[Series] If You Were My Boyfriend – Chapter 4

if-you-were-my-boyfriend1

Title : If You Were My Boyfriend

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Main Cast :

Jessica SNSD

Kris EXO-M

Support Cast :

Tiffany SNSD

Tao EXO-M

Krystal f(x)

Minho SHINee

Rating : PG

Length : Series

Genre : Romance

***

“Maaf. Tapi, aku sedang ada di Seoul.”

Minho mendesah berat saat mendengar balasan dari sahabat lamanya melalui ponselnya. Minho pun menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa di dalam kamar hotelnya.

Sementara itu, kedua gadis yang selalu mengekornya—Krystal dan Tiffany—sedang duduk di atas ranjang sambil berusaha mencerna pembicaraan Minho dengan sahabatnya itu.

“Ah, baiklah kalau begitu. Kuharap kita bisa bertemu segera.”, kata Minho pasrah, lalu memijit keningnya. Kepalanya terasa semakin berat saja.

“Tentu saja. Beberapa hari lagi, aku akan segera kembali ke New York.”, tutur sebuah suara di seberang sana. “Aku harap, aku bisa membantumu.”, lanjutnya.

Minho menggumam pelan. “Maaf karena sudah mengganggu liburanmu.”, kata Minho. “Sampai jumpa.”

“Ya, ya. Sampai jumpa.”, balas sebuah suara.

Minho melempar ponselnya ke atas sofa dan memejamkan matanya sejenak. Tak perlu waktu lama bagi kedua gadis cerewet itu—Krystal dan Tiffany (lagi)—untuk memberondong Minho dengan berbagai pertanyaan.

“Jadi, bagaimana Oppa?”, tanya Krystal.

“Sepertinya, temanmu itu tidak sedang berada di New York, ya?”, tebak Tiffany, sambil memperhatikan wajah Minho dan Krystal bergantian.

“Sial sekali, ya?” Krystal balik menatap Tiffany. “Lalu, siapa yang bisa kita mintai bantuan, Oppa?”, tanya Krystal.

Minho mendesah berat lagi ketika mendengar celotehan kedua gadis di hadapannya itu. Ia pun membuka matanya perlahan. “Temanku akan segera kembali, kok.”, jawab Minho, berusaha terdengar santai.

Minho pun bangkit dari duduknya, meregangkan otot-ototnya sejenak. Ia mengambil nafas dalam-dalam. “Kalaupun temanku tak bisa membantu, aku yakin bahwa masih banyak orang yang mau membantu.”

***

“Kau sudah dengar, kan?”

Jessica masih meringkuk di atas sofa sambil memandang waspada ke arah pemuda yang baru saja menyelesaikan panggilannya dengan seseorang yang disebut pemuda itu bernama Tao.

Jessica paham kalau Tao yang dimaksud pemuda itu adalah Tao yang ditemuinya tadi pagi. Namun, Jessica masih mengingatkan dirinya untuk tetap mewaspadai kemungkinan jika pemuda itu berbohong padanya. “Tetap saja, aku harus waspada padamu!”, seru Jessica.

Pemuda itu mendengus sebal, lalu melangkah mendekat ke arahnya.

“Hei, hei! Apa yang kau lakukan?”, respons Jessica cepat, saat menyadari bahwa pemuda itu berjalan mendekat ke arahnya.

“Aku mau duduk.”, jawab pemuda itu ketus. “Kenapa? Tak boleh?” Nada suaranya terdengar bahwa ia sangat sebal.

“Tidak boleh!”, larang Jessica. “Kau harus berada pada jarak 3 meter dariku! Mengerti?”, perintah Jessica.

“Apa?! Bagaimana mungkin, aku tidak boleh duduk di sofa milikku sendiri, hah?”, tanya pemuda itu jengkel.

Jessica mendengus mendengar pernyataan pemuda itu. “Huh! Apa kau bilang? Milikmu?”, tanya Jessica dengan nada menyindir. “Kau juga mau mengakui kalau apartemen ini pun milikmu?”, sindir Jessica lagi.

“Apartemen ini memang milikku!”, tegas pemuda itu, seolah tak ingin kalah begitu saja dari Jessica.

Jessica menatap jengkel ke arah pemuda itu. “Dasar tukang bual!”, ledek Jessica sambil memalingkan wajahnya. “Lalu, kenapa bukan kau yang tinggal disini? Kenapa justru Tao?”

“Aku kan, sedang ada urusan kerja!”, jawab pemuda itu.

“Huh! Bohong!”, balas Jessica, yang tak ingin percaya begitu saja.

“Kau pikir aku berbohong? Lalu, bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam apartemen ini kalau aku tidak mengetahui password-nya?”, tanya pemuda itu dengan nada tinggi.

Jessica memutar otaknya dengan cepat. “Zaman sudah canggih! Bisa saja kan, kau sudah membajak password-nya!”, balas Jessica, akhirnya.

“Kalaupun aku ini orang jahat, perampok, atau semacamnya, bukankah sudah dari tadi aku membunuh gadis cerewet sepertimu?”, balas pemuda itu santai. “Sudahlah! Aku malas berbicara denganmu!” Pemuda itu pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang tengah dan menuju ke ruangan lain.

“Hei, hei! Kau mau kemana?” Jessica yang segera menyadari kepergian pemuda itu pun segera mengikuti langkah kakinya.

Ternyata, pemuda itu menuju ke arah dapur dan sedang mengambil sebotol minuman dari dalam kulkas. Saat pemuda itu tengah menelan minumannya,

BRUK!

Jessica kembali mengayunkan buku tebal yang setia berada dalam pelukannya itu ke arah tengkuk pemuda itu.

“Uhuk!” Pemuda itu pun tersedak karena menerima pukulan di tengkuknya. “Apa yang kau lakukan, sih?”, tanya pemuda itu jengkel.

“Kau sendiri, apa yang kau lakukan, hah?” Jessica justru balik bertanya.

“Aku sedang minum! Kau mau melarangku lagi?”, tanya pemuda itu kesal. “Dan sekarang, siapa yang melanggar peraturan? Kau yang terlebih dahulu mendekatiku?”, sindir pemuda itu.

Jessica yang menyadari hal itu pun segera melangkah mundur, menjauhi pemuda menjengkelkan itu.

TING! TONG!

Terdengar suara bel apartemen yang berbunyi. Jessica dan pemuda itu langsung menoleh ke arah pintu apartemen.

Jessica memandang pemuda itu dengan tatapan bingung. Pemuda itu justru bersikap cuek dan mengabaikan bunyi bel apartemen tersebut dan masih saja meneguk air minum dari dalam botol.

“Apa yang kau lihat?”, tanya pemuda itu dengan nada sinis.

Jessica menggigit bibirnya. “Bel-nya berbunyi.”, kata Jessica.

“Lalu?” Pemuda itu menaikkan kedua alisnya.

Jessica menggeram kesal. “Buka pintunya!”, serunya.

“Huh? Buka pintunya? Kenapa harus aku? Apartemen ini kan, bukan milikku.”, balas pemuda itu, lalu melangkah meninggalkan dapur menuju ke ruang tengah.

Jessica pun mengikuti langkah kaki pemuda itu. “K-kalau begitu, maafkan tentang ucapanku tadi.”, kata Jessica lirih. Sekarang, ia merasa begitu menyesal karena telah menuduh yang tidak-tidak tentang pemuda yang berdiri di hadapannya itu.

Pemuda itu pun menoleh ke arah Jessica dan menatapnya heran. “Apa kau bilang?”, tanya pemuda itu dengan nada menggoda, sambil mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu.

“Maafkan aku!”, seru Jessica sekali lagi. “Sekarang, cepat bukakan pintunya!”, perintahnya sambil menunjuk ke arah pintu apartemen.

Pemuda itu menjauhkan wajahnya, lalu tertawa lepas.

“Kenapa kau tertawa?” Jessica merasa kesal, karena ia justru ditertawakan oleh pemuda itu.

“Kau ini lucu sekali, sih!” Pemuda itu geleng-geleng kepala, sambil tetap tertawa. Ia pun mulai melangkah menuju ke pintu dan bersiap membuka pintunya.

KLIK!

Pintu apartemen pun terbuka dan nampak seorang gadis bertubuh tinggi dan ramping dengan wajah yang begitu cantik.

“Kris Oppa?”

***

“UWA!!!”

Minho dan Tiffany langsung menoleh ke arah Krystal yang sedang asyik nonton televisi.

“Ada apa, sih?”, tanya Tiffany jengkel.

“Lihat, lihat!”, seru Krystal heboh, sambil menunjuk-nunjuk ke arah televisi.

Minho dan Tiffany pun mendekat ke arah Krystal dan menengok televisi.

“Seo Joohyun telah mengkonfirmasikan lewat website resmi-nya bahwa ia akan mengadakan konsernya di New York 3 minggu mendatang.”, oceh sang pembawa acara berita gossip tersebut.

“Kalian dengar? Seohyun akan mengadakan konsernya di New York!”, seru Krystal sambil memeluk bantal dengan erat.

“Lalu?” Minho yang tidak terlalu paham dengan dunia hiburan itu pun hanya bisa bertanya-tanya kebingungan.

“Tentu saja, ini menjadi prestasi yang membanggakan bagi Korea! Salah satu penyanyi Korea berhasil go international.”, seru Krystal.

Minho mendengus. “Begitu saja.”, cibir Minho. “Bukankah, EXO juga bahkan sudah menetap di Amerika, ya? Mereka sudah terlebih dahulu go international.”, balas Minho santai, lalu berjalan menjauh dari televisi.

Krystal membulatkan matanya. “Kau juga tahu tentang EXO ya, Oppa?”, tanya Krystal tak percaya. “Tak kusangka.” Krystal menggelengkan kepalanya.

“Kalau EXO saja sih, aku juga sudah pernah mendengarnya.”, balas Minho.

Krystal hanya membentuk huruf O dengan mulutnya.

“Hei! Bukannya, Seohyun dan EXO itu berada pada management yang sama, ya?”, tanya Tiffany, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa yang juga diduduki Krystal.

“Benar! SM Entertainment memang hebat. Aku jadi ingin bergabung dengan mereka.”, celetuk Krystal.

Tiffany mendengus. “Memangnya, kau bisa apa?”, sindir Tiffany.

“Aku bisa menyanyi, kok. Eonni ingin mendengar nyanyianku, ya?”, tawar Krystal.

“Ah, tidak, tidak! Terima kasih!”, seru Tiffany cepat.

Krystal tertawa. “Bagaimana kalau kita menonton konsernya, ya?”, gumam Krystal.

Spontan, Krystal mendapat jitakan spesial dari Tiffany.

“Appo!”, rintih Krystal. “Kenapa suka sekali menjitakku, sih?”

“Kau ini bodoh atau apa, sih? Kita sedang dalam misi untuk mencari eonni-mu!”, seru Tiffany jengkel.

Krystal segera memalingkan wajahnya dan mendengus sebal. “Kenapa bukan Appa saja yang turun tangan sendiri, sih?”

***

Jessica terduduk di atas sofa ruang tengah, sambil melipat kedua kakinya dan memeluk kedua kakinya dengan erat. Ia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri dan malas untuk melakukan hal lain. Ia sedang tak berniat untuk melanjutkan perdebatannya dengan pemuda asing itu.

Beberapa saat yang lalu, Jessica mendapati seorang gadis cantik yang berdiri dari balik pintu apartemen untuk menemui si pemuda asing itu. Entah kenapa, semenjak kehadiran gadis itu, ada sesuatu yang membuat dada Jessica menjadi begitu sesak.

Apalagi, saat pemuda asing itu menarik gadis itu untuk menjauh dari apartemen dan meninggalkan Jessica sendiri di dalam apartemen. Apakah kehadirannya disana sangat mengganggu? Atau, jangan-jangan, gadis tadi adalah kekasih pemuda asing itu? Lalu, apa yang terjadi setelahnya?

Setelah kembali, pemuda itu mendadak diam seribu bahasa dan memilih untuk duduk di dapur. Jessica juga tak berani membuka mulut, untuk sekedar menanyakan keadaannya. Bahkan, sampai sekarang pun, keduanya masih saling mendiamkan satu sama lain.

Jessica pun melirik sekilas ke arah pemuda yang masih terduduk di dapur, nampak sedang merenungi sesuatu. Jessica segera memalingkan wajahnya dan berharap agar keberadaannya sama sekali tidak membuat kekacauan baru dan agar pemuda itu dalam keadaan baik-baik saja.

TING! TONG!

Dengan cepat, Jessica menoleh ke arah pintu apartemen. Lalu, wajahnya segera menoleh ke arah pemuda asing yang masih berada di dalam dapur. Jessica menanti pemuda itu agar segera bangkit untuk membuka pintunya.

Jessica yang hendak memanggil pemuda itu pun, akhirnya mendapati bahwa pemuda itu sudah bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah pintu apartemen.

KLIK!

Pintu pun terbuka. Jessica pun memperhatikan ke arah pintu apartemen dan menanti siapa lagi yang akan muncul dari balik pintu.

Tao. Ternyata, Tao-lah yang muncul dari balik pintu itu.

Tao nampak sangat akrab dengan pemuda asing yang sempat dituduh sebagai seorang pencuri oleh Jessica. Sepertinya, pemuda asing itu memang mengatakan yang sejujurnya.

“Hai, Jess!”, sapa Tao riang pada Jessica, saat ia sudah berada di ruang tengah.

“Hai!”, balas Jessica, setelah ia mendapati kehadiran Tao.

“Dasar! Pada Tao saja, kau bersikap sok manis.”, cibir pemuda tadi, yang tiba-tiba saja muncul dari balik punggung Tao.

“Kenapa? Kau cemburu, ya?”, balas Jessica ketus.

“Tidak akan!”, balas pemuda itu, lalu berjalan cepat ke arah dapur.

Tao pun meninggalkan Jessica di ruang tengah dan memilih untuk langsung menyusul pemuda itu.

Jessica hanya bisa menghela nafas panjang. Ia kembali termenung sendiri. Tapi, ia jadi malas untuk memikirkan masalah ini.

Jessica pun memilih untuk merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Jemarinya yang lentik itu bermain di atas layar sentuh ponselnya. Ia ingin memainkan beberapa games yang tersedia di dalam ponselnya.

Namun, hatinya serasa mencelos ketika menyadari sesuatu.

Tak ada pesan.

Tak ada penggilan.

Apakah keluarganya benar-benar sudah melupakannya? Kenapa tak ada yang berusaha menghubunginya? Menelponnya? Atau sekedar mengirim pesan.

Jessica mencoba mengecek e-mail-nya. Namun, tetap tak ada pesan masuk dari orang-orang terdekatnya.

Padahal ini sudah sekitar 3 hari ia meninggalkan rumahnya. Namun, seolah tak ada satu pun yang berusaha mencari keberadaannya. Ia justru ditolong oleh dua pemuda yang tak dikenalnya itu. Bahkan, kedua pemuda itu—lebih tepatnya Tao—terkesan begitu perhatian padanya. Meski begitu, Jessica juga masih belum tahu motif kenapa pemuda itu menolongnya dan memberinya tumpangan.

DAP! DAP!

Jessica menoleh ke arah dapur dan mendapati sosok Tao dan pemuda lainnya yang sempat ia pukuli tadi sudah muncul dan melangkah menuju ke ruang tengah.

Wajah pemuda menyebalkan itu nampak lesu sekali. Dan itu membuat Jessica terkikik geli. Pasti, pemuda itu merasa sebal dengannya. Sementara itu, Tao justru nampak sangat riang dan semangat mendorong tubuh pemuda lainnya itu.

“Kenapa kau tertawa?” Pemuda menyebalkan itu memasang tampang kesal ke arah Jessica.

Jessica segera menutup mulutnya dan menghentikan tawanya. “Kau ini, lucu sekali.”, kata Jessica.

“Kau mau balas meledekku, ya?”, tanya pemuda itu, lalu menjatuhkan di sofa paling ujung, seolah sedang menghindar dari Jessica.

“Tidak, kok!”, seru Jessica.

“Wah, nampaknya, kalian sudah saling mengenal, ya?”, goda Tao, yang ikut menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.

“Be…” Belum sempat Jessica menyelesaikan jawabannya, pemuda itu sudah terlebih dahulu membuka mulutnya.

“Sudah. Namanya adalah aku-suka-pukul-orang-dengan-buku-tebal.”, sela pemuda itu cepat dengan nada yang terdengar cukup datar.

“Yak! Apa kau bilang?”, seru Jessica kesal, yang spontan beranjak dari duduknya dan bersiap mengayunkan buku tebalnya lagi.

“Nah, kan? Kau memang suka memukul orang dengan buku tebal, ya?” Pemuda itu nampak sibuk melindungi kepalanya dari timpukan buku tebal dari Jessica.

Tao hanya tertawa geli melihat tingkah dua orang yang tak saling mengenal itu. “Sudahlah.”, lerai Tao. “Jessica, jangan memukulinya terus. Dia ini memang sedikit menyebalkan, kok. Namanya adalah Wu Yi Fan, tapi kau bisa memanggilnya Kris. Dia adalah saudaraku. Dan dialah juga yang memiliki apartemen ini.”, jelas Tao panjang lebar.

Jessica ber-oh ria sambil menganggukkan kepalanya mengerti.

“Ge, gadis ini bernama Jessica. Dia adalah orang Korea. Untuk selebihnya, kau bisa tanyakan langsung padanya.”, kata Tao.

Pemuda bernama Kris itu langsung menoleh ke arah Tao dan menatapnya tajam. “Tidak, tidak. Terima kasih.”, kata Kris sambil mengibaskan tangan kanannya.

Jessica hanya bisa menatap Kris dengan geram. Kalau saja, Kris bukan saudara Tao, pasti Jessica sudah menimpuki kepala pria itu dengan buku lagi.

Tao hanya tersenyum simpul mendengar balasan Kris. “Jadi, Jess. Tolong jelaskan pada kami tentang kehidupanmu dan bagaimana kau bisa berada di New York.”, pinta Tao dengan nada ramah. Sama sekali tak terdengar unsur paksaan dari nada bicaranya.

Jessica menghela nafas dan berpikir matang. Ia harus menjelaskannya pada Tao dan Kris. Tapi, dia juga tetap harus selektif dalam memilah hal yang akan ia ceritakan.

“Aku adalah orang Korea. Aku tak ingin menjelaskan lebih detail tentang kehidupan pribadiku. Tapi yang jelas, aku sedang memiliki sedikit masalah dan membutuhkan waktu untuk menjernihkan pikiranku. Jadi, aku memutuskan untuk terbang ke New York. Tapi, karena aku terlalu lelah, aku pun jatuh pingsan malam itu.”, jelas Jessica.

Kris masih setia memalingkan mukanya dari Jessica. Sementara itu, Tao masih terdiam dan setia untuk menunggu kelanjutan cerita dari Jessica.

Jessica kembali menghela nafas. “Aku tak tahu, sampai kapan aku akan berada di New York. Tapi, karena mengingat aku tidak punya siapa-siapa disini, jadi aku tak akan berlama-lama di New York.”, lanjut Jessica. Dalam nada bicaranya tersirat kesedihan.

“Tenang saja. Kau masih punya kami, kok.”, kata Tao menenangkan.

“Apa? Siapa yang kau maksud dengan kami, hah?”, seru Kris, mengagetkan.

“Aku dan kau, Ge.”, balas Tao polos.

Kris kembali memalingkan wajahnya. “Aku tak mau ikut campur dengan gadis itu.”, tegas Kris, lalu menarik tangan Tao dan mengajaknya keluar dari apartemen.

Jessica hanya bisa celingukan bingung saat melihat tingkah dua pemuda di hadapannya itu. Kini, Tao dan Kris sudah mencapai pintu apartemen, melangkah keluar dan menutup pintunya pelan. Sepertinya, keduanya harus membicarakan sesuatu yang benar-benar tak boleh didengar oleh orang asing seperti dirinya.

Jessica mendesah pelan meratapi nasibnya sendiri. Ia mulai berpikir keras. Ia harus segera memikirkan langkah cepat, jika saja Tao—apalagi Kris—tidak mengijinkannya untuk tinggal di apartemen mereka.

Tapi, apa yang harus ia lakukan? Pergi dari New York? Tapi, kemana ia akan pergi?

Ah, Jessica malas memikirkannya. Mungkin, jika tak ada jalan lain lagi, ia akan memilih untuk kembali ke Korea dan mengikuti serangkaian acara perjodohan yang dirancang oleh ibunya. Tapi, kalau Tuhan masih mengijinkannya untuk bertahan di dunia luar, maka Jessica akan memilih untuk bertahan hidup sekali lagi dan mencari jalan hidupnya sendiri. Dengan atau tanpa keluarganya.

***

BLAM!

Jessica terlonjak kaget ketika mendengar suara pintu yang dibanting dengan keras. Jessica segera menoleh ke arah pintu apartemen dan mendapati Kris yang sudah berada di dalam apartemen. Raut wajahnya sulit untuk ditebak. Tapi yang jelas, Kris tidak sedang dalam keadaan yang baik-baik saja.

Kris berdiri tepat di hadapan Jessica. “Kau masih ingin tinggal di New York, tidak?”

Jessica bingung dengan pertanyaan Kris. Ia memutar bola matanya, berusaha memikirkan sesuatu. “K-kalau ada yang bersedia membantuku, tentu saja aku bersedia.”, jawab Jessica, takut-takut.

Kris membuang mukanya sejenak dan kembali menatap Jessica. “Aku akan mengijinkanmu tinggal disini asal kau bersedia bekerja padaku.”

“Baiklah. Pekerjaan apa?” Jessica merasakan ketakutan yang semakin menyergap dirinya. Baginya, selama ia bisa hidup dengan aman dan tentram, ia rela melakukan apapun. Meski ia tak tahu, bahaya yang sedang menantinya.

TBC

***

Give your opinion, please🙂

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s