[Series] Buku Harian Cassie – Namanya Timmy

tumblr_mbbtu32wmd1rfzzqfo1_500

Hai, namaku Cassie.

Aku hanyalah gadis biasa yang punya segelintir masalah dalam hidup.

Bersediakah kalian membaca kisahku?

Atau kalian mau membagi kisah denganku?

Mari kita saling berbagi🙂

.

“Namanya Timmy, Kak!”

Aku hanya memandang adikku dengan tatapan datar.

Sementara adikku sudah mengumpat-umpat dengan kesal. “Awas saja kalau Kakak menyesal!” serunya. Ia langsung berlari meninggalkanku di kamar kami.

Dasar anak kecil,’ pikirku. Ya, adikku―Naya―memang akan menjadi anak kecil selamanya―setidaknya bagiku. Meski Naya memang sudah berusia 15 tahun, bahkan tingginya sudah melebihi tinggiku, aku akan senantiasa menganggapnya sebagai anak kecil.

Sejak tadi pagi, Naya sibuk berceloteh ria.

Sementara aku?

Aku hanya berusaha menjadi kakak dan pendengar yang baik.

Begitulah kami. Aku dan Naya memang seperti sepasang kakak-beradik yang saling melengkapi. Naya adalah orang yang suka berbicara, sementara aku adalah orang yang lebih suka menjadi pendengar. Serasi, bukan?

Tapi, tak jarang, kami beradu mulut. Well, untuk urusan ini, kami memang terkenal sebagai dua pribadi yang keras kepala dan tidak mudah mengalah. Bahkan, kami pernah saling mencakar hanya karena masalah sepele―memperebutkan Aslan.

Kalian tahu Aslan?

Itu lho, si singa, karakter fiksi yang terdapat dalam film Narnia.

Unik?

Ya, begitulah kami.

Dan hari ini, kalau aku tak berusaha menekan segala emosi yang sudah mencapai ubun-ubun, mungkin akan terjadi tragedi berdarah lagi.

Naya mulai dengan ceritanya tentang berbagai jenis pemuda yang ia temui.

Aldi, ketua kelasnya yang penuh wibawa.

Gara, kapten basket tim putra yang ramah dan sering membantunya.

Danny, si langganan olimpiade yang selalu mengajarinya tentang Biologi (Ya Tuhan, bahkan adikku sama saja denganku yang bebal dalam urusan Biolgi? -_-)

Dan siapa lagi, ya? Ah, aku lupa. Adikku terlalu banya bercerita, sih.

Tapi ada satu hal yang membuatku tercengang, tepat di akhir ceritanya.

Kakak mau dijodohin, lho.”

Waktu itu, Naya mengucapkannya dengan nada seolah ia hanya sedang menggodaku. Tapi, karena dia semakin merecokiku dengan kalimat-kalimat tentang ‘perjodohan’, aku mulau percaya.

Habisnya, Kakak kan, nggak pernah ngajakin cowok main ke rumah. Makanya, Bunda mau jodohin Kakak.

Oke, rasanya, Bunda memang keterlaluan. Alasan kenapa aku tak pernah mengajak seorang pria pun ke rumah adalah karena memang tak ada yang perlu kuajak ke rumah! Maksudku, sejak insiden teman-pria-berkunjung-ke-rumah beberapa tahun silam, Ayah sempat marah besar padaku dan mendiamkanku selama berhari-hari. Makanya, sejak saat itu, aku benar-benar waspada dalam mengajak seorang pria untuk berkunjung ke rumah. Bisa-bisa aku ditendang dari rumah oleh Ayah.

Dan apa-apaan pula Bunda langsung berniat menjodohkanku tanpa minta pendapatku dulu? Oke, Bunda memang orang tuaku dan sudah seharusnya aku mematuhi ucapannya. Tapi bagaimanapun juga, masalah cinta dan jodoh itu adalah hal yang sakral dan akan menemaniku sampai mati. Ini menyangkut masa depanku! Dan aku tak ingin seseorang memonopoli masa depanku begitu saja.

Katanya sih, Kakak mau dijodohin sama anak temennya Bunda.”

Oke, aku sudah hafal betul dengan tabiat Bunda yang satu ini. Beliau memang hobi sekali pamer tentang kehidupan dua anak gadisnya, apalagi aku. Aku yang inilah, itulah. Bunda memang tidak berbohong dan berbicara sesuai kenyataan. Tapi menurutku, hal semacam itu tak perlu diumbar di hadapan umum. Dan karena kebiasaan Bunda yang satu ini, sejak SMU, aku sudah sering dikejar-kejar oleh teman-teman Bunda.

Nak Cassie, nanti setelah lulus SMU, nikah sama anak Tante, ya?

Mereka memintaku menikah setelah lulus SMU?

Oh, NO! Aku masih punya rentetan mimpi yang ingin kugapai. Dan aku tak ingin menyia-nyiakan masa mudaku dengan menikah!

Katanya Bunda sih, anaknya ganteng, tinggi, pinter, pekerjaannya juga udah mapan.

Kuakui kalau standar Bunda tentang ‘orang ganteng’ itu lumayan tinggi. Kalian ingin tahu tipe Bundaku? Oke, aku sebutkan.

Vin Diesel.

Dwayne Johnson.

Steven Seagel.

Iya sih, tipe Bunda memang keren-keren. Tapi, ya ampun, aku masih belum sanggup punya pendamping hidup dengan bentuk tubuh yang oh-la-la. Maksudku, jika bentuk tubuhnya bagus, setidaknya seperti Yunho DBSK, Siwon Super Junior, atau Changmin DBSK, aku akan langsung menerimanya.

Sayangnya, Yunho, Siwon dan Changmin sama sekali bukan tipe Bunda. Padahal, mereka juga keren banget, kan?

Nah, inilah yang membebani pikiranku. Bagaimana kalau pria yang akan dijodohkan denganku itu setipe dengan Vin atau Dwayne? Kalau kharismanya saja yang sebanding, tidak masalah buatku. Tapi kalau ukuran tubuhnya? Kurasa aku harus permisi ke kuburan dulu.

Dan untuk masalah tinggi, aku tak perlu ambil pusing. Maksudku, aku dan Bunda sama-sama memiliki postur tubuh yang tak terlalu tinggi. Jadi, kami memiliki standar yang sama untuk ukuran pria yang tinggi. Mungkin, tinggi yang dimaksud Bunda itu seperti dengan tinggi Ayah.

Kalau mengukur tingkat kecerdasan, sebenarnya, Bunda tidak terlalu jago. Maklum, semenjak menikah dengan Ayah, Bunda memang tidak terlalu peduli dengan pendidikan, kecuali pendidikan untuk anak-anaknya. Jadi, aku agak meragukan hal ini. Tapi biasanya, Bunda membandingkannya dengan kecerdasanku. Meski begitu, aku tetap harus waspada.

Pekerjaan mapan! Kalau berurusan dengan uang, jangan tanya, deh! Bunda agak matrealistis―yang sifatnya diturunkan padaku, tapi tidak pada Naya. Prinsip Bunda adalah “Kalau perempuan tidak matrealistis, bagaimana kehidupannya kelak?” Dan prinsip itu yang melekat padaku. Aku juga ingin mencari pria dengan pekerjaan mapan, tidak perlu dengan pendidikan selangit, asal dia tidak mudah dibodohi saja.

Namanya Timmy, Kak!”

Sebenarnya, aku hanya sedang berusaha mati-matian menahan tawa ketika mendengar nama ‘Timmy’ meluncur dari mulut adikku.

Kenapa aku ingin tertawa?

Karena menurutku, nama Timmy itu jauh sekali dengan deskripsi yang dipaparkan Naya. Nama Timmy lebih cocok untuk seorang pemuda―bukan pria―yang memiliki tubuh agak gempal, pipinya gembul, dan pasti tipikal anak Mami.

Melihat ekspresiku yang datar sejak pertama kali mendengar ceritanya, Naya berpikir bahwa aku tidak percaya dengan setiap ucapannya. Well, sebenarnya, bukannya aku tak percaya, aku hanya bersikap waspada. Naya memang pandai menipuku.

Aku pun beranjak dari ranjangku dan hendak keluar dari kamar. Aku baru sadar, kalau aku belum memasukkan apapun ke dalam perutku, mengingat sejak pagi, aku sudah ditahan oleh adikku.

Ketika aku sedang menuruni anak tangga, suara Bunda menggema. “Cassie! Cepetan turun, Sayang!” panggil Bunda padaku.

“Iya, Bunda!” balasku. Aku pun mempercepat langkahku. Kulihat Bunda yang sedang menata beberapa toples di atas meja makan. Aku segera meraih salah satu toples yang masih terbuka.

“Cassie!” seru Bunda kesal.

Aku hanya meringis dan terpaksa mengembalikan toples yang berisi biskuit favoritku. “Ada apa sih, Bunda?” tanyaku penasaran.

“Gini lho Bunda mau bilang sama kamu untuk ikutan acara makan malam,” jelas Bunda.

Aku mengernyit. “Makan malam apaan sih, Bun? Bukannya, kalo Cassie di rumah, kita pasti makan malam barengan, ya?”

Bunda mencubit lenganku. “Aduh, ini anak,” gerutu Bunda kesal. “Bukan makan malam sama keluarga, tapi sama ehem cowok ehem,” jelas Bunda.

“Heh?” Aku terhenyak. “Bunda serius?” tanyaku tak percaya. Oke, sepertinya, ucapan Naya tadi memang benar adanya. Jangan-jangan makan malam ini adalah rangkaian perjodohan yang dirancang Bunda untukku.

“Udahlah, yang penting, nanti malam, kamu dandan yang cantik aja,” ucap Bunda.

“Lha, terus?”

“Nanti bias Mas Olif yang jemput kamu dan nganter kamu ke restorannya,” jelas Bunda.

“Oalah, maksud Bunda, aku disuruh makan bareng Mas Olif gitu? Sip, deh!” Aku langsung sumringah. Maklum saja, sepupuku yang satu itu memang paling baik dan sering memanjakanku.

“Idih, bukan sama Mas Olif, Cassie Sayang,” ucap Bunda gemas.

“Terus sama siapa, Bun? Jangan bikin Cassie penasaran gini, deh,” gerutuku jengkel.

“Sama anak temen Bunda.”

Aku langsung menepuk jidatku. “Ya Ampun, Bunda!” seruku. “Bunda masih pingin ngejodohin aku sama orang-orang itu? Please deh, Bun! Cassie bisa cari cowok sendiri!”

“Mana buktinya?” balas Bunda enteng.

“Kasih Cassie waktu!” balasku.

Bunda tersenyum. “Nah, makanya, sambil nunggu kamu, kan nggak ada salahnya ngenali kamu sama anak temen Bunda. Siapa tahu, ada yang kecantol,” celetuk Bunda enteng.

Ya Tuhan! Ini hidupku, kan? Ini perasaanku, kan? “Tapi, Bun…”

“Nggak ada tapi-tapian, Cassie. Kalo kamu emang udah nemuin cowok yang tepat, cepet bawa ke rumah. Kalo belum, selamat berkutat dengan perjodohan-perjodohan itu!” seru Bunda senang.

Aku mendengus pelan. Ya Tuhan, tabahkan hambamu ini.

***

“Bisa masuk sendiri, kan?” tanya Mas Olif padaku.

Aku hanya mengangguk lemah sebagai jawabannya.

“Udahlah, jangan sedih gitu, Cas. Nikmati aja. Itung-itung, kamu dapet makan malem gratisan,” celetuk Mas Olif yang berusaha menghiburku.

“Tapi nggak gini juga kali, Mas,” balasku.

“Cepet masuk sana, gih!” perintah Mas Olif sambil mendorong pelan tubuhku.

Aku mendengus pelan. “Iya, iya.” Dan aku pun melangkahkan kaki menuju ke sebuah restoran yang dimaksud Bunda.

Dan betapa menyedihkannya diriku, ketika aku berdiri di ambang pintu masuk dengan memasang wajah linglung dan kepala yang celingukan.

“Hei!” Seorang pria melambaikan tangannya ke arahku. Pria bertubuh tinggi dan tegap. Wajahnya tampan dan menyiratkan ketegasan. Ia nampak semakin rupawan dengan kemeja berwarna merah dan celana panjang berwarna hitam. Dia benar-benar mempesona.

Tak ingin salah paham, aku mencoba memastikan sekelilingku. Tak ada siapapun di sekitarku, jadi mungkin saja, pria itu memang sedang menyapaku.

Sepertinya, pria itu tak tahan dengan kelinglunganku dan akhirnya menghampiriku. “Kamu Cassie, kan?” tanyanya dengan suara bass-nya.

Aku mengangguk ragu. “Maaf, Anda siapa, ya?”

Pria itu tersenyum.

Ya Tuhan, senyumannya indah sekali!

“Ibuku memintaku untuk menemui gadis bernama Cassie dan aku ingat dengan wajahmu, persis seperti yang ditunjukkan Ibu lewat foto,” jelas pria itu.

Aku mengangguk. Oh, sepertinya, inilah pria yang dimaksud Bunda. “Maaf, tapi namamu siapa?”

“Namaku Timmy.”

Oh, Cassie. Namanya Timmy.

2 responses to “[Series] Buku Harian Cassie – Namanya Timmy

    • Hehe, nggak pa-pa kok, saeng. Terserah masing-masing pembaca aja ^^
      Ini bukan ff lho, saeng. Cuma fiksi biasa aja, hoho~
      Tapi unnie seneng, kalo berhasil bikin kamu penasaran

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s