[Mini Series] Mr. and Mrs. Huang – Prologue

Huang Family

Mr. and Mrs. Huang

PROLOGUE

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

SNSD Sooyoung || EXO-M Tao || SNSD Yuri

EXO-K Suho || SNSD Sunny || Super Junior Siwon || f(x) Sulli || EXO-M Kris

Length : Mini Series || Rating : PG-15 || Genre : Romance, Friendship, Family, Marriage Life

Disclaimer :

The casts are not mine, but the plot is truly mine

So, don’t dare to take it without my permission

Inspired by :

Mr. and Mrs. Smith (film) and Dating Agency : Cyrano (K-drama)

Note :

Maaf, kayaknya, aku nggak bisa bikin AS-nya Serendipity ._.v

Sebagai gantinya, aku bikin ff ini, deh ^^

Pairing-nya bukan Suho-Sooyoung, sih. Malahan, pairing disini rata-rata crack :3

Jangan shock dan jangan marahin aku, kalau nggak suka. Ini ide munculnya abis nonton Dating Agency, trus minta buruan ditulis deh😀

Oke, tanpa banyak bicara lagi, selamat membaca, yaa!!

.

we do have some secrets

-Mr. and Mrs. Huang-

.

Choi Sooyoung

“Aku tidak mau dijodohkan, Umma!” teriakku pada Umma. Aku tak peduli jika suara kerasku ini menggema di dalam ruang keluarga atau bahkan keluar hingga ruangan lain. Aku benar-benar tak peduli, karena aku terlanjur kesal!

“Aigo Soo, ada apa?” Kulihat Siwon Oppa yang keluar dari kamarnya. Wajahnya nampak panik, mungkin karena mendengar teriakanku itu.

Aku hanya melirik sekilas ke arah Siwon Oppa, lantas kembali menatap ke arah Umma dengan kesal. Masa bodoh, jika aku dianggap durhaka, karena menurutku keluargaku ini semakin gila saja! Bayangkanlah, bagaimana kalau kau diharuskan untuk menikah dengan pria pilihan orang tuamu, tanpa ada persetejuan sedikitpun darimu? Kenyataan itu sangat menohok hati, bukan? Iya, kan?

“Sooyoungie, kau tak perlu berteriak begitu,” ucap Umma lembut. Tangannya berusaha menggapai pundakku.

Aku segera menepis tangan Umma dan bangkit dari dudukku di atas sofa. “Lalu aku harus apa, Umma? Aku harus apa, agar kalian membatalkan perjodohan itu?” tanyaku dengan suara yang lebih rendah. Karena kali ini, aku mulai terisak. A-aku sudah tak sanggup dengan penderitaan ini.

Umma ikut bangkit dari duduknya dan berusaha menghampiriku.

Namun, entah dengan kecepatan macam apa, Siwon Oppa mendahului Umma dan memeluk tubuhku.

Dan aku langsung membalas pelukan Siwon Oppa, mulai menangis di dadanya.

“Umma, kita bisa membicarakan hal ini nanti, ne?” bujuk Siwon Oppa pada Umma.

“Tapi, Wonnie…” Umma nampak hendak protes.

“Umma, Sooyoung butuh ketenangan dulu. Biar aku yang membicarakan hal ini padanya,” jelas Siwon Oppa.

Umma menghela nafas. “Arrasseo, Wonnie,” balas Umma. Kudengar, Umma mulai mengambil langkah. Dan tak kuduga bahwa Umma tengah menghampiriku dan mengusap puncak kepalaku. “Maafkan Umma, Chagiya.”

Aku tidak merespons dan hanya terisak pelan di dada Siwon Oppa.

Siwon Oppa mengelus rambutku. “Nah, ayo kita ke kamar dulu, Youngie.”

.

“A-aku tidak ingin d-dijodohkan, Oppa,” ucapku di sela isakan tangisku yang mulai melemah.

Siwon Oppa senantiasa memelukku, seolah menyalurkan ketenangan. Semua pelukan yang diberikan oleh Siwon Oppa selalu berarti, “Semua akan baik-baik saja.” Dan aku selalu percaya akan hal itu.

Semenjak Appa meninggal, Siwon Oppa bagaikan memang seorang kepala keluarga, memberikan perlindungan bagi Umma, aku, dan adikku, Sulli. Namun, semenjak kepergian Appa pula, keadaan perusahaan yang didirikan Appa mulai goyah. Hal itu membuat perekonomian keluarga kami mulai menurun. Sejak kecil, Siwon Oppa tidak tertarik dalam dunia bisnis dan justru menggeluti bidang kedokteran. Sementara itu, aku dan Sulli pun masih belum bisa diandalkan karena kami sama-sama belum menyelesaikan pendidikan. Aku masih duduk di bangku kuliah, sementara Sulli duduk di bangku SMA. Umma juga sama sekali belum pernah menangani sebuah perusahaan, maka dari itu dia juga tak bisa mengambil alih perusahaan Appa. Ini sungguh menyulitkan keadaan kami.

Hanya saja,

hanya saja, aku tak pernah habis pikir bahwa Umma akan menjualkan, hanya untuk memperbaiki keadaan ekonomi kami.

Oke, mungkin, kalian berpikir, aku terlalu berlebihan dengan menyebut Umma-ku telah menjualku. Tapi, bagaimana kita menyebut suatu perjodohan yang berimbas dengan merger perusahaan? Yah, begitulah kondisiku saat ini. Umma menjodohkanku dengan putra pengusaha kaya agar perusahaan kami dan mereka bisa saling bekerja sama. Bukankah itu sama saja berarti aku telah dijual oleh Umma-ku sendiri?

Memikirkan hal itu membuatku terisak semakin keras.

“Ssst, tenanglah, Soo. Tenang,” bisik Siwon Oppa sambil mengusap lembut punggungku.

“Ap-apa Umma membenciku, sampai ingin menjualku seperti ini?” tanyaku, akhirnya. Ya, inilah yang menjadi pertanyaanku. Kenapa dari 3 anak, hanya akulah yang harus dijodohkan? Bagaimana dengan Siwon Oppa? Bagaimana dengan Sulli?

Siwon Oppa melepas pelukannya dan menyentuh kedua sisi lenganku. Matanya menatap tajam ke arahku. “Apa kau bilang? Menjual? Siapa yang hendak menjualmu, Soo?” tanya Siwon Oppa tak percaya.

Aku terdiam. Ya, memang tak ada yang mengatakan hendak menjualku. Tapi, itu kan, sama saja…

“Dengar, Choi Sooyoung, kami semua, aku, Umma, dan Sulli pasti mengharapkan kebahagiaan bagimu dan bukannya membuatmu menderita dengan menjualmu,” jelas Siwon Oppa.

“Tapi, Umma tetap memaksa untuk menjodohkanku,” protesku.

Siwon Oppa tersenyum kecil. Jemarinya bergerak mengusap jejak air mata di pipi kananku. “Itu karena Umma ingin melihat kau bahagia, Sooyoungie,” balas Siwon Oppa.

Aku mengernyit bingung. “Bagaimana bisa aku bahagia jika harus menikah dengan pria yang tak kucintai, Oppa?”

Siwon Oppa tersenyum dengan bijak. “Itu hanya karena kau belum mencoba untuk mengenalnya.”

.

Mungkin, aku memang terkesan berlebihan pada awalnya. Siwon Oppa memang benar. Aku berpikir terlalu cepat, bahwa jika aku menikah dengan pria pilihan Umma, maka aku tak akan bahagia, karena aku tak mencintainya. Well, itu kan, hanya berlaku jika aku sama sekali belum mengenalnya. Namun, akan berbeda kasusnya jika aku sudah mengenal kepribadiannya. Siapa tahu, aku tertarik padanya, bukan?

Jadi, disinilah aku berada. Di sebuah restoran bintang lima di pusat kota Seoul, dengan mengenakan sebuah dress putih selutut, menunggu seorang pria yang akan dijodohkan denganku.

Ya, setelah sepakat dengan Umma bahwa aku akan mencoba ini terlebih dahulu, maka Umma mulai merangkai pertemuan antara aku dengan pria itu. Hanya kami berdua, tak ada anggota keluarga yang menemani atau menguntit kami.

Sepuluh menit sudah aku menunggu kehadiran pria itu di restoran ini.

Dan tak lama, kurasakan kursi di hadapanku bergeser pelan.

Aku pun mendongakkan kepalaku dan mataku bertemu dengan sepasang mata sipit dengan kantung mata.

Seorang pria dengan wajah datar dan tatapan dingin dan menusuk sudah berdiri di hadapanku. Pria itu mengenakan kemeja berwarna putih, dasi berwarna merah, dan jas hitam dengan logo di bagian dada kirinya (yang jelas, pakaian itu mengingatkanku pada seragam High School khusus pria).

Aku menaikkan kedua alisku, seolah bertanya, “Anda siapa?”

Pria itu membuang muka sambil menghela nafas. “Kau Choi Sooyoung, kan?” tebak pria itu.

Aku mengerjap kaget, karena dia sudah mengetahui namaku. “N-ne. Aku Choi Sooyoung. Maaf, Anda siapa?” balasku kebingungan.

Pria itu kembali menatapku dengan sorot mata yang tajam. “Dengar, aku tak punya waktu banyak, Nona Choi. Jadi, kuharap, kau bisa mendengar semua ucapanku dengan baik,” ucapnya datar.

Aku hanya terdiam.

“Seharusnya, kau sudah tahu, bahwa kita berdua akan dijodohkan. Aku tahu bagaimana keadaan keluargamu, jadi aku berniat memberikan sebuah penawaran menarik denganmu―secara pribadi, tanpa kau beritahukan pada siapapun.” Pria itu memberi jeda untuk mengambil nafas. “Penawarannya mudah. Aku akan memberikan APAPUN yang kau mau, asalkan kau menikah denganku.”

DEG!

Tunggu, tunggu! Telingaku hanya sedang salah mendengar, kan?

“Kalau kau tertarik,” Tangan kanannya merogoh ke dalam saku jasnya dan meletakkan secarik kertas ke atas mejaku, “hubungi aku. Kutunggu sampai tengah malam.”

Aku melirik sekilas ke arah kertas kecil tersebut, yang mirip seperti kartu nama.

“Maaf, aku tak bisa berlama-lama disini, Nona Choi. Annyeong.” Dan pria itu pun pergi meninggalkanku yang masih agak melongo di tempat dudukku.

Otakku ini mulai mencerna satu per satu kalimat yang diucapkan pria itu dengan cepat.

Oh, oke, oke. Jadi, pria itu akan memberikan APAPUN yang kumau asal aku mau menikah dengannya? Bukankah ini terkesan seperti sebuah pemaksaan? Bagaimana kalau aku menerimanya dan aku hanya dimanfaatkan olehnya?

ANDWAE!!!

Sekali lagi, aku melirik ke arah kartu nama yang ditinggalkan pria itu untukku. Aku segera mengambilnya dan membacanya dengan seksama.

Nama pria itu…

…Huang Zhi Tao.

TBC or END?

Yah, kok ngeluarin mini series lagi? Hohoho ^o^

Habis, udah nggak tahan pingin nulis nih. Kalau yang ini, jadwal update-nya bakalan aku selang-seling sama Another Paradise. Jadi, biar nggak bosen, yaa?

Entah kenapa, tiba-tiba kesambet pingin bikin ff Tao-Sooyoung, kayaknya lucu gitu :3 Yah, semoga suka sama crack pair yang satu ini. Setelah bikin kalian jatuh cinta sama TaoYul dan SooHo, aku pingin bikin kalian suka sama TaoSoo, kkk~

Nah, gimana nih, enaknya dilanjut atau enggak? *tuingtuing*

Leave your review, yo~

Aku mau cabut nerusin Another Paradise dulu :3

Love,

Jung Minrin

P.S. Yang ngotot pingin dibikinin AS-nya Serendipity, klik ini coba

25 responses to “[Mini Series] Mr. and Mrs. Huang – Prologue

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s