[Series] Matchmaker – Prologue

Matchmaker Prolog

Title : Matchmaker

Author : Isaac Sachii / Jung Minrin (@reddsky_10)

Cast :

Sooyoung SNSD

Tiffany SNSD

Length : Series

Rating : PG

Genre : Romance, Sad, Family, Friendship

Disclaimer : FF ini terinspirasi oleh FF Yunjae (my beloved parents :3) dengan judul sama, yakni Matchmaker, karya salah satu eonni dan penulis favoritku, eL eonni. Jalan ceritanya berbeda, hanya aja, aku ngerasa kalo kehidupan seorang matchmaker itu unik dan seru. Makanya, aku ingin mengangkat kisah tentang matchmaker. (Semoga eL eonni nggak marah u.u)

***

Gadis bertubuh jangkung itu masih setia terduduk di atas bangku taman, berteduh di bawah pohon maple yang sudah tua, kokoh dan rimbun dari terik matahari Seoul yang begitu menyengat. Tangan kanannya terarah ke wajahnya, jemari lentiknya menyentuh matanya dan mengusap setitik cairan bening yang baru saja menetes dari matanya yang indah itu.

Dia sedang menangis, eoh?

Cahaya matahari yang berhasil menyusup melalui celah-celah kecil dedaunan, menyorot cairan bening gadis itu, membuatnya terlihat berkilauan layaknya Kristal yang berharga. Tapi, siapa yang tahu, kalau itu adalah tangisan penuh kepedihan dari sang gadis.

Oh! Ada apa gerangan yang terjadi pada gadis itu?

Tiba-tiba, gadis itu mendongakkan kepalanya dengan mantap. Wajahnya nampak putih bersih, meskipun raut kesedihan tak bisa disembunyikannya. Air mata yang sempat menghiasi wajahnya itu sudah sepenuhnya hilang, meski jika diperhatikan secara seksama, jejak-jejaknya masih tersisa. Bibir tipisnya itu dipaksakan menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman yang seolah sedang meremehkan atau mengejek.

Tapi, tak ada yang tahu, siapa yang diremehkan gadis itu, kecuali gadis itu sendiri.

“Aku sudah berjanji dalam hidupku, Kris. Aku berjanji, aku tak akan membiarkan orang lain menderita karena cinta seperti apa yang aku rasakan. Tidak, selama mereka masih berada di depan mataku.”, ucap gadis itu tajam.

Gadis yang kita kenal sebagai Choi Sooyoung.

.

.

ISAAC SACHII

presents

MATCHMAKER :

Prologue

.

.

“Hei, Choi Sooyoung!”

Sooyoung yang sedang berkonsentrasi penuh dalam mengerjakan paper-nya tentang musik zaman romantik itu mendadak harus terganggu oleh panggilan seseorang. Ia meremas pensilnya dan menggertak kesal karena konsentrasinya harus dibuyarkan begitu saja. Padahal, ia bergantung pada paper itu supaya bisa lepas dari terkaman dosennya yang—menurutnya—kejam, Park Seonsaengnim. Ia pun menoleh ke belakang dan mendapati seorang gadis cantik dengan smile eyes-nya sudah berdiri tepat di belakangnya. “Ada apa?”, desis Sooyoung tajam.

Gadis itu tersenyum lima jari, sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. “Mianhae, Soo. Aku mengganggumu, ya?”, tanyanya hati-hati, sambil mendudukkan tubuhnya di samping Sooyoung. Hm, sepertinya gadis itu menyadari aura gelap dari diri Sooyoung.

Sooyoung kembali menatap paper-nya yang mengenaskan itu dan mendengus pelan. “Sangat mengganggu, Miyoung.”, desis Sooyoung. Sooyoung mengacak rambutnya. “Argh! Ottokhae?”, katanya frustasi.

Gadis yang dipanggil dengan nama Miyoung itu hanya meringis, agak miris melihat sikap berlebihan temannya itu. “Masih memikirkan paper untuk Park Seonsaengnim sejak seabad yang lalu, eoh?”, tanya Miyoung heran. “Benar-benar mengenaskan.”, katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba saja, Miyoung mengeluarkan sesuatu dari dalam tas-nya. “Lihatlah. Aku sudah menyelesaikannya.”, ucapnya bangga sambil menunjukkan setumpuk kertas pada Sooyoung.

Sooyoung melongo takjub. “Whoa! Kau sudah berhasil menyelesaikannya?”, tanya Sooyoung heran, sambil meraih paper milik Miyoung.

“Ne.”, jawab Miyoung mantap. “Dan asal kau tahu, aku mendapat nilai A+.”, imbuhnya dengan nada bangga.

“Hah? A+? Kau serius?”, tanya Sooyoung tak percaya.

“Tentu saja.”

“Bagaimana bisa? Setahuku, kau tak lebih cerdas dariku.”, celetuk Sooyoung sambil melirik tajam ke arah Miyoung.

Miyoung terkekeh pelan. “Kau meremehkanku, eoh?”, tanya Miyoung.

Sooyoung berkacak pinggang. “Tentu saja.”, ucapnya yakin. “Mata kuliah Park Seonsaengnim adalah mata kuliah tersulit yang pernah ada dan rekormu selama ini tak pernah menjadi yang terbaik di mata kuliahnya. Aku yang sering mendapat nilai baik di mata kuliahnya saja, merasa kesulitan untuk menyelesaikan paper ini.”, jelasnya. “Sementara kau? Kau sudah berhasil menyelesaikannya dan mendapat nilai A+. Benar-benar mencurigakan, Hwang Miyoung.”, tuduh Sooyoung.

Miyoung tertawa renyah. “Sepertinya sulit sekali menipu sang matchmaker ini, eoh?”, gumam Miyoung. “Arraseo, aku mengaku. Seseorang telah membantuku.”, jelas Miyoung.

“Eh? Nuguya?”, tanya Sooyoung penasaran.

Miyoung tersenyum misterius, lalu mengambil paper-nya dari tangan Sooyoung. “Rahasia.”

Sooyoung mengerucutkan bibirnya kesal. “Ayolah, beritahu aku. Otakku benar-benar sudah kehabisan ide.”, rengek Sooyoung.

Miyoung menatap iba ke arah Sooyoung. “Kau harus berjanji dua hal padaku.”, kata Miyoung.

“Apa itu?”

“Berhenti memanggilku Miyoung, karena aku tak suka nama itu. Panggil aku Tiffany. Mengerti?”, tegas Miyoung. Oh! Sepertinya, kita harus mulai memanggilnya Tiffany, eoh? Dia tak suka dipanggil Miyoung, bukan?

Sooyoung tertawa pelan, mendengar permintaan konyol temannya itu. “NeneArrasseo, Tiff.”, jawabnya di sela-sela tawa kecilnya.

“Kedua,” Tiffany menarik nafas dalam-dalam, “aku menginginkan jasamu sebagai seorang matchmaker secara gratis.”, tegas Tiffany.

Mwo?” Sooyoung melongo. Ia pun langsung tertawa terpingkal-pingkal. “Kau menginginkan jasaku sebagai matchmaker? Kau akan kujodohkan dengan siapa?”, tanya Sooyoung di sela-sela tawanya.

Tiffany menyilangkan tangannya di depan dada karena kesal. “Kalau kau tak mau, tak apa.”, balasnya sinis.

Sooyoung masih tertawa. “Arraarra. Aku bersedia, kok.”, jawab Sooyoung, akhirnya. “Jadi, siapa orang yang telah membantumu itu? Bolehkah aku meminta bantuan padanya?”, tanya Sooyoung.

Tiffany mendesah pelan. “Kau kenal Cho Seonsaengnim?”, tanya Tiffany.

Sooyoung terdiam, berpikir sejenak. “Cho Seonsaengnim?”, gumamnya. “Sepertinya, tidak.”, jawabnya sambil menggeleng.

“Cish! Percuma saja kau menjadi seorang matchmaker, tapi tak mengenal namja ini.”, cibir Tiffany.

“Eh? Waeyo?”

“Demi Tuhan, Soo! Namja ini adalah incaran seluruh mahasiswi di Kyunghee dan kau tidak mengenalnya?! Selama ini, kau hidup dimana, sih?”, sungut Tiffany jengkel.

“Hei, hei! Kau sebut dia Cho Seonsaengnim, kan? Tapi, kenapa dia bisa menjadi incaran seluruh mahasiswi Kyunghee?”, tanya Sooyoung heran. Well, ia tak menduga kalau banyak gadis yang jatuh cinta pada seorang dosen.

“Apa salahnya jatuh cinta pada seorang dosen tampan, muda dan masih single itu, hm?”, tanya Tiffany.

Mwo? Kau sungguh-sungguh?”, tanya Sooyoung tak percaya. “Oh, jangan bilang, kalau kau berniat meminta jasaku untuk menjodohkanmu dengannya, ya?”, tebak Sooyoung. “Ah, maaf. Aku tak ingin berurusan dengan seorang dosen dan seluruh mahasiswi Kyunghee.”, jawabnya cepat.

Tiffany tertawa renyah. “Tentu saja tidak, pabbo!”, seru Tiffany sambil mengetuk dahi Sooyoung pelan. “Sudahlah, lebih baik, kau cepat menemuinya dan minta bantuannya, karena asal kau tahu, dia adalah dosen yang sangat sibuk.”, jelas Tiffany.

Sooyoung pun mulai bersiap-siap dan merapikan alat tulisnya. “Eh! Tapi, dimana aku bisa menemukan si Cho Seonsaengnim itu?”, tanya Sooyoung.

“Kau temui saja dia di gedung fakultas bisnis.”, jawab Tiffany mantap.

“Eh? Fakultas bisnis? Apa aku tidak salah dengar?”, tanya Sooyoung heran sambil menggaruk rambutnya.

“Tidak, Choi Sooyoung.”, jawab Tiffany tegas.

“Jangan bilang, kalau dia adalah dosen di Fakultas Bisnis.”, desis Sooyoung tajam.

“Memang dia dosen di Fakultas Bisnis.”, gumam Tiffany.

“Heh? Bagaimana bisa?”, tanya Sooyoung tak percaya.

“Hm, anggap saja, dia cerdas dalam hal bisnis, tapi memiliki bakat spesial dalam dunia musik.”, celetuk Tiffany. “Sudahlah! Cepat temui dia!”, seru Tiffany sambil mendorong-dorong tubuh Sooyoung.

Sooyoung terpaksa bangkit dari duduknya. Otaknya masih berpikir. Ia masih meragukan sosok Cho Seonsaengnim yang dimaksud Tiffany itu. Yah, semoga saja, dewi fortuna berpihak pada Sooyoung kali ini.

***

“Kau Choi Sooyoung, si matchmaker itu, kan?”

Sooyoung membeku sejenak. Ia tak menduga kalau namja tampan di hadapannya ini juga tahu bahwa dirinya adalah seorang matchmaker. “N-neSeonsaengnim.”, jawab Sooyoung takut.

Namja yang dipanggil sebagai Cho Seonsaengnim itu tertunduk lesu, lalu meletakkan paper yang baru saja ditunjukkan Sooyoung ke atas mejanya. “Mianhae, Sooyoung. Sepertinya, aku tak bisa membantumu.”, jawab Cho Seonsaengnim.

Mwo?!”, seru Sooyoung kaget. Sooyoung langsung menutup mulutnya, ketika menyadari bahwa ia baru saja meneriaki salah satu dosennya. “W-waeyoSeonsaengnim?”, tanya Sooyoung dengan suara yang lebih lembut.

“Aku tak bisa membantu mahasiswa yang lebih memilih untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya, bukan sekolahnya.”, jelas Cho Seonsaengnim.

“Tapi, aku masih konsentrasi pada sekolahku, kok.”, elak Sooyoung.

Cho Seonsaengnim menggoyangkan pulpennya di hadapan Sooyoung. “Aku tak bisa mempercayaimu, Sooyoung. Namamu saja masih sering dibicarakan hampir di setiap kelas yang kumasuki.”, jelasnya.

“Tapi Anda bisa mengeceknya langsung pada dosen-dosen, kalau nilai-nilai saya masih bagus.”, tegas Sooyoung.

“Kalau nilai-nilaimu masih bagus, tentu saja, kau tak perlu bantuanku, Choi Sooyoung.”, balas Cho Seonsaengnim.

Sooyoung menggenggam telapak tangan Cho Seonsaengnim. “Kumohon, Seonsaengnim. Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu.”, mohon Sooyoung.

Cho Seonsaengnim tertunduk, nampak sedang menimbang-nimbang sesuatu. “Arrasseo. Aku akan membantumu. Tapi, kau harus berjanji satu hal padaku.”, ucap Cho Seonsaengnim.

Ne?”

“Kau harus berjanji padaku, kalau kau tidak akan berurusan dengan pekerjaanmu, selama kau masih terikat denganku dalam mengerjakan tugas ini. Mengerti?”, ucap Cho Seonsaengnim.

Sooyoung menggigit bibir bawahnya. Ia ragu jika harus mengiyakan ucapan Cho Seonsaengnim. Tentu saja, ia tak bisa meninggalkan tugasnya sebagai seorang matchmaker begitu saja. “ArrasseoSeonsaengnim.”, jawab Sooyoung, akhirnya.

Cho Seonsaengnim mengangguk mengerti.

GamsahamnidaSeonsaengnim.”, ucap Sooyoung sambil membungkukkan badannya.

Well, meski masih ragu, sepertinya semua ini akan bisa dijalani Sooyoung dengan mudah.

Choi Sooyoung disebut sebagai matchmaker, bukan tanpa alasan, kan?

.

.

TBC?

Ah, akhirnya selesai juga prolog ff Matchmaker yang panjang ini. Jujur aja ya, aku nggak nyangka kalau prolog ff ini bakalan panjang kayak gini. Padahal masih prolog, yaa u.u

Oiya, di atas udah sempet aku sebut satu nama namja yang masih misterius statusnya, hohoho~ Tahu, siapa? Hohoho~

Dan untuk dosen yang sedari tadi aku sebut sebagai Cho Seonsaengnim, have any idea about him? Hahaha😄

Well, aku minta maaf, kalo aku malah nambah ff, padahal ff seriesku belum pada kelar u.u

Tapi jujur aja, tangan ini udah gatel banget buat nulis ff ini yang plotnya udah menghantui aku dari hari ke hari. Yah, akhirnya aku tulis aja, hehe ^^v

Oiya, format ff ini nantinya itu semacam kayak misinya Sooyoung sebagai seorang matchmaker. Jadi, untuk setiap ff itu cast-nya beda-beda. Cuma ada cast tertentu yang muncul di setiap chapter, seperti Sooyoung (yaiyalah!), Tiffany, Cho Seonsaengnim, dan cast lainnya yang masih aku rahasiakan.

So, adakah yang menunggu lanjutan ff ini? Mau tahu misi pertama Sooyoung yang juga harus berusaha untuk menyembunyikan pekerjaannya dari Cho Seonsaengnim? Tulis komentar kalian tentang ff ini, yaa. Oke, oke? ^^

Love,

Jung Minrin

2 responses to “[Series] Matchmaker – Prologue

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s