[Ficlet] Rain – HyoHyuk Version

Rain 1

Rain

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

Super Junior Hyukjae || SNSD Hyoyeon || Super Junior Donghae

Length : Ficlet || Rating : G || Genre : Romance, Friendship, Humor (Failed -_-)

Note :

FF jadul, sih. Tapi kelupaan belum pernah ku-publish.

Please enjoy :)

.

.

Listen to the rain…

.

Aku mengetukkan jemariku ke atas meja kantin. Mataku memandang ke arah sekeliling.

Sepi. Sunyi.

Rasanya, aku adalah satu-satunya mahasiswa yang berada di kantin saat ini. Sisanya adalah para penjaga kantin.

Aku menghela nafas panjang. Ugh, bosan sekali rasanya.

DRRT… DRRT…

Oh, sepertinya, ponselku bergetar. Aku segera merogoh saku celanaku dan mengambil ponselku.

“Hyukjae-ya!” panggil sebuah suara di seberang sana.

Aku hanya mengernyit bingung. Pasalnya, aku hanya mendapati nomor asing. Namun, suara dan nada bicara orang yang meneleponku seolah ia sudah mengenalku sejak lama. “Hm, nuguya?” balasku.

“Aigoo, kau sombong sekali, Hyukjae-ya!” seru orang tersebut. “I’m Hyoyeon. Kim Hyoyeon. Still remember me?

Aku langsung menepuk jidatku.

Bagaimana mungkin aku bisa melupakan Hyoyeon? Hyoyeon adalah teman masa kecilku. Kami sering bermain bersama dan memiliki hobi yang sama, yakni menari. Karena terlalu sering bersama, aku pun jatuh cinta pada sosoknya yang menyenangkan. Sayangnya, sebelum sempat menyatakan perasaanku yang sesungguhnya, Hyoyoen telah memutuskan untuk pergi ke New York bersama keluarganya.

“Oh, hai, Hyo! Bagaimana kabarmu?” balasku, akhirnya.

Fine,” balasnya singkat dalam bahasa Inggris. “You?

“Aku juga baik-baik saja,” jawabku. Oke, aku kedengaran sangat payah, ya? Hyoyeon memang mahir berbahasa Inggris sejak kecil, sementara aku? Oh, jangan ditanya. Aku amat sangat payah. Well, aku memang paham ketika orang lain berbicara dalam bahasa Inggris. Tapi aku selalu merasa takut salah ketika berbicara bahasa Inggris. Belum lagi, kata Donghae―sahabatku―aksenku sangatlah aneh. Jadi, aku memutuskan untuk menjadi pendengar saja.

Good~” celetuk Hyoyeon. “Hm, Hyuk, can you pick me up?” tanya Hyoyeon.

“Dimana?” Aish, kalau saja, kami bertatap muka, pasti akan kedengaran sangat memalukan, ketika Hyoyeon mengajakku berbicara dalam bahasa Inggris, sementara aku menjawabnya dalam bahasa Korea.

“Incheon,” balas Hyoyeon singkat.

“MWO?!” Aku melongo kaget. Hyoyeon sudah di Incheon? Di Korea? “Kau sudah di Korea, Hyo?” tanyaku tak percaya.

Hyoyeon tertawa renyah di seberang sana. “Of course, Hyuk,” balasnya ringan. “So, can you?” tanyanya sekali lagi.

Ah, sure, sure.” Oke, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengucapkan kata dalam bahasa Inggris.

Namun, Hyoyeon justru tertawa keras. “Tak usah dipaksakan, Lee Hyukjae. Aku tahu, kalau bahasa Inggrismu lumayan payah,” cibirnya.

“Yak, Kim Hyoyeon!”

.

.

Aku berlari kecil, menyusuri Incheon International Airport yang luas itu.

Aku menunggumu di gerbang kedatangan.” Begitulah kata Hyoyeon.

Aku pun mencari-cari gerbang kedatangan di peta yang terpampang besar di dalam bandara. Setelah menemukan lokasinya, aku pun mulai menyusuri jalan menuju gerbang kedatangan.

“Hyukjae!” panggil sebuah suara. Ah, itu Hyoyeon.

Aku mempercepat langkahku, menghampirinya. Saat aku semakin dekat dengannya, aku bisa melihat dengan jelas sosok Hyoyeon. Memang tidak sulit bagiku untuk mengenali Hyoyeon, namun kuakui, banyak yang berubah dari Hyoyeon.

Hyoyeon terlihat semakin cantik.

“Hei! Kau melamunkan apa?” eletuk Hyoyeon membuyarkan lamunanku.

“E-eh, t-tidak!” elakku. Aish, bagaimana aku bisa bersikap seperti ini di hadapan Hyoyeon.

Hyoyeon tertawa renyah.

Aigo, ia pasti sedang menertawakanku.

You’re still the same, Hyuk,” komentar Hyoyeon di sela-sela tawanya.

“Sama? Sama dengan apa?” tanyaku kesal. “Kau tak lihat apa, kalau aku sudah bertambah tampan sekarang,” ucapku dengan penuh percaya diri.

Hyoyeon hanya tertawa sebagai balasannya.

“Yak, kenapa kau malah tertawa terus?”

.

.

“Hei!” seru Donghae sambil menepuk pundakku pelan.

“Ada apa, Hae-ya?” balasku malas.

Donghae langsung duduk di sampingku. “Kenapa kau lesu begitu, Hyuk?” tanya Donghae.

Aku hanya tertawa garing. “Gwaenchana,” jawabku singkat.

“Seharusnya, kau senang kan, karena gadis pujaan hatimu, si Kim Hyo― emphmffh…”

Aku langsung membekap mulutnya dengan tanganku, karena nyaris saja, ia membocorkan rahasiaku bahwa aku jatuh cinta pada Hyoyeon. Hell! Ini di kantin kampus, pabbo! “Yak, jaga ucapanmu, Lee Donghae,” desisku tajam.

Donghae berusaha melepaskan tanganku dari mulutnya. Ia malah tertawa. “Jadi, kau masih menyembunyikan perasaan itu, eoh?” tebak Donghae dengan nada menggoda.

“E-eh. Soal perasaan itu, ya? A… eumm… itu…” Aku salah tingkah menanggapi pertanyaan Donghae.

Donghae tertawa makin keras. “Kau masih belum berani menyatakan perasaanmu, Hyuk? Menyedihkan,” cibir Donghae.

Aku hanya menggerutu kesal, karena diledek oleh Donghae.

DRRT… DRRT…

Aku segera merogoh saku celanaku, setelah merasakan sebuah getaran dari ponselku. Ah, ternyata ada panggilan dari Hyoyeon! “Yoboseyo?”

“Hi, Hyuk!” sapa Hyoyeon riang.

“Ada apa, Hyo?” balasku penasaran. Aku melirik ke arah Donghae yang nampak penasaran dengan pembicaraanku dengan Hyoyeon di telepon.

Hyoyeon tertawa pelan. “I miss our memories, Hyuk,” ucap Hyoyeon yang terdengar seperti gumaman, namun masih bisa kudengar.

“Oh?” Aku membiarkannya melanjutkan ceritanya.

Do you remember when we’re dancing together? Oh, I miss your dance,” jelas Hyoyeon.

Oh, Hyoyeon rindu dengan tarianku? Hihi, senang sekali rasanya~

And do you remember the day when we’re going home from school, even though it’s still raining outside, huh?” lanjut Hyoyeon.

“Hm…”

“Then we’re watching rain in the bus stop together. That’s so funny,” imbuh Hyoyeon riang. “Oh, what about the book store near our High School? Does is exist?” tanya Hyoyeon.

“Yeah~” balasku, sambil mengingat.

Oh, I swear! I miss that place! I miss everything! I miss Seoul! And of course, I still miss you so much, even though I’ve met you,” ucap Hyoyeon.

Aku tersenyum senang. Ternyata, Hyoyeon pun begitu merindukanku, ya?

Sementara itu, Donghae nampak menunjukkan raut penasarannya.

So, can we do that again, Hyuk?” tanya Hyoyeon penuh harap.

“Hm?”

Can we do that? We can have fun!” seru Hyoyeon penuh semangat.

Oke, ini adalah kesempatan untuk semakin dekat dengan Hyoyeon. “Tentu saja, Hyo,” balasku senang.

Yeay!” seru Hyoyeon. “So can we make it tomorrow? Oh, and I invite you to watch rain. You know, that’s my favorite,” jelas Hyoyeon.

Aku mengangguk, meski Hyoyeon tak melihatku. “Baiklah, aku mengikutimu saja,” balasku.

Okay! We’ll start at 3 p.m.. Deal?” tanya Hyoyeon memastikan.

Deal!” balasku mantap.

Well, see you soon, Hyuk! Bye~”

Bye~”

PIP!

Sambungan telepon terputus.

Dan kulihat Donghae sudah tertawa-tawa di sampingku. “Hei, ada apa denganmu, ikan?” tanyaku jengkel.

Deal? Kau hanya mengatakan satu kata dalam bahasa Inggris?” cibir Donghae lagi. Dan ia kembali menertawakanku.

“Ya! Memangnya, kenapa? Aku hanya ingin bersikap apa adanya, Hae-ya!” balasku tak terima.

“Ne, ne. Terserah kau, Lee Hyukjae,” ucapnya dan kembali menertawaiku.

Aku mendengus pelan dan mencoba mengabaikan suara tawa Donghae yang menggangguku. Baiklah, aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

.

.

Aku menatap ke arah hujan yang semakin deras. Well, beruntung sekali. Hari ini, hujan turun, sesuai dengan harapan Hyoyeon yang ingin melihat hujan.

Aku menatap jam tanganku. Ini sudah jam 4.30, tapi kenapa aku sama sekali belum melihat tanda-tanda Hyoyeon di sekitar halte bus tempatku berada?

DRRT… DRRT…

Ponselku bergetar dan aku segera mengangkat panggilan yang masuk. “Yoboseyo?”

“Hyukkie!” panggil sebuah suara. Seperti suara Hyoyeon.

“Ne?” balasku setengah berteriak, karena suara hujan deras yang lumayan mengganggu.

“Where are you, Hyukkie? I’ve been waiting for you for 30 minutes!” seru Hyoyeon.

Aku mengernyit bingung. Aku juga sedang menunggunya. Memangnya, dia dimana?

“Ayolah, konsernya akan segera dimulai!”

“Eh? Konser? Konser apa, Hyo?” tanyaku bingung.

“Oh God! Lee Hyukjae, kau sudah berjanji padaku untuk nonton Rain, kan?” tanya Hyoyeon.

Eh? Rain? Siapa yang dimaksud Hyoyeon dengan Rain? “Rain? Maksudmu?”

“Rain! The singer, Hyukkie!” tegas Hyoyeon.

Aku melongo. “Hah? Rain si penyanyi?”

“Ne!” seru Hyoyeon, kedengaran kesal. “Kau pikir siapa, huh?”

Aku menepuk jidatku keras-keras. Aigo, kenapa kau bodoh sekali, Lee Hyukjae?

Rain yang dimaksud Hyoyeon adalah Rain si penyanyi itu, dan bukannya hujan?

Aigo, kau memang sok tahu, Lee Hyukjae~

END

Ini ff lama, mian kalo gaje banget, lol~

Just give your review, okay?

Love,

Jung Minrin

3 responses to “[Ficlet] Rain – HyoHyuk Version

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s