[Mini Series] Extraordinary Love – Chapter 3A

extraordinary-love-jungminrin-done

Extraordinary Love

Chapter 3 – Dilemma

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

SNSD Sooyoung || EXO-M Tao || SNSD Yuri

SNSD Tiffany || EXO-M Kris || f(x) Victoria || EXO-M Luhan || EXO-K Kai || SNSD Yoona

Length : Mini Series || Rating : PG || Genre : Romance, Family, Friendship, Sad

Inspired by :

Bukan Cinta Biasa by Afgan

Note :

Ternyata, banyak yang request ff ini buat cepet dilanjut. So I decide to update it first as soon as possible ^^

Buat seluruh pembaca setia ff ini, selamat membaca ^o^

.

our love is an extraordinary love. and this is my confession…

-Huang Zhi Tao-

.

“Sooyoung, Sooyoung, Sooyoung!” seru Yoona tiba-tiba, sambil menarik kasar lengan Sooyoung, hingga tubuh Sooyoung tertarik mengikuti Yoona. Yoona langsung menyeret Sooyoung untuk sembunyi di balik pilar kokoh yang menyangga bagian depan sekolah tari.

Sooyoung hanya bisa memandang jengkel atas kelakuan Yoona yang seenaknya itu. Ia pun menghempaskan cengkraman tangan Yoona di lengannya. “Aish, ada apa sih, Im Yoona? Kenapa kau sampai menyeret-nyeretku seperti itu?” gerutu Sooyoung kesal.

“Ssst…” Yoona mendesis pelan, sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, tanda untuk memperintahkan Sooyoung agar terdiam.

Sooyoung menaik-naikkan kedua alisnya seolah bertanya “Apa?”

Yoona menarik tubuh Sooyoung secara perlahan dan membiarkannya mengintip dari balik pilar. “Lihat itu! Siapa yang sedang berbincang dengan Umma-mu?” tanya Yoona dengan suara berbisik.

“Siapa, sih?” gumam Sooyoung penasaran. Ia pun menyipitkan kedua matanya, sehingga lebih mudah untuk melihat pada objek yang ditunjuk Yoona. “E-eh! Itu kan, Appa,” pekiknya tertahan.

“Hah? Appa-mu?!” seru Yoona tak percaya.

“Bagaimana mereka bisa bertemu disini?” tanya Sooyoung bingung. “B-bagaimana kalau mereka bertengkar?” racau Sooyoung panik.

“Aish, mana mungkin?” celetuk Yoona sambil menepuk bahu Sooyoung.

“Maksudmu?”

“Hei, kau tak melihat raut wajah Umma-mu? Dia terlihat senang, bahkan ia selalu tersenyum sejak tadi, Soo!” tegas Yoona.

Sooyoung nampak tak yakin. Ia pu mengintip sekali lagi ke arah Umma dan Appa-nya yang duduk bersebelahan sambil berbincang. Dari tempatnya, Sooyoung tak bisa memperhatikan wajah Appa-nya karena sang Appa menghadap sang Umma dan membelakanginya. Meski begitu, Sooyoung bisa merasakan bahwa gesture yang ditunjukkan Appa-nya menandakan bahwa ia bahagia. “Ah, benar juga,” balas Sooyoung setuju.

“Nah, cepat sana!” seru Yoona sambil mendorong Sooyoung keluar dari persembunyiannya.

“Cepat apanya?” tanya Sooyoung linglung.

Yoona mendengus kesal. “Cepat temui orang tuamu, pabbo!” seru Yoona jengkel.

Sooyoung meringis kaku. “Ah iya, arra, arra,” balasnya. “Aku pergi dulu, Yoong. Annyeong,” pamit Sooyoung pada Yoona.

“Annyeong!” balas Yoona.

Sooyoung pun melangkah maju untuk menghampiri kedua orang tuanya. Samar-samar, Sooyoung bisa mendengar suara Yoona di belakangnya.

“Sooyoug-aa, fighting!”

.

“Jadi, Sooyoung memang senang menari, ya?” gumam Tao sambil mendongakkan kepalanya. Pandangannya menerawang, seolah sedang membayangkan jika putri semata wayangnya itu sedang menari.
“Ne, begitulah,” balas Yuri. “Mungkin, dia mengikuti jejakku,” timpalnya.

DEG!

Seketika, ingatan masa lalunya dengan Yuri kembali berkelebatan di otaknya, seperti slide show yang dipecepat. Ia masih ingat betul bagaimana mereka bertemu pertama kali di sebuah turnamen tari. Sejak saat itulah, Tao terpukau pada sosok Yuri. Dan keduanya pun menjalin hubungan yang semakin dekat, hingga memutuskan untuk berpacaran dan berakhir di pelaminan. Sayangnya, hubungan cinta yang terasa manis di awal itu harus kandas di tengah jalan, ketika mereka sudah memiliki Sooyoung.

“Tao? Kau tak apa, kan?” panggil Yuri.

Lamunan Tao pun buyar seketika. Ia langsung menatap Yuri sambil menyunggingkan sebuah senyuman. “Ah, ne, gwaenchana,” balasnya.

Yuri tersenyum kecil, seolah mengatakan “Oh, syukurlah.”

Tao melihat sorot mata Yuri yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Apakah Yuri sudah berhasil melupakan segala kenangan indah bersamanya? Mungkinkah, Yuri sudah mendapat pengganti dirinya? Hal ini cukup menggelitik dasar hatinya, sehingga membuat Tao memberikan diri untuk bertanya, “Oiya, apakah kau su―”

“Umma! Appa!” seru sebuah suara yang menyela ucapan Tao.
Tao dan Yuri pu serempak menoleh ke arah sumber suara tersebut dan mendapati Sooyoung yang sedang berjalan ke arah mereka sambil melambaikan tangannya.

Yuri bangkit dari duduknya dan membalas lambaian tangan putrinya, sambil tersenyum lebar.

“Wah, ini sesuatu yang mengejutkan! Bagaimana bisa, Umma dan Appa disini secara bersamaan?” tanya Sooyoung dengan suara yang terdengar err… menggoda orang tuanya, mungkin?

Yuri nampak salah tingkah. “A-ah, kami tak sengaja bertemu disini. Ap-appamu ingin mengembalikan ponselmu yang tertinggal,” jelas Yuri. “Ini,” kata Yuri sambil menyodorkan ponsel milik Sooyoung.

“Ah, gomawo, Appa!” seru Sooyoung senang. “Eh, bagaimana dengan ponsel―”

“Kau simpan saja,” potong Tao. “Ponsel itu hadiah dari Halmeoni untukmu,” jelas Tao.

Kedua mata Sooyoung nampak berbinar dengan takjub. “Jeongmal? Kalau begitu, sampaikan terima kasihku pada Halmeoni ya, Appa?” ucap Sooyoung.
Tao pun mengangguk.

“Ah, hari sudah sore, Soo. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?” ajak Yuri pada Sooyoung.

Sooyoung menoleh ke arah Yuri, lantas menatap kedua orang tuanya secara bergantian. Terlihat binar ketidakrelaan yang terpancar dari matanya, karena harus berpisaj dengan sang Appa.

Namun, Tao memberikan sebuah senyuman kecil pada Sooyoung, seolah mengijinkan Sooyoung untuk pulang bersama sang Umma.

Sooyoung menghela nafas. “Arrasseo, Umma,” ucapnya, terdengar pasrah. “Appa, aku pamit pulang dulu, ne?” pamit Sooyoung pada Tao.

Tao mengangguk kecil.

Sooyoung melangkah mendekati Tao, lantas memberikan kecupan sekilas di pipi kirinya. “Annyeong!” seru Sooyoung. “Ayo, Umma!” Sooyoung pun menarik lengan Yuri dan membawanya pergi.

“Annyeong.” Yuri berbisik lirih pada Tao.

Meski begitu, Tao masih bisa mendengarnya dan membuatnya tersenyum kecil. Ia bersyukur, setidaknya, Yuri masih menganggap keberadaannya. Namun, masih tersisa satu pertanyaan yang belum ditanyakan pada Yuri.
Ah, mungkin Tao bisa menanyakan hal itu pada Sooyoung, bukan? Benar, benar. Dengan begitu, Tao bisa punya alasan untuk mengajak Sooyoung pergi.

.

PUK!

“Ha!” Yoona berjingkat kaget, karena seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Ia langsung membalik tubuhnya untuk memperhatikan sosok yang telah mengagetkannya. Ia nyaris saja menyemburkan omelannya, jika saja tidak sadar dengan sosok pemuda yang berdiri di hadapannya. “K-kai?”

Kai bergumam pelan. “Kenapa kau bersembunyi disini? Kau baru saja mencuri, ya?” tuduh Kai, seenaknya.

Yoona melongo. Well, kata-kata Sooyoung yang mengatakan bahwa Kai bukanlah orang yang ramah, sepertinya memang benar. Namun, ia sudah terlanjur terpesona pada pemuda itu. “E-eh! Jangan asal menuduh, ya!” balas Yoona.

“Lalu, kau sedang apa?” tanya Kai penuh selidik.

“Aku… aku…” Yoona menunduk memperhatikan sepatu yang dikenakannya. “…sedang menunggu jemputan! Iya, aku menunggu jemputan!” jawab Yoona bohong. Padahal, ia sedang mengintip adegan keluarga Sooyoung.

Kai menatap penuh selidik ke arah Yoona, seolah tak puas atas jawaban yang diberikan oleh gadis itu. “Mana jemputanmu? Sudah datang?” tanya Kai.

“Kalau jemputanku sudah datang, tidak mungkin aku masih disini, kan?” canda Yoona.

Kai mendengus pelan. “Sepertinya, masih lama. Bagaimana kalau kau pulang denganku saja? Kebetulan, aku membawa motor. Kau tak takut dibonceng dengan motor, kan?”

DEG!

DEG!

DEG!

Yoona merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ini sungguh kemajuan yang sangat pesat, karena mengingat sikap Kai yang begitu dingin dan ketus pada setiap orang. “B-boleh saja,” jawab Yoona gugup.

“Kalau begitu, ayo!” Kai menggenggam tangan Yoona dan menarik gadis itu menuju lapangan parkir.

Yoona tersenyum malu-malu. ‘Rasanya menyenangkan sekali.’

.

“Hah? Kau pulang dengan orang jaman es itu?!” Sooyoung terkejut dengan apa yang dibicarakan Yoona di telepon.

“Hei, hei! Berhenti menyebutnya begitu, eoh! Dia adalah namja yang baik, Soo-ah!”

Sooyoung berdecak kesal. “Awas, bisa jadi, kau hanya dimanfaatkan olehnya, Yoong!” kata Sooyoung mengingatkan.

“Ne, ne, aku akan waspada. Tapi, aku boleh senang kan, dengan hal ini? Hehehe~”

Sooyoung mendesah kecil. “Terserah kau saja,” balasnya sambil mengangkat bahu. Dengan mengapit ponsel diantara kepala dan pundaknya, Sooyoung mencari-cari buku pelajaran di dalam tasnya.

“Oiya, Soo. Bagaimana pertemuanmu dengan Appa-mu tadi? Bagaimana dengan Umma-mu?”

“Ah, itu!” seru Sooyoung semangat. Ia yang telah berhasil menemukan buku pelajarannya dari dalam tas pun segera melangkah ke ranjang dan merebahkan tubuhnya. “Sepertinya, ini adalah awal yang baik untuk menyatukan mereka kembali, Yoong.”

“Benarkah?”

“Ne!” Sooyoung mengangguk mantap, meski Yoona tak bisa melihatnya. “Kulihat, mereka sangat akrab. Meski akhirnya, terlihat salah tingkah, setelah aku datang,” jelas Sooyoung.

“Wah, wah! Sepertinya, orang tuamu masih saling mencintai, Soo. Itu adalah hal yang baik buatmu.”

“Ne, aku―”

TOK! TOK! TOK!

“Sooyoungie!” panggil sebuah suara dari balik pintu.

Sooyoung menutupi ponselnya dengan telapak tangannya lantas berteriak, “Ne, Umma!”

“Bolehkah Umma masuk?” tanya Yuri.

“Tentu saja, Umma!” balas Sooyoung. Ia pun segera memberitahu Yoona. “Ah, Yoong, Umma memanggilku. Nanti kita bicara lagi, ne?”

“Ne, ne!”

PIP!

“Kau sedang apa, Sooyoungie?” tanya Yuri yang sudah masuk ke dalam kamar Sooyoung. Ia pun menghampiri putrinya yang sudah mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.

“Hanya menelepon Yoona,” jawab Sooyoung. “Ada apa, Umma?” tanya Sooyoung penasaran.

“Ada sesuatu yang ingin Umma bicarakan padamu. Tapi, Umma harap, kau tidak marah, ne?”

Sooyoung mengernyit tak mengerti. Hal macam apa yang akan dibicarakan Umma-nya?

.

“Tao?”

Tao menghentikan langkahnya, ketika mendengar suara ibunya yang memanggilnya. Ia mencari sosok ibunya, yang ternyata berdiri di atas tangga. “Ada apa, Bu?” tanya Tao.

“Darimana saja kau?” tanya Ny. Huang, lantas melangkah turun dan menghampiri putranya.

“Ah, aku baru saja mengembalikan ponsel milik Sooyoung,” jelas Tao.

“Oh.” Ny. Huang mengangguk paham. “Oiya Tao, ada yang ingin ibu bicarakan denganmu. Ini serius,” tegas Ny,. Huang.

Tao mengangkat dua alisnya. “Hal serius apa, Ibu?”

“Kemarilah.” Ny. Huang menarik lengan putranya dan mengajaknya duduk di atas sofa. “Ini tentang masa depanmu, Nak,” jelas Ny. Huang.

Tao masih tidak paham dengan arah pembicaraan ibunya. Masa depan seperti apa yang dimaksud ibunya? Pekerjaan? Ia sudah punya. Harta? Ia sudah dibilang cukup mapan. Lantas, apa lagi yang harus dibicarakan tentang masa depannya?

“Ibu ingin sekali melihatmu menikah lagi.”

“Apa?” Tao nampak terkejut, namun suaranya tertahan di tenggorokannya, hingga hanya terdengar pelan.

Ny. Huang menarik nafas dalam-dalam. “Apa kau ingin hidup menyendiri selamanya, Tao? Ibu juga ingin melihat kau menikah dan memiliki anak lagi,” tegas Ny. Huang.

Tao mengusap wajahnya dengan kasar. Inilah salah satu sifat yang tidak disukai Tao dari ibunya. Ibunya sering mengambil keputusan secara sepihak dan selalu memaksa. “Tapi Bu, apakah harus secepat ini?”

Ny. Huang mengernyit. “Cepat, katamu? Kau sudah bercerai dengan wanita itu sejak 2 tahun yang lalu,” balasnya.

“Wanita itu punya nama, Bu,” protes Tao tak suka. Bagaimanapun buruknya hubungan antara dirinya dengan Yuri, ia masih bisa menghormati wanita itu. Bagaimanapun juga, Yuri adalah ibu biologis Sooyoung yang masih merawat Sooyoung hingga saat ini.

Ny. Huang mendesah keras, tanda jengkel. “Terserah kau,” gumamnya. “Yang penting, Ibu ingin kau segera menikah.”

“Tapi Bu, aku sibuk.”

“Tenang saja, kau tak perlu repot-repot, karena Ibu sudah menyiapkan seorang wanita untukmu,” sela Ny. Huang cepat.

“Hah?” Tao melongo. Benar, kan? Ibunya selalu bertindak semaunya tanpa meminta ijin darinya. “Ibu, jangan main-main, aku…”

“Jika kau menikah, setidaknya kau bisa memiliki alasan yang kuat untuk mengambil Sooyoung kembali!” tegas Ny. Huang.

Tao melongo semakin lebar. Ia tak menduga, jika semua pemikiran Ibunya selalu berdasar karena ingin merebut Sooyoung dari Yuri. Tao menggelengkan kepalanya tak percaya. “Ibu, aku tak percaya kalau…” Tao seolah kehabisan kata. Ia bangkit dari duduknya dan menatap ibunya lekat-lekat. “Jika ini adalah alasan dibalik semua rencana Ibu, maaf Bu, Tao tidak bisa mengikuti perintah Ibu. Ini…” Tao masih saja tak percaya dengan pemikiran sang Ibu.

Ny. Huang pun ikut-ikutan bangkit dari duduknya. “Tao…” panggilnya sambil berusaha menjangkau lengan Tao.

“Aku tak bisa, Bu. Benar-benar tidak bisa.”

.

“Umma sudah memiliki seseorang yang spesial, Soo.” Setelah dengan susah payah mencoba merangkai kata yang tepat, Yuri pun berhasil mengutarakan isi hatinya pada Sooyoung. Ia ingin menjelaskan mengenai hubungannya dengan Kris, kekasihnya.

Sooyoung mengernyit heran. “Seseorang yang spesial?”

Yuri menggigit bibir bawahnya. Ia berharap, putrinya yang sudah beranjak remaja itu bisa mengerti dengan istilah yang dipahaminya, jadi ia tak perlu menjelaskan lebih jauh tentang arti “seseorang yang spesial”.

“Maksud Umma…” Sooyoung ikut-ikutan menggigit bibirnya, seperti sang Umma. “…seorang kekasih?”

Yuri bersorak lega di dalam hati, karena Sooyoung bisa memahami maksud kata-katanya. Namun, ia merasa sedih, ketika melihat ekspresi wajah Sooyoung yang…

…agak kecewa, mungkin?

“B-begitulah, Chagi,” jawab Yuri terbata, karena masih merasa tak enak hati setelah melihat raut wajah Sooyoung. Sungguh, ia tak ingin melihat wajah putrinya sedih seperti itu. Sudah cukup, ia memberikan penderitaan pada Sooyoung, ketika membawa berita bahwa ia becerai dengan Tao. Yuri tak ingin melukai perasaan Sooyoung lagi.

Namun, dugaan Yuri salah.

Sooyoung…

…tersenyum. “Chukkae, Umma!” Sooyoung langsung menghambur dan memeluk Umma-nya.

Yuri masih shock dengan reaksi Sooyoung. Ia bahkan tak membalas pelukan Sooyoung.

Sooyoung melepas pelukannya, lantas nyengir lebar ke arah sang Umma. “Jadi, siapakah pria beruntung yang menjadi kekasih Umma itu?”
Yuri berusaha mengendalikan otaknya dan menjawab pertanyaan putrinya.

“A… eumm… sebenarnya, Umma berencana mengajakmu bertemu dengannya, Sooyoungie.”

“Jeongmal?”

Yuri mengangguk.

“Siapa namanya, Umma?” tanya Sooyoung penasaran.

“Kris. Kris Wu.”

.

“Nenek?” Sooyoung terkejut, ketika mendapati nama Nenek-nya muncul di layar ponselnya. Jadi, ia segera mengangkat panggilan dari sang Nenek.

“Ah, Sooyoungie~”

“Hm, ada apa, Nek?” tanya Sooyoung penasaran. Pasti ada sesuatu yang hendak dibicarakan oleh sang Nenek dengannya.

“Nenek ingin membicarakan sesuatu denganmu, Sooyoungie.”

Sooyoung mengernyit. “Hm, sesuatu apa?” tanya Sooyoung, semakin penasaran.

“Ini tentang Ayahmu.”

Sooyoung pun terkejut. “Ayah? Memangnya, ada apa dengan Ayah, Nek?” tanya Sooyoung penasaran. Ia merasa cemas. Ia takut, jika terjadi sesuatu yang buruk pada sang Ayah.

“Nenek ingin meminta bantuanmu, Soo.”

Kini, Sooyoung pun semakin bingung. Tadi, Neneknya ingin membahas sesuatu tentang Ayahnya. Lalu, sekarang, Neneknya meminta bantuannya. Sesungguhnya, apa yang sedang terjadi? “B-bantuan apa, Nek?”

“Sooyoungie, kau pasti ingin melihat Ayahmu bahagia, kan?”

Sooyoung mengangguk pelan. “Tentu saja.”

“Kalau begitu, bantulah Nenek untuk membujuk Ayahmu agar segera menikah. Okay?”

DEG!

Sooyoung tercekat. Ini seperti suatu dilema terbesar dalam hidupnya.

TBC

Oke, seharusnya, chap 3 nggak berakhir disini. Tapi, kenapa aku TBC-in disini? Karena aku kepalang janji sama diri sendiri dan juga Tarra (salah satu reader yg aku janjiin update ff ini) buat publish chap. 3 hari senin. Yap, dan aku publishnya hari senin. Bener, kan?

Sejak pagi, aku udah disibukin banyak hal. Ikut general check-up, ikut penyuntikan defteri atau apalah itu, dan habis ikut suntikan, tanganku lemes banget. Belum lagi, si Minyu pake rewel segala. Program Microsoft-ku ke-remove karena ulahku sendiri! Dan aku terpaksa nulis di Wordpad. Ternyata, kalau di wordpad dan dicopy-paste ke wordpress itu harus melalui tahapan editing ulang dan itu cukup lama.

Alhasil, aku cuma bisa kasih Chapter 3A dulu. Besok, barulah aku update Chapter 3B, sekalian nungguin temenku untuk ngobatin Minyu :3

Jeongmal mianhae, kalau aku cuma bisa ngasih segini

Don’t forget to leave your review

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s