[Series] If You Were My Girlfriend – Chapter 5

if-you-were-my-girlf

Title : If You Were My Girlfriend

Author : Idwinaya (@reddsky_10)

Main Cast :

Kris EXO-M

Jessica SNSD

Support Cast :

Tao EXO-M

Seohyun SNSD

Sehun EXO-K

Chanyeol EXO-K

Tiffany SNSD

Krystal f(x)

Minho SHINee

Another EXO member

Rating : PG

Length : Series

Genre : Romance

Author Note : Sebelumnya, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada salah satu penulis favorit saya—Ilana Tan. Berkat limpahan ide yang dituangkannya dalam novel-novelnya, saya pun mendapat inspirasi-inspirasi baru untuk menulis lanjutan FF ini, terutama novelnya yang berjudul Summer in Seoul. Novel yang berhasil membuat saya, tersenyum, sedih, tertawa, marah, bahkan sampai menangis. Saya harap, saya pun berhasil membuat readers saya pun seperti itu, walau saya pun masih perlu banyak belajar. Tapi, saya akan selalu berusaha untuk memperbaiki tulisan saya.

Untuk readers, happy reading ^^


***

“Hei!”

Kris baru saja keluar dari kamarnya setelah mandi dan berpakaian. Tangannya masih sibuk merapikan kemeja yang dikenakannya. Didapatinya Jessica yang sedang merapikan ruang tengah apartemen miliknya.

Jessica mendongakkan kepalanya, menatap Kris.  “Ada apa?”, tanya Jessica polos.

Kris mengalihkan pandangannya dari kemejanya ke arah Jessica. “Kau sudah memasak sesuatu?”, tanya Kris sambil tetap menata kemejanya, tanpa perlu meihat.

Jessica memandang Kris selama beberapa detik.

Hal itu membuat Kris merasa risih, karena dipandangi dengan tatapan aneh dari Jessica. “Oi! Kau lihat apa?”, tegur Kris. “Kau terpesona dengan postur tubuhku, ya?”, tuduh Kris.

“Aniyo!”, seru Jessica dalam bahasa Korea. Sedetik kemudian, dia langsung menutup mulutnya dan meralat ucapannya. “Eh, maksudku, tidak!”, ulangnya.

Kris tertawa pelan. Dia ingat, kalau dia belum memberitahukan kepada Jessica kalau ia mampu menggunakan bahasa Korea. Jadi seharusnya, Kris tahu apa yang diucapkan oleh Jessica tadi. Kris pun melangkah menuju dapur. “Jadi, kau sudah memasak apa?”

“Memasak?”, tanya Jessica dengan nada heran.

Kris menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Jessica. “Jangan bilang kalau kau sudah lupa cara memasak!”, seru Kris, lalu mengambil langkah cepat ke dapur. “Bukankah memasak menjadi salah satu tugasmu sebagai asistenku?”, tanya Kris mengingatkan. Kris mendapati bahwa tak ada satu pun makanan yang sudah disiapkan Jessica untuknya.

Padahal, Kris ingat betul bahwa ia sudah memberitahukan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh Jessica—salah satunya memasak untuk dirinya. Ya, Kris akhirnya memberikan pekerjaan kepada Jessica sebagai seorang asisten—begitulah Kris menyebutnya.

“Lalu, aku harus memasak pakai apa? Garam saja, kau tak punya.”, gerutu Jessica, sambil mengikuti langkah kaki Kris.

Kris menoleh ke arah Jessica dan meringis. “Aku lupa.” Kris terkekeh pelan, menertawakan kebodohannya sendiri. Selama beberapa hari ini, ia memang tidak memiliki bahan makanan di dalam dapurnya.

Jessica berkacak pinggan dan menatap sebal pada Kris.

Kris pun berpikir dengan cepat. Ia segera mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya. Diambilnya kartu kredit dari dalam dompetnya. “Ini kartu kreditku.”, kata Kris sambil menyerahkan kartu kredit miliknya kepada Jessica.

Jessica mengambil kartu kredit tersebut dan menatapnya dengan ragu.

Kris menyadari keraguan yang tercetak di wajah cantik Jessica. “Kau bisa gunakan itu untuk membeli bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya.”, jelas Kris segera. “Ah, iya. Sebaiknya, kau membeli kebutuhanmu sendiri. Karena disini tak ada kebutuhan untuk seorang wanita.”, tambahnya.

Jessica mengangguk mengerti, namun wajahnya masih terlihat ragu. Jessica melemparkan tatapan kau-yakin-menyerahkan-kartu-kredit-ini-padaku-?

Kris yang mengerti pun tersenyum. “Tak apa. Hitung-hitung, sebagai gaji yang kubayar di muka.”, celetuknya santai.

Jessica mengangguk lagi.

“Aku harus bekerja. Mungkin, aku akan pulang larut. Jadi, jangan menungguku, ya.”, kata Kris memberitahu.

Well, hari ini dia memang harus pergi ke bandara untuk menjemput member EXO yang akan tiba dari Korea Selatan. Hanya saja, ia masih belum ingin mengatakan kepada Jessica tentang sesungguhnya. Apalagi, sepertinya Jessica saja belum menyadari bahwa sekarang ia sedang tinggal di apartemen seorang superstar. Jadi, Kris akan membiarkan waktu yang memberitahukannya pada Jessica.

Jessica mengangguk mengerti. “Baiklah.”

“Saat kau pergi, jangan lupa untuk mengunci apartemenku. Kau masih ingat kode-nya, kan?”, balas Kris.

“Tentu saja.”, jawab Jessica cepat.

Kris menghela nafas. “Baiklah. Aku pergi dulu.”, kata Kris. “Bye.” Kris pun melangkah menuju pintu apartemennya dan keluar dari dalam apartemen. Ia menutup pintu apartemennya dengan perlahan. Ia pun mulai melangkah lagi.

Dalam satu tarikan nafas, ia berdo’a, Ya Tuhan! Lindungilah Jessica.

***

“Hyung!”

Kris mendongakkan kepalanya dan mendapati dongsaeng-dongsaengnya yang nampak begitu semangat ketika keluar dari gerbang kedatangan bandara. Padahal, Kris tahu betul kalau perjalanan dari Korea Selatan ke Amerika Serikat sangat panjang dan melelahkan.

“Senang bisa melihatmu lagi, Hyung.”, kata Suho—leader EXO-K—sambil memeluk Kris.

Kris membalas pelukan Suho. “Nada bicaramu seolah kita sempat kesulitan untuk bertemu lagi.”, kata Kris.

Suho melepas pelukannya dan tertawa pelan. “Bukan begitu, Hyung. Kau sih, sempat bersikap uring-uringan waktu itu. Kami jadi bingung juga dan khawatir kalau kami akan kehilangan Kris Hyung yang dulu.”, celoteh Suho.

“Ah, tapi nampaknya, kau terlihat lebih ceria, Kris.”, komentar Luhan yang muncul dari balik punggung Suho.

Kris menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu. Ia sadar, kalau akhir-akhir ini, ia memang terkesan seperti remaja yang labil. Sebelumnya, ia sempat kesal karena kenyataan yang harus ia terima. Namun, rasanya, semua sudah berubah semenjak…

Apa mungkin semenjak Jessica datang ke dalam hidupnya? Entahlah.

“Jangan-jangan, kau sudah mempunyai kekasih ya, Hyung?” Tiba-tiba terdengar sebuah celetukan dari suara yang tak asing lagi di telinganya.

Didapatinya sosok Sehun yang tengah berjalan mendekat ke arahnya sambil memamerkan senyum lima jarinya.

Kris mendengus sebal mendengar ucapan Sehun. “Diam kau, maknae!”

***

“Ngomong-ngomong, Tao kemana, Hyung?”

Kris menyeruput minuman yang dipesannya sambil menatap D.O. yang bertanya, lalu mengangkat bahu. “Entahlah. Maknae itu sedang sibuk akhir-akhir ini. Jadi, ia tak bisa menjemput kalian.”, jelas Kris.

“Oh.”, kata seluruh member EXO serempak.

Member EXO itu pun kembali melanjutkan acara makan bersama mereka. Mereka terlihat begitu akrab seperti saudara dalam keluarga besar. Padahal, ada suatu percikan api yang ada dalam persaudaran itu. Namun, percikan itu berusaha ditutupi dengan cukup baik.

“Hai, Oppa!” Terdengar suara yang terdengar begitu ceria dari seorang wanita.

Sontak, seluruh member EXO menoleh ke sumber suara tersebut dan mendapati sosok gadis bertubuh tinggi semampai, dengan rambut berwarna hitam yang dibiarkan terurai itu.

“S-seohyun?”, gumam seluruh member EXO, nyaris bersamaan.

Gadis itu—Seohyun—terus melangkah mendekati meja tempat member EXO berkumpul. “Apakah aku mengganggu kalian?”, tanyanya.

Suho melirik ke seluruh member EXO yang duduk melingkar. “Sepertinya tidak.”, jawab Suho. “Ya kan, Sehun?”, tanya Suho pada Sehun yang duduk di sampingnya, sambil menyikut pelan lengannya.

Sehun hanya tersenyum malu.

Sementara itu, member EXO lainnya nampak mengangguk mengerti dengan keadaan yang terjadi di sekitar mereka.

“Maaf, apakah aku bisa pergi sekarang?”, tanya Chanyeol.

“Eh? Mau kemana kau?”, tanya Suho.

“Aku harus segera bertemu temanku. Tak apa-apa, kan?”, balas Chanyeol.

“Tentu saja, tak apa.”, balas Suho santai.

“Kabari aku kalau ada sesuatu ya, Hyung?”, kata Chanyeol mengingatkan, sambil menepuk pelan pundak Suho.

Suho mengacungkan jempolnya, tanda setuju.

Chanyeol pun berpamitan pada seluruh member EXO dan Seohyun. Ia pun melangkahkan kakinya, keluar dari dalam restaurant untuk menemui teman lamanya.

***

Chanyeol masuk ke salah satu restaurant yang terdapat di salah satu mall terbesar di New York. Ia sudah berjanji untuk bertemu dengan teman lamanya di restaurant tersebut. Ia mencari-cari sosok temannya. Namun, ia tak kunjung mendapatinya.

Chanyeol pun melangkah lebih dalam. Mungkin, ia harus mencoba mencari meja sesuai yang telah dipesankan oleh temannya itu. Chanyeol pun menemukan meja tersebut. Namun, meja itu justru sedang ditempati oleh seorang gadis yang sedang termenung menatap ke arah jendela besar di sampingnya.

Gadis itu terlihat seperti seorang gadis Asia. Gadis itu juga terlihat begitu cantik. Hanya saja, gadis itu seperti sedang sedih dan memikirkan sesuatu. Jadi, kecantikannya tidak bisa terpancar seutuhnya.

Chanyeol pun memutuskan untuk membuka mulutnya, menyapa gadis itu. “Permisi.”, sapa Chanyeol sopan.

Gadis itu menoleh ke arah Chanyeol dengan tatapan bingung. “Ya?”, tanya gadis itu sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

Chanyeol merasa gadis itu kelihatan semakin cantik dan lucu saja. Seketika, ia merasa gugup, namun ia berusaha untuk terdengar normal. “Namaku Park Chanyeol.”, kata Chanyeol, memperkenalkan dirinya.

Gadis itu tak merespons dan hanya menaikkan kedua alisnya.

“Aku sedang menunggu Choi Minho di meja ini. Apa Anda mengenalnya?” Chanyeol pun melanjutkan kalimatnya.

Chanyeol menyadari ada perubahan raut wajah pada gadis itu. Sepertinya, wajahnya terlihat semakin murung saja. Chanyeol semakin penasaran saja dengan gadis di hadapannya ini. Siapa gadis ini? Kenapa tingkahnya seperti ini?

***

“Cepat habiskan makananmu dong, Hyung!”

Kris melongo ketika mendapati tatapan jahil Baekhyun. “Apa katamu?”

Baekhyun tertawa. “Kau ini seperti anak kecil saja sih, Hyung? Labil sekali.”, gumam Baekhyun. “Apa kau ingin disuapi? Galau karena Tao tak ada disini?”, tebak Baekhyun dengan nada bercanda.

“Cukup, Byun Baekhyun.”, desis Kris tajam.

Hal itu mengundang tawa dari member lainnya.

“Mungkin saja, Kris sedang merindukan kekasihnya?”, tebak Xiumin asal.

Kris mengerutkan keningnya, merenungi ucapan Xiumin. Kekasih?

“Ayolah, Hyung. Kenalkan kekasihmu pada kami.”, goda D.O.

Kris mendengus sebal. “Aku tidak punya kekasih.” Tiba-tiba saja, matanya melirik ke arah Seohyun dan Sehun yang sedang asyik berbincang sendiri. Matanya terasa begitu panas.

“Jangan-jangan, kekasihmu itu Tao, ya?”, tebak Baekhyun usil.

PLETAK!

“Kau sebut nama bocah itu lagi, kubunuh kau!”, ancam Kris.

Baekhyun memanyunkan bibirnya sambil mengelus kepalanya yang mendapat jitakan dari Kris. “Arrasseo.”

Kris tersenyum puas. Sesaat setelah melihat pemandangan Seohyun dan Sehun di depan matanya, ia jadi teringat pada satu sosok.

Jessica.

Kris pun mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya untuk menelpon Jessica. Siapa tahu, dengan mendengar suara Jessica, bisa menenangkan hatinya. Namun, Kris hanya bisa mengerutkan keningnya, ketika ia hanya mendengar suara operator di seberang sana. Kris mencoba menghubungi Jessica selama beberapa kali. Tapi, hasilnya tetap sama.

Kris mulai merasa dirinya diselimuti kekhawatiran. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada gadis itu?, batin Kris cemas.

***

“Aku akan membantumu dengan senang hati.”

Chanyeol tersenyum ke arah Choi Minho—sahabatnya—yang baru saja mengutarakan bahwa ia meminta bantuan Chanyeol.

“Terima kasih, Park Chanyeol. Terima kasih.”, kata Minho sambil membungkukkan badannya beberapa kali.

Chanyeol memberikan seulas senyuman dan memamerkannya pada Minho dan juga pada Krystal serta Tiffany yang juga berada di samping Minho. “Tak perlu sungkan.”, balas Chanyeol, sambil menepuk-nepuk pundak Minho. “Tenang saja, aku akan membantumu semampuku. Dan bisa dijamin, rahasiamu akan aman bersamaku.”, katanya menenangkan.

Minho mengangguk.

Chanyeol melihat sekilas ke arah jam tangannya, sepertinya ia harus segera pergi untuk melanjutkan urusan pekerjaannya. “Kurasa, aku harus pergi sekarang.”, katanya berpamitan.

“Oh, begitu?”, gumam Minho.

“Yeah. Senang bertemu dengan kau lagi, Minho. Aku akan memberikan kabar secepatnya, oke?”, kata Chanyeol, lalu kembali mengulas senyuman.

Minho mengangguk sambil tersenyum.

“Aku permisi dulu.” Kali ini, Chanyeol menoleh ke arah Tiffany dan Krystal.

Krystal membalasnya dengan cengiran khas-nya. Sementara itu, Tiffany justru tertunduk.

Chanyeol mencoba membaca cepat raut wajah yang ditunjukkan Tiffany. Tenang saja. Aku pasti akan mengenalmu lebih jauh lagi. Kau membuatku penasaran.

***

CKLEK!

Kris mendengar pintu apartemennya terbuka begitu saja. Sepertinya, Jessica-lah yang tiba.

“Darimana saja kau?”, tanya Kris dengan nada tajam.

Jessica nampak begitu terkejut dengan keberadaan Kris. “Kau! Mengagetkanku saja!”, sungut Jessica. Jessica pun memutuskan untuk masuk ke dalam apartemen lalu menutup pintunya. “Katamu, kau akan pulang larut? Kenapa sudah ada disini sekarang?”, tanya Jessica jengkel.

Kris berjalan mendekat ke arah Jessica yang tengah meletakkan kantung belanjaan di atas meja ruang tengah. “Aku berada disini karena aku khawatir padamu.”, tegas Kris.

“Eh? Kau khawatir padaku?”, ulang Jessica. “Apa aku tak salah dengar, ya?”, gumam Jessica.

Kris mendecak sebal. “Tidak. Kau tidak salah dengar.”, tegasnya sekali lagi. “Siapa suruh mematikan ponselmu sepanjang hari, hah? Membuat orang khawatir saja.”, kata Kris sebal.

“Ponsel?” Jessica terpekur sejenak. “Baterai ponselku habis. Maafkan aku.”, gumam Jessica.

“Sudahlah. Lupakan saja.” Kris mengibaskan tangannya, meminta Jessica untuk melupakan masalah itu. “Ngomong-ngomong, kemana saja kau seharian ini?”, tanya Kris menyelidik.

“Tentu saja, pergi belanja seperti katamu.”, jawab Jessica mantap.

“Kenapa lama sekali?”, tanya Kris kesal.

Jessica menunduk, menatap kakinya. “Aku pergi bersama Tao.”

Kris terkejut dengan ucapan Jessica. “Oh? Jadi, kau pergi dengan anak sialan itu, ya? Pantas saja dia…”

“Dan juga kekasihnya.”, lanujut Jessica lirih.

Meski begitu, Kris masih bisa mendengar ucapan Jessica. “Eh? Tao sudah punya kekasih?”, tanya Kris heran.

Jessica mendongak menatap Kris. “Eh, tidak, kok!”, jawabnya cepat.

“Yak! Jangan bohong!”, perintah Kris. “Kau sudah mengatakannya tadi.”, tuduh Kris.

“Well, mereka sebatas rekan kerja. Tapi, mereka terlihat begitu akrab.”, jelas Jessica yang sudah menundukkan kepalanya lagi.

Kris tertawa. “Dasar! Anak itu memang playboy! Setiap wanita juga akan mudah untuk digaetnya.”, celetuk Kris. Tiba-tiba saja, sesuatu melintas di otaknya. “Eh? Jangan-jangan, kau juga sudah tertarik dalam pesonanya, ya?”, tebak Kris.

“Tidak, kok!”, jawab Jessica cepat.

Kris tertawa lagi. “Jangan bohong. Matamu tak bisa membohongiku.”, tegas Kris.

Jessica mendengus sebal. “Lalu, kenapa kalau aku tertarik dengannya? Kau iri?”, tanya Jessica dengan nada menantang.

Kris mengangkat bahunya. “Tidak juga. Hanya saja, jangan berharap terlalu banyak pada Tao.”, kata Kris memperingatkan.

Kris memperhatikan raut wajah Jessica dengan seksama. Gadis itu nampak sedang memikirkan sesuatu. Jangan-jangan, gadis itu terlalu memikirkan ucapannya? Karena sepertinya, Jessica benar-benar tertarik pada Tao, bahkan sejak pertama kali mereka bertemu.

“Hei! Kau melamunkan apa?”, bentak Kris, berusaha membuyarkan lamunan Jessica.

“Bukan apa-apa, kok.”, jawab Jessica. “Kau sudah makan malam?”, tanya Jessica.

“Belum.”, kata Kris singkat.

“Kau ingin aku memasak apa?”, tanya Jessica malas.

Kris berpikir sebentar. “Tak perlu memasak. Bagaimana kalau aku mentraktirmu makan di luar saja?”, tawar Kris, sambil menaik-naikkan kedua alisnya.

Jessica nampak berpikir.

“Oh, ayolah. Aku tak akan memotong gajimu, kok.”, imbuh Kris mantap. Seolah, ia tahu apa yang sedang dipikarkan oleh Jessica.

Jessica memasang wajah pasrah. “Baiklah kalau begitu. Aku akan pergi denganmu.”

Kris tersenyum senang. Setidaknya, ia bisa mengalihkan perhatian Jessica dari sosok Tao.

***

“Kau menikmati makanannya?”

Jessica mengangguk mantap, tanpa bersuara, karena mulutnya sedang dipenuhi makanan. Kris sedang mengajak Jessica untuk menikmati makan malam di sebuah restoran yang menyediakan makanan Korea. Mungkin, hal ini bisa menghibur hati Jessica.

Kris tersenyum tipis, melihat tingkah lucu Jessica. Ia pun kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

“Kau juga suka makanan Korea, ya?”, tanya Jessica setelah berhasil menelan makanannya.

Kris mengunyah makanannya, lalu menelannya, sebelum menjawab pertanyaan Jessica. “Begitulah. Pekerjaanku selalu berkaitan dengan Korea.”, jawabnya.

“Oh?” Jessica heran. “Memangnya, apa pekerjaanmu?”

Kris tersenyum. “Kau juga akan tahu sendiri, nantinya.”, kata Kris misterius. Jessica benar-benar belum menyadari siapa Kris sesungguhnya.

Jessica hanya mendengus sebal dan melanjutkan melahap makanannya.

Kris menatap Jessica lekat-lekat. Sebuah ide melintas di otaknya. “Jessica.”, panggil Kris.

Jessica mendongak sekali lagi. “Apa?”

“Bagaimana kalau besok, aku mengajakmu jalan-jalan?”, tawar Kris.

Jessica nampak sedang menimbang-nimbang sesuatu.

“Bagaimana?”, tanya Kris sekali lagi.

Jessica mendesah pelan. “Terserah kau saja.”

***

“Baiklah, Hyung.”

Chanyeol memutuskan sambungan teleponnya dengan Kris. Kris baru saja menghubunginya dan menyuruhnya untuk mengambil beberapa kontrak kerja yang tertinggal di dalam apartemennya.

Ada sesuatu yang janggal dari ucapan Kris tadi.

Tenang saja. Akan ada seseorang yang membantumu.

Chanyeol bertanya-tanya. Siapakah orang itu? Pembantu baru Kris Hyung? Atau malah kekasihnya?, pikir Chanyeol.

Untung saja, Chanyeol sedang memgemudikan mobilnya di sekitar apartemen Kris. Jadi, ia tak perlu memutar terlalu jauh.

Setibanya, Chanyeol segera berjalan menuju ke depan pintu apartermen Kris.

Dipencetnya bel apartemen Kris. Ia menunggu selama beberapa saat.

CKLEK!

Akhirnya, pintunya dibukakan oleh seseoang.

Nampak sesosok gadis berambut blonde yang tak terlalu tinggi berdiri di balik pintu. Gadis yang baru saja membukakan pintunya.

Chanyeol membelalakkan matanya ketika menyadari sosok di hadapannya itu. “K-kau?”

TBC

***

TBC dulu ya, readers? Hehe😀

Bagaimana nih, chap. 5-nya? Semoga semakin bagus dan bikin readers makin penasaran, yah?

At last, don’t forget to comment, okay?

Love,

Jung Minrin

3 responses to “[Series] If You Were My Girlfriend – Chapter 5

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s