[Drabble] A Glass of Lemon Tea

AGOLT

A Glass of Lemon Tea

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

SNSD Sooyoung || Mysterious Boy

Length : Short Drabble (?) || Rating : G || Genre : Romance, Fluff

Author Note :

FF ini aku dedikasikan buat seseorang yang udah PHP-in aku tadi. Langsung aku ketik cepet, di ponsel pula, makanya nggak sempet di edit dan langsung di publish. Maaf, kalau bahasanya hancur, karena ini ditulis dengan emosi yang meluap-luap.

Sisanya, selamat membaca ^o^

.

And I meet you in a crowd

.

Choi Sooyoung

Aku menghentakkan kaki-kakiku ke atas lantai marmer yang kupijaki untuk meluapkan rasa kesal yang ada dalam hatiku. Kini, aku sedang berdiri di sebuah counter penjual minuman dingin. Selama 20 menit, aku sudah berdiri di depan counter ini, berdesakan dengan berbagai orang yang sudah bergantian, hanya untuk menunggu hingga aku dianggap ada oleh sang penjual!

Ya! Selama 20 menit ini, penjual itu sama sekali belum melirik ke arahku. Apakah dia tidak menyadari kehadiranku?

Bahkan, aku sudah berteriak-teriak, menyerukan pesananku pada sang penjual. Tapi, dia tetap tak menggubrisku. Apa mungkin, suaraku hanya dianggap seperti cicitan burung?

Padahal, kupikir, dengan tubuhku yang tinggi ini, aku bisa dianggap cukup mencolok. Tapi, kali ini, kasusnya berbeda, karena aku sedang berada di Jerman, dan bukannya Korea Selatan! Kalian tahu sendiri kan, kalau penduduk Jerman memiliki tubuh yang sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 2 meter? Jadi, tubuh tinggiku ini terlihat sama saja dengan para pembeli lainnya.

Dan keadaanku terlihat semakin mengenaskan ketika kerumunan ini semakin dipenuhi oleh para lelaki. Tubuh mereka yang tinggi dan kekar itu menghimpit tubuhku yang lebih kecil dari mereka. Rasanya, sesak sekali. Aku bingung, harus bagaimana, karena kalaupun aku berusaha pergi dari tempat ini, rasanya pasti akan sangat sulit, mengingat bahwa aku harus menerjang pria-pria berbadan kekar tersebut.

Aku bingung dan takut, sampai ingin menangis rasanya. Aku sedang berlibur di negeri orang dan harus mengalami pengalaman seperti ini.

Dengan sekuat tenaga, aku pun berusaha untuk kembali meneriakkan pesananku. “Aku pesan satu gelas lemon tea!” seruku, sekali lagi. Tapi sepertinya, suaraku hilang begitu saja diantara, teriakan-teriakan lainnya.

Aku pun tertunduk pasrah. Salah satu orang di sebelah kiriku sudah bergerak mundur dan digantikan oleh yang lainnya.

“Lemon tea, please,” pesan orang itu pada sang penjual.

Aku mendongak untuk menatap sosoknya yang kebetulan menjulang tinggi. Dia sungguh sangat beruntung, karena pesanannya langsung dilayani oleh sang penjual, padahal pesanannya sama dengan apa yang kupesan.

“Ini, Tuan.” Dan sang penjual langsung memberikan segelas lemon tea pada pria jangkung itu.

“Thanks,” balas pria itu singkat.

Ugh, beruntung seka―

“Hey!” seruku, ketika pria itu menarik lenganku dan membawaku keluar dari kerumunan itu. “Hei, hei, kenapa kau menarikku seenaknya saja, huh?” protesku tak suka, meski sebenarnya, aku besyukur, karena ia telah mebantuku keluar dari kerumunan itu. Tapi, tetap saja kan, itu namanya tidak sopan!

Pria itu tersenyum kecil. “Kau pikir, aku tega membiarkanmu berdiri lebih lama disana? Kulihat, pesananmu tidak segera ditanggapi,” komentarnya, terdengar meremehkanku.

“Tapi, sikapmu sungguh tidak sopan!” seruku kesal.

Pria itu terkekeh pelan, lantas menyodorkan segelas lemon tea yang kau berikan. “Ini untukmu. Segelas lemon tea, seperti yang kau pesan,” ucapnya, tiba-tiba.

“Eh?” Aku melongo.

“Aku tak tega melihatmu berdiri disana sambil berteriak-teriak, tapi kau tetap tak dianggap,” jelasnya.

“J-jadi?”

“Ya, ini untukmu. Aku sengaja membelikannya untukmu,” ucapnya.

Ya Tuhan, Ya Tuhan, apakah ini hanya mimpi? Kalau ini hanya mimpi, kumohon, jangan bangunkan aku. Aku telah menemukan pria yang sangat baik hari ini. “T-terima kasih,” ucapku sopan, masih terbata.

“Sama-sama,” balasnya santai. “Oiya, aku permisi dulu. Sampai ketemu suatu saat nanti!” ucapnya, lantas pegi meninggalkanku.

Aku menatap tubuhnya yang menjauh. Oke, ini nyata. Dan kenyataan bahwa pria itu meninggalkanku sangatlah menyakitkan. Aku kehilangan pria menawan itu.

Well, daripada harus meratapi nasibku, bagaimana kalau aku menikmati lemon tea pemberian pria itu? Aku pun segera menuduk untuk bersiap meminum lemon tea-ku. Dan aku terkejut ketika melihat secarik kertas di atas penutup gelas lemon tea itu. Aku mengambilnya dan membaca tulisannya dengan seksama.

Wu Yifan

Head of Economic Division

Choi Corporation

Hah? Pria itu adalah kepala divisi ekonomi?

Di perusahaan ayahku?

FIN

Aku lagi kesel!!! Kesel bangettt! Oke, aku mau curhat dulu. Kalau kalian males baca curhatanku, bisa langsung di-skip kok😄

Jadi, ceritanya, aku barusan jalan-jalan sama sepupuku, Aziz (yang aku ceritain ikutan pendaftaran jalur online bareng aku). Nah, dia ngajakin beli minuman dan aku yang disuruh beli. Terus, pas aku beli minuman itu, aku udah nunggu 20 menit-an, tapi penjualnya tetep nggak nggubris aku. Nah, kesel nggak tuh? Untungnya, nggak lama, si Aziz nyamperin aku dan aku langsung minta tolong ke dia. Eh, pas Aziz yang pesen, mbak-mbak penjualnya langsung blink-blink gitu. Secara, Aziz emang tinggi dan mukanya good-looking gitu :3 Sumpah nih, dongkol banget rasanya! Mbaknya ngeselin banget!

Dan pas aku sama Aziz balik ke mobil, Aziz nyeletuk, “Mungkin, seharusnya, nama tengah kamu itu bukan Ika, tapi Unseen.” Ya, ya, aku emang sering nggak dianggep. Nggak tahu kenapa. Apa mungkin aku makhluk tak kasat mata? Aku tahu sih, Aziz nggak berniat ngomong gitu ke aku. Aku tahu, dia cuma becanda. Tapi yang ada, pas di dalem mobil, aku langsung nangis. Nggak tahu, kenapa -_-v Nyesek banget, rasanya. Soalnya, aku juga pernah diabaikan sama penjual nasi goreng selama puluhan menit, sampai akhirnya, aku nangis di tempat penjualnya itu. Dan gegara kejadian itu, aku nggak mau beli nasi goren di tempat itu lagi.

Nah, dan tadi, pas liat aku nangis, Aziz langsung bingung bin panik. Dia muter-muterin mobilnya nggak ada arah sambil ngomong, “Duh, kenapa sih, kamu pake nangis segala?” Dan akhirnya, untuk ngeluapin rasa kesel ini, aku pinjem ponsel dia dan ngetik ff ini. Fiuh, dan jadilah ff gaje ini.

Aku jadi ngerasa bersalah banget sama Aziz. Maklum ya Ziz, aku lagi kesel+PMS pula! Wkwkwk😄

Udahan ah, curhatnya😀 Aku udah bahagia, apalagi tadi abis baca komentar kalian di ff ku yang lain. Tapi maaf, belum sempet bales, karena ini pun aku masih pake hape+laptopnya Aziz (untungnya, dia juga bawa laptop). Kan nggak enak, kalo keterusan pake punyanya Aziz. Nanti, kalo aku udah balik ke rumah dan online sama Minyu, aku balesin komen kalian kok ^^

Nah, aku masih jalan-jalan lagi, nih. Ada yang mau nitip apaan, gitu? :3

Leave your review, yo~

Love,

Jung Minrin

28 responses to “[Drabble] A Glass of Lemon Tea

  1. sabar ya thor…
    Sebernya sempet ketawa pas baca curhatanya author *peace…
    Tenang aja thor… Aku juga pernah kg dipeduliin sama ibu kantin -.- giliran cwo aku yg maju eh langsung T.T
    Ditunggu ff lainya😀

  2. Soo unn fighting ya ㅋㅋㅋ
    Untung ada Kris gege ‘3’
    So sweet yah SooKris nya ((:
    Daebakkk (y)

  3. Kekek gk nyangka kisah nyata d jadiin ff gini. Yg pnting author sabar aja ne. Skrng aja mungkin yg gk d anggap, tpi lama” jga bakal nongol kok u,u

    finghting author (y)

  4. Kasihan soo unnie.
    Psnan’a gak dtnggepin..,untng da krissppa..:)
    Bkin sequel’a dundd thor??

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s