[Songfic] When You’re Gone

whenyouregone

Title : When You’re Gone

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Cast :

–          Seohyun SNSD

–          Sehun EXO-K

–          Luhan EXO-M

Length : Oneshoot

Rating : PG

Genre : Romance, Sad, Marriage Life

***

I always needed time on my own

I never thought I’d need you there when I cry

“Kau sedang cari apa?”

Terdengar suara lembut dari seorang pemuda yang memecah keheningan suasana dapur sore itu. Seorang gadis yang nampak sibuk mencari-cari sesuatu itu menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah sumber suara tersebut.

“Bukan urusanmu.”, balas gadis itu dengan nada yang ketus.

Pemuda itu menghela nafas, mencoba bersabar menghadapi sikap dingin gadis di hadapannya itu. “Aku bisa membantumu, Seohyun-ah.”, celetuk pemuda itu, berusaha bersikap simpatik pada gadis yang dipanggilnya Seohyun itu.

Gadis itu—Seohyun—lagi-lagi harus menghentikan kegiatannya. Ia menghentakkan kaki kanannya dengan kesal dan menoleh kembali ke arah pemuda tadi. “Sudah kubilang kan, ini sama sekali bukan urusanmu, Sehun-ssi!”, tegas Seohyun pada pemuda itu—Sehun.

Pemuda itu—Sehun—kembali menghela nafas, mengingatkan dirinya untuk bersabar lagi. “Tapi, bagaimanapun juga, aku ini suamimu, Seohyun-ah. Aku ber-hak membantumu.”, ucap Sehun pelan, namun penuh ketegasan.

Seohyun membuang wajahnya dan menghentakkan kakinya ke lantai sekali lagi. “Lalu, kenapa kalau kau itu suamiku? Oh, kau merasa ber-hak untuk membantuku? Bilang saja, kalau kau hanya ingin membuatku terpikat padamu. Ya, kan?”, tebak Seohyun dengan nada yang penuh sindiran.

Sehun mendesah pelan. “Ayolah, Seohyun-ah. Aku hanya ingin membantumu. Tak lebih.”, elak Sehun.

Seohyun berdecak sebal. “Omong kosong.”, umpat Seohyun, lalu membalik tubuhnya dan kembali merapikan dapur yang sudah ia buat sedikit berantakan.

Sehun berinisiatif untuk membantu Seohyun merapikan benda-benda yang berserakan tersebut. Namun, dengan sigap, Seohyun menepis tangan Sehun.

“Diam saja! Jangan bantu aku!”, bentak Seohyun tanpa melihat sedikitpun ke arah Sehun.

“Seohyun-ah.”, mohon Sehun.

“Ish! Kau ini!” Seohyun semakin sebal. “Baiklah, kalau begitu. Kau ingin membantuku, kan? Cepat rapikan semua ini!”, perintah Seohyun, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan dapur.

Sehun segera menahan lengan Seohyun. “Kau mau kemana?”

“Aku ingin pergi.”, balas Seohyun dingin, sambil menghempaskan cengkraman tangan Sehun pada lengannya.

“Biar kuantar.”, tawar Sehun.

Seohyun mendecak sebal. “Aku bosan bersamamu, Sehun-ssi.”, ucap Seohyun dingin, sambil melempar tatapan tajamnya. “Dan asal kau tahu, aku bisa melakukan segalanya sendiri. Tanpa bantuanmu.”

***

And the days feel like years when I’m alone

And the bed where you lie is made up on your side

“Ungh.”

Seohyun melenguh pelan di atas tempat tidur, sambil mencoba bangkit dari ranjang. Ia mengucek matanya, mencoba membuka matanya, sambil menyesuaikan cahaya yang masuk. Matanya memandang ke sekitarnya.

Tak ada seorang pun di sampingnya. Bahkan, semenjak setahun yang lalu, setelah ia menikah dengan pria bernama Oh Sehun, ia belum pernah tidur berada di samping suaminya itu. Bagaimana tidak. Seohyun menikah dengan Sehun karena terpaksa. Mereka dijodohkan oleh orang tua mereka.

Tiba-tiba, matanya tertuju pada secarik kertas yang terletak di atas meja nakas di samping ranjangnya.

Aku harus pergi sebentar, Seohyun-ah.

Sebelumnya, aku minta maaf kalau aku tidak berpamitan padamu.

Saat aku ke kamarmu, kau terlihat tertidur dengan pulas. Jadi, aku tidak berani membangunkanmu.

Jaga dirimu baik-baik, ya.

 

Suamimu,

Oh Sehun ^^

Seohyun mendesis pelan saat membaca kertas tersebut. “Dasar sok romantis!”, gumam Seohyun kesal. “Kau pergi ke surga pun, aku tidak akan peduli.”

Seohyun langsung membuang kertas itu ke sembarang tempat dan beranjak dari ranjang. Ia keluar dari kamar, menuju ke dapur. Saat menuju dapur, matanya tertuju pada sebuah pintu yang sedikit terbuka. “Dasar ceroboh!”, umpat Seohyun, saat menyadari bahwa pintu yang sedikit terbuka itu adalah pintu kamar Sehun. Dengan langkah malas, Seohyun menuju ke kamar tersebut dan berniat untuk menutup pintu tersebut.

Namun, saat hendak menutup pintu tersebut, matanya tertuju pada suasana di dalam kamar Sehun. Seohyun yang tertarik pun melongok ke dalam kamar, memperhatikan isi kamarnya. “Huh! Kamar laki-laki.” Meski begitu, Seohyun tetap melangkah ke dalam kamar Sehun.

Meski sudah setahun tinggal di atap yang sama, Seohyun belum pernah mengintip kamar pria tersebut. Seohyun mengedarkan pandangannya, melihat-lihat kamar Sehun. Kamar Sehun berbeda dengan kamarnya. Mungkin, ukurannya memang sama. Namun, kamar Sehun terlihat lebih luas, karena perabotnya yang ditata sedemikian rupa, sehingga tidak memakan terlalu banyak tempat. Suasananya memang khas pria yang elegan. Benar-benar tipe seorang Oh Sehun, pikir Seohyun.

Mata Seohyun terpaku pada sebuah pigura yang terletak di atas meja yang lebih mirip meja kerja untuk Sehun. Setahu Seohyun, Sehun tak suka difoto. Lalu, foto siapa itu?

Seohyun mendekat ke arah meja kerja tersebut dan meraih pigura tersebut. Ia membawa pigura tersebut mendekat ke arah ranjang milik Sehun. Seohyun pun terduduk di ranjang itu. Dilihatnya dua sejoli dengan baju pengantin yang nampak serasi. Tubuh mereka terlihat sangat cocok satu sama lain. Wajah mereka juga membuat iri siapapun yang melihatnya. Si pria tampan dan si perempuan cantik.

Itu adalah foto dirinya dan Sehun saat menikah setahun yang lalu.

Sekilas, mungkin mereka nampak seperti sepasang pengantin yang bahagia. Tapi, jika diperhatikan, tatapan mata Seohyun terlihat seperti kosong, meski ia sedang mengembangkan seulas senyuman. Sementara itu, Sehun justru nampak bahagia. Kebahagiaannya nampak tulus dari hatinya yang terdalam.

Seohyun merasa sedikit tersentuh dengan hal itu. Benarkah Sehun begitu mencintainya dan menerima pernikahan ini?

Seohyun membalik pigura tersebut dan mendapati secarik kertas, semacam catatan.

14 Februari 2011

Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku.

Akhirnya, aku bisa menikah dengan gadis pujaanku, Seo Joohyun.

Aku tahu, kalau ia terpaksa menerima pernikahan ini.

Tapi, aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan membahagiakannya.

Tak apa kalau dia tak mencintaiku, asal di bisa bahagia, itu sudah cukup bagiku.

Seohyun merasa ada setetes air mata yang mengalir di pipinya. “Kenapa kau menangis, Seohyun?!” Seohyun segera mengusap air mata itu, merasa kesal pada dirinya sendiri yang mendadak melodramatis seperti itu. Namun, semakin ia berusaha untuk menahan tangisnya, air matanya itu justru semakin mendesak untuk keluar.

Seohyun merebahkan tubuhnya ke atas ranjang milik Sehun, sambil mendekap pigura tersebut. “Sehun-ah, kapan kau akan kembali?”

***

When you walk away, I count the steps that you take

Do you see how much I need you right now?

“Kenapa ingin bertemu denganku, Seohyun-ssi?”

Luhan nampak terkejut, ketika mendapati sosok Seohyun, istri dari sahabatnya, Sehun, berdiri di depan apartemennya. Seohyun menunjukkan wajah khawatir dan nampak gusar. “O-oh. Atau akan harus memanggilmu Nyonya Oh?” Luhan terkekeh pelan.

“Jangan bercanda, Luhan-ssi. Aku sedang mencari Sehun. Kau tahu, dia dimana?”, tanya Seohyun to the point.

“Eh? Sehun?” Luhan nampak terkejut. “Mian. Aku tak tahu. Kemarin dan hari ini, dia tak masuk kerja. Kudengar, dia sedang ambil cuti. Jadi, kupikir, dia sedang menikmati liburan denganmu dan aku tak ingin mengganggu.”, jelas Luhan.

“Ambil cuti?” Seohyun mengerjapkan matanya bingung.

“Memangnya, dia tak bilang padamu, kalau dia mau pergi kemana?”, tanya Luhan.

“Tidak. Dia hanya bilang bahwa dia pergi sebentar.”, jelas Seohyun.

“Kau sudah coba menelponnya?”

“Sudah. Tapi tidak diangkat.” Seohyun nampak semakin bingung. “Baiklah, Luhan-ssi. Mianhae karena sudah mengganggumu. Aku pergi dulu. Annyeong.” Seohyun pun melangkah pergi dari apartemen Luhan dengan langkah cepat.

“Sehun-ah, kau dimana? Tak tahukah kau kalau aku membutuhkanmu?”

***

When you’re gone

The pieces of my heart are missing you

“Sehun-ah, cepatlah kembali.”

Seohyun hanya bisa meringkuk di balik selimut sambil terus menggumamkan nama Sehun, berharap agar pria tersebut segera kembali di hadapannya. Namun, apa daya, Sehun tak bisa langsung kembali hanya karena mendengar rengekan gadis menyebalkan seperti dirinya.

Seohyun mulai menyesali setiap perlakuannya pada Sehun selama ini. Selama setahun terakhir ini, Sehun selalu ada di sampingnya, menemani hari-harinya, membantunya ketika dalam kesusahan, menyemangatinya dengan setiap kalimat yang dilontarkannya setiap hari.

Tapi, apa balasan yang Seohyun berikan?

Seohyun justru memaki Sehun setiap kali pria itu ada di sampingnya. Seohyun selalu bersikap sok tegar setiap kali Sehun berniat membantunya. Seohyun juga selalu mengabaikan kalimat-kalimat penuh semangat yang dilontarkan Sehun.

Oh Tuhan! Saat ini, Seohyun benar-benar merindukan pria itu.

“Sehun-ah, aku benar-benar merindukanmu.”

***

When you’re gone

The face I came to know is missing too

Flashback

“Annyeong, Seohyun-ah!”

Seohyun terkejut ketika melihat sosok Sehun yang sudah berdiri di depan meja kerjanya. Seohyun terpaksa menghentikan pekerjaannya dan memusatkan perhatian pada Sehun. “Kenapa kau kesini?”, pekik Seohyun, sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun.

“Ini sudah jam makan siang. Kau tak lapar?”, tanya Sehun.

Seohyun menjauhkan wajahnya. “Melihat wajahmu saja sudah membuat nafsu makanku hilang.”, tanggap Seohyun dingin, lalu kembali terfokus pada layar monitor.

“Kalau begitu, temani aku makan.”, celetuk Sehun.

“Huh? Tidak!” Seohyun melirik sekilas ke arah Sehun dan menggeleng keras. “Kembali ke kantormu sana! Kau mau aku dipecat gara-gara ngobrol dengan orang asing di tengah pekerjaanku?”, sungut Seohyun.

“Hei, hei. Bos-mu itu adalah temanku. Dan, aku bukan orang asing bagimu. Lagipula, sekarang bukan jam kerja, tapi jam istirahat. Jadi, tak ada seorang pun yang berani memecatmu. Arra?”, balas Sehun.

“Terserah kau. Aku tak peduli. Yang jelas, aku tak mau pergi denganmu.”, tegas Seohyun, sambil memainkan jemarinya di atas keyboard, mengetikkan sesuatu.

“Ayolah, Seohyun-ah.”, rengek Sehun manja.

Seohyun menggeram kesal. “Sehun-ssi. Sudah cukup aku bertemu kau di rumah. Jangan membuatku tambah muak, hanya karena melihat wajahmu di kantor. Arra?”

Flashback end

Seohyun memeluk kaki-kakinya sendiri. Ia ingin sekali menarik ucapannya waktu itu. Semuanya sudah berbeda sekarang. “Sehun-ah, aku ingin melihat wajahmu lagi.”

***

When you’re gone

The words I need to hear to always get me through the day and make it okay

I miss you

Flashback

“Kau harus semangat Seohyun-ah! Supaya pekerjaanmu cepat selesai.”

Seohyun mendengus kesal mendengar ucapan konyol dari Sehun yang tak henti-hentinya meneriakinya agar tetap semangat. “Yak, Sehun-ssi! Jangan berteriak-teriak terus! Kau membuatku tidak bisa konsentrasi, tahu!”, keluh Seohyun.

Sehun terkekeh. “ Bilang saja, kalau kau tak bisa konsentrasi karena ada suamimu yang tampan ini. Iya, kan?”, goda Sehun.

Seohyun menatap tajam ke arah Sehun. “Bermimpilah terus, Sehun-ssi!”

“Aku rela kok, jika harus memimpikanmu sepanjang hari.”, goda Sehun lagi.

“Yak! Sudahlah! Jangan menggangguku lagi! Oke?” Seohyun mendorong tubuh Sehun, keluar dari kamarnya.

“Eits! Kalau kau merindukanku, katakan berulang-ulang dan aku akan muncul di hadapanmu. Oke?”

Flashback end

Seohyun merasa sakit jika harus mengingat kenangannya dengan Sehun. Sehun selalu menyemangatinya, bahkan tak jarang juga menggodanya. Saat itu, Seohyun memang sangat jengkel. Namun sekarang, ia benar-benar merindukan kalimat-kalimat yang diucapkan Sehun.

“Sehun-ah, Sehun-ah! Aku merindukanmu!”, ucap Seohyun.

Seohyun menangis semakin keras sambil mengeratkan pelukannya pada kedua kakinya. “Kau bohong padaku, Sehun-ah! Kenapa kau tak muncul juga?”

***

I’ve never felt this way before

Everything that I do, reminds me of you

And the clothes you left, they lie on the floor

And they smell just like you, I love the things that you do

“Kau harus bangkit, Seohyun!”

Seohyun mulai menyemangati dirinya sendiri. Sudah seminggu, ia tak masuk kerja karena ia tidak bersemangat karena tiada Sehun di sisinya. Sehun masih belum kembali dan tidak memberi kabar sedikitpun. Meski begitu, Seohyun merasa bahwa dirinya harus bangkit dengan atau tanpa Sehun.

Seohyun memulai pekerjaannya di kantornya. Mengerjakan beberapa laporan. Ia terus bekerja, agar otaknya mulai berhenti memikirkan sosok Sehun.

“Annyeong, Seohyun-ah!”

Seohyun merasa familiar dengan suara tersebut. Ia segera mendongak. Namun, ia tak mendapati siapapun disana. Seohyun melirik ke arah jam tangannya. Sekarang sudah jam makan siang. Biasanya, pada jam seperti itu, Sehun muncul dan mengajaknya untuk makan siang bersama.

Tiba-tiba saja, tercium bau parfum yang sangat khas. Seohyun ingat persis parfum siapa itu. Itu adalah bau parfum milik Sehun. Seohyun yang curiga pun bangkit dari duduknya dan mencoba mencari-cari keberadaan Sehun di sekitarnya.

Nihil. Seohyun tak menemukan siapapun disana. Seohyun kembali ke kursinya dan merebahkan kepalanya ke atas meja kerjanya. Matanya mulai berlinangan air mata.

“Kalau kau memang tak ingin bertemu denganku, jangan menghantuiku seperti itu, Sehun-ah.”

***

We were made for each other, out here forever

I know we were

And all I ever wanted was for you to know

Everything I’d do, I give my heart and soul

I can hardly breathe, I need to feel you here with me

“Dimana aku?”

Seohyun merasa bingung, karena ia merasa asing dengan tempat dimana ia berada. Putih, sejauh mata memandang. Tiba-tiba saja, sesosok pria tampan menghampirinya.

“Kau Seo Joohyun, benar?”, tanya pria tersebut.

“Ne.” Seohyun mengangguk, merasa agak bingung.

“Aku kemari untuk memberimu satu permintaan terakhir.”, ucap pria tersebut.

Seohyun nampak bingung. Ini seperti mimpi. Ia ingin berharap banyak pada pria di hadapannya itu. Tapi rasanya, ini hanya lelucon saja. “Em, aku ingin bertemu sekali lagi dengan Oh Sehun.”, tutur Seohyun malas. Ia yakin, permintaannya ini akan sia-sia saja. Ini hanya mimpi, kan?

“Oh Sehun?” Pria itu mengangguk mengerti. “Tapi, apa yang bisa kau berikan sebagai balasannya?”

Seohyun semakin bingung. Tapi, kalaupun ini benar, ia rela menyerahkan apapun agar bisa bertemu sekali lagi dengan Sehun dan mengatakan perasaannya yang sesungguhnya. “Aku rela memberikan hidupku. Menyerahkan jiwaku.”, jawab Seohyun tulus.

“Kau sungguh-sungguh?”

“Tentu saja.”

“Baiklah. Aku akan kabulkan permintaanmu.”, kata pria itu. “Tutuplah matamu. Sebentar lagi, kau akan bertemu dengan Oh Sehun.”

***

“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?”

Sehun segera bangkit dari duduknya ketika melihat seorang dokter keluar dari kamar rawat istrinya—Seo Joohyun. Begitu pula dengan Luhan yang duduk di sampingnya.

Dokter tersebut mendesah berat. “Tuhan baik pada kita, Tn. Oh.”, kata dokter tersebut.

Sehun nampak lega. Begitu pula dengan Luhan.

“Nyonya Oh sudah siuman.”, kata dokter tersebut. “Namun, Anda harus menabahkan diri Anda.”, kata dokter dengan nada penuh peringatan.

“Maksud Anda?” Sehun nampak bingung.

“Saya tidak bisa memastikan bahwa Nyonya Oh bisa bertahan lebih lama.”, jelas dokter.

“T-tapi…”

“Beliau memang siuman. Tapi, kondisinya sudah terlalu lemah untuk bertahan lagi, Tn. Oh. Saya rasa, tak ada jalan lagi untuk menyelamatkannya.”, tutur dokter. “Jadi, lebih baik, Anda memanfaatkan waktu yang ada.” Dokter itu pun berlalu meninggalkan Sehun dan Luhan.

“Cepatlah, temui istrimu.”, kata Luhan sambil menepuk pelan bahu Sehun.

“Hyung…” Sehun tak bisa berkata-kata.

“Tak usah khawatir.”

Sehun pun memantapkan hatinya untuk masuk ke dalam kamar rawat Seohyun. Dilihatnya tubuh Seohyun yang tergeletak lemah di atas ranjang. “Seohyun-ah.” Sehun semakin mendekat ke arah Seohyun.

“Ne?” balas Seohyun, sambil mengembangkan senyumannya. “Apa yang terjadi padaku, Sehun-ah?”, tanya Seohyun polos.

Sehun menggenggam tangan Seohyun. “K-kau mengalami kecelakaan, Seohyun-ah.”

“Kecelakaan? Kapan?”

“Sesaat setelah kau meninggalkan rumah karena kau jengkel padaku yang ingin membantumu di dapur waktu itu.”, kata Sehun mengingatkan.

“Eh? Seingatku, setelah kejadian itu kau meninggalkanku, Sehun-ah.”, kata Seohyun.

“Meninggalkanmu? Aku tak pernah meninggalkanmu, Seohyun-ah. Aku selalu menjagamu siang dan malam di rumah sakit ini.”, jelas Sehun.

“Kau menulis catatan untukku bahwa kau harus pergi. Tapi, kau tak juga kembali, Sehun-ah. Aku sangat merindukanmu.”, ucap Seohyun yang mulai terisak.

Sehun mencoba memeluk tubuh ringkih Seohyun dan berusaha meredam tangisan gadis itu. “Aku juga merindukanmu, Seohyun-ah. Sangat rindu.”, ucap Sehun lirih.

“Aku ingat saat aku bertemu dengan seorang pria yang menawariku untuk bertemu sekali lagi denganmu.”, tutur Seohyun.

Sehun melepas pelukannya agar bisa melihat wajah Seohyun. “Dan kau mau?”

“Tentu saja! Aku terlalu rindu padamu, Sehun-ah!”, ucap Seohyun tegas.

Sehun terlalu bahagia dan kembali mendekap Seohyun.

“T-tapi…”

“Tapi apa, Seohyun-ah?”

“Untuk bertemu denganmu, aku harus menukarnya dengan jiwaku.”, jawab Seohyun lirih.

“Jiwamu?” Sehun mencoba mencerna ucapan Seohyun. “Andwae! Aku tak akan membiarkan Tuhan mengambil nyawamu! Tuhan! Biarkan saja seperti ini. Kumohon!”, pinta Sehun keras.

Seohyun mengeratkan pelukannya pada tubuh Sehun. “Sehun-ah, dengarkan aku. Aku sudah bahagia karena Tuhan memberikanku kesempatan sekali lagi untuk bertemu denganmu, walau sesaat. Melihat wajahmu, walau sebentar. Memeluk tubuhmu, berbincang denganmu. Aku sudah bersyukur, Sehun-ah.”

“Andwae! Aku tak ingin kehilangan kau lagi.”, gumam Sehun sambil terisak.

“Aku hanya ingin kau tahu, Sehun-ah.” Seohyun melepaskan pelukannya dan memegang wajah Sehun dengan kedua tangannya. “Saranghae, Sehun-ah.” Tepat setelah menyatakan cintanya, Seohyun mengecup lembut bibir suaminya itu.

Sehun menikmati ciuman dari istrinya itu. Seolah melupakan segala hal yang membebani pikirannya. Tak lama…

TIIIIIIIIIIT…

Terdengar bunyi panjang dari elektrokardiogram Seohyun dan diiringi dengan jatuhnya tubuh Seohyun ke atas ranjang.

Kini, Seohyun telah pergi selamanya dengan tenang. Tenang karena perasaannya telah tersampaikan pada Sehun.

END

Saya tunggu review dari readers, loh. Oke, oke? ^^

Love,

Jung Minrin

8 responses to “[Songfic] When You’re Gone

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s