Joonmyeon terdiam sejenak. Jujur saja, ia sudah terlalu bernafsu malam itu. Namun, ia juga tak tega melihat Sooyoung yang nampak seperti ketakutan. “Memangnya, kenapa?” tanyanya lembut.

Sooyoung menundukkan kepalanya dalam-dalam. “M-maaf, Joonmyeon. Kurasa, aku belum siap.”

Joonmyeon memandangi Sooyoung sejenak. Ia pun menghela nafas yang sangat panjang. “Baiklah. Kurasa, aku harus membiarkanmu sendiri terlebih dahulu.”

Sooyoung mendongakkan kepalanya dan menatap Joonmyeon lekat-lekat. Ia tak mengerti dengan ucapan Joonmyeon. “Kau…”

“Gwaenchana,” balas Joonmyeon lembut, lantas mengusap puncak kepala Sooyoung. “Tidurlah, Sooyoungie. Aku akan keluar sebentar,” ucapnya.

Dan perpisahan pengantin baru itu ditandai dengan sebuah kecupan manis di dahi Sooyoung.

.

Joonmyeon mengeratkan jas hitam yang sempat digunakannya di upacara pernikahan. Ia tak sempat membawa banyak pakaian ke hotel, tempat dimana dirinya dan Sooyoung seharusnya melewatkan malam pertama yang indah. Namun, karena rasa sayangnya pada Sooyoung, ia harus berusaha menekan nafsunya. Jadi, sebelum Joonmyeon hilang akal hanya karena melihat tubuh Sooyoung, ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar hotel dan mencari udara segar yang mampu menjernihkan pikirannya.

Joonmyeon sudah keluar dari hotel hanya dengan mengenakan piyamanya yang dibalut dengan jas hitamnya. Udara malam itu cukup dingin. Apalagi, Joonmyeon membayangkan bahwa dirinya harus sendirian di malam pernikahannya.

Joonmyeon terus melangkah tanpa tujuan, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti di sebuah taman sederhana yang tak begitu jauh daro hotel tempatnya menginap. Ia terduduk di salahsatu bangku taman. Kepalanya terdongak dan sepasang matanya dimanjakan oleh pemandangan langit yang ditaburi bintang-bintang.

Joonmyeon mulai memikirkan hubungannya dengan Sooyoung. Sejak lama, ia memang sudah berjanji bahwa ia tak akan pernah memaksakan kehendak pada pasangannya untuk melakukan sebuah hubungan intim. Namun, ia sama sekali tak menyangka bahwa hubungannya dengan Sooyoung akan sesulit ini. Ia tak menduga bahwa Sooyoung terlihat setakut itu padanya. Bahkan, ketika ia sekedar memeluk tubuh Sooyoung di atas ranjang, Sooyoung nampak langsung terkejut dan risih. Sooyoung juga terlihat sangat takut dengan ciuman yang diberikan olehnya.

Apa yang sebenernya terjadi pada Sooyoung?

Apakah hubungan mereka akan selamanya seperti ini?

Lantas. bagaimana caranya agar Sooyoung menerima sentuhannya?

Joonmyeon mengacak pelan rambutnya. Ternyata, hidup berumah tangga tak semudah yang dibayangkannya.

.

“Nggh…”

Sooyoung menggeliat pelan dalam tidurnya, ketika ia merasakan kehangatan yang menyinari wajahnya. Kedua matanya mulai terbuka perlahan, lantas mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Sooyoung mulai mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Matanya tertuju pada sosok pria yang sedang berbaring di atas sofa di dalam kamar hotel tersebut. Matanya menyipit untuk memperhatikan sosok itu dengan lebih jelas. “Joonmyeon?” Keningnya berkerut heran, ketika menyadari bahwa Joonmyeon, suaminya, sedang tertidur di atas sofa dan bukannya di sampingnya, di atas ranjang.

Sooyoung pun menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, lantas beranjak dari atas ranjang untuk menghampiri Joonmyeon yang masih berada di alam mimpinya. Sooyoung berjongkok di samping sofa. Pandangannya menelusuri setiap lekuk wajah Joonmyeon. Sooyoung memang sudah sering memperhatikan wajah pria di depannya ini. Namun, ia seolah tak pernah bosan mengagumi pahatan Tuhan pada suaminya ini.

Ada sebersit rasa bersalah yang muncul dalam hati Sooyoung ketika kemarin malam, secara tidak langsung, ia telah menolak Joonmyeon untuk melewatkan malam pertamanya. Padahal, Sooyoung tahu jika Joonmyeon sudah sangat bernafsu, terbukti dengan bagian keras yang sempat menyentuh bagian pahanya.

Apakah mungkin Joonmyeon keluar dari kamar mereka hanya untuk mengendalikan nafsunya?

Apakah Joonmyeon memutuskan untuk tidur di atas sofa, hanya untuk menghindari kontak fisik dengannya yang mungkin membangkitkan nafsunya kembali?

Sooyoung benar-benar merasa bersalah. Ia merasa gagal sebagai seorang istri bagi Joonmyeon.

“Sooyoung?”

Sooyoung tekejut ketika Joonmyeon sudah membuka matanya dan menatap lekat-lekat ke arahnya. “Aigo!” pekiknya spontan. “Maaf mengganggu tidurmu, Joonmyeon. Aku ingin mandi!” ucapnya cepat, lantas segera masuk ke dalam kamar mandi.

BLAM!

Sooyoung membanting pintu kamar mandi dengan cukup keras. Tubuhnya langsung tersandar pada daun pintu. Kedua tangannya menyentuh bagian dadanya dan merasakan detak jantungnya yang tidak teratur. “Aish, apa yang kau lakukan tadi?”

.

Joonmyeon mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang sempat ditidurinya. Ia mencoba meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, akibat harus tidur di atas sofa yang tidak senyaman ranjang. Jemarina mengacak pelan rambut pendeknya. Tiba-tiba, ia kembali teringat ketika ia mendapati Sooyoung tengah mengamati wajahnya. “Apa yang dilakukan Sooyoung tadi?” pikir Joonmyeon bingung.

Dan anehnya, Sooyoung justru nampak salah tingkah dan langsung berlari menuju kamar mandi.

Joonmyeon bisa mendengarkan suara gemericik air di dalam kamar mandi, tanda bahwa istrinya sudah mulai membasuh tubuhnya. Fantasi-fantasi liar mulai berkelebatan di pikirannya dan itu cukup berhasil membuat tubuhnya bergejolak menahan nafsu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar sambil terus membatin, “Berhenti berpikir begitu, Kim Joonmyeon.”

Joonmyeon pun bangkit dari sofa. Ia mulai berputar-putar di dalam kamar hotel, berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran tentang istrinya. Sesekali, ia menelisik dari balik jendela, melihat suasana kota Seoul.

Tak lama, Joonmyeon mendengar sebuah suara memanggil namanya.

“Joonmyeon…”

Joonmyeon membalik tubuhnya dan mendapati pintu kamar mandi sedikit terbuka. Dan kepala Sooyoung terlihat menyembul dari balik pintu. “Ne?”

Sooyoung meringis kaku. “Hm, bisakah kau mengambilkan pakaian di koperku?” mohon Sooyoung malu-malu.

Joonmyeon menaikkan sebelah alisnya dan berusaha mencerna permintaan Sooyoung. “M-mengambilkan pakaianmu?” ulang Joonmyeon.

Sooyoung mengangguk pelan.

“Ah, arrasseo,” balas Joonmyeon dengan kikuk. Ia pun dengan sigap berjalan menuju koper Sooyoung dan mengambil pakaian Sooyoung secara acak. Ia tak yakin bahwa tubuhnya akan baik-baik saja, meski hanya sekedar melihat pakaian Sooyoung. Ia pun segera berlari menuju pintu kamar mandi. “Ini,” ucapnya sambil menyerahkan pakaian tersebut pada Sooyoung. Sekilas, ia bisa melihat tubuh Sooyoung yang hanya terbalut handuk pendek, sebatas paha. Joonmyeon pun buru-buru mengalihkan pandangannya.

“Gomawo,” balas Sooyoung cepat dan…

BLAM!

Joonmyeon langsung berjingkat kaget karena debuman pintu yang sangat keras itu. “Hah, kenapa hidupku harus sesulit ini?”

.

“Jadi, kau langsung berangkat kerja besok?” tanya Sooyoung pada Joonmyeon yang sedang menikmati spaghetti sebagai sarapannya. Sooyoung tak berani menatap Joonmyeon secara terang-terangan. Sebagai gantinya, ia hanya melirik ke arah suaminya. Apa lagi kalau bukan karena berbagai insiden yang dilalui mereka sejak semalam?

Joonmyeon kembali menyuapkan spaghetti ke mulutnya, lantas bergumam, “Hm.” Ia pun terlihat enggan menatap Sooyoung.

Hal itu membuat hati Sooyoung sedikit mencelos. Padahal, selama ini, Joonmyeon selalu menatapnya dengan penuh kasih sayang, meski ia bersikap menjengkelkan sekalipun. Mungkinkah sikapnya pada Joonmyeon sudah keterlaluan sehingga membuat Joonmyeon jengah menghadapinya?

Sooyoung berusaha membuka pembicaraan lagi dengan Joonmyeon. “Memangnya, kenapa?” tanyanya, masih dengan kepala yang tertunduk.

“Proyek kami di Busan mengalami sedikit masalah,” jawab Joonmyeon dengan nada dingin.

Sooyoung menggigit bibir bawahnya karena takut dengan sikap Joonmyeon. “L-lalu, apa yang akan k-kita lakukan sepanjang hari ini?” tanya Sooyoung. Kali ini, ia kedengaran semakin gugup dan takut.

Joonmyeon mengangkat wajahnya dan melihat Sooyoung sekilas. “Terserah kau saja. Yang jelas, aku malas berada di hotel,” balas Joonmyeon ketus.

DEG!

Sooyoung merasa bahwa kata-kata ‘malas berada di hotel’ itu seperti sedang menyindir segala sikapnya semalam pada Joonmyeon. Mungkin saja, hotel membuat mood Joonmyeon semakin jatuh. “O-oh.” Sooyoung masih tertunduk dan mengaduk-aduk makanannya. Sepertinya, Joonmyeon pun malas meladeni ucapannya.

“Kenapa hanya diaduk-aduk saja?” tanya Joonmyeon tiba-tiba.

Sooyoung langsung mengangkat wajahnya, namun yang dilihatnya justru Joonmyeon yang semakin lahap menikmati sarapannya. “A-ku sudah kenyang,” balas Sooyoung, lantas meletakkan peralatan makannya.

Joonmyeon menatap Sooyoung, lantas menaikkan sebelah alisnya. “Tumben sekali,” gumam Joonmyeon dan kembali menikmati sarapannya.

“Aku pergi ke kamar dulu,” ucap Sooyoung lantas bangkit dari duduknya.

Dan Joonmyeon hanya bergumam, tanpa sedikitpun memperhatikan Sooyoung.

Sooyoung merasa semakin sakit hati. Ia pun mulai melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan Joonmyeon. Tangannya menyentuh dadanya yang terasa nyeri. “Tuhan, kembalikan hubungan kami seperti dulu.”

.

“Berapa bulan, Unnie?” tanya Sooyoung sambil mengelus perut Yuri yang masih rata. Akhirnya, Sooyoung dan Joonmyeon memutuskan untuk berkunjung ke rumah sepupu Joonmyeon, Yifan yang sudah menikah dengan Yuri. Kini, Joonmyeon sedang berbincang dengan Yifan di halaman depan.

“Aigo, aku baru mengandung 1 bulan dan kau sudah mengelus perutku yang rata ini,” gerutu Yuri pada Sooyoung.

Sooyoung tertawa cekikikan, lantas menarik tangannya dari perut Yuri. “Chukkaeyo, Unnie. Aku tak menyangka kalau Unnie dan Yifan Oppa akan mendapat momongan secepat ini,” ucap Sooyoung.

Yuri tertawa pelan. “Aku baru mengandung saja, Sooyoung. Tentang apakah janin ini akan menjadi bayi kami atau tidak, kami hanya bisa berserah diri pada Tuhan,” jelas Yuri bijaksana.

Sooyoung mengangguk paham, sambil tersenyum kecil.

“Kuharap, kau juga segera menyusul kami, Sooyoung-ah.”

DEG!

“M-maksud Unnie?” tanya Sooyoung gugup.

“Aish, kau ini! Kau sudah menikah dengan Joonmyeon. Maka, setelah ini, kau akan segera mengandung,” jelas Yuri agak jengkel.

Sooyoung tertunduk malu. “Unnie, sebenarnya, kami…”

Yuri menaikkan alisnya karena penasaran. “Kalian kenapa?”

“Kami…” Sooyoung menarik nafas dalam-dalam. “…belum melakukan malam pertama,” bisik Sooyoung.

“MWO?!” Yuri melongo mendengar penuturan adik iparnya itu.

“Aish, Unnie. Jangan keras-keras! Nanti Joonmyeon dan Yifan Oppa bisa mendengar pembicaraan kita!” pekik Sooyoung sambil melirik ke arah Joonmyeon dan Yifan yang masih asyik berbincang.

“Ah, ne, ne.” Yuri mengangguk paham. “Tapi, benarkah apa yang kau katakan tadi?” tanya Yuri sambil menyentuh lengan Sooyoung.

Sooyoung mengangguk dengan kepala yang masih tertunduk.

“Aigo, bagaimana bisa?” tanya Yuri dengan suara lirih.

Sooyoung mengerucutkan bibirnya. “Ini semua karena aku yang bodoh, Unnie. Aku menolak Joonmyeon untuk melakukan itu,” bisik Sooyoung menjelaskan.

“Hah?”

“Bahkan, aku menendang tubuhnya hingga terjatuh dari ranjang,” lanjut Sooyoung.

Mulut Yuri pun terbuka semakin lebar karena terkejut.

Sooyoung pun mulai menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Semalam, ia sampai meninggalkanku di dalam kamar sendirian.”

“MWO?! Dan kau membiarkannya pergi?” tanya Yuri.

Sooyoung mengangguk pelan. Wajahnya masih tertutup dengan tangannya.

“Apa-apaan kau ini, Sooyoungie? Kau membiarkan Joonmyeon pergi begitu saja? Bagaimana kalau dia mencari wanita lain, eoh?” cerocos Yuri jengkel.

Sooyoung membuka wajahnya yang mulai basah dengan air mata. “T-tapi, Unnie, aku…”

Yuri langsung memeluk Sooyoung. “Aigo, nae dongsaeng.” Yuri berusaha menenangkan Sooyoung.

“Unnie, apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki semua ini dengannya? Joonmyeon bahkan malas berbicara denganku. Hubungan kami sangat canggung, Unnie-ya,” jelas Sooyoung sambil terisak pelan di dalam pelukan Yuri.

“Tentu saja, kau harus membiasakan diri dengan keberadaan Joonmyeon sebagai suamimu. kau harus terbiasa dengan setiap sentuhannya,” tutur Yuri. “Jangan sampai, Joonmyeon mencari kehangatan dari wanita lain, arachi?”

.

“Tiffany imnida.”

Joonmyeon tersenyum kecil, lantas membalas jabatan tangan dari wanita cantik di hadapannya. “Joonmyeon imnida,” balasnya. Sekarang, Joonmyeon sedang berada di kantornya untuk bertemu dengan salah satu rekan kerja barunya yang menggantikan rekan lamanya-Tatsuya-yang sedang cuti. Selain itu, ia dan rekan barunya-Tiffany-harus segera menangani kendala di proyek pembangunan jembatan di kawasan Busan.

“Senang bertemu dengan Anda, Joonmyeon-ssi. Aku mohon bantuannya,” ucap Tiffany sambil membungkuk sekilas.

“Ne, aku pasti membantumu. Tapi kumohon, jangan terlalu formal padaku, arra?” ucap Joonmyeon.

Tiffany menangguk paham. “Arrasseo, Joonmyeon-ssi.”

“Aish, tinggalkan embel-embel ‘ssi’,” perintah Joonmyeon.

Tiffany memiringkan kepalanya bingung. “Lalu, aku harus memanggilmu bagaimana?” tanya Tiffany. “Hm, bagaimana dengan Joonmyeon-kun? Kau pernah tinggal di Jepang, bukan?”

Joonmyeon tersenyum puas. “Ah, benar. Itu kedengaran lebih baik. Jadi, aku akan memanggilmu Fany-chan. Setuju?” balas Joonmyeon.

Tiffany membalasnya dengan anggukan.

“Jadi, Fany-chan, mari kita mulai bekerja sama.”

.

“Aku pulang.”

Sooyoung langsung bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke arah pintu rumahnya dengan Joonmyeon. Dilihatnya, Joonmyeon yang memasuki rumah sambil membawa tas kerjanya. Sooyoung berinisiatif membawakan tas kerja Joonmyeon. “Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Sooyoung dengan suara riang dan senyuman terkembang di wajahnya.

Joonmyeon melepaskan ikatan dasinya. “Cukup baik,” balasnya singkat, tanpa melihat sedikitpun ke arah Sooyoung. Ia terus berjalan menuju kamarnya dengan Sooyoung.

Sooyoung sedih karena suaminya justru mengabaikannya kembali. Namun, ia bepikir positif dengan menganggap bahwa suaminya hanya sedang kelelahan. “Oiya, apakah kau belum makan? Aku sudah menyi…”

“Aku sudah makan,” potong Joonmyeon. “Dan aku ingin langsung tidur,” tambahnya. Joonmyeon mengambil satu bantal di atas ranjang.

“K-kau mau tidur dimana?” tanya Sooyoung yang melihat Joonmyeon hendak keluar lagi dari kamar mereka.

“Aku tidur di ruang tengah saja,” balasnya sambil terus berjalan ke arah ruang tengah tanpa menoleh ke arah Sooyoung.

Sooyoung terdiam, menikmati rasa nyeri yang kembali menyeruak di dadanya. Ia menatap nanar suaminya yang sedang bersiap untuk tidur di atas sofa, sementara dirinya masih terpaku di ambang pintu kamar. Tanpa terasa, Sooyoung menitikan air matanya.

.

Joonmyeon memutar-mutar pena diantara jemarinya, sambil menatap kosong ke arah sebuah foto berpigura yang diletakkan di atas meja kerjanya. Pikirannya melayang ke salah satu sosok yang berada dalam foto tersebut.

Sooyoung.

Joonmyeon merasa begitu bersalah karena telah mengabaikan Sooyoung. Sungguh, ini sama sekali bukan keinginannya. Tapi ini semua dilakukan Joonmyeon demi kebaikan dirinya sendiri dan Sooyoung. Joonmyeon hanya tak ingin lepas kendali jika berhadapan dengan Sooyoung. Maka dari itu, ia berusaha untuk menghindari Sooyoung, bahkan ketika tidur.

Joonmyeon mengusap wajahnya, lantas mengambil foto tersebut dan mengusap tepat pada bagian wajah Sooyoung. “Soo-ah, maafkan aku,” ucapnya penuh sesal. “Apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki hubungan kita?”

Joonmyeon bukanlah pria mesum yang mudah tergoda dengan tubuh wanita. Jujur saja, selama ini, baru Sooyoung yang bisa meruntuhkan pertahanannya hanya dengan suaranya yang menggoda atau tubuh indah yang bahkan masih terbungkus pakaian lengkap. Terlebih lagi, kenyataan bahwa mereka adalah pasangan suami-istri yang sah, membuat rantai Joonmyeon semakin rapuh dan mudah dihancurkan begitu saja.

Maka dari itu, menghindari Sooyoung adalah jalan terbaik yang bisa diambil Joonmyeon saat ini.

Menjelaskan pada Sooyoung pun tak akan membantu cukup banyak. Karena bisa saja, hal itu akan membuat Sooyoung merasa bersalah. Mungkin saja, Sooyoung justru menyerahkan tubuhnya pada Joonmyeon secara terpaksa. Dan Joonmyeon sama sekali tak ingin melakukan hubungan suami-istri dalam keadaan dimana pasangannya merasa tertekan.

TOK! TOK! TOK!

Joonmyeon mengalihkan pandangannya pada pintu ruangannya. “Masuklah,” perintahnya, lantas kembali meletakkan pigura di atas meja kerjanya.

CKLEK!

Tiffany pun masuk ke dalam ruang kerja Joonmyeon sambil menyunggingkan sebuah senyuman. “Joonmyeon-kun, aku mendapat kabar baik dari Mishima Company,” ucap Tiffany sambil menunjukkan sebuah kertas di tangannya.

Joonmyeon menyipitkan matanya. “Mishima Company?” gumamnya.

“Ne.” Tiffany mengangguk dengan semangat, lantas menyerahkan kertas tersebut. “Aku baru saja mengunduh e-mail balasan dari mereka yang menyatakan bahwa mereka sepakat untuk bekerja sama dengan kita,” jelas Tiffany senang.

Joonmyeon membaca e-mail dari Mishima Company itu hingga tuntas. Akhirnya, ia mendongak menatap Tiffany dan mengulas sebuah senyuman. “Bagus,” komentarnya. “Jadi, proyek ini akan mengambil di Jeju, kan?” tanya Joonmyeon memastikan.

“Ne, Joonmyeon-kun,” balas Tiffany. “Jadi, kapan kita bisa memulai mengerjakan proyek baru ini?” tanya Tiffany.

Joonmyeon tersenyum semakin lebar. “Secepat mungkin, Fany-chan,” jawabnya. Semoga menyibukkan dirinya dengan pekerjaan bisa membantunya melupakan Sooyoung sejenak.

.

“Annyeonghaseyo, Nyonya Kim.”

Sooyoung tersenyum pada petugas resepsionis di kantor Joonmyeon. “Hm, apakah Joonmyeon ada di kantor?” tanya Sooyoung pada petugas tersebut.

“Tuan Kim keluar dari kantor sebelum makan siang. Mungkin, sebentar lagi, beliau akan kembali,” jelas petugas tersebut.

Sooyoung mengangguk paham. “Baiklah, aku akan menunggunya di ruang kerjanya saja,” ucap Sooyoung.

Petugas resepsionis itu mengangguk, seolah mempersilakan Sooyoung.

Sooyoung tersenyum simpul, lantas berjalan menuju ruang kerja Joonmyeon yang terletak di lantai 3. Sesampainya di depan ruangan Joonmyeon, ia disambut oleh sekretaris Joonmyeon, sekretaris Han. “Annyeong, Nona Han,” sapa Sooyoung pada wanita cantik tersebut.

“Annyeong, Nona Kim,” balas sekretaris Han sambil tersenyum. “Tuan Kim sedang tidak ada di ruangannya, Nyo-”

“Biar aku menunggunya di dalam saja,” potong Sooyoung.

Sekretaris Han mengangguk paham. “Silakan masuk, Nyonya Kim,” ucapnya.

Sooyoung menggumamkan kata “gamsahamnida” lantas masuk ke dalam ruang kerja Joonmyeon. Ruang kerja itu terlihat rapi. Sooyoung memutuskan untuk duduk dan menunggu Joonmyeon di sofa yang disediakan di ruang kerja tersebut, Ia meletakkan sebuah lunch box yang dibawanya di atas pangkuannya. Semalam, ia memikirkan cara untuk memperbaiki hubungannya dengan Joonmyeon. Dan ia memutuskan untuk menyiapkan makan siang yang dikirimnya secara langsung ke kantor Joonmyeon. Jadi, ia pun menghabiskan jam makan siang dari Shizu Fashion-tempat Sooyoung bekerja untuk sementara waktu ini-dan meluncur ke kantor Joonmyeon.

CKLEK!

Pintu ruang kerja Joonmyeon terbuka dan menampilkan sepasang pria dan wanita yang nampak akrab.

Sooyoung mencelos ketika menyadari bahwa Joonmyeon sedang tertawa bahagia bersama seorang wanita cantik dengan smile eyes yang menawan. “Joonmyeon…” gumamnya pelan.

“S-sooyoung?” Joonmyeon membulatkan kedua matanya, terkejut akan kehadiran Sooyoung di ruangannya. “K-kau… Bagaimana kau bisa disini?” tanya Joonmyeon bingung.

Sooyoung segera bangkit dari duduknya. “A-aku ingin m-mengantarkan ini untukmu,” ucap Sooyoung lantas meletakkan lunch box di atas meja di depan sofa. “M-maaf, aku harus kembali ke kantor, Joonmyeon. Annyeong.” Tanpa mendengar balasan Joonmyeon, Sooyoung langsung melesat keluar dari ruang kerja Joonmyeon. Ia berlari secepat mungkin agar segera keluar dari kantor tersebut.

.

“Sooyoungie…” Joonmyeon sudah tiba di dalam rumahnya, namun ia tak menemukan sosok Sooyoung yang terbiasa menanti kepulangannya. Jujur saja, ia mengkhawatirkan keadaan Sooyoung, karena wanita itu tiba-tiba saja keluar dari kantornya, setelah menyerahkan sekotak makanan untuknya. Ia tak bisa menebak apa yang membuat Sooyoung pergi begitu saja, bahkan sebelum Joonmyeon mengucapkan terima kasih atas makanan yang dikirimkannya. Ia pun tak bisa mengejar Sooyoung saat itu juga, mengingat bahwa setelah jam makan siang, ia harus segera mengadakan rapat dadakan bersama jajaran direksinya untuk membahas kontrak baru bersama Mishima Company.

Joonmyeon berusaha mencari-cari Sooyoung di setiap sudut rumahnya, sambil meneriakkan nama istrinya.

Namun, hasilnya nihil. Sooyoung tak ada dimana-mana.

Joonmyeon mulai panik. Ia berusaha menghubungi ponsel Sooyoung. Namun, ponsel itu tak aktif.

Joonmyeon pun berusaha menelepon teman-teman Sooyoung yang dikenalnya. Namun, mereka sama sekali tak tahu, dimana Sooyoung berada.

“Sooyoungie, dimana kau? Cepatlah pulang.”

.

“Joonmyeonnieh…”

Joonmyeon segera mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara sang istri. Ia begitu terkejut ketika mendapati istrinya tengah berdiri dengan sempoyongan di ambang pintu ruang kerjanya. Dengan secepat kilat, ia segera menghampiri istrinya dan menyangga tubuh istrinya. “Aish, apa yang terjadi padamu, Sooyoungie?” tana Joonmyeon heran. Ia bisa mencium aroma alkohol dari mulutnya. Mungkinkah Sooyoung sedang mabuk?

Sooyoung tersenyum lebar. Matanya hanya terbuka separuh. “Hik… aku ingin hik… melewatkan malam yang hik… indah denganmu, Myeonnie,” ucap Sooyoung sambil cegukan sesekali.

Joonmyeon mengernyit bingung. “Apa maksudmu?”

Sooyoung menyandarkan kepalanya pada pundak Joonmyeon. “Kim Joonmyeon, saranghaeyo…”

Joonmyeon semakin bingung. Ia pun langsung membopong tubuh Sooyoung menuju kamar mereka.

Sooyoung terus saja meracaukan berbagai kalimat yang sulit ditangkap oleh telinga Joonmyeon.

Setibanya di kamar, Joonmyeon langsung membaringkan tubuh Sooyoung ke atas ranjang. Ia menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh Sooyoung. Ketika ia hendak beranjak keluar dari kamar dan kembali ke ruangannya…

BRUK!

Joonmyeon langsung ambruk menimpa tubuh Sooyoung, karena pergelangan tangannya ditarik oleh sang istri. “Sooyoung-ah…”

“Joonmyeon,” panggil Sooyoung pada Joonmyeon. Bibirnya membentuk seringaian yang sulit diartikan. “Sentuhlah aku malam ini.”

“Heh?” Kedua mata Joonmyeon membulat sempurna. Ia sungguh tak menyangka atas permintaan Sooyoung.

“SENTUHLAH AKU MALAM INI, KIM JOONMYEON,” ulang Sooyoung dengan penuh ketegasan.

Joonmyeon yakin bahwa ucapan Sooyoung barusan dipengaruhi oleh alkohol yang sudah menguasai pikirannya. Tentu saja, ia tak ingin memanfaatkan keadaan ini. “Kau butuh istirahat, Sooyoung,” balas Joonmyeon berusaha mengenyahkan bayangan-bayangan malam indah bersama Sooyoung. Ia pun segera mengalihkan pandangannya.

Sooyoung menarik-narik lengan Joonmyeon untuk menarik perhatian suaminya itu. “Eung, kau pasti tidak mencintaiku lagi, ya?” tanya Sooyoung dengan manja.

Joonmyeon menatap Sooyoung dengan prihatin. “Bukan begitu, Soo. Kau sedang mabuk,” balas Joonmyeon sambil berusaha mengendalikan dirinya.

Sooyoung mengerucutkan bibirnya kesal. “Karena aku mabuk? Kau tak suka dengan bauku, ya?” tanya Sooyoung lagi. “Kalau begitu, kau harus membantuku membersihkan bau tak enak ini, Joonmyeonnie,” pinta Sooyoung.

Joonmyeon mengernyit.

Tak lama, Sooyoug justru menarik tubuh Joonmyeon dan mencium bibirnya.

Dan itu berarti buruk.

Sangat buruk.

Joonmyeon tak bisa lagi menahan gairahnya yang sudah memuncak. Ia melepaskan tautan bibirnya dengan Sooyoung dan berdesis pelan, “Baiklah, kau yang meminta, Kim Sooyoung. Dan sekali aku bertindak, kau tak akan bisa menghentikanku.”

Sooyoung hanya tersenyum kecil, merasa menang atas diri Joonmyeon.

Dan sepasang suami-istri itu pun memulai malam panas mereka bersama.

.

“Nggh…”

Sooyoung mulai terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa agak pusing dan tubuhnya pun terasa pegal di berbagai bagian. Ia pun segera mendudukkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Tangannya menyentuh kepalanya yang berdenyut pelan. “Kemarin aku mabuk, ya?” gumam Sooyoung sambil mengingat kejadian semalam.

Seingatnya, ia terlalu kalap melihat Joonmyeon dengan Tiffany dan memutuskan pergi ke club malam. Akhirnya, ia pun meminum alkohol dan mabuk berat. Ia bahkan lupa bagaimana caranya ia bisa sampai di rumah dan terbangun di atas ranjangnya.

Sooyoung menoleh ke arah sampingnya dan sama sekali tak menemukan Joonmyeon. Namun, ia sempat melihat secarik kertas di atas meja nakas. Ia pun segera mengambilnya dan membaca tulisannya.

Aku harus berangkat pagi-pagi, Chagiya. Maaf tak membangunkanmu dulu, karena kau pasti sangat lelah.

Gomawo

Suamimu yang tampan,

Kim Joonmyeon

Sebenarnya, Sooyoung sedang kesal dengan Joonmyeon dan Tiffany kemarin. Namun, sialnya, Sooyoung selalu terbuai dengan kata-kata manis Joonmyeon yang berhasil membuat hatinya luluh. Ia tertawa cekikikan membaca tulisan sang suami.

Seketika, Sooyoung teringat akan sesuatu. “Apakah Joonmyeon tidak marah padaku?” gumamnya pelan. Ia khawatir jika Joonmyeon marah padanya, karena telah pergi hingga larut malam dan pulang-walau ia tak ingat bagaimana ia bisa tiba di rumah-dalam keadaan mabuk.

Tapi, pesan yang ditinggalkan Joonmyeon untuknya menyiratkan bahwa semuanya baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sooyoung pun mendesah lega. Dalam hati, ia berjanji untuk berusaha menyenangkan suaminya dan tak akan bertindak bodoh lagi hanya karena terbakar cemburu.

Sooyoung pun memutuskan untuk segera bangkit dari ranjang dan menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah yang sempat terbengkalai. Namun,

“Auw!”

Sooyoung memekik tertahan, ketika mencoba bangkit. “Kenapa bagian bawahku terasa sangat sakit?”

.

“Kenapa kau tersenyum-senyum, Joonmyeon-kun?”

Joonmyeon langsung terlempar dari khayalannya dan kembali lagi ke dunia nyata. Ia baru sadar bahwa Tiffany sudah berada di dalam ruang kerjanya. Dan ia justru hanya memasang wajah linglungnya.

Tiffany tertawa pelan melihat tingkah Joonmyeon. Ia pun menghampiri meja kerja Joonmyeon, lantas menyerahkan sebuah map berwarna merah ke atas meja.

“Apa ini?” tanya Joonmyeon bingung sambil mengambil map merah tersebut.

Lagi-lagi, Tiffany tertawa. “Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan, hingga kau melupakan proyek terbarumu di Jeju, eh?” sindir Tiffany.

Joonmyeon langsung menepuk jidatnya pelan. “Aigo, bagaimana aku bisa melupakannya?” gumamnya pelan.

“Jadi, apa yang sedang kau pikirkan, Joonmyeon-kun?” tanya Tiffany sekali lagi, nampak semakin penasaran.

Joonmyeon mengulum sebuah senyuman misterius. “Hm, ini rahasia,” bisiknya. Otaknya kembali memutar malam indah yang ia lalui bersama Sooyoung.

Tiffany mencibir pelan.

“Jadi, bagaimana proyek baru kita di Jeju?”

.

Sooyoung menata makanan yang telah dimasaknya di atas meja makan dengan penuh semangat. Selama 2 minggu terakhir, hubungannya dengan Joonmyeon berangsur membaik. Keduanya tetap berkomunikasi dengan baik, meskipun Joonmyeon sedang disibukkan dengan proyek barunya di Jeju.

GREP!

“Apakah makanannya sudah siap?” tanya Joonmyeon tiba-tiba sambil memeluk tubuh Sooyoung dari belakang.

Sooyoung begitu terkejut. “A-ah, sebentar lagi,” balasnya agak gugup. Bagaimanapun juga, ia masih sering terkejut dengan sentuhan Joonmyeon yang terkesan mendadak dan tiba-tiba. Sepertinya, yang dikatakan Yuri untuk membiasakan diri dengan setiap sentuhan Joonmyeon adalah benar.

Joonmyeon melepaskan pelukannya, lantas berjalan menuju ke kursi dan bersiap untuk menikmati masakan istrinya.

Sooyoung merasa bahwa segalanya sudah siap di atas meja makan. Ia pun segera menuju kursi di samping Joonmyeon. Ia mulai mengambil piring dan meyiapkan nasi untuk suaminya.

“Oiya, Sooyoungie, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Hm?” balas Sooyoung. “Kau mau ikan?” tawar Sooyoung.

Joonmyeon mengangguk pelan.

Dan Sooyoung langsung mengambil ikan tersebut untuk Joonmyeon.

“Tentang proyek di Jeju itu…”

Sooyoung menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap suaminya lekat-lekat.

“Sepertinya, aku harus pergi ke Jeju karena…”

“UGH!” Sebelum sempat mendengarkan ucapan Joonmyeon, Sooyoung telah berlari menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur. “Hoek~”

Joonmyeon pun langsung mengejar Sooyoung. “Apa yang terjadi padamu?” gumamnya. Ia menghampiri Sooyoung yang berdiri di depan wastafel.

“Perutku m-mual,” balas Sooyoung dengan suara yang lemah.

Tangan Joonmyeon bergerak menuju tengkuk Sooyoung dan memijatnya perlahan. “Kau pasti masuk angin,” timpal Joonmyeon. “Lebih baik, kau makan terlebih dahulu,” usulnya.

Sooyoung mengerucutkan bibirnya sambil menggeleng pelan. “Aku tidak mau makan.”

“Lalu?”

“Aku mau ke kamar saja,” pinta Sooyoung.

Joonmyeon menghela nafas. “Arrasseo, ayo kita ke kamar,” balasnya pasrah. Joonmyeon sudah siap mengangkat kaki, ketika Sooyoung menahan lengannya. “Apa lagi, Soo-ah?”

“Gendong aku,” pinta Sooyoung manja.

Joonmyeon tersenyum kecil, lantas mencolek hidung mancung Sooyoung. “Aigo, dasar istriku yang manja,” cibirnya. Lantas, ia pun langsung menggendong tubuh Sooyoung dengan bridal style.

.

“Joonmyeon-kun, menurutku, gedung di bagian samping ini kurang simetris,” komentar Tiffany pada rancangan bangunan yang digambar oleh Joonmyeon.

Joonmyeon memperhatikan bagian yang dimaksud Tiffany dengan seksama. “Ah, benar juga, Fany-chan,” balasnya. Ia pun segera mengambil sebuah penghapus dan memperbaiki bagian tersebut dengan cekatan. “Hm, jadi bagaimana menurutmu?”

“Coba kuli… Kyaaa!!!” Tiffany yang berusaha mendekatkan tubuhnya pada Joonmyeon, justru tersandung karpet dan terjatuh tepat menindih tubuh Joonmyeon yang terduduk di atas kursi kerjanya.

Joonmyeon menangkap tubuh Tiffany, sehingga wanita itu tidak terjatuh dari tubuhnya. Posisi mereka saat ini begitu berdekatan. Wajah mereka tinggal berjarak sekitar 1 inchi, sementara tubuh mereka sudah saling menempel sepenuhnya.

CKLEK!

Tiba-tiba, pintu ruang kerja Joonmyeon pun terbuka dan…

“K-kim Joonmyeon… Kau…”

Sooyoung sudah berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang sulit diartikan. Tanpa menunggu selama 2 detik, Sooyoung telah berlari meninggalkan ruang kerja Joonmyeon.

“Sooyoung!”

.

“H-hiks, Oppa. Joonmyeon selingkuh.”

Siwon kewalahan menghadapi adik perempuan satu-satunya yang tiba-tiba saja tiba di rumah orang tuanya dengan air mata yang membasahi wajahnya. “Tenanglah dulu, Sooyoungie. Kau pasti hanya salah paham,” komentar Siwon.

Sooyoung memeluk tubuh Siwon semakin erat dan melesakkan wajahnya di dada Siwon. “A-aniyo, Oppa. Aku sudah pernah memergoki Joonmyeon dengan wanita yang sama sebelumnya,” jelas Sooyoung di sela isakannya.

Siwon terdiam. Jujur saja, ia bingung bagaimana harus merespons adiknya. Ia bukan tipe orang yang memutuskan sesuatu hanya berdasar satu sisi. Jadi, ia tak bisa mendukung ucapan adiknya, sebelum ia mendengar penjelasan dari adik iparnya. Ia hanya bisa berusaha menenangkan Sooyoung.

Diam-diam, ia mengirimkan pesan untuk Joonmyeon.

Joonmyeon, bisakah kita bertemu? Aku ingin membicarakan tentang Sooyoung.

.

“Aku berani bersumpah, Hyung! Aku sama sekali tidak berniat untuk mengkhianati istriku,” tegas Joonmyeon.

Siwon menghela nafas. “Ne, aku tahu itu, Joonmyeon,” balas Siwon. “Tapi, bisakah kau menjelaskan padaku, bagaimana tentang kejadian tersebut?” pinta Siwon.

Joonmyeon menarik nafas dalam-dalam dan memulai ceritanya, “Tadi, aku sedang di ruang kerjaku bersama Tiffany, salah satu rekan kerjaku. Kami membahas rancangan proyek kami. Dan ketika Tiffany hendak mengambil rancangan tersebut, ia tersandung karpet dan tubuhnya menimpa tubuhku. Aku memang berusaha menahan tubuhnya agar tak terjatuh dengan memeluk pinggangnya. Tapi sungguh Hyung, aku tak berniat mencuri kesempatan!”

Siwon mengangguk paham. “Lalu, Sooyoung juga mengatakan padaku, bahwa ia juga pernah memergoki kalian sebelumnya. Apakah itu benar?” tanya Siwon lagi.

Joonmyeon mendesah kecil. “Waktu itu, Sooyoung sedang menungguku di ruang kerjaku. Dan sepertinya, dia langsung salah paham ketika melihat aku dan Tiffany masuk ke ruang kerja bersama-sama,” jelas Joonmyeon. “Tapi, setelah itu, Sooyoung sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Jadi kupikir, semuanya baik-baik saja. Hyung,” imbuhnya.

Siwon memijat pelipisnya. “Baiklah, menurutku, adikku-lah yang bersalah disini. Dia memang sangat labil dan mudah salah paham. Kuharap, kau mengerti keadaannya.”

Joonmyeon tersenyum kecil. Ia merasa lega, karena kakak iparnya itu membelanya. “Ah, terima kasih, Hyung. Ne, aku akan selalu berusaha mengerti sifat Sooyoung,” ucap Joonmyeon mantap.

“Jangan berterima kasih begitu saja,” kata Siwon memperingatkan.

Joonmyeon mengernyit heran.

“Kau mungkin bisa selamat di tanganku. Tapi Changmin… well aku tak yakin jika dia bisa menerima semua ini begitu saja.”

.

“Aku tak bisa percaya begitu saja padanya, Hyung! Tidak jika dia sudah melukai hati dongsaeng-ku!”

Dugaan Siwon memang benar. Changmin memang lebih mirip dengan Sooyoung-meski mereka bukan saudara kandung-dalam sikapnya yang mudah meluap-luap dan tak stabil. Ia hanya bisa menghela nafas pelan. “Tapi, dia sudah menjelaskan padaku, Changmin-ah. Aku yakin, Joonmyeon bisa dipercaya,” ucap Siwon yakin.

Changmin berdecak sebal, sambil membuang muka, lantas menatap ke arah Sooyoung yang sedang terlelap di atas ranjang. “Aku tidak akan percaya begitu saja, sebelum memastikannya sendiri, Hyung,” balas Changmin sengit.

“Kau tak percaya padaku?” balas Siwon heran.

Changmin kembali menatap Siwon. “Bukannya aku tak percaya padamu, Hyung. Aku harus benar-benar memastikan tentang hubungan pria itu dengan wanitanya,” jelas Changmin.

Siwon terdiam dan membalas tatapan Changmin. “Ah, benar juga kata Changmin,” batinnya dalam hati.

.

“Joonmyeon-kun, ada apa denganmu?”

Joonmyeon menatap Tiffany, lantas tersenyum kecil. “Tidak, tidak ada apa-apa,” ucapnya bohong. Jelas saja, ada sesuatu yang tengah mengganggu pikirannya saat ini. Siapa lagi kalau bukan wanita yang bernama Choi Sooyoung itu?

“Joonmyeon-kun, aku benar-benar minta maaf atas…”

“Tidak. Jangan meminta maaf atas kesalahan yang tak kau lakukan,” potong Joonmyeon cepat. “Dengarkan aku, Fany-chan. Semua in murni suatu kecelakaan dan baik aku atau kau sama sekali tidak bersalah,” jelas Joonmyeon.

“Tapi, istrimu sudah salah paham,” balas Tiffany.

Joonmyeon tersenyum kecil. “Ini semua tentang sebuah proses pendewasaan hubunganku dengan istriku,” timpalnya bijak.

Tiffany menggeleng pelan. “Ini adalah sebuah ketidak sengajaan. Aigo…”

“There is no inadvertance in this life, Fany-chan,” balas Joonmyeon.

Tiffany menatap Joonmyeon tak mengerti.

“Aku percaya, bahwa Tuhan telah menggariskan ini semua dan menyiapkan sesuatu bagi hidup kita selanjutnya.”

.

“J-joonmyeon akan pergi ke Jeju?” tanya Sooyoung tak percaya.

Changmin mengangguk atas pertanyaan Sooyoung.

“Bersama wanita itu?” tanya Sooyoung lagi.

Dan Changmin kembali mengangguk. “Tentu saja, Soo-ah. Mereka berdua adalah rekan kerja,” jelas Changmin.

Sooyoung tertunduk lesu. Tangannya menggenggam erat selimut yang menutupi separuh tubuhnya.

Changmin mengelus pucuk kepala Sooyoung. “Tenanglah, nae dongsaeng,” ucapnya menenangkan. “Aku akan menyelidiki mereka berdua,” imbuhnya.

Sooyoung mengerjapkan kedua matanya. “Jeongmal?” tanyanya tak percaya. “Bolehkah aku ikut denganmu?” tanya Sooyoung penuh harap.

Changmin mendengus pelan. “Tak bisa. Kau sedang sakit,” tolak Changmin. Ia tahu betul kondisi adiknya akhir-akhir ini yang terlihat sangat lemah, bahkan perutnya mual-mual dan tak bisa memutahkan apapun. Nafsu makannya pun menurun.

“Aniyo! Aku sudah sembuh, Nii-san!” tegas Sooyoung.

Changmin memutar otaknya. Selain sakit, Sooyoung juga menjadi sangat manja. Jika permintaanya tak dituruti sekali saja, ia bisa menangis dan ngambek semalaman. “Arrasseo. Tapi kau harus makan yang banyak sebelum kita berangkat ke Jeju. Setuju?”

Sooyoung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan semangat.

Changmin kembali mengusap lembut kepala Sooyoung. “Sooyoungie, kau harus sembuh. Jangan rela sakit hanya demi pria yang mengkhianatimu,” harapnya dalam hati.

.

“Aku merasakan sesuatu yang tidak baik, Joonmyeon-kun,” celetuk Tiffany pada Joonmyeon yang sedang menikmati makan siang mereka di Jeju.

Joonmyeon mengangkat wajahnya yang nampak heran. “Tidak baik seperti apa?” tanya Joonmyeon.

“Sepertinya, ada seseorang yang sedang mengikuti kita,” jelas Tiffany.

Joonmyeon tertawa kecil. “Tentu saja. Mishima Company mengikuti kita sejak tadi, kan?” candanya.

Tiffany memukul pelan lengan Joonmyeon yang ditumpangkan di atas meja makan mereka. “Yak, bukan begitu maksudku, Joonmyeon-kun!” cibirnya jengkel.

Joonmyeon hanya mengangkat bahunya asal dan kembali menyantap makan siangnya. “Sudahlah, nikmati saja makananmu,” kata Joonmyeon mengingatkan.

Tiffany nampak ragu untuk melanjutkan makan siangnya. “Aniyo. Aku sudah kenyang,” balasnya.

Joonmyeon berdecak kesal. Ia tahu, bahwa Tiffany sedang berbohong. “Cepat makanlah. Aku tak ingin mengambil resiko kau jatuh pingsan di lapangan,” komentar Joonmyeon.

Tiffany tersenyum kecil, sambil menggeleng pelan. “Gwaenchanaeyo,” balasnya lembut.

“Cepat makan atau kau ingin kusuapi, hm?” tawar Joonmyeon. “Cicipilah udang ini. Rasanya sangat nikmat,” ucap Joonmyeon sambil menunjukkan udang pada Tiffany.

“Tidak, terima kasih, Joonmyeon-kun,” tolak Tiffany dengan sopan.

“Ayolah, aku yang menyuapimu, Fany-chan.”

“KIM JOONMYEON!” bentak sebuah suara.

Joonmyeon dan Tiffany menoleh serempak ke arah suara tersebut.

Joonmyeon terkejut ketika menyadari keberadaan dua kakak iparnya dan Sooyoung, serta kakak iparnya sedang menatap geram ke arahnya. “C-changmin Nii-san,” panggil Joonmyeon terbata.

“J-joonmyeon, kau selingkuh. Huweee…” Sooyoung yang berdiri di samping Changmin pun menangis seketika.

Joonmyeon bangkit dari duduknya dan menghampiri Sooyoung. “Aigo, Sooyoungie, kau salah paham…”

“Hiks, hiks, Nii-san, bawa aku pergi dari sini,” bisik Sooyoung yang langsung memeluk tubuh Changmin.

Siwon yang menyaksikan kejadian itu secara langsung pun menatap Joonmyeon dengan pandangan kecewa. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Sebaiknya, kita segera pergi dari sini,” ajak Siwon sambil menarik Changmin dan Sooyoung.

“Sooyoung! Aku bisa menjelaskan semuanya padamu! Sooyoung!”

.

“Seharusnya, Sooyoung tidak perlu kau ajak kesini, Changmin-ah,” kata Siwon sambil menatap iba ke arah Sooyoung yang berbaring di kamar hotel dalam keadaan pingsan.

Changmin berdecak. “Tapi dia yang memaksa, Hyung,” protesnya. “Lagipula, ini semua juga demi kebaikan Sooyoung. Kita semua tahu bahwa Joonmyeon memang mengkhianati adik kita,” tegas Changmin geram.

Siwon memijat pangkal hidungnya. “Ne, aku tahu itu. Aku pun tak menyangka bahwa Joonmyeon mengkhianati Sooyoung. Aku percaya sekali padanya,” gumam Siwon tak percaya.

Changmin bangkit dari ranjang, lantas menghampiri Siwon. “Sudahlah, Hyung. Intinya, kita tidak punya alasan lagi untuk menahan Joonmyeon menjadi suami Sooyoung. Mereka harus bercerai.”

DEG!

Siwon membulatkan matanya. Ia menatap miris ke arah Sooyoung. “Ya Tuhan, kenapa Kau berikan ujian seberat ini pada adikku?”

.

“Changmin Hyung,” panggil Joonmyeon pada Changmin yang sedang melintas di depan restoran hotel tempat Choi bersudara menginap.

Changmin menghentikan langkahnya, lantas menatap Joonmyeon. Seketika, ia menunjukkan tatapan jijiknya pada pria yang masih berstatus sebagai adik iparnya tersebut. “Mau apa kau?” tanya Changmin ketus.

Siwon yang berjalan di belakang Changmin pun terpaksa menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Joonmyeon.

“Hyung, aku ingin minta maaf dan…”

“Pergilah dari kehidupan adikku, Joonmyeon,” desis Changmin pelan, namun tajam. “Kau hanya membuat adikku menderita!” tegas Changmin.

Joonmyeon berusaha menahan amarahnya dan tetap bersikap sopan pada dua kakak iparnya. “Hyung, aku bisa menjelaskan semuanya…”

“Seluruh sikapmu tadi sudah cukup menjelaskan semuanya, Kim Joonmyeon,” balas Changmin dingin. “Dan kami bukan orang bodoh yang tak bisa mengartikan semua itu,” imbuhnya tajam. Dan Changmin pun mulai melangkah pergi dengan kaki-kakinya yang panjang.

Joonmyeon mengalihkan pandangannya pada Siwon. “Hyung, berikan aku satu kesempatan lagi.”

Berbeda dengan Changmin, Siwon nampak menghadapi Joonmyeon dengan lebih tenang. “Maafkan aku, Joonmyeon. Aku tak bisa membantumu kali ini. Kau telah mengecewakan adikku.”

.

“Selamat adik Anda sedang mengandung selama 1 bulan.”

DEG!

Seketika, Siwon dan Changmin pun saling bertatapan setelah mendengar penuturan seorang dokter yang sengaja mereka panggil untuk memeriksa keadaan Sooyoung yang belum kunjung sadar dari pingsannya.

“Tuan, saya permisi dulu,” pamit sang dokter pada Siwon dan Changmin.

Siwon dan Changmin masih dikejutkan dengan fakta tersebut. Entah kenapa, ada banyak fakta mengejutkan yang mereka terima. Tentang kebenaran perselingkuhan Joonmyeon dan kehamilan Sooyoung. Kenapa semuanya datang secara bertubi-tubi?

“B-bagaimana ini, Hyung?” tanya Changmin bingung. “Sooyoung sedang mengandung anak Joonmyeon.”

Siwon memegangi kepalanya yang mulai berdenyut pelan. “Mwolla, Min,” balasnya pasrah. “Apa yang harus kita katakan pada Sooyoung?”

“Nggh…”

Siwon dan Changmin dikejutkan dengan suara lenguhan dari bibir Sooyoung. Kedua pria itu langsung menghampiri adik mereka.

“O-oppa?” panggil Sooyoung sambil membuka matanya.

“Ne, kami disini, Sooyoungie…” balas Siwon lembut.

Sooyoung kembali terisak ketika mengingat Joonmyeon. “Hiks, hiks, J-joonmyeonnie…”

Siwon dan Changmin kembali saling bertatapan. Jujur saja, kedua kakak-beradik itu berada di dalam dilema yang hebat.

Hingga akhirnya, Siwon pun memutuskan untuk membuka mulutnya, “Sooyoungie, dengarkan Oppa dulu, ne?”

Sooyoung menoleh ke arah Siwon dan menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kau tak boleh sedih begini. Kau harus menjadi wanita yang kuat karena…” Siwon menggigit bibirnya, karena bingung untuk mengatakan keadaan yang sesungguhnya pada Sooyoung.

“Karen kau sedang hamil, Sooyoung,” lanjut Changmin cepat.

Sooyoung berusaha mencerna ucapan Changmin. Ia hanya bergumam pelan, “m-mwo?” sebelum kembali jatuh pingsan.

.

“Masuklah.”

Joonmyeon nampak begitu gugup. Tiba-tiba saja, ketika ia sedang berada di dalam rapat dengan Mishima Company, Changmin menghubunginya dan memintanya untuk datang ke kamar hotel Sooyoung. Rapat dengan Mishima Company memang sangat penting. Namun bagi Joonmyeon saat ini, Sooyoung jauh lebih berharga dibanding apapun di dunia ini. Ia rela kehilangan pekerjaannya sekalipun, selama ia bisa memiliki Sooyoung di sisinya.

Joonmyeon melangkah ragu ke dalam kamar Sooyoung.

Sooyoung sedang terduduk di atas ranjang. Kedua kakinya ditekuk dan wajahnya dibenamkan diantara kedua kakinya. Terdengar isakan kecil dari bibirnya.

Joonmyeon semakin bertanya-tanya dengan keadaan Sooyoung. “Sooyoungie…” panggilnya dengan suara yang parau.

Sooyoung mengangkat wajahnya yang basah karena air mata. “J-joonmyeonnie…” bisiknya pelan. Dan isakannya pun mulai terdengar semakin keras. “Aku… aku hanya mencintai Joonmyeon. Sungguh. Aku hanya mencintaimu, Kim Joonmyeon,” racau Sooyoung.

Joonmyeon pun segera mendekat ke arah Sooyoung dan memeluk tubuh istrinya itu dengan erat. “Ne, ne, aku juga sangat mencintaimu, Sooyoung. Dan maaf atas semua tindakan bodohku selama ini,” ucap Joonmyeon penuh sesal.

Sooyoung melingkarkan tangannya pada punggung Joonmyeon dan memeluknya erat, seolah tak ingin kehilangan Joonmyeon. “J-joonmyeon, jangan tinggalkan aku. Jebbal…”

“Ne, aku tak akan meninggalkanmu.”

“Joonmyeon, kumohon jangan marah padaku, ne?”

Joonmyeon mengernyit bingung. “Untuk apa marah padamu?” tanya Joonmyeon heran. Padahal, dialah yang bersalah selama ini.

Sooyoung tak berani menatap Joonmyeon dan menyembunyikan wajahnya di dada Joonmeyon. “A-aku hamil…” bisik Sooyoung.

“Ne?” Joonmyeon terkejut. “Apa katamu? Kau… hamil?” tanya Joonmyeon.

Sooyoung mengangguk di dada Joonmyeon. “M-maafka…”

“Aigo, Sooyoungie! Kenapa kau baru memberitahuku, eh?” Joonmyeon langsung tersenyum bahagia. Bahkan, ia langsung mengecupi setiap sudut di wajah Sooyoung untuk meluapkan kebahagiaannya, karena ia akan menjadi seorang ayah.

Sooyoung mengerjapkan kedua matanya bingung. “J-joonmyeon? K-kau tidak marah padaku?” tanya Sooyoung bingung.

Joonmyeon menghentikan kecupannya dan menangkup pipi Sooyoung. “Kenapa aku harus marah, eoh?”

“K-karena kita b-belum pernah melakukan hubungan suami-istri. L-lalu, bagaimana aku bisa hamil?” jelas Sooyoung. Sooyoung pun kembali memeluk Joonmyeon. “Joonmyeonnie, a-aku sungguh takut…”

Joonmyeon justru tertawa pelan mendengarnya. “Aigo, jadi kau melupakan malam itu, ya?” tanya Joonmyeon.

Sooyoung kembali menatap Joonmyeon. “Malam yang mana?”

Joonmyeon mencolek hidung Sooyoung. “Malam saat kau mabuk berat dan memintaku untuk menyentuhmu malam itu juga,” jelas Joonmyeon santai.

“HEH?!” Sooyoung melongo tak percaya. Ia langsung mendorong tubuh Joonmyeon. “J-jangan bohong!” bentak Sooyoung. “Mana mungkin, a-aku bilang begitu?” tanyanya tak percaya.

Joonmyeon terkekeh pelan. “Ah, mungkin, seharusnya, aku merekam permainan panas kita dan betapa kau mendesah memohon padaku untuk menyentuhmu lagi dan lagi,” jelas Joonmyeon dengan suara menggoda.

Pipi Sooyoung merona merah.

“Sooyoungie…” Joonmyeon meraih tangan Sooyoung dan menggenggamnya dengan lembut.
Percayalah padaku. Malam itu aku memang menyentuhmu. Dan maafkan aku kalau aku memanfaatkan keadaanmu yang sedang mabuk malam itu,” jelas Joonmyeon.

“K-kita benar-benar sudah melakukannya?”

Joonmyeon mengangguk pelan.

Sooyoung menepuk jidatnya. “Ah, pantas saja, aku merasa sakit sekali dan tubuhku pun pegal-pegal,” gumam Sooyoung saat teringat pada waktu itu.

Joonmyeon tersenyum kecil. “Jadi, kau memaafkanku?” tanya Joonmyeon sambil menarik dagu Sooyoung.

Sooyoung mengerucutkan bibirnya kesal, lantas memukul pelan dada suaminya. “Kau jahat…”

“Aish, waeyo?”

“Kau melakukannya saat mabuk. Aku kan, jadi tidak bisa mengingat apa-apa,” gerutu Sooyoung kesal.

“Hei, hei, kau ingin menikmatinya lagi, ya?” goda Joonmyeon. “Eits, tapi ingatlah, ada uri aegya disini. Kita tak boleh menyakitinya, arra?” tanya Joonmyeon sambil mengelus perut rata Sooyoung.

Sooyoung tersenyum kecil, lantas menyandarkan kepalanya di dada suaminya dengan manja. “Ne, Yeobo~”

.

6 years later…

“Wu Zhi Tao! Kim Jinri! Berhati-hatilah!” seru Sooyoung dari kejauhan pada kedua bocah yang asyik berkejaran di tengah-tengah lapangan.

“Sooyoungie, kau terlalu berlebihan pada mereka,” celetuk Yuri yang duduk di samping Sooyoung.

“Aish, Jinri memang keras kepala,” gerutu Sooyoung sebal.

“Bukankah itu sangat mirip denganmu, Sooyoungie Chagi?” goda Joonmyeon yang sudah muncul di balik tubuh Sooyoung.

Sooyoung menarik nafas. “Dengar, Kim Joonmyeon. Aku masih marah denganmu! Aku tak mau bicara padamu!” ucap Sooyoung jengkel.

“Eh, tapi barusan, kau bicara padaku, eh?” goda Joonmyeon sekali lagi.

Sooyoung bangkit dari duduknya, lantas berteriak. “Yak, Kim Joonmyeon, berani-beraninya kau menggodaku, eoh?!” tanya Sooyoung geram, lantas berlari mengejar Joonmyeon.

“Ayo, kejar aku, Nyonya Kim!” seru Joonmyeon sambil berlari menjauh menghindari Sooyoung.

Yuri dan Yifan yang melihat tingkah sepasang suami-istri itu pun tertawa geli.

“Ahjumma, Ahjussi,” panggil Jinri yang mendekati Yifan dan Yuri bersama Tao.

“Ne, Chagi?” balas Yuri sambil menggendong Jinri dan mendudukkannya di pangkuannya.

“Kenapa Umma dan Appa malah berkejar-kejaran seperti aku dan Tao Oppa?” tanya Jinri polos.

“Karena Umma dan Appa-mu iri pada kalian berdua,” jelas Yifan asal-asalan. Ia sudah memangku Tao.

Tao berdecak pelan. “Aish, ada-ada saja mereka…”

“Hahaha~”

“Joonmyeon, berhenti kau!”

“Tidak akan! Kau harus mengejarku, Nyonya Kim!”

“Awas kau!”

EPILOG

Kim Joonmyeon’s Note

Selama ini, aku selalu percaya bahwa tak pernah ada ketidaksengajaan di dunia ini. Karena aku yakin, bahwa Tuhan telah menggariskan takdir bagi setiap makhluknya.

Dan aku percaya, bahwa seluruh perjalanan hidupku ini dan hidup baruku bersama Sooyoung, istriku dan Jinri, putriku adalah takdir yang digariskan Tuhan untukku.

Kuharap, kalian pun bisa mengerti hal ini.

There is no inadvertance in this life.

.

FIN

Mianhaeeeeeeeeeee /deep bow with Suho/ FF ini tuh panjaaaaaaaang banget. Dan ngareeeeeeeeet banget. But I keep my promise, rite? Aku post ff ini tanggal 8. /nyengir gaje/

Sejak Minggu, aku sibuk banget. Ada acara keluarga dan disibukkan sama SMA baru, hihi. Yeay, akhirnya aku diterima di sekolah idamanku, kkk~ Makasih atas doa kalian semua, yaa /kecup basah/ Dan pas aku mau ngetik ff ini, si Minyu disandera sama adikku. Alhasil, aku harus nunggu adikku selesai pake Minyu.

Dan akhirnya, jadilah ff ajaib bin gaje ini. Isi dan judulnya pun nggak sesuai banget, kkk~ Tapi, aku harap, kalian semua bisa menarik hikmah dari kisah ini. Tentang apa yang dikatakan Suho, “there is no inadvertance in this life”

Aku mau ucapin makasih banget buat seluruh readers yang sudah bersedia mengikuti kisah cinta Suho-Sooyoung dari awal hingga akhir. Yah, walaupun endingnya gaje begitu, dengan Suho-Sooyoung yang berantem sambil kejar-kejaran, but trust me, they’ll live happily. Meskipun ini bukan ff series, tapi rasanya seneng banget, karena untuk pertama kalinya setelah menjadi author ff selama kurang lebih 1 tahun lamanya, aku berhasil menyelesaikan ff dengan tuntas /syukuran bareng EXO/

Dan aku mau minta usul, kira-kira, ada yang minat nggak, kalau aku bikin ff ini dengan NC Version (tapi tetep password protected)? Kalau ada yang minat, coba tulis di kotak komentar.

Love,

Jung Minrin

39 responses to “[Oneshot] Maybe Baby

  1. Oh tuhann, setelah sekian lama aku mencari ff soo-myeon.. wow, aku sukaaa banget sama tulisan kamu, kereennn , i love ittt!!!~ tapi buat ff soo-myeon yg banyakk yaaa*maksa xD. Author, keep writing!! ^^ ~

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s