[Series] If You Were My Girlfriend – Chapter 3

if-you-were-my-girlf

Title : If You Were My Girlfriend

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Main Cast :

Kris EXO-M

Jessica SNSD

Support Cast :

Tao EXO-M

Rating : PG

Length : Series

Genre : Romance

***

“Sial.”

Kris mengumpat pelan, sambil mencoba bangkit dari tidurnya. Ia masih mengantuk, tapi sinar matahari yang masuk lewat celah jendela, sudah tak bisa ditolerir lagi, sehingga memaksanya untuk segera terbangun.

Tentu saja, ia masih sangat mengantuk, karena semalaman, ia sama sekali tak bisa menikmati tidurnya. Kalau dihitung, mungkin ia baru tidur selama 2 jam saja. Sementara, jam-jam lainnya, hanya digunakannya berguling-guling tak jelas di atas ranjang.

Kepalanya terasa agak pusing, karena berbagai kejadian yang menimpa dirinya. Bagaimana tidak. Semalam, secara tak sengaja, ia menemukan seorang gadis yang tergeletak di jalanan. Tak tega rasanya, jika ia membiarkan gadis itu tergeletak begitu saja di tengah jalan yang sepi itu. Lagipula, gadis itu nampak seperti gadis yang baik-baik. Mungkin, ia sedang sakit, sampai ia pun pingsan. Kris juga merasa seperti saudaranya, karena wajah gadis itu seperti wajah gadis Asia, daratan asalnya. Jadi, ia pun memutuskan untuk membawanya pulang ke apartemennya. Namun, ia tak tahu dengan apa yang harus ia perbuat.

Dan akhirnya, berakhirlah Kris disana. Di apartemen Tao. Karena Kris dan Tao sudah membuat kesepakatan. Tao akan mengurus gadis itu, selama Kris tidak mengganggunya untuk sementara waktu.

Ah, mengingatnya lagi saja, Kris merasa seperti sebuah palu kembali menghantam kepalanya.

Kris pun memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi dan beranjak dari kenyamanan ranjang yang ia tempati. Ia mulai melangkah keluar dari kamar, mencoba mencari suasana lain.

Kris menuju ke ruang TV untuk menonton acara TV yang bisa menyegarkan pikirannya. Diraihnya remote TV untuk memindah-mindah channel TV. Tapi, tak ada satupun acara TV yang mampu menarik perhatiannya. Berita yang itu-itu saja, kartun yang leluconnya bisa dihafal dengan baik olehnya, dan acara gossip yang bisa membuat hatinya panas dingin. Apalagi jika gossip itu berkaitan dengan member EXO.

Kris kembali mematikan TV dan merasakan perutnya yang mulai keroncongan. Kemarin, ia nyaris saja mati, karena memakan masakan Tao. Entah apakah karena Tao memang sedang kelupaan, atau terlanjur jengkel padanya yang mulai menyebalkan itu, sehingga memasukkan bahan-bahan yang aneh. Akhirnya, ia pun tidak jadi makan.

Malam harinya, saat ia hendak makan malam di suatu tempat pun, ia harus terusik. Kejadian dimana ia bertemu gadis itu terjadi. Ah, memikirkannya saja, Kris mulai merasa pusing lagi.

Kris pun menuju ke dapur dan mencoba mencari makanan yang ada. “Makanan, makanan, muncullah.”, gumam Kris, seolah sedang mengucap sebuah mantra. Kris mencari di setiap sudut dapur tersebut. Ia melihat meja di dalam dapur yang nampak kosong. Perhatiannya tertuju pada setiap lemari yang ada di dalam dapur tersebut. Ia mulai mengeluarkan satu per satu barang dari dalam lemari, tapi yang ia dapati hanyalah berbagai peralatan masak dan tak ada makanan yang siap untuk dimakan. Bahkan, kulkasnya pun terbilang kosong. Hanya ada beberapa botol minuman dan beberapa butir telur.

“Dasar anak ini! Masa ia tak punya makanan atau cemilan yang siap makan, sih?”, gumam Kris sebal.

Kini, Kris menyesal. Karena seumur hidupnya, mungkin ia baru 5 kali ini mengunjungi dapur. Ia sudah terbiasa hidup mewah, sehingga bisa langsung menikmati makanan dan minuman di meja makan. Tanpa perlu menuju dapur. Kalaupun ia ingin ke dapur, ia pasti menyuruh pembantunya untuk mengambilkan sesuatu untuknya.

Bahkan, saat ia harus tinggal di dorm dengan member EXO-M saja, ia sering memerintah member lainnya untuk melayaninya. Apalagi, Tao. Ia sering menyuruh Tao untuk melayaninya, memasakkan sesuatu untuknya, mengambilkan makanan, minuman, memilihkan pakaian, dan masih banyak lagi. Kris merasa, bahwa hidupnya sekarang jadi bergantung pada anak itu.

Kris merasa seperti orang bodoh. Saat ia sedang sendiri, ia tak bisa meminta bantuan pada siapapun. Ia menyesal atas keputusannya semalam.

Akhirnya, Kris pun memaksakan dirinya sendiri untuk membuat sesuatu untuk bisa dimakan. Kris mengambil beberapa butir telur dari dalam kulkas. Ia akan menggoreng telur. Yah, setidaknya, ia pernah melihat seseorang menggoreng telur.

Kris mencoba mencari-cari penggorengan, memasangnya di atas kompor dan menuangkan minyak goreng. Ia mengambil telur yang tadi ditemukannya, lalu menatapnya dengan tatapan ragu.

Bagaimana cara memecahkannya?, tanya Kris dalam hati.

Kris memukulkan telur yang ada di tangannya pada pinggiran penggorengan. Tapi, sialnya, geraknya terlalu lambat, sehingga telur itu justru langsung pecah dan isinya jatuh ke atas lantai.

“Kris bodoh!” Kris hanya bisa mengumpat kesal.

Kris pun kembali mengambil telur yang tersisa. Memukulnya lagi, tapi kali ini tidak terlalu keras. Tangannya pun segera bergerak dengan cepat, mengarahkan telur ke atas penggorengan. Lagi-lagi, Kris kena sial. Kulit telurnya justru ikut masuk ke dalam penggorengan.

“Nah, Kris. Setelah ini, kau harus belajar memasak dari Tao.”, gumam Kris.

Kris membersihkan penggorengannya lagi dan mengulangi langkah-langkah yang tadi sudah ia lakukan. Ia juga tak lupa untuk menyalakan kompor yang tadi belum sempat ia nyalakan dengan api yang kecil. Kris pun memecah telur dan mengarahkannya ke atas penggorengan.

“Nah, berhasil!” Kris nampak senang, saat melihat usahanya tidak sia-sia.

Kris hanya bisa menatap ke arah telur yang berada di atas penggorengan. “Lalu, apa yang harus kulakukan?”, gumam Kris.

Kris masih terdiam, menatap ke dalam penggorengan. Tiba-tiba,

“Aww!” Kris meringis kesakitan saat tangannya terkena percikan minyak goreng.

Punggung tangannya sedikit melepuh. Ia merasa putus asa sekarang. Dimatikannya kompor dan mulai merogoh saku celananya, mengambil ponselnya. Jemarinya mulai bermain di atas ponsel.

“Hei! C-cepatlah k-kemari.”

***

 “Kau baik-baik saja kan, Kris?”

Kris menghela nafas, sambil berusaha mengobati sendiri luka pada punggung tangannya. Bahu kirinya mengapit ponselnya yang sudah tersambung dengan ibunya yang masih berada di daratan Asia.

“Iya, bu.”, jawab Kris, pasrah. Tidak, bu! Anakmu ini tidak sedang baik-baik saja! Bisa tidak, ibu langsung terbang saja ke sini?, pekik Kris dalam hati.

“Tapi, kenapa kau kedengaran seperti baru menangis, hm?”, goda ibunya.

“Ibu!” Sesungguhnya, Kris tak bisa mengelak begitu saja. Ia benar-benar belum pernah merasa seperti ini. Baru kali ini, ia merasa benar-benar sendiri, kesepian dan kesakitan. Sungguh, rasanya ia ingin menangis saja. Hanya saja, ia tak bisa. Ia hanya bisa sedikit terisak karena rasa sakit yang ditahannya itu. Tak ada satu tetes pun air mata yang keluar. “Mana mungkin, aku menangis? Untuk apa, coba?”

“Karena kami meninggalkan kau untuk berlibur ke Seoul, mungkin?”, tebak ibunya, terdengar sok pe-de.

“Jangan terlalu percaya diri, bu.”, elak Kris.

“Jangan mengelak Kris. Ibu yakin kau sedang kesepian. Ibu tahu dari TV kalau member EXO lainnya sedang berada di Seoul, loh. Kenapa kau tak ikut?”, tanya ibunya, menyelidik.

“Malas.”, balas Kris ketus. Tangannya sudah selesai diobati dan kini, bahunya tak perlu mengapit ponsel lagi. Kini, tangan kirinya-lah yang menggenggam ponsel. “Kalau aku kesana, yang ada, malah aku akan dijodohkan lagi.”, lanjutnya.
Ibunya terkekeh pelan. “Oh ya, ngomong-ngomong, di Amerika tidak ada berita yang menghebohkan, kan?”, tanya ibunya memastikan.

Kris mengangkat alisnya, nampak bingung dengan pertanyaan ambigu yang dilontarkan ibunya. “Berita menghebohkan apa, bu?”

“Ish! Kau ini bagaimana, sih? Ibu tanya padamu, kau malah balik tanya pada ibu.”

“Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar.” Kris mencoba mengingat. Tadi, saat ia menonton TV sebentar, sepertinya, tak ada berita yang terlalu menghebohkan. “Sepertinya tidak, Bu. Kenapa?”

“Ah, tidak apa-apa. Ibu hanya tanya.”, balas ibunya. “Kalau begitu, sudah dulu, ya? Jaga dirimu baik-baik, Nak.”, pesan ibunya.

“Baik, Bu.”, balas Kris. “Sampaikan salamku pada Ayah dan yang lain ya, Bu.”

“Bye.”

“Bye.”

KLIK!

Sambungan telepon antara ibu dan anak itu sudah terputus. Tak lama, terdengar bunyi pintu yang hendak dibuka. Kris mendesah lega, saat mendapati Tao yang berdiri di balik pintu sedang masuk ke dalam apartemen.

“Untung kau sudah datang.”, gumam Kris.

“Sebenarnya, ada apa sih, denganmu, Ge?”, tanya Tao, segera setelah ia melepas sepatunya.

“Kemarilah dulu.” Kris mengajak Tao untuk duduk di atas sofa.

Tao pun menurut saja dan segera mengambil posisi tepat di hadapan Kris. “Ada apa ini?” Tao bingung, saat melihat kotak obat yang tergeletak di atas meja.

“Tadi, aku kelaparan. Kau ingat kan, kalau kita sudah berjanji, agar aku tidak mengganggumu, selama kau mau membantuku?”, tanya Kris.

Tao mengangguk ragu.

“Makanya, aku benar-benar tidak ingin mengganggumu. Jadi, aku harus berusaha sendiri untuk mengganjal perutku. Kucari di dapur, tapi tak ada makanan yang siap santap. Tapi, kulihat ada beberapa butir telur. Aku pun mencoba menggoreng telur.”, jelas Kris.

“Kau memasak, Ge?” Tao mengerjapkan matanya, takjub.

“Yeah. Tapi, hasilnya tidak memuaskan. Lantai-mu kotor karena telur-nya jatuh dan kau lihat,” Kris menunjuk punggung telapak tangannya yang sudah terobati, “tanganku melepuh karena cipratan minyak goreng.”, lanjutnya.

Kris nampak terus memperhatikan ekspresi wajah Tao. Ia khawatir, kalau Tao akan marah padanya.

“Ya Tuhan, Ge! Kalau begini ceritanya, aku pasti rela membantumu!”, pekik Tao, segera berlari mendekat ke arah Kris. “Mana mungkin, ada seorang adik yang rela melihat kakaknya tersiksa begini?” Tao memperhatikan punggung tangan Kris.

“Sudahlah. Tak apa. Aku sudah baikan, kok.”, jawab Kris mantap. “Oh ya, untuk dapurmu itu…”

“Jangan terlalu dipikirkan, Ge.”, sela Tao cepat. “Jadi, kau belum sempat makan, Ge?”

Kris menggeleng lemah.

“Kalau begitu, aku belikan makanan dulu ya, Ge?”, tawar Tao, sambil bangkit dari duduknya.

“Terserah kau sajalah.”, balas Kris pasrah.

“Baiklah. AKu pergi dulu.”, pamit Tao, lalu pergi dari apartemennya.

Kris hanya mendesah pelan, sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa.

“Ah iya. Bagaimana keadaan gadis itu, ya?”

***

“Aku benar-benar mohon maaf, Ge.”

Tao menunduk beberapa kali ke arah Kris.

Sementara itu, Kris hanya menatap Tao dengan tatapan bingun sambil, menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal itu. “Memangnya, ada apa?”, tanya Kris penasaran.

“Aku sudah membelikanmu makanan. Ini.” Tao menyerahkan tas plastic yang berisi beberapa kotak makanan.

Kris hanya menyeringai puas karena mendapati bahwa Tao begitu mengerti keadaannya yang amat sangat kelaparan ini. Tapi, ia masih bingung, kenapa Tao harus meminta maaf padanya. “Lalu?”

“Aku harus segera pergi, karena aku harus mengurus pemotretanku besok.”, jelas Tao.

“O-oh.” Kris hanya manggut-manggut, mencoba ikhlas, meski harus ditinggalkan sendiri lagi.

“Kau tidak apa-apa kan, Ge, kalau kutinggal lagi?”, tanya Tao memastikan.

“Tentu. Aku tidak akan mengacau lagi, kok.”, jawab Kris, diselingi nada bercanda.

Meski begitu, Tao nampak tak yakin dengan jawaban Kris. Ia khawatir, jika terjadi sesuatu yang lebih buruk pada leader-nya itu.

“Sudahlah. Jangan khawatir. Pergi saja. Gunakan waktumu sebaik mungkin.”, pesan Kris, sambil mendorong pelan tubuh Tao yang masih berdiri di ambang pintu.

“Baiklah, Ge. Take care yourself.”, balas Tao, masih menyisakan kekhawatiran di wajahnya.

“You too.”

Tao pun melangkah pergi meninggalkan apartemennya. Sementara itu, Kris hanya bisa memandangi punggung Tao yang mulai menjauh itu.

Kris berbalik dan masuk ke dalam apartemen. Kris bersandar pada daun pintu dan mulai berpikir. “Ah, Kris bodoh! Kenapa kau lupa tanya tentang gadis itu?” Kris menepuk pelan jidatnya sendiri.

Kris merogih saku celananya, akan menelpon Tao. “Ah, tidak, tidak! Jangan mengganggu anak itu lagi. Dia harus bekerja, Kris.” Kris mengingatkan dirinya sendiri.

Kenapa tidak aku sendiri saja yang memastikannya sendiri? Dia masih ada di apartemenku, kan?, batin Kris dalam hati. Kris pun segera mencari kunci mobilnya dan hendak pergi dari apartemen Tao.

Tiba-tiba saja, perutnya kembali keroncongan.

“Ah, lebih baik, aku makan saja dulu, baru aku pergi kesana.”

***

Kini, Kris sudah berdiri di depan apartemennya sendiri. Ia menekan beberapa tombol, sebagai password untuk masuk ke dalam apartemennya.

KLIK!

Tanda bahwa pintu apartemennya tidak terkunci lagi dan ia bisa masuk ke dalam apartemennya itu. Kris membuka pintu dan berjalan selangkah ke dalam. Ia melepas sepatu yang dikenakannya dan diletekkannya di sebuah rak khusus untuk menyimpan sepatu. Tak lupa, ia juga melepas jaketnya, karena ia merasa bahwa suhu di dalam apartemennya telah diatur dengan suhu yang hangat. Digantungnya, jaket berwarna abu-abu di dekat pintu yang sudah ditutupnya.

Kris mulai melangkah masuk, menuju ruang tengah apartemennya. Saat ia akan duduk di atas sofa, tiba-tiba saja,

BRUK!

Sesuatu mengenai tengkuknya dengan sangat keras. Sesaat, Kris tersungkur dan nyaris kehilangan kesadarannya. Namun, karena ia mampu mengontrol diri sendiri, ia pun berusaha untuk terjaga dan mengawasi sekelilingnya. Ia tak ingin diserang begitu saja di dalam apartemennya sendiri.

Kris menoleh ke belakang dan mendapati seorang gadis yang membawa buku tebal di tangannya. “Ya! Kenapa kau memukulku?” Kris nampak kesal dengan gadis di hadapannya.

“Kau siapa?”, tanya gadis itu sambil bersiap untuk mengayunkan buku tebal itu lagi.

Kris mengangkat kedua alisnya karena heran dan bingung. Tangan kirinya memegangi tengkuknya yang terasa agak sakit. “K-kau tidak tahu siapa aku?”

TBC

***

Mian, kalo FF saya yg ini gaje banget. Soalnya, setiap kali selesai nulis FF yang If You Were My Boyfriend, mood nulis saya langsung down. Nggak tahu kenapa ;(

Tapi, saya harap, masih ada readers yang bersedia untuk baca dan ngasih comment ya? Supaya saya jadi makin semangat buat memperbaiki tulisan saya di FF ini.

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s