[100 Love Songs] Another

Another

[100 Love Songs]

Another

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

SNSD Yoona || EXO-M Luhan || SNSD Jessica

Length : Ficlet || Rating : PG || Genre : Romance, Sad, Fluff

Note :

It’s a request from Dinda Triana, based on Adele’s Someone Like You

I hope you enjoy and like it ^^

Happy reading🙂

.

I heard that you’re settle down

That you found a girl and you’re married now

I heard that your dreams came true

Guess she gave you things I didn’t give to you

-Someone Like You by Adele-

.

Hiduplah dengan keyakinan seperti pohon mapel di taman.

Ketika musim gugur tiba, ia memang ditinggalkan oleh dedaunannya.

Namun, suatu saat nanti, ketika musim semi menyapa, dedaunan kering yang telah meninggalkannya akan tergantikan oleh dedaunan baru yang masih segar.

-Im Yoona-

.

Yoona meniup anak rambut yang menutupi wajahnya. Anak rambutnya yang masih pendek itu pun bergoyang pelan, seirama dengan tiupan yang diberikan Yoona. Rambut hitamnya yang panjang dan tergerai pun ikut tertiup angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan di taman kota. Mata bulat nan indahnya itu memandang ke sekelilingnya sekali lagi.

Sepi.

Taman itu masih sepi, sejak Yoona menginjakkan kakinya disana 15 menit yang lalu.

Sepi seperti hatinya, eoh?

“YOONA!”

Yoona terlonjak kaget dari bangku taman yang didudukinya. Ia menoleh cepat ke arah belakangnya dan mendapati pemuda tampan yang menunjukkan cengiran tak berdosanya. “Aish, Xi Luhan, kenapa kau mengagetkanku?!” gerutu Yoona jengkel.

Luhan tertawa kecil, lantas segera duduk di samping Yoona. “Kau ini. Begitu saja, langsung kaget,” cibir Luhan.

Yoona pun memalingkan wajahnya dengan kesal dan mengerucutkan bibirnya dengan imut. “Aku sudah menunggumu lama dan kau malah mengagetkanku,” gerutu Yoona lagi.

Luhan kembali tertawa, melihat tingkah Yoona yang mirip seperti anak kecil. “Ayolah, Chagiya. Jangan marah, ne?” mohon Luhan pada Yoona.

Yoona masih terdiam. Wajahnya masih menunjukkan raut yang kesal.

“Yoong, maafkan aku, ne?” mohon Luhan sekali lagi. “Apa yang harus kulakukan supaya kau mau memaafkanku?” tanya Luhan.

Yoona terdiam sejenak. Sejujurnya, ia tak sepenuhnya marah pada Luhan. Lagipula, sanggupkah Yoona marah pada kekasihnya itu? Namun, ia hanya sedang ingin bermain-main dengan Luhan. “Hm, belikan aku es krim!” perintah Yoona. Ia senantiasa memalingkan wajahnya.

Luhan tersenyum kecil. “Your wish is my command, Princess,” balas Luhan semangat. “Aku beli dulu ne, Chagi?” tanya Luhan.

Yoona mengangguk kecil. Ia masih tidak bersedia menatap Luhan.

Luhan tertawa kecil melihat tingkah Yoona. Tak lama, ia pun segera melesat pergi meninggalkan Yoona di bangku taman.

Yoona melirik ke arah sampingnya. ‘Luhan sudah pergi, ya?’ batin Yoona. Ia pun mengembalikan posisinya seperti semula. Kini, ia menatap lurus ke depan. Sesekali, ia melirik ke arah perginya Luhan. Mata Yoona tertuju pada sebuah pohon mapel besar dan nampak tua di depannya. Yoona yakin, bahwa pohon mapel tersebut sangatlah rimbun dulu. Namun, karena sekarang sudah memasuki musim gugur, maka dedaunan pohon mapel itu pun mulai berguguran ke tanah.

Satu…

Dua…

Perlahan, daun-daun itu pun jatuh ke atas tanah. Tanah di sektar pohon mapel terlihat penuh dengan dedaunan kering berwarna coklat.

“Daun-daun meninggalkan pohonnya, ya?” gumam Yoona. “Tapi, setelah dedaunan yang kering itu berguguran, daun-daun itu akan digantikan dengan daun-daun hijau yang segar di musim semi,” lanjutnya senang.

“Apakah hidup manusia juga seperti itu?” tanya Yoona pada dirinya sendiri. “Ketika seseorang yang sudah lama di sisi kita meninggalkan kita, apakah kita juga akan mendapat pengganti yang sama, bahkan jauh lebih baik?” tanya Yoona lagi.

Tiba-tiba, Yoona teringat pada sosok Luhan. Luhan adalah kekasih yang sangat dicintainya, sosok yang selalu menemaninya selama 2 tahun terakhir ini. Bagaimana jika suatu saat nanti Luhan meninggalkannya? Sanggupkah dia?

Yoona menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak, tidak mungkin, dia mening―”

“Yoona?”

Sebuah suara lembut membawa Yoona kembali ke dunia nyata, meninggalkan pikirannya. Ia mendongakkan kepalanya dan mendapati sosok Luhan sudah kembali berdiri di sampingnya.

“Ada apa denganmu?” tanya Luhan heran. Mungkin, ia bingung dengan Yoona yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

Yoona hanya meringis sebagai jawabannya. Tiba-tiba, matanya tertuju pada sosok lain yang berdiri di samping Luhan. “J-jessica Unnie?” Yoona nampak terkejut dengan sosok cantik yang dipanggilnya Jessica.

Wanita cantik berambut blonde itu tertawa renyah. “Ne, Yoong. Ini aku,” balas Jessica riang. “Wah, kau tak banyak berubah, tapi kau semakin cantik,” puji Jessica.

Yoona tersipu malu. Namun, acara malu-malunya itu terhenti ketika suatu pertanyaan muncul di benaknya. “Eum, Unnie sudah kembali ke Seoul?” tanya Yoona heran.

“Ne, aku ada keperluan penting di Seoul,” ucap Jessica. Ia pun mendekatkan wajahnya ke telinga Yoona lantas berbisik, “Ini urusan cinta.”

Yoona terkikik geli mendengarnya.

Sementara Luhan nampak tak terima, karena dirinya tak dibiarkan mengetahui rahasia diantara Yoona dan Jessica. “Ya, jangan berbisik-bisik di depan mataku!” protes Luhan.

Yoona tertawa melihat tingkah manja Luhan.

Jessica pun ikut tertawa, lantas menyenggol pelan punggung Luhan dengan sikunya. “Aish, ini urusan wanita. Memangnya, kau wanita?” goda Jessica.

Luhan mendengua kesal. “Arra, arra, aku paham. Ini urusan wanita,” balasnya.

Jessica nampak begitu gemas dengan sikap Luhan. Wanita itu pun mencubit pipi Luhan. “Dasar Lulu si rusa,” ejeknya.

“Ya! Jangan mencubitku!” seru Luhan, sambil berusaha menghempaskan tangan Jessica di pipinya.

Yoona dan Jessica tertawa bersama.

Sungguh musim gugur yang indah, bukan?

Atau…

.

Yoona terduduk di balik meja belajarnya. Namun, pandangan matanya justru sama sekali tak terarah ke meja belajar dan buku pelajarannya. Tubuhnya bahkan telah menyerong, menghadap ke arah jendela kamarnya. Matanya menatap lekat ke arah sebuah pohon yang ditanam di seberang rumahnya.

Pohon itu bukan tergolong pohon tua. Batangnya nampak besar, kokoh dan kuat. Dedaunannya juga rimbun―sebelum musim gugur. Namun, kini, dedaunan yang kering itu sudah mulai berjatuhan ke atas tanah berlapis rumput hijau.

Yoona kembali teringat dengan pemikirannya tentang dedaunan yang meninggalan pohonnya di musim gugur.

Tangan Yoona menyangga dagunya dan matanya menatap ke langit-langit kamarnya, mulai membayangkan sesuatu.

Yoona tahu, bahwa dalam kehidupan selalu seimbang. Ada siang, ada malam. Ada terang, ada gelap. Ada baik, ada buruk. Ada hidup, ada mati. Ada datang, ada pergi.

Artinya, bagaimanapun juga, suatu saat nanti, Yoona berkemungkinan kehilangan seseorang yang sangat dekat dengannya, bahkan sangat dicintainya. Mungkin keluarga, sahabat, atau kekasihnya.

Mereka, orang-orang terdekat kita, adalah orang-orang yang dikirimkan Tuhan untuk kita. Namun, seperti dalam kehidupan, mereka juga akan pergi, bukan? Mungkin, mereka pergi dan masuk ke kehidupan orang lain atau pergi karena dipanggil kembali oleh Tuhan.

Setiap ada kepergian, pasti ada kedatangan, bukan? Seperti di bandara atau stasiun.

Jadi, jika orang-orang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita, Tuhan akan mengirimkan orang-orang untuk kita sayangi.

Dan ibarat pohon yang mendapatkan daunnya kembali, kita pun akan mendapatkan sosok baru yang nampak sama, namun lebih baik dari yang pernah kita miliki sebelumnya.

Bukankah Tuhan sangat baik pada kita?

Namun, Yoona kembali berpikir. ‘Apakah aku sanggup kehilangan Luhan?

Bagi Yoona, Luhan adalah separuh jiwanya, separuh hatinya, separuh nafasnya, bahkan separuh hidupnya. Bagi Yoona, Luhan adalah sosok terbaik yang pantas menjadi kekasihnya.

Luhan adalah namja yang baik, lucu, tampan, perhatian dan penuh kasih sayang.

Mampukah Yoona hidup tanpa Luhan?

Mungkinkah Yoona mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Luhan?

Entahlah, Yoona pun tak tahu jawabannya. Yang bisa Yoona lakukan saat ini adalah berdoa.

Berdoa bukan agar ia mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Luhan.

Melainkan berdoa agar Luhan senantiasa berada di sampingnya.

Yah, semoga saja Tuhan mengabulkan doanya.

Semoga~

.

“Ayolah Lulu, makanlah bekal ini,” rajuk Jessica pada Luhan.

Luhan hanya menggeleng pelan, sambil menghela nafas.

“Aish Luhan, aku sudah susah payah membuatkan bekal ini untukmu,” jelas Jessica.

Yoona yang menyaksikan pemandangan itu di depannya hanya tertawa pelan. Luhan dan Jessica adalah teman baik semasa SMA, begitu pula dengan Yoona. Seketika, Yoona teringat masa lalunya dengan Luhan dan Jessica.

Flashback

“Sica-ya, ambilah syal ini, ne? Aku tak ingin kau kedinginan,” pinta Luhan sambil mengulurkan syal untuk Jessica.

Jessica memalingkan wajahnya. “Shirreo!” balasnya.

Yoona yang mengikuti dua sahabatnya dari belakang itu pun hanya tertawa geli. Luhan dan Jessica memang terlihat akrab, tapi ada saja masalah-masalah kecil yang mereka ributkan.

“Ayolah, Sica, My Princess, My Beauty,” bujuk Luhan sambil melontarkan berbagai panggilan sayang untuknya.

“Shirreo, shirreo!” tolak Jessica sekali lagi.

Yoona tersenyum kecil melihatnya. ‘Aigo, mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Lucu sekali~”

.

“Yoona, kemarilah!”

Yoona melihat Luhan melambaikan tangan ke arahnya sambil memanggil namanya. Ia pun berjalan mendekati Luhan yang bersembunyi di balik pohon tua di taman sekolahnya. “Ada apa?” tanya Yoona pada Luhan.

“Eits, jangan keras-keras, oke?” bisik Luhan.

Yoona mengangguk paham. Matanya seolah berkata, ‘Memangnya, ada apa?’

Luhan menarik nafas dalam-dalam. “Yoong, kuharap kau tak kaget ketika mendengar hal ini,” bisiknya.

Yoona mengernyit. Ia semakin penasaran.

“Sejujurnya, aku menyukai…”

Entah kenapa, bagi Yoona, Luhan seolah mengambil jeda yang sangat panjang. Bahkan, jantungnya berdebar, gugup mendengar lanjutan ucapan Luhan. Well, sebagian dalam dirinya berharap bahwa namanya yang disebut oleh Luhan. Namun…

“Jessica.”

“Ne?” Rasanya, jantung Yoona berhenti detik itu juga. Ia terkejut mendengar nama yang meluncur dari mulut Luhan. Entah kenapa, ada rasa tak rela ketika Jessica yang berhasil merebut hati Luhan.

Tentu saja, hal ini membuat Yoona merasa sesak. Bagaimana tidak? Dari sekian banyak gadis di muka bumi, kenapa harus Jessica, sahabat mereka sendiri?

“Iya, aku menyukai Jessica.”

Dan Yoona serasa dihantam sebuah palu godam. Pengulangan kalimat yang diucapkan Luhan itu seolah kekalahan telak dirinya atas Jessica. “O-oh.” Saat itu, hanya balasan seperti itulah yang mampu keluar dari mulut Yoona. Lidahnya terasa kelu, walau untuk mengucapkan sepatah kata saja.

“Jadi, bagaimana?” tanya Luhan.

Yoona mengerjap bingung.

“Maksudku, aku harus melakukan apa, Yoong?” tanya Luhan. Kini, wajah pemuda itu nampak sedikit cemas. “Haruskah aku menyatakan cinta padanya?”

Seolah ada angin yang bertiup, Yoona menganggukkan kepalanya, tanpa bersuara sedikitpun.

“Begitukah?” Luhan nampak mengerjapkan matanya. “Ah, baiklah. Tapi, kau harus membantuku ya, Yoong?”

Yoona ingin memotong kepalanya sendiri. Bagaimana mungkin, kepalanya itu mengangguk, sementara otak dan hatinya berkeras menyerukan kata ‘tidak’?

Dan kali ini, Yoona seolah ingin mengubur dirinya hidup-hidup, karena jawaban yang meluncur dari bibirnya, “Ne, aku akan membantumu.”

.

“Jessica, aku ingin menyatakan sesuatu padamu,” ucap Luhan.

“Ne? Ada apa?” tanya Jessica bingung. “Tak biasanya kau bersikap serius begini, Lu,” komentar Jessica.

Sementara itu, tak jauh dari tempat Luhan dan Jessica berbincang, Yoona tengah bersembunyi di balik sebuah pohon, sambil sesekali memperhatikan ke arah Luhan dan Jessica. Tangan kanannya meremas kemeja biru yang dikenakannya, tepat di bagian dadanya. “Ya Tuhan, rasanya sakit sekali,” bisiknya. Hatinya serasa jatuh dari suatu ketinggian, lantas hancur berkeping-keping, tanpa bisa diperbaiki lagi.

“A-aku…” lanjut Luhan gugup.

Jessica nampak semakin penasaran.

“Aku menyukaimu, Jessica,” lanjut Luhan.

Jessica tertawa. “Aigo, kupikir kau akan mengatakan apa, Lu,” komentar Jessica. “Aku juga mencintaimu, Xi Luhan,” balas Jessica dengan penuh penekanan.

Luhan justru menggelengkan kepalanya dengan kuat. “Tidak, bukan begitu maksudku,” balas Luhan. “Tapi aku mencintaimu sebagai seorang pria, bukannya sahabat, Jess,” jelas Luhan.

“Ne?” Jessica nampak terkejut.

Sementara itu, tubuh Yoona sudah merosot ke atas rerumputan. Seluruh bagian dalam tubuhnya terasa terlalu sakit, bahkan untuk sekedar berdiri dan menyangga tubuhnya yang ringkih itu.

“M-maukah kau menjadi kekasihku?” tanya Luhan pada Jessica.

“T-tapi, Lu… Kita…” Jessica nampak bingung merangkai kata.

“Aku tahu, kita memang bersahabat. Tapi, aku telah jatuh cinta pada sahabatku sendiri, yaitu kau, Jessica Jung,” jelas Luhan mantap.

Jessica tertunduk. Ia menggigit bibir bawahnya karena terlalu gugup. “Lu, sebenarnya, aku…”

Luhan masih menunggu jawaban dari Jessica.

“Aku mencintaimu, Lu. Tapi…”

“Tapi apa, Jess?” tanya Luhan tak sabar.

Jessica pun mengangkat wajahnya dan menatap Luhan. “A-aku tak bisa menjadi kekasihmu, karena sebentar lagi, aku harus pergi ke Paris,” jelas Jessicaa sedih. “Maafkan aku, Lu. Kuharap, kau bisa mengerti hal ini,” lanjutnya. “Tapi jujur, aku juga mencintaimu. Namun, rasanya, aku tak sanggup untuk berhubungan sejauh itu.”

Luhan menghela nafas. “Arrasseo, aku bisa mengerti.” Luhan terpaksa tersenyum, meski hatinya begitu sakit.

“Tapi, Lu…”

“Ne?”

“Bersediakah kau menungguku sampai aku kembali dari Paris?” tanya Jessica dengan tatapannya yang berbinar-binar.

“Ne?” Luhan nampak kaget dengan permintaan Jessica. “Benarkah?”

“Kuharap, kau bersedia menungguku sampai aku kembali,” balas Jessica.

Luhan tersenyum kecil. “Ne, aku akan menunggumu kembali.”

Flashback end

.

Ah, janji itu, ya?’ batin Yoona dalam hati.

Ya, Luhan memang sempat berjanji pada Jessica untuk menantinya, hingga ia kembali ke Seoul. Namun, apakah janji itu masih berlaku?

Ini sungguh sebuah ironi.

Yoona datang dalam hidup Luhan, menawarkan kesembuhan bagi hati Luhan yang terluka karena Jessica. Dan Luhan telah menerima kehadiran Yoona dengan senang hati. Bahkan, mereka saling mencintai dan menjaga perasaan hingga saat ini, selama dua tahun.

Dan bagaimana dengan Jessica?

Well, selama ini, Yoona maupun Luhan telah kehilangan kontak dengan Jessica. Jadi, keduanya sama sekali belum memberi kabar pada Jessica, jika mereka telah menjadi sepasang kekasih yang berbahagia. Dan beberapa hari yang lalu, secara tiba-tiba, Jessica kembali lagi ke Seoul. Dan setahu Yoona, baik dirinya maupun Luhan belum sempat memberitahukan pada Jessica mengenai kebar tersebut.

Lagipula, jika memperhatikan sikap Jessica yang mencurahkan segala perhatiannya pada Luhan, artinya Jessica memang masih berharap pada Luhan.

Bagaimana dengan Luhan?

Menurut pengamatan Yoona, Luhan nampak malas meladeni Jessica. Tapi, mungkinkah itu hanya firasat Yoona untuk menguatkan hatinya bahwa Luhan tak mungkin berpaling pada Jessica? Atau memang kenyataannya bahwa Luhan tidak tertarik lagi pada Jessica?

Namun, sanggupkah Yoona memupuskan harapan Jessica pada Luhan? Mampukah Yoona merebut kebahagiaan sahabat yang sudah dianggap seperti kakak kandungnya sendiri itu? Bisakah?

“IM YOONA!!”

“Eh? Apa?” Yoona kaget setelah namanya diserukan dengan suara yang tinggi.

“Ish, kau ini melamunkan apa?” tanya Luhan lembut.

“Ne, kau mengabaikan kami dari tadi,” gerutu Jessica kesal.

Yoona tersenyum canggung. “Ani, gwaenchana,” jawabnya sambil menggeleng pelan.

Yoona, apakah kau yakin, kalau semuanya baik-baik saja?

.

“Yoong~”

Yoona mengalihkan pandangannya dari ponsel, menoleh ke arah samping dan menatap lekat ke arah Luhan yang sudah berada di dekatnya. “Kau sudah datang rupanya,” gumam Yoona. Ia pun menggeser duduknya, memberikan ruang bagi Luhan.

Luhan pun duduk di samping Yoona. “Kau baik-baik saja, Yoong?” tanya Luhan.

Yoona menatap Luhan, lantas mengangguk mantap. “Waeyo?” tanya Yoona heran. Tak biasanya jika Luhan bersikap basa-basi seperti ini.

“B-begini, Yoong, aku ingin membicarakn sesuatu,” jelas Luhan.

Yoona mengernyit bingung. Untuk pertama kalinya, Luhan nampak gugup ketika berbicara dengannya. ‘Memangnya, sesuatu apa yang akan dibicarakan Luhan?

“Ini tentang kelanjutan hubungan kita,” ucap Luhan lirih.

Yoona merasa jantungnya berdegup kencang. Bayang-bayang tentang Luhan dan Jessica langsung memenuhi pikirannya. ‘Mungkinkah, Luhan teringat akan janjinya pada Jessica?’ tebak Yoona dalam hati.

Luhan menunduk dalam-dalam. “Sebelumnya, aku minta maaf, kalau aku tak bisa membuatmu bahagia. Namun kali ini, kurasa, kita harus menyudahi ini semua dan…” Luhan menarik nafas dalam-dalam.

“A-apa?” Suara Yoona bergetar.

“Y-yoong, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu,” sela Luhan.

Yoona tersenyum miris. “Apa lagi yang harus dijelaskan, Xi Luhan?” tanya Yoona. “Kau ingin kita menyudahi semua ini, kan? Baiklah, mari kita sudahi saja,” lanjutnya dengan suara yang lebih kuat, meski hatinya sudah tak sanggup menghadapi kenyataan ini.

“Tapi, Yoong, a-aku…”

Yoona bangkit dari duduknya. “Terima kasih atas dua tahun yang indah, Xi Luhan. Kuharap, kau berbahagia dengan pilihanmu,” ucap Yoona. “Aku pergi dulu. Annyeong…” Yoona pun membalik tubuhnya dan melangkah menjauhi Luhan.

“Yoona! Im Yoona!” Luhan terus meneriakkan nama Yoona.

Namun, Yoona berusaha menulikan telinganya, menguatkan hatinya agar tidak hancur begitu saja.

Yoona teringat akan motivasi hidupnya. ‘Hiduplah dengan keyakinan seperti pohon mapel di taman!

.

Yoona menyandarkan punggungnya ke pohon mapel tua yang pernah dilihatnya di taman. Kakinya yang jenjang itu ditekuk dan kedua tangannya memeluk kakinya dengan erat.

Akhir-akhir ini, suasana hati Yoona sedang sangat buruk. Jadi, ia pun lebih senang untuk menghabiskan waktunya untuk duduk bersimpuh di atas rerumputan, sambil berteduh di bawah pohon mapel. Ia berharap, angin lembut musim gugur akan membawa pergi segala beban dan kesedihannya.

“Yoona!”

Tiba-tiba, Yoona merasa tubuhnya dipeluk dari samping. Ia pun menolehkan kepalanya dan mendapati sosok Jessica tengah memeluknya. “S-sica Unnie?”

Well, meskipun Yoona bermasalah dengan Luhan, namun entah kenapa, Yoona meyakini bahwa masalahnya dengan Luhan disebabkan oleh Jessica. Jadi, Yoona merasa agak risih ketika Jessica berada di dekatnya.

Jessica melepas pelukannya. “Yoona, apa kau sudah mendengar dari Luhan?” tanya Jessica.

Yoona mengernyit bingung. “Mendengar apa, Unnie?” tanya Yoona polos. ‘Mungkinkah, Luhan benar-benar kembali pada Jessica?’ tebak Yoona.

Jessica tersenyum senang. “Kita akan bertunangan, Yoong!” seru Jessica senang.

DEG!

“A-apa?” tanya Yoona tak paham.

“Jadi, Luhan belum menceritakannya padamu? Aigo, bocah itu,” gerutu Jessica kesal. “Tapi tenang saja, aku sudah mempersiapkan segalanya, Yoong. Luhan juga su―”

“U-unnie…” panggil Yoona dengan suara yang bergetar, karena berusaha menahan isakannya.

“Ne?”

“Kurasa, aku harus pergi sekarang. Karena aku harus menemui seseorang,” jelas Yoona. Ia pun segera bangkit dari duduknya.

“Y-yoona?”

“Maaf, Unnie. Aku pergi dulu. Annyeong!” Yoona berlari secepat yang ia bisa. Bahkan ia pun berharap, ‘Angin, bawalah aku kemana saja, dimana aku tak perlu tersakiti lagi.

.

BRUK!

“Auw!” Yoona nyaris terpental dan mendarat di aspal, jika saja sosok yang ditabraknya itu tidak menahan tubuhnya. Yoona mendongak untuk melihat sosok yang baru saja ditabraknya. “L-luhan?” Yoona begitu kaget, ketika menyadari bahwa sosok tersebut adalah Xi Luhan.

“Aigo, Yoong. Kau kemana saja? Aku mencarimu ke rumah, kampus, mengirimimu pesan dan menghubungi ponselmu, tapi kau seperti hilang ditelan bumi,” gerutu Luhan kesal.

Yoona berusaha melepaskan diri dari Luhan. Ia tak berniat menjawab pertanyaan Luhan. Ia memang berusaha menyembunyikan diri dari Luhan, semenjak hubungan mereka berakhir.

“Padahal, ada banyak hal yang ingin kujelaskan padamu,” ucap Luhan.

Yoona mendengus. “Memangnya, kau ingin bicara apa lagi, heh?” tanya Yoona ketus. Bagaimanapun juga, ia harus terlihat tegar di hadapan Luhan, meski hatinya telah terbagi menjadi beberapa kepingan.

“Tentang kemarin…” ucap Luhan sedih.

“Apa lagi yang perlu dijelaskan, eoh? Aku sudah memahami semuanya,” balas Yoona sambil memalingkan wajahnya. “Dan oh ya, selamat karena kau akan segera bertunangan dengan Jessica Unnie,” lanjutnya.

“Eh?”

“Tenang saja, kau tak perlu mengkhawatirkan aku, Luhan-ssi. Aku akan baik-baik saja. Aku harap, aku akan mendapat pengganti yang lebih baik darimu. Aku juga mengharapkan kebahagiaan untukmu,” cerocos Yoona tanpa henti. Well, ia hanya ingin meluapkan perasaannya, meski nada bicaranya pun tak terlalu tinggi.

“K-kau bicara apa, Yoong? Bertunangan dengan Jessica?” tanya Luhan bingung.

“Ne, Jessica Unnie sudah mengatakannya padaku. Selamat, Luhan-ssi,” jawab Yoona.

“Aish, apa yang dilakukan wanita itu?!” racau Luhan frustasi.

Yoona mengernyit tak mengerti.

“Dengar Yoong, kau pasti salah paham. Semua ini―”

“Aku tidak salah paham. Kau sudah memutuskan hubungan kita, karena kau akan bertunangan dengan Jessica Unnie. Bukankah semua su―”

“AKU BERNIAT MELAMARMU, PABBO!” bentak Luhan, memotong ucapan Yoona.

Yoona berhenti bicara. Matanya menatap bingung ke arah Luhan. Lantas gadis itu pun tertawa pelan. “Luhan-ssi, kau tak perlu mengasihaniku. Kau berhak bahagia dengan Jessica Unnie dan aku akan mencari pengganti un―”

“Berhenti berbicara seolah hubungan kita sudah berakhir!” bentak Luhan.

“Lho? Bukannya semua sudah berakhir sejak kau memutuskanku kemarin?” tanya Yoona tak berdosa.

Luhan menarik nafas dalam-dalam, lantas mengusap wajahnya dengan kasar. “Oke, sebaiknya, kau mendengarkanku sekarang juga.”

“Tapi a―”

“Dan jangan bicara, atau aku akan menggunakan bibirku untuk menyumpal mulutmu itu!” ancam Luhan tajam.

Nyali Yoona langsung ciyut. Secara refleks, kedua tangannya pun menutupi mulutnya.

Luhan menghela nafas, lantas kedua tangannya menyentuh pundak Yoona. “Dengar, Yoong, kemarin aku terlalu gugup,” jelas Luhan. “Aku berkata untuk mengakhiri hubungan kita sebagai kekasih, karena aku ingin melamarmu dan menjadikanmu sebagai istriku,” jelas Luhan.

Yoone tercekat. ‘Begitukah?

“Tapi, aku terlalu gugup, aku belum berani, dan justru membuatmu kabur meninggalkanku,” lanjut Luhan sedih.

Yoona menurunkan tangan dari mulutnya. ‘T-tapi, kenapa kau tak mengejarku saja?” tanya Yoona bingung.

“Bukankah sudah kubilang, kalau aku terlalu gugup?” tanya Luhan memastikan. “Aku bahkan tak sanggup mengejarmu, Yoong,” jelas Luhan. “Maaf, kalau aku terlalu pengecut. Tapi…”

BUK!

“Auw!”

Yoona sudah memukul dada Luhan dengan sangat keras.

“Kenapa kau memukulku, Yoong?” tanya Luhan sambil merintih kesakitan.

“Dasar bodoh! Bodoh! Bodoh!” rutuk Yoona pada Luhan.

“Maafkan aku, Yoong. Maaf,” balas Luhan penuh sesal.

“L-lalu, bagaimana dengan Jessica Unnie?” tanya Yoona penasaran. Bukankah Jessica sudah mengatakan bahwa ia hendak bertunangan dengan Luhan?

Luhan mendesah pelan. “Ah, lagi-lagi, kau pasti salah paham, Yoong,” gumam Luhan.

“Eh?”

“Jessica memaksaku untuk bertunangan di hari yang sama dengan kita,” jelas Luhan.

“Maksudmu, kau akan bertunangan denganku dan Jessica Unnie?” tanya Yoona polos.

“Aigo, kenapa kau menjadi pabbo seperti ini, Yoong? Apakah merindukanku membuatmu bodoh, eh?” goda Luhan.

Yoona hanya mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

Luhan tertawa pelan. “Jadi, Jessica akan menikah dengan Kris Hyung. Kebetulan, Kris Hyung adalah temanku di China,” jelas Luhan. “Jadi, Jessica ingin bertunangan di hari yang sama dengan kita.”

Yoona pun mengangguk mengerti. Ia merutuki kebodohannya sendiri, yang terlalu mengandalkan firasatnya.

“Jadi, bagaimana? Apakah kau bersedia bertunangan dengan Xi Luhan yang pengecut ini?” tanya Luhan sambil menggenggam kedua tangan Yoona dengan erat.

Yoona tertunduk malu. “A-aku…”

Luhan nampak harap-harap cemas.

“Aku, Im Yoona yang bodoh ini, bersedia bertunangan dengan Xi Luhan yang pengecut ini,” balas Yoona malu-malu.

“Jeongmal?”

Yoona mengangguk pelan.

Luhan tertawa senang. “Dan ingat, berhentilah mengatakan untuk mencari penggantiku, arra?”

“Ne, ne, Xi Luhan.”

END

Ending yang gaje ^^v

Sebelum kalian marahin aku, silakan baca ff ini dengan baik-baik, oke? Kalau kalian perhatikan setiap kata-katanya, kalian pasti nggak akan salah paham seperti Yoona, hoho ^o^

Dulu pas baca request-an ini, aku udah kepikiran mau bikin ff yang Angst banget. Tapi setelah kupikir ulang, jangan deh. Biar jadi kejutan. Lagipula, Dinda menyerahkan segalanya untuk aku atur. Jadi, aku jadikan kayak gini, deh😀

Gimana nih? Apakah penulisanku udah ada peningkatan? Masih sama? Atau tambah ancur?

Yang penting, aku masih mohon dukungannya, ne? Semoga aku bisa mengembalikan semuanya seperti dulu.

Don’t forget to leave your comment, okay?

Love,

Jung Minrin

3 responses to “[100 Love Songs] Another

  1. Ihhh :’) tadi bacanya sempet nangis. Serius. YoonA di situ persis gw banget. Hiks. Tapi akhirnya bahagia, tidak seperti diriku. #curhat
    Tapi sempet ketawa pas bagian Luhan ngatain YoonA bodoh. Ahaha ngebayangin jadi YoonA pasti malu banget😀 soalnya nyerocos terus dan gak dengerin Luhan ngomong dulu.
    Aduh maaf -_- saya terlalu banyak bicara. Abisnya bagus thor FFnya. Tadi cuma iseng baca, soalnya photo posternya keren. Ehehehe

  2. Kyaa! aku baru nemu ff ini /kudet.
    astag! suka Yoona salah paham lucu abis apa lagi luhan buat ff luyoon lagi fong ya *bbuing-bbuing.
    Figthing ! =))))

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s