[Series] If You Were My Girlfriend – Chapter 4

if-you-were-my-girlf

Title : If You Were My Girlfriend

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Main Cast :

Kris EXO-M

Jessica SNSD

Support Cast :

Tao EXO-M

Rating : PG

Length : Series

Genre : Romance

***

“Hei! Cepatlah kembali!”

Tao segera menjauhkan ponsel dari telinganya, sambil mencetak beberapa kerutan di keningnya.

Itu adalah suara Kris. Tadi, Kris sudah berjanji padanya bahwa ia tak akan mengacau lagi. Tapi, apa yang sedang terjadi sekarang? “Memangnya, ada apa, Ge?”, tanya Tao penasaran.

“Dengar! Aku sama sekali tak berniat untuk mengacau!”, seru Kris cepat, seolah mampu membaca jalan pikiran Tao. “Tapi, asal kau tahu, gadismu ini yang mengacau terlebih dahulu!”, lanjut Kris, masih dengan suara yang keras.

Tao kembali mengerutkan keningnya. Namun, kerutan itu seketika menghilang ketika ia teringat akan sesuatu dan tergantikan oleh suara tawa yang terdengar begitu lepas.

“Hei! Kenapa kau malah tertawa?”, sungut Kris kesal. “Cepatlah kembali, Tao!”, perintah Kris lagi.

Tao berusaha menahan tawanya dan memulai bicara lagi. “Baiklah, Ge.”, jawab Tao, masih diselingi dengan suara tawa kecil. “Bukankah sejak awal, kaulah yang mengacau, Ge?”, ledek Tao.

“Sudahlah! Cepat kembali sebelum kepalaku menjadi besar gara-gara selalu ditimpuk buku-buku tebal!”, perintah Kris lagi.

“Baiklah, Ge. Sebentar lagi, urusanku akan segera selesai, kok.”, balas Tao.

“Ya, ya! Aku benar-benar mengharapkan kehadiranmu di apartemenku.”, balas Kris, masih terdengar kesal.

Sambungan telepon pun diputus oleh Kris.

Tao hanya bisa mendesah pelan mendengar laporan dari Gege-nya itu. Ia merasa sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi dengan Kris dan gadis asing itu.

***

“Kau sudah dengar, kan?”

Kris menatap tajam ke arah seorang gadis yang masih meringkuk di atas sofa sambil bersiap melemparkan buku tebal lagi ke arahnya. Kris tak habis pikir dengan kelakuan gadis yang berada di hadapannya itu. Bagaimana mungkin, sikap gadis itu seperti tidak tahu terima kasih pada dirinya yang sudah menolongnya.

“Tetap saja, aku harus waspada padamu!”, seru gadis itu.

Kris hanya bisa mendengus sebal. Ia sudah malas melanjutkan perdebatannya dengan gadis cerewet di hadapannya itu. Merasa lelah karena belum sempat duduk, Kris pun melangkah mendekat ke arah sofa untuk merebahkan tubuhnya yang serasa remuk karena sempat mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari gadis itu.

“Hei, hei! Apa yang kau lakukan?”, tanya gadis itu sinis.

“Aku mau duduk.”, jawab Kris ketus. “Kenapa? Tak boleh?”, tanya Kris sebal.

“Tidak boleh!”, tegas gadis itu. “Kau harus berada pada jarak 3 meter dariku! Mengerti?”, perintah gadis itu.

“Apa?!” Kris membelalakkan matanya, tidak percaya. “Bagaimana mungkin, aku tidak boleh duduk di sofa milikku sendiri, hah?” Kris pun semakin jengkel saja dengan gadis itu.

“Huh? Apa kau bilang? Milikmu?”, tanya gadis itu dengan nada menyindir. “Kau juga mau mengakui kalau apartemen ini pun milikmu?”, sindir gadis itu lagi.

Kris menggeram sebal. “Apartemen ini memang milikku!”, tegas Kris, tak mau mengalah dengan gadis di hadapannya itu. Ia hanya tak ingin direndahkan oleh gadis yang tak tahu apa-apa tentang dirinya itu.

“Dasar tukang bual!”, ledek gadis itu sambil memaling wajahnya. “Lalu, kenapa bukan kau yang tinggal disini? Kenapa justru Tao?”

“Aku kan, sedang ada urusan kerja!”, jawab Kris bohong. Ia malas mengatakan yang sejujurnya, karena justru akan menambah daftar panjang perdebatan mereka itu.

“Huh! Bohong!”, balas gadis itu dengan nada meremehkan.

“Kau pikir aku berbohong? Lalu, bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam apartemen ini kalau aku tidak mengetahui password-nya?”, tanya Kris dengan nada tinggi.

Gadis itu berdecak, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Zaman sudah canggih! Bisa saja kan, kau sudah membajak password-nya!”, balas gadis itu.

Kris merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia tak menyadari hal semacam itu, ya? “Kalaupun aku ini orang jahat, perampok, atau semacamnya, bukankah sudah dari tadi aku membunuh gadis cerewet sepertimu?”, balas Kris, akhirnya. Bagaimanapun juga, Kris tak mau dianggap bodoh di hadapan gadis yang sudah berulang kali meledek dan meremehkannya itu. “Sudahlah! Aku malas berbicara denganmu!” Karena lelah berdebat, Kris pun memilih untuk meninggalkan gadis itu di ruang tengah dan pergi menuju dapur. Ia merasa haus setelah beradu mulut dengan suara yang sangat tinggi dengan gadis cerewet dan asing itu.

“Hei, hei! Kau mau kemana?”, seru gadis itu, sambil berusaha mengejar Kris.

Kris mengabaikannya dan berjalan cepat ke arah dapur dengan kakinya yang panjang itu. Ia pun segera mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas dan menenggaknya.

BRUK!

“Uhuk!” Kris tersedak air minum, karena mendapat pukulan telak di tengkuknya. “Apa yang kau lakukan, sih?”, tanya Kris jengkel, sambil mengusap tengkuknya yang terasa sedikit ngilu itu.

“Kau sendiri, apa yang kau lakukan, hah?”, balas gadis itu, sambil memasang posisi bersiap untuk mengayunkan buku tebalnya lagi.

“Aku sedang minum!”, balas Kris. “Kau mau melarangku lagi?”, tanya Kris kesal. “Dan sekarang, siapa yang melanggar peraturan? Kau yang terlebih dahulu mendekatiku?”, tanya Kris, sesaat setelah menyadari jarak mereka yang kurang dari 1 meter.

Spontan, gadis itu menyadari kesalahannya dan segera melangkah mundur, menjauhi Kris.

TING! TONG!

Terdengar suara bel apartemen yang berbunyi. Kris dan gadis itu langsung menoleh ke arah pintu apartemen. Namun, Kris bersikap seolah mengabaikan bunyi bel tersebut dan kembali meminum air putih.

Gadis itu memandang Kris dengan tatapan bingung. Ia seperti sedang menunggu reaksi dari Kris.

Sementara itu, bel apartemen terus saja berbunyi.

“Apa yang kau lihat?”, tanya Kris dengan nada sinis, setelah selesai menenggak air putihnya.

“Bel-nya berbunyi.”, kata gadis itu, terdengar seperti sedang ketakutan.

“Lalu?” Kris menaikkan kedua alisnya.

Gadis itu menggeram kesal. “Buka pintunya!”, seru gadis itu.

“Huh? Buka pintunya? Kenapa harus aku? Apartemen ini kan, bukan milikku.”, balas Kris sekenanya, lalu melangkah meninggalkan dapur menuju ke ruang tengah.

Gadis itu pun mengikuti langkah kaki Kris. “K-kalau begitu, maafkan tentang ucapanku tadi.”, kata gadis itu lirih.

Kris segera menoleh ke arah gadis itu dan menatapnya heran. “Apa kau bilang?”, tanya Kris dengan nada menggoda, sambil mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu.

“Maafkan aku!”, seru gadis itu. “Sekarang, cepat bukakan pintunya!”, perintah gadis itu sambil menunjuk ke arah pintu apartemen.

Kris menjauhkan wajahnya, lalu tertawa lepas.

“Kenapa kau tertawa?”, sungut gadis itu.

“Kau ini lucu sekali, sih!” Kris geleng-geleng kepala, sambil tetap tertawa. Ia pun mulai melangkah menuju ke pintu dan bersiap membuka pintunya.

KLIK!

Pintu apartemen pun terbuka dan nampak seorang gadis yang tak asing lagi di mata Kris.

“Kris Oppa?”

***

Tao bersiul ringan sepanjang perjalanan menuju ke apartemen Kris. Ia merasa tak sabar untuk mendengar kisah yang sedang terjadi dari mulut Gege-nya itu. Akhir-akhir ini, mendengarkan celotehan Kris seperti mendengar cerita dari seorang anak berusia 5 tahun. Akhir-akhir ini, Kris memang terdengar begitu kekanakan. Apalagi, ada pula sosok Jessica yang memiliki tingkah yang lucu dan konyol.

Bahkan, sempat terlintas di pikirannya, jika sampai Kris dan Jessica bersatu. Pasti, mereka akan menjadi pasangan terlucu dan paling merepotkan sedunia.

Tao pun menyalakan televisi di dalam mobilnya dan memindah-mindah channel televisi. Terdengar suara pembawa acara berita yang menarik perhatian Tao.

“Seo Joohyun telah mengkonfirmasikan lewat website resmi-nya bahwa ia akan mengadakan konsernya di New York 3 minggu mendatang.”, kata sang pembawa acara.

Tao menghentikan mobilnya, saat lampu lalu lintas berwarna merah. Tao pun menoleh ke arah televisi dan mengeraskan volume suaranya.

“Selain itu, pihak SM Entertainment juga sudah melakukan konfrensi pers untuk menyatakan pengadaan konser salah satu penyanyi solo andalan mereka. Berikut ini adalah liputannya.”, jelas sang pembawa acara.

Lalu, muncullah tayangan konfrensi pers dari pihak SM Entertainment. Tao tahu betul bahwa salah satu dari orang-orang yang sedang mengadakan konfrensi pers tersebut adalah Lee Soo Man, pemilik SM Entertainment. Sementara yang lainnya adalah para petinggi SM Entertainment yang tidak terlalu dikenal oleh Tao. Hanya saja, Tao sering bertemu dengan mereka saat dalam acara-acara resmi yang diadakan oleh SM Entertainment.

Lampu lalu lintas telah berganti dari merah ke hijau. Tao pun mulai menjalankan mobilnya kembali ke tujuannya.

Tao masih terfokus pada jalanan di depan matanya, namun telinganya juga tetap setia mendengar suara pembawa acara berita televisi itu.

Tao tidak menyangka kalau SM Entertainment—management artis tempatnya bernaung—akan berkembang dengan secepat ini. Sebelumnya, terdapat beberapa artis yang sudah go international. EXO adalah salah satunya. Bahkan, di tahun ke-5 keikutsertaan mereka dalam dunia musik, mereka sudah berhasil merajai industri musik Amerika dan Eropa.

Dan ini adalah saat bagi seorang Seo Joohyun untuk go international, mengikuti jejak para sunbae-nya, termasuk EXO yang sudah terlebih dahulu go international.

Tao merasa begitu kagum dan bangga dengan semua ini. “Damn! SM is taking over the world!”

***

Kris mengetukkan jemarinya yang panjang itu selama beberapa kali ke atas meja makan. Ia sama sekali belum bisa mencerna kejadian yang baru saja ia alami. Ia tak pernah menyangkan akan bertemu lagi dengan gadis itu.

Ah, bukan begitu. Kris hanya tak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan gadis itu secepat ini. Dan Kris juga tak mengharapkan untuk bertemu dengan gadis itu di saat yang tidak tepat seperti saat ini. Di saat pikirannya sedang kalut.

Sesekali, Kris menoleh ke arah ruang tengah untuk memastikan keadaan gadis cerewet tadi. Gadis itu nampak sedang terduduk di atas sofa, seolah sedang merenungi sesuatu. Kedua kakinya dilipat ke atas dan dipeluk erat-erat.

Kris hanya menghela nafas lega saat melihat sikap gadis itu menjadi jauh lebih tenang. Sepertinya, gadis itu juga sudah merasa lelah berdebat dengan Kris. Jadi, mereka pun memutuskan untuk tidak saling mengganggu satu sama lain dan membiarkan yang lain untuk larut dalam pikirannya sendiri.

TING! TONG!

Kris menoleh ke arah pintu apartemen. Bel pintu apartemennya sudah berbunyi lagi. Padahal, Kris merasa, baru 5 menit ia menutup pintu apartemennya dan kini bel pintu apartemennya sudah berbunyi lagi.

Kris pun beranjak dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah pintu untuk membukanya.

KLIK!

“Hai, Ge!”, sapa Tao riang.

Kris memasang tampang datarnya. “Kenapa lama sekali?”, tanya Kris, masih dengan nada datar.

Tao tersenyum, lalu mendorong tubuh Kris agar ia bisa masuk ke dalam apartemen tersebut. “Santai saja dong, Ge!”

“Aku bisa mati kalau harus menunggumu setengah jam lagi.”, celetuk Kris asal.

Tao kembali tertawa, lalu mendahului Kris untuk menuju ke ruang tengah. “Hai, Jess!”, sapa Tao riang pada gadis yang tengah duduk di atas sofa—yang dikenalnya sebagai Jessica.

“Hai!”, balas Jessica, sambil mendongakkan kepalanya.

“Dasar! Pada Tao saja, kau bersikap sok manis.”, cibir Kris.

“Kenapa? Kau cemburu, ya?”, balas Jessica.

“Tidak akan!”, balas Kris, lalu berjalan cepat ke arah dapur.

Tao yang menyadari bahwa mood Kris sedang tidak baik itu pun segera mengikuti Kris yang menuju ke dapur. “Jadi, bagaimana, Ge?”

Kris menoleh. “Bagaimana apanya?”

“Kau dan gadis itu.” Tao menaikkan alisnya beberapa kali.

Kris mendengus. “Menyebalkan.”, kata Kris singkat. “Kalau tahu akan seperti ini jadinya, aku tak akan menolongnya malam itu. Aku akan membiarkannya mati di jalan saja.”, celoteh Kris.

“Tapi, kau tetap menolongnya kan, Ge? Kurasa, kalian berjodoh.”, komentar Tao.

“Huh? Berjodoh?”, tanya Kris heran. “Jangan sampai!”, seru Kris cepat.

Tao tertawa lagi. “Lagipula, apa yang membuatmu berniat untuk menolongnya, Ge?”

Kris berpikir keras. “Entahlah. Seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk menolongnya.”, jawab Kris sambil memandang menerawang.

Tao hanya tersenyum simpul mendengar jawaban Kris. “Jadi, apa masalahnya, Ge?”

“Gadis itu menyebalkan sekali, sih! Selalu memukuliku!”, seru Kris.

Tao tertawa. “Gadis itu punya nama, Ge. Namanya Jessica.”

“Ya, ya. Terserahlah.”, balas Kris, sambil mengibaskan tangan kanannya.

“Kau sih, Ge. Kau yang menolongnya, tapi malah menyerahkan semuanya padaku. Akhirnya, dia malah menganggap bahwa akulah yang menolongnya malam itu.”, tutur Tao. “Lagipula, bisa kupastikan kalau kau juga membalas sikap menyebalkannya dengan emosi. Pantas saja, kalau dia juga semakin menyebalkan.”, jelas Tao.

“Tapi, tetap saja, hal itu tidak sopan.” Kris mendengus.

“Hal itu wajar dilakukannya. Ia kan, harus waspada, Ge.”, jelas Tao.

Kris mencibir, karena mendengar Tao yang justru membela gadis asing yang masih setia duduk di sofa.

“Lalu, apa kau sudah mendapat sedikit informasi dari gadis itu, Ge?”, tanya Tao penasaran.

“Mana bisa? Dia selalu saja bersikap ketus padaku!”, jelas Kris.

Tao tersenyum. “Baiklah, kalau begitu. Mari kita mencoba mengenalinya, Ge.”, ajak Tao, sambil menarik lengan Kris untuk berjalan ke arah ruang tengah.

Tao berusaha mendorong tubuh Kris untuk tetap melangkah menuju ke ruang tengah untuk menemui Jessica. Namun, Kris seolag enggan untuk melangkah.

Akhirnya, keduanya pun tiba di ruang tengah.

Mata Kris tertuju pada sosok Jessica yang sedang tertawa tanpa sebab yang jelas. “Kenapa kau tertawa?”, sungut Kris, sambil memasang tampang yang begitu kesal.

Jessica segera menutup mulutnya dan menghentikan tawanya. “Kau ini, lucu sekali.”, kata Jessica.

Kris mengerutkan keningnya, karena bingung dengan balasan Jessica. “Kau mau balas meledekku, ya?”, tanya Kris, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa yang paling ujung. Ia hanya ingin menjaga jarak dengan Jessica. Sepertinya, Kris masih trauma dengan berbagai pukulan yang diberikan Jessica.

“Tidak, kok!”, seru Jessica.

“Wah, nampaknya, kalian sudah saling mengenal, ya?”, goda Tao, yang ikut menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Ia seolah menjadi penengah antara Kris dan Jessica.

“Be…” Belum sempat Jessica menyelesaikan ucapannya, Kris pun segera menyela.

“Sudah. Namanya adalah aku-suka-pukul-orang-dengan-buku-tebal.”, sela Kris cepat dengan nada yang terdengar cukup datar.

“Yak! Apa kau bilang?”, seru Jessica kesal, yang spontan beranjak dari duduknya dan bersiap mengayunkan buku tebalnya lagi.

Kris yang menyadari pergerakan Jessica pun segera melindungi kepalanya sendiri dari pukulan Jessica. “Nah, kan? Kau memang suka memukul orang dengan buku tebal, ya?”

Tao hanya tertawa geli melihat tingkah dua orang yang tak saling mengenal itu. “Sudahlah.”, lerai Tao. “Jessica, jangan memukulinya terus. Dia ini memang sedikit menyebalkan, kok. Namanya adalah Wu Yi Fan, tapi kau bisa memanggilnya Kris. Dia adalah saudaraku. Dan dialah juga yang memiliki apartemen ini.”, jelas Tao panjang lebar.

Jessica menganggukkan kepalanya mengerti.

“Ge, gadis ini bernama Jessica. Dia adalah orang Korea. Untuk selebihnya, kau bisa tanyakan langsung padanya.”, jelas Tao.

Kris langsung menoleh ke arah Tao dan menatapnya tajam. “Tidak, tidak. Terima kasih.”, kata Kris sambil mengibaskan tangan kanannya.

Jessica hanya bisa menatap Kris dengan geram.

Tao hanya tersenyum simpul mendengar balasan Kris. “Jadi, Jess. Tolong jelaskan pada kami tentang kehidupanmu dan bagaimana kau bisa berada di New York.”, pinta Tao dengan nada ramah. Sama sekali tak terdengar unsur paksaan dari nada bicaranya.

Jessica menghela nafas. “Aku adalah orang Korea. Aku tak ingin menjelaskan lebih detail tentang kehidupan pribadiku. Tapi yang jelas, aku sedang memiliki sedikit masalah dan membutuhkan waktu untuk menjernihkan pikiranku. Jadi, aku memutuskan untuk terbang ke New York. Tapi, karena aku terlalu lelah, aku pun jatuh pingsan malam itu.”, jelas Jessica.

Kris masih setia memalingkan mukanya dari Jessica. Meski begitu, sesungguhnya ia menajamkan pendengarannya dan ingin mengetahui penjelasan gadis itu. Sementara itu, Tao masih terdiam dan setia untuk menunggu kelanjutan cerita dari Jessica.

Jessica kembali menghela nafas. “Aku tak tahu, sampai kapan aku akan berada di New York. Tapi, karena mengingat aku tidak punya siapa-siapa disini, jadi aku tak akan berlama-lama di New York.”, lanjut Jessica. Dalam nada bicaranya tersirat kesedihan.

Kris yang menyadari hal itu pun melirik ke arah Jessica dan raut wajah Jessica terlihat lebih seperti orang yang lemah. Bukan seperti orang yang suka sekali memukuli kepalanya tadi.

“Tenang saja. Kau masih punya kami, kok.”, kata Tao menenangkan.

Kris kaget mendengar ucapan Tao barusan. “Apa? Siapa yang kau maksud dengan kami, hah?”, seru Kris.

“Aku dan kau, Ge.”, balas Tao polos.

Kris kembali memalingkan wajahnya. “Aku tak mau ikut campur dengan gadis itu.”, tegas Kris, lalu menarik tangan Tao dan mengajaknya keluar dari apartemen.

Saat tiba di luar apartemennya, Kris langsung menatap tajam ke arah mata Tao.

“Ada apa, Ge? Kau tak suka kalau kita menolongnya?”, tanya Tao.

“Sudah kubilang kan, kalau aku tak mau berurusan dengannya.”, tegas Kris sekali lagi. “Bagaimana kalau seandainya dia adalah seorang criminal atau semacamnya? Kita yang akan terkena masalah, bodoh!”

Tao mendesah pelan. “Kalau begitu, kau yang bodoh, Ge. Kenapa sejak awal kau menolongnya? Kalau kau merasa terdorong untuk menolongnya, maka aku juga sedang merasa seperti itu, Ge.”, jelas Tao.

Kris mengacak rambutnya frustasi. “Sudahlah. Kau urusi saja dia!”, perintah Kris, lalu melangkah mendekati pintu apartemennya.

“Kurasa kau perlu menemui seseorang, Ge.”, kata Tao.

“Siapa maksudmu?”, tanya Kris menyelidik.

“Seohyun, mungkin. Dia kan, selalu bisa membuatmu tenang. Dia akan segera ke New York kan, Ge?”, balas Tao.

Kris menatap tajam ke arah Tao. “Aku sudah bertemu dengannya.”, jawab Kris dingin, lalu membuka pintu apartemennya dan menutupnya dengan keras.

***

BLAM!

Kris menutup pintu apartemennya dengan keras. Ia melangkah dengan cepat, menghampiri Jessica yang masih terduduk di sofa ruang tengah. “Kau masih ingin tinggal di New York, tidak?”, tanya Kris, tanpa basa-basi.

“K-kalau ada yang bersedia membantuku, tentu saja aku bersedia.”, jawab Jessica ragu.

Kris membuang mukanya sejenak dan kembali menatap Jessica. “Aku akan mengijinkanmu tinggal disini asal kau bersedia bekerja padaku.”

“Baiklah. Pekerjaan apa?”

Merasa bahwa telah berhasil dengan rencananya, Kris langsung menyeringai. Tak ada satu pun yang mengetahui arti dari seringaian misterius Kris itu.

TBC

***

Mind to review?😉

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s