[Series] Buku Harian Cassie – Halte

tumblr_mbbtu32wmd1rfzzqfo1_500

Hai, namaku Cassie.

Aku hanyalah gadis biasa yang punya segelintir masalah dalam hidup.

Bersediakah kalian membaca kisahku?

Atau kalian mau membagi kisah denganku?

Mari kita saling berbagi

.

Aku menghela nafas panjang, ketika kedua kakiku mencapai halte bus yang berada di depan kampus. Aku hanya ingin melampiaskan rasa lelahku selama satu hari ini di kampus. Seperti biasa, aku masih berkutat dengan tugas-tugas dari dosen dan kegiatan persiapan bazaar yang akan diadakan 3 hari lagi.

Sekarang, aku harus menunggu jemputan dari Timmy.

Ya, akhir-akhir ini, aku sering pulang dengan Timmy. Kebetulan sekali, kalau jam kantor Timmy berakhir sore hari, sekitar ketika aku keluar dari kampus. Tidak selalu sama sih, kadang Timmy harus menunggu atau aku yang menunggu, seperti saat ini.

Well, kami masih berteman saja. Belum ada pernyataan cinta dari Timmy, apalagi dari aku.

Bukannya aku malu menyatakan perasaan cintaku, tapi karena memang aku belum merasakan getar-getar cinta pada Timmy. Yah, walaupun kadang aku merasa gugup ketika sekedar berdampingan dengan Timmy, atau pipiku mendadak ber-blushing ketika dia memuji penampilanku―padahal aku hanya memakai kaus dan celana jins.

Apakah itu sudah bisa dihitung sebagai getar-getar cinta?

Ah, aku tak ingin berharap terlalu jauh. Meski Timmy terkesan sangat baik padaku, aku khawatir itu sekedar sebagai formalitas, karena orang tua kami yang saling kenal. Jadi, daripada aku menjadi korban PHP―atau korban ke-GR-anku sendiri―jadi lebih baik aku menjaga baik-baik perasaan ini.

“Gue pulang duluan ya, Bro?”

“Iye! Pulang sana!”

“Serius elu nggak mau bareng kita?”

“Enggak, deh. Gue udah janjian sama sepupu gue!”

“Oke. Take care ya, Bro.”

“Sip.”

Kudengar suara-suara di sekitarku. Aku segera mencari-cari sumber suara, yang ternyata berasal dari tiga pemuda yang keluar dari kampus. Tiga pemuda itu sama-sama mengenakan kaus basket. Dua diantaranya sedang menaiki sebuah sepeda motor, sementara salah satunya sedang berdiri di samping mereka. Menurutku, salah satu dari mereka harus menunggu jemputan, sementara dua lainnya memutuskan untuk pulang.

Pemuda yang berdiri itu berjalan ke arah halte. Mata kami saling bertemu dan dia pun melemparkan senyumannya padaku.

Sebagai bentuk kesopanan, aku pun membalas senyumannya.

Pemuda itu memutuskan untuk duduk di sampingku, tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat.

Kami sama-sama terdiam, seolah enggan untuk membuka percakapan.

Daripada merasa canggung, aku pun mengeluarkan ponselku, lantas berpura-pura sibuk dengan ponselku. Padahal, aku hanya melihat-lihat koleksi foto atau isi kotak masukku. Sesekali, aku melirik ke arah pemuda itu.

Pemuda itu nampak sedang menikmati lalu lintas yang lengang di depan matanya. Meski dalam posisi duduk, aku yakin, bahwa ia memiliki tubuh yang tinggi dan tegap. Kulitnya berwarna sawo matang. Wajahnya tampan, sekaligus manis, mengingatkanku pada sosok Minho SHINee.

Dia pasti salah satu teman kampusku, hanya saja, aku memang tak pernah bertemu dengannya. Dari kaus yang dipakainya, aku bisa menebak bahwa ia salah satu anggota tim basket. Mungkin, dia baru saja mengikuti latihan basket.

Ah, kalau urusan tim basket kampus atau fakultas manapun, Alma pasti jauh lebih paham. Maklum saja, dia memang tergila-gila pada pria yang hobi bermain basket. Baginya, pria yang bermain basket itu pasti keren.

Menurutku?

Ah, tidak semuanya, sih. Walau bisa kuakui bahwa kebanyakan anak basket pasti keren dan menjadi idola―seolah menjadi tradisi sejak SMP hingga bangku kuliah. Bahkan, pemuda yang duduk di sampingku ini pun sudah masuk dalam kategori keren―untuk ukuran standarku. Selama ini, aku lebih tertarik dengan anak futsal atau sepak bola. Maklum saja, Ayahku adalah maniak sepak bola akut, meskipun adikku, Naya, juga seorang pebasket, aku tak pernah terpengaruh. Entahlah, menurutku, pebasket itu selalu sok keren dan ujung-ujungnya, suka tebar pesona dan paling parahnya, dia akan menjadi playboy. Menyebalkan, bukan?

Tiba-tiba, aku menyipitkan mataku, ketika aku merasakan cahaya yang terlalu terang menyorot dari arah barat. Ah iya, aku baru ingat kalau sekarang sudah sore, sehingga sinar matahari dari barat-lah yang menyorot. Wajahku memang tidak terlalu tersorot. Kakiku yang malah terkena cahaya paling banyak. Rasanya seperti terbakar saja. Aku bergerak gelisah dengan kondisi itu.

“Mbak kepanasan, ya?” Tiba-tiba, sebuah suara terdengar.

Aku menoleh karena menduga pemuda disampingku yang berbicara. Aku mengerjap beberapa kali, lantas terkekeh pelan. “Iya, Mas. Sore-sore begini, panasnya kayak ngebakar aja,” balasku.

Pemuda itu tersenyum. “Mau tukeran tempat sama saya, Mbak?” tawarnya.

“Eh, nggak usah, Mas,” tolakku sopan. “Ngerepotin aja.”

Lagi-lagi, ia tersenyum. “Kalo Mbak yang duduk disitu dan kepanasan, saya yang nggak enak, Mbak,” jelas pemuda itu.

Aku tertawa kecil. “Kenapa harus nggak enak, Mas? Saya nggak pa-pa, kok,” balasku, masih dengan isyarat yang sama bahwa ‘aku nggak mau ngerepotin kamu’.

“Atau gini aja deh Mbak, Mbak pindah ke samping kiri saya aja. Gimana?” tawar pemuda itu.

Oke, kuakui, pemuda ini cerdik. Dia emang nggak ngotot memintaku untuk bertukar tempat duduk, tapi memintaku untuk pindah ke samping kirinya. “Ya udah, deh,” balasku, akhirnya. Lagipula, aku juga nggak mau terlalu lama duduk dan berpanas-panasan. Jadi, aku segera pindah ke samping kiri pemuda itu.

Sekilas, kulihat pemuda itu tersenyum kecil. “Udah nggak panas kan, Mbak?” tanyanya memastikan.

Aku terkekeh. “Enggak kok, Mas,” jawabku. Kulihat, sekarang ada beberapa bagian tubuh pemuda itu yang terkena sinar matahari. “Tapi, sekarang, Mas-nya malah kepanasan,” celetukku.

“Nggak pa-pa kok, Mbak. Udah biasa panas-panasan di lapangan,” jelasnya.

Aku mengangguk paham. “Anak basket ya, Mas?” tebakku.

Pemuda itu mengangguk sambil tersenyum. “Mbak kuliah disini juga?” tanyanya.

“Iya,” jawabku. “Ini tadi lagi sibuk ngurusi bazaar,” jelasku.

“Oh.” Pemuda itu nampak takjub. “Saya ikutan event basketnya lho, Mbak,” katanya memberitahu.

Kini, akulah yang takjub. “Ikut tim basket fakultas mana?” tanyaku. Yah, siapa tahu kan, aku bisa menonton pertandingannya.

“Ikut tim basket kampus, Mbak,” jawabnya.

Aku mengangguk mengerti. Bazaar tahun ini memang diadakan bersamaan dengan turnamen basket kampus. Turnamen dibedakan menjadi dua bagian. Yang pertama adalah turnamen basket antar fakultas, sementara yang kedua adalah turnamen basket antar kampus. “Wah, keren, dong?” Yah, sebenarnya, aku tidak benar-benar menganggap ini sebagai hal yang keren. Itu karena aku berpikiran objektif, aku tidak tertarik dengan dunia basket. Tapi menurut teman-temanku, anak-anak yang tergabung dalam tim basket kampus termasuk dalam golongan hebat.

Dia tertawa pelan. “Enggak juga kok, Mbak,” jawabnya merendah. “Sebenernya, saya lebih seneng gabung di tim basket fakultas,” jelasnya.

“Lho? Kenapa gitu?” tanyaku heran. “Perasaan, banyak deh, anak basket yang antri pingin masuk tim basket fakultas,” paparku.

“Iya sih, Mbak,” ucapnya setuju. “Tapi lebih seru kalo bisa kerja bareng anak-anak sefakultas,” jelasnya.

Aku ber-oh-ria. Ternyata, pemuda ini adalah tipe orang yang menjunjung solidaritas yang tinggi. “Emangnya, Mas dari fakultas mana?” tanyaku. Oke, ini cuma basa-basi, kok. Aku nggak benar-benar sedang berusaha mencari tahu tentang sosoknya. Yah, itung-itung, aku bisa mendapat teman baru. Siapa tahu aku bisa meminta bantuannya suatu saat nanti, haha~

“Bahasa,” jawabnya singkat.

“Wah, Bahasa?” tanyaku takjub. “Fakultas idaman saya, tuh,” celetukku. Ya, aku memang tertarik untuk masuk ke fakultas Bahasa sejak lama.

“Emangnya, Mbak masuk fakultas mana?”

“Fisika,” jawabku, lalu tertawa pelan.

“Fisika juga keren lho, Mbak,” timpalnya. “Emangnya, kenapa nggak masuk Bahasa aja, Mbak?” tanya pemuda itu.

Aku mendesah pelan. “Sama Ayah disuruh masuk ke Fisika aja. Soalnya, Ayah orang Fisika juga,” jelasku.

“Semua fakultas baik kok, Mbak. Tergantung dari mana kita ngeliat sisi positifnya,” katanya, seolah berusaha menenangkan.

Aku mengangguk setuju. Pemuda ini memiliki pemikiran yang sangat dewasa. Aku jadi penasaran, kira-kira dia semester berapa. Kalau semesternya di atasku, setidaknya kan, dia bisa menjadi kandidat cowok yang akan kukenalkan pada Ayah dan Bunda. “Ngomong-ngomong, Mas semester berapa, ya?” tanyaku.

“Semester tiga.”

DEG!

“Kalo Mbak, semester berapa?” tanyanya.

Dengan lidah yang nyaris kelu, aku pun menjawab, “Semester lima.”

Oke, Cassie. Mungkin pemuda itu tidak cukup pantas untukmu.

Dia kan, lebih muda darimu.

3 responses to “[Series] Buku Harian Cassie – Halte

  1. yaah padahal mirip minho tapi kok lebih muda -_-
    namanya sapa eonn? kali aja sama aku, kan aku lebih muda dari masnya wkwk
    Timmy lama banget sih udah ditungguin loo wkwk
    next part ditunggu eonn😀

    • Mirip Minho pas debut >,<
      Nama mas-nya masih dirahasiain, soalnya, unnie belum kenalan waktu itu, hehe🙂
      Timmy muncul 2 chapter setelah ini, mungkin.
      Next chap gilirannya Arkha sama Alvin ^^

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s