[Oneshot] Yoboseyo?

Yoboseyo

Title : Yoboseyo?

Author : Isaac Sachii / Jung MInrin (@reddsky_10)

Cast :

SNSD Yuri

DBSK Yunho

Bigbang G-Dragon

Super Junior Heechul

Length : Ficlet

Rating : G

Genre : Romance, Fluff

***

Yuri’s POV

When I see you smile 
I can face the world, oh oh,
you know I can do anything

Reff lagu ‘When I See You Smile’ mengalun dengan indahnya. Itu adalah dering ponselku, tanda sebuah panggilan masuk.

Kuletakkan majalah fashion yang kubaca di atas meja, lalu mengambil ponselku yang tergeletak di atas sofa, di sampingku. “Yoboseyo?”, sapaku, setelah menekan tombol ‘Answer’ pada ponselku.

Untuk sekian detik, tak ada jawaban di seberang sana. Suasananya juga terdengar begitu hening. Tak ada keributan sedikitpun. Siapa yang sedang meneleponku?

TUT… TUT… TUT…

Sambungan telepon terputus. Aku hanya bisa mengernyitkan dahiku, menatap ponselku dengan penuh tanya. Aku memeriksa kembali nomor telepon yang baru saja menghubungiku. Nomor itu tidak terdaftar dalam kontak ponselku.

Ah, kira-kira, siapa penelpon itu?

Oh, pasti hanya salah sambung.

“Hei, Yul!”, panggil seseorang padaku.

Aku mendongak. Kulihat Jiyong Oppa yang baru saja masuk ke dalam rumah. “Ne, Oppa?”, balasku.

“Kau tak pergi ke kantor?”, tanya Jiyong Oppa.

Aku tersenyum tipis. “Ani, Oppa.”, jawabku. “Entah kenapa, hari ini, bos-ku memberiku cuti.”, jelasku.

“Eh? Jinjja?” Jiyong Oppa nampak tidak percaya. Ia pun berjalan mendekatiku di ruang tengah. “Wah, nampaknya, kau harus berhati-hati, Yul.”, ucapnya serius.

“Waeyo, Oppa?”, tanyaku heran.

“Bisa saja, ini adalah semacam modus yang digunakan bos-mu untuk memecatmu.”, duga Jiyong Oppa.

“Yak, Oppa! Kau mendoakanku supaya dipecat, ya?”, sungutku kesal.

Jiyong Oppa terkekeh pelan. “Aniyo, Yul. Aku hanya menduga-duga saja.”, jelasnya. “Lagipula, kulihat bos-mu itu agak sadis, ya?”, tanya Jiyong Oppa.

Aku terdiam, berpikir sejenak. “Mwolla, Oppa.”, jawabku. “Selama ini, Jung Sajangnim selalu memperlakukanku dan karyawan lainnya dengan baik, meski dia tidak terlalu akrab dengan kami.”, jelasku.

Jiyong Oppa mengangguk mengerti. “Arrasseo. Tapi kau harus tetap waspada, ne?”, kata Jiyong Oppa mengingatkan.

Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.

Jiyong Oppa mengacak rambutku pelan. “Ah, aku akan ke kamarku dulu. Ada beberapa berkas yang harus kuambil lagi.”, jelas Jiyong Oppa.

“Ne, Oppa.” Aku mengangguk.

Jiyong Oppa segera melesat ke lantai dua, menuju kamar pribadinya.

Begitulah Jiyong Oppa, sosok pekerja keras. Aku tahu, kalau ia baru saja pulang dari kantor sejak kemarin. Dan sekarang, ia akan kembali lagi ke kantornya. Walaupun dia begitu sibuk―begitu pula denganku―tapi kami masih berkomunikasi dengan baik. Kami masih sering ngobrol atau bercanda di waktu senggang kami.

Aku hanya tinggal bersama Jiyong Oppa, karena orang tua kami tinggal di Jepang, semenjak Appa dipindah tugaskan disana. Semenjak saat itu, kami berdua berusaha untuk hidup mandiri. Saat itu, Jiyong Oppa sudah bekerja di sebuah perusahaan advertisement, sementara aku masih kuliah. Kadang, Jiyong Oppa-lah yang membantuku, jika aku membutuhkan keperluan mendadak. Jadi, aku harus sangat berterima kasih padanya. Bahkan, sampai sekarang pun, aku masih sering merepotkannya.

Kini, aku juga sudah bekerja. Aku bekerja sebagai seorang sekretaris seorang CEO muda bernama Jung Yunho. Yah, dialah Jung Sajangnim yang sempat kubahas dengan Jiyong Oppa tadi. Jung Sajangnim adalah namja yang baik, tapi nampaknya tidak mudah bersosialisasi, kecuali jika berkaitan dengan pekerjaan.

Jung Sajangnim mirip dengan Jiyong Oppa dalam hal gila kerja. Beliau sering lembur kerja hingga larut malam. Perusahaannya memang perusahaan yang sukses di Korea. Jadi, pekerjaannya memang cukup banyak.

Maka dari itu, saat Jung Sajangnim memberiku cuti, aku juga sempat heran. Selama aku berada di sisinya saja, dia masih kewalahan menyelesaikan pekerjaannya. Bagaimana kalau aku tidak ada?

Ah, bukannya aku terlalu percaya diri atau apa. Hanya saja, ini terlalu janggal bagiku.

Sekilas, pikiran buruk tentang rencana Jung Sajangnim akan memecatku, terlintas di pikiranku. Bagaimana kalau dugaan Jiyong Oppa benar-benar terjadi?

Ani, Kwon Yuri. Tidak mungkin, Jung Sajangnim sekejam itu padamu.

Daripada aku pusing memikirkan hal ini, aku lebih baik kembali melanjutkan kegiatanku tadi, membaca majalah fashion favoritku.

When I see you smile 
I can face the world, oh oh,
you know I can do anything

Ponselku kembali berdering.

Aish, siapa lagi yang menelepon kali ini?

Kulihat sekilas di layar ponselku. Lagi-lagi, nomor tak dikenal itu. Aku pun memencet tombol ‘Answer’ dan segera menempelkan ponselku ke telinga. “Yoboseyo?”

Hening lagi.

Aish! Siapa sih, yang meneleponku ini?

“Yoboseyo?”, ulangku dengan nada kesal. “HALLO? SIAPA INI?” Kuucapkan dua kalimat itu dengan penuh penekanan. Aku benar-benar kesal dengan si penelepon ini.

TUT… TUT… TUT…

Aish! Sambungan teleponnya kembali terputus begitu saja. Ya Tuhan, apa maksud orang itu?

Hah, aku tahu! Sepertinya, dia takut setelah mendengar suaraku yang mengerikan tadi. Mirip seperti ibliskah? Hahaha. Ya, sepertinya, aku berhasil meniru Heechul Oppa―rekan kerjaku―yang mirip iblis itu *digetok Heechul*

When I see you smile 
I can face the world, oh oh,
you know I can do anything

Belum sempat aku meletakkan ponselku, sekarang ponselku kembali berdering. Aku menatap kesal ke arah ponselku.

Benar saja! Nomor tak dikenal itu kembali meneleponku.

Aku segera memencet tombol ‘Answer’ dan kembali menempelkan ponselku ke telinga. “Yoboseyo?!” Kali ini, suaraku meninggi. Agak membentak, mungkin? “Yoboseyo? Hei, kau bisa mendengarku, kan? Siapa ini?”, tanyaku kesal.

“K-kwon Yuri?” Suara di seberang sana terdengar bergetar ketakutan.

“Ne, aku Kwon Yuri.”, jawabku ketus. “Nuguseyo?”, tanyaku.

“A-aku―”

TUT… TUT… TUT…

Aish, lagi-lagi sambungan telepon itu terputus. Sebenarnya, apa yang terjadi pada penelepon itu? Apa dia gugup? Atau mengalami kelainan dalam berkomunikasi?

Karena penasaran, aku pun mencoba menghubungi nomor tak dikenal itu.

Tapi, apa yang kudapat?

Penelepon itu menonaktifkan ponselnya.

Sial!

Oke, penelepon menyebalkan itu benar-benar menyebabkan mood-ku menjadi hancur. Hari libur yang kuharapkan menjadi hari yang indah, justru menjadi hari yang menyebalkan.

Ah, sepertinya, aku harus segera kembali ke kantorku saja. Mungkin, berkutat dengan tumpukan dokumen disana akan jauh lebih baik dibandingkan diteror dengan penelepon menyebalkan itu.

KRING… KRING… KRING…

Kali ini, telepon rumahku yang berdering.

Oh, jangan bilang, kalau penelepon kali ini adalah penelepon yang sama dengan yang menelepon ponselku. Aku pun segera berlari ke arah telepon rumahku, untuk menjawab panggilang itu. “Yoboseyo?”, sapaku. Kali ini, aku berusaha bersikap ramah, karena siapa tahu, telepon itu bukan dari si penelepon menyebalkan itu.

“B-benarkah ini telepon rumah Kwon Yuri?”, tanya sebuah suara berat di seberang sana.

“Ne, benar.”, jawabku mantap. “Aku Kwon Yuri. Nuguseyo?”

“Urm, ini Jung Yunho.”, ucap suara tersebut.

Mwo?! Jung Yunho? Yunho yang itu? Jung Sajangnim? Bos-ku yang baik itu? “Ne? Jung Sajangnim?”, tanyaku gugup.

“Ne, Yuri-ssi.”, jawab namja yang mengaku sebagai Jung Yunho itu.

“Ah, ada apa, Sajangnim?” Kuubah suaraku menjadi lebih sopan.

“Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, Yuri-ssi.”, balasnya.

“Nde?” Entah kenapa, dadaku berdegup kencang. Sepertinya, akan ada sesuatu yang terjadi. Jangan-jangan, Jung Sajangnim berniat membahas mengenai pemecatanku?

“B-begini,” Suara Jung Sajangnim terdengar begitu gugup.

Apa yang sedang terjadi sebenarnya?

“Bisakah kau datang ke kantor sekarang?”, tanya Jung Sajangnim.

“Ke kantor?”, ulangku.

“Ne. Kau tidak sibuk, kan?”

“Ani, Sajangnim. Saya akan segera kesana dalan 10 menit.”, ucapku cepat. Kurasa, hidupku benar-benar sedang dipertaruhkan. Aku harus pergi ke kantor sekarang juga.

“Berhati-hatilah, Yuri-ssi.”

Sebelum kututup telepon rumahku, sayup-sayup kudengar Jung Sajangnim memperingatkanku begitu.

Itu adalah kalimat yang begitu ambigu. Apa maksudnya dengan berhati-hati? Berhati-hati di perjalanan atau berhati-hati karena aku akan segera dipecat?

Aku pun segera berlari, menyambar kunci mobilku dan menuju ke garasi. Aku harus berangkat sekarang juga.

End of Yuri’s POV

***

Author’s POV

“Dasar Jung Yunho pabbo!”, celetuk Heechul pada Yunho yang baru saja mengakhiri panggilan teleponnya ke Yuri.

“Waeyo, Hyung?”, tanya Yunho tanpa rasa bersalah.

“Ya! Kenapa kau tidak mengatakannya saja?”, tanya Heechul kesal.

Yunho mendesah pelan. “Ayolah, Hyung. Yuri adalah cinta pertamaku. Aku harus memberi kesan yang baik untuknya.”, ucap Yunho.

“Ya! Tapi tidak dengan meneleponnya berulang kali tanpa membuka suara, hingga membuatnya kesal padamu. Untung saja, dia tak menyadari kalau penelepon sebelumnya tadi adalah dirimu.”, celetuk Heechul.

Yunho tertawa pelan, lalu menggaruk tengkuknya dengan perasaan canggung. “Aku terlalu gugup, Hyung. Ini adalah pengalaman pertamaku.”, ungkap Yunho.

“Ya, ya.”, ucap Heechul asal.

“Hyung, doakan semoga aku berhasil, ne?”, mohon Yunho.

“Ne, nae dongsaeng.”, balas Heechul.

BRAK!

“Annyeong, Sajangnim!”

Yunho dan Heecul sama-sama berjingkat kaget.

Sosok Yuri muncul dari balik pintu yang baru saja dibukan dengan kasar. Yeoja itu nampak kelelahan, terbukti dari nafasnya yang terengah-engah.

Heechul berbisik pelan, “Good Luck, Jung Yunho.”

Yunho menyeringai. Dia harus bisa menyatakan perasaannya pada yeoja ini. Pada yeoja pertama yang telah membuatnya jatuh cinta. Pada sekretarisnya sendiri. Pada yeoja bernama Kwon Yuri.

END

***

FF apa ini?! *ngumpet di balik Yunho*

Sebenernya, ff ini terinspirasi sama dua foto yang aku pake buat poster di atas. Jadinya, aku pingin bikin ff tentang telepon dan jadilah ff abal ini.

Entah kenapa, aku bener-bener tergila-gila sama Yunho. Dan aku sih, masa bodo, entah siapapun pairingnya. Awalnya sih, aku ngerasa pairing Yunho-Yuri emang cocok banget, karena keduanya sama-sama mewakili image seksi.

Ah, rasanya, cukup sekian deh, cuap-cuap author kali ini.

Need sequel? *kedip-kedip mata*

Don’t forget to leave your comment, okay?

Bye-bye ^^

Love,

Jung Minrin

3 responses to “[Oneshot] Yoboseyo?

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s