[Mini Series] Mr. and Mrs. Huang – Chapter 1

i

Mr. and Mrs. Huang

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

SNSD Sooyoung || EXO-M Tao || SNSD Yuri || EXO-M Kris

EXO-K Suho || SNSD Sunny || Super Junior Siwon || f(x) Sulli

Length : Mini Series || Rating : PG-15 || Genre : Romance, Friendship, Marriage Life

Disclaimer :

The casts are not mine, but the plot is truly mine

So, don’t dare to take it without my permission

Inspired by :

Mr. and Mrs. Smith (film) and Dating Agency : Cyrano (K-drama)

Warning!

Age Manipulation!

Note :

Datang sesuai janji🙂 FF ini di-update sebelum AS-nya Serendipity.

Ya sudah, tanpa banyak bicara lagi, aku ucapkan,

Selamat membaca ^^

.

we do have some secrets

-Mr. and Mrs. Huang-

.

Choi Sooyoung

Aku masih senantiasa mondar-mandir di dalam kamarku yang cukup luas ini. Tangan kananku menggenggam erat ponselku, sementara tangan kiriku sedang membawa secarik kartu nama yang diberikan oleh pemuda Huang itu.

Aku menghentikan langkahku sejenak dan melihat ke arah ponselku dan kartu nama yang kupegang secara bergantian. Pikiranku sedang menimbang-nimbang, apakah aku harus menyetujui tawaran pemuda itu atau tidak. Aku sungguh tak menyangka jika pemuda itu malah memaksaku untuk menikah dengannya.

Beberapa pikiran negatif langsung berkelebatan di otakku.

Bagaimana kalau ia hanya memanfaatkan tubuhku sebagai pemuas nafsunya?

Bagaimana kalau aku justru dijadikan seorang pembantu olehnya?

ARGH! Andwae! Selama ini, aku bersekolah dengan rajin dengan tujuan supaya aku bisa menggapai cita-citaku sebagai seorang desainer. Lantas, bagaimana jika aku hanya berakhir di tangan pemuda itu?

Namun, tawaran yang diberikan pemuda itu juga cukup menarik. Dia akan memenuhi segala permintaanku asal aku bersedia menikah dengannya. Dan itu berarti, aku bisa meminta padanya untuk membantu perekonomian keluargaku.

Hei, tunggu, tunggu! Tapi, bukankah semua itu sama saja? Bukankah jika aku menikah dengan pemuda itu, keluarganya tetap akan membantu keluargaku? Bukankah itu semua adalah tujuan dari perjodohan ini? Lalu, kenapa pemuda itu memberikan tawaran yang sama persis? Bukankah ini adalah suatu kesia-siaan? Dengan atau tanpa menyetujui tawaran pemuda itu, selama aku menikah dengannya, bukankah keluargaku akan tetap terbantu? Pemikiranku benar, kan?

Aku mendesah keras-keras. Mungkin saja, ada sesuatu yang tersembunyi dibalik tawaran pemuda itu. Tapi, apa? Apa motif pemuda itu?

Ah, kepalaku mulai berputar pelan. Kenapa ada banyak sekali hal yang harus kupikirkan akhir-akhir ini? Semua ini membuat otakku lelah.

Huh, daripada pusing memikirkannya, lebih baik, aku istirahat saja dulu.

.

Bomi oneun sori teu-llimyeon
Ggoti pin gil ttara keo-reoyo
Bi naerineun yeoreumi omyeon
Muji-gae-man bomyeo keo-reoyo

Aku terbangun dari tidurku ketika mendengar alunan lagu How Great is Your Love sebagai penanda pesan masuk pada ponselku. Aku langsung meraih ponsel yang kuletakkan di atas meja nakas, di samping ranjang.

1 New Message!

Unknown Number

Aku mengernyit heran, karena pesan itu berasal dari nomor yang tak terdaftar dalam kontak ponselku. Hm, kira-kira dari siapa, ya? Daripada penasaran, aku pun segera membaca pesan itu.

Annyeong, Soo! Ini aku, Chaerin. Aku ingin mengabarkan bahwa sepertinya, aku memiliki pekerjaan yang cocok untukmu😉

Ah, ternyata pesan itu berasal dari Chaerin. Chaerin adalah salah satu temanku di Kyunghee University, namun kami berbeda jurusan. Meski begitu, kami berdua adalah sahabat baik. Aku juga pernah menceritakan masalah keluargaku padanya. Maka dari itu, ia menawarkan bantuan padaku. Dan dia akan mencarikan pekerjaan yang cocok denganku.

Aku pun segera mengetikkan pesan balasan untuknya.

Hei, kau mengganti nomor ponselmu, ya?

Ah, syukurlah. Pekerjaan seperti apa yang bisa kudapat? Aku tak sabar untuk mendengarnya ^^

Dan aku pun menekan tombol Send pada layar ponselku.

Ah, aku sungguh tak sabar mendengar kabar dari Chaerin. Semoga saja, dengan pekerjaan itu, aku bisa membantu perekonomian keluargaku. Dan itu berarti…

…aku terbebas dari jerat keluarga Huang dan pemuda egois bernama Huang Zhi Tao itu.

.

“Bagaimana kencanmu, Unnie?” celetuk Sulli yang sedang menikmati ramen di ruang tengah.

Aku menoleh cepat ke arahnya dan melotot kesal. “Kencan apa? Siapa yang kencan?” tanyaku ketus. Walaupun aku tahu, kencan yang dimaksud oleh Sulli, tapi aku tetap saja tak ingin menganggap pertemuan yang tak lebih dari 5 menit dengan pemuda Huang itu sebagai sebuah kencan.

Sulli menelan habis ramen yang ada di mulutnya, lantas menjawab, “Aish, jangan pura-pura tak tahu, Unnie! Unnie baru saja berkencan dengan pria Huang itu, kan? Bagaimana dia?” Sulli nampak bersemangat dengan topik ini.

Aku mendengus pelan. “Bahkan, aku tak yakin bisa menyebutnya pria,” cibirku.

“Eh?” Sulli membulatkan kedua matanya. “M-maksud Unnie, dia masih muda?”

Aku menghela nafas panjang. “Kurasa begitu. Wajahnya terlihat imut dan dia juga mengenakan baju seperti seragam High School,” jelasku, sambil mengingat penampilan pemuda itu ketika bertemu denganku tadi.

Sungguh, aku masih tidak menyangka dengan penampilan pemuda itu. Kupikir, pria yang akan dijodohkan denganku adalah pria tua bertubuh gendut yang tak laku-laku. Tapi kenyataannya, pria yang dijodohkan denganku terlihat muda dengan wajah yang imut, meski sikapnya terkesan sangat dingin. Aku heran, bagaimana mungkin, pemuda setampan dirinya tidak laku, hingga harus dijodohkan denganku? Apakah para gadis tak suka dengannya? Apa karena sifatnya yang dingin itu?

Aish, memikirkannya saja membuat kepalaku terasa berat.

“Seragam High School?” Sulli mulai memandang menerawang, seolah sedang membayangkan sesuatu. “Seragam sekolah mana?” tanyanya, kali ini, dia sudah menatapku.

Aku terdiam. Kini, akulah yang sedang membayangkan sesuatu. “Hm, mwolla. Aku lupa, tapi aku yakin, pernah melihat seragam itu,” balasku ragu. “Pemuda itu mengenakan kemeja putih yang dibalut dengan jas hitam dengan badge di dada kirinya. Dia juga mengenakan dasi berwarna merah dengan garis biru,” jelasku.

Sulli menyentuh dagunya dan mulai berpikir ala detektif. “Hm, kemeja putih, jas hitam, badge di dada kiri, dan dasi merah dengan garis biru,” gumamnya, mengulangi deskripsiku atas seragam sekolah yang kumaksud. “Sepertinya, aku juga pernah melihat seragam sekolah macam itu. Tapi dimana, ya?”

“Ah, pasti pemuda itu bersekolah di sekolah yang tidak terkenal. Makanya, kita tidak tahu, Sulli-ah,” celetukku asal-asalan.

“Aish, Unnie.” Sulli mencibir kesal. “Rasanya, seragam sekolah itu sangat familiar. Tapi, itu bukan seragam sekolahku,” gumamnya.

“Ah, sudahlah. Jangan dipikirkan. Lanjutkan saja memakan ramenmu itu sebelum dingin,” perintahku.

“Ah, ne, ne.”

“Unnie ke kamar dulu, ne?” pamitku. Tanpa menunggu balasan dari Sulli, aku pun langsung melesat ke kamarku yang terletak di lantai dua rumah.

.

“Kau pernah dengar tentang Cyrano?”

Aku mengernyit heran, ketika Chaerin menyebut istilah asing yang tak kumengerti melalui sebuah sambungan telepon. Apa katanya, Sirano? “Heh? Makanan apa itu?” celetukku asal.

“Aigo, kenapa hanya ada makanan di pikiranmu, Soo?”

Aku hanya terkekeh tak berdosa.

“Cyrano adalah sebuah agen perjodohan. Kau mengerti?”

Aku mengangguk. “Ne, ne. Jadi, apa hubungan Cyrano itu denganku?” tanyaku penasaran. Apakah aku akan dipekerjakan di sebuah agen perjodohan? Memangnya, apa yang akan aku lakukan disana?

“Aish, kau ini bagaimana, sih? Kau akan kupekerjakan disana!”

“E-eh?” Nah, aku terkejut mendengarnya. “Memangnya, apa yang harus kukerjakan di sebuah agen perjodohan?” tanyaku bingung.

“Aish, jinjja! Tentu saja, kau akan menjodohkan orang!”

GLEK!

Menjodohkan orang?

Aish, kepalaku mulai berputar-putar lagi.

.

“Oppa, bolehkah aku bekerja?” tanyaku takut-takut pada Siwon Oppa yang sedang mengerjakan berbagai tugas dari perusahaan kami. Jujur saja, aku gugup sekali untuk membicarakan ini dengannya, karena Siwon Oppa selalu melarang aku, Umma, atau Sulli untuk bekerja.

Siwon Oppa langsung menghentikan kegiatannya. Dokumen-dokumen yang tengah dipelajarinya itu diletakkan di atas meja kerjanya. Kacamata yang bertengger di hidung mancungnya itu pun ditanggalkan. “Apa kau bilang, Soo?” tanyanya, masih dengan nada yang tenang.

Aku memejamkan mataku dan menarik nafasku dalam-dalam. “Apakah aku boleh bekerja?” ulangku. Dan aku pun kembali membuka mataku, memastikan ekspresi Siwon Oppa kali ini.

Siwon Oppa mengernyitkan dahinya, sehingga kedua alisnya pun saling bertautan. “Bekerja?” tanya Siwon Oppa memastikan.

Aku meringis kaku. “N-ne, Oppa,” balasku gugup.

Siwon Oppa mendesah panjang, lantas menundukkan kepalanya kembali, fokus pada pekerjaannya. “Seharusnya, kau sudah tahu jawaban Oppa, Soo,” balasnya dingin.

Aku menggigit bibir bawahku. “T-tapi, Oppa…”

“Keluar dari ruangan Oppa, Soo. Oppa sedang bekerja. Arra?” tanyanya, tanpa melirik sedikitpun ke arahku.

Aku agak kecewa atas sikap Siwon Oppa. Aku tahu, Siwon Oppa hanya tak ingin membuatku atau keluarga lainnya merasa terbebani dengan kehidupan kami. Tapi, setidaknya, aku juga ingin membantu meringankan beban keluargaku.

Yah, tapi aku bisa apa? Aku tak bisa membantah perintah Siwon Oppa.

Aku pun melangkahkan kakiku keluar dari ruang kerja Siwon Oppa.

.

Mianhae, Chaerin. Sepertinya, aku tak bisa. Siwon Oppa melarangku bekerja.

Aku pun langsung menekan tombol Send, setelah mengetikkan pesan pada Chaerin. Ya, sepertinya, aku memang harus menolak tawaran Chaerin, seperti apa yang diperintahkan Siwon Oppa. Mungkin, aku harus rajin belajar dan segera menyelesaikan kuliahku, sehingga aku bisa segera bekerja untuk membantu keluargaku.

Ah, benar! Ayo, Choi Sooyoung, fighting!

Tiba-tiba, mataku tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di atas meja belajarku. Ah, itu adalah kartu nama yang diberikan oleh pemuda Huang itu. Aku menghampiri meja belajarku dan mengambil kartu nama tersebut. Kupandangi kartu nama itu lekat-lekat.

Aku berpikir ulang.

Haruskah aku menerima tawaran pemuda itu?

Haruskah aku menerima perjodohan dengan pemuda itu?

Tapi, sanggupkah aku hidup berumah tangga dengan pemuda yang sedingin es seperti dirinya?

Aku menoleh ke arah jam dinding di kamarku. Ini sudah pukul 11.28 malam. Dan pemuda Huang tadi memberiku waktu untuk menghubunginya hingga tengah malam. Itu artinya, aku masih memiliki waktu 32 menit sebelum memutuskan.

Namun, tanpa menunggu hingga 32 menit, jemariku langsung bergerak cepat diatas ponselku, mengetikkan nomor ponsel yang tertera di kartu nama dan segera menguhubungi pemuda itu.

Entahlah, apa yang kupikirkan saat itu, hingga aku memutuskan untuk menelepon pemuda itu.

.

“Yoboseyo?”

Pemuda Huang itu sudah mengangkat panggilanku. Aku masih bisa mengenali suaranya yang dingin, meski terdengar serak, seolah baru saja terbangun dari tidurnya yang nyenyak.

Untuk beberapa detik, aku masih terdiam. Aku tak tahu, harus berbicara seperti apa. Apakah aku langsung mengatakan, “Aku setuju menikah denganmu!”? Ah, itu terdengar konyol sekali.

“Yoboseyo?”

Aku masih terdiam karena terlalu bingung.

“Siapa ini? Ah, sudahlah, aku tutup sa…”

“Eits! Tunggu, tunggu!” sergahku cepat. Waktuku tidak banyak, jadi aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin.

“Ne? Siapa ini?”

“A-aku…” Aku mulai tergagap. “Aku… C-choi Sooyoung,” jawabku, akhirnya.

“Choi Sooyoung?”

Terjadi keheningan yang cukup lama diantara kami berdua. Jangan-jangan, dia tidak mengingatku, ya?

“Ah, Nona Choi!”

Nada bicaranya ketika memanggilku Nona Choi kedengaran seperti sedang menyindirku. Tapi, aku berusaha untuk menjaga sikapku, karena ini adalah kesempatan satu-satunya yang bisa kulakukan untuk membantu keluargaku. “N-ne,” balasku.

“Ada apa menghubungiku malam-malam begini, Nona?”

“Hm, tentang perjodohan itu…” Duh, aku malas membahasnya dengan mulutku sendiri. Maksudku, apakah pemuda itu tak bisa langsung menebak arah pembicaraanku?
Ternyata, pemuda itu masih saja diam. Aish, sepertinya aku memang harus menjelaskannya sendiri. “Aku… sepertinya, aku menerima p-perjodohan itu,” jelasku dengan suara yang tergagap dan lirih.

“Ne? Mian, aku tak mendengar suaramu.”

Aish, pemuda itu! Apakah dia memang sengaja melakukan ini? Apakah dia hanya bermain-main denganku? Apakah dia sedang menggodaku?

Oke, Choi Sooyoung, kau harus tenang. Kau hanya perlu mengatakan kalimat itu sekali lagi, dengan suara yang lebih jelas dan tempo yang lebih lambat, karena pemuda yang kau ajak bicara itu mengalami masalah pada pendengarannya. Baiklah, ayo kita mulai lagi! “Aku… menerima… perjodohan… itu…”

Pemuda itu terdiam sejenak, lantas merespons, “Oh…”

Respons macam apa itu? Kenapa dia hanya menggumamkan ‘oh’?

Kami pun kembali terdiam.

“Apakah kau hanya ingin menyampaikan itu, Nona Choi?”

GLEK!

Duh, memangnya, aku harus bicara apa lagi, sih? Bukankah seharusnya, pemuda itu yang mengatur segalanya? Aku kan, sudah menyetujuinya. “J-jadi, bagaimana?”

“Apanya yang bagaimana?”

Dalam hati, aku menggeram kesal. Sepertinya, pemuda ini sedang ingin bermain-main denganku. “Maksudku, bagaimana untuk selanjutnya?”

“Selanjutnya?”

“Ne.”

“Tentu saja, selanjutnya kita akan menikah. Mudah, bukan?”

“MWO?!” Mataku membulat dengan sempurna. Ponsel yang tertempel di telingaku pun nyaris terjatuh dari genggaman tanganku. A-apa katanya? Kami langsung m-menikah? “K-kau serius? L-langsung menikah?” tanyaku terbata.

“Ne. Apa susahnya?”

“B-bagaimana kalau kita bertemu saja terlebih dahulu untuk m-membicarakan hal ini?” usulku. Mana mungkin, aku bersedia langsung menikah dengannya? Setidaknya, aku bisa mengenal sosoknya atau kami bisa membicarakn tentang tawarannya itu, bukan?

“Hah, bilang saja, kalau kau merindukanku dan ingin bertemu denganku.”

Heh? Apa dia bilang? Sungguh, rasanya, aku harus mencabut kata-kataku tadi! Pemuda ini jauh dari kata dingin! Tapi, dia adalah makhluk yang amat sangat menyebalkan! “A-aniyo,” elakku. Sialnya, kenapa aku masih kedengaran gugup. Dengan begitu, mungkin saja, pemuda ini akan curiga dan menduga bahwa aku sedang berbohong dengannya.

“Ah, terserah kau saja. Baiklah, kalau begitu, besok, jam 10 pagi, temui aku di Savana Cafe dan tidak ada kata terlambat. Sampai ketemu.”

PIP!

Dan sambungan telepon diputuskan secara sepihak oleh pemuda itu!!!

ARGH!!! Aku tak yakin, apakah nantinya, aku akan sanggup hidup dengan pemuda itu?

Well, dia adalah pemuda yang ajaib, tapi…

…aku sangat membencinya.

.

Pukul 09.58

Aku sudah terduduk manis di dalam Savana Cafe sejak pukul 9.30, hanya untuk mengantisipasi keterlambatan. Aku khawatir, jika saja aku terlambat 1 menit saja, pemuda itu akan membatalkan kesepakatan dan perjodohan ini.

Oh, andwae! Dia adalah satu-satunya harapanku saat ini.

Jujur saja, sejak pertama kali tiba di cafe ini, aku sama sekali tak bisa duduk dengan tenang. Tubuhku terus saja bergerak. Jemariku mengetuk-ngetuk meja, pandanganku terlihat sangat gusar, dan kakiku tetap saja bergerak gelisah.

“Wah, tak kusangka bahwa kau sudah hadir disini, Nona Choi,” celetuk sebuah suara.

Aku terkejut, ketika menyadari bahwa pemuda Huang itu sudah berdiri di hadapanku. Kali ini, ia tidak mengenakan pakaiannya kemarin (yang kuduga sebagai seragam High School), melainkan mengenakan kemeja berwarna baby blue dan celana panjang berwarna biru gelap. Kuakui, pemuda itu terlihat lebih seperti pria dewasa, apalagi dengan kancing teratas kemejanya yang sepertinya memang sengaja dibuka. Aku jadi bertanya-tanya, berapa umur pemuda ini, sih?

“Sudah cukup mengagumi ketampananku, Nona?”

Ah, suara itu membuyarkan lamunanku. Dan dia sudah terduduk di depanku.

E-eh, tunggu. Apa yang dikatakannya? Mengagumi ketampananya? “Aniyo!” elakku bohong.

Pemuda itu tertawa renyah. Oh, bahkan suara tawanya pun terdengar menawan. Gesture tubuhnya pun sangat indah.

Oh, Choi Sooyoung! Jangan sampai, kau jatuh cinta pada pemuda ini!

“Jadi, sebenarnya, apa yang ingin kau bicarakan denganku, hm?” tanya pemuda bernama Huang Zhi Tao itu. Suaranya terdengar rendah dan err… seksi?

Aku menelan ludahku dengan susah payah. “Eum, tentang perjodohan itu dan penawaran yang kau berikan padaku,” cicitku.

Tao mengangguk paham. “Lalu?” Kedua alisnya terangkat, menanti kelanjutan pembicaraanku.

“Aku masih bingung dengan penawaran yang kau maksud,” jelasku, sambil menundukkan wajahku.

Tao menghela nafas panjang. “Bukankah semuanya sudah sangat jelas, Nona Choi? Kau akan menikah denganku dan aku akan memenuhi segala hal yang kau inginkan,” tegas Tao.

“T-tapi, bukankah selama aku menikah denganmu, keluargamu tetap akan memenuhi segala hal yang kuinginkan, seperti membantu keluargaku?” tanyaku memastikan.

Tao memijat batang hidunganya, lantas menatapku lekat. “Umurmu berapa, sih?” tanyanya seolah meremehkan.

Aku mengernyit. Kenapa tiba-tiba dia menanyakan umurku? “Urm, 21 tahun,” jawabku, akhirnya.

Tao mendesah kecil. “Aigo, kupikir kau seumuran denganku,” gumamnya. “Kalau begitu, panggil aku Oppa. Arrachi?”

Lho? Memangnya, umurnya tidak lebih muda dariku, ya? “Hm, memangnya, umurmu berapa?” tanyaku penasaran.

“24 tahun,” jawabnya singkat. “Pantas saja, kau tak mengerti dengan hal-hal semacam ini. Kau belum lulus kuliah, ya?” tebaknya.

Aku menggeleng. Memangnya, hal macam apa yang seharusnya aku ketahui, eh?

Tao menarik nafas dalam-dalam dan mulai menjelaskan. “Baiklah, Adik kecil, aku akan menjelaskannya padamu,” ucap Tao.

Aku mengernyit heran ketika mendengar panggilannya untukku. Adik kecil? Apakah aku kelihatan seperti seorang bocah di matanya?

“Jika kau menyetujui penawaranku, maka aku akan merancang dimana pernikahan kita sama sekali tidak terikat dengan keluarga, tidak dengan keluargaku ataupun keluargamu. Kita adalah sepasang suami-istri yang akan berdiri sendiri, secara independen. Kau paham?” jelasnya.

Aku mengangguk pelan. Ya, setidaknya aku memahami ucapannya sedikit. Hanya sedikit.

“Artinya, keluarga kita sama sekali tidak boleh mencampuri kehidupan kita, meski kita masih bisa berhubungan dengan baik,” lanjutnya.

Ah, aku sudah mulai paham.

“Meski begitu, jika kau masih ingin membantu keluargamu, itu masih diperbolehkan. Dan aku jamin bahwa aku akan membantumu,” tegasnya.

Aku menangguk paham. “Memangnya, kenapa kau ingin terbebas dari keluargamu?” tanyaku polos.

Mata Tao berputar, lantas wajahnya mendekat ke wajahku. “Supaya aku bisa memanfaatkan tubuhmu sepuasku, Adik kecil,” bisiknya dengan suara rendah.

Aku merinding mendengarnya. “A-apa maksudmu?” tanyaku gugup, dan langsung menjauhkan wajahku.

Tao mengerlingkan matanya. “Hm, menurutmu?” balasnya.

“D-dasar Ahjussi mesum!” seruku dengan terbata.

Tao tertawa. “Kau terlalu serius, Nona Choi. Santailah sedikit,” katanya, lantas menyandarkan punggungnya pada kursi. “Aku sama sekali tidak tertarik padamu, apalagi tubuhmu,” cibirnya.

Aku mengerucutkan bibir dengan kesal. “Lalu, apa motifmu menikahiku?” tanyaku ketus, sambil memalingkan wajah.

“Ada hal-hal yang belum bisa kujelaskan padamu. Ini adalah masalah keluarga dan kau bisa mengetahuinya sendiri nanti, setelah menikah denganku,” jawabnya.

Aku menatapnya kembali. Aku masih penasaran dengan alasannya. “Kau bilang, kau tidak tertarik pada tubuhku, kan?” tanyaku memastikan.

Tao menaikkan sebelah alisnya.

“J-jadi, kau tak akan menyentuhku, kan?” tanyaku gugup.

Tao bersiul pelan. “Hm, tergantung. Seberapa lama, aku bisa bertahan untuk tidak menyentuhmu,” jawabnya.

“Mwo? Apa-apaan itu?” Kedua mataku kembali membulat.

Tao kembali tertawa. Sepertinya, dia memang menikmati saat-saat menertawakan diriku. “Kalau begitu, mari kita membuat perjanjian,” ajak Tao. “Jika kau sampai melakukan hal-hal yang mampu menggoda pertahananku, aku akan menyerangmu saat itu juga, karena toh, aku adalah suami sah-mu.”

Aku menelan ludah dengan susah payah. Oke, kurasa, aku harus menjadi gadis baik-baik selama berada di sekitar Tao.

“Dan selama kita menikah, kita harus terlihat seperti keluarga harmonis di hadapan keluarga kita. Di luar itu, kita boleh bersikap sesuka hati, bahkan menjalin hubungan dengan orang lain,” lanjutnya.

Apa-apaan maksudnya? Meskipun aku benci pada pria ini, tak mungkin kan, aku mengkhianatinya begitu saja? Bagaimanapun juga, nanti dia adalah suami yang seharusnya kuhormati, bukan?

“Untuk itulah, jika suatu saat nanti, kita menemukan pendamping hidup yang sesuai, kontrak kita berakhir dan kita bercerai.”

“MWO?!” Aku terkejut ketika mendengar kata bercerai. Ya Tuhan, sebagai seorang wanita, tak pernah terlintas di pikiranku untuk mengalami perceraian dan menjanda.

“Waeyo? Kau ingin selalu menjadi istriku?” tanya Tao meremehkan. “Kalau begitu, kau harus siap melahirkan anak-anakku juga nantinya,” ucapnya santai.

W-well, mungkin aku memang belum sanggup untuk menjadi istri yang baik, melayani suamiku bahkan mengandung dan melahirkan anak-anak. Maksudku, aku belum mencintai Tao. Aku juga baru bertemu dengannya kemarin. Jadi, tak mungkin, semua itu akan terjadi secepat itu, kan?

“Tenang saja, kalaupun kau bercerai dariku, aku tak akan menuntut balik harta yang pernah kuberikan untukmu. Lagipula, itu adalah hakmu selama menjadi istriku.”

Aku masih terdiam, sambil berpikir keras.

“Jadi, bagaimana? Kau menyetujui tawaran ini atau aku batalkan saja perjanjian kita?” tanya Tao dengan nada mengancam.

Aku menghela nafas panjang. “Baiklah, aku menyetujui perjanjian ini,” jawabku, akhirnya. “Tapi kumohon, ijinkan aku bekerja, selama menjadi istrimu.”

Dan Tao hanya mengernyit.

.

TBC

Tuh kan, Tao bandel banget /jewer Tao/

Kemarin ada yang bilang, karakter Tao disini kesannya OOC banget. Sebenernya, karakter Tao di Another Paradise itu lebih OOC, lho… Nah, kali ini, udah ketahuan kan, karakternya Tao? Dia emang dingin, tapi sebenernya usil dan bandel banget. Jadi pingin cubit pipinya /ditendang/

Hayo, hayo, kira-kira, gimana ya, kehidupan rumah tangga dua makhluk ini? Sooyoung kayaknya nggak pernah mau bercerai dalam hidupnya. Sementara Tao tetep kekeuh sama perjanjiannya. Jadi, siapa yang nantinya bakalan nyerah sama perjanjian itu? Tao atau Sooyoung?

Next chap, aku langsung masuk ke kisah After Marriage-nya Tao-Sooyoung. Jadi, kita lewatkan tahap pernikahannya. Tahap perkenalannya pun nggak terlalu lama, karena kedua keluarga (dan Tao juga, sih!) udah keburu pingin liat mereka nikahan, kkk~

Oke, AS-nya Serendipity bakalan di-post hari Senin. Nggak tahu deh, jam berapa. So, please stay tune ^^ Tapi buat yang penasaran, coba lihat cuplikannya disini

And, don’t forget to leave your trails!

Love,

Jung Minrin

37 responses to “[Mini Series] Mr. and Mrs. Huang – Chapter 1

  1. Ternyata chap 1-nya udah dipublish toh. Tao nakal bangel sih godain Soo trus /cubit pipi Tao/
    Next chap ditunggu ya🙂

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s