[Series] In Trouble – Chapter 1

in trouble

Title : In Trouble

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Cast :

Tao EXO-M

Sunny SNSD

Jessica SNSD

Kris EXO-M

Rating : PG

Length : Series

Genre : Romance

Happy Reading ^_^

***

Gadis itu—Lee Soon Kyu —merasakan sinar matahari yang menerobos ke dalam kamarnya, lewat celah jendela kamarnya, menyilaukan matanya yang senantiasa terpejam. Dibukanya kedua mata itu secara perlahan dan mulai menyesuaikan sinar yang akan masuk ke dalam matanya. Matanya mengerjap beberapa kali dan menyesuaikan pandangannya dengan keadaan sekitarnya.

“Kumohon. Jangan ambil barang-barang ini. Hanya barang-barang inilah yang tersisa dari harta kami, Tuan.”

Tiba-tiba saja, terdengar suara yang begitu familiar di telinga Soon Kyu. Itu suara pamannya. Soon Kyu tahu benar, dari nada bicara pamannya itu, pamannya sedang dalam masalah. Soon Kyu pun memutuskan untuk segera melompat dari atas tempat tidur dan mencari-cari cardigan-nya untuk menutupi bagian lengannya yang terekspos.

“Paman!” Soon Kyu langsung berteriak saat mendapati pamannya yang berada dalam keadaan tak berdaya diantara 3 pria berbadan kekar. Soon Kyu pun segera berlari mendekati pamannya yang tergeletak di atas lantai rumah.

“S-sunny.” Pria paruh baya tersebut—Lee Soo Man—berusaha bangkit untuk meyakinkan keponakannya, Soon Kyu atau yang biasa dipanggil Sunny, bahwa ia baik-baik saja.

“Ada apa ini, Paman?”

Pertanyaan bodoh. Tentu saja, Sunny paham betul dengan pemandangan yang terpampang jelas di depan matanya. Ia tak perlu bertanya, karena pemandangan ini sudah menjadi santapan hariannya selama beberapa bulan terakhir ini. Terlebih lagi, Soo Man juga sudah menjelaskan duduk perkaranya pada Sunny.

Sunny membantu pamannya untuk berdiri dengan tegak.

“Hei, Anak Kecil!”, panggil salah satu pria kekar di hadapan Sunny sambil menunjuk tajam ke arah Sunny.

Sunny mendelik sebal karena dipanggil ‘anak kecil’ oleh pria tersebut. Ia tahu, ia memang memiliki tubuh yang pendek, tapi ia juga tak mau terus-terusan dianggap sebagai ‘anak kecil’. Ia berniat marah. Tapi, ini sama sekali bukan saat yang tepat. Sunny pun memilih untuk diam dan memperhatikan ucapan pria tersebut.

“Ingatkan pada Pamanmu itu bahwa kami tidak bisa menunggunya terlalu lama untuk melunasi segala hutang-hutangnya. Mengerti?”, bentak pria tersebut.

“Beri kami tambahan waktu.”, ucap Sunny tegas, seolah tak takut pada 3 pria di hadapannya.

“Sudahlah, Sunny. Kau tidak perlu terlibat dalam masalah ini.”, ucap Soo Man lirih.

“Biar saja, Paman. Paman melakukan ini juga karena aku, kan?”, balas Sunny.

“Cih!” Pria kekar lainnya meludah. “Jangan bersandiwara di hadapan kami! Cepat bayar hutang kalian!”, bentaknya.

“Sudah kubilang, beri kami waktu lagi!”, tegas Sunny lagi.

“Bos kami memberikan tambahan waktu hingga sebulan ke depan untuk kalian.”, ucap pria kekar itu. “Kalau kalian masih belum bisa melunasi hutang-hutang itu, maka kami terpaksa mengambil seluruh harta benda yang tersisa dan rumah ini. Mengerti?”, imbuhnya.

“Aku mengerti.”, balas Sunny, lalu memalingkan wajahnya. “Sudahlah. Cepat pergi sana!”

“Huh! Dasar sok! Pastikan kalian sudah punya uangnya saat kami kembali kesini bulan depan.”, kata salah satu pria kekar yang kemudian membalik badannya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dua pria lainnya mengikuti langkah pria tadi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.

Sunny mendesah lega setelah memastikan bahwa 3 pria yang telah mengusik pagi harinya itu pergi dari rumahnya. “Paman tidak apa-apa?”

“Tenang saja. Paman baik-baik saja, kok.” Soo Man masih berusaha meyakinkan bahwa keadaannya baik-baik saja, meski tubuhnya menunjukkan bahwa ia jauh dari kata ‘baik-baik saja’. “Bukankah Paman sudah mengatakan padamu berkali-kali bahwa kau tidak perlu ikut campur dalam masalah ini? Kau bisa berada dalam bahaya, Sunny.”

“Bukankah, aku juga sudah sering mengatakan pada Paman bahwa ini semua juga karena aku, jadi aku juga patut untuk bertanggung jawab, kan?” Sunny malah balik bertanya.

Soo Man pun memilih mengalah dan tak ingin berdebat dengan keponakannya ini. Meski begitu, ia masih tak rela jika Sunny juga terlibat dalam masalah ini.

Awalnya, Sunny berasal dari keluarga yang kaya raya. Namun, semua masalah bermula, saat orang tua Sunny meninggal dalam kecelakaan yang diduga telah direncanakan oleh rival ayahnya. Sejak saat itu, usaha keluarga Sunny pun bangkrut dan Sunny pun dititipkan pada Soo Man, pamannya yang hidup kaya raya, namun menyendiri. Soo Man sangat menyayangi Sunny seperti anaknya sendiri, sesuai dengan permintaan ayah Sunny. Namun, lagi-lagi, nasib Sunny sedang sial. Soo Man yang merupakan seorang pengusaha, ditipu oleh rekan kerjanya, sehingga menyebabkan usahanya bangkrut. Soo Man yang berniat untuk mendirikan kembali usahanya pun meminjam sejumlah uang. Namun, lagi-lagi, usahanya tersebut tidak berhasil dan menyebabkan ia terlilit hutang.

Melihat keadaan Pamannya yang seperti ini, Sunny pun merasa tersentuh dan merasa bahwa ini semua juga karenanya. Pamannya mati-matian untuk mendirikan kembali usahanya demi untuk membiayai hidup Sunny. Jadi Sunny merasa bahwa ia juga bertanggung jawab untuk melunasi hutang-hutang Pamannya.

“Untung saja, mereka mau memberikan tambahan waktu untuk kita.” Terbersit kelegaan dalam nada bicara Sunny.

“Tapi, apa lagi yang harus kita lakukan untuk melunasi hutang kita secara tepat waktu, Sunny?”, tanya Soo Man, terdengar pasrah.

“Sudahlah. Paman tenang saja. Serahkan semuanya padaku.”

***

“Mana kekasihmu?”

Huang Zhi Tao nyaris saja melompat dari sofa empuk yang didudukinya setelah mendengar pertanyaan tersebut, kalau saja, ia tidak memiliki pengendalian diri yang cukup baik. Tao membuka matanya yang sedari terpejam secara perlahan. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan mendapati bahwa ibunya sudah duduk di salah satu sofa di hadapannya sambil menyesap teh dengan gaya yang sangat anggun.

Tao pun segera memperbaiki duduknya dan menatap intens ke arah ibunya. Wanita paruh baya di hadapannya itu masih menyesap teh-nya dengan nikmat tanpa melirik sedikitpun ke arah anak lelakinya tersebut.

Ny. Huang segera meletakkan cangkir teh-nya setelah meminum teh tersebut. Ny. Huang membalas tatapan anaknya dengan lembut. “Mana kekasihmu?”, tanyanya lagi.

Seketika, tubuh Tao membeku. Pertanyaan yang selama ini tak pernah terlontar dari bibir ibunya itu, akhirnya terlontar juga. Sayangnya, saatnya sama sekali tidak tepat.

“Maksud Ibu?”, tanya Tao, berbasa-basi. Yah, sesungguhnya, Tao tidak bermaksud sekedar berbasa-basi. Ia benar-benar tidak memahami maksud Ibunya. Selama ini, ibunya memang tidak pernah mengurusi masalah percintaan Tao. Bahkan, ibunya cenderung membiarkan Tao yang selalu terlihat menjomblo di matanya. Ibunya selalu mendukung apa yang dianggap baik oleh Tao. Jika Tao lebih memilih untuk melanjutkan studi-nya, maka Ibunya tidak akan merecokinya dengan permintaan umum yang dilontarkan para orang tua tentang pasangan hidup atau semacamnya dan lebih memilih untuk mendukung keputusan anaknya itu.

Dan Tao merasa sangat beruntung dalam hal tersebut. Kebanyakan temannya selalu saja mengeluh karena orang tua mereka yang selalu mengharapkan anak mereka untuk segera mengenalkan kekasih mereka dan segera menikah. Kalau tidak, mereka akan dijodohkan dengan pilihan orang tua mereka.

Benar-benar hal yang sangat klise.

Beruntung sekali Tao, karena ia tak pernah menemui masalah semacam itu.

Itulah yang membuat Tao bertanya-tanya. Kenapa ibunya mendadak menanyakan tentang kekasihnya? Apakah Tao akan segera menghadapi masalah yang belum pernah ia hadapi seumur hidupnya itu?

“Bukankah pertanyaannya sudah cukup jelas?” Ny. Huang justru balik bertanya. “Kau sudah berusia 24 tahun, tapi tak pernah mengenalkan satu pun gadis sebagai kekasihmu di hadapan ibu?”

“O-oh.”, gumam Tao, sambil mengangguk mengerti. “Tapi, bukannya Ibu selalu saja menyuruhku untuk meneruskan studi-ku dulu?”

“Ibu tidak pernah berkata seperti itu, Tao. Hanya saja, ibu selalu mendukung segala keputusanmu. Tapi, apa balasannya? Tak sekali pun kau berusaha membahagiakan hati Ibu.”, tutur Ny. Huang.

Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Ny. Huang benar-benar mengena di hati Tao. Tao ingat persis betapa Ny. Huang begitu mencintai dan mengasihinya, bahkan membesarkannya hingga sukses seperti sekarang ini. Tapi bagi Ny. Huang, Tao masih belum membalas semua perlakukan baiknya selama ini.

“Apakah semua yang sudah kulakukan belum bisa membahagiakan hati Ibu?”, tanya Tao.

“Dengarkan ibu baik-baik, Tao. Kehadiranmu dalam kehidupan Ibu saja, sesungguhnya sudah lebih dari cukup. Tapi, ada kalanya, Ibu juga ingin melihat kau mendapat yang terbaik. Ibu selalu memberikan kasih sayang untukmu, sehingga kau tak pernah merasa kesepian. Ibu sudah menyekolahkanmu, sehingga kau menjadi anak yang cerdas dan sukses.”, ucap Ny. Huang. “Saat ini, yang Ibu inginkan hanya melihat anak Ibu menikah dan memberikan seorang cucu untukku.”

“M-menikah?”

“Tidak perlu tergesa-gesa, Tao. Setidaknya, di usia-mu saat ini, kau sudah mengenalkan seorang kekasih pada Ibu. Lagipula, kau sudah menyelesaikan studi-mu dan tinggal meneruskan usaha keluarga. Jadi Ibu rasa, kau punya banyak waktu untuk cinta.”, kata Ny. Huang. “Jadi, bagaimana? Kau sudah punya kekasih?”

“Belum, Bu.”, jawab Tao cepat, sambil menggeleng tegas. “Lagipula, selama ini, aku kan, hanya fokus pada sekolahku. Jadi, aku belum sempat memikirkan masalah cinta, Bu.”, jelas Tao.

Ny. Huang mendesah pelan. “Kalau begitu, ibu harap, kau bisa meluangkan waktumu untuk mencari kekasih.”

“Kalau tidak?”

“Terpaksa, Ibu yang akan mencarikan kekasih untukmu.”

Sekarang, hal klise itu benar-benar dialami oleh Tao.

***

“Kau baik-baik saja?”

Sunny mendongak malas saat mendengar sebuah suara memecah keheningan sekitarnya. Didapatinya, Jessica, teman kuliahnya yang sedang menatap heran ke arahnya.

“Kau sakit, ya?”, tanya Jessica, lalu duduk di salah satu kursi di hadapan Sunny.

“Ani.”, jawab Sunny singkat.

“Kau ini kenapa, sih? Kenapa akhir-akhir ini, kau terlihat murung?”, tanya Jessica.

Sunny masih saja terdiam. Pikirannya melayang entah kemana.

“Putus dari pacarmu, ya?”, goda Jessica.

“Ya! Kau ini simpati padaku atau berniat meledekku, hah?!”, bentak Sunny kesal.

Jessica tertawa cekikikan. Ia tahu betul kalau Sunny sangat sensitif jika ditanya mengenai pacar. Maklum, dia sudah betah menjomblo selama bertahun-tahun. “Habis, kau diam saja dari tadi.”, balas Jessica santai. “Sekarang, jawab pertanyaanku! Kenapa kau murung begitu?”, tanya Jessica lagi.

“Pamanku.”, jawab Sunny singkat.

Jessica langsung terkesiap karena mengerti dengan arah pembicaraan Sunny. Ia paham betul dengan masalah yang dihadapi oleh Sunny dan Pamannya saat ini. “Ada apa lagi? Apa mereka masih terus menagih hutang-hutang itu?”

“Tentu saja, pabo!”

Jessica nyengir. “Lalu, apa yang terjadi?”

“Mereka sempat memukuli Pamanku dan mengancam akan mengambil seluruh harta yang tersisa dan rumah kami, kalau kami tidak bisa membayar hutang selama sebulan.”, jelas Sunny.

“Sebulan?”

“Yah. Itu juga masih jauh lebih baik daripada hanya seminggu.”, komentar Sunny.

“Ah, benar juga.” Jessica mengangguk setuju. “Lalu, apa yang akan kaulakukan?”

“Aku benar-benar harus mendapat tambahan extra. Aku harus mencari kerja lagi. Gaji-ku di café tidak cukup untuk membayar hutan-hutang itu.”, kata Sunny. “Apa kau ada usul?”

“Mmm, apa, ya?” Jessica nampak berpikir.

Lagi-lagi, tercipta keheningan diantara mereka berdua.

“Aha! Aku tahu!”, seru Jessica dengan semangat sambil melonjak-lonjak kegirangan.

“Hei, hei! Jangan heboh begitu! Apa usulmu?”

Jessica masih terlonjak-lonjak senang.

“Ingat. Jangan mengusulkan sesuatu yang konyol dan aneh seperti dulu.” Sunny bergidik ngeri saat mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu, saat Jessica mengusulkan padanya untuk bekerja di sebuah klub malam, yang mengharuskan para pekerjanya untuk melayani nafsu pelanggan mereka.

Jessica langsung berhenti melonjak dan wajahnya langsung berubah menjadi muram.

Sunny merasa kalau ide Jessica kali ini tidak jauh berbeda dari idenya yang dulu. Ia pun hanya bisa mendesah pasrah.

Jessica kembali terduduk lesu. “Memang agak konyol, sih. Tapi tidak segila dulu, kok.”, ucap Jessica.

“Apa?”

“Kau ikut saja reality show “Finally I Found You”. Kau tahu, kan?”, tanya Jessica.

“Finally I Found You…?” Sunny nampak mengingat-ingat. Ia memang sudah jarang nonton acar TV akhir-akhir ini, karena disibukkan dalam mengisi pundi-pundi uangnya. “Ah, iya! Aku tahu! Memangnya, kenapa dengan acara itu?”

“Acara itu kan, adalah acara pencarian jodoh. Sepasang pria dan wanita akan diberi waktu selama sebulan untuk menjalani masa pendekatan. Kalau mereka saling jatuh cinta, maka mereka akan mendapatkan sejumlah uang yang akan digunakan untuk menikah, membeli rumah, mobil dan perlengkapan lainnya.”, tutur Jessica.

“Ya, ya. Aku tahu itu. Lalu, apa hubungannya denganku?”

“Nah, kalau mereka tidak saling jatuh cinta, maka mereka harus menghentikan acara tersebut dan dipisahkan sejauh-jauhnya. Mereka juga akan mendapat sejumlah uang cash yang dikelola secara pribadi oleh peserta.”, lanjut Jessica.

Sunny tidak ingat bagian ini. Dari seluruh episode yang pernah ia tonton, sleuruh pesertanya selalu berakhir di pelaminan. Jadi, ia tidak pernah tahu dengan peraturan yang satu itu. “Lalu?”

“Kau kan, bisa menjadi peserta, lalu menghentikan acara tersebut dan mengambil uangnya. Ya, kan?”, tawar Jessica.

Sunny berpikir sejenak. Ia tak pernah berpikir sejauh ini, bahkan jika ia mengetahui tentang peratiran tersebut. Ia baru sadar, kalau terkadang, temannya itu sangat cerdas dan bisa diandalkan.

“T-tapi, bagaimana dengan si pria?”, tanya Sunny.

“Itu sih, urusan gampang. Kalian kan, tidak saling mengenal. Jadi, kecil kemungkinannya untuk saling jatuh cinta. Kau kan, bisa saja membuatnya membencimu.”

***

“Kau ini kenapa, sih?”

Tao menoleh sekilas ke arah kanan sambil tetap mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja. Matanya menangkap sosok Kris yang sedang membawa beberapa lembar kertas di tangannya.

“Kenapa kau disini?” Tao justru balik bertanya, sambil memasang wajah jengkelnya.

Kris pun duduk di samping Tao, lalu meletakkan setumpukan kertas yang dibawanya di atas meja di hadapannya. “Aku baru saja ada rapat. Kebetulan saja lewat sini, dan kulihat kau sedang melamun saja.”, jelas Kris. “Ada apa?”

“Ibuku.”

“Ada apa dengan ibumu?”

“Dia ingin melihatku memiliki kekasih. Kalau tidak, dia akan menjodohkanku dengan gadis pilihannya.”, jelas Tao malas.

Tiba-tiba saja, Kris langsung tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan Tao.

Tao hanya bisa menatap heran ke arah rekan kerjanya itu. “Kau ini kenapa, sih?”, tanya Tao.

Kris masih melanjutkan tawanya beberapa saat. “Akhirnya, Tuhan benar-benar berbuat adil.”, respons Kris, sambil masih tertawa lirih di sela ucapannya.

“Apa maksudmu?”, tanya Tao, nampak geram.

“Ya! Dulu, kau kan, sempat mengolok-olokku karena aku dijodohkan oleh ibuku. Nah, sekarang adalah saatnya pembalasan. Kau akan dijodohkan oleh ibumu.”, jelas Kris.

PLETAK!

Tao menjitak kepala pria yang beberapa bulan lebih tua darinya itu.

“Sakit!”, rintih Kris sambil mengusap puncak kepalanya.

“Rasakan!”, balas Tao, lalu membuang muka. “Memangnya, kau menyesal karena sudah dijodohkan, hah?”, tanya Tao sambil tetap memandang ke salah satu lukisan yang terpajang di tembok ruangannya.

“Tidak juga.”, jawab Kris santai sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang didudukinya. “Kau kan, tahu sendiri, hubunganku dengan kekasihku sekarang. Malah tambah langgeng, kan?”

“Ya, ya.” Tao memutar bola matanya malas.

“Setidaknya, kau itu, mencoba perjodohan itu dulu. Jangan langsung menolaknya sebelum mengenal orang yang akan dijodohkan denganmu. Bisa jadi, kau sendiri yang menyesal.”, tutur Kris mengingatkan.

“Kalau jodoh tidak akan kemana, kan? Tapi, kenapa aku merasa kalau jodohku bukan berasal dari perjodohan itu, ya?”, tanya Tao sambil terus memandang lukisan di hadapannya.

“Huh, sok tahu.”, cibir Kris. “Tuhan kan, selalu punya rencana sendiri.”, tutur Kris mengingatkan.

“Pokoknya, aku harus bisa menghindari perjodohan itu!”, seru Tao. “Kau tahu caranya?”

“Kau mau mengikuti caraku yang dulu atau mau cara yang baru?”

Tao memandang serius ke arah Kris. Ia ingat saat Kris melakukan berbagai hal konyol hanya untuk menghindari perjodohan yang direncanakan keluarganya. Ia pernah kabur ke luar negeri tanpa uang sepeserpun. Ia juga pernah mogok makan. Bahkan, ia juga pernah mengancam akan bunuh diri jika tetap dipaksa menikah. Kadang, Kris yang dewasa saja, bisa terlihat sangat kekanakan.

Tao langsung bergidik ngeri setelah mengingat berbagai tindakan konyol yang pernah Kris lakukan. “Tidak! Mana mungkin, aku akan melakukan hal konyol seperti itu!”, tolak Tao tegas. “Lebih baik, kau beri ide yang baru saja!”, pinta Tao.

“Mm, baiklah.” Kris nampak berpikir. “Cari saja kekasih. Mudah, kan?”, celetuk Kris.

“Ya! Kalau aku tahu caranya, pasti aku sudah melakukannya sebelum kau suruh.”, balas Tao kesal.

“Kau tidak tahu caranya?”

“Untuk ukuran orang yang pernah sakit hati sepertiku, jatuh cinta itu bukanlah perkara mudah.”, tutur Tao.

Kris mendengus sebal. “Siapa yang menyuruhmu jatuh cinta?”

“Tadi, kau menyuruhku mencari kekasih, kan? Apa bedanya?”

“Tentu saja beda, bodoh!”, bentak Kris kesal.

“Kok, bisa?”

“Tentu saja. Aku kan, hanya menyuruhmu mencari kekasih. Maksudku, kau hanya membutuhkan status. Bukan kekasih dalam arti sesungguhnya.”, jelas Kris, terdengar sebal.

“Caranya?”

“Mudah saja. Kau bisa membayar seorang gadis untuk berpura-pura menjadi kekasihmu. Bagaimana?”, tawar Kris, sambil menaikkan kedua alisnya bersamaan.

“Masalahnya, tidak akan semudah ini. Aku tidak tega merendahkan derajat wanita sampai seperti itu.”, jawab Tao dengan nada yang sok diplomatis.

Kris kembali mendengus. “Bilang saja, kau tak mau keluar uang. Dasar pelit!”, ledek Kris.

Tao pun hanya nyengir ala kuda. “Carikan cara yang lain.”, perintah Tao.

Kris pun mulai berpikir kembali. Tiba-tiba, sebuah senyuman terkembang di wajahnya. “Aku tahu.”, ucap Kris. “Tapi, aku tak yakin kalau kau akan menyetujuinya.”, kata Kris memperingatkan.

“Apa?”

“Aku pernah mendengar acara reality show ‘Finally I Find You’ di Korea Selatan. Acaranya semacam acara pendekatan antara seorang pria dan wanita yang sama sekali tidak saling mengenal. Kudengar, banyak pasangan yang sukses setelah mengikuti acara tersebut. Siapa tahu, kau bisa menemukan jodohmu di sana.”, jelas Kris.

Tao menunduk, nampak menimbang-nimbang sesuatu.

“Jadi, bagaimana? Kau setuju?”, tanya Kris memastikan.

“Tidak ada salahnya mencoba, bukan?”

***

“Kau sudah yakin?”

Sunny masih sibuk mematut tubuhnya di depan cermin. “Tentu saja. Menurutku, ini adalah cara yang tidak buruk.”, jawab Sunny mantap, sambil menatap ke arah Jessica lewat pantulan tubuhnya di cermin. “Memangnya, kenapa?”

“Entah kenapa, aku jadi tak yakin dengan usulku sendiri.”, jawab Jessica ragu.

“Kau ini bagaimana, sih?” Sunny terdengar kesal. Ia membalik tubuhnya sehingga menghadap ke arah Jessica yang masih terduduk di atas ranjang sambil menundukkan kepalanya. “Bagaimana? Aku sudah nampak cantik, kan?”

Jessica mendongak dan melihat sahabatnya yang nampak manis. Jessica hanya bisa mengangguk lemah. Sebagian pikirannya masih melayang-layang, merutuki dirinya sendiri yang telah memberikan usulan bodoh pada temannya ini.

“Ayo! Kita harus segera berangkat. Kau tak ingin aku terlambat, kan?”

Jessica tidak menjawab pertanyaan Sunny dan langsung mengambil tas tangannya, lalu bangkit dari duduknya. “Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Pamanmu?”, tanya Jessica.

“Tenang saja. Aku sudah membicarakannya. Dia sih, setuju-setuju saja, asal aku baik-baik saja.”, jawab Sunny.

“Kau yakin, kalau kau akan baik-baik saja?”, tanya Jessica.

“Entahlah. Aku juga belum tahu sebelum menjalaninya, bukan?”

***

“Bagaimana? Kau sudah siap?”

Tao merapikan kembali kemejanya dan melirik sekilas ke arah Kris yang sudah siap di balik kemudi mobil. “Tentu.” Tao pun kembali melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam mobil.

“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan ibumu?”

“Tenang saja. Aku sudah memastikan bahwa ia tidak akan mengetahui hal ini. Selama 2 bulan ke depan, ibuku akan sibuk mengurusi usahanya di Eropa. Jadi, dia tidak akan punya waktu untuk mengurusiku.”, jelas Tao panjang lebar.

 “Oh, begitu.” Kris sudah mengemudikan mobil sport milik Tao, menjauhi halaman rumah Tao yang berada di . “Benar-benar tidak kusangka, kalau beberapa hari yang lalu, aku masih berada di China dan sekarang, aku sudah ada di Seoul.”, gumam Kris senang.

“Dasar kau ini.”, celetuk Tao kesal.

“Aku juga tak menyangka kalau mereka langsung menerimamu sebagai pesertanya dalam waktu yang secepat ini.”, kata Kris.

“Ah, benar juga.” Tao mengangguk setuju. “Tapi, yang penting, aku bisa segera menemukan jodohku, kan?”

“Tapi, ngomong-ngomong, bagaimana gadis yang akan dipertemukan denganmu, ya?”

“Biarkan saja menjadi kejutan untukku.”

***

“Silakan duduk.”

Sunny dan Jessica duduk di dua kursi yang saling berdekatan di sebuah ruang meeting yang nyaman dan luas. Kini, Sunny dan Jessica sudah berada di gedung salah satu stasiun TV di Korea Selatan yang menayangkan acara ‘Finally I Find You’.

Setelah mendapat usul dari Jessica, Sunny langsung mengajukan lamaran sebagai peserta untuk mengikuti acara ini. Beruntungnya, tanpa perlu menunggu lama-lama, Sunny sudah bisa menjadi peserta dalam acara ini dan diminta untuk datang ke kantor mereka untuk membahas acara yang akan ia ikuti ini. Dan tentu saja, Sunny juga akan dipertemukan dengan pemuda yang akan dipasangkan dengannya. Entah kenapa, memikirkannya saja, sudah membuat dada Sunny bergemuruh tak karuan.

“Tenanglah, Sunny. Ingat. Bagaimanapun sempurnanya pria itu, jangan pernah tertarik padanya. Tugasmu adalah, ikut acara ini, jangan jatuh cinta pada pria itu, buat pria itu benci padamu dan keluar dari acara ini sambil membawa uang yang akan digunakannya untuk membayar hutang Paman.” Sunny terus saja mengulang kalimat-kalimat itu dalam pikirannya. Ia tak ingin sampai salah langkah dan membuang kesempatan besar untuk mendapat uang demi membayar hutang Pamannya.

“Kau baik-baik saja, kan?”, tanya Jessica.

Sunny hanya bisa mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Kau tidak mau pulang saja, selagi ada kesempatan?”

Sunny langsung menggeleng cepat.

“Baiklah. Terserah kau saja.” Jessica mengangkat bahu, pasrah. “Yang penting, aku sudah mengingatkanmu, ya?”

Sunny hanya bergumam pelan, lalu memandang kagum ke arah sekeliling ruangan tersebut.

Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Sunny yakin, bahwa akan ada yang datang. Bukan hanya seorang, tapi beberapa orang. Lalu, pintu ruangan tersebut terbuka secara perlahan. Seorang wanita muda yang tadi membawanya ke ruangan tersebut sedang membuka pintu, lalu muncul dua sosok pria di belakang wanita itu.

Sunny dan Jessica sama-sama memicingkan matanya untuk memperhatikan dua pria yang tengah memasuki ruangan tersebut. Tapi, wajah mereka tidak terlihat karena sama-sama sedang menunduk.

“Nona Lee, ini adalah pria yang akan menjadi pasangan anda.”, ucap wanita muda tadi, sambil menunjuk ke arah pria yang berdiri tepat di belakangnya.

Pria itu langsung mendongak dan memandang tepat ke arah Sunny.

“K-kau?!”

TBC

Gimana nih, komentar kalian tentang FF ini?

Dimohon komennya ya, untuk kemajuan FF ini. So, please leave a comment, okay?

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s