[100 Love Songs] My First Kiss

My First Kiss

[100 Love Songs]

My First Kiss

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

transformed from Idwinaya

EXO-M Luhan || SNSD Seohyun

EXO-M Lay || SNSD Sooyoung || SNSD Yoona

Length : Oneshot || Rating : PG-15 || Genre : Romance, Friendship, Fluff

WARNING :

Kissing Scene (Failed -_-)

Note :

Setelah sekian lama nggak menyentuh dokumen 100 Love Songs, akhirnya aku balik lagi dengan proyek ini, hoho ^o^

Kali ini, ff request-an dari Verissha_shasa. Semoga kamu suka🙂

Dan untuk pembaca lainnya, semoga terhibur ^^

Happy reading!

***

She won’t ever get enough

Once she gets a little touch

If I had it my way

You know that I’d make her say…

Oooh…

-My First Kiss by 30H!3 ft. Ke$ha-

***

“Mwo? Kalian belum pernah pernah berciuman?!” seru Sooyoung dan Yoona kompak.

Seohyun hanya menunduk malu, setelah mengutarakan pengakuannya.

“Aigo, Saengie…” Sooyoung hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

“Seo Joohyun, kau benar-benar menyedihkan,” gumam Yoona sambil ikut-ikutan menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak tahu harus berbuat seperti apa, Unnie,” cicit Seohyun.

“Aish! Memangnya, kau tak pernah melihat film drama, ya?” tanya Sooyoung jengkel.

“Benar, benar!” Yoona mengangguk setuju. “Kau bisa belajar cara ciuman dari film Amerika. Ada French Kiss, American Kiss…”

PLETAK!

“Yak, Choi Sooyoung!” seru Yoona jengkel pada Sooyoung yang baru saja menjitak puncak kepalanya dengan cukup keras. “Kenapa kau menjitakku, eoh?” tanyanya sambil mengelus puncak kepalanya.

“Kenapa kau yadong sekali?” tanya Sooyoung tak percaya.

Yoona hanya nyengir tak berdosa.

“Ah, aku tahu, kau pasti diajari oleh si Jongin itu, kan?” tuduh Sooyoung. Jongin memang terkenal yadong dan dia adalah kekasih Yoona.

Lagi-lagi, Yoona hanya meringis. Tak ingin memberikan jawaban atas pertanyaan Sooyoung.

“Kenapa Unnie malah bertengkar?” rajuk Seohyun manja, lalu mengerucutkan bibirnya kesal.

Sooyoung memalingkan wajahnya dan kembali menatap Seohyun. “Jadi, bagaimana?” tanya Sooyoung.

“Unnie, bukannya aku tak mengerti caranya ciuman,” elak Seohyun. “Eh, tapi aku memang tidak mengerti caranya ciuman.”

Sooyoung dan Yoona mengernyit bingung.

“Tapi, bukan itu pokok masalahnya!” seru Seohyun sambil mengacak rambutnya frustasi.

Sooyoung dan Yoona saling bertatapan. “Lalu?”

“Aku bingung cara mengajak Luhan Oppa untuk berciuman,” ucap Seohyun lirih.

“MWO?” Sooyoung dan Yoona sama-sama melongo.

Sedetik kemudian, Sooyoung pun tertawa terbahak-bahak. “Aigo, Seohyunnie, percuma kalau kau pintar tapi tak bisa mencari cara untuk mengajak namjachingumu berciuman,” kata Sooyoung di sela tawanya.

Yoona hanya mendengus pelan melihat Sooyoung yang masih tertawa. “Masa kau tidak bisa mencari caranya, Seo? Kau kan, pintar,” timpal Yoona.

Seohyun menunduk lagi dan menautkan jemarinya. “Bukannya begitu, Unnie,” jawabnya malu. “Aku hanya malu untuk mengutarakannya pada Luhan Oppa,” lanjutnya masih nampak malu.

Yoona menepuk jidatnya. “Maka dari itu, buang rasa malumu itu!” perintah Yoona.

Seohyun mendongak menatap Yoona. ‘T-tapi, bagaimana caranya, Unnie?” tanya Seohyun masih bingung.

“Kau harus mulai percaya diri, Seo,” jawab Yoona.

“Benar, benar,” timpal Sooyoung yang sudah berhenti tertawa. “Coba kau goda-goda Luhan sedikit saja. Kau berani atau tidak?” tantang Sooyoung.

Seohyun mendesah keras. “Aku belum pernah menggoda Luhan Oppa!” seru Seohyun. “Aish, ottokhae?”

Sooyoung dan Yoona sama-sama mendesah pelan, memikirkan nasib malang dongsaeng mereka.

***

“Hei, Happy Birthday!” seru Lay pada Luhan yang baru saja melangkah keluar dari lapangan basket. Lay langsung merangkul pundak sahabatnya itu.

Luhan menoleh ke arah Lay dan menunjukkan wajah bingung. “Happy birthday?” tanyanya bingung. “Kau tak salah, Lay? Hari ulang tahunku masih 2 hari lagi,” jelas Luhan.

Lay tertawa pelan. “Ya, ya. Aku tahu itu,” balasnya enteng.

“Lalu?”

“Berhubung nanti aku harus berangkat ke Busan untuk mengikuti turnamen selama sepekan, jadi aku tak bisa mengucapkannya pada harinya,” jelas Lay. “Daripada terlambat, lebih baik mendahului,” imbuhnya.

Luhan hanya terkekeh pelan mendengar celotehan Lay.

“Kau akan mengadakan pesta, eoh?” tanya Lay.

“Tidak,” jawab Luhan sambil menggeleng.

“Waeyo? Tumben sekali.” tanya Lay heran.

Luhan tersenyum kecil. “Tak apa. Lagipula, aku sudah dewasa, jadi tak perlu mengadakan hal semacam itu,” elak Luhan.

Lay mendengus pelan. “Aish, kau tak seru, Lu!” seru Lay jengkel. “Ah, iya, kau kan, sudah punya Seohyun. Tanpa pesta pun kau masih bisa bersenang-senang dengannya,” celetuk Lay.

Luhan hanya tersenyum tipis. Jika membahas Seohyun, rasanya Luhan semakin rindu dengan gadis itu. “Eh, ngomong-ngomong, kau tidak memberiku hadiah?” tanya Luhan sambil menyodorkan kedua tangannya.

Lay menggeleng. “No parties, no gifts!” Dan Lay pun tertawa.

Sementara Luhan hanya mendengus pelan.

***

“Oiya, sebentar lagi, Luhan berulang tahun, kan?” tanya Yoona memastikan.

“Iya,” jawab Sooyoung. “Benar kan, Seo?” tanya Sooyoung sambil menyikut pelan lengan Seohyun.

Seohyun yang sibuk memilih baju di butik pun terpaksa menoleh ke arah Sooyoung. “Ne. Waeyo?” balas Seohyun.

“Kau tak berniat membelikannya hadiah?” tanya Yoona.

Seohyun mendengus pelan dan kembali melihat baju-baju di hadapannya. “Memangnya perlu, ya?”

“Tentu saja perlu!” tegas Yoona dan Sooyoung bersama.

“Kau ini bagaimana sih, Seo? Tidak romantis!” komentar Sooyoung.

“Ah, aku tahu, aku tahu!” seru Yoona.

“Apa?”

“Kau pasti sudah menyiapkan hadiah untuk Luhan, kan?” tebak Yoona.

“Hadiah? Hadiah apa?” tanya Seohyun bingung.

“Sebuah ciuman,” bisik Yoona.

“Yak, Unnie!”

***

“Jadi, bagaimana Busan?” tanya Luhan pada Lay melalui sambungan telepon. Tangan kirinya yang tidak menggenggam ponsel digunakannya untuk menyingkap korden kamarnya dan memerhatikan keadaan di sekitar rumahnya yang nampak lengang dan tenang.

Lay tertawa di seberang sana. “Seperti biasa.”

“Nothing special?”

Nothing special,” tegas Lay.

Untung saja, aku tidak mengikuti turnamen itu,” gumam Luhan senang.

Ya, ya,” keluh Lay. “Tapi setidaknya, lebih baik aku berada di Busan daripada harus melihatmu bermesraan dengan Seohyun terus-terusan,” celetuk Lay.

“Hei!” seru Luhan lantas membali tubuhnya. “Siapa yang bermesraan? Aku dan Seohyun biasa saja,” protes Luhan.

Lay tertawa. “Ah iya, aku lupa kalau kekasihmu itu sangat pemalu. Mana mungkin, mau diajak bermesraan,” cibir Lay.

Luhan mendengus kesal. “Jangan membicarakan kekasihku,” ucap Luhan tajam.

Ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan hubungan kalian? Hm, kau sudah berciuman dengannya atau belum?” goda Lay, seolah mengabaikan peringatan Luhan.

Luhan hanya menggeram pelan.

Ah, baiklah, baiklah. Kau tak mau kita membahas Seohyun,” ucap Lay mengalah. “Tapi Lu, aku harus memperingatkanmu satu hal. Hubunganmu dan Seohyun sudah berjalan selama 1 tahun dan setidaknya kalian sudah berciuman. Sudah atau belum, aku tak peduli akan hal itu. Tapi hari ulang tahunmu adalah momen yang tepat bagi kalian untuk berciuman,” tutur Lay panjang lebar.

Luhan terdiam. Ia merenungi ucapan Lay. ‘Ciuman? Ciuman pertamaku dengan Seohyun?

***

“Yoboseyo?” ucap Seohyun pada ponselnya.

Yoboseyo,” balas seseorang di seberang sana.

“Luhan Oppa?” panggil Seohyun.

Ne?”

“Hm,” Seohyun memainkan ujung rambut panjangnya yang tergerai. “Besok adalah hari ulang tahun Oppa, kan?” tanya Seohyun memastikan.

Ne, Chagi,” balas Luhan lembut.

Tiba-tiba, pipi Seohyun merona ketika mendengar Luhan memanggilnya ‘chagi’.

Waeyo?” tanya Luhan.

Seohyn tertawa gugup. “Oppa ingin mendapat hadiah apa?” tanya Seohyun dengan polosnya.

Luhan tertawa renyah. “Surprised me!” perintah Luhan.

Seohyun menggerutu kesal. “Tapi aku kan, tak tahu apa yang sedang diinginkan Oppa,” rajuk Seohyun manja.

Luhan terdiam sejenak. “Bagaimana kalau…

Seohyun berdebar. Ia menyimak Luhan dengan seksama.

Ciuman?

***

Seohyun meremas-remas jemarinya sendiri, tanda bahwa ia sedang sangat gugup.

Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya pelan. “Kenapa kau ada disini, Seo?” tanya Yoona heran. Ia pun terduduk di samping Seohyun.

Seohyun tersenyum kikuk. “T-tidak apa-apa,” balas Seohyun bergetar.

Yoona mengernyit. “Kenapa kau begitu, Seo? Kau gugup?” tanya Yoona. Ia tahu betul ciri-ciri Seohyun yang sedang gugup atau cemas.

“A-aniyo,” elak Seohyun bohong.

“Kau yakin?” tanya Yoona. “Kalau kau ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku,” jelas Yoona.

Seohyun menatap Yoona lekat-lekat. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menimbang-nimbang. Tak lama kemudian, Seohyun langsung memeluk Yoona. “Unnie!”

Yoona nampak terkejut. “Aigo, ada apa, Saengie?” tanya Yoona cemas.

“Unnie, ottokhae?” tanya Seohyun frustasi.

“Apanya yang bagaimana?” tanya Yoona bingung.

“Luhan, Luhan Oppa,” racau Seohyun.

Yoona melepas pelukannya sejenak dan menatap Seohyun lekat. “Ada apa dengan Luhan? Dia melukaimu?” tanya Yoona kesal. “Awas saja kau, Xi Luhan! Aku akan…”

“Tidak, Unnie. Luhan Oppa tidak melukaiku,” cicit Seohyun.

“Lalu?”

“Tadi malam, aku bertanya pada Luhan Oppa, tentang kado apa yang diinginkannya,” tutur Seohyun. “Dan dia mengatakan kalau dia ingin…”

“Dia ingin apa?” tanya Yoona tak sabar.

“Dia ingin sebuah ciuman,” bisik Seohyun malu.

Mata Yoona nampak berbinar. “Jeongmal?” tanyanya tak percaya. “Wah, chukkae!”

Seohyun merengut tak suka.

“Tapi, kenapa kau malah cemberut begitu, Seo?” tanya Yoona heran. “Bukannya kau juga menginginkannya?”

“Aku kan, sudah bilang, kalau aku tak bisa berciuman!” tegas Seohyun.

Yoona tertawa keras. “Aigo, dasar kau ini!” seru Yoona di sela-sela tawanya. “Kau tak perlu khawatir, Saeng,” kata Yoona menenangkan.

Seohyun mendengus pelan. “Bagaimana aku tak khawatir, Unnie? Bagaimana kalau aku tak bisa menyenangkan Luhan Oppa?” tanya Seohyun bingung.

“Kau hanya perlu mengikuti nalurimu, Seo,” jelas Yoona. “Kau ikuti saja Luhan. Balas ciuman Luhan dengan hal yang sama. Arrasseo?”

Seeohyun berpikir sejenak dan akhirnya menjawab, “Ne, arrasseo.”

***

“Hai, Seo!” sapa Luhan pada Seohyun yang sudah terduduk di bangku taman sesuai janji yang telah mereka buat.

“Oh? Hai, Oppa!” balas Seohyun dengan agak gugup.

Luhan tersenyum kecil, lantas terduduk di samping Seohyun. “Apakah aku sudah menunggu lama?” tanya Luhan.

Seohyun tersenyum canggung. “Ya, tapi tak apa,” balas Seohyun.

Luhan menatap Seohyun lekat-lekat. Gadis itu kelihatan cantik sekali dengan gaun berwarna peach dan rambut panjang dan ikalnya yang dibiarkan tergerai dan dihiadi bando berbentuk bunga mawar. “Kau cantik sekali malam ini,” puji Luhan.

Seohyun tertunduk malu. “Gomawo, Oppa,” ucapnya malu. “Oppa juga sangat tampan,” timpal Seohyun.

Luhan tertawa pelan melihat tingkah lucu kekasihnya. “Ne, gomawo,” balas Luhan. “Jadi, mana hadiah untukku?” tanya Luhan.

GULP

Seohyun kesulitan menelan ludahnya. Kadar kegugupannya mendadak meningkat beberapa kali lipat. “A-aku…”

Luhan memperhatikan Seohyun dengan seksama. “Kau apa, Seo?” tanya Luhan lembut.

“Mianhae, Oppa. Mianhae, karena aku tak bisa memberimu hadiah,” ucap Seohyun bersalah. Tak disangka, matanya mengeluarkan air mata.

Luhan menangkup wajah Seohyun dan memandangnya lekat-lekat. “Aigo, uljima, Seo Joohyun. Kenapa kau menangis?” tanya Luhan cemas. Ia segera mengusap air mata Seohyun.

Seohyun terisak pelan. “Maaf, Oppa. Maaf, karena aku tak bisa memberikan hadiah yang kau inginkan,” ucap Seohyun. “Maaf Oppa, maaf.” Seohyun sibuk meracau.

Sementara Luhan sibuk menenangkan kekasihnya itu. Hingga akhirnya, ucapan Seohyun membuatnya tersadar.

“Maaf, karena aku tak bisa memberikan ciuman yang kau inginkan,” bisik Seohyun di tengah isakannya.

“Eh?!” Luhan nampak kaget. “C-ciuman?” tanya Luhan bingung.

Seohyun menatap Luhan. “Oppa menginginkan ciuman sebagai kadonya, kan? Maaf, karena aku belum bisa memberikannya malam ini,” ucap Seohyun malu.

Luhan mengernyit bingung. Otaknya mencoba mengingat. “Aigo, kau menganggap ucapanku kemarin dengan serius, Seo?” tanya Luhan kaget.

“Memangnya, Oppa tidak bersungguh-sungguh?” tanya Seohyun dengan polosnya.

Luhan tertawa pelan. “Tentu tidak, Chagi. Aku tidak akan memaksamu sebelum kau siap,” ucap Luhan tulus. “Lagipula, lebih baik aku tidak pernah mendapatkan ciuman selamanya darimu, daripada harus melihatmu menangis seperti ini,” imbuhnya.

“Jeongmal?” tanya Seohyun dengan mata yang berbinar.

“Ne.” Luhan mengangguk mantap.

“Tapi Oppa,” sela Seohyun. “Sebenarnya, aku juga ingin mendapat ciuman. Tapi,”

Luhan terdiam.

“Tapi aku bingung cara melakukannya,” bisik Seohyun.

Luhan tersenyum kecil. “Kau mau berciuman? Denganku?”

Seohyun memukul pelan dada Luhan. “Yak! Dengan siapa lagi kalau tidak denganmu, Oppa?” gerutu Seohyun.

Luhan tertawa kecil. “Kau sudah siap? Beberapa detik yang lalu, kau bahkan sudah menangis,” goda Luhan.

Seohyun merengut kesal. “Oh, ayolah, Oppa. Ajari aku, bagaimana?” tanya Seohyun manja.

Luhan menatap lekat-lekat pada Seohyun. Ia tak ingin dianggap sebagai pria yang hanya memanfaatkan situasi. “Tapi Seo, kau…”

“Oppa tak sayang padaku, ya?” tanya Seohyun.

“Bukannya begitu, tapi…”

“So, please…” mohon Seohyun.

Luhan mendesah pelan. “Baiklah kalau begitu,” gumamnya. “Kalau begitu, mendekatlah, Seo,” pinta Luhan

Seohyun pun mendekat.

Tangan Luhan terulur ke depan dan mendorong pelan tengkuk Seohyun, sehingga wajah Seohyun semakin dekat dengan wajahnya.

Seohyun yang gugup segera memejamkan matanya.

Luhan memosisikan bibirnya tepat di bibir Seohyun, hingga bibir mereka pun saling bersentuhan. Luhan pun mulai mengecup pelan bibir Seohyun. Awalnya hanya kecupan-kecupan ringan, hingga akhirnya, Luhan mulai memberanikan diri untuk melumat bibir bawah Seohyun.

Seohyun merasakan sensai aneh ketika Luhan melumat bibir bawahnya. ‘Rasanya nikmat,’ batin Seohyun. Namun, ia tak tahu harus merespons seperti apa. Hingga ia pun teringat kata-kata Yoona, “Balas ciuman Luhan dengan hal yang sama.” Seohyun pun mulai memberanikan diri untuk melumat bibir atas Luhan.

Luhan nampak puas karena akhirnya, Seohyun mulai membalas ciumannya.

Keduanya saling melumat. Memang hanya lumatan-lumatan kecil, namun memberi sensasi luar biasa bagi mereka berdua.

Luhan pun melepaskan tautannya dengan Seohyun. “Cukup, Seo. Aku tak ingin membuatmu kehabisan nafas karena berciuman denganku,” celetuk Luhan.

Benar saja, karena Seohyun nampak mulai kehabisan nafas hanya karena ciuman tersebut. Ia tersenyum canggung.

“Jadi, bagaimana?” tanya Luhan.

Seohyun terdiam sejenak. “Aneh, tapi nikmat,” ucap Seohyun malu.

Luhan tersenyum kecil. “Sudahlah, kita bisa melajutkannya kapan-kapan,” balas Luhan. “Saat ini, kita bisa berjalan-jalan. Malam ini terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja,” tutur Luhan. “Kajja!” ajak Luhan sambil menarik lembut tangan Seohyun.

Seohyun tersenyum kecil. Ciuman tadi memang nikmat. Namun, ia sadar bahwa Luhan adalah tipe pria yang mampu menahan nafsunya dan tidak sekedar memanfaatkan kesempatan yang ada. Ia begitu bersyukur mendapat kekasih yang pengertian seperti Luhan.

Oh, my first kiss…

***

“Luhan Oppa?”

“Ne, Seohyunnie?”

“Maukah kau mengajariku lagi?”

“Mengajari apa? Matematika?”

“Ani. Tapi, ciuman.”

END

Udah panjang belum? Jujur aja, aku males banget nulis fanfic yang panjang. Jadi, beginilah jadinya, so simple, so short ._.v

Kenapa? Karena aku kehilangan sense buat nulis ff, entah karena males atau bosan. Makanya, untuk sementara, aku beralih nulis fiksi kayak dulu. Kalo kalian kangen sama tulisanku *halah* kalian bisa kunjungi blog pribadiku –> Red Ocean, Red Sky. Sekarang, aku sering post fiksi disana🙂 Tapi, kalo aku lagi mood buat nulis ff, aku bakalan bikin 100 Love Songs atau FF series-ku dulu.

Dan maaf banget buat readers yang gorjezz dan nunggu FF Jessica (100 Love Songs atau Series), aku belum bisa penuhin, karena aku lagi bosen sama Jessica. Mungkin, karena ff Jessica udah terlalu banyak dan dulu aku udah sering bikin ff Jessica. Mungkin, untuk sementara waktu aku beralih ke Seohyun dulu atau cast lainnya. Semoga kalian bisa memahaminya ^^

Dan sumpah rasanya bingung banget tadi mau nulis adegan kissingnya. Jujur, aku emang suka baca ff yadong, tapi paling geli kalo disuruh bikin adegan begituan >,< Semoga kissing scene-nya nggak ancur-lah. Mohon dimaklumi karena aku emang nggak pernah ciuman, haha😄

Well, jangan lupa tinggalkan like atau komen untuk ff ini, ya?😉

Love,

Jung Minrin

 

3 responses to “[100 Love Songs] My First Kiss

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s