[Series] The Shadow – Chapter 2

BI0sZPMCQAAucs_

The Shadow

Chapter 2

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

Yunho || Changmin || Jaejoong || Yoochun || Junsu

Length : Series || Rating : PG || Genre : Family, Friendship, Sad, Fantasy

Thanks to @YunhoWorldIndo for sharing the pic of Yunho. It’s so awesome  :)

Big thanks to Hafni Adinda for supporting me to write this fic. Thanks, Cassie :’D

.

Dan betapa terkejutnya Yunho ketika menyadari sosok yang terbaring di atas ranjang.

Itu adalah dirinya.

“A-apa yang terjadi padaku?”

.

Namja tampan bermata musang itu merasakan cahaya yang menyinari wajahnya. Merasa silau, ia pun membuka kedua matanya secara perlahan.

Ah, benar juga. Sudah pagi, rupanya.

“Nggh…” Namja bernama Jung Yunho itu melenguh pelan, lantas segera mendudukkan tubuhnya. Kedua tangan kekarnya terangkat ke atas, mencoba meregangkan otot-otot tubuhnya secara perlahan. Matanya menatap lurus ke depan. “Aigo, aku masih di pantai?” gumam Yunho, setengah terkejut, seolah baru saja tersadar. Ia pun mengusap wajahnya yang terlihat kusut. Rasa kantuk masih menderanya. Jujur saja, ia masih ingin kembali tidur―atau kalau perlu tidur selamanya tanpa perlu terbangun dan menghadapi kenyataan.

Oh, tidak!

Itu bukanlah jiwa seorang Jung!

Sejujurnya, Yunho bukanlah pria yang mudah menyerah. Dan ini sudah terlalu jauh bagi seorang Jung Yunho untuk menyerah. Perjuangannya selama bertahun-tahun selama ini tak boleh hancur begitu saja, hanya karena masalah seperti ini.

Jika Yunho, seorang leader saja menyerah, lantas bagaimana dengan Changmin? Bagaimanapun juga, sedikit banyak, Changmin juga bergantung padanya.

Jika Yunho menyerah, bagaimana nasib nama Dong Bang Shin Ki?

Jika Yunho menyerah, bagaimana nasib para Cassiopeia dan BigEast?

Oh, mengingat Cassiopeia dan BigEast membuat hati Yunho tersayat lagi. Namun baginya, kini, hanya Cassiopeia dan BigEast-lah yang menjadi salah satu alasan terkuatnya untuk tetap berdiri bersama Changmin di atas panggung atas nama DBSK, TVXQ, atau Tohoshinki.

Well, bagi Yunho, lebih baik hanya 2 member atau tidak sama sekali.

“Changmin!” Tiba-tiba, Yunho pun teringat akan dongsaeng-nya itu. Ia pun merogoh saku celana panjangnya untuk mengambil ponselnya. Setidaknya, ia harus menghubungi Changmin lagi. Ia hanya tak ingin membuat dongsaeng-nya itu khawatir, meskipun semalam ia telah menghubungi Changmin.

Yunho hanya ingin memberitahukan pada Changmin bahwa Yunho sudah siap. Meski, ia masih sedikit terguncang atas berita yang begitu mengejutkan itu, namun setidaknya, hatinya sudah mulai tabah menghadapi ini.

Low battery

Yunho mendengus pelan, ketika membaca tulisan tersebut yang muncul pada layar ponselnya. “Aish, Jung Yunho, pabbo!” rutuk Yunho pada dirinya sendiri. Dengan perasaan jengkel, Yunho pun langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lagi.

Meski begitu, setidaknya ada satu hal yang bisa disyukuri. Ponsel kesayangan Yunho tidak dicuri, selagi Yunho dalam keadaan tak sadar-tidur.

Yah, mungkin saja, ada beberapa orang yang sempat berniat untuk mencuri harta benda Yunho. Hanya saja, karena melihat wajah Yunho yang terlalu menyedihkan malam itu, mereka pasti mengurungkan niat mereka untuk menjarah Yunho.

Pemikiran itu membuat Yunho terkekeh pelan. Mungkin, semalam Yunho memang sempat kelihatan hancur dan menyedihkan. Namun, sejak ia membuka mata di pagi itu, ia sudah berjanji dalam dirinya sendiri, bahwa ia akan bangkit.

Dan untuk mengawali harinya, Yunho pun memutuskan untuk bangkit dari duduknya di atas hamparan pasir putih nan lembut khas pantai. Ia mengedarkan pandangan, memperhatikan keadaan sekelilingnya.

Sunyi.

Pantai itu masih sunyi seperti ketika Yunho menginjakkan kakinya pertama kali di pantai itu kemarin.

Oke, karena ponsel Yunho pun tak bisa diandalkan saat ini, jadi ia tak bisa menghubungi siapapun untuk menjemputnya. Sehingga, ia pun memutuskan untuk berjalan dan mencari tumpangan.

Oh, ayolah, pasti seseorang bersedia memberinya tumpangan secara gratis, bukan? Siapa yang tak mengenali Jung Yunho?

Oke, oke. Abaikan kalimat itu. Itu hanyalah rangkaian kata yang menunjukkan betapa narsisnya seorang Jung Yunho. Ya, lagipula, hanya pemikiran-pemikiran konyol seperti itulah yang masih bisa menghibur hatinya saat ini.

Yunho sudah berdiri di tepi jalan beraspal di dekat pantai. Jalan itu pun terlihat sepi, seperti pantai yang baru saja dikunjunginya. “Ya Tuhan, apakah Paman Lee benar-benar menganggapku sedepresi itu hingga membawaku ke tempat sesepi ini?” gumamnya, sambil melangkahkan kakinya, menyusuri tepi jalan yang sepi. Paman Lee adalah supirnya yang mengantarkannya ke pantai tersebut. Well, setidaknya, sakit hati Yunho sudah terobati, bukan? Dan Paman Lee memang berhasil. Tapi, bukan berarti, meninggalkan Yunho di tempat antah berantah yang tak dikenal Yunho seperti itu.

Yunho menghembuskan nafas keras-keras. “Apakah Paman Lee serius ingin meninggalkanku seorang diri disini, huh?” keluhnya, sambil menendang kerikil di depannya.

Samar-samar, Yunho mendengar suara mesin mobil. Ia pun menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya kesana kemari. Dari kejauhan, ia bisa melihat sebuah mobil sedan yang sedang bergerak ke arahnya. Yunho mulai berharap, ‘Semoga aku bisa meminta bantuan.’

Yunho melambaikan tangannya ke arah sedan tersebut sambil menyunggingkan sebuah senyuman khas-nya, berharap mobil sedan itu berhenti dan bersedia memberinya tumpangan.

Namun, harapan tinggallah harapan. Mobil sedan itu justru tidak menghentikan lajunya. Dengan santainya, pengemudi mobil sedan itu tetap pada kecepatannya dan mengabaikan keberadaan Yunho di tepi jalan.

Yunho mendesah keras-keras. “Baiklah, mungkin aku memang harus berjalan!” seru Yunho kesal. “Lagipula, aku sudah lama tidak berolahraga, ya?” gumamnya, berusaha menyemangati dirinya sendiri.

Dan Yunho pun mulai berlarian kecil, meski tak benar-benar tahu, arah mana yang harus ditujunya.

***

Changmin masih terduduk di atas sofa ruang tengah. Dan ia melamun.

Yunho. Jung Yunho.”

“Yunho ditemukan tertusuk di tepi pantai, Min.”

“Ia kehabisan banyak darah dan sedang dilarikan ke rumah sakit.”

“…”

Dan Changmin tak lagi mengingat apa yang telah dikatakan oleh Manager Hyung. Yang terlintas di otaknya sekarang adalah bahwa Yunho tertusuk dan kehabisan banyak darah.

Pada intinya, Yunho sedang dalam bahaya!

Setelah itu, tak ada yang berarti lagi bagi Changmin. Ya, memangnya, siapa lagi yang lebih berharga dari Yunho bagi seorang Shim Changmin? Meski Changmin tak terlalu dekat dengan Yunho, namun saat ini, Yunho adalah satu-satunya ‘keluarga’ yang dimilikinya sekarang.

Dan saat ini, haruskah Changmin menghadapi kenyataan bahwa ia nyaris kehilangan ‘keluarga’nya sekali lagi?

Changmin menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Matanya mulai meneteskan air mata. Bibirnya mulai mengeluarkan isakan-isakan kecil. Tubuhnya bergetar pelan.

“Ya Tuhan, kenapa kau memberikan ujian yang berat seperti ini pada kami?” gumam Changmin di sela isakannya. “Apa dosa kami?” tanya Changmin lemah.

Changmin merasa tak berguna sekarang. Akhir-akhir ini, ia menjadi orang yang sensitif dan mudah sekali menangis. Padahal, ia jelas-jelas mendapat kabar dari Manager Hyung bahwa Yunho mengalami musibah, namun ia justru senantiasa terdiam di dalam dorm, tanpa melakukan apa-apa.

Benar-benar dongsaeng yang tak tahu diri.

Dongsaeng yang menyedihkan.

Wajar saja, kalau banyak yang mengatakan bahwa Changmin hanyalah namja yang numpang tenar melalui DBSK. Hanya anak laki-laki yang jago berteriak. Apa istimewanya? Dan Changmin menyadarinya sekarang.

Shim Changmin tidak istimewa.

***

Yunho menyunggingkan sebuah senyuman lega, ketika ia melihat sebuah bangunan kecil yang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Ia pun segera berlari ke arah bangunan tersebut.

Well, itu adalah bangunan pertama yang dilihatnya setelah berjalan selama sekitar 30 menit.

Sementara kendaraan?

Oh, Yunho tidak melihat kendaraan lagi selama ia berjalan tadi. Ya, ia hanya melihat sedan dan tak ada lagi setelahnya.

Dalam hati, Yunho bertanya-tanya, ‘Tempat seperti apa ini? Aku tak menduga, kalau ada wilayah seperti ini di Korea.’

Yunho semakin dekat dengan bangunan tersebut. Matanya berhasil menangkap dengan jelas dan menyadari bahwa bangunan itu hanyalah bangunan kosong.

Mengenaskan.

Yunho menghentakkan kakinya dengan kesal. Namun, matanya kembali menangkap sesuatu yang tertempel pada bangunan kosong tersebut.

Sebuah peta.

Yunho segera mengambil kertas tersebut dan memperhatikannya dengan seksama.

Oh! Dengan peta itu, setidaknya Yunho tahu arah dan bisa menemukan jalan untuk kembali ke Seoul.

Dengan perasaan yang senang dan ringan, Yunho pun melanjutkan langkahnya.

Tanpa menyadari bahwa puluhan mobil sedang mengerumuni pantai yang setengah jam lalu ditinggalkannya.

***

“Tuan Shim…” panggil supir pada Changmin yang terduduk di sampingnya.

Changmin pun membuka kedua matanya yang terpejam, lantas menatap supirnya hari itu, Paman Kim. “Ne, Paman?” balas Changmin. Ia memaksakan sebuah senyuman.

“Saya turut berduka cita atas…”

“Gwaenchana, Paman,” potong Changmin. “Yunho Hyung masih hidup dan kita semua harus berdoa untuk kesembuhannya,” jelas Changmin. Changmin menarik nafas dalam-dalam. Setidaknya, setelah merenung di dorm tadi, ia tak cengeng lagi sekarang.

Dalam hati Changmin berjanji, ‘Aku tak boleh menangis atau lemah, demi Yunho Hyung!

“Oiya, Paman, apakah Paman tahu bagaimana kronologi kejadian tersebut?” tanya Changmin penasaran. Well, sepertinya, Manager Hyung sudah menjelaskan sesuatu padanya tadi, namun seperti yang kita ketahui bahwa Changmin tidak memperhatikan perkataan Manager-nya.

Paman Kim masih terfokus pada kemudinya dan mulai menjawab, “Saya tidak tahu secara persis. Hanya saja, yang saya ketahui adalah bahwa Tuan Jung diantar oleh Pak Lee ke sebuah pantai. Pak Lee ingin memberikan waktu bagi Tuan Jung untuk sendiri, jadi Pak Lee meninggalkannya sendiri.” Ia menarik nafas. “Namun, pagi ini, Tuan Jung justru ditemukan dalam keadaan tertusuk,” lanjutnya. Sepertinya, Paman Kim juga merasa berat ketika harus menjelaskan bagian tersebut.

Changmin mendesah kecil. “Apakah keadaan Yunho Hyung sangat parah? Maksudku, bagaimana dengan luka tusukannya,” tanya Changmin.

“Saya tidak tahu, Tuan,” jawab Paman Kim. “Hanya saja, saya sempat berpikir, kapan Tuan Jung diserang dan seberapa lama Tuan Jung bisa bertahan dengan luka tusukan tersebut,” lanjutnya.

Changmin merenungi ucapan Paman Kim. ‘Benar juga. Itu luka tusukan, bukan? Seharusnya, jika Yunho ditusuk sejak lama, pasti ia tak akan bertahan lama,’ batin Changmin. Namja bersuara tinggi itu langsung menggeleng kuat-kuat. Ia tak boleh berpikir seperti itu.

Hyung-nya itu adalah sosok yang kuat.

Ya, Jung Yunho adalah orang yang kuat.

***

“Hosh… Hosh… Hosh…”

Yunho mengatur nafasnya. Setelah berjalan sangat panjang, Yunho merasa sangat lelah.

Untung saja, saat ini, Yunho telah tiba di kawasan Seoul yang agak dikenalnya. Dan kawasan seperti itu cukup berbahaya bagi seorang superstar seperti dirinya. Jadi, untuk mewaspadai fans atau orang-orang yang mengenalinya, ia pun memutuskan untuk menggunakan topi yang bisa menyamarkan wajahnya.

Yunho melanjutkan langkahnya menuju dorm. Ia harus segera bertemu Changmin.

Maknae, tunggulah aku…

***

“Bagaimana keadaannya, Hyung?” tanya Changmin cemas pada Manager Hyung yang tengah berdiri di lorong rumah sakit.

“Hyung-mu sangat beruntung, Min,” gumam Manager Hyung. “SANGAT,” lanjutnya dengan tegas.

Changmin mengernyit tidak mengerti. “Maksudmu, Hyung?”

“Polisi memperkirakan bahwa Yunho tertusuk sekitar tengah malam dan kami baru menemukannya pagi ini, artinya Yunho sudah bertahan selama 6 jam. Dan kenyataannya, Yunho masih hidup, meski keadaannya…”

Changmin tersenyum kecil, lantas menepuk pundak Manager Hyung, “Aku tahu, Hyung. Dan aku yakin, kalau Yunho Hyung pasti bisa bertahan asal kita semua ada disini untuknya,” ucap Changmin mantap.

Manager Hyung menatap Changmin dengan tatapan terpana. Sungguh, ia tak menduga bahwa Changmin akan terlihat setegar itu. “Shim Changmin, kau…”

Changmin kembali tersenyum, lantas memeluk tubuh Manager Hyung dan berbisik pelan, “Kadang, hal-hal berat menimpa orang-orang berhati besar.”

Manager Hyung terenyak. Itu adalah kalimat yang diucapkannya pada Changmin kemarin.

Ternyata, dunia memang ajaib.

Dunia bisa mengubah pemikiran seorang Shim Changmin hanya dalam semalam.

Meski dunia tak tahu, seberapa remuknya hati Shim Changmin.

***

“Changmin! Changmin!” seru Yunho yang memenuhi dorm-nya.

Tak ada sahutan.

“Changmin, Hyung pulang!” seru Yunho sekali lagi. “Kau dimana, Min?” tanya Yunho.

Lagi-lagi, tak ada yang menjawab.

Yunho mencari-cari Changmin di setiap sudut dorm.

Ruang tengah.

Kamarnya.

Kamar Changmin.

Dapur.

Setiap sudut telah diperiksa oleh Yunho.

Hasilnya?

Nihil. Changmin tak ada di dorm.

Yunho menghela nafas panjang. “Kemana si tiang listrik itu?” tanya Yunho kesal. Kakinya pun melangkah ke ruang tengah. Ia berniat menonton TV, sembari menunggu Changmin.

… mengalami kejadian penusukan. Belum ada yang bisa memberikan keterangan mengenai hal ini. Pihak kepolisian maupun SM Entertainment tak ingin berspekulasi lebih jauh.

Yunho melongo. ‘SM Entertainment? Memangnya, ada apa?’ Ia pun mengencangkan volume TV-nya.

Namun, banyak orang yang berpendapat bahwa Jung Yunho bukan mengalami penusukan, melainkan menusuk dirinya sendiri.

Yunho mengernyit. “J-jung Yunho?”

Meski begitu, beberapa pihak yang berada di lokasi kejadian menyanggah opini tersebut. Karena tak ada satu pun alat yang bisa digunakan untuk menusuk Jung Yunho yang tertinggal di lokasi. Kalau pun Yunho sempat berjalan setelah membuang alas penusuk, ak ada darah yang tercecer, kecuali yang mengitari tubuh Jung Yunho sendiri.”

Yunho melihat dengan jelas orang-orang yang tengah berlalu lalang. Beberapa orang berusaha mendorong sebuah ranjang dimana seorang tengah berbaring di atasnya.

Dan betapa terkejutnya Yunho ketika menyadari sosok yang terbaring di atas ranjang.

Itu adalah dirinya.

“A-apa yang terjadi padaku?”

TBC

Maaf dipotong di tengah jalan ._.v

Oke, mungkin kalian akan bertanya-tanya dengan cerita ini. Jadi, Dee coba jawab kemungkinan pertanyaan yang akan kalian tanyakan ^^

Yap, di fic ini, Yunho memang bener-bener tertusuk dan kehilangan banyak darah. Tapi tenang aja, uri Yunho adalah orang yang kuat, makanya ia masih bertahan.

Lalu, siapa yang daritadi luntang-luntung dijalan? Itu Yunho, semacam jiwanya gitu.

Kalo kalian heran, kenapa Yunho bisa megang hape, bisa duduk, bisa megang remote TV, dan kejadian-kejadian yang nggak mungkin dilakukan oleh jiwa, kalian bisa lihat kejadian semacam itu di film The Invisible. Modelnya hampir sama, tokoh utama cowok di film itu juga ngalamin kecelakaan dan jiwanya yang keluyuran. Bagi dia, dia bisa pegang senapan, bahkan sampe nembak orang, tapi kenyataannya, senapannya itu nggak berpindah dari tempatnya. Jadi, apa yang dialami Yunho itu cuma bisa dilihat dan dirasakan Yunho. Ingat, disini Yunho bukan hantu, kok🙂

Dan tadi rasanya pingin nangis, tiap kali nulis fic ini, karena rasanya, aku berulang kali menghina member DBSK. Maaf banget😦 Tapi sungguh, aku adalah Cassiopeia ._.v Ini cuma untuk kepentingan cerita. So don’t bash me please ^^v

Next chap, Jaejoong, Yoochun dan Junsu bakal mulai muncul. Kira-kira, gimana tanggapan mereka soal ini, ya?

Hm, cukup sekian penjelasan dari Dee. Kalo ada yang masih bingung, silakan langsung tanya dan tulis pertanyaan di kotak komentar 😉

Love,

Jung Minrin

3 responses to “[Series] The Shadow – Chapter 2

  1. Yunho tertusuk?!
    Wah Yunho kasianny dirimu!!
    Changmin terlihat tegar ya pdhal sebenarnya dia remuk!!
    Haishh kasiann sekali mereka!!😦
    Update soon eon, nunggu JYJ nya nih!😀

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s