[Ficlet] Jebbal

Jebbal

Jebbal

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

SNSD Tiffany || DBSK Yunho || Jung Yoogeun

Length : Oneshot || Rating : PG-15 || Genre : Romance, Marriage Life, Fluff

WARNING :

Kiss Scene (just a little ^^v)

Note :

Sebenarnya, ide ff ini termasuk dalam proyek ff dengan temenku. Berhubung ada kendala, akhirnya, aku memutuskan untuk bikin ff ini jadi ficlet. Tapi ide ini murni punyaku, kok🙂

Hope you enjoy it!

***

“Appa, appa.”

Tiba-tiba, suara putraku―Jung Yoogeun―memecahkan keheningan yang terjadi di dalam mobil. Aku segera memperhatikan Yoogeun yang berada di pangkuanku. Kulihat tangan mungilnya itu sudah menarik-narik ujung jas ayahnya, sekaligus suamiku―Jung Yunho.

Aku pun segera menarik tangan Yoogeun dari jas Yunho dan memeluk tubuhnya dengan erat. Aku pun membisikkan sesuatu di telinganya, “Ish, Yoogeun, jangan mengganggu Appa, ne? Appa kan, sedang menyetir,” kataku memperingatkannya.

Yoogeun menggembungkan pipinya dengan kesal, lantas melipat tangannya di depan dada. “Umma tidak asyik,” gerutu Yoogeun.

Aku tersenyum kecil, lantas mencubit pipinya digembungkan itu.

“Ada apa, Yoogeun-aa?” Tiba-tiba, Yunho membuka suaranya.

Kulirik suamiku yang masih terfokus dalam mengemudikan mobilnya menuju ke sekolah Yoogeun. Jujur saja, aku masih takut dengannya. Atmosfir hubungan kami tidak cukup baik akhir-akhir ini. Beberapa hari yang lalu, Yoogeun merengek padaku untuk diberi adik. Maka dari itu, aku membahas hal ini dengan Yunho. Tapi, Yunho justru tidak setuju dan justru balik memarahiku. Padahal, aku kan, hanya bertanya dan tidak memaksa, lagipula ini kan, permintaan Yoogeun, putra kandungnya.

Hei! Lagipula, aku bukan wanita yang memiliki pikiran yang mesum, memaksa melakukan ‘sesuatu’ dengan Yunho.

Aku hanya berdoa dalam hati, semoga saja Yoogeun tidak membahas hal ini dengan ayahnya. Yah, bisa jadi, hubunganku dan Yunho akan semakin memburuk.

“Appa, bolehkah aku meminta sesuatu?”

Aduh! Mati kau, Jung Miyoung!

Kulihat, Yunho menoleh ke arah Yoogeun, sambil menyolek pipinya sekilas. “Tentu saja boleh, Chagi,” balas Yunho riang.

Sementara aku senantiasa memalingkan wajahku. Intinya, aku tak ingin bertatap muka dengan Yunho.

“Appa, aku ingin…”

Kumohon, jangan minta adik pada Ayahmu, Jung Yoogeun.

“pergi ke toko buku dengan Appa,” lanjut Yoogeun.

Aku mendesah cukup keras.

Yunho dan Yoogeun langsung menatapku curiga.

“Eh, kenapa menatapku seperti itu?” gumamku, lantas menundukkan kepalaku.

“Pergi ke toko buku, ya?” balas Yunho dengan sedikit bergumam. Mungkin saja, dia sedang menimbang-nimbang. Maklum saja, dia adalah seorang CEO di Jung Corporation, sehingga ia begitu sibuk. Bahkan, aku sempat berpikir bahwa keluarga Yunho adalah pekerjaannya. Ia lebih sering megutamakan pekerjaannya dibanding keluarganya sendiri.

“Yoogeun, kau pergi saja dengan Umma, ya?” Sebelum Yunho sempat menjawab, aku segera menawarkan diriku pada Yoogeun.

Yoogeun menggelengkan kepalanya dengan imut, lantas menyentuh hidungku. “Ani. Aku bosan dengan Umma terus,” ucapnya manja. “Aku ingin dengan Appa. Jadi, bagaimana, Appa?” tanya Yoogeun sambil menatap ayahnya dengan penuh harap.

Yunho menoleh ke arah Yoogeun dan tersenyum. “Arra, arra. Kau akan pergi dengan Appa,” balasnya. Ia pun kembali fokus pada jalanan.

Demi apapun yang ada di dunia ini, senyuman Yunho tadi sangat manis dan indah. Sudah berapa lama ya, aku tidak melihatnya tersenyum seperti itu?

“Tapi dengan catatan, Umma-mu harus ikut,” imbuh Yunho tegas.

“Mwo?” Aku melongo sambil menatap Yunho.

“Yeyeye!” Yoogeun mulai terlonjak pelan dengan senang di atas pangkuanku.

“Tak ada bantahan, Jung Miyoung,” bisiknya tegas.

Aku hanya mendesah pelan. Bukannya aku tak ingin menemani putraku pergi ke toko buku, tapi kan, kasusnya berbeda. Yunho juga akan ikut dengan kami! Aku pasti akan terasa kikuk ketika berada di sampingnya.

Sisa perjalanan kami menuju sekolah Yoogeun pun hanya kami lewatkan dengan saling terdiam. Hanya Yoogeun yang sedang bersenandung kecil, menciptakan melodi tersendiri di dalam mobil keluarga kami.

***

“Nah, kita sudah sampai!” seru Yunho sambil mematikan mesin mobilnya.

“Ayo, Yoogeun! Kita turun,” ajakku, lantas membuka pintu mobil dan turun dengan Yoogeun. Aku segera menurunkan Yoogeun di atas tanah dan merapikan seragam sekolahnya yang sedikit kusut di beberapa bagian karena posisi duduk kami.

“Siap, Jagoan kecil?” celetuk sebuah suara.

Aku yakin, itu pasti suara Yunho. Tapi, aku berusaha mengabaikannya.

“Ne, Appa!” Yoogeun nampak mengangguk dengan penuh semangat.

“Nah, sekarang, kau masuk sana!” perintah Yunho dengan suaranya yang terdengar ramah.

Ya Tuhan! Kenapa aku merindukan Yunho yang selalu memperlakukanku dengan baik?

Tiba-tiba, aku teringat akan sesuatu. Jika Yoogeun sudah tiba di sekolahnya, itu berarti aku harus pulang berdua saja dengan Yunho? Berdua saja? Aigo, tamatlah riwayatmu, Jung Miyoung.

“Oiya, aku lupa sesuatu!” seru Yoogeun.

Aku langsung tersadar dari lamunanku. “Kau lupa apa, Yoogeun-aa?” tanyaku.

Yoogeun nyengir. “Sebenarnya, bukan aku yang lupa, tapi Appa dan Umma yang lupa,” ucapnya sambil terkekeh pelan.

Aku mengernyit heran. Apa lagi yang akan dilakukan Yoogeun setelah ini?

“Apa, Chagi?” tanya Yunho lembut.

“Appa belum mencium Umma hari ini,” ucap Yoogeun tak berdosa.

“Mwo?” Aku begitu terkejut.

Sementara Yunho terdiam dan memasang wajah tenangnya.

“K-kau harus segera masuk, Yoogeun-aa. K-kau tak ingin terlambat, kan?” Aku mengingatkan Yoogeun dengan gugup. Intinya, aku harus menghindari kontak fisik dengan Yunho. Aku masih takut dengannya.

Yoogeun mengerucutkan bibirnya kesal. “Ayolah, Umma. Biasanya, Appa juga mencium Umma, kan? Jebbal…” mohon Yoogeun sambil mengeluarkan puppy eyes andalannya.

Aku hanya terdiam, sambil menggigit bibir bawahku karena terlalu gugup.

Yunho mendesah berat. “Baiklah,” ucap Yunho. Terkesan pasrah, eoh?

Aku menatap Yunho dengan gugup. Mataku seolah bertanya, ‘Kau serius?

Yunho hanya menarik salah satu sudut bibirnya, tanda bahwa ia menjawa, ‘Ya.

“T-tapi, aku malu. Ini di depan umum,” bisikku pada Yunho.

Yunho seolah tidak peduli dan semakin mendekatkan diri ke arahku. Wajahnya mendekat ke arahku.

Karena terlalu gugup, aku pun menutup kedua mataku dengan erat.

Kurasakan bibir tebal milik Yunho menyapu permukaan bibirku. Awalnya, bibir kami memang hanya bersentuhan. Namun, tiba-tiba, Yunho mulai melumat bibirku dengan lembut.

Sementara aku? Aku hanya terdiam dan tidak membalas perbuatan Yunho. Beginilah aku. Aku selalu terbuai dengan sentuhan Yunho, sehingga tak bisa berpikir jernih, apalagi melakukan sesuatu.

Tak lama, Yunho pun melepaskan tautan bibirnya denganku.

Aku melenguh pelan dan segera mengatur nafasku. Aku membuka mataku dengan melihat wajah Yunho yang masih begitu dekat dengan wajahku. Ia tersenyum manis ke arahku. Ya Tuhan, kenapa suamiku semakin tampan saja?

Yoogeun tertawa pelan. “Gomawo, Appa, Umma! Aku masuk ke kelas dulu, ne!” seru Yoogeun, sambil mulai berlari meninggalkan aku dan Yunho.

“Hati-hati!” balas Yunho pada Yoogeun.

Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Aku malu sekali karena aku terlihat begitu menikmati ciuman ringan kami, meski kami dalam keadaan bertengkar seperti sekarang.

Tiba-tiba Yunho melingkarkan lengan kekarnya ke pinggangku dan menarik tubuhku mendekat. Bisa kurasakan nafasnya di sekitar telingaku. “Maafkan aku, ne?” bisiknya lembut.

Aku menoleh ke arah Yunho dan menatapnya. “U-untuk apa?” tanyaku dengan suara yang bergetar.

“Karena membentakmu beberapa hari yang lalu,” jelas Yunho. “Sungguh, aku terlalu lelah saat itu dan kekesalanku justru kutumpahkan padamu,” lanjutnya. “Maafkan aku, Jung Miyoung,” ulangnya.

Aku merasa air mata mulai menggenangi mataku. Kenapa aku cengeng sekali, sih?

“Kenapa kau malah menangis, Tiff?” tanya Yunho cemas, sambil mengusap air mataku.

Aku terisak pelan. “Kau membuatku takut, pabbo!” balasku di sela isakanku.

“Ne?” Yunho nampak bingung.

“A-aku takut, kau benar-benar marah padaku dan akan meninggalkanku,” jawabku.

Yunho tersenyum kecil, lantas membawaku dalam dekapannya. “Kau yang bodoh, Jung Miyoung,” bisiknya di telingaku. “Mana mungkin, aku meninggalkan wanita yang telah memberiku kebahagiaan? Kau adalah satu-satunya wanita yang kucintai,” lanjutnya.

Aku tak merepons apapun dan tetap terisak dalam dekapannya.

“Sudah, sudah. Hentikan tangisanmu,” bisiknya lembut. “Katanya kau malu di depan umum,” lanjut Yunho.

Aku mengangguk pelan dan segera menghapus air mataku.

Yunho membantuku menghapusnya dengan jemarinya. “Kurasa, aku harus mengambil cuti hari ini,” ucapnya.

Aku mengernyit. “Waeyo?” tanyaku bingung. Sungguh, ini adalah keajaiban, jika Yunho mengambil cuti sesuai inisiatifnya sendiri. Maklum saja, selama ini, ia mengambil cuti hanya jika dipaksa oleh ibu atau ayahnya.

“Bukannya Yoogeun minta adik? Kenapa kita tidak membuatnya saja sekarang?”

“Yak! Dasar beruang mesum!”

“Hahaha…”

END

Entahlah, aku merasa tingkat keyadonganku meningkat akhir-akhir ini >,<

Walaupun cuma sebatas ciuman, tapi rasanya aneh aja. Soalnya, nggak pernah bikin begituan, sih :3

Dan huwaa, Yoogeun!!! Noona is falling in love with youuuu🙂

Aduh, boleh nggak sih, dia dipinjem bentaran aja? *dijitak*

Don’t forget to leave your comment ^^

Love,

Jung Minrin

6 responses to “[Ficlet] Jebbal

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s