[Ficlet] He’s Mine

hesmine

Title : He’s Mine

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Cast :

–          Luhan EXO-M

–          Jessica SNSD

–          Yoona SNSD

–          Sehun EXO-K

Length : Oneshoot

Rating : PG

Genre : Romance, Friendship, School Life

***

“Aku suka Luhan!”

Luhan—pemuda yang namanya disebut—menoleh ke sumber suara tersebut. Begitu pula dengan beberapa anak di sekitarnya. Pandangan Luhan tertuju pada sosok Im Yoona, yang sedang asyik berbincang dengan teman-temannya. Entah membicarakan apa.

Tapi, ucapan tadi sudah cukup jelas terdengar oleh telinga Luhan dan berhasil membuat pemuda itu merasa bangga akan dirinya sendiri. Bagaimana tidak. Itu artinya, popularitasnya di sekolah semakin meningkat. Bahkan, seorang gadis seperti Im Yoona yang menjadi incaran banyak murid di sekolahnya pun menyatakan kalau ia menyukai Luhan.

Jika Luhan merasa senang, maka tidak dengan Jessica. Jessica justru menunjukkan wajah yang muram. Hmm, ada apa dengannya, ya?

“Apa-apaan itu?”, sungut Jessica kesal, lalu menggembungkan pipinya.

Luhan memalingkan wajahnya dari Yoona kepada Jessica. “Ada apa, Sica-ya?”

Jessica mendengus sebal. “Kau masih tanya apa? Kau tak dengar apa yang dikatakan gadis itu tadi?”, tanya Jessica dengan nada keras.

Luhan mengacak poni Jessica sambil tertawa kecil. “Tentu saja aku dengar. Memangnya kenapa?”

“Yak! Aku ini kekasihmu, Xi Luhan!”, bentak Jessica.

O-oh. Jadi, Jessica marah karena ia adalah kekasih Luhan, eoh?

“Lalu?”, respons Luhan dengan nada menggoda.

“Kau pikir, bagaimana perasaan seorang gadis yang kekasihnya terang-terangan di sukai oleh gadis lain, hah?”, balas Jessica, masih marah.

“Hei, Nona Jung!” Sehun yang duduk di samping Luhan menepuk pelan bahu Jessica. “Kau tak ingat, kalau kekasihmu ini adalah idola sekolah, hm?”

“Aku tahu itu!”, balas Jessica kesal. “Sudahlah! Jangan ikut campur, anak kecil!”, perintah Jessica pada Sehun.

Sehun pun bergaya seolah ia ketakutan dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

Jessica kembali menatap ke arah Luhan. “Kau tahu kalau ada aku disini, kenapa kau malah mengabaikanku dan memperhatikan gadis itu, hah?!” Jessica semakin tidak mampu menahan gejolak amarah dalam dirinya.

Luhan berjalan mendekat ke arah Jessica dan duduk di sampingnya. “Ssst. Asal kau tahu, hanya kaulah yang ada dalam hatiku dan tak ada gadis lain. Mereka hanyalah hiburan untukku.”, bisik Luhan, tepat di telinga Jessica.

Jessica segera menoleh ke arah Luhan dan menatap matanya tajam. “Awas saja, kalau kau mengkhianatiku. Kupatahkan lehermu!”, ancam Jessica, lalu pergi meninggalkan Luhan yang masih berada di kantin sekolah, sambil memandangi punggung Jessica yang semakin menjauh.

“Ternyata, dia bisa sangat mengerikan ya, Hyung?”, komentar Sehun.

Luhan tersenyum ke arah Sehun. “Yah, begitulah resiko menjadi kekasih seorang Xi Luhan.”

***

“Jadi, Yoona menyukai Luhan, ya?”

Jessica semakin menajamkan pendengarannya ketika ia mendengar nama Luhan dan Yoona disebut-sebut. Jessica yang sedang melintasi ruang tari itu mendadak berhenti dan menguping pembicaraan antara dua orang gadis itu.

“Ah, iya. Yoona berkata begitu saat di kantin, kan?”, respons gadis lainnya.

“Benar. Bahkan, dia juga heboh membicarakn Luhan saat berlatih tari.”

“Nampaknya, Yoona benar-benar terobsesi untuk menjadi kekasih Luhan, ya?”

“Sepertinya begitu. Kukira, Yoona akan dengan mudah mendapatkan Luhan.”

“Tentu saja. Luhan pasti sudah bosan dengan Jessica dan akan memilih Yoona.”

“Lagipula, bukankah Yoona lebih cocok untuk bersanding dengan Luhan dibanding Jessica?”

BRAK!

Jessica memukul loker yang sempat membuatnya tak terlihat oleh dua gadis tadi. “Apa yang kalian bicarakan?!”
“A… Umm…” Kedua gadis itu langsung tergagap saat melihat Jessica membentak mereka dengan mata yang nampak berkilat-kilat.

“Apa yang kalian bicarakan?!”, tanya Jessica sekali lagi.

“Mi-mian, Jessica-ssi. K-kami tidak bermaksud membicarakanmu.” Salah satu gadis yang berambut ikal angkat bicara, namun tetap menundukkan wajahnya. Begitu pula dengan gadis berambut pendek yang berdiri di sampingnya.

“Yak! Tapi apa yang sedang kalian bicarakan, hah?!” Suara Jessica meninggi.

“B-begini. Kami sedang membicarakan tentang kau, Luhan-ssi dan Yoona-ssi.”, jawab gadis berambut pendek, nampak semakin ketakutan.

BRAK!

Jessica kembali memukul loker disampingnya. “Dengarkan aku! Kalau sampai aku mendengar ada yang menyebut bahwa Yoona yang lebih pantas bersanding dengan Luhan dibanding aku, maka kupastikan yang tersisa darinya hanyalah nama. Arasseo?!”, ancam Jessica.

“N-ne.” Kedua gadis itu mengangguk serempak.

“Cepat pergi sana!”, perintah Jessica, sambil mengacungkan jari telunjuknya, tanda mengusir.

Kedua gadis itu pun mengambil langkah seribu, sebelum menjadi santapan makan siang Jessica.

Jessica bersandar pada loker sambil melipat tangannya di depan dada. “Aku harus membuat perhitungan dengan gadis itu.”

***

“Jauhi Luhan!”

Jessica menatap tajam ke arah Yoona yang beberapa senti lebih tinggi darinya.

“Huh! Apa hak-mu memintaku untuk menjauhi Luhan?” Tak ada sedikitpun rasa gentar dari nada suara yang dilontarkan Yoona. Malah, Yoona terkesan menantang Jessica.

“Tentu saja aku ber-hak! Luhan itu milikku!”, tegas Jessica.

“Apa kau bilang? Milikmu?” Yoona terkesan meremehkan Jessica. “Luhan bisa menjadi milik siapa saja. Itu tergantung Luhan sendiri.”, lanjut Yoona.

“Tapi, Luhan sudah memilihku!”, balas Jessica cepat.

“Memilihmu?”, gumam Yoona sambil membuang muka. “Kalau begitu, mari kita bertaruh. Siapa yang akan dipilih Luhan setelah ini? Kau atau aku, Jessica-ssi?”, ancam Yoona.

“Baiklah, kalau begitu. Aku terima tantanganmu.”, balas Jessica. “Akan kupastikan kalau Luhan masih milikku!”

Yoona mendengus. “Siap-siap saja menyerahkan Luhan padaku, Jessica-ssi.”

***

“Gomawo, Yoona-ah.”

Jessica merasa familiar dengan suara yang baru saja di dengarnya. Ia pun menghentikan kegiatan merapikan buku di lokernya dan menoleh ke arah belakang, yakni ke arah taman.

Didapatinya sosok Luhan yang sedang memberikan sebuah buku tebal kepada Yoona.

T-tunggu dulu. Itu Yoona?

Jessica merasakan panas yang menjalar ke pipinya. Ia merasa cemburu saat melihat Luhan yang bersikap begitu lembut, bahkan sampai tersenyum pada Yoona. Selama ini, Luhan memang bersikap ramah pada para yeoja. Namun, tak ada satu pun yeoja yang bisa mendapat senyuman tulus dari Luhan, kecuali Jessica. Tapi kali ini, senyuman yang diberikan Luhan kepada Yoona sama dengan senyuman yang diberikan Luhan kepada Jessica. Senyuman itu sama-sama tulusnya.

Apakah Yoona sudah berhasil membuat Luhan jatuh cinta padanya.

Jessica meremas ujung rok seragam-nya sendiri untuk meredam amarahnya. Ia tak mau bersikap ceroboh dengan langsung melabrak Yoona di hadapan Luhan. Namun, karena sudah tak sanggup melihat pemandangan di depan matanya, Jessica pun memilih untuk segera mengunci lokernya dan pergi menuju ke suatu tempat.

Ke suatu tempat dimana ia tak akan melihat Luhan dan Yoona bersama seperti itu.

***

“Memangnya, harus berapa kali aku jelaskan padamu, sih?”

Jessica mengerucutkan bibirnya kesal, atas kejadian yang disaksikannya kemarin. Sementara itu, Luhan—yang sedang dilabrak—semakin gemas melihat tingkah kekasihnya yang menurutnya lucu itu. Ia tahu persis, semarah apapun Jessica, justru ia akan semakin terlihat lucu di matanya. Itulah sebabnya kenapa Luhan tak pernah bisa benar-benar marah pada Jessica.

“Lalu, apa yang kau lakukan dengan Yoona kemarin?”, tanya Jessica, sambil tetap memalingkan wajahnya.

“Yoona? Nugu?” Luhan nampak mengingat-ingat. “Ah, gadis itu!”, seru Luhan seperti baru saja mendapat jackpot. “Kemarin, aku meminjam catatan Biologi-nya, Sica-ya.”, jelas Luhan.

“Tapi, kenapa kau tersenyum begitu?”, tanya Jessica lagi.

Luhan mengerutkan keningnya, nampak bingung dengan pertanyaan Jessica. “Tersenyum? Tersenyum yang bagaimana, maksudmu?”

Jessica mendengus sebal, lalu menoleh ke arah Luhan. “Senyuman yang kau berikan pada Yoona sama seperti senyuman yang kau berikan padaku!”, tegas Jessica.

Luhan tersenyum, menahan tawanya. “Kau cemburu, eoh?”, goda Luhan.

“Aish! Siapa juga yang cemburu?”, sungut Jessica kesal.

“Sica-ya. Senyuman yang kuberikan padamu dan kepada Yoona jelas sangat berbeda.”, tutur Luhan.

“Huh? Kenapa bisa begitu?”, tanya Jessica dengan nada meremehkan. “Padahal, jelas sekali terlihat kalau senyumanmu sama saja.”

Luhan tersenyum tulus. “Senyumanku padamu mengandung cinta yang sangat besar, Sica-ya.”

***

“Yeay! Aku berhasil mendapatkan Luhan!”

Jessica langsung terlonjak dari tempat duduknya dan menatap tajam ke arah Yoona. “Apa katamu?”, tanya Jessica sambil menggebrak meja-nya.

“Kau tak dengar, ya?”, ledek Yoona. “Aku. Sudah. Mendapatkan. Luhan.”, kata Yoona dengan penekanan pada setiap katanya.

“Tidak! Tidak mungkin!” Jessica menggeleng kuat, tak bisa menerima kenyataan yang baru didengarnya itu.

“Kau tidak percaya?”, tanya Yoona.

“T-tapi, kemarin, d-dia…” Jessica tergagap, masih tak bisa menerima kenyataan yang ada.

“Sudahlah, Jessica-ssi. Terima saja kenyataan yang ada. Kemarin adalah kemarin. Sekarang adalah sekarang.”, kata Yoona sinis.

“Tidak mungkin!” Jessica pun segera berlari, mencari sosok Luhan. Ia harus mengetahuinya langsung dari Luhan.

***

“Ada apa, Sica-ya?”

Luhan melangkah keluar dari lapangan basket, menuju ke arah Jessica yang menunggunya di tepi lapangan, sambil mengelap keringatnya dengan sebelah tangan.

Sementara itu, Jessica memasang raut wajah yang kacau. “K-kau…?”

“Ada apa?”, tanya Luhan lembut.

“Yoona bilang padaku, katanya, dia sudah mendapatkanmu.”, tutur Jessica sedih.

“Eh? Yoona bilang begitu?” Luhan nampak terkejut. “Bagaimana bisa?” Luhan nampak berpikir keras.

“Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Luhan?”, tanya Jessica dengan nada seolah tak percaya.

“Dengarkan aku, Sica-ya. Aku masih menjadi kekasihmu.”, tegas Luhan.

“T-tapi, Yoona…”

“Sudahlah.” Luhan segera mencengkram pergelangan tangan Jessica. “Ayo kita pergi menemui Yoona. Sepertinya, ada yang harus diluruskan.” Luhan pun segera menarik Jessica pergi untuk segera menemui Yoona.

***

“Apa maksud dari kata-katamu, Yoona-ssi?”

Yoona hanya bisa menatap bingung ke arah Luhan dan Jessica. Luhan menatapnya dengan mata yang penuh kilatan menakutkan. Sementara itu, mata Jessica nampak sudah dipenuhi air mata yang mendesak untuk tumpah.

“Kata-kata yang mana, Luhan-ssi?”

“Jessica bilang padaku, kalau kau telah mendapatkanku. Apa maksudnya?”, tanya Luhan.

“E-eh? Mendapatkanmu?” Yoona nampak semakin bingung. “Ah, itu! Aku mengerti!”, seru Yoona.

“Jadi?” Luhan menunggu penjelasan dari Yoona.

“Aku sudah mendapatkan Luhan. Tapi, Luhan yang kumaksud itu bukan kau, Luhan-ssi.”, jelas Yoona.

“Eh?”

“Luhan yang kumaksud adalah nama kucing yang baru saja kubeli.”, kata Yoona. “Beberapa hari yang lalu, ada banyak orang yang menginginkan kucing itu. Kupikir, Jessica-ssi juga menginginkannya. Akhirnya, akulah yang berhasil mendapatkan Luhan. Dan aku pun membanggakannya di depan Jessica-ssi. Aku sama sekali tak menyangka kalau akan seperti ini jadinya.”, jelas Yoona panjang lebar sambil memainkan rambutnya yang dibiarkan tergerai.

Luhan mendesah lega ketika mendengar penjelasan Yoona. “Jung Soo Yeon?”, panggil Luhan sambil menoleh dan menatap tajam ke arah Jessica.

Jessica segera menghapus air matanya dan nyengir lebar. “Aku pergi dulu!”, seru Jessica yang kemudian mengambil langkah seribu meninggalkan Luhan dan Yoona. Ia harus segera pergi sebelum mendapat omelan dari kekasihnya itu.

END

***

Just give your opinion🙂

Love,

Jung Minrin

7 responses to “[Ficlet] He’s Mine

    • Gomawo *bow*
      Yoona sih nggak nyadar punya temen namanya Luhan, makanya salah paham gitu, haha😄
      Gomawo udah baca n comment, ya ^^

  1. ahahaa… awal” nya bikin gregetan .. eehh, pas mau ending ternyata bikin ngakak … luhan disamain kaya kucing ??? bwahaaahaha *ngakak* … tapi sumpah, ff nya kerenn *duajempol*😀

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s