[Twoshot] After She’s Gone – Part 1

After She's Gone

Title : After She’s Gone

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Cast :

Sehun EXO-K

Seohyun SNSD

Taemin SHINee

Luhan EXO-M

Jessica SNSD

Length : Twoshoot

Rating : PG

Genre : Romance, Family, Friendship

Sequel of When You’re Gone

***

“Ini berkas-berkasnya, Hyung.”

Luhan mengambil setumpuk dokumen yang diserahkan oleh Sehun—teman dekatnya sekaligus rekan kerjanya itu.

“Tumben sekali, kau yang mengantar berkas-berkas ini? Kenapa tidak menyuruh sekretarismu saja?”, tanya Luhan, sambil mengecek lembar demi lembar dokumen tersebut.

Sehun menghela nafas. “Kurasa, aku sudah lama tidak mengunjungi rumahmu ini, Hyung. Jadi, kuputuskan supaya aku yang mengantarkannya secara langsung.”, jelas Sehun. Sehun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sebelumnya, Luhan tinggal di apartemen. Namun, semenjak menikah dengan Jessica, Luhan pindah ke rumah barunya. “Kurasa, kau sudah banyak berubah, Hyung.”, gumam Sehun.

“Eh?”

“Yeah. Semenjak, kau menikah dengan Jessica Noona.”, balas Sehun, lalu menatap ke arah Hyung-nya itu.

Luhan terkekeh pelan. “Kurasa, kau juga harus mengikuti jejakku, Sehun. Sudah saatnya, ada seseorang yang mengurusmu.”, tutur Luhan.

Sehun tersenyum tipis. “Aku sudah terbiasa mengurus hidupku sendiri.”

“Tapi, bagaimanapun juga, suatu saat nanti, kau pasti membutuhkan sosok yang bisa menjadi sandaran hatimu, Sehun-ah.”, balas Luhan.

“Sejauh ini, aku sudah menemukan sandaran hatiku. Dan dia adalah Seohyun.”, tegas Sehun.

Luhan merasa iba dengan sikap Sehun yang tidak bisa bangkit setelah kepergian Seohyun. “Tapi, Seohyun telah tiada, Sehun-ah.”, tegas Luhan.

“Dia masih ada di hatiku. Dan selamanya ada disana, Hyung.”, jelas Sehun. Sehun yang merasa semakin bosan dengan arah pembicaraan ini pun bangkit dari duduknya, lalu merapikan jas yang ia kenakan. “Hari sudah petang, Hyung. Kurasa, aku harus segera pulang.”, kata Sehun.

Luhan bangkit dari duduknya, sambil mendesah pelan. “Baiklah.”

“Titipkan salamku pada Jessica Noona, Hyung. Aku pulang dulu. Annyeong.”, pamit Sehun, lalu pergi meninggalkan rumah Luhan.

Sementara itu, Luhan masih terpaku pada tempatnya, sambil memandangi punggung Sehun yang menjauh itu. Tiba-tiba saja, Luhan merasa ada sebuah lengan mungil yang melingkar di pinggangnya.

“Yeobo~”

Luhan menoleh dan mendapati sosok Jessica—istrinya—yang memeluknya dari belakang. “Ne?”

“Bagaimana keadaan Sehun? Masih sama seperti dulu?” Jessica berusaha simpati pada teman dekat suaminya itu. Meski ia tak begitu akrab dengan Sehun, tapi Jessica merasa iba pada tingkah Sehun akhir-akhir ini.

“Begitulah, Yeobo.”, balas Luhan.

“Benarkah hidupnya semenderita itu?”, gumam Jessica.

“Dia menderita karena dia bau mengetahui perasaan Seohyun yang sesungguhnya, di detik terakhirnya.”

***

CKLEK!

Sehun melangkah masuk ke dalam apartemennya yang gelap dan sunyi itu. Sehun pun menekan tombol lampu yang terletak di samping pintu masuk untuk memberikan pencahayaan dalam apartemennya.

Sehun melonggarkan dasinya, sambil terus berjalan ke arah sofa. Sehun menjatuhkan dirinya di atas sofa, lalu menarik nafas dalam-dalam. Matanya tertuju pada sebuah foto yang terbingkai di atas meja di samping sofa. Diraihnya foto tersebut.

Sehun menatap lekat foto tersebut. Foto pernikahan dirinya dengan Seohyun. Sehun mendekap foto tersebut. “Kalau kau memang ada di dalam hatiku, kenapa hatiku justru terasa semakin kosong?”

***

“Ada yang bisa saya bantu, Agasshi?”

Jessica mengalihkan pandangannya dari buku menu dan mendongak, menghadap pelayan yang menghampirinya. Jessica sempat tercengang ketika menyadari sosok yang ada di hadapannya. “Seo Joohyun?”, gumam Jessica lirih. Pelayan itu benar-benar sangat mirip dengan Seo Joohyun—istri Sehun yang sudah meninggal. Walaupun Jessica tidak terlalu dekat dengan Seohyun, namun ia sempat melihat sosok Seohyun beberapa kali. Dan baginya, wajah Seohyun bukanlah tipe wajah yang mudah dilupakan. Jadi, ia ingat persis, bahwa gadis yang berdiri di hadapannya ini sangat mirip dengan Seo Joohyun.

“Agasshi?” Suara pelayan tersebut membuyarkan lamunan Jessica.

“Eh?”

“Apakah Anda sudah memutuskan untuk memesan sesuatu?”, tanya pelayan itu.

Jessica nampak salah tingkah. “Ah, ne.” Jessica melihat kembali ke arah buku menu. “Aku pesan ini dan ini. Masing-masing satu.”, jelas Jessica, sambil menunjuk ke arah menu makanan yang dipilihnya.

Pelayan itu mencatat pesanan Jessica dengan cepat. Sementara itu, Jessica terus memperhatikan sosok gadis tersebut. Tak salah lagi, kalau gadis itu sangat mirip dengn Seo Joohyun.

“Kami akan segera mengantar pesanan Anda, Agasshi. Mohon ditunggu.”, kata pelayan itu, lalu pergi menuju ke arah kasir.

Jessica merasa seperti ia baru saja melihat hantu, sehingga tubuhnya sedikit bergetar. Ia segera meraih ponsel dari dalam tas-nya dan memutuskan untuk menelpon seseorang. “Yoboseyo? Bisakah kita bertemu?”

***

“Tumben sekali, kau ingin mengajakku bertemu, Noona.”

Jessica meringis ke arah Sehun yang sudah berjalan mendekat ke arahnya. Jessica sudah membuat janji dengan Sehun untuk bertemu di sebuah taman untuk membicarakan sesuatu. “Ada yang ingin aku bicarakan. Ini penting, Sehun-ah.”, tutur Jessica.

Sehun mengerutkan keningnya, lalu memilih duduk di salah satu ayunan di samping Jessica. “Apa itu, Noona?”, tanya Sehun penasaran.

“Tadi, aku bertemu Seohyun.”, kata Jessica.

Sehun merasa seluruh tubuhnya langsung tegang. “Jangan macam-macam, Noona. Seohyun sudah pergi dan semua orang tahu akan hal itu.”, jelas Sehun dengan nada dinginnya.

“Tenanglah dulu, Sehun-ah.” Jessica berusaha menenangkan Sehun. “Aku bertemu dengan seorang gadis yang sangat mirip dengan Seohyun.”, jelas Jessica.

Sehun menaikkan sebelah alisnya.

Jessica nampak ketakutan. “K-kupikir, kau ingin tahu akan hal ini, Sehun-ah. Jadi, aku pun memberitahumu.”, jelas Jessica, takut-takut.

Sehun nampak gelisah. Tangannya meremas ujung jas-nya dengan kuat. Ia memaksa otaknya untuk berpikir dengan keras. Setelah memutuskan sesuatu, Sehun pun segera bangkit dari duduknya.

“Sehun-ah?”

“Ajak aku menemuinya, Noona.”

***

“Mana gadis itu, Noona?”

Sehun dan Jessica sama-sama sibuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling café yang terlihat sepi dan tenang itu.

Jessica mendesah pelan. “Sebaiknya, kita masuk dulu dan memesan sesuatu. Lalu, kita baru bisa menanyakan tentang gadis itu.”, usul Jessica.

Sehun pun menurut dan mengikuti Jessica untuk memilih salah satu tempat duduk yang terletak di sudut café tersebut. Meski begitu, Sehun nampak sangat penasaran dengan gadis yang dimaksud oleh Jessica.

Jessica sibuk melihat-lihat menu. Sementara itu, Sehun terus saja mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Pandangan Sehun terhenti pada sosok gadis yang baru saja keluar dari sebuah ruangan—yang nampak seperti dapur. Gadis itu benar-benar mirip dengan Seohyun. Mulai dari perawakannya, rambutnya, warna kulitnya, bahkan wajahnya sekalipun sangat mirip dengan Seohyun. Gadis itu sangat mirip dengan Seohyun tanpa cela sedikitpun.

“Kau mau pesan apa, Sehun-ah?”, tanya Jessica tanpa melihat ke arah Sehun. Namun, karena tidak mendapat respons, Jessica pun mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Sehun. “Sehun-ah?”, panggil Jessica lagi.

Sehun masih terdiam, menatap lurus ke arah gadis itu.

Jessica pun mengikuti arah pandangan Sehun. Jessica sama terkejutnya dengan Sehun. “Gadis itu…”, gumam Jessica.

Sementara itu, hati dan pikiran Sehun sedang kalut. Ia tak tahu harus berbuat apa. Tapi, yang jelas, jika ia semakin lama melihat gadis itu, maka ia bisa saja menjadi gila. Jadi, Sehun pun segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan café tersebut.

“Sehun-ah! Sehun-ah! Kau mau kemana?”, tanya Jessica, sambil berteriak-teriak.

Namun, sekali lagi, Sehun mengabaikan panggilan itu dan langsung menuju mobilnya, mengemudikannya ke suatu tempat. Tempat untuk menenangkan hatinya.

***

“Yoboseyo?”

Sehun sudah menempelkan ponselnya ke telinganya.

“Kau ada dimana, Sehun-ah?”, tanya sebuah suara—Luhan—yang terdengar begitu cemas.

Sehun bisa menebak bahwa Jessica telah memberitahu tentang kejadian yang baru saja ia alami pada Luhan.

“Aku sedang berada di makam Seohyun, Hyung.”, jawab Sehun jujur. Ya, begitulah Sehun. Baginya, makam Seohyun adalah satu-satunya tempat yang bisa menenangkan hati dan pikirannya. Karena disanalah, ia merasa seolah ia bisa berinteraksi dengan istrinya yang sudah tiada itu.

“Sore-sore begini?”, tanya Luhan, terdengar kaget. “Cepatlah pulang, Sehun-ah. Ini akan segera malam.”, tutur Luhan mengingatkan.

Sehun menghela nafas. “Aku bukan anak kecil lagi, Hyung. Kau tak perlu mengkhawatirkanku.”, balas Sehun.

“Bagaimanapun juga, aku khawatir, kalau kau melakukan sesuatu yang tidak-tidak.”, ucap Luhan. “Cepatlah pulang.”, mohonnya lagi.

“Aku tidak akan bersikap sebodoh yang Hyung pikirkan.”, gumam Sehun. “Baiklah, aku akan segera pulang.”, kata Sehun, akhirnya. “Annyeong.” Sehun segera memutuskan sambungan telepon dengan Luhan dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.

Sehun menatap kembali ke arah nisan Seohyun. Dan untuk terakhir kalinya di hari itu, Sehun terduduk lagi di samping nisan istrinya dan memeluknya erat. “Seohyun-ah, katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan sekarang?”

***

Sehun mengaduk-aduk kopi di hadapannya sambil menatap ke arah jalanan di depan matanya yang cukup sepi itu. Sesekali, matanya melirik ke arah kasir café yang sempat ia kunjungi dengan Jessica sore tadi.

Ya, Sehun sudah memutuskan sesuatu hingga ia pun kembali mengunjungi café tersebut.

Sejak Sehun datang ke tempat itu lagi, ia belum melihat sosok gadis pelayan yang mirip dengan Seohyun. Sejenak, Sehun sempat berpikir, kalau tadi sore, dirinya dan Jessica sama-sama sedang berhalusinasi. Tapi, mana mungkin, ada dua orang yang berhalusinasi pada saat yang sama? Rasanya, memang tidak mungkin.

Karena menunggu cukup lama dan tidak melihat tanda-tanda kehadiran gadis itu, Sehun pun memutuskan untuk pulang saja. Namun, ia memastikan lagi dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh café.

Matanya terpaku pada sosok gadis yang baru saja keluar dari dapur dan terduduk di balik meja kasir. Gadis itu nampak kelelahan. Wajahnya begitu lesu, peluh pun menetes dari tubuhnya. Meski begitu, gadis itu tetap terlihat cantik. Sama seperti Seohyun.

Sehun berpikir keras. Apa yang akan ia lakukan setelah ini? Apakah ia akan melakukan ide gila itu?

Sehun menarik nafas dalam-dalam dan memberanikan dirinya sendiri untuk menghampiri gadis itu. Sehun pun beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah kasir.

“Annyeong.”, sapa Sehun ramah.

Gadis itu nampak terkejut dengan kehadiran Sehun, lalu dengan sigap mendongak ke arah Sehun. “A-annyeong.”, balas gadis itu gugup. “Ada yang bisa saya bantu, Agasshi?”, tanya gadis itu sopan.

Sehun tersenyum tipis. “Menikahlah denganku.”

***

“Eh, Noona!”

Gadis itu nyaris saja menyemburkan air minum yang baru saja melalui tenggorokannya karena dikejutkan oleh sebuah suara. Gadis itu menoleh malas ke arah sumber suara tersebut dan mendapati seorang namja berwajah imut yang berjalan ke arahnya. “Ada apa, Taemin-ah?”, tanyanya malas.

“Tolong, jaga kasir terlebih dahulu ya, Noona? Kumohon?”, pinta Taemin, sambil menunjukkan puppy eyes-nya.

Gadis yang dipanggil Noona itu mendengus sebal. “Aku ini kan, pemilik café ini. Seharusnya, karyawanku-lah yang mengerjakan semua ini. Dan bukannya aku.”, dengus gadis itu.

“Yak, Noona! Kami terpaksa minta bantuanmu juga karena café sangat sejak pagi, sementara dapur kekurangan banyak tenaga.”, balas Taemin kesal.

“Baiklah. Terserah kau saja, Taemin-ah.”, balas gadis itu pasrah, lalu berniat untuk duduk di salah satu kursi di dalam dapur itu.

“Eits!” Taemin menarik lengan Noona-nya itu dengan sigap.

“Ada apa lagi, Taemin-ah?”

“Jagalah kasirnya dulu ya, Noona?”, mohon Taemin lagi.

Gadis itu mendesah pelan. “Arrasseo.”, jawab gadis itu, lagi-lagi pasrah.

“Ayolah, Noona! Noona harus semangat! Lee Seohyun, fighting!”, teriak Taemin menyemangati kakak perempuannya—Lee Seohyun.

***

Seohyun keluar dari dalam dapur café-nya, lalu melangkah malas menuju ke arah meja kasir.

Hari ini, ia benar-benar sangat lelah, karena pengunjung café-nya cukup ramai. Belum lagi, beberapa karyawannya sedang ambil cuti. Jadi, ia pun terpaksa turun tangan langsung ke café-nya sebagai pelayan, karena ia tidak jago masak. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan di dalam dapur adalah mengambil makanan.

Seohyun terduduk dari balik meja kasir. Matanya mengedarkan pandangan dengan cepat, memastikan keadaan para pengunjung café-nya. Hari sudah gelap, dan pengunjung café-nya juga sudah mulai sedikit. Jadi, ia tidak perlu bekerja terlalu keras dari balik meja kasir.

Seohyun mengambil sebuah pulpen dan mengetuk-ngetukkannya ke atas meja kasir, tanda bahwa ia sedang sangat bosan. Ingin rasanya ia tertidur saat itu juga di atas meja kasir. Namun, ia tidak mungkin melakukan hal itu di hadapan pelanggannya, bukan? Lagipula, ia bisa kena omel Taemin— adik kandungnya yang agak cerewet itu.

“Annyeong.”

Seohyun terlonjak kaget ketika mendengar sebuah suara. Ia langsung mendongakkan kepalanya dan bertemu pandang dengan sosok pemuda tampan ber-jas yang tengah berdiri di depan kasir sambil tersenyum ke arahnya. Seohyun segera membenarkan cara duduknya—yang sama sekali tidak anggun itu.

“A-annyeong.”, balas Seohyun gugup, karena menghadapi pemuda yang begitu tampan itu. “Ada yang bisa saya bantu, Agasshi?”

Pemuda itu tersenyum. Senyuman yang manis, menurut Seohyun. “Menikahlah denganku.”, pinta pemuda itu.

Seohyun merasa bumi berhenti berputar saat itu juga. Ia merasa jantungnya pun berhenti berdetak detik itu juga. Dalam hatinya, ia menjerit, ‘Tuhan! Ujian apa lagi yang kau berikan padaku?’

TBC

***

*tuingtuing*

Ini sequelnya When You’re Gone dengan happy ending🙂

Next chap bakalan ada part NC-nya. NC-nya aku tulis pake merah, jadi yang nggak suka atau masih dibawah umur, di-skip aja. Nggak memperngaruhi jalan cerita, kok ^^

Love,

Jung Minrin

7 responses to “[Twoshot] After She’s Gone – Part 1

  1. chinguuuuu ffxa bguuuuz,,, oiya npa nhe yg part 2 pakai pasword,,,,,??
    aq reques donk ff seohun yg romantiss abieesss,,,,,
    maaf ya chingu ngerepotin,,,,,,,,
    hwaitiiiiiing,,,,,

  2. baru nemu nih blog..😀
    ffnya kereen chingu..
    jadi penasaran apa jawaban seohyun..
    ~keke
    part 2 nya knpa d protect?

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s