[Oneshot] Serendipity

Serendipity

Serendipity

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

tranformed from Idwinaya

EXO-K Suho || SNSD Sooyoung || EXO-M Kris

Length : Oneshot || Rating : PG || Genre : Romance, Friendship, Fluff

Disclaimer :

The casts are not mine, but the plot is truly mine

Sequels :

Traffic Jam || Express || Phone Number || Wedding Dress

Author Note :

Update kilat nih😀 Mumpung aku lagi jatuh cinta sama Abang Suho, makanya aku buruan ngetik Side Story+After Story-nya nih. Jadi, fic ini disajikan dari sisinya Suho dan menceritakan tentang akhir cerita dari kisah Suho-Sooyoung. Nah, nah, kira-kira apakah Suho-Sooyoung bisa bersatu? Aku nggak janjiin happy ending, lhoo~ /dirajam readers/

Oke, oke, daripada aku nge-tease nggak jelas, monggo dibaca saja…

.

Recommended Song : Sky – Super Junior KRY

Tune your ears in – can’t you hear the small whisper?
Wherever you hear it, I will be with you

Even if you’re far away, the wind calls you
This heart rush that only we know touches the end of the blue sky

Stay by my side, hold my hand
As you listen to the small whispers and what the wind says

.

I had never planned to meet you,

but I believe that meeting you is my fate

-Kim Joonmyeon-

.

Incheon, South Korea

Kim Joonmyeon.

Pria tampan sekaligus manis itu sedang berkutat dengan ponselnya, sambil menunggu antrian masuk pesawatnya berjalan maju. Beberapa pesan dari sang Kakek yang berada di Kanada masuk ke dalam ponselnya.
From : Wu Haraboji

Joonmyeon, apakah kau sudah mempersiapkan berbagai keperluanmu?

From : Wu Haraboji

Joonmyeon, cepatlah berangkat ke bandara atau kau akan ketinggalan pesawatmu.

From : Wu Haraboji

Joonmyeon, jangan lupa membawa paspormu.

From : Wu Haraboji

Joonmyeon, kau sudah tiba di bandara?

From : Wu Haraboji

Joonmyeon, apakah kau sudah siap lepas landas?

Joonmyeon tertawa kecil membaca pesan-pesan dari Kakeknya. Kakeknya itu memang agak cerewet dan terlalu protektif pada keluarganya, terutama dirinya. Joonmyeon pun segera mengetik cepat balasan untuk sang Kakek, sebelum membuat Kakeknya khawatir.

To : Wu Haraboji

Maaf, aku baru bisa membalas pesan Kakek. Sudah kupastikan bahwa seluruh perlengkapanku terbawa. Tenang saja Kakek, sekarang aku sudah tiba di bandara dan sedang antri untuk masuk pesawat. Ah, pasporku juga tidak ketinggalan, kok. Tunggu sampai aku tiba di Vancouver, ya?

Joonmyeon pun menekan tombol “Send” pada ponselnya.

Message Sent!

Ketika Joonmyeon sudah memastikan tak ada pesan lainnya di dalam ponselnya dan hendak memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, sebuah pesan masuk lagi ke dalam ponselnya. “Mungkinkah ini dari Kakek? Cepat sekali,” batin Joonmyeon dalam hati. Joonmyeon pun kembali mengecek ponselnya.

Ternyata, pesan itu bukan berasal dari sang Kakek, melainkan dari Wu Yifan, sepupunya.

From : Wu Yifan

Joonmyeon-ah, dimana kau sekarang? Apakah kau masih di bandara? Atau kau sudah lepas landas? Hei, kau ingat dengan desainer Choi Sooyoung? Dia sedang mencarimu dan mengejarmu ke bandara. Kuharap, kau belum berangkat ke Vancouver. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia katakan padamu.

Joonmyeon mengernyit bingung membaca pesan Yifan. Sebelum otaknya sempat berpikir lebih jauh, ia mendengar namanya dipanggil secara samar-samar.

“Joonmyeon! Joonmyeon!”

Joonmyeon pun mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang sedang memanggilnya.

“Joonmyeon!”

Dan mata Joonmyeon menemukan seorang gadis yang tak asing lagi di matanya.

Choi Sooyoung.

Gadis itu berdiri di balik jendela pemisah. Ia nampak kelelahan, namun wajahnya langsung tersenyum ketika melihatnya.

Joonmyeon pun membalas senyuman Sooyoung. Entah kenapa, terdapat sebersit rasa kelegaan di dalam dadanya, ketika melihat gadis itu di depan matanya, meski terpisahkan jarang yang cukup jauh.

“Tiket Anda, Tuan.” Tiba-tiba petugas bandara meminta Joonmyeon untuk menunjukkan tiketnya.

Joonmyeon pun langsung menunjukkan tiketnya. “Ini,” ucapnya. “Ah, maaf, apakah aku boleh menemui temanku sebentar? Dia menunggu disana,” jelas Joonmyeon sambil menujuk ke arah Sooyoung yang masih menunjukkan wajah penuh harapnya.

Petugas bandara itu tersenyum kecil. “Maaf, Tuan. Tapi, pesawat Anda akan segera lepas landas,” jawab sang petugas bandara.

“Sebentar saja,” mohon Joonmyeon.

“Maaf, tapi pesawat Anda benar-benar akan lepas landas, sementara penumpang lainnya masih menunggu di belakang Anda,” balas sang petugas bandara sambil menunjuk ke arah antrian yang tersisa di belakang Joonmyeon. “Kecuali jika Anda berniat untuk meninggalkan penerbangan ini, Tuan,” imbuhnya.

“Meninggalkan penerbangan ini?” gumam Joonmyeon. Ia menoleh sekali lagi ke arah Sooyoung.

Gadis itu tersenyum ke arahnya seolah bertanya “Apakah kau bisa kembali kesini?”

Joonmyeon berpikir cepat. Ia sudah terlanjur janji pada sang Kakek untuk kembali ke Vancouver. Tapi, ia memiliki firasat bahwa ada sesuatu yang penting yang akan dikatakan Sooyoung padanya.

“Cepatlah, Tuan,” desak sang petugas bandara.

Joonmyeon menatap ke arah Sooyoung dan bergumam, “Gomen.” Dan Joonmyeon pun melangkah maju dan segera masuk ke dalam pesawat yang akan menerbangkannya ke Kanada.

Sooyoung menunjukkan wajahnya yang penuh kekecewaan.

Dan entah kenapa, Joonmyeon merasa hatinya tersayat-sayat karena melihatnya, meski mereka belum kenal terlalu dekat. Dalam hati ia terus berucap, “Maafkan aku, Sooyoung. Maafkan aku.”

.

Vancouver, Canada

Akhirnya, Joonmyeon tiba dengan selamat di Vancouver. Ya, tubuh Joonmyeon memang dalam keadaan selamat, namun pikiran dan jiwanya sedang tidak baik-baik saja. Ingatannya masih tertinggal bersama dengan kenangan-kenangannya dengan Sooyoung di Jepang dan jiwanya masih tertahan oleh penawan hatinya, Choi Sooyoung.

Penawan hatinya?

Entahlah. Joonmyeon merasa bahwa separuh hati dan jiwanya telah dibawa pergi oleh Sooyoung, entah sejak kapan―sejak pertemuan pertama mereka atau sejak Joonmyeon meninggalkan Sooyoung di bandara. Tapi, ia tak ingin mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada Sooyoung. Mana mungkin, ia jatuh cinta pada Sooyoung hanya dengan 4 kali pertemuan?

Namun Joonmyeon percaya akan satu hal. Ia percaya bahwa pertemuannya dengan Sooyoung adalah garis takdir yang ditentukan oleh Tuhan, entah apapun yang menanti mereka di kemudian hari.

“Joonmyeon!” panggil sebuah suara.

Joonmyeon mendongakkan kepalanya dan melihat sosok pria tua yang masih terlihat sehat sedang tersenyum ke arahnya. “Kakek,” gumamnya sambil menyunggingkan sebuah senyuman kecil. Ia pun mempercepat langkahnya untuk menghampiri sang Kakek.

“Cucuku.” Kakek Wu langsung memeluk tubuh cucu kesayangannya itu.

Joonmyeon membalas pelukan Kakeknya.

“Bagaimana perjalananmu? Menyenangkan?” tanya Kakek Wu, lantas melepas pelukannya.

“Menyenangkan, Kek,” jawab Joonmyeon bohong, sambil memaksakan sebuah senyuman. Bagaimana mungkin perjalanannya menyenangkan ketika jiwanya masih tertinggal di Seoul?

“Ah, selamat datang di Vancouver, Tuan Muda,” sapa seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas yang rapi sambil membungkuk hormat pada Joonmyeon.

“Terima kasih, Paman Wang,” balas Joonmyeon pada pria paruh baya yang merupakan orang kepercayaan Kakeknya.

“Nah, ayo kita segera ke rumah. Ada banyak makanan yang Kakek siapkan untukmu,” ucap Kakek Wu.

Joonmyeon tersenyum lebar. “Kakek menyiapkannya seorang diri? Wah, aku terkesan,” ucap Joonmyeon setengah mencibir Kakeknya.

Kakek Wu tertawa pelan. “Tentu saja bukan. Sudahlah, ayo kita segera pulang,” ajak Kakek Wu lagi.

“Baiklah, Ayo, Kek,” balas Joonmyeon. Dalam hati, ia berharap, “Semoga Sooyoung tidak lagi mengganggu pikiranku.”

.

From : Wu Yifan

Bagaimana? Apakah kau sudah bertemu dengan Sooyoung? Apa yang dikatakannya padamu?

Joonmyeon baru saja menyalakan ponselnya, ketika ia sudah berada di dalam kamarnya. Dan ia langsung melihat beberapa pesan yang masuk ke ponselnya. Pesan Yifan adalah pesan pertama yang dibacanya. Pertanyaan Yifan cukup mengingatkannya pada Sooyoung, padahal selama menikmati makan bersama sang Kakek tadi, ia sudah berhasil melupakan Sooyoung.

Joonmyeon menarik nafas dalam-dalam dan mulai mengetikkan pesan balasan untuk Yifan.

To : Wu Yifan

Terima kasih sudah memberitahuku, Yifan. Ya, aku memang melihatnya. Tapi, kami tidak sempat berbincang. Pesawatku harus segera tinggal landas.

Joonmyeon menekan tombol ‘Sent’ pada layar ponselnya.

Message sent!

Joonmyeon mendesah pelan. Kakinya berjalan malas ke arah jendela kamarnya. Ia menarik sebuah kursi kayu di dekat jendela dan terduduk di atasnya. Tangannya menyangga dagunya dan menatap ke arah langit cerah Vancouver.

Memori di otaknya mulai memutar kenangan demi kenangannya ketika ia bertemu dengan Sooyoung seperti sebuah slideshow.

Ketika Joonmyeon harus berbagi meja dengan Sooyoung di sebuah kedai dorayaki di tepi jalan.

Ketika Joonmyeon bertemu dengan Sooyoung di dalam kereta maglev, dalam perjalanannya menuju kantor.

Ketika Joonmyeon bertemu dengan Sooyoung di toko keluarganya.

Dan ketika Joonmyeon meninggalkan Sooyoung di bandara.

Seluruh kenangan itu terekam jelas di ingatan Joonmyeon. Setiap detail perbincangan mereka, ekspresi yang ditunjukkan Sooyoung, dan perasaan yang bersemai di dalam dadanya.

Tangan Joonmyeon bergerak menyentuh bagian dada kirinya, merasakan denyut jantungnya yang mulai tak beraturan ketika otaknya memikirkan sosok Sooyoung. “Apakah ini yang dinamakan cinta? Apakah aku sedang jatuh cinta?” gumam Joonmyeon bingung.

Selama ini, Joonmyeon belum pernah merasakan hal semacam ini. Joonmyeon bahkan tak habis pikir ketika ia kekeuh mencari informasi tentang Sooyoung dari teman-temannya. Ia juga tak menduga bahwa dialah yang mengusulkan nama Choi Sooyoung sebagai desainer untuk baju pengantin Yifan dan Yuri. Bahkan, ia juga sempat menghubungi Sooyoung dengan ponsel Yifan, namun ia tak memiliki cukup keberanian untuk memperkenalkan dirinya sendiri pada Sooyoung.

Oh, menyedihkan.

Joonmyeon merutuki semua sikapnya selama ini. Bukankah sudah jelas bahwa Joonmyeon berusaha mencari cara untuk mendekati Sooyoung? Apakah debaran jatungnya selama ini belum cukup menjelaskan bahwa ia sedang jatuh cinta pada gadis bermarga Choi itu?

Joonmyeon mendongakkan kepalanya sekali lagi, menatap ke langit biru. “Tuhan, kumohon,” Joonmyeon menarik nafas dalam-dalam, “kumohon, sampaikan cintaku ini pada Sooyoung. Biarkan dia mengetahui bahwa aku mencintainya.”

Ya. Sepertinya, Kim Joonmyeon benar-benat telah jatuh cinta pada Choi Sooyoung.

.

Wu Group merupakan sebuah perusahaan besar asal China yang bergerak di bidang perdagangan dan telekomunikasi. Wu Group dibagi lagi menjadi berbagai perusahaan yang lebih fokus untuk mengurusi bidang-bidang mereka masing-masing. Wu Group didirikan oleh dinasti keluarga Wu.

Kim Joonmyeon merupakan salah satu keturunan keluarga Wu. Namun, karena ibunya yang merupakan keturunan keluarga Wu itu menikah dengan seorang pria Korea, maka Joonmyeon tidak lagi tercatat sebagai anggota keluarga Wu, melainkan keluarga Kim, keluarga sang Ayah. Meski begitu, sang Kakek, masih menganggap Joonmyeon sebagai salah satu anggota keluarga. Bahkan, Joonmyeon adalah cucu kesayangan Kakek Wu. Kakek Wu juga berencana untuk mewariskan sebagian besar harta kekayaannya kepada Joonmyeon. Sayangnya, Joonmyeon menolaknya, karena ia tak suka hidup dengan bergelimangan harta. Joonmyeon juga menolak ketika ditawari untuk bergabung dengan salah satu perusahaan Wu Group. Ia lebih tertarik untuk menjadi arsitek. Namun, sosoknya juga cukup dikenal di kalangan para pekerja Wu Group karena ia sering melakukan kunjungan-kunjungan informal dan membuat sosoknya semakin dikenal.

“Apa yang kau lamunkan, Joonmyeon?”

Suara Kakek Wu membuyarkan lamunan Joonmyeon. Joonmyeon langsung menoleh ke arah sang Kakek yang berdiri di sampingnya. “Aku tidak melamun, Kek. Hanya menikmati pemandangan ini,” elak Joonmyeon sambil menunjuk ke arah taman kecil milik Neneknya yang sudah meninggal.

Kakek Wu tersenyum kecil. “Kau memandang ke arah bunga-bunga, tapi pandanganmu hampa,” komentar Kakek Wu. Kakek Wu melangkah ke arah taman kecil tersebut.

Joonmyeon tertunduk malu karena sang Kakek justru tak mudah dibohongi. Ya, sudah 2 hari ia berada di Vancouver, namun pikirannya masih disibukkan oleh gadis bernama Sooyoung.

“Apa kau pernah mendengar pepatah ini? Jika kau mencintai seseorang, maka biarkan dia pergi,” celetuk Kakek Wu.

Joonmyeon menatap tak mengerti ke arah Kakeknya. Selain karena belum pernah mendengar pepatah tersebut, Joonmyeon juga tidak bisa mencerna maksud kalimat tersebut. Lagipula, jika kita mencintai seseorang, kenapa kita justru melepaskannya?

Kakek Wu membalik tubuhnya menghadap Joonmyeon dan tersenyum kecil. “Setiap manusia yang terlahir ke dunia ini memiliki takdir masing-masing yang telah ditetapkan oleh Tuhan, Joonmyeon. Harta, jabatan, jodoh, bahkan kematian,” ucap Kakek Wu. “Dan Tuhan telah menetapkan seorang gadis untukmu, yang mungkin sedang menantimu di ujung dunia.”

Tiba-tiba, Joonmyeon berpikir, “Mungkinkah gadis itu adalah Sooyoung?

“Dan kau tahu arti dari semua itu?” tanya Kakek Wu.

Joonmyeon mengerjap bingung.

Kakek Wu tersenyum bijak. “Meskipun kau terpisahkan ribuan mil dari jodohmu, suatu saat nanti, Tuhan pasti akan memberikan jalan bagi kalian untuk bertemu, bahkan dengan cara terkonyol sekalipun. Kau tahu, tak ada yang konyol di mata Tuhan,” jelas Kakek Wu. “Dan seandainya suatu hari nanti, kau bertemu dengan seorang gadis yang sangat kau cintai, namun suatu ketika, dia meminta pergi darimu,” Kakek Wu menarik nafas dalam, “lepaskanlah dia.”

Joonmyeon mengernyit tak mengerti.

“Karena jika gadis itu benar-benar jodohmu, dia pasti akan kembali padamu.”

.

Satu-satunya harta yang mungkin ingin diminta Joonmyeon dari Kakeknya adalah segala pemikiran arif sang Kakek. Sejak kecil, Joonmyeon telah dibuat terpukau dengan berbagai prinsip yang diajarkan Kakek Wu padanya. Semuanya selalu berdasarkan logika dan perasaan.

Termasuk tentang teori jodoh.

Setelah merenungi cukup lama tentang berbagai ucapan Kakek Wu, Joonmyeon pun mengerti. Ia sepakat pada pemikiran sang Kakek, bahwa sejauh apapun kita dipisahkan dari jodoh kita, Tuhan pasti akan tetap mempertemukan kita dan jodoh kita suatu hari nanti. Bahkan, walaupun kita telah melepaskan jodoh kita itu, selama dia adalah jodoh kita, kita pasti bisa dipertemukan kembali.

Lantas, bagaimana dengan nasib hubungannya dan Sooyoung?

“Tuan Muda pasti sedang jatuh cinta,” celetuk sebuah suara.

Joonmyeon bisa menduga bahwa suara itu adalah milik Paman Wang. Namun, ia tak menyangka bahwa Paman Wang akan berkomentar begitu. “Memangnya, kenapa, Paman?” tanya Joonmyeon, pura-pura tidak tahu.

Paman Wang tersenyum kecil. “Seluruh orang bisa melihat bahwa Anda sedang jatuh cinta, hanya dengan pandangan Anda, Tuan Muda,” jelas Paman Wang. “Belum lagi, saya sudah melihat tingkah Anda akhir-akhir ini yang seperti orang aneh,” timpalnya.

Ah, apakah raut jatuh cinta itu tercetak jelas di wajah Joonmyeon? Berarti, Kakek Wu juga sudah membaca raut wajah Joonmyeon? Oh, pantas saja, secara tiba-tiba, Kakek Wu membicarakan tentang jodoh dengan Joonmyeon.

“Benarkah, Paman?” tanya Joonmyeon seolah tak percaya. Sesungguhnya, ia tak bisa lari dari kenyataan itu, karena toh, ia sudah mengakui dalam hati bahwa ia telah jatuh cinta.

Paman Wang hanya tersenyum simpul. “Apakah Tuan Muda pernah mendengar istilah Serendipity?” tanya Paman Wang.

Joonmyeon mengangguk. “Eum, tentang sebuah ketidaksengajaan yang justru menghasilkan keberuntungan, bukan? Seperti Newton dan Archimedes?” tanya Joonmyeon memastikan.

“Ya, benar,” jawab Paman Wang. “Dan Tuhan memang sering menciptakan berbagai keadaan yang dianggap manusia sebagai serendipity, seperti pada kasus Newton dan Archimedes.”

“Contoh lainnya?”

“Jatuh cinta,” jawab Paman Wang cepat, seolah sudah bisa menebak pertanyaan yang meluncur dari mulut Joonmyeon.

Joonmyeon mengernyit heran.

“Seringkali, dua sejoli dipertemukan Tuhan dalam suatu ketidaksengajaan, seperti,” Paman Wang berhenti sejenak untuk berpikir, “menumpahkan secangkir kopi, ponsel yang tertukar, atau bertabrakan di sebuah toko buku.”

“Dan berbagi meja di sebuah kedai, mungkin?” sambung Joonmyeon.

“Mungkin saja. Semua hal bisa terjadi, Tuan Muda,” jawab Paman Wang.

Joonmyeon tersenyum dan membayangkan seandainya pertemuan tak terduganya dengan Sooyoung merupakan bentuk dari serendipity yang diciptakan Tuhan.

“Dan terkadang,” Paman Wang masih melanjutkan ceritanya, “kita tak menyadari sebuah keberuntungan di balik ketidaksengajaan itu. Manusia sering berpikir berulang-ulang, ‘Mungkinkah gadis yang menumpahkan kopi di kemejaku tadi adalah jodohku?’ atau ‘Mungkinkah pria yang berbagi meja denganku tadi adalah jodohku?’”

Dan Joonmyeon memang sedang memikirkan hal semacam itu akhir-akhir ini.

“Tapi, kenapa orang-orang tidak memasukkan pemikiran Newton atau Archimedes dalam kehidupan mereka?”

Joonmyeon menantikan kelanjutan ucapan Paman Wang.

“Kenapa orang-orang tidak mengambil kesempatan yang sedang melintas di hadapan mereka?”

.

Joonmyeon memang tidak pernah berencana untuk bertemu dengan Sooyoung di kedai dorayaki itu. Namun, Joonmyeon yakin betul, bahwa pertemuannya dengan Sooyoung merupakan rancangan Tuhan. Mungkin saja, itu adalah salah satu bentuk Serendipity.

Dan inilah yang Joonmyeon lakukan sekarang. Seperti apa yang dikatakan Paman Wang, mengambil kesempatan yang sedang melintas di depan mata.

Atas keajaiban Tuhan atau apa, Joonmyeon sudah kembali menginjakkan kakinya di Incheon International Airport. Dan hal pertama yang dilakukannya adalah segera menghubungi Yifan.

“Yifan, cepat hubungi Sooyoung dan tanyakan dimana dia berada!” perintah Joonmyeon sambil berlari keluar bandara.

“Hei, hei, Joonmyeon, apa yang terjadi padamu?” tanya Yifan panik, di ujung telepon.

“Jangan banyak tanya! Lakukan apa yang kuperintahkan dan segera beritahu aku dimana lokasinya!”

PIP!

Joonmyeon langsung memutuskan sambungannya secara sepihak. Kakinya terus bergerak, berlari hingga berhasil keluar dari bandara. Ia pun segera memberhentikan sebuah taksi.

“Ahjussi, tolong segera antarkan aku ke Seoul,” pinta Joonmyeon pada supir taksi.

“Ne, Tuan,” balas supir taksi tersebut.

“Kumohon agak cepat,” mohon Joonmyeon.

Sang supir taksi mengangguk paham dan mengemudikan taksinya dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Dan di tengah perjalanan, ponsel Joonmyeon kembali berbunyi, tanda sebuah pesan masuk.

From : Wu Yifan

Sooyoung sedang berada di Gereja St. Paulus, Seoul.

Hei, ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?

“Ahjussi, tolong antarkan aku ke Gereja St. Paulus di Seoul, ne?” kata Joonmyeon memberi tahu.

“Baik, Tuan.”

Joonmyeon pun kembali terpaku pada ponselnya.

To : Wu Yifan

No time to explain.

Message sent!

Dan dalam hati, Joonmyeon terus berucap, “Tunggu aku, Sooyoung-aa…”

.

Perasaan Joonmyeon ketika ia tiba di Gereja St. Paulus adalah terkejut dan penasaran. Gereja terlihat ramai dan dipenuhi oleh banyak hiasan-hiasan. Tak ingin merasa semakin penasaran, ia pun langsung melangkah masuk ke dalam gereja dan mencari sebuah ruangan.

Dilihatnya sebuah pintu yang terbuka cukup lebar. Joonmyeon berdiri di ambang pintu dan melihat ke dalam. Beberapa orang berdiri sambil menyaksikan ke arah depan. Dan betapa terkejutnya Joonmyeon ketika ia melihat Sooyoung berdiri di Altar.

“Jika ada yang keberatan dengan pernikahan ini, silakan…”

“SAYA KEBERATAN!” seru Joonmyeon memotong ucapan sang pendeta.

Seluruh pasang mata yang berada dalam gereja pun menoleh dan menatap heran ke arah Joonmyeon, termasuk Sooyoung.

“Joonmyeon!” seru Sooyoung kaget. Sooyoung langsung berlari dan menghampiri Joonmyeon di ambang pintu. “A-apa yang kau lakukan disini?” tanya Sooyoung nampak bingung.

Joonmyeon tersenyum lega. “Aku harus bertemu denganmu, Sooyoung. Aku harus mengatakan hal ini sebelum kau menikah dengan pria itu,” ucap Joonmyeon sedih.

Sooyoung mengernyit. “Menikah? Aku menikah dengan pria mana?” tanya Sooyoung bingung.

“Lho? Bukankah kau akan menikah? Kau berdiri di Altar,” jelas Joonmyeon.

Sooyoung tertawa geli. “Ini adalah pernikahan salah satu temanku dan aku diminta untuk menjadi pendampingnya,” jelas Sooyoung, di sela-sela tawanya.

“J-jadi?”

“Jadi, aku masih single dan siap menunggu siapapun pria yang bersedia menikahiku,” ucap Sooyoung, sambil mengembangkan sebuah senyuman.

“Ak-aku, aku bersedia menikahimu, Choi Sooyoung,” ucap Joonmyeon terbata, tak sanggup menahan kebahagiaan yang membuncah dalam dada.

Sooyoung langsung memeluk Joonmyeon. “Aku juga bersedia menikah denganmu,” balas Sooyoung.

Joonmyeon pun mengeratkan pelukannya pada tubuh Sooyoung.

“Hei, Anak Muda! Apa kau masih keberatan dengan pernikahan ini?”

Joonmyeon melepaskan pelukannya pada Sooyoung dan tersenyum canggung. “Maaf, ini hanyalah sebuah kesalah pahaman. Silakan melanjutkan acara ini,” ucap Joonmyeon.

Sang pendeta tersenyum kecil. “Baiklah, mari kita lanjutkan.”

Seluruh tamu undangan nampak lega dan ikut bahagia karena melihat pertunjukan dramatis antara Joonmyeon dan Sooyoung.

Sooyoung memberi kode pada Joonmyeon, bahwa ia harus kembali ke Altar.

Joonmyeon mengangguk sekilas dan tersenyum ke arah Sooyoung.

Sooyoung pun berlari kecil menuju Altar.

Sang pendeta berbisik pelan pada Sooyoung, “Apakah kau berniat menikahi kekasihmu sekarang juga?”

Sooyoung pun hanya tertunduk malu.

.

Apakah kisah Joonmyeon dan Sooyoung berakhir sampai disini?

Tidak, tentu saja tidak. Semua kisah panjang mereka selama ini hanyalah awal dari segalanya, sebelum mereka memasuki babak baru dalam hidup mereka bersama.

Ya, bersama.

Karena tak ada lagi kata Joonmyeon. Tak ada lagi kata Sooyoung.

Yang ada hanyalah kata ‘kita.’

FIN

Endingnya epic >,< Wkwkwkwk

Kalau penasaran sama kehidupan Suho-Sooyoung selanjutnya, silakan menebak-nebak sendirilah /digetok/ Intinya, mereka sudah bertemu lagi, hohoho😀

Oiya, pemikiran-pemikiran di atas aku ambil dan rangkum jadi satu dari banyak buku. Serendipity juga aku dapat dari buku Fisikanya ayahku. Terus, aku juga searching di google, kalau nggak salah, ada juga film judulnya Serendipity, tapi aku masih belum tahu jalan ceritanya.

Nah, gimana? Udah puas atau belum, nih? Puas nggak puas, aku nggak janji lagi buat bikinin After Story, soalnya keinget banyak tanggungan yang masih numpuk.

Dan gegara fic ini, aku jadi makin jatuh cinta sama Abang Suho. Duh, cowok itu ganteng banget sih :3 /dirajam Yunho/ Oke, oke, aku ngaku kalau aku mulai sedikit berpaling dari Yunho ke Suho. Kayaknya, aku emang sering suka sama cowok dengan huruf belakang ‘ho’, kayak Yunho, Minho, Suho, Boboho /eh/

Udahlah, aku mau cabut lagi dan ngelanjutin fic-ku yang Another Paradise. Dan yippie, ketemu lagi sama Abang Suho dan Teteh Sooyoung :3

Well, don’t forget to leave your comments😀

Love,

Jung Minrin

28 responses to “[Oneshot] Serendipity

  1. Suho dapat pengilhaman dari kakek Wu + paman Wang kk
    Ikut bahagia liat Suho-Sooyoung ketemu lagi:3
    FFnya dikemas secara apik , terus nyangkutin masalah serendipity , bagus banget !😀
    AS nya thor😉

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s