[Series] Puzzle – Chapter 2

puzzle

Title : Puzzle

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Genre : Romance

Rating : G

Length : Series

Cast :

Kris EXO-M

Xiu Min Exo-M

Jessica SNSD

Sooyoung SNSD

Taeyeon SNSD

Note : Ini udah berapa lama ya, saya nggak update FF ini? Hehe. Mian ya, buat para readers yg udah menanti sampe jamuran dan lumutan #plak. Author lagi nggak mood buat nulis lanjutannya. Hehe. Tapi, sekarang udah ada mood. Jadi, silakan dibaca, readers

***

“Kaulah potongan puzzle terakhir yang telah menyempurnakan hidupku.”

-Kris-

“Kehilangan satu potong puzzle saja, maka hilanglah kata sempurna.”

-Xiu Min-

“Tidak akan pernah ada 2 potong puzzle yang sama yang bisa bersatu.”

-Jessica-

“Kalau bukan aku yang menjadi potongan puzzle pertama, maka kau tidak akan pernah bisa menyelesaikannya.”

-Sooyoung-

***

“Ugh!” Sooyoung meregangkan otot-ototnya yang terasa agak kaku karena ia terlalu lama terpaku di depan layar monitor, mengerjakan sesuatu.

Ah, bukan mengerjakan sesuatu. Tapi, melakukan sesuatu.

Seluruh pekerjaannya sudah selesai sekitar satu jam yang lalu. Sekarang, ia sedang ‘sibuk’ membuka akun twitter-nya. Menulis kicauan, membaca kicauan orang lain.

O-oh. Ada yang menarik perhatiannya. Kicauan dari seseorang dengan username @little_bun.

@little_bun

@ShikShin Aku akan datang ke Seoul, lho…

Sooyoung nampak terkejut dengan apa yang ditulis oleh @little_bun untuknya. Di dunia maya, Sooyoung sangat dekat dengan orang tersebut. Orang itu adalah seorang pria keturunan Korea yang dibesarkan di China, tapi saat ini sedang tinggal di Amerika karena urusan pekerjaannya.

Selama berbincang dengannya di dunia maya, Sooyoung selalu merasa senang dan nyaman. Pria itu seolah memiliki magnet tersendiri untuk menarik Sooyoung dengan berbagai ucapannya. Namun, pria itu sangat misterius. Ia belum pernah mau mengungkap identitasnya pada Sooyoung. Itu sama sekali tidak membuat Sooyoung khawatir atau cemas, melainkan justru semakin penasaran dan ingin bertemu dengannya secara langsung.

Itulah sebabnya, kenapa Sooyoung langsung semangat ketika membaca kata-kata pria itu.

@ShikShin

@little_bun Benarkah? Kapan?

Sooyoung segera mengetik balasannya dengan cepat, agar pria itu bisa segera membacanya dan membalasnya.

@little_bun

@ShikShin Besok, sekitar jam 10, aku akan tiba di Incheon. Bagaimana? Kau mau menjemputku, tidak?

Sooyoung segera bangkit dari duduknya dan melonjak kegirangan. Pria yang diidamkannya itu akan datang besok dan menawarinya untuk menjemputnya. Sooyoung segera kembali ke tempat duduknya dan mengetik kembali.

@ShikShin

@little_bun Tentu saja, aku mau! Sebagai tuan rumah yang baik, seharusnya aku menjamu dirimu dengan baik pula ^^

Sooyoung merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

@little_bun

@ShikShin Baiklah. Hei, hei! Kau tak ingat kalau aku ini juga orang Korea. Jadi, kurasa, tak ada istilah tuan rumah bagimu

Sooyoung terkikik pelan setelah membaca dari pria tersebut, lalu mengetik lagi.

@ShikShin

@little_bun Terserah kau sajalah. Jadi, bagaimana caraku menemukanmu?

Sooyoung semakin tak sabar saja menantti pertemuannya dengan pria tersebut. Ia mulai membayangkan sosok pria tersebut dan kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan. Pasti akan terasa sangat menyenangkan.

@little_bun

@ShikShin Kalau kita memang berjodoh, bagaimanapun juga, kita pasti akan bertemu

***

“Bukankah aku sudah kelihatan cantik, Eonni?”

Sooyoung memutar-mutar tubuhnya di depan kaca, melihat setiap inchi pada tubuhnya sendiri lewat pantulan di kaca.

“Mm, ne~”, gumam Taeyeon, gadis yang sedang duduk di atas ranjang sambil membaca majalah fashion.

Sooyoung memutar tubuhnya, menghadap Taeyeon. “Eonni! Kenapa tidak melihatku, sih?” Sooyoung nampak kesal, karena Taeyeon tidak memperhatikan penampilannya, justru terpaku pada majalan di hadapannya.

Taeyeon menutup majalah yang dibacanya, sambil mendesah keras. “Sooyoung-ah, kau sudah bertanya padaku tentang hal itu 10 menit yang lalu. Dan setahuku, kau tidak melakukan perubahan apapun pada penampilanmu. Jadi, kuputuskan jawabanku sama dengan jawabanku 10 menit yang lalu.”, jelas Taeyeon.

Sooyoung hanya meringis dan kembali menghadap ke arah cermin. Memastikan kembali bahwa ia benar-benar cantik hari itu.

“Sebenarnya, seperti apa sih, pria yang akan kau temui itu?”, tanya Taeyeon penasaran.

“Entahlah.”, balas Sooyoung enteng.

“Kau ini, bagaimana, sih? Mau bertemu, tapi kau belum pernah melihat orangnya secara langsung?”, cerocos Taeyeon kesal. “Aish, Sooyoung-ah! Kau ini. Kalau begitu, aku harus ikut denganmu.”, tegas Taeyeon.

Sooyoung membalik tubuhnya lagi dan memasang cengiran khas-nya. “Nah, begitu dong, Eonni!” Sooyoung melompat kegirangan.

***

“Jadi, dimana pria itu?”

Taeyeon menghentakkan kakinya beberapa kali, karena tak sabar menanti kedatangan pria yang disebut-sebut oleh Sooyoung.

“Sabarlah, Eonni. Kita masih belum mendengar pengumuman mengenai kedatangan dari Amerika, kan?”, balas Sooyoung sambil terus menatap ke arah gerbang kedatangan dengan wajah antusias.

Taeyeon mendengus kesal. “Baiklah. Aku akan menunggu.”, ucap Taeyeon, masih terdengar tidak sabar.

20 menit berlalu dan terdengar kabar bahwa penerbangan dari Amerika akan segera tiba. Tak lama setelah terdengar pengumuman tersebut, muncul beberapa orang yang keluar dari gerbang kedatangan.

“Nah, itu dia! Sudah ada yang keluar!”, seru Sooyoung girang.

“Tapi, yang mana, pria yang kau cari itu? Memangnya, kau tahu wajahnya, ya?”, tanya Taeyeon malas.

“Memang tidak.”, balas Sooyoung enteng. Sooyoung masih sibuk mengedarkan pandangan.

“Percuma saja mencari kalau kau tidak mengenalinya.”, gumam Taeyeon kesal.

Tiba-tiba saja, Sooyoung sudah melangkahkan kakinya mendekat ke arah kerumunan orang yang tiba itu.

Taeyeon menahan lengan dongsaeng-nya itu agar tidak berjalan lebih jauh. “Mau kemana kau?”

“Kesana. Aku harus menemui pria itu.”, jelas Sooyoung.

“Kau sudah mengenalinya?”, tanya Taeyeon penasaran.

“Kalau jodoh, tidak akan kemana kan, Eonni?”, balas Sooyoung, lalu menghempaskan tangan Taeyeon dari lengannya dan lanjut berjalan.

“Hai!”, sapa Sooyoung pada seorang pemuda bertubuh jangkung.

***

“Hai!”

Kris menaikkan sebelah alisnya, karena mendapati ada seorang gadis yang tengah menyapanya dan terlihat seperti sangat akrab dengannya. “Kau menyapaku?”, tanya Kris heran.

“Tentu saja.”, balas gadis itu semangat.

“Eh? Memangnya, kita saling mengenal, ya?”, tanya Kris bingung.

Gadis itu tertawa pelan. “Jangan pura-pura lupa. Kita saling mengenal. Tapi belum pernah bertemu.”

Kris kembali mengerutkan keningnya, karena semakin bingung dengan ucapan gadis di hadapannya itu. “Saling mengenal, tapi belum pernah bertemu?” Kris mengusap-usap dagunya, sambil terus berpikir keras.

“Kris?”

Kris mendongak ke arah sumber suara tersebut dan mendapati sosok wanita paruh baya yang datang menghampirinya. “Ibu?”, balas Kris, sambil tetap memasang tampang linglungnya, karena masih bingung dengan gadis tadi.

“Kau mengundang temanmu?”, tanya Ny. Wu—wanita yang dipanggil ibu oleh Kris—sambil terus berjalan mendekat ke arah Kris.

Kris menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu karena bingung harus menjawab apa. “Hmm, yeah.”, jawab Kris ragu.

Ny. Wu menatap ke arah gadis tersebut dan mengukir sebuah senyuman.

Gadis itu pun membalasnya dengan sebuah senyuman yang begitu manis. “Annyeong.”, sapa gadis itu, sambil membungkukkan tubuhnya. “Choi Sooyoung imnida. Saya adalah chingu-nya Kris, Ahjumma.”, jelas gadis itu—Sooyoung.

“Oh.” Kris dan ibunya hanya mengangguk-angguk mengerti.

Namun, sedetik kemudian, raut wajah Kris langsung berubah. Seingatnya, ia tak pernah mengenal seseorang bernama Choi Sooyoung. Tapi, kenapa gadis itu mengaku sudah mengenalnya, bahkan mereka itu berteman?

“Aku ibunya Kris.”, balas Ny. Wu, sambil menepuk pelan lengan kanan Sooyoung. “Kenapa kau tak pernah bilang kalau kau punya teman secantik Sooyoung, Kris?”, tanya Ny. Wu, yang kini sudah menatap Kris.

Pertanyaan itu berhasil membuat Sooyoung tersipu malu. Bagaimana tidak. Ia mendapat pujian dari Ny. Wu.

Sementara itu, Kris sedang berpikir dengan cepat. Lagi-lagi, ia pun bingung harus menjawab apa. “Mm, aku hanya tak ingin membuat ibu bersikap berlebihan.”, balas Kris sekenanya.

Ny. Wu mencubit pelan perut Kris. “Apa katamu?”, ancam Ny. Wu.

“Ah, tidak ada yang kukatakan kok, Bu.”, balas Kris, sambil berusaha melepaskan cubitan ibunya di perutnya.

Sooyoung tertawa pelan melihat adegan di depan matanya itu. “Mm, bagaimana kalau kita berbincang di café itu saja?”, tawar Sooyoung sambil menunjuk ke arah café di dalam bandara, yang dibalas dengan anggukan setuju dari sepasang ibu dan anak itu.

***

“Jadi, kalian saling mengenal lewat twitter?”

Sooyoung mengangguk semangat untuk menjawab pertanyaan Ny. Wu. Ia tak bisa berbicara banyak karena mulutnya sedang penuh dengan makanan.

Sementara itu, Kris masih tampak berpikir keras. Ia masih bingung dengan kejadian yang ia alami saat itu.

Sooyoung berceloteh di hadapan dirinya dan ibunya, seolah ia dan Sooyoung sudah saling kenal sejak lama melalui twitter. Padahal, Kris saja belum pernah melirik sedikitpun pada jejaring sosial yang sedang banyak digandrungi oleh seluruh orang di dunia.

Lalu, bagaimana mungkin Sooyoung menceritakan itu semua? Untuk menipunya dan meraup keuntungan dari kejadian ini? Tapi, kenapa Sooyoung bercerita tanpa cela sedikitpun? Semua yang diceritakan oleh Sooyoung seolah benar-benar terjadi pada kehidupan nyata.

“Kau ini lucu sekali, sih!”, puji Ny. Wu, sambil mencolek hidung mancung Sooyoung.

Sooyoung tertawa kecil.

Suara tawa itu berhasil membuyarkan Kris dari lamunannya. Ia langsung menoleh ke arah Sooyoung. Gadis itu sama sekali tidak terlihat seperti seorang penipu atau semacamnya. Hanya ada satu hal yang terpancar dari wajah manisnya itu. Ketulusan.

Sooyoung terlihat seperti seorang gadis yang menyenangkan. Bahkan, nampaknya, gadis itu berhasil merebut hati ibunya yang memang cenderung pemilih dalam urusan wanita.

“Ibu tak menyangka kalau kau bisa bergaul dengan orang lain seperti itu, Kris.”, kata Ny. Wu sambil memandang sekilas ke arah Kris.

“Yeah. Tiffany yang mengajariku, Bu.”, jawab Kris bohong.

“Tapi, tetap saja, ibu tak menyangka kalau bisa mendapatkan seorang teman dengan sangat mudah. Apalagi, teman itu seperti Sooyoung. Gadis yang menyenangkan.”, kata Ny. Wu, yang lagi-lagi memuji sosok Sooyoung.

“Sayang sekali, kalian hanya sebatas teman, ya?”, tanya Ny. Wu, sambil menatap bergantian dengan memasang tampang memelas ke arah Kris dan Sooyoung.

“Begitulah, Bu.”, jawab Kris santai.

“Kenapa tidak menjadi sepasang kekasih saja?”, seru Ny. Wu girang.

“MWO??”

***

“Ibu ini apa-apaan, sih?”

Kris melempar tas ranselnya ke atas sofa di ruang tengah rumah orang tuanya yang besar dan mewah itu. Ia pun ikut menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa

“Apanya yang apa-apaan, Kris?”, tanya Ny. Wu, berpura-pura tidak paham dengan yang diucapkan Kris. Ny. Wu malah nampak sibuk mengambil air minum dari dapur rumahnya.

Kris mendengus sebal mendengar balasan Ny. Wu. “Kenapa ibu mendadak menginginkan aku menjadi kekasih Sooyoung?”, tanya Kris kesal. “Ibu kan, baru mengenalnya selama beberapa menit.”

“Ibu memang baru mengenalnya.”, kata Ny. Wu, lalu melangkah meninggalkan dapur dan menuju ke ruang tengah—tempat Kris berada. “Tapi, kau kan, sudah mengenalnya dalam jangka waktu yang cukup lama, Kris.”, imbuhnya.

Kris menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu menarik nafas dalam-dalam. “Yah, bukannya cinta itu butuh proses, Bu?”

Ny. Wu sudah tiba di ruang tengah dan ikut mendudukkan dirinya ke atas sofa dengan gaya yang sangat anggun. “Memang, sih. Tapi, apa kau tidak merasakan perbedaan sedikitpun?”, tanya Ny. Wu tak percaya.

Kris menggigit bibirnya. “Entahlah, Bu.”, jawab Kris ragu.

“Kalau begini jadinya, mungkin Ibu akan lebih suka melihatmu bersanding dengan Sooyoung daripada harus repot-repot menjodohkanmu dengan gadis lain.”, celetuk Ny. Wu.

Kris tak percaya dengan ucapan ibunya itu. Tumben sekali, ibunya bisa berhenti membicarakan perjodohan dirinya dengan beberapa gadis.

“Lagipula, Sooyoung adalah gadis yang menyenangkan. Nampaknya, dia adalah gadis baik-baik.”, tambah Ny. Wu.

Saat itu juga, Kris merasa otaknya yang cerdas itu terisi akan ribuan ide cemerlang yang akan menyelamatkan hidupnya.

***

“Bukankah semuanya dalam keadaan yang baik-baik saja?”

Kris memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celananya dan tangan kanannya yang tengah menempelkan ponselnya ke telinga kanannya.

“Sejauh ini, semuanya berada dalam keadaan yang baik, Tuan.”, kata sebuah suara—Tiffany—di seberang sana.

Kris mengangguk-anggukkan kepalanya, nampak puas. “Apakah ada berita baru yang perlu kau kabarkan padaku?”, tanya Kris lagi.

Tiffany terdiam sejenak. “Tidak ada, Tuan.”, jawab Tiffany, akhirnya. “Namun, saya baru saja mendapatkan kabar dari Tn. Kim.”, imbuhnya.

“Kabar apa itu?”

“Tn. Kim berniat untuk bertemu dengan Anda di Seoul.”, jelas Tiffany.

“O-oh.” Kris mengangguk paham. “Jadi, apakah beliau sudah menyusun jadwal pertemuan kami?”, tanya Kris lagi.

“Tn. Kim ingin Anda sendiri yang menentukannya.”

***

“Pergi menemui rekan kerjamu, Kris?”

Kris menghentikan langkahnya sejenak untuk menghampiri ibunya yang sedang membaca buku di ruang tengah.

“Tidak, Bu.”, jawab Kris.

“Bagaimana kabar Sooyoung?”, tanya Ny. Wu, sambil tetap terfokus pada buku yang tengah dibacanya.

“Mm, baik-baik saja. Memangnya, kenapa Bu?”, tanya Kris heran.

Ny. Wu meletakkan bukunya ke atas meja. “Bagaimana kalau kau mengajaknya kemari besok?”, usul Ny. Wu.

“Baiklah.”, balas Kris, sambil mengangguk setuju. “Sebenarnya, aku juga berniat untuk mengajaknya bertemu dengan rekan kerjaku.”, lanjut Kris.

“Baguslah, kalau begitu.”, timpal Ny. Wu, sambil tersenyum puas, setelah mendengar jawaban Kris.

“Baiklah kalau begitu, Bu. Aku pergi dulu. Annyeong.”, pamit Kris, lalu berlalu dari ruang tengah menuju halaman depan rumah orang tuanya untuk menuju ke mobilnya.

Sementara itu, Ny. Wu terus memandang ke arah punggung Kris yang semakin menjauh, sambil tetap tersenyum. Sebuah senyuman tipis. “Ibu harap, kau bisa mendapatkan kebahagiaan kali ini, Kris.”

***

“Whoa! Puzzle?”

Taeyeon berjingkat kaget, ketika mendengar suara melengking dari mulut partner kerja setianya, Sooyoung. Taeyeon hanya bisa mengelus dadanya karena melihat tingkah dongsaeng-nya yang selalu terlihat kekanakan itu.

“Jadi, kau suka puzzle, ya?”, tanya Sooyoung riang.

“Yeah, begitulah.”, balas seseorang di seberang sana.

“Kau pasti orang yang sangat cerdas ya, Kris?”, tebak Sooyoung asal, lalu membalik tubuhnya menghadap sebuah jendela besar yang membingkai pemandangan kota Seoul dari lantai 15.

Taeyeon langsung mendengus ketika mendengar nama Kris disebut-sebut. Sejak kemarin—sejak Sooyoung bertemu dengan Kris dan ibunya untuk yang pertama kalinya—Sooyoung selalu membicarakan hal yang sama. Kris, Kris, dan Kris! Taeyeon sampai heran sendiri. Bagaimana bisa, Sooyoung berkicau tanpa henti selama 24 jam. *author lebay*

Kris—seseorang yang sedang berkomunikasi dengan Sooyoung—tertawa lepas. “Tidak juga.”, balas Kris santai.

Sooyoung berdecak sebal, lalu melangkah mendekati jendela. “Bagaimana tidak. Hampir seluruh temanku yang memainkan puzzle adalah orang-orang cerdas.”, jelas Sooyoung, seolah tak mau jika pendapatnya disanggah begitu saja oleh Kris.

Taeyeon yang mendengar hal itu hanya bisa melengos. Bagaimana tidak. Semasa sekolah, ia sudah sering diledek oleh Sooyoung hanya karena hobinya dalam menyelesaikan berbagai macam puzzle. Sebelumnya, Taeyeon selalu beranggapan bahwa menyelesaikan banyak jenis puzzle mampu mengasah otak kita. Namun, Sooyoung yang menyadari bahwa tingkat kecerdasan Taeyeon tak pernah bertambah itu pun langsung mengejek Taeyeon. Sooyoung selalu menghina bahwa bermain puzzle hanya membuang waktu dan membuat dirinya tidak makin cerdas.

Sekarang, Taeyeon heran. Kenapa Sooyoung justru mengatakan yang sebaliknya?

“Tidak juga.”, balas Kris, lagi-lagi dengan nada santai. “Aku hanya mengikuti kebiasaan temanku semasa sekolah. Dan menurutku, menyelesaikan puzzle adalah kegiatan yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang.”, jelas Kris.

Sooyoung mengangguk mengerti, meski anggukan kepalanya itu tak dapat dilihat Kris. “Jadi, kau sedang ada waktu luang, ya?”

“Begitulah.”, balas Kris. “Sebelum aku harus mengerjakan berbagai pekerjaanku yang menumpuk, mungkin aku bisa bermain puzzle dulu.”, jelas Kris.

“Kau ini bagaimana, sih?”, seru Sooyoung dengan nada kesal.

“Apanya yang bagaimana?”, tanya Kris, terdengar kebingungan.

“Bukannya, kau sedang berlibur, ya? Tapi, kenapa kau malah bekerja?”, tanya Sooyoung heran.

Kris tertawa. “Sepertinya, bekerja yang kau bayangkan berbeda dengan bekerja yang kumaksud.”, timpal Kris.

“Jadi, bekerja yang bagaimana?”

“Aku hanya perlu mengecek laporan dari sekretarisku, menandatangani beberapa proyek dan mengikuti acara makan malam dengan rekan kerjaku.”, jelas Kris dengan nada sombong.

“Huh! Dasar bos!”, cibir Sooyoung.

Kris tertawa mendengar nada bicara Sooyoung yang terdengar lucu dan kekanakan. “Kebetulan, aku akan menemui rekan kerjaku besok lusa. Maukah kau menemaniku?”, tawar Kris.

Sooyoung berpikir keras. “Apakah ini semacam tawaran kencan?”, goda Sooyoung.

Kris tertawa kecil. “Bukan. Hanya makan siang biasa. Ada aku, kau, dan rekan kerjaku itu. Bagaimana? Kau mau?”

“Baiklah, kalau begitu.”, balas Sooyoung, akhirnya.

“Apakah setelah itu, kau akan sibuk?”, tanya Kris lagi.

“Tidak juga. Kenapa?”

“Ibuku ingin bertemu denganmu. Kau bisa bermain ke rumah kami?”, tawar Kris lagi.

“Dengan senang hati!”, jawab Sooyoung riang. “Lagipula, aku penasaran dengan rumah seorang bos sombong sepertimu.”, cibir Sooyoung lagi.

Kris tertawa lagi. “Terserah kau sajalah.”, balas Kris. “Baiklah, nanti akan kukabari lagi, ya?”

“Oke!”, balas Sooyoung.

“Annyeong.”

“Annyeong.”

KLIK!

Sooyoung memutuskan sambungan teleponnya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kursinya dengan perasaan bahagia.

“Jadi, apa yang terjadi?”, tanya Taeyeon, sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Sooyoung.

“Eonni. Rasanya, aku ingin pingsan saja.”, kata Sooyoung, sambil memegang dadanya, merasakan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat.

Taeyeon mendengus sebal. “Dasar orang kasmaran! Pergi yang jauh sana!”, usir Taeyeon.

Sooyoung tertawa. “Sepertinya, Eonni harus segera mencari kekasih, ya?”

“Pergi Choi Sooyoung!”, perintah Taeyeon, yang langsung ditanggapi dengan langkah seribu yang diambil oleh Sooyoung. Sooyoung tahu betul bahwa meladeni Taeyeon yang sedang mengamuk, bukanlah pilihan yang tepat.

***

“Kau tampak bahagia.”

Kris memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, lalu menolehkan kepalanya ke samping. Dilihatnya seorang gadis berambut blonde yang sedang sibuk melihat-lihat berbagai model puzzle di atas rak.

Gadis itu menoleh ke arah Kris. “Kau kelihatan bahagia sekali.”, tegasnya sekali lagi.

“Benarkah?”, tanya Kris, seolah tak percaya.

“Tentu saja. Kau tertawa beberapa kali saat menelpon tadi.”, tutur gadis itu. “Pasti telepon dari kekasihmu, ya?”, tebak gadis itu.

Kris tertawa renyah. “Tidak juga. Dia temanku.”, jelas Kris.

“Tapi, dari aura yang kau pancarkan, sepertinya, ada sesuatu yang spesial diantara kalian.”, timpalnya.

“Benarkah begitu? Berarti, aku adalah orang yang sangat mudah ditebak, ya?”, canda Kris.

“Yeah. Setidaknya, lebih mudah menebak suasana hati seseorang daripada menyelesaikan puzzle.”, balas gadis itu, sambil membalik-balik puzzle di tangannya.

“Kau suka main puzzle, ya?”, tebak Kris.

“Begitulah.”, balas gadis itu, masih terpaku pada puzzle di tangannya.

“Kurasa, kita bisa menjadi teman. Aku juga suka puzzle, kok.”, kata Kris. “Namaku Wu Yi Fan. Kau bisa memanggilku Kris.”, kata Kris, sambil mengulurkan tangan kanannya.

Gadis itu menoleh ke arah Kris, lalu tersenyum dan membalas uluran tangan Kris. “Namaku Jessica. Jessica Jung.”

TBC

***

TBC dulu ya, readers? Saatnya nggak tepat, ya?

Mian, readers. Jeongmal mianhae ^^

Seperti biasa, saya mohon komentar readers atas FF saya ini, yaa? Oke?

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s