[Vignette] The Reason for Falling in Love

The Reason for Falling in Love

The Reason for Falling in Love

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

SNSD Jessica || EXO-M Kris

SNSD Tiffany || DBSK Yunho

Length : Ficlet || Rating : G || Genre : Romance, Fluff

Note :

This fic is dedicated to my dearest friend―MYG

Thanks for the memories you have given to me.

And the rest, please enjoy this story ^^

.

.

Berikan satu alasan kenapa kau bisa jatuh cinta.

.

“Oh, ayolah, Jess.”

Aku semakin membenamkan kepalaku ke bantalku yang empuk, ketika mendengar suara rengekan dari Tiffany. Sedari tadi, sahabatku itu masih membujukku untuk bersedia mengikuti reuni dengan teman-teman sekolahku.

Jujur saja, aku sangat ingin pergi ke reuni tersebut. Aku rindu dengan teman-temanku; Taeyeon, Sunny dan Hyoyeon. Sayangnya, ada rasa ego yang lebih besar dan mengalahkan rasa rindu tersebut.

Ya, aku memang egois. Ada kenangan yang tak mungkin kulupakan begitu saja. Bahkan, kenangan itu masih menghantuiku hingga saat ini. Kenangan yang selalu membuatku ketakutan.

“Sudah kutegaskan padamu bahwa aku tidak ingin pergi ke reuni tersebut,” tegasku berulang kali.

Tiffany mendengus pelan. “Tapi, kenapa, Jess?” tanya Tiffany. “Setidaknya, saat aku menghadiri reuni tersebut, aku harus memiliki alasan atas ketidakhadiranmu,” jelas Tiffany.

Aku mengangkat wajahku dari bantal dan membalik tubuhku menghadap Tiffany. “Kenapa kau harus memiliki alasannya?” tanyaku.

Tiffany mendesah kecil. “Mereka pasti bertanya padaku,” jawab Tiffany.

Aku mengernyit, lantas tertawa keras-keras. “Kau terlalu percaya diri, Tiff! Kenapa kau menduga kalau mereka akan bertanya padamu?” tanyaku di sela-sela tawaku.

PLETAK!

“Auw!” rintihku, setelah mendapat jitakan di kepalaku. “Kenapa kau menjitakku, eoh?” tanyaku kesal.

Tiffany berkacak pinggang. “Yak! Apa kau lupa? Bagaimanapun juga, aku ini adalah calon kakak iparmu! Aku adalah kekasih Jung Yunho! Kau ingat itu?” tanya Tiffany jengkel.

Aku baru teringat bahwa Tiffany adalah kekasih Yunho Oppa. Aku pun meringis ke arahnya. “Ya, ya. Aku ingat,” balasku, lantas terkekeh pelan, menertawakan kebodohanku.

Tiffany mendengus pelan, sambil menggelengkan kepalanya. “Jadi, apa alasanmu?” tanya Tiffany pasrah.

“Katakan saja kalau aku sakit atau sibuk,” balasku seenaknya.

Tiffany menaikkan sebelah alisnya. “Kau serius?”

“Ya!” jawabku. Aku segera membaringkan tubuhku ke atas ranjang dan menutup wajahku dengan bantal.

Tiffany menghela nafas panjang. Dan kurasakan pergerakan di atas ranjangku. Sepertinya, Tiffany sudah bangki dari ranjangku. “Baiklah, kalau itu yang kau mau,” balas Tiffany, terdengar pasrah.

Aku tidak meresponsnya lagi. Dalam hati aku hanya mengeluh, ‘Kenapa tidak dari tadi saja begitu?

***

“Jung Sooyeon.”

Kudengar suara rendah yang memanggil namaku. Aku kenal betul dengan suara itu. Itu adalah suara Oppa-ku, Jung Yunho. Dengan terpaksa dan agak takut, aku pun menghentikan langkahku. Dengan gemetar, aku membalik tubuhku dan mendapati Yunho Oppa sudah berdiri di ujung tangga sambil memasang wajah tegasnya. “Ada apa, Oppa?” tanyaku takut. Aku sudah hafal dengan tabiat Oppa-ku. Jika dia memasang wajah tegasnya dan memanggilku dengan nama Sooyeon, artinya dia sedang sangat serius dan apapun yang diucapkannya tak boleh dibantah.

Yunho Oppa berjalan mendekatiku. “Kudengar dari Tiffany kalau aku menolak untuk pergi ke acara reuni. Kenapa?” tanya Yunho Oppa dingin.

Aku menggigit bibir bawahku. Aduh, aku lupa kalau Tiffany memiliki mulut yang mudah bocor dan selalu mengadu apapun pada Yunho Oppa. “A-aku malas pergi ke acara reuni itu, Oppa,” jawabku gugup.

Yunho Oppa menyeringai. “Kau yakin? Tapi, bukankah kau mengatakan pada Tiffany kalau kau sedang sibuk?” tanyanya menyelidik.

“A-aku malas karena aku sedang s-sibuk, Oppa,” jawabku, akhirnya.

“Hm, dan kau tidak berencana untuk sakit pada hari itu, kan?” tanya Yunho Oppa lagi.

Ya Tuhan! Tiffany menceritakan segalanya pada Oppa-ku. Sial.

“Jung Sooyeon, siapa yang mengajarimu berbohong seperti ini, eoh?” tanya Yunho Oppa dengan suara yang agak lembut.

Aku tertunduk malu. “T-tapi…”

“Tak ada penolakan!” tegas Yunho Oppa. “Kau harus pergi dengan Tiffany ke reuni tersebut besok lusa. Mengerti?” tanya Yunho Oppa dengan nada yang terkesan mengancam.

“I-iya,” jawabku ragu sambil menganggukkan kepalaku.

Yunho Oppa menepuk pelan puncak kepalaku. “Baik.Dan jangan ulangi hal semacam itu lagi.”

Aku hanya terdiam. Aku terus merutuk dalam hati. ‘Awas kau, Hwang Miyoung.’

***

Aku menutup telingaku rapat-rapat, ketika mendengar Tiffany yang tak henti-hentinya menertawakan kebodohanku.

“Ternyata, nyalimu langsung ciyut ketika berhadapan dengan Yunho.”

“Aku tak menduga kalau kau setakut itu pada Yunho.”

Dan berbagai ledekan lainnya yang meluncur dari mulutnya.

“Diam kau! Dasar mulut ember!” celetukku menyindirnya.

Tapi Tiffany sama sekali tidak merasa tersindir. Dan ia tertawa makin keras, sambil mengucapkan deretan kebodohanku ketika berhadapan dengan Yunho Oppa.

Ya, aku memang dongsaeng yang menyedihkan. Aku memang terkesan dingin, jutek, dan menyebalkan di hadapan orang lain. Tapi ketika berhadapan dengan Yunho Oppa, rasanya seluruh keberanianku itu lenyap ditelan bumi.

Sementara Tiffany yang sibuk tertawa, aku memutuskan untuk merenungi nasibku, setelah kami tiba di tempat reuni.

Ya, aku dan Tiffany sedang berada di dalam mobil yang mengantar kami ke tempat reuni.

Hanya ada satu hal yang sedari tadi aku pikirkan. Aku takut bertemu dengan seseorang. Seseorang yang pernah aku sakiti, atas apa yang tak dilakukannya. Dan jujur saja, aku merasa seperti orang terbodoh, ketika menyadari kesalahanku.

Ya Tuhan! Dia sama sekali tak bersalah atas apa yang kutuduhkan padanya! Bahkan, dia hanyalah korban. Ada orang lain yang sengaja menghasutku dan merusak hubunganku dengannya.

Aduh, aku benar-benar menyedihkan, ya? Mudah disahut begitu saja. Entahlah, kurasa saat itu aku dibutakan begitu saja. Otakku tak bisa berpikir jernih.

Ah, aku menyesal. Sangat menyesal.

Dan bagaimana aku harus bersikap ketika melihatnya nanti?

“Nona, kita sudah sampai.” Suara Pak Lee, supir yang mengantar kami, membuyarkan lamunanku.

“Ah, benarkah?” gumamku, sambil melihat suasana sekitar.

“Ayo turun!” ajak Tiffany.

Aku pun mengikuti Tiffany untuk turun dari mobil. Aku mendongak dan menatap sebuah restoran di depan mataku. Mataku tertuju pada satu sosok yang sedang berdiri di depan restoran tersebut sambil menelepon seseorang. Sosok yang kutakutkan itu. “Wu Yifan?”

***

“Hai, Sooyeon,” sapa Yifan lembut.

Aku tersenyum kecil. “Jessica, please,” pintaku sopan. Ya, aku memang lebih nyaman dipanggil Jessica. Panggilan Sooyeon hanya dikhususkan untuk Oppa-ku.

“Ah ya, Jessica.” Yifan mengulangi menyebut namaku. “Jadi, bagaimana kabarmu sekarang?”

Aku tertunduk. Kini, aku dan Yifan sudah berada di pinggir kolam ikan kecil yang terletak di dalam restoran tempat reuni kami. “Baik,” jawabku pelan. Aku tak sanggup menatap Yifan. Aku berpikir keras, kenapa dia masih bisa bersikap baik padaku, meski aku pernah berbuat buruk padanya di masa lalu. “B-bagaimana denganmu?” tanyaku sambil meliriknya sekilas.

Yifan tersenyum tipis. “Lumayan,” balasnya singkat. “Ngomong-ngomong, berapa lama kita tidak bertemu, ya?” tanya Yifan. “Sejak kelulusan?” tebaknya.

Aku mendongak, namun tetap tak menatapnya. “Ya, mungkin sejak kelulusan,” timpalku mengiyakan.

Yifan tak merespons ucapanku. Ia terdiam.

Begitu pula denganku. Aku merasa terlalu canggung untuk mengajaknya bicara. Entahlah, rasanya, aku tetap dihantui bayang-bayang masa lalu.

 

Flashback

“Kulihat, Yifan semakin dekat dengan Yoona, ya? Menurutmu bagaimana, Sooyeon?”

“Ya. Yifan memang dekat dengan Yoona, karena orang tua mereka memang saling mengenal. Wajar, kan?”

“Iya. Tapi, aku curiga dengan kedekatan mereka. Bagaimana kalau seandainya Yifan dan Yoona menggunakan kesempatan ini untuk berselingkuh, eh?”

“Yifan dan Yoona tidak mungkin seperti itu. Aku kenal mereka dengan baik.”

“Oh, Sooyeon. Dan jangan lupakan kalau Yifan adalah seorang playboy. Kau tak ingat, seberapa banyak gadis yang sudah dipacarinya? Sepertinya, sebagai kekasihnya, kau harus mulai waspada, Jung Sooyeon.”

.

.

“Aku ingin kita berhenti sampai disini, Wu Yifan!”

“A-apa maksudmu, Sooyeonnie?”

“Aku ingin hubungan kita selesai. Aku tak ingin menjadi kekasihmu lagi.”

“T-tapi kenapa? Aku sangat mencintaimu!”

“T-tapi kenapa kau selingkuh dengan Yoona? Bahkan, di depan mataku, kau berani-beraninya bermesraan dengan Yoona!”

“Ya Tuhan! Kau tahu betul kalau aku dan Yoona hanya berteman. Kenapa kau marah seperti ini?”

“Tapi, kenapa selama ini kau lebih memilih Yoona daripada aku, hah?!”

“Sooyeon…”

“Aku juga sudah tak betah dengan ledekan teman-teman. Aku tak tahan, Wu Yifan! Aku ingin kita putus!”

Flashback end

Kenangan-kenangan itu terus berputar di otakku. Ya Tuhan, maafkan aku karena telah memaki dan menuduh Yifan, hanya karena hasutan teman-temanku. Maafkan aku.

Well, mungkin Tuhan bersedia memaafkan hamba-Nya. Tapi, Yifan? Bersediakan dia memaafkanku?

Aku melirik Yifan. “Y-yifan…”

“Ya?” Yifan menatapku lekat-lekat.

Aku menunduk kembali. “Maafkan aku,” ucapku cepat.

“Heh?” Bisa kupastikan bahwa Yifan kebingungan. “Maaf? Untuk apa?” tanya Yifan.

“Karena dulu…” Aku menggigit bibir bawahku, tak sanggup menjelaskan kesalahanku di masa lalu. Rasanya seperti menggali lubang kematian untuk diriku sendiri dan menjatuhkan diriku ke dalamnya.

Yifan terdiam, seolah menantiku berbicara.

Entah kenapa, tiba-tiba, air mata menggenangi mataku dan siap untuk jatuh. Bibirku juga mulai terisak pelan. Bodoh! Kenapa aku bisa secengeng ini? “D-dulu, aku hiks, aku pernah menuduhmu hiks, berselingkuh hiks,” ucapku terbata di sela isakanku.

“Berselingkuh?”

Aku langsung memeluk Yifan meski hal ini terkesan begitu lancang. Tapi masa bodoh! Aku butuh sandaran saat ini juga. “Maafkan aku, Yifan. Maaf,” racauku. Aku terus mengulang kata ‘maaf’.

Yifan mengusap punggungku dengan lembut. “Ssst, sudahlah, Jess. Berhentilah menangis dulu,” bisik Yifan di telingaku.

Tapi seolah tak mendengar bisikan Yifan, aku justru menangis semakin keras. Aku juga heran, kenapa tangisankan tak bisa dikendalikan dan terdengar seperti anak kecil?

“Berhentilah menangis, maka aku akan memaafkanku,” bisik Yifan lagi.

Aku langsung mendongak menatap Yifan dengan mataku yang basah. “Benarkah?”

Yifan mengangguk sambil tersenyum. Tangannya pun menghapus air mata yang membasahi wajahku. “Sudah, ya? Sekarang, berhentilah menangis,” pintanya lembut.

Ya Tuhan! Kenapa ada manusia sebaik Wu Yifan? Atau jangan-jangan, Yifan adalah malaikat yang sengaja Kau kirim untuk mengubah sikap kerasku selama ini?

“K-kenapa kau semudah itu memaafkanku?” tanyaku sambil mengusap jejak-jejak air mata yang tersisa di wajahku. Aduh, aku bahkan melupakan bagaimana buruknya penampilanku saat ini? Bayangkan saja, Jessica Jung yang super duper cantik ini mendadak menjadi aneh hanya karena air mata yang melunturkan make up-ku. Menyedihkan.

“Karena aku mencintaimu.”

Aku tersipu. Ah, pasti pipiku sudah merona merah. “Tapi, kenapa kau mencintaiku? Aku sudah pernah melakukan kesalahan padamu, Yifan,” tanyaku bingung.

Yifan tersenyum. “Kau ingat, kenapa aku jatuh cinta padamu dulu?” Yifan justru balik bertanya padaku.

Aku termenung. Aku mencoba mengingat-ingat. Seingatku, aku tak pernah bertanya tentang hal itu. Yifan juga tak pernah menceritakan alasannya padaku. “Hm, karena aku baik? Pintar? Lucu? Cantik?” tebakku asal-asalan.

Yifan mengacak pelan rambutku, sambil tertawa renyah.

Ah, aku tak bisa membayangkan seburuk apa penampilanku saat ini.

“Bahkan aku masih bisa mengingat setiap detail alasanku jatuh cinta padamu,” balas Yifan.

“Jadi, apa?” tanyaku penasaran.

Yifan tersenyum. “Alasanku adalah…” Yifan menarik nafas dalam-dalam. “Aku mencintaimu tanpa alasan.”

“Eh?” Aku bingung dengan ucapan pria ini. “Apa maksudmu?” tanyaku heran.

“Karena aku mencintaimu tanpa alasan, maka aku pun tak pernah punya alasan untuk tidak mencintaimu, apalagi membencimu.”

Dan bisa kupastikan bahwa wajahku sudah seperti kepiting rebus yang minta untuk segera disantap. Aigoo, ini memalukan!

.

Sayangnya, tak ada alasan untuk jatuh cinta.

Karena begitulah arti cinta sejati.

.

.

END

Lagi-lagi, ini terinspirasi dari pengalaman pribadi. Seharusnya, ini masih lanjutan dari tragedi Direct Message (ingat ff TaoYul yang From Twitter with Love?). Tapi aku sengaja milih pairing KrisSica, karena aku kangen dengan pairing ini. Tapi sekarang, udah jarang, ya? Makanya, aku bikin KrisSica aja, hoho ^o^

Oiya, jangan lupa kunjungi blog baruku : SNSD Fanfiction Indo

Last, mind to review?

Love,

Jung Minrin

2 responses to “[Vignette] The Reason for Falling in Love

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s