[Series] In Trouble – Chapter 3

in trouble

Title : In Trouble

Author : Idwinaya (@reddsky_10)

Cast :

Tao EXO-M

Sunny SNSD

Jessica SNSD

Kris EXO-M

Rating : PG

Length : Series

Genre : Romance

Author Note : Ini dia chap. 3 dari FF In Trouble. Happy reading, readers!

***

“Aku pernah mengenalnya.”

Jessica langsung mengerutkan keningnya, setelah mendengar ucapan Sunny padanya. Detik berikutnya, ia pun mendengus sebal. “Aku juga paham akan hal itu, pabbo!”, kata Jessica kesal. “Sudahlah, cepat ceritakan intinya padaku. Jangan bertele-tele, Sunny-ah.”, pinta Jessica malas.

Sunny mendesah pelan. Ia menarik nafas, menghembuskannya. Diulangnya kegiatan itu sebanyak lima kali untuk menenangkan hatinya.

Bagi Sunny, menceritakan masa lalunya adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Ini berarti bahwa ia harus menerima resiko yang akan ia terima jika ia harus membuka kembali cerita masa lalunya. Baik itu manis atau pahit.

“Arraseo.”, jawab Sunny, akhirnya. Sunny menarik nafas lagi. “Dia adalah teman masa kecilku.”, mulai Sunny.

Jessica menopang dagunya dengan kedua tangannya sambil memasang telinganya, agar bisa menangkap penjelasan dari Sunny.

“Yah, itu pun kalau dia masuk hitungan sebagai temanku.”, gumam Sunny. “Sejak awal, kami memang tidak terlalu dekat.”, lanjutnya. “Sesungguhnya, aku-lah yang berusaha menghindarinya. Sementara dia selalu berusaha untuk mendekatiku.”, jelas Sunny.

Jessica mengerjap-ngerjapkan matanya. Nampaknya, ia sudah mampu menebak kisah yang pernah terjadi antara Sunny dan Tao. Hanya saja, ia ingin mendengar lanjutan kisahnya dari mulut Sunny. Jadi, ia pun memilih untuk diam saja dan menunggu Sunny melanjutkan ceritanya.

Sunny menarik nafas sekali lagi. “Menurut kedua orang tuaku, dia adalah namja yang baik.”, kata Sunny. “Yah, sebenarnya, aku juga menganggapnya begitu. Tapi entah kenapa, aku begitu membencinya, bahkan sejak pertama kali mengenalnya.”, lanjut Sunny.

“Memangnya, bagaimana kalian bisa saling mengenal?”, tanya Jessica penasaran. Ini adalah salah satu bagian dimana Jessica kesulitan untun menebaknya. Jadi, ia memutuskan untuk menanyakannya langsung kepada Sunny.

Sunny melirik mata Jessica sekilas, lalu menunduk. “Dia adalah tetanggaku.”, jawab Sunny singkat. Sunny nampak berpikir lagi, mencoba mencari susunan kata yang tepat untuk menggambarkan hubungannya dengan Tao di masa lalu. “Kalau tidak salah, dia baru saja pindah dari Busan. Kedua orang tuaku menyukai dia dan keluarganya sejak pertama kali bertemu. Sementara tidak denganku. Aku hanya menyukai keramahan Kim Ahjumma.”, jelas Sunny.

Jessica mengangguk mengerti. “Tunggu, tunggu!”, seru Jessica.

Sunny mendongakkan kepalanya. “Apa?”

“Memangnya, Tao itu orang Korea, ya?”, tanya Jessica.

Sunny mendesah pelan. “Bukan. Dia adalah orang China. Setahuku, orang tuanya sudah meninggal. Jadi, bibinya-lah yang mengasuhnya dan membawanya ke Korea. Setidaknya, begitulah yang kudengar dari orang tuaku.”, ujar Sunny. Sunny merasa ada rasa perih yang kembali muncul setiap kali mengingat kedua orang tuanya. Terlalu banyak kenangan yang justru membuat ia ingin menangis saja.

“Oh.” Jessica mengangguk paham. “Memangnya, kenapa kau bisa begitu membenci Tao?”, tanya Jessica. “Sepertinya, dia bukan anak yang jahat atau semacamnya.”, komentar Jessica.

Sunny mengangguk. “Orang tuaku juga bepikir begitu. Hanya saja, aku merasa… Aku merasa…” Sunny bingung bagaimana ia harus mengungkapkan perasaanya.

“Kau merasa apa?”, tanya Jessica sambil menaikkan kedua alisnya.

Sunny mencoba mencari kata yang tepat. “Iri, mungkin?”, gumam Sunny ragu.

Jessica mengerutkan keningnya, bingung. “Iri? Untuk apa kau iri dengannya?”, tanya Jessica heran.

“Entahlah.” Sunny mengangkat kedua bahunya. “Kurasa, dia punya kehidupan yang begitu bahagia.”, lanjutnya.

“Hm?”

“Kim Ahjumma bukanlah orang kaya. Ia hanyalah orang yang sederhana. Tapi, Tao dan Kim Ahjumma selalu terlihat bahagia.”, jelas Sunny lirih. Ia merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya ketika mengucapkan kalimat itu. Sial! Kenapa harus sesakit ini?, batin Sunny.

“Hanya karena itu?”, tanya Jessica heran.

Sunny bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah jendela kamarnya. Melongokkan kepalanya, mendongak ke atas, menatap langit malam yang bertaburan bintang. “Kedengaran aneh, memang. Tapi, itulah kenyataannya.”, kata Sunny. “Belum lagi, aku merasa takut.”

“Takut?”

“Aku takut kalau Tao bisa merebut perhatian banyak orang. Dia adalah namja yang baik, ramah pada setiap orang, sederhana, cerdas dan masih banyak kepribadian menarik dari dalam dirinya.”, jelas Sunny.

Jessica mengerti. Ia tahu betul dengan sifat sahabatnya itu. Jessica paham kalau Sunny bukanlah orang yang suka jika ia dikalahkan oleh orang yang—secara kekayaan dan derajat—lebih rendah dari dirinya. Kadang, ia merasa bahwa sifat semacam itu tidaklah baik. Karena dengan begitu, kita sudah termasuk menyombongkan diri. Tapi, Jessica tahu betul kalau Sunny bukanlah orang yang sombong seperti itu. Sepertinya, keadaan-lah yang memaksanya menjadi seperti itu.

“Apalagi, kalau orang tuaku jauh lebih memerhatikan Tao daripada aku. Aku takut sekali.”, kata Sunny. “Jadi, aku putuskan untuk menjauhinya saja dan bertekad untuk mengalahkannya.”, lanjutnya. “Tetapi, aku salah. Salah besar.”

Jessica mengerjapkan matanya sekali dan memasang telinganya baik-baik.

“Tao justru semakin berusaha mendekatiku. Dan hal itu membuat aku semakin terpojok. Semua orang menganggap aku sebagai orang yang jahat.”, ujar Sunny.

Spontan, Jessica menutup mulutnya sendiri. Ia tak menyangka, kalau akan seperti ini jadinya.

“Bahkan, orang tuaku juga sampai menegurku karena sikapku pada Tao.”, kata Sunny. Terdengar isakan kecil dari mulut Sunny.

Jessica menyadari hal itu dan merasa kasihan pada sahabatnya.

Sunny berusaha tegar dan berpura-pura tertawa. “Sekarang, aku menyadari bahwa aku memang kejam.”, katanya. “Tapi, aku terlalu egois waktu itu. Aku tetap tak ingin mengakui kesalahanku dan membuat Tao semakin berusaha mengejarku.”, lanjutnya. “Sampai ia pun jatuh cinta padaku.”

“Mwo?! Jatuh cinta?” Jessica membelalakkan matanya, karena terkejut.

Sunny tersenyum tipis. “Dia menyatakan cintanya kepadaku. Tapi, aku menolaknya.”, lanjut Sunny.

“Lalu?”

“Semua orang semakin berpikir kalau aku ini begitu jahat dan kejam pada Tao.”, kata Sunny. “Padahal, tidak. Aku sungguh tidak bermaksud begitu.” Sunny kembali terisak.

Jessica mendekati Sunny dan mengelus pundak sahabatnya itu. “Uljima, Sunny-ah.”

Sunny mendongakkan kepalanya dan mencoba menahan isakannya. “Aku menolaknya, karena aku merasa sudah terlalu kejam pada Tao. Aku tak pantas lagi untuk Tao.”, kata Sunny dengan nada penuh penyesalan.

Jessica menggigit bibirnya. Ia memang tahu kalau Sunny tidak akan mungkin se-kejam itu. Sesungguhnya, Sunny memiliki hati yang lembut. Hanya saja, ada banyak hal yang mempengaruhinya sehingga membuat hatinya sedingin es.

“Kupikir, Tao akan ada untukku saat semua menghardikku. Tapi nyatanya tidak.”, jelas Sunny. “Tak lama setelah penolakan itu, dia pergi dengan Kim Ahjumma, entah kemana.”, lanjut Sunny. “Dan yang membuatku semakin terpuruk adalah dengan kematian kedua orang tuaku. Aku seperti debu. Terbang kesana kemari, tanpa tahu arah dan tujuan, tanpa tahu kemana aku harus singgah.”, jelas Sunny. “Aku hancur. Hancur.” Sunny tak dapat menahan tangisannya lagi.

Jessica berusaha menenangkan Sunny. “Tenanglah, Sunny. Tenang.”

“Sejak saat itu, aku bertekad untuk memulai kehidupan baruku. Bahkan, aku bertekad untuk membenci Tao yang sudah meninggalkanku begitu saja. Walaupun aku jahat padanya, tidak bisakah dia mengucapkan selamat tinggal padaku sebelum ia pergi?”, celoteh Sunny.

“Jadi, inikah alasannya kenapa kau tak mau dipanggil Soonkyu? Karena kau tak ingin orang-orang mengenalimu? Begitu pula dengan Tao?”, tanya Jesica menyelidik.

Sunny mengangguk.

Jessica mendesah pelan. Kalau saja keadaannya tidak seperti ini, ia pasti sudah memarahi Sunny atas semua kesalahannya.

“Sekarang, aku harus bagaimana lagi, Sica-ya? Aku harus bersikap seperti apa saat bertemu lagi dengannya?”, tanya Sunny bingung.

Jessica menarik nafas dalan-dalam. “Tenang saja. Aku akan membantumu menemukan jalan keluarnya.”

***

“Kau jatuh cinta padanya? Bagaimana bisa?”

Tao menyesap kopinya sekali lagi, lalu menatap ke arah Kris yang duduk di depannya. “Entahlah. Bukankah cinta sejati tak membutuhkan alasan?”

Kris mendengus sebal. “Memangnya, apa yang diketahui oleh bocah ingusan sepertimu saat itu, hah?”, tanya Kris kesal.

Tao tertawa pelan, lalu memutar ingatan di kepalanya dengan cepat. “Sejak awal, aku sudah tertarik padanya.”, kata Tao.

Kris mengerutkan keningnya. “Bagaimana kau bisa tertarik pada gadis yang bersikap ketus padamu?”, tanya Kris heran.

“Aku yakin, kalau ada sesuatu yang disembunyikannya dari sifatnya yang ketus itu padaku.”, jawab Tao.

“Huh? Begitukah?”, tanya Kris tak percaya. Lalu, ia pun meminum kopi dari cangkir miliknya.

“Begitulah kenyataannya.”, kata Tao menimpali.

“Lalu, dia sudah mengetahui perasaanmu padanya?”, tanya Kris.

“Sudah.”, jawab Tao sambil menganggukkan kepalanya.

“Dia menolakmu, kan?”, tebak Kris cepat.

Tao mengerutkan keningnya, heran. “Bagaimana kau bisa tahu hal itu?”

Kris mendengus pelan. “Dari sikap yang kalian tunjukkan, hanya ada dua kemungkinan dengan hubungan kalian. Cintamu ditolak olehnya atau kalian pernah menjalin cinta lalu putus.”, kata Kris, menjelaskan teorinya.

Tao terkekeh pelan mendengar teori cerdas dari Kris. “Benar juga.” Tao mengangguk setuju.

“Lalu, bagaimana kelanjutan hubungan kalian?”, tanya Kris penasaran.

Tao menarik nafas dan melanjutkan ceritanya lagi. “Tak lama setelah penolakan itu, akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan keluargaku. Keluarga Huang.”, kata Tao.

Kris mengangguk mengerti. Ia memang tahu bagaimana kisah hidup seorang Huang Zhi Tao. Karena persaingan dunia bisnis yang keras dan kejam, sehingga mereka para pemain bisnis harus menanggung berbagai konsekuensinya. Termasuk keluarga mereka. Dan Tao menjadi salah satu korbannya. Tao diculik oleh saingan keluarga Huang dan dijual ke Korea. Tapi akhirnya, keluarga Huang berhasil melacak keberadaan Tao dan mengembalikan permata mereka yang hilang ke tempatnya yang seharusnya. Ya, Tao akhirnya kembali ke keluarga Huang.

Kris sudah hafal dengan kisah itu. Namun, ia tak pernah mengetahui Tao mengungkit sosok Sunny—cinta masa lalunya itu.

“Kau tak bertemu lagi dengannya setelah itu?”, tanya Kris.

“Tidak, sampai tadi pagi.”, kata Tao, lalu tersenyum puas.

“Kalau kau menyukainya, kenapa kau tak pernah berusaha mengejar cintanya lagi?”, tanya Kris.

“Aku akan berusaha mengejar cintanya lagi, kok!”, celetuk Tao.

Kris mendengus sebal. “Bukan sekarang. Maksudku, kenapa tidak dari dulu saja?”

Tao mendesah berat. “Kasusnya sama seperti sekarang.”, kata Tao.

Kris mengerutkan keningnya karena bingung. Ia menanti Tao melanjutkan kalimatnya.

“Aku hanya tak ingin dia mengetahui identitasku yang sebenarnya.”, lanjut Tao.

Lagi-lagi, Kris mengerutkan keningnya. “Kenapa begitu? Kenapa kau tak ingin dia mengetahui identitasmu yang sesungguhnya?”, tanya Kris.

“Karena aku ingin membuatnya jatuh cinta pada Tao yang dikenalnya dulu, bukan jatuh cinta pada seorang Huang Zhi Tao.”, jelas Tao, sambil mengulum senyum.

***

“Kenapa melamun, chagiya?”

Jessica mendongakkan kepalanya dan mendapati Kris—tunangannya—yang sedang mengamati wajahnya. Jessica membalasnya dengan sebuah senyuman tipis. “Aniyo. Hanya saja…” Jessica menggantungkan kalimatnya.

“Hanya saja apa, chagiya?”, tanya Kris lembut.

Jessica menggembungkan pipinya. “Aku tak menyangkan dengan semua kejadian ini akan terjadi.”, jelas Jessica.

Kris mengerutkan keningnya karena tidak begitu paham dengan ucapan Jessica.

Jessica mengerjap-ngerjapkan matanya, seolah sedang mengirim sinyal kepada Kris.

Kris pun tersenyum senang setelah mengetahu maksud ucapan Jessica. “Masalah Tao dan Soonkyu, ya?”, tanya Kris memastikan.

Jessica mendengus sebal. “Jangan memanggilnya Soonkyu. Rasanya aneh dan risih di telingaku.”, protes Jessica.

Kris tertawa pelan, lalu mengacak poni Jessica. “Ne. Habis, Tao selalu menyebut gadis itu dengan nama Soonkyu.”, jelas Kris.

“Baiklah. Mulai sekarang, panggil dia Sunny, eoh?”

“Ne.”, jawab Kris sambil mengangguk mantap. “Ngomong-ngomong, kenapa kau harus memikirkan masalah mereka?”, tanya Kris heran.

Jessica memalingkan wajahnya karena kesal. “Kita ini tidak sama, Kris pabbo!”, cibir Jessica.

Kris tak paham.

“Para gadis biasanya lebih peka dan peduli pada masalah yang dialami sahabat mereka. Tapi para pria cenderung cuek dan tidak peduli.”, jelas Jessica.

Kris mengangguk mengerti. Ia tidak peduli dengan teori semacam ini. Baginya, ia akan peduli, jika sahabatnya sudah terancam atau sahabatnya itu meminta tolong secara langsung padanya. Toh, Tao belum meminta pertolongan yang cukup berarti dari Kris. “Lalu, bagian mana yang kau pikirkan? Siapa tahu, aku bisa membantumu.”, tawar Kris.

Jessica mendesah berat. “Semuanya, Oppa.”, jawab Jessica.

“Mwo?!”

“Yah, rasanya masalah mereka rumit sekali. Bagaimana nasib mereka selanjutnya setelah ini?” Jessica terdengar begitu frustasi. “Bayangkan saja, mereka saling membenci seperti itu.”, tambah Jessica.

“Benar juga. Tapi, aku kenal Tao. Dia adalah namja yang baik. Jadi, aku yakin bahwa ia mampu mengendalikan keadaan.”, kata Kris menenangkan.

Seketika, Jessica menggigit bibirnya sendiri. Sepertinya, Kris tak memahami masalah yang sesungguhnya sedang terjadi. Namun, ia tak mungkin menceritakan hal ini pada Kris. Ia sudah berjanji pada Sunny untuk tidak menceritakan semuanya pada orang lain. Termasuk tentang kondisi Sunny saat ini. “Hanya saja, bagaimana, ya?”, gumam Jessica bingung.

“Bagaimana apanya?”

“Bagaimana kalau mereka tidak melanjutkan acara ini?”, tanya Jessica. Sesungguhnya, inilah keinginan Sunny. Bukankah tujuan Sunny untuk mengikuti acara ini adalah untuk sekedar mendapatkan uangnya?

“Tidak akan ada masalahnya, bukan?”, balas Kris santai.

Jessica merasa geram dengan pola pikir Kris yang tak peka pada perasaan perempuan. “Bukankah mereka mengikuti acara ini untuk mencari jodoh? Tapi, bagaimana kalau mereka malah mendapat masalah yang lebih besar?”, tanya Jessica berspekulasi. Well, spekulasi yang dilontarkannya malah bertolak belakang dengan harapannya dan Sunny.

“Bukankah aku sudah bilang? Tao pasti mampu mengendalikan keadaan.”, tegas Kris.

Jessica menyipitkan matanya, curiga pada Kris. “Kenapa kau bisa bersikap setenang ini, sih? Jangan-jangan, kau dan Tao sudah bersekongkol untuk mengikuti acara ini supaya bisa menggagalkannya di tengah jalan, ya?”, tuduh Jessica. Well, Jessica berharap supaya Kris mengiyakan tuduhannya ini.

Kris justru tertawa renyah. “Kita lihat saja sendiri.”, kata Kris misterius. “Bukankah Tao bertekad untuk tetap mengikuti acara ini? Bahkan, dia sudah menyatakan pada sahabatmu itu bahwa ia akan membuatnya jatuh cinta.”, imbuhnya.

Well, sekarang Jessica takut. Ia mengkhawatirkan posisi Sunny. Jessica belum bisa menebak motif dari Tao untuk mengikuti acara ini. Bagaimana kalau Tao benar-benar ingin mendapatkan Sunny? Lantas, bagaimana mungkin, Sunny melancarkan misinya untuk mendapatkan uang yang diincarnya?

***

“Mian, Sunny-ah. Aku sedang bersama Kris Oppa.”

Sunny mendengus sebal ketika mendengar kalimat tersebut meluncur dari mulut Jessica di seberang telepon. “Arrasseo. Maaf karena sudah mengganggumu.”, balas Sunny ketus.

“Maafkan aku, ne?”, mohon Jessica memelas.

“Ne. Annyeong!”, balas Sunny, tetap dengan nada ketus. Ia langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ingin rasanya, ia membanting ponselnya itu ke jalanan yang keras. Namun, karena keadaan keuangannya menipis, jadi ia harus menjaga setiap benda miliknya dengan baik.

Sunny menghentakkan kakinya dengan keras ke arah trotoar tempatnya berdiri untuk melampiaskan kekesalannya. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya sebagai pelayan di restaurant. Biasanya, Jessica-lah yang akan menjemputnya. Namun, berhubung kekasih Jessica sedang berada di Seoul, maka Jessica akan lebih sering menghabiskan waktunya dengan kekasihnya itu.

Sunny mendesah keras. Kalau seperti ini kasusnya, maka ia harus berjalan hingga halte bus dan menunggu bis yang akan datang untuk mengantarnya ke rumah pamannya.

Sunny pun memutuskan untuk menyebrang. Namun, ia menghentikan langkahnya saat melihat sebuah mobil Audi—entah tipe apa—yang melaju di jalanan yang sepi itu.

Entah kenapa, laju mobil tersebut nampak melambat saat mendekati posisi Sunny berdiri. Mobil itu pun akhirnya berhenti tepat di depan Sunny.

Mobil itu memang beratap terbuka, sehingga pengemudinya lebih mudah terlihat. Namun, karena terkena cahaya matahari sore, Sunny tak dapat melihat wajah si pengemudi dengan jelas. Sunny pun harus menyipitkan matanya dan didapatinya sesosok namja yang tak asing lagi baginya.

Namja itu menoleh ke arah Sunny, sambil tersenyum. “Annyeong, Soonkyu.”

“Kau?!”, desis Sunny tajam.

Namja itu—Tao—semakin melebarkan senyumannya.

“Kenapa berhenti tepat di hadapanku? Menghalangi jalanku saja!”, seru Sunny kesal. Sunny pun harus berjalan beberapa langkah agar ia bisa menyebrang dan menghindari Tao.

Melihat langkah Sunny, Tao pun segera melompat turun dari dalam mobilnya. Kakinya yang panjang itu, lebih memudahkan untuk mengejar Sunny yang melangkah dengan kakinya yang pendek. “Tunggu dulu!”, perintah Tao, sambil mencengkram lengan kiri Sunny.

Sunny menoleh dan menatap tajam ke arah Tao. “Lepaskan tanganku sekarang juga!”, perintah Sunny.

“Tidak!”, balas Tao.

Sunny membelalakkan matanya. “Cepat singkirkan tanganmu!”, perintah Sunny sekali lagi.

Sedetik kemudian, Tao langsung menarik lengan Sunny, sehingga tubuh Sunny yang tak sigap itu pun terjatuh di dada Tao. “Ayolah, chagi. Biar aku mengantarmu sampai ke rumahmu. Namjachingu mana yang rela membiarkan yeojachingu-nya pulang dengan jalan kaki, hm?”, kata Tao dengan nada menggoda.

Sunny berniat marah. Namun, Tao segera memberikan tatapan orang-orang-memperhatikan-kita. Jadi, ia memutuskan untuk mengikuti permainan Tao.

Melihat raut wajah Sunny yang terlihat pasrah, Tao pun menyunggingkan sebuah senyuman jahilnya. “Nah, ayo! Kuantar kau pulang.”, ajak Tao sambil menarik lengan Sunny menuju mobilnya.

Sunny pun hanya bisa pasrah dengan ide gila Tao ini. Ia tak ingin mengambil resiko dengan membuat kehebohan di depan restaurant tempatnya bekerja.

Tao segera mengemudikan mobilnya kembali setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, melajukannya di tengah jalanan kota Seoul yang cukup lengang. “Darimana kau?”, tanya Tao pada Sunny.

Sunny tak berniat untuk memandang Tao dan hanya memandang ke arah pertokoan yang dilintasinya. “Bukan urusanmu!”, tegas Sunny dengan nada ketus.

Tao terkekeh pelan. Ia tak menanggapi ucapan Sunny dan terus berceloteh. “Tumben sekali, tak ada supir yang mengantarmu, Tuan Puteri?”, tanya Tao dengan nada menggoda.

Sunny menoleh dan mendelik kesal pada Tao. Ia tahu, panggilan ‘Tuan Puteri’ yang diberikan Tao padanya adalah sebuah sindiran untuknya bahwa ia adalah seorang gadis yang manja. “Bagaimana kau menyebutku, hah?!”, sungut Sunny.

Tao tertawa lepas. “Bicara juga akhirnya.”, gumam Tao dengan nada senang.

Sunny menggembungkan pipinya karena kesal, lalu memalingkan wajahnya ke arah jalanan lagi. Ia merutuki dirinya sendiri karena telah menanggapi ucapan Tao.

Tao masih tertawa kecil. Ia pun tetap mengemudikan mobilnya ke suatu tempat yang masih ia rahasiakan dari Sunny.

Sementara itu, Sunny bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia khawatir kalau seandainya Tao sempat memergokinya keluar dari restaurant. Atau malah, Tao berpikir kalau Sunny bekerja di restaurant tersebut.

Sunny pun masih tak habis pikir kalau ia bisa bertemu dengan Tao. Benar-benar sebuah kebetulan atau malah sebuah…

“Ini takdir, ya?”, kata Tao.

Sunny menoleh ke arah Tao. Ia heran, kenapa Tao bisa menebak pikirannya dengan waktu yang tepat.

“Jangan-jangan, kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama, ya?”, goda Tao sambil tetap fokus pada jalanan.

“Kebetulan saja.”, balas Sunny dengan pelan.

Diam-diam, Tao tersenyum tipis.

“Hei, kau mau mengajakku kemana?”, tanya Sunny penasaran.

“Rahasia.”, balas Tao misterius.

“Yak! Aku ingin pulang!”, seru Sunny. “Turunkan aku atau akan yang akan melompat!”, ancam Sunny.

Tao tersenyum. “Melompatlah saja kalau kau berani.”, balas Tao enteng sambil menambah kecepatan mobilnya.

Well, Sunny bergidik ngeri. Ia pun memilih untuk diam saja.

Tak lama, Tao pun menghentikan laju mobilnya. Sunny melongok keluar dan mendapati dirinya yang sudah berada di Sungai Han.

“Kenapa kau mengajakku kemari? Aku ingin pulang.”, pinta Sunny.

Tao mengabaikan permintaan Sunny dan melompat turun dari mobilnya. Sunny pun mengikuti namja itu.

“Baiklah, kalau begitu. Terima kasih atas tumpangannya. AKu pulang!”, teriak Sunny.

Tao mencengkram lengan Sunny. “Kau sudah pulang, Sunny-ah.”, kata Tao.

Sunny mengerutkan keningnya bingung.

“Ini adalah rumahmu. Kau tak ingat?”, tanya Tao lembut.

GLEK!

Sunny kesulitan menelan ludahnya sendiri. Sial! Kenapa dia masih ingat dengan hal itu?, batin Sunny kesal.

Sunny ingat kalau dulu, ia pernah bercita-cita untuk memiliki rumah di tepi Sungai Han. Dan ternyata, Tao pun masih mengingatnya.

“Kau ingin punya rumah disini, kan?”, tanya Tao mengingatkan.

Sunny menghempaskan cengkraman Tao. “Itu dulu! Dulu tak sama dengan sekarang!”, tegas Sunny lalu membalik badannya dan segera berlari meninggalkan Tao.

Tao hanya terpaku di tempatnya. Ia tak berniat mengejar Sunny, karena sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Jadi, kalau dulu kau tak mencintaiku, apa mungkin kau bisa mencintaiku sekarang? Bukankah dulu berbeda dengan sekarang?, batin Tao senang.

***

“Mwo?! Kau bertemu dengan Tao?”

Sunny segera menutup kedua telinganya setelah mendengar teriakan heboh dari Jessica. “Tak bisakah kau tak berteriak seperti itu? Kau nyaris membuatku tuli, tahu!”, sungut Sunny kesal.

Jessica meringis. “Mianhae.”, ucapnya. “Bagaimana bisa kau bertemu dengannya?”

“Dia melintas di depanku, setelah aku pulang kerja.”, jelas Sunny.

Jessica mengangguk mengerti. “Lalu, apa yang kalian berdua lakukan?”

“Dia mengajakku pergi ke Sungai Han.”, kata Sunny. “Bahkan, dia masih ingat dengan masa lalu itu. Dia ingat kalau aku ingin punya rumah di tepi Sungai Han.”, ucap Sunny.

Jessica tahu apa yang sedang ada dalam pikiran Sunny. Ia yakin, kalau Sunny cemas. Ia yakin, kalau Sunny sedang mengkhawatirkan perasaan Tao. Dan yang palingg penting adalah bahwa Sunny khawatir jika ia jatuh dalam pesona Tao—yang akan menggagalkan misinya untuk mendapatkan uang yang diincarnya.

***

“Kau gila, Huang Zhi Tao!”

Kris menunjukkan ekspresi wajahnya yang geram—tapi malah terlihat seperti sedang gemas—kepada Tao yang sedang menyeruput teh dari cangkirnya dengan tenang.

“Waeyo? Memangnya, aku salah?”, tanya Tao sambil memasang tampang tak berdosa andalannya itu.

Kris mendesah keras. Kadang, ia merasa lelah sendiri jika harus berdebat dengan Tao yang agak keras kepala ini. “Kau semakin memperkeruh suasana saja. Bukannya membuat dia jatuh cinta padamu, kau malah membuatnya ketakutan, tahu!”, seru Kris kesal.

Tao tersenyum kecil, sambil mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit apartemennya. “Kau belum mengenal Sunny, Ge. Dia bukan tipe gadis pantang menyerah. Aku yakin, ia akan berusaha mengalahkanku dalam acara itu. Aku yakin, dia akan berusaha untuk tidak jatuh cinta padaku.”, kataku panjang lebar.

“Nah, kan? Bukankah akan semakin sulit untuk membuatnya jatuh cinta padamu?”, tebak Kris.

Tao menyeringai lebar. “Bukan begitu, Ge. Aku yakin, dia akan semakin agresif untuk menolakku. Dan bagiku, itu akan terasa semakin mudah untuk membuatnya jatuh dalam pesonaku.” Tao pun tertawa puas.

Kris mengerutkan keningnya. Ia tak paham dengan jalan pikir Tao saat ini. Ia tak tahu langkah yang akan diambil Tao untuk menarik perhatian Sunny. Lagipula, ia juga tak ingin tahu.

Hanya saja, Kris merasa khawatir jika Tao melakukan sedikit kesalahan yang akan menghancurkan segalanya.

***

Seorang namja tampan ber-jas itu tengah duduk tenang di sebuah ruang kerja yang terkesan mewah dan elegan. Ia sedang mengecek beberapa lembar kertas di tangannya, saat sebuah ketukan di pintu ruang kerjanya menginterupsi kegiatannya.

TOK! TOK! TOK!

“Masuklah.”, perintah namja itu.

Sesosok namja lain yang bertubuh kekar muncul dari balik pintu. Pakaian yang dikenakannya pun nyaris mirip dengan namja yang sudah berada di dalam ruang kerja tersebut. “Anyyeonghaseyo, Tn. Huang.”, sapa namja itu sambil membungkukkan badannya, tanda hormat.

“Ne, anyyeong. Ada perlu apa kau kemari? Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku minta?”, tanya namja tampan itu.

“Ne, Tn. Huang.”, jawab namja kekar itu mantap. “Ini adalah laporan yang Anda minta.”, katanya sambil menyerahkan sebuah map yang berisi beberapa lembar laporan yang dimaksud.

Si namja tampan menyeringai puas setelah menerima map tersebut. “Baiklah, kalau begitu. Terima kasih atas bantuanmu. Kau bisa kembali lagi ke tempatmu.”, perintahnya.

“Arrasseo, Tuan.”, balas si namja kekar dengan tegas. “Annyeonghaseyo.”, pamitnya sopan, sambil membungkukkan badannya lagi, lalu mulai berjalan mundur, keluar dari ruangan tersebut.

Si namja tampan—atau yang bernama Huang Zhi Tao—itu pun membuka map yang baru saja diserahkan padanya. Dibukanya map itu. Ia pun mulai membaca lembar pertama dalam laporan tersebut. Sekilas, ia nampak tersenyum senang dengan laporan tersebut.

Namun, raut wajahnya berubah mengeras ketika membaca laporan pada lembar kedua.

“Apa-apaan ini?! Apa yang sudah terjadi padanya?!”

TBC

***

Okeh. TBC dulu ya, readers?

Saya mau curhat, ya? Boleh, ya? Hehe🙂

Jadi, gini readers, jadwal update FF yang sudah saya bikin, seharusnya ‘In Trouble’ di-update lebih dulu dibanding yang If You Were My Boyfriend/Girlfriend. Tapi, karena ide lagi ngadat, saya putuskan untuk update yang If You Were My Boyfriend/Girlfriend dulu, deh. Setelah ini, saya baru akan update FF Puzzle. Hehe😉

Semoga readers tidak kesal dengan author yang super labil ini, yaa? Hehe😀

At last, as usual, saya minta comment dari readers, okay? ^^

Love,

Jung Minrin

9 responses to “[Series] In Trouble – Chapter 3

  1. uwowwww … *gayasule* .. ff nya kereenn .. aku suka TaoSun sama KrisSicaa …. aaaa❤

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s