[Mini Series] Another Paradise – Chapter 1

Another Paradise New

Another Paradise

Chapter 1 : Meet the Guys

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

SNSD Yuri || EXO-M Tao || EXO-K Suho || SNSD Sooyoung

EXO-M Chen || EXO-M Kris || BigBang Jiyong || etc.

Length : Mini Series || Rating : PG-17 || Genre : Romance, Family, Psycho, Action, Sad

WARNING :

VIOLENCE! HARSH WORDS! DEATH CHARA!

Author Note :

Finally, I decide to add Kris in this fic. I think, he really matches with the chara I’ve made. Hm, what will Kris be, huh? Hoho ^o^

Thanks a lot for the readers who always remind me to continue my fic. Thanks for caring so much. I love you all :*

Please notice every italic words

The rest, happy reading to you all (:

.

Read first :

Prologue

.

when an angel falls down, it will look for another paradise…

.

Huang Mansion

Beijing, China

Seorang gadis cantik dengan tubuh ramping, kaki jenjang, dan rambut panjang yang tergerai itu menggeliat pelan di atas ranjang king size yang di tempatinya. Ia bisa merasakan cahaya yang menyinari bagian kelopak matanya dan wajahnya yang mulai menghangat. Kelopak matanya terbuka secara perlahan, menampilkan sepasang bola dengan iris hitam yang menawan.

“Nggh…” Bibirnya yang terlihat agak pucat itu mengeluarkan lenguhan kecil. “Sudah pagi, ya?” gumamnya ketika melihat cahaya yang masuk dari celah jendela kamar yang sudah terbuka. Tangan kanannya bergerak ke atas dan mulai mengucek matanya perlahan.

Mata indahnya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Dan betapa terkejutnya dia ketika menyadari seorang pria dengan setelan jas rapi yang sudah berdiri di samping ranjang, sambil menyunggingkan sebuah senyuman.

“Selamat pagi, Nona Yuri,” sapa pria itu dengan ramah.

Gadis itu―Yuri―langsung terlihat kikuk. Ia segera mengubah posisinya―dari berbaring hingga duduk―sambil menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. “A-ah, selamat pagi~” balas Yuri sambil menundukkan kepalanya sekilas. “B-bagaimana aku bisa ada disini, Chen?” tanya Yuri bingung pada pria yang dipanggilnya Chen itu.

Pria bernama Chen itu tersenyum simpul. “Anda pingsan semalam, karena memaksa minum bir terlalu banyak,” jelas Chen. “Dan Tuan Muda yang membawa Anda kemari.”

“Eh?” Kedua mata Yuri mengerjap lucu. Ia paham betul dengan sosok ‘Tuan Muda’ yang dimaksud Chen. Dan Yuri tak menyangka bahwa si Tuan Muda itu akan membawanya yang masih pingsan ke dalam kamar. “Tao yang membawaku kemari?” tanya Yuri tak percaya.

Chen mengangguk mantap. “Saya datang kemari karena diperintahkan oleh Tuan Muda untuk membangunkan Anda. Tuan Muda ingin Anda menemuinya di ruang kerjanya,” jelas Chen.

Yuri tertunduk, lantas mengangguk mengerti.

“Baiklah, Nona Yuri. Saya permisi dahulu,” pamit Chen, lantas melangkah mundur dan keluar dari kamar Yuri.

Yuri mendongakkan kepalanya, hanya untuk memberikan sebuah senyuman kilat untuk Chen. Setelah kepergian Chen, Yuri menghela nafas panjang dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk. “Ah, kenapa aku harus terjebak dengan pria itu?” erangnya frustasi.

Tiba-tiba, ingatan Yuri kembali pada masa-masa kehidupannya yang begitu menyulitkan. Yuri yang sudah terbiasa hidup dengan kemewahan, mendadak dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa ia mengalami peristiwa penculikan. Selama beberapa minggu, hidup Yuri terombang-ambingkan dalam suatu ketidakpastian, dipindahkan dari suatu tempat gelap ke tempat lembap, tanpa tahu betul, dimana ia berada. Hingga ia berakhir di sebuah kamar luas dengan dekorasi yang sederhana, ditemani sebuah lampu kamar yang temaram. Dan betapa terkejutnya ia ketika berhadapan dengan seorang pria tampan yang belum dikenalnya. Sungguh, pengalaman beberapa minggunya yang cukup menakutkan, membuatnya trauma dengan berbagai orang asing yang mendekatinya.

Termasuk pria itu.

Yuri sungguh ketakutan dengan kehadiran pria itu. Ia sudah meminta pria itu untuk menjauhinya. Namun, pria itu justru semakin mendekatinya, hingga akhirnya merengkuhnya dalam suatu dekapan―yang entah kenapa, terasa begitu hangat dan menentramkan.

Satu hal yang membuat Yuri tak habis pikir. Pria itu meneriakkan sebuah nama, yang sama sekali bukan namanya. Sebuah nama yang menjadi sebuah pertanyaan besar di relung hatinya saat ini.

Sooyoung.

Dan hal berikutnya yang teringat oleh Yuri adalah bahwa pria itu menghubungi seseorang dan membicarakan tentang transaksi yang tidak ia mengerti. Detik selanjutnya, pria itu mengajaknya pergi dari kamar tersebut.

Sungguh! Awalnya, Yuri menolaknya dengan keras! Yuri masih trauma dan takut jika ia akan mengalami hal-hal yang menakutkan jika pergi bersama pria itu.

Tapi entah kenapa, ada satu kalimat yang bisa menyihir dan melumpuhkan otak Yuri saat itu.

“Aku berjanji akan melindungimu dan tak akan membiarkan orang lain melukaimu lagi.”

Dan Yuri hanya mengangguk setuju.

Menyetujui tawaran pria bernama Huang Zhi Tao.

.

“Terima kasih atas malam yang sangat menyenangkan, Sayang.”

Pria berkantung mata itu sibuk mengacak rambutnya dan hanya sempat membalas ucapan itu dengan gumaman, “Hm.”

Seorang wanita bertubuh seksi dengan pakaian yang minim itu menyentuh lembut pipi sang pria, lantas bibirnya itu pun mengecup pipi sang pria dengan kilat. “Sampai jumpa.” Dan sang wanita pun pergi, melewati sebuah pintu kayu bercat hitam, keluar dari kamar sang pria.

Pria itu masih mengabaikan wanita seksi yang meninggalkan kamarnya. “Argh!” Ia mengerang pelan, sambil meregangkan otot-otot tubuhnya. Kini, tangannya tergerak untuk mengusap wajahnya yang terlihat berantakan dan kusut.

TOK! TOK! TOK!

Terdengar suara ketukan pintu dari luar.

Pria berkantung mata itu melirik sekilas ke arah pintu kamarnya, lantas berucap, “Masuklah.”

CKLEK!

Pintu kayu bercat hitam itu pun terbuka perlahan dan menampilkan sosok pria tampan di balik pintu yang sudah kita kenal dengan nama Chen. “Tuan Muda,” panggilnya sambil membungkuk hormat di ambang pintu, lantas masuk ke dalam kamar sang Tuan Muda dan menutup pintunya. Ia tahu betul bahwa Tuan Muda-nya itu tidak suka ruangannya terbuka begitu saja.

“Hm.” Pria yang dipanggil Tuan Muda―atau lebih dikenal dengan nama Tao itu―hanya menggumam sebagai balasan. Ia menyingkap selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya, sehingga bagian atas tubuhnya yang tak berbalut kain sedikitpun itu terekspos, memperlihatkan dada bidang dan abs yang terpahat dengan sempurna. Tao pun beranjak dari ranjang empuknya. Kaki-kakinya melangkah ke sebuah meja panjang di dalam kamarnya, untuk mengambil segelas air putih yang disiapkan untuknya. Ia pun langsung menenggaknya hingga habis tak bersisa. Tangan kanannya mengusap kasat sudut bibirnya yang terasa basah. “Jadi,” Tao menoleh ke arah Chen, “mana gadis itu?”

Chen tersenyum kecil. “Nona Yuri sudah bangun. Mungkin, dia sedang bersiap,” jelas Chen.

Tao hanya mengangguk paham. Ia pun terduduk di atas sebuah sofa di dekat meja panjang yang dihampirinya. “Aku tak tahu lagi, bagaimana harus menangani gadis itu,” ucapnya frustasi, sambil mengusap wajahnya.

Chen menunjukkan senyuman asimetris andalannya, yang selalu terlihat seperti seringaian yang menakutkan. “Berhenti bermain dengan banyak wanita dan perhatikanlah dia, Tuan Muda,” celetuk Chen, tiba-tiba.

Tao mendongak menatap Chen dan menunjukkan tatapan meremehkan. “Huh? Memperhatikannya? Seingatku, dia justru melayangkan tinjunya ke perutku jika aku bersikap terlalu berlebihan padanya,” gerutu Tao kesal.

Chen terkekeh pelan. “Anda terkesan begitu lemah jika berhadapan dengan Nona Yuri,” komentarnya.

Tao mendelik kesal.

Sehingga, Chen pun segera menambahkan, “Mungkin saja, pukulannya adalah bentuk kecemburuannya pada Anda, Tuan Muda.”

Kini, Tao mengerutkan keningnya, sehingga kedua alisnya saling bertautan. “Cemburu?”

Lagi-lagi, Chen tersenyum asimetris. “Cemburu, karena Anda yang selalu bermain dengan wanita yang berbeda di setiap malamnya.”

Kerutan di kening Tao semakin bertambah. Namun, ketika bibirnya hendak terbuka,

TOK! TOK! TOK!

Terdengar sebuah ketukan di pintu kamarnya, sekali lagi, membuat Tao menghela nafas panjang, karena pertanyaannya harus tertahan. “Masuklah.”

Chen menolehkan kepalanya ke arah pintu tersebut, menantikan sosok yang masuk ke dalam kamar Tuan Muda-nya, meski sesungguhnya, otaknya sudah bisa memikirkan satu nama yang paling memungkinkan untuk mengunjungi kamar tersebut.

CKLEK!

Pintu kayu tersebut terbuka sekali lagi dan kini menampilkan seorang gadis cantik yang kita kenal dengan nama Yuri. Pandangan matanya menyiratkan rasa kesal. Kaki-kakinya yang jenjang itu melangkah dengan tergasa dan terhenti ketika ia sudah tiba di samping Chen. “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanyanya.

Chen menyunggingkan senyuman asimetrisnya sekali lagi. “Kurasa, aku harus meninggalkan kalian,” gumam Chen. “Tuan Muda, saya permisi dulu,” pamitnya dan segera mengambil langkah untuk keluar dari kamar Tao.

Yuri melipat kedua tangannya di depan dada sambil memasang wajah jutek andalannya. “Nah, cepatlah bicara. Waktuku tak banyak.”

Tao menaikkan sebelah alisnya, tak menduga bahwa kalimat macam itu akan meluncur dari mulut Yuri. “Memangnya, waktumu kau gunakan untuk apa saja?” tanyanya meremehkan. Tao pun bangkit dari duduknya. “Minum-minum?”

Yuri membelalakkan matanya. “Ya, ya, semalam itu hanya sebuah ketidaksengajaan!” elak Yuri cepat.

Tao pun menghampiri Yuri. “Oh, ya? Kau yakin, tidak sedang berusaha menarik perhatianku?” goda Tao, yang baru saja teringat dengan pembicaraannya dengan Chen mengenai kecemburuan Yuri. Kepalanya tertunduk dan wajahnya mendekat ke ceruk leher Yuri. Ia berusaha menghirup aroma vanilla dari tubuh Yuri.

Mata Yuri terbuka semakin lebar, seolah kedua matanya siap meloncat turun. “A-apa kau bilang?! Cemburu?” tanyanya kesal.

Tao menjauhkan wajahnya dari leher Yuri, lantas tertawa puas. Puas karena berhasil menggoda gadis cantik itu. “Tidak perlu kaget seperti itu,” balasnya santai. Ia pun melangkah melewati Yuri dan menuju lemari pakaiannya. Tubuhnya mulai merasa kedinginan karena hawa dingin dari AC yang masih menyala menusuk kulitnya yang tak terbalut apapun itu.

Yuri berdecak kesal. Tubuhnya berbalik, mengikuti arah Tao. “Jadi, sebenarnya, kau ingin membicarakan apa denganku, huh?” tanyanya, kembali pada poin utama, kenapa ia dipanggil oleh Tao. “Kau benar-benar membuang waktuku,” gerutunya pelan.

Tao tertawa kecil, sambil mengambil salah satu kaos dengan corak garis horizontal berwarna merah hati, merah muda, dan putih. “Kaulah yang membuang waktumu sendiri. Kau memancingku untuk berbicara banyak dan sialnya,” Tao mendesah kecil, lantas membalik tubuhnya menghadap Yuri, “kau malah mengikuti arah pembicaraanku.” Tao pun mulai mengenakan kaos pilihannya itu.

Yuri mengerucutkan bibirnya kesal, karena Tao selalu berhasil menumpukan kesalahan padanya. “Ya, ya, sudahlah. Cepat katakan padaku, apa yang ingin kau bicarakan.”

Tao merapikan ujung kaosnya, lantas menatap Yuri lekat. “Tentang kejadian semalam. Kuingatkan padamu untuk tidak pergi ke bar dan minum-minum. Mengerti?” ucap Tao tegas.

Yuri mengernyit heran. “Kenapa? Tumben sekali, kau perhatian padaku,” komentarnya.

“Karena aku tidak akan pernah suka, melihat gadis sepertimu, melakukan hal semacam itu.”

.

“HUH!” Yuri menghentakkan kakinya dengan kesal ke atas ubin marmer yang menjadi alas di Huang Mansion. Ia masih kesal atas segala sikap Tao padanya.

Tukang atur, seenaknya, dan tidak berperi kemanusiaan. Bahkan, sebenarnya, jika ingin dijelaskan lagi, masih ada banyak sikap Tao yang menjengkelkan. Hanya saja, tiga hal itu cukup mewakili semuanya.

Yuri menegakkan tubuhnya dan bersiap melangkah menyusuri lorong-lorong megah yang menghiasi hampir seluruh wilayah di Huang Mansion yang luas itu. Dalam setiap langkah yang diambilnya, ia senantiasa merutuk dalam hati, betapa ia telah menghabiskan waktunya yang berharga hanya dengan berbincang tanpa arti dengan Tao dan bagaimana mungkin ia tetap merespons dengan ocehan pria itu.

BRUK!

“Ah!” Yuri memekik kaget, ketika secara tak sengaja, tubuhnya menabrak sesuatu. Secara spontan, Yuri langsung melangkah mundur dan melihat apa yang baru saja ditabraknya. Kepalanya terdongak dan matanya menemukan sosok pria tampan dengan tubuh tinggi―bahkan lebih tinggi dari Tao yang menurutnya sudah sangat tinggi. “Maaf, maafkan aku,” ucap Yuri cepat sambil membungkukkan badannya beberapa kali.

Pria itu tersenyum kecil. “Tak apa,” balasnya santai. “Hm, ngomong-ngomong, siapa kau? Aku belum pernah melihatmu disini,” tanya pria itu.

Yuri terdiam sejenak. Well, Tao memang memperlakukan dirinya, sama seperti ketika Yuri diperlakukan oleh keluarganya: memberi perlindungan ekstra ketat padanya dari jangkuan orang asing. Tao selalu melarang Yuri berkeliaran di Mansion-nya, padahal Mansion-nya tersebut juga tertutup dan hanya dikunjungi oleh orang-orang penting bagi Tao. Yuri selalu berpikir bahwa Tao adalah orang yang berlebihan dan over-protektif padanya, padahal Yuri bukan siapa-siapa. Jadi Yuri bisa menduga bahwa pria yang berdiri di hadapannya itu pasti sudah sering berkunjung ke Huang Mansion, namun keduanya baru bertemu kali ini. “Ah, aku adalah Yu―”

“Tuan Huang…” sela sebuah suara, tiba-tiba.

Yuri melirik sosok pria yang sudah berdiri di belakang pria tinggi itu.

Chen-lah yang muncul.

“Tuan Muda sudah menanti Anda di ruangannya,” jelas Chen pada pria tinggi itu dengan sopan.

Pria tinggi itu menatap ke arah Chen. “Ah, baiklah,” balasnya.

“Mari, Tuan Huang,” ajak Chen pada pria itu.

Pria tinggi itu menoleh sekali lagi ke arah Yuri untuk melemparkan sebuah senyuman tanda meminta maaf.

Yuri pun membalas senyuman itu dan membiarkan Chen pergi bersama pria tinggi itu. Matanya masih tertuju ke arah punggung lebar yang dimiliki pria tinggi itu. “Tuan Huang? Marga yang sama dengan milik Tao. Siapa dia?”

.

“Huang Zhi Tao…”

Tao mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah sosok pria yang muncul dari balik pintu ruang kerjanya, diikuti oleh Asisten Pribadinya, Chen. “Paman Yifan…” balasnya singkat. Ia segera menutup dokumen yang sedang dibacanya dan bangkit dari singgasananya, lantas menghampiri sang Paman.

Pria yang dipanggil Paman oleh Tao itu menggeleng tak suka. “Berhenti memanggilku Yifan, Tao. Kau tahu itu,” gumamnya.

Tao memutar bola matanya dengan malas. “Ah, baiklah, Paman Kris…” ralat Tao. Sesungguhnya, ia selalu membenci adegan basa-basi yang diciptakan oleh Kris. Tao tahu betul perangai Pamannya. Pria itu adalah tipe pria penjilat yang harus diwaspadai. Kalau saja, Kris bukanlah Pamannya, mungkin sejak dulu, ia sudah mem-blacklist nama pria itu. “Jadi, kabar apa yang bisa kudengar hari ini, Paman?”

“Jangan terburu-buru, Tao,” ucap Kris. “Ngomong-ngomong, siapa wanita yang kau bawa ke ranjangmu semalam, hm? Seems good.”

Tao menyipitkan matanya. Ia melirik sekilas ke arah Chen.

Chen menunjukkan tatapan saya-bisa-menjelaskan-tentang-itu-nanti.

Tao kembali menatap Pamannya. “Just random woman,” balasnya malas.

“Benarkah? Tapi, dia terlihat terlalu bersih untuk seorang random woman,” balas Kris tak puas.

“Lagipula, tidak semua random woman terlihat kotor, bukan?” ucap Tao. Ia ingin segera mengakhiri pembicaraan ini.

“Yah, aku hanya tidak puas dengan jawabanmu, Taozhi. Jangan-jangan, dia adalah salah satu propertimu,” duga Kris.

Tao menghela nafas panjang. “Terserah Paman saja,” balasnya pasrah. “Jadi, ada berita apa, Paman?” tanya Tao, kembali ke inti pembicaraan mereka.

“Kurasa, kita bisa mulai mengusai Korea Selatan lagi, Tao. Koloni Kwon sedang goyah. Ini adalah kesempatan yang baik bagi kita,” jelas Kris semangat.

Tao terdiam dan berpikir sejenak. Ia tahu betul bahwa Koloni Kwon adalah satu-satunya penguasa kuat pasar gelap Korea Selatan. Dan Tao tak pernah ingin berurusan dengan Koloni Kwon, entah untuk menjalin kerja sama atau untuk melawan kekuasaan mereka. Bukan karena rasa takut, Tao hanya tak ingin membuang tenaga dengan percuma, karena ia yakin, dengan kekuatan yang seimbang diantara Koloninya dan Koloni Kwon, hal itu justru akan menghasilkan kekalahan di kedua belah pihak. Tentu saja, Tao tak ingin melepaskan segala pencapaiannya selama ini. Lagipula, Koloni Kwon juga tak pernah berusaha untuk mengganggu Koloninya. “Memangnya, kenapa mereka menjadi goyah?” tanya Tao, akhirnya.

“Tim-ku memang belum berhasil menyelidiki alasan sebenarnya. Tapi, aku bisa memastikan bahwa ini semua disebabkan oleh masalah internal,” jelas Kris.

“Jadi, alasannya belum jelas?” tanya Tao memastikan.

“Belum. Tapi aku―”

“Aku tak ingin mengambil resiko, Paman,” potong Tao.

Kris mengernyit.

“Aku tak ingin mengambil resiko untuk mencari masalah dengan orang-orang Korea, apalagi dengan Koloni Kwon. Mereka sangat berkuasa dan berbahaya,” jelas Tao.

“Oh, kau ketakutan?” ejek Kris.

Tao menarik salah satu sudut bibirnya, membentuk senyuman asimetris yang terlihat puluhan kali lebih menyeramkan dari milik Chen. “Kenapa harus takut, Paman? Bukankah kita dididik untuk tidak menjadi takut?” balas Tao. “Aku hanya tak ingin mengotori tanganku untuk melakukan hal penuh kesia-siaan seperti itu,” jelasnya.

“Penuh kesia-siaan, katamu?” protes Kris. “Huang Zhi Tao, Korea Selatan adalah pasar yang sangat bagus untuk kita,” tegas Kris.

“Apakah Paman menganggap aku tak mengetahui hal itu?” balas Tao jengkel. “Seharusnya, Paman belajar banyak, bahwa kekuatan kita sama besar dengan Koloni Kwon. Tidak seharusnya, kita mencari musuh seperti mereka, karena toh, kita akan sama-sama rugi, Paman,” jelas Tao.

Kris menggeram pelan, meluapkan rasa kesalnya karena teorinya dipatahkan oleh pemikiran seorang pria yang berusia jauh di bawahnya.

“Coret rencana itu, Paman,” perintah Tao tegas. Ia membalik tubuhnya dan kembali menuju meja kerjanya. “Jadi, adakah berita lain selain itu?”

.

“Tuan Huang bertemu dengan Nona Yuri,” ucap Chen cepat. Kini, hanya ada dia dan Tao di dalam ruang kerja milik Tao. Matanya langsung menatap lekat ke arah Tuan Muda-nya. Ia bisa menyadari perubahan raut wajah pria yang sedikit lebih muda darinya itu.

“B-bagaimana bisa?” tanya Tao tak percaya.

“Mereka bertemu di lorong, Tuan Muda,” jelas Chen. Ia tahu betul bahwa Tao selalu berusaha menyembunyikan keberadaan Yuri di Mansion-nya, bahkan dari anggota keluarga Huang sekalipun. Jadi, ia tak heran, jika Tao terlihat terkejut mendengar ucapannya.

“Jadi, wanita yang dimaksud Paman tadi adalah…”

“Nona Yuri,” lanjut Chen. “Untungnya, saya melintas di saat yang tepat. Nona Yuri nyaris memperkenalkan dirinya di hadapan Tuan Huang. Dan saya langsung memotong pembicaraan mereka dengan mengajak Tuan Huang untuk segera menemui Anda,” jelas Chen.

Tao membeku di tempatnya. Mungkin, ia masih shock dengan penjelasan Chen.

“Tenanglah, Tuan Muda. Saya yakin, Tuan Huang tidak akan bergerak lebih jauh, selama kita memperketat penjagaan terhadap Nona Yuri. Dan saya sudah mengkoordinasi dengan rekan-rekan untuk menjaga rahasia ini dari Tuan Huang,” jelas Chen.

See? Chen bahkan langsung bergerak cepat, karena ia tahu betul dengan pemikiran sang Tuan Muda.

Tao langsung mendesah penuh kelegaan. “Baiklah kalau begitu,” gumamnya. “Hm, mungkin, kau adalah satu-satunya alasan yang bisa kupunya untuk mempercayai orang Korea, Kim Jongdae.”

Dan Chen hanya membalasnya dengan senyum asimetris andalannya.

Misterius.

.

“Jadi, kau pernah tinggal di Korea juga?” tanya Yuri dengan mata berbinar pada Chen.

Chen mengangguk sambil tersenyum. “Begitulah, Nona.”

“Woah!” Yuri nampak takjub dengan pengakuan Chen. “Lalu, bagaimana kau bisa bergabung dengan Tao?” tanya Yuri penasaran.

“Saya adalah anak yatim piatu. Hidup saya penuh ketidakpastian, hingga saya dirawat oleh seorang pria yang merupakan salah satu orang kepercayaan keluarga Huang,” jelas Chen. Pandangannya mulai menerawang. “Saya tumbuh dekat dengan Tuan Muda dan berbagai bisnis keluarga Huang. Hingga saat saya beranjak remaja, saya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok ini,” lanjutnya.

Yuri mengangguk mengerti. “Berarti, kau sudah mengenal Tao sejak lama? Bagaimana sikapnya? Apakah dia menjengkelkan seperti sekarang?” tanya Yuri berapi-api.

Chen tertawa pelan. “Bagi saya, Tuan Muda sama sekali bukan orang yang menjengkelkan, Nona,” komentar Chen. “Walaupun ya, dia bisa berubah sangat menjengkelkan jika berurusan dengan hal kesayangannya. Tapi saya rasa, itu hanya ungkapan rasa cintanya.”

Yuri hanya terdiam. Tiba-tiba, ada rasa ingin tahu yang mendalam tentang hal yang menggelitik hatinya selama ini. Ia selalu merasa nyaman berbincang tentang apapun dengan Chen. Mungkin, karena Chen adalah satu-satunya orang yang diperbolehkan Tao untuk ‘dekat’ dengannya. Jadi, Yuri pun memberanikan diri untuk mempertanyakan hal ini. “Hm Chen, apakah kau tahu tentang Sooyoung?”

Chen menoleh cepat ke arah Yuri. Wajahnya menunjukkan ketidak pahaman.

“Aku sering mendengar Tao menyebut nama Sooyoung. Aku penasaran dengannya,” jelas Yuri.

“Apakah Anda sudah mencoba bertanya pada Tuan Muda?” tanya Chen memastikan.

Yuri mendesah kecil. “Sudah. Tapi, dia justru marah-marah,” gerutu Yuri. Masih teringat jelas dalam ingatannya, bagaimana Tao membentak dan memarahinya, hanya karena Yuri menanyakan tentang sosok Sooyoung.

Chen tersenyum lebar. “Kalau begitu, saya belum berhak menceritakan hal ini pada Nona Yuri,” balas Chen.

“Eh?”

“Tuan Muda lebih berhak untuk menjelaskan hal ini, Nona.”

.

“Hiks… Oppa, t-tolong aku. Kumohon, tolong aku…”

“Oppa, aku takut. Aku takut mereka melukaiku.”

“Hiks, ini sakit sekali…”

“Oppa…”

“Oppa…”

“Oppa…”

Mimpi-mimpi buruk itu kembali menghantui tidur Tao. Tubuhnya menggeliat resah. Keringat bercucuran dari pelipisnya. “Nggh…” Tao pun mulai mendesah pelan, hingga meracau tak jelas.

Keributan dari dalam kamar Tao itu pun memicu kekhawatiran Chen, yang kebetulan melintas di depan kamar Tao.

Chen segera membuka pintu kamar Tao dengan kunci cadangan yang dimilikinya. Dan betapa terkejutnya Chen ketika melihat keadaan Tao. “Tuan Muda!”

.

“Tuan Muda sakit, Nona!”

Yuri tak ingat, apa yang terlintas di otaknya, ketika Chen membangunkannya dari tidur nyenyaknya dan mengabarkan keadaan Tao padanya. Yang ia tahu adalah ia langsung mengenakan cardigannya untuk melapisi piyama yang dikenakannya dan langsung berlari menuju kamar Tao. Ia bahkan lupa untuk memakai alas kaki.

Dan kini, Yuri sudah berada di kamar Tao, lebih tepatnya terduduk di ranjang Tao, sambil memeluk tubuh kekar pria dengan ciri khas kantung mata berwarna hitam itu. Entah apa yang dipikirkannya ketika ia memeluk Tao. Ia hanya merasa iba dengan keadaan Tao malam itu. Sepertinya, Tao sedang demam dan dihantui oleh mimpi buruk. Padahal, seingatnya, tadi pagi, ia sempat bertemu dengan Tao dan Tao pun masih sempat menggodanya.

Apa yang membebani Tao saat ini?

Yuri mengeratkan pelukannya pada tubuh Tao, setiap kali Tao mulai terusik dalam tidurnya atau tubuhnya mulai menggeliat dan bibirnya meracau tak jela. Jujur saja, Yuri sangat khawatir dengan keadaan Tao. Selama 6 bulan, ia tinggal bersama dengan Tao di Mansion yang sama, Yuri sama sekali belum pernah melihat Tao sakit. Pria itu selalu terlihat bugar di matanya.

“Nggh…” Tao kembali melenguh pelan. “M-maaf… Maafkan aku…” racaunya sekali lagi.

Kali ini, Yuri mengernyit heran. Ketika ia berhasil mendengar racauan Tao, ia justru mendengar kata yang ‘aneh’. “Maaf? Untuk apa?” batinnya bingung.

“J-jangan tinggalkan aku…”

Yuri mengeratkan pelukannya. Wajahnya mendekat ke telinga Tao dan berbisik, “Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu.”

Dan detik berikutnya, hati Yuri serasa tertusuk ribuan pedang tajam, hanya karena satu kalimat racauan Tao.

“Sooyoung, jangan tinggalkan aku!”

.

“Namanya adalah Yuri, Tuan.”

“Yuri?”

“Benar, Tuan. Dia adalah orang Korea.”

“Hm, cukup mengejutkan. Apa lagi informasi yang bisa kau dapat?”

“Kami kesulitan membobol sistem mereka. Seseorang telah meningkatkan pengawasan sistem.”

“Oh, baiklah, tak apa-apa. Itu semua sudah cukup menjelaskan bahwa Yuri adalah orang yang sangat berharga.”

TBC

Akhirnyaaaaa, muncul juga chapter 1-nya. Gimana, nih? Masih ada yang bingung? Tentang prolog kemarin udah dijelasin disini, ya? Tentang siapa cewek itu dan yang lain-lain.

Abang Suho masih belum nongol, nih :3 Si GD alias Jiyong juga belum nongol (tapi aku yakin, kalian bisa nebak posisi Jiyong disini :P) Nah, posisi Sooyoung disini juga masih ambigu lhoo. Kira-kira, apa hubungan Sooyoung sama Tao, ya? Dan siapa orang-orang yang ngobrol di akhir cerita? FF ini makin banyak teka-tekinya, hehe😀 Jadi, silakan menebak-nebak.

Maaf, nggak bisa update cepet FF ini, padahal, aku udah berkoar dari hari Kamis. Pertama, karena ide udah tersita sama Mr. and Mrs. Huang. Kedua, karena penyakitku mendadak kumat -_- Jadi, baru bisa publish sekarang, hoho ^o^

Oiya, aku mau curhat dikit. Hari ini, aku udah baca pengumuman penerimaan siswa lewat jalur prestasi. Dan…

I was failed cause a very pathetic reason -_- Katanya, nem-ku terlalu tinggi dan disuruh daftar lewat jalur online. Soalnya, pasti diterima. Masalahnya adalah jalur online itu masih nunggu tanggal 1 dan pengumumannya tanggal 8. Kan, lama banget tuh :3 Makanya, aku males -_-v Dan mungkin, ini karena doa jelek dari keluargaku. Aku didoain supaya nggak lolos jalur prestasi, cuma supaya bisa nemenim sepupuku yang sejak awal udah ditolak di jalur prestasi, karena nem-nya juga tinggi (lebih tinggi dari aku, malahan._.)

Ah, ya sudahlah. Toh, jalur online masih ada. Jadi, aku masih punya kesempatan buat cari sekolah😄 Meskipun presentasi diterimanya itu lumayan besar, tapi aku tetep mohon dukungan kalian, semoga aku lolos. Kalau aku sampe nggak lolos, mungkin si Minyu (laptop kesayanganku) bakalan ditarik dari peredaran. Dan artinya, aku bakalan susah nulis FF lagi. Huweee T_T

Oke, abaikan curhat itu😄 Oiya, aku udah nyimpulin buat After Story-nya Serendipity. Usulan readers, kurang lebih sama. Jadi, aku udah mulai ngerancang plot-nya. Jadi, tunggu aja, yaa😀

Dan setelah ini, readers pingin aku update FF yang mana? Pilih antara Mr. and Mrs. Huang atau Extraordinary Love, yaa?

Don’t forget to leave your reviews…

Love,

Jung Minrin

5 responses to “[Mini Series] Another Paradise – Chapter 1

  1. Iya author aku bingung sama posisinya soo unnie disini, dia cuma jadi masa lalunya tao doang kah? Atau gimana?
    Update yg extraordinary love aja deh author soalnya kan udah lama tuh engga diupdate

    • soalnya sooyoung di-keep dulu. rahasia akan terbongkar secara perlahan, kok😀
      extraordinary love? sip deh, tunggu usul readers lain, yaa🙂
      btw, gomawo udah baca n comment ^^

  2. Penasaran gila sama nih ff ((:
    Pengin tau juga Soo Unni ada hubungan aap sama Tao
    Pokoknya nih ff penuh teka-teki deh wkwk
    Next chap thor ;;

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s