[Oneshot] Wedding Dress

Wedding Dress

Wedding Dress

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

SNSD Sooyoung || DBSK Changmin || Super Junior Siwon

EXO-M Kris || EXO-K Suho || SNSD Yuri

Length : Oneshot || Rating : PG || Genre : Romance, Family, Friendship, Fluff

Author Note :

Finally!!! After a long time, I publish the sequel of Phone Number. The last sequel is longer than other stories before. And here, the secret about the mysterious boy will be revealed. Who will be the mysterious boy, hm? Can you guess it?😄

Well, for you who haven’t read the stories before, I suggest you the other stories, so you won’t be confused🙂

Sequel :

Traffic Jam || Express || Phone Number

The rest, happy reading to you all ^o^

.

Recommended Song : Stand by U – DB5K

where are you now?
who are you with?
what kind of clothes are you wearing?
what are you doing and laughing at?
I am right here
even now, I am right here
and I still believe that we will see each other again
this feeling won’t change
you’re the only one I’m thinking of

.

“Ada apa denganmu, Soo?” tanya Changmin, menginterupsi kegiatan Sooyoung yang sedang menikmati tumpukan awan putih yang dilewatinya―atau lebih tepatnya sedang melamun.

Sooyoung menoleh ke arah Changmin dan menatapnya dengan jengkel. “Waeyo?” tanyanya kesal sambil menautkan kedua alisnya.

Changmin mengalihkan pandangannya dari Sooyoung dan melihat ke arah majalah bisnis di pangkuannya. “Kau melamun saja dari tadi,” celetuknya.

“Aku tidak melamun! Aku hanya sedang menikmati awan!” bentak Sooyoung keras. Suara tingginya itu nyaris membuat seluruh penumpan pesawat tujuan Korea Selatan itu menoleh ke arah tempat duduk Sooyoung dan melemparkan tatapan penuh tanya.

Changmin nampak salah tingkah atas sikap adiknya yang menggangu penumpang lain. Ia pun tersenyum kecil sambil menggumamkan kata “sorry” kepada seluruh penumpang yang terjangkau oleh pandangan matanya. “Aish, Choi Sooyoung. Pelankan suaramu itu,” perintah Changmin dengan berbisik.

Sooyoung kembali menatap ke arah jendela pesawat di sampingnya dan kedua tangannya menutup telinganya. “Masa bodoh. Memangnya, aku peduli?” gumamnya berpura-pura tidak bersalah.

Changmin mendesah panjang. “Arra, arra, terserah kau saja, Choi Sooyoung,” gumam Changmin menyerah. “Oh, biar kutebak, kau pasti sedang galau karena memikirkan pria yang kau temui di to―auw!” Changmin merintih kesakitan ketika Sooyoung mencubit lengannya. “Yak, apa yang kau lakukan, Choi Sooyoung?!” geram Changmin.

“Tidak bisakah kau menjaga mulutmu yang semakin mirip dengan ember bocor itu?” desis Sooyoung jengkel.

“Mwo?! Ember bocor?” tanya Changmin tak percaya. Kedua bambi eyes-nya membelalak lebar.

Sooyoung menghela nafas panjang. “Seharusnya, selama ini, aku ikut tinggal dengan Siwon Oppa saja, bukan denganmu,” gerutu Sooyoung. “Kurasa, kau mirip dengan evil maknae Tohoshinki itu,” timpalnya.

“E-eh? Tohoshinki?” Changmin mencoba mengingat-ingat. “Ah, si Max itu, kan? Wah, wah, kami mirip, ya? Hm, kami memang sama-sama tampan dan tinggi. Eh, tapi aku jauh lebih tampan dari si Max itu,” racau Changmin tak jelas.

Sooyoung menaikkan sebelah alisnya, tanda tak percaya. Ia tak menyangka bahwa kakaknya ini memiliki tingkat percaya diri yang bahkan lebih tinggi dibanding seorang aktor. “Ish, dasar!” gerutu Sooyoung jengkel. Kini, ia mengambil sebuah majalah yang disediakan oleh maskapai penerbangan dan membacanya.

“Hei, hei, jangan bilang, kalau kau tertarik pada si Max itu, ya?” goda Changmin masih membahas tentang sosok Max Tohoshinki.

Sooyoung membolak-balik majalah yang dibacanya dengan malas. “Tidak, aku lebih tertarik pada U-Know. Dia lebih tampan dan bijaksana daripada Max atau kau, Oppa,” sindir Sooyoung ketus.

“Ya, ya, kau membandingkanku dengan U-Know itu? Kurasa, U-Know itu menggelikan. Dia memang seorang leader, tapi penampilannya itu bla, bla, bla…”

Sooyoung tak lagi mendengarkan apa yang dicelotehkan oleh Changmin. Karena meski ia masih terjaga, dengan pendengaran yang masih berfungsi dengan baik, otaknya justru melayang-layang, memikirkan seseorang yang mengganggunya akhir-akhir ini.

The mysterious boy.

The Wu boy.

.

“Siwon Oppa!” Sooyoung langsung berlari kecil dan menghambur memeluk tubuh Oppa-nya, Choi Siwon yang sudah menunggu kehadirannya dengan Changmin di Arrival Gate Incheon International Airport. “Bogoshippo,” gumamnya sambil mengusapkan kepalanya di dada bidang Siwon. Suatu kebiasaan yang dilakukan Sooyoung untuk melepas kerinduan dengan orang yang dicintai. Dengan pelukan macam itu, Sooyoung selalu berhasil mencium bau khas dari orang yang dicintainya dan merekamnya dalam ingatannya.

“Aku juga merindukanmu, Choi Sooyoung,” bisik Siwon pada dongsaeng perempuan satu-satunya.

“Ya, ya, berhenti bersikap seperti Teletubbies!” sindir Changmin kesal. “Kalian tak ingat kalau ada aku disini?”

Siwon pun melepaskan pelukannya pada tubuh Sooyoung, lantas menatap Changmin. Ia tertawa pelan, ketika melihat Changmn yang tengah menekuk wajahnya dengan kesal. “Dasar! Kurasa, kau adalah yang termuda diantara kita semua. Sifat kekanakanmu itu tak pernah berubah, ya?” ucap Siwon.

Sooyoung pun tertawa kecil melihat tingkah kedua Oppa-nya.

“Sudah, sudah, berhenti meledekku!” perintah Changmin jengkel. “Ayo cepat pulang! Aku sudah lapar dan ingin mencicipi masakan Umma,” ajak Changmin tergesa.

“Arra, arra,” balas Siwon setuju. “Ayo kita pulang!” ajak Siwon.

“Ne,” balas Sooyoung, lantas menarik koper yang dibawanya. “Oiya, Oppa, bisakah kita mampir sebentar untuk membeli dorayaki?” tanya Sooyoung pada Siwon.

“Eh? Dorayaki?” gumam Siwon. “Ah, baiklah. Kita akan mampir ke toko untuk membeli dorayaki.”

Sooyoung tersenyum kecil.

Keluarga. Dorayaki. Canda tawa.

Kombinasi sempurna untuk mengusir rasa gundah dalam dada.

Yah, semoga saja~

.

“Sooyoung-aa! Changmin-aa!” panggil Choi―atau Choi―Daehee, Umma dari Siwon, Changmin dan Sooyoung. Wanita paruh baya itu berjalan cepat ke arah anak-anaknya yang sudah berdiri di ambang pintu rumah besar keluarga Choi. Ia pun langsung membawa Sooyoung dan Changmin dalam rengkuhannya. “Aigo, berapa lama, Umma tak bertemu kalian?” gumam Umma Choi.

“Ummah, sessakh,” bisik Changmin.

Umma Choi pun langsung melepaskan pelukannya pada kedua anaknya. “Ah, mian, mian,” balas Umma Choi.

Siwon yang berdiri di balik Sooyoung dan Changmin hanya tersenyum kecil melihat reuni kecil-kecilan di antara ibu-anak itu.

“Jadi, bagaimana perjalanan kalian? Menyenangkan?” tanya Umma Choi pada Sooyoung dan Changmin.

“Sangat menye―”

“Yang jelas, kami sudah tiba di rumah dengan selamat kan, Umma?” potong Changmin ketus. “Oh, ayolah, Umma. Jangan menahan kami terlalu lama di pintu. Apakah Umma tak ingat kalau anak Umma yang satu ini punya perut karet yang butuh diisi?” tanya Changmin manja.

Umma Choi tertawa pelan, sambil mengibaskan tangannya. “Arra, arra, ayo segera masuk!” perintah Umma Choi, lantas menarik lengan Changmin masuk ke dalam rumah megah mereka.

Siwon dan Sooyoung pun berjalan berdampingan mengikuti langkah Umma Choi dan Changmin.

“Nah, Umma sudah memasak banyak untuk kalian. Sebenarnya, Umma berniat kita makan bersama dengan Appa. Tapi,” Umma Choi melirik ke arah Changmin yang menunjukkan puppy eyes-nya. “sepertinya bocah perut karet ini sudah tidak sabar untuk segera makan. Jadi, kita makan saja sekarang!” ajak Umma Choi dengan penuh semangat.

Changmin mendesah lega, karena ia bisa segera menikmati masakan Umma-nya.

“Umma, kurasa, aku akan menunggu Appa saja,” celetuk Sooyoung.

“Oh?”

“Aku masih belum lapar. Lagipula, kami sempat membeli dorayaki tadi. Jadi, aku bisa memakan dorayakiku sebagai ganjalan,” jelas Sooyoung.

“Ah, arra,” ucap Umma Choi setuju.

“Nah Oppa, bisakah aku minta dorayakiku?”

.

Sooyoung menikmati dorayaki yang dibelikan Siwon untuknya di taman belakang rumah. Matanya menatap ke arah serumpun bunga matahari. Tahun lalu, ketika Sooyoung mengunjungi rumahnya dengan Changmin, bunga matahari itu belum ada disana. Umma-nya pasti baru menanamnya. Umma-nya itu memang menyukai bunga dan selalu menanam bunga-bunga di taman belakang.

Sooyoung menggigit dorayaki yang disuapkan ke mulutnya. Cita rasa dari dorayaki itu mirip sekali dengan dorayaki asli Jepan. Mirip dengan dorayaki yang dinikmatinya di pinggir jalan.

Ah, kejadian itu! Sialnya, dorayaki itu justru mengingatkannya pada kejadian pertama kali dimana ia bertemu dengan sang pria misterius yang membuatnya terpikat. Dan seolah ada benang merah tipis yang menghubungkan keduanya, Sooyoung dipertemukan kembali dengan pria itu di kereta maglev keesokan harinya. Sayangnya, Sooyoung tidak sempat menanyakan sedikit informasi tentang pria itu. Sooyoung justru mendapat kesialan dengan jatuh dan retaknya ponselnya. Namun, ponselnya yang retak itu justru membawanya untuk bertemu lagi dengan sang pujaan hati di sebuah toko handphone. Dan dari toko tersebut, Sooyoung mulai menemukan secercah harapan. Sooyoung berhasil mengetahui sedikit informasi tentang pria itu. Awalnya, pria itu mengaku sebagai seorang manager―atau semacam pengawas―di toko tersebut. Namun, berdasar informasi yang Sooyoung dapatkan dari Keiko―shop assistant yang melayaninya waktu itu―pria itu adalah putra dari pemilik toko yang sering berkunjung ke toko cabang tersebut. Hanya saja, pria itu memang tidak tertarik dalam dunia bisnis. Dan Sooyoung menemukan informasi yang cukup berharga, yakni tentang marga keluarga pria itu, yakni Wu. Keiko juga mengatakan bahwa keluarga Wu adalah keluarga dari China. Setahu Sooyoung, siapapun orang China dengan marga yang sama, pasti masih memiliki hubungan kekeluargaan. Jadi, Sooyoung tidak akan sulit menemukannya.

Sayangnya, takdir seolah masih berusaha mempermainkan Sooyoung. Takdir tak membiarkan Sooyoung menemukan pria itu kembali dengan mudah. Buktinya, Sooyoung sudah berulang kali kembali ke toko handphone tersebut untuk mendapat kesempatan bertemu dengan pujaan hatinya, namun tak ada satu pun kesempatan yang didapatnya. Pria itu seolah ditelan bumi. Sooyoung juga berusaha mengerok informasi yang lebih jauh dari Keiko. Dan beruntungnya, Keiko bersedia membantu Sooyoung (hanya karena pemikirannya yang menganggap bahwa Sooyoung nampak serasi dengan pria itu). Hanya saja, Keiko adalah pegawai baru yang belum terlalu mengenal pria itu atau seluk beluk keluarga Wu. Pegawai senior yang sudah mengenal pria itu bisa dipastikan tak akan membagi informasi pada Sooyoung yang notabene adalah orang asing.

Sooyoung menghela nafas panjang. “Ah, mungkin, aku memang tak jodoh dengannya,” batinnya dalam hati.

“Soo?”

Sooyoung baru tersadar bahwa Siwon sudah duduk di sampingnya. “Eh! Sejak kapan, Oppa disini?” tanya Sooyoung heran.

Siwon tersenyum kecil. “Mwolla. Mungkin, sejak kau menghela nafas untuk pertama kalinya 5 menit yang lalu.”

“Eh?”

Siwon tertawa pelan. “Apa yang terjadi padamu, Soo? Jarang sekali, Oppa melihatmu melamun seperti ini,” gumam Siwon tak percaya.

Sooyoung mengerucutkan bibirnya. “Memangnya, akhir-akhir ini, Oppa sering melihatku?” cibirnya.

Siwon kembali tertawa. “Bukan begitu, Soo. Hanya saja, melamun sama sekali bukan tipemu,” jelas Siwon.

Sooyoung tertawa canggung. “Ah, Oppa hanya lama tidak bertemu denganku saja. Akhir-akhir ini, aku sering melamun untuk mencari inspirasi,” ucap Sooyoung bohong.

“Oh, begitukah?” Siwon menatap ke arah manik mata Sooyoung. “Sepertinya, matamu mengatakan yang sebaliknya, Choi Sooyoung,” desisnya tajam.

Sooyoung menghela nafas panjang sambil menundukkan kepalanya. Sooyoung dan Siwon memang sudah berpisah sejak 4 tahun yang lalu. Namun, Sooyoung tahu betul bahwa insting Siwon sebagai seorang kakak tak pernah hilang. Siwon seolah mengenal diri Sooyoung lebih baik dibanding Sooyoung sendiri. Meskipun Siwon dan Sooyoung tidaklah sedekat hubungan Changmin dan Sooyoung, namun kenyataan bahwa Siwon dan Sooyoung adalah saudara kandung tak terelakkan.

Ya, Siwon dan Sooyoung adalah saudara kandung, sementara Changmin adalah saudara tiri kakak-beradik Choi itu. Umma Siwon dan Sooyoung meninggal sejak melahirkan Sooyoung. 3 tahun kemudian, Appa Choi menikahi Lee Daehee yang merupakan seorang janda beranak satu. Meskipun begitu, hubungan keluarga Choi ini sangat harmonis.

“Jadi, maukah kau berbagi dengan Oppa-mu ini?” tawar Siwon.

Sooyoung menatap Siwon ragu. Ia nampak sedang menimbang-nimbang, apakah ia harus menceritakan masalahnya pada Oppa-nya atau tidak. Tapi, kalaupun ia berusaha kabur dari desakan Oppa-nya, Oppa-nya itu pasti tetap merasa penasaran. “Huh, baiklah, aku akan bercerita. Tapi Oppa harus berjanji untuk tidak menceritakan hal ini pada Changmin Oppa,” mohon Sooyoung.

Siwon tersenyum kecil, lantas melakukan gaya menutup resleting di depan mulutnya. “As your wish, Princess.”

Sooyoung tersenyum geli, mendengar Siwon yang memanggilnya ‘Princess’. Princess memang panggilan Siwon untuknya ketika mereka masih kecil dulu. “Ini tentang seorang pria,” jelas Sooyoung malu-malu.

“Auw! Pria? Kau sedang jatuh cinta, Sooyoungie?” tanya Siwon penuh takjub.

Sooyoung mendengus kesal. “Ah, seharusnya aku sadar bahwa kau tak jauh berbeda dari si perut karet itu, Oppa. Terlalu banyak berkomentar,” gerutu Sooyoung kesal. Ia ingat dengan reaksi Changmin ketika ia menceritakan hal ini padanya. Dan kehebohan Changmin-lah yang membuat Sooyoung enggan melanjutkan ceritanya.

“Tapi kau tidak melarang Oppa untuk berkomentar,” protes Siwon.

Lagi-lagi, Sooyoung mendengus pelan. “Arra, arra. Kalau begitu, jangan berkomentar hingga aku menyelesaikan ceritaku, arrachi?”

Siwon mengangguk paham, sambil terkikik geli.

Sooyoung menarik nafas dalam-dalam dan kembali memulai ceritanya. “Suatu hari, ketika aku terjebak kemacetan, aku bertemu dengan seorang pria yang menarik. Pria itu tampan, bertubuh bagus―” Sooyoung melirik ke arah Siwon sekilas ”―meski tubuhnya tidak setinggi Siwon Oppa atau Changmin Oppa. Tapi yang jelas, dia sangatlah menarik,” jelas Sooyoung.

Siwon mengerjap takjub mendengar penjelasan Sooyoung. Ia berusaha menahan mulutnya untuk tidak berkomentar dan mendengarkan penjelasan Sooyoung dengan seksama.

“Aku sempat berbincang sebentar dengannya, sambil menikmati dorayaki di pinggir jalan. Lewat pembicaraan singkat itu, aku agak tertarik dengan kepribadiannya yang nampak berwibawa dan penuh ketenangan,” lanjut Sooyoung. “Aku pikir, aku tidak akan bertemu lagi dengannya. Tapi keesokan harinya, aku bertemu lagi dengan pria itu di kereta maglev.”

Lagi-lagi, Siwon nampak terkejut, karena mengetahui kenyataan bahwa Sooyoung pun naik kereta maglev.

“Aku juga sempat berbincang dengannya. Aku menjadi mengerti tentang pemikiran pria itu. Pemikirannya sangat diplomatis dan aku menyukainya. Saat itu, aku merasa bahwa aku benar-benar tertarik padanya. Tapi, ketika aku hendak menanyakan namanya, dia justru sudah tergesa pergi dan akhirnya,” Sooyoung menghela nafas, “ponselku justru terjatuh dan retak.”

“Oh, jadi inikah alasan kau mengganti nomor ponselmu?” gumam Siwon.

Sooyoung mengabaikan komentar Siwon dan kembali melanjutkan ceritanya. “Malam harinya, Changmin Oppa langsung mengantarkanku untuk pergi ke toko handphone. Dan kau tahu Oppa, lagi-lagi, aku bertemu dengannya,” ucap Sooyoung penuh semangat. “Aku baru tahu, kalau pria itu adalah putra dari pemilik toko tersebut. Keluarganya juga terkenal dan kaya raya,” timpal Sooyoung.

“Wah, berarti kau punya kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh, bukan?” tebak Siwon.

Sooyoung menghela nafas panjang. “Sayangnya tidak,” ucapnya sambil menggeleng lemah. “Aku sudah berusaha mengorek informasi dari pegawai toko tersebut, tapi tidak membuahkan hasil yang baik, Oppa. Aku juga berulang kali mengunjungi toko itu, mengunjungi penjual dorayaki di tepi jalan, atau naik kereta maglev, tapi tak ada yang membuahkan hasil, Oppa,” jelas Sooyoung.

Siwon menatap iba kepada dongsaengnya itu. “Oh, apakah Oppa bisa membantumu untuk menemukan kembali pria itu?” tanyanya sambil mengusap lembut puncak kepala Sooyoung.

Sooyoung menoleh dan menatap Siwon lekat-lekat. Ia terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu. “Ah, iya. Kau pasti bisa membantuku mencari informasi tentangnya hanya dengan memberi tahukan nama keluarganya, kan? Kau bisa menyelidikinya kan, Oppa?”

Siwon bergumam pelan, “Hmm.”

“Baiklah, aku harap Oppa benar-benar bisa membantuku.”

Siwon mendengar ucapan Sooyoung dengan seksama.

“Nama keluarganya adalah Wu.”

.

Bomi oneun sori teu-llimyeon
Ggoti pin gil ttara keo-reoyo
Bi naerineun yeoreumi omyeon
Muji-gae-man bomyeo keo-reoyo

Ponsel Sooyoung berdering, tanda sebuah panggilan masuk. Ia pun segera meraih ponselnya yang tergeletak di meja nakas di dekat ranjangnya. Ia pun melihat nama yang tertera di layar ponsel. Namun, Sooyoung hanya menemukan deretan angka tak dikenal yang menandakan bahwa sang penelepon memang tak terdaftar di kontak ponselnya. Ia pun menyentuh tanda “Answer” pada ponselnya dengan ragu. “Yoboseyo?”

“Ah, yoboseyo. Benarkah ini nomor Nona Choi Sooyoung, sang desainer itu?” tanya sang penelepon dengan suaranya yang lembut dan menenangkan.

Seketika, suara tersebut mengingatkan Sooyoung pada pria misterius pujaan hatinya itu. “N-ne. Ini memang saya,” balas Sooyoung gugup. “Maaf, ada keperluan apa Anda menghubungi saya?” tanya Sooyoung sopan.

“Begini, saya hendak memesan baju pengantin untuk seorang pria dan wanita,” jelas pria itu.

DEG!

Sooyoung merasakan firasat buruk. Bagaimana jika sang penelepon benar-benar pria yang dikaguminya itu? Dan kini, Sooyoung justru dihadapkan pada kenyataan bahwa pria itu akan segera menikah? “A-ah, n-ne,” balas Sooyoung gugup.

“Jadi, bisakah kita membahas hal ini bersama?” tanya pria itu.

“T-tentu saja. Tapi, saya sedang berada di Seoul, Tuan,” jelas Sooyoung.

“Ah, kebetulan sekali. Kami memang sedang berada di Seoul,” celetuk pria itu dengan penuh semangat. “Jadi, kita bisa bertemu dengan lebih cepat, bukan?” tanyanya memastikan.

“N-ne,” balas Sooyoung.

“Hm, baiklah, saya akan memberikan kabar lebih lanjut, Nona Choi,” jelas pria itu.

“Maaf, tapi ini atas nama siapa?” tanya Sooyoung memastikan. ‘Semoga pria ini bukan si Wu itu,’ harapnya dalam hati.

“Wu Yifan.”

.

Sooyoung berguling-guling tak jelas diatas kasur empuknya. Sesekali, ia berhenti di tepi ranjang, lantas melirik ke arah ponsel yang terletak di atas meja nakas, mengecek bila ada pesan atau panggilan masuk (padahal, kalaupun ada pesan atau panggilan, bukankah Sooyoung bisa mengetahuinya dari nada dering ponselnya? -_-). Sooyoung benar-benar masih penasaran dengan klien barunya yang mengaku bernama Wu Yifan.

Seperti yang menjadi pemikiran Sooyoung sebelumnya, seharusnya pria bernama Wu Yifan itu masih berkerabat dengan keluarga Wu atau pria misterius itu. Suara pria di telepon itu juga mirip dengan sang pria misterius. Begitu lembut dan menenangkan.

Mungkinkah mereka adalah pria yang sama?

Sooyoung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia berharap, bahwa Wu Yifan itu bukanlah pria yang disukainya.

TOK! TOK! TOK!

“Sooyoung-aa! Kau di dalam?” panggil seseorang dari balik pintu kamar Sooyoung.

Sooyoung langsung mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dan memperbaiki penampilannya. “Ne!” sahut Sooyoung.

“Oppa masuk, ne?” ijin seseorang itu―yang suaranya mirip dengan milik Siwon.

“Ne,” jawab Sooyoung singkat.

CKLEK!

Pintu kamar Sooyoung pun terbuka dan tubuh tinggi Siwon terlihat berdiri di balik pintu. Siwon pun segera masuk ke dalam kamar sang adik dan menghampiri Sooyoung di tepi ranjang. “Nah, Soo-ah, Oppa sudah menemukan informasi tentang pria Wu itu,” jelas Siwon.

Mata Sooyoung membulat. “Ne? Jeongmal, Oppa?” tanyanya tak percaya.

Siwon tertawa kecil menyaksikan ekspresi berlebihan Sooyoung. Tangannya merogoh ke dalam sebuah amplop coklat yang dibawanya. “Ini adalah data yang Oppa dapatkan tentang keluarga Wu,” jelas Siwon sambil menyodorkan tumpukan kertas-kertas kepada Sooyoung.

Sooyoung masih terpana dengan apa yang dilakukan Siwon demi dirinya. Ia menerima tumpukan kertas tersebut dengan tatapan berbinar.

“Kau tahu Soo, sesungguhnya pekerjaan semacam ini sangat melanggar hukum. Oppa tak tahu apa yang terjadi jika kepolisian sampai mengetahui hal ini. Apalagi, kalau Appa sampai mengetahuinya,” Siwon menghela nafas dengan dramatis, “Appa pasti langsung membunuhku.”

Sooyoung terkikik geli, lantas melirik ke arah Siwon. “Tapi Oppa rela melakukannya demi aku, kan?” goda Sooyoung.

“Tentu saja!” seru Siwon sambil menjentikkan jarinya.

Sooyoung tersenyum kecil. Matanya tertuju pada deretan huruf yang tertera di atas kertas-kertas di dalam genggamannya. “Jadi, informasi macam apa yang bisa kudapat, hm?” gumam Sooyoung.

Siwon menarik nafas dalam-dalam. Ia menegakkan tubuhnya. “Well, dari data yang kudapatkan tentang keluarga Wu, aku berhasil menemukan satu keturunan keluarga Wu yang bergerak di bidang perdagangan dan telekomunikasi,” jelas Siwon.

Sooyoung mendengarkan penjelasan Oppa-nya, sambil membaca sekilas keterangan yang didapatnya dari tumpukan kertas-kertas tersebut.

“Dan ya, kau benar, saat mengatakan bahwa keluarga Wu ini sangat kaya. Maksud Oppa, keluarga ini memang sangat kaya raya,” tegas Siwon.

Sooyoung mendongak dan menatap Siwon. Kedua matanya mengerjap karena tak menyangka hal yang didengan dari Siwon. “Benarkah?” ucapnya nyaris berbisik.

“Dan jika keluarga Wu yang kau maksud itu memang benar-benar keluarga Wu yang kutemukan ini, maka hanya ada satu kemungkinan nama pria yang kau cari,” ucap Siwon. “Karena berdasar perkiraan umur, hanya ada satu pria yang mungkin sebaya denganmu. Lagipula, kau tidak mungkin tertarik pada anak SMP, kan?” tebak Siwon.

Sooyoung menggeleng cepat. Kini, matanya hanya terfokus pada Siwon, menanti Siwon mengucapkan sebuah nama.

Siwon menarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Namanya Wu Yifan.”

“MWO?!”

.

Sooyoung menggoreskan pensil ke atas kertas putih kosong yang berada di atas meja ruang keluarga. Tangannya bergerak dengan malas. Mood-nya sedang sangat buruk, terutama setelah mendengar kenyataan dari Siwon bahwa satu-satunya pria bermarga Wu yang mungkin adalah pria yang disukainya bernama Wu Yifan. Dan Wu Yifan adalah klien-nya yang memesan sepasan baju pengantin.

Bukankah itu semua sudah cukup menjelaskan bahwa pria bernama Wu Yifan itu akan segera menikah? No longer single? Dan menutup kesempatan bagi Sooyoung untuk mendekati pria menarik itu?

Sooyoung menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Ia sudah melakukan hal itu berulang kali untuk menenangkan perasaannya. Sialnya, perasaan gundah itu tak mudah enyah dari hatinya.

Bomi oneun sori teu-llimyeon
Ggoti pin gil ttara keo-reoyo
Bi naerineun yeoreumi omyeon
Muji-gae-man bomyeo keo-reoyo

Dering ponsel Sooyoung mengalun. Sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Sooyoung menghela nafas dan melirik bosan ke arah ponselnya. Sejujurnya, ia sedang malas berurusan dengan siapapun, bahkan keluarganya. Bahkan, ia tidak terlalu menganggap kehadiran keluarganya. Ia juga mengabaikan perhatian Siwon yang terlalu berlebihan itu.

Pada layar ponselnya, Sooyoung hanya menemukan deretan angka asing. Sooyoung mengernyit heran. “Mungkinkah ini adalah salah satu pelanggannya?” Dering ponsel Sooyoung masih mengalun, sementara Sooyoung masih menimbang-nimbang untuk mengangkatnya. Bagaimanapun juga, Sooyoung adalah seorang desainer yang harus berhubungan dengan banyak orang. Jadi, sikap kekanakannya itu tak boleh berdampak pada pelanggannya.

Dengan malas, Sooyoung meraih ponselnya dan segera menjawab panggilan tersebut. “Yoboseyo?”

“Yoboseyo. Benarkah ini Nona Choi Sooyoung?” tanya sebuah suara di ujung telepon―suara seorang wanita.

“Ne, ini saya sendiri, Sooyoung,” jawab Sooyoung berusaha terdengar riang.

“Ah, Sooyoung-ssi, Kwon Yuri imnida,” ucap wanita itu.

“Ne? Hm, ada keperluan apa Anda dengan saya, Yuri-ssi?” balas Sooyoung sopan.

“Hm, begini, kau pasti sudah ditelepon oleh kekasihku, Wu Yifan, kan?” tanya wanita bernama Yuri itu memastikan.

Sooyoung tercekat. “W-wu Yifan? J-jadi, wanita ini adalah k-kekasihnya?” batin Sooyoung tak percaya. “Ah, n-ne,” balasnya gugup.

“Nah, berhubung kekasihku sedang tak bisa memperbincangkan tentang baju pengantin yang kami pesan, jadi aku yang akan bertemu denganmu, Sooyoung-ssi. Bisakah?” tanya Yuri.

Sooyoung terdiam. Otaknya terasa begitu lambat dalam berpikir jika berhubungan dengan pria bernama Wu Yifan itu. “B-bisa,” jawab Sooyoung.

“Ah, dan kudengar, kau berada di Seoul, bukan?”

“N-ne.”

“Baiklah, kalau begitu, bagaimana kalau besok, kita bertemu di Athena Cafe jam 8 pagi?” tawar Yuri.

Sooyoung kembali terdiam dan berpikir sejenak. “Haruskah aku menemuinya besok? Atau aku berpura-pura sedang sakit atau apa?” pikir Sooyoung bingung. Namun, sebagai seseorang yang sudah dewasa, tak seharusnya ia selalu lari dari kenyataan. Wu Yifan adalah milik Kwon Yuri dan tidak seharusnya Sooyoung masih mengharapkan cinta dari pria itu. “Arrasseo, Yuri-ssi.”

“Baiklah, sampai ketemu, Sooyoung-ssi. Annyeong~”

“Annyeong.” Sooyoung langsung menyandarkan punggungnya pada sofa. Tangannya menyentuh dada kirinya. “Ah, kenapa rasanya sakit sekali, ya?”

.

Sooyoung mengetukkan jemarinya ke atas meja. Matanya menyapu pandangan ke sekeliling Athena Cafe, mencari-cari sosok yang mungkin adalah wanita yang akan ditemuinya, Kwon Yuri.

Pagi ini, Sooyoung cukup dibuat lelah, karena bergulat dengan batin dan pikirannya. Ia masih ragu untuk bertemu dengan Yuri, kekasih Yifan. Tapi, demi keprofesionalitasnya, Sooyoung pun memantapkan hatinya untuk menemui Yuri.

“Annyeonghaseyo~”

Sapaan tersebut membuyarkan lamunan Sooyoung. Ia pun langsung mendongakkan kepalanya dan mendapati seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi semampai dan ramping, serta wajah yang angelic. “A-annyeong,” balas Sooyoung kikuk. “Mungkinkah ini Yuri?” batin Sooyoung menebak.

“Sooyoung-ssi? Perkenalkan, saya Kwon Yuri,” ucap wanita itu.

Sooyoung mengangguk mengerti. “Oh, jadi ini benar-benar Yuri. Cantik sekali,” pikirnya. “Ah, silakan duduk, Yuri-ssi,” ucap Sooyoung.

Yuri mengangguk sekilas, lantas duduk di hadapan Sooyoung. “Ah, saya sungguh tak menduga bisa bertemu desainer muda dan hebat seperti Anda,” puji Yuri sambil meletakkan tas tangannya di atas meja.

Sooyoung tersenyum canggung, sambil memperbaiki duduknya. “Ah, biasa saja, Yuri-ssi,” balas Sooyoung malu-malu.

Yuri tertawa pelan―namun terkesan anggun. “Padahal, Joonmyeon tak henti-hentinya memujimu di hadapan aku dan Yifan. Dia juga mengatakan baha kau salah satu desainer terbaik di Jepang,” jelas Yuri.

Sooyoung mengernyit heran. “Joonmyeon?”

Yuri tersenyum kecil, sambil mengangguk pelan. “Ne, Joonmyeon. Dia mengatakan bahwa desainmu sangat baik dan mengusulkan namamu untuk menjadi perancang baju pengantinku,” jelas Yuri lagi.

Sooyoung hanya mengangguk paham.

“Nah, bagaimana kalau sebelum memperbincangkan tentang gaun pengantin, kita memesan makanan lebih dulu? Aku yang akan mentraktir.”

.

“Kau mau pesan es krim apa? Coklat? Vanila? Strawberry?” tawar Siwon pada Sooyoung.

Sooyoung menghela nafas dan menumpukan dagunya pada tangan kanannya. “Aku ingin es krim rasa durian,” balas Sooyoung asal.

“Eh?” Siwon nampak terkejut. “Durian? Sejak kapan, kau suka durian, Soo?” tanya Siwon bingung.

Sooyoung menoleh ke arah Siwon dan melemparkan death glare-nya.

Siwon tahu betul dengan tanda itu yang berarti tidak-usah-banyak-tanya. “Ah, arra, arra. Aku akan membelikannya untukmu. Tunggu disini, okay?”

Sooyoung memalingkan wajahnya dan mengangguk sekilas.

Siwon pun segera meninggalkan Sooyoung yang nampak tidak memiliki mood yang cukup baik.

Sooyoung menghela nafas panjang. Matanya menatap kosong ke arah taman kota yang cukup ramai di depan matanya. Pikirannya kini masih melayang pada pertemuannya dengan Yuri kemarin. Sooyoung mengakui bahwa Yuri adalah wanita yang―amat sangat―menarik. Dan ia sadar bahwa Yuri sangat cocok jika disandingkan dengan Yifan. Namun, Sooyoung merasa tidak terima, karena ia telah kalah selangkah. Meskipun Yifan dan Yuri sudah berpacaran sejak Sooyoug bertemu dengan Yifan, setidaknya jika Sooyoung mengambil kesempatan untuk mendekati Yifan, mungkin Sooyoung bisa mengubah perasaan Yifan sedikit saja.

Tapi, sanggupkah Sooyoung melukai Yuri yang berwajah dan berhati bak malaikat itu?

“Soo-ah, ini es krim durianmu,” celetuk Siwon membuyarkan lamunan Sooyoung.

Sooyoung langsung menoleh ke arah Siwon. “Ah, goma―” Ucapan Sooyoung terhenti, ketika matanya tertuju pada sosok yang dikenalnya.

Yuri.

Tapi, wanita itu tidak sedang sendiri. Ia sedang berdiri berhadapan dengan seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut blonde. Keduanya nampak sangat gembira. Sepertinya, mereka sedang berbincang seru atau bersenda gurau.

Siapa pria itu? Itu bukan Yifan, kan?” batin Sooyoung penuh tanya.

“Sooyoungie, ada apa denganmu?” tanya Siwon cemas, sambil mengguncang pelan bahu Sooyoung.

Sooyoung mengabaikan Siwon dan matanya tetap terfokus pada Yuri dan pria berambut blonde itu. Yuri dan pria itu bersikap layaknya sepasang kekasih. Oh! Bahkan, pria itu berani menyentuh pipi Yuri! OMO, OMO, OMO!

Bagaimana reaksi Yifan jika mengetahui hal ini?

Ah, ternyata Yuri yang terlihat seperti malaikat pun bisa bersikap seperti ini. Ckckck.

Tanpa pikir panjang lagi, Sooyoung mengambil ponsel di dalam tas selempang kecilnya. Jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel untuk mencari kontak Yifan.

“Sooyoung-aa, ada apa denganmu?” tanya Siwon panik.

Sooyoung yang telah menemukan kontak Yifan pun langsung menekan tanda ‘Call’ dan menempelkan ponsel ke telinganya. “Maaf, Oppa, aku tak bisa menjelaskannya sekarang. Ini tentang hidup dan matiku.”

Siwon hanya mengernyit bingung.

“Yifan-ssi!”

.

Sooyoung menanti dengan perasaan yang amat sangat tidak sabar. 30 menit yang lalu, ia sedang bersama Siwon, nyaris menikmati es krim duriannya, jika ia tidak melihat pemandangan mengejutkan di depan matanya. Dan kini, ia sudah berada di Athena Cafe untuk bertemu dengan Yifan. 5 menit lamanya, Sooyoung sudah menanti kehadiran Yifan.

Tiba-tiba, pandangan Sooyoung terhenti pada sosok pria yang masuk ke dalam Athena Cafe. Pria tinggi berambut blonde yang dilihatnya sedang bermesraan dengan Yuri tadi! Dan betapa terkejutnya Sooyoung ketika pria itu berjalan ke arahnya sambil menarik sebuah senyuman simpul. Sooyoung mengernyit bingung.

“Annyeong, Nona Choi,” sapa pria itu ramah.

Sooyoung mengernyit. “Bagaimana pria ini bisa mengenalku?” batinnya. “A-annyeong. Maaf, Anda siapa?” tanya Sooyoung.

Pria itu mengulurkan tangan kanannya dan berucap, “Wu Yifan imnida,” ucapnya.

DEG!

“W-wu Yifan? B-bukankah kau… A-anu… Eungg…” Sooyoung tergagap, kehabisan kata-kata untuk menjelaskan skenario yang ada di otaknya. “Kenapa semuanya jadi seperti ini?

Pria yang mengaku bernama Yifan itu mengernyit bingung. “Nona Choi, apa yang terjadi padamu?” tanyanya cemas.

“J-jadi, kau adalah Y-yifan-ssi? Wu Yifan?” tanya Sooyoung gugup.

“Ne. Apakah aku kelihatan sedang berusaha menipumu?” tanya Yifan.

“L-lalu, pria itu siapa?” gumam Sooyoung bingung.

“Pria? Pria yang mana?” tanya Yifan.

Sooyoung terdiam. Kepalanya mendongak menatap Yifan―yang sedang berdiri di hadapannya. Suara yang ia dengar sekarang pun sangat berbeda dengan suara pria yang meneleponnya beberapa hari yang lalu. Kenapa semua kenyataan ini sangat aneh dan berseberangan? Permainan apa yang dimainkan Tuhan untuk hidupnya? “Tunggu, Yifan-ssi, apakah kau yang menghubungiku beberapa hari yang lalu?”

“Hm, kapan? Saat membuat perjanjian pertama kali denganmu?” tanya Yifan memastikan.

Sooyoung mengangguk mantap.

Yifan tersenyum kecil, lantas menggeleng pelan.

Sooyoung menautkan alisnya, tanda bingung.

“Sayangnya, bukan aku yang meneleponmu, tapi sepupuku, Joonmyeon,” jelas Yifan.

“Mwo? J-joonmyeon?” Sooyoung terbelalak tak percaya.

Yifan mengangguk sambil melemparkan tatapan penuh kebingungan pada Sooyoung.

Sooyoung teringat nama Joonmyeon yang pernah disebut oleh Yuri. Mungkinkah Joonmyeon itu adalah pria yang membuatnya jatuh cinta selama ini? Mungkinkah? “Yifan-ssi, bisakah kau membantuku bertemu dengan Joonmyeon-ssi?” tanya Sooyoung penuh harap.

Yifan terdiam sejenak. “T-tentu bisa, Sooyoung-ssi. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Joonmyeon hendak terbang ke Kanada hari ini. Sepertinya, dia sudah bersiap di Incheon sekarang juga.”

“MWO?!”

.

“Joonmyeon, Joonmyeon, dimana kau berada sekarang?” gumam Sooyoung sambil berlarian menyusuri Incheon International Airport. Sooyoung memang belum memastikan bahwa Joonmyeon benar-benar pria pujaan hatinya, namun hatinya mengatakan bahwa Joonmyeon-lah pria itu.

“Pesawat tujuan Toronto, Kanada, akan berangkat dalam 10 menit lagi. Penumpang diharap segera masuk ke dalam pesawat.” Sebuah pemberitahuan terdengar.

Sooyoung terkejut ketika menyadari bahwa pesawat yang dimaksud adalah pesawat tujuan Kanada yang kemungkinan ditumpangi Joonmyeon. Sooyoung pun segera berlari ke arah gerbang keberangkatan. Sayangnya, gerbang itu sudah ditutup dan ia hanya bisa melihat ke dalam melalui sebuah kaca besar dan bening. Dan matanya tertuju pada satu sosok.

Pria yang mengambil separuh nafasnya.

Separuh jiwanya.

“Joonmyeon! Joonmyeon!” teriak Sooyoung sekeras mungkin. “Joonmyeon!” panggilnya sekali lagi, sambil berharap pria itu menoleh ke arahnya.

Dan pria itu pun menoleh ke arahnya. Wajahnya menunukkan keterkejutan. Ia nampak bernegosiasi pada petugas bandara untuk menemui Sooyoung. Namun, petugas bandara itu seperti melarangnya dan menyuruhnya untuk bergegas menuju pesawatnya. Dari kejauhan Joonmyeon seperti menggumamkan, “Gomen.” Dan pria itu pun melangkah ke depan dengan pandangan yang masih tertuju pada Sooyoung.

Sooyoung nampak menyesal. Tubuhnya melorot ke lantai dingin bandara. Tangannya menutup wajahnya yang mungkin sebentar lagi basah karena linangan air mata. “Tuhan, mungkinkah dia bukan jodohku?”

END

Oneshot dengan ending yang masih ngegantung, ya? Wkwkwk😄

Maaf, maaf. Tapi setelah ini, aku bakalan bikin Side Story dari sisi Joonmyeon aka Suho😀 Happy to hear that?

Duh, maaf kalo tulisanku ini ancur banget. Dan ini juga panjang banget. Setelah lama nggak bisa duduk di depan laptop terlalu lama, akhirnya aku berhasil bertahan dan nyelesaiin fic dengan sekitar 4000 kata. fiuh -_-

Ya udah deh, aku mau istirahat dulu (padahal ini masih pagi setengah siang XD)

I’m waiting for your reviews🙂

Love,

Jung Minrin

16 responses to “[Oneshot] Wedding Dress

  1. Pingback: [Oneshot] Wedding Dress | Sooyoung Fanfiction Indo·

    • amin, aku juga suho-sooyoung sebenernya :3
      tapi yah, kita lihat saja endingnya nanti😄
      okesip, aku bakalan kasih side story+after story-nya😀

  2. Yahyah kok end?😦
    Soo-suho bakal ktemu lg gk thor? .__.
    Lanjut ya side story nya
    Daebak thor!^^

  3. wah data” nya ga akurat :p
    aku suka ff ini.
    Rasional! Kesalahan itu wajar *dan dari kesalahan itu yg bikin menarik🙂
    daebakk thor!🙂

  4. huah….
    ternyata laki2 yang disukai soo eonni itu joonmyeon…
    aigo..
    aku salah tebak, ku kira orangnya Kris….
    keren bngt crt.a eonni….
    (^ム^)

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s