[Series] If You Were My Girlfriend – Chapter 2

if-you-were-my-girlf

Title : If You Were My Girlfriend

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Main Cast :

Kris EXO-M

Jessica SNSD

Support Cast :

Tao EXO-M

Rating : PG

Length : Series

Genre : Romance

Author Note : Annyeong. Ini dia chap yg author maksud waktu itu. Ya udah deh, nggak usah banyak omong, silakan lanjut baca, readers ^_^

***

“Tumben sudah kembali, Ge.”

Kris masih sibuk dengan pikirannya sendiri saat Tao memulai pembicaraan diantara mereka.

“Bagaimana China, Ge?” Tao pun bertanya pada Kris.

Namun, Kris hanya menoleh ke arah Tao sambil memasang tampang linglung-nya, seolah tak paham dengan apa yang sedang terjadi.

“Bagaimana China?” Tao mengulang pertanyaannya lagi.

“O-oh.” Kris mengangguk-angguk mengerti, lalu memalingkan wajahnya ke arah jalanan. “Yah, masih sama seperti dulu.”, jawab Kris, akhirnya.

“Wah, wah.” Tao menggelengkan kepalanya. “Sudah berapa lama ya, aku tidak kesana?”, gumam Tao pada dirinya sendiri. “Aku benar-benar sudah merindukan kampung halaman.”

Kris mendesah pelan. “Kau sih, tidak perlu repot sepertiku.”, respons Kris. “Hampir seluruh anggota keluargamu tinggal di Amerika. Sementara aku, seluruh anggota keluargaku masih tertinggal di Asia. Benar-benar menyedihkan. Setiap tahun pula, aku harus mengunjungi mereka. Kenapa tidak ada satu pun yang merindukanku dan mengunjungiku di Amerika, sih?”, celoteh Kris panjang lebar, mengeluhkan kehidupannya.

Tao terkekeh. “Mungkin mereka tidak merindukanmu karena bosan melihat dan mendengar pemberitaanmu di Asia.”, celetuk Tao. “Ngomong-ngomong, tumben sekali, kau cepat kembali, Ge?”, tanya Tao lagi.

Kris mendesah berat. “Memang keluarga yang aneh.”, gumam Kris.

Tao hanya menatap bingung ke arah Kris yang tak mengerti duduk permasalahannya. “Memangnya ada apa, Ge?”, tanya Tao, takut-takut.

“Aku sengaja cepat kembali karena keluargaku ternyata sedang berlibur ke Seoul.”, jelas Kris.

“Apa? Seoul?” Tao nampak terkejut dengan penuturan Kris.

Kris mengangguk mantap. “Tahu begini, aku akan memilih untuk bekerja disini saja.”, gumam Kris sambil memejamkan matanya.

Mendengar ucapan Kris barusan, raut muka Tao mendadak berubah. Seolah, ada sesuatu yang ia sembunyikan. “Oh ya, Ge.”, ucap Tao akhirnya.

“Apa?”

“S-sebenarnya, a-ada yang ingin k-kukatakan.”, ucap Tao terbata.

“Iya. Ada apa? Cepat katakan saja.”, perintah Kris yang terdengar mulai kesal.

“S-sebenarnya, saat rekan lain tahu, kalau kau ambil cuti,” Tao belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Kris langsung terkesiap dan menatap intens ke arah Tao. “Oh, tidak. Jangan sampai…”

“Mereka semua juga ambil cuti dan berlibur ke Seoul.”, lanjut Tao.

Kedua tangan Kris mengepal keras. “Nah, kan. Persis seperti yang kutebak.”

***

“Kan, masih ada aku, Ge.”

Tao masih berusaha menenangkan Kris yang mulai meracau tak jelas karena kenyataan yang ia terima barusan. Seluruh member EXO berlibur ke Seoul. Tentu saja, seluruh member EXO minus dirinya dan Tao.

“Ya! Maksudmu, hanya berduaan saja, sementara rekan-rekan kita sedang bersenang-senang bersama di Seoul?”, tanya Kris kesal. “Tidak, tidak, tidak!”, tegas Kris sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Ia benar-benar heran dengan sikap Kris yang sekarang. Biasanya, Kris selalu bersikap seolah tak ada masalah jika ia hanya berdua saja dengan Tao, tanpa member yang lain. Tapi, sekarang? “Lalu, kau mau bagaimana, Ge? Ikut menyusul mereka ke Seoul?”, tanya Tao dengan nada yang lemah.

Kris nampak memikirkan sesuatu. “Ah, tidak usah. Aku di New York saja.”, jawab Kris, akhirnya.

Tao semakin bingung dengan keputusan yang diambil Kris. Kris yang sekarang benar-benar labil. “Mm-hmm.”, respons Tao, lalu merebahkan tubuh di sofa ruang tengah apartemen Kris.

“Ngomong-ngomong,”

“Iya, Ge?”, tanya Tao.

“Karena ini juga kesalahanmu.” Kris terdiam sejenak. “Kau harus menuruti semua permintaanku, sampai member yang lain kembali.”

“Apa???”

***

“Menyebalkan.”

Tao masih menggerutu kesal karena permintaan Kris barusan. Tao yakin, kalau Kris sedang dilanda suatu masalah yang sangat besar, sampai harus melampiaskannya pada Tao.

“Kenapa kau tidak pergi ke Seoul saja sih, Ge?”, tanya Tao pada Kris yang sedang berbaring nyaman di atas ranjang empuknya.

“Malas saja.”, jawab Kris santai.

“Ah, tidak mungkin seperti itu.”, sangkal Tao. “Kau kan, selalu suka dengan Seoul, Ge. Kenapa saat ini, mendadak tidak mau pergi ke Seoul. Padahal, keluarga dan teman-temanmu sedang berlibur disana. Pasti ada sesuatu.”

Kris mendesah pelan, lalu bangkit dari tidurnya. “Bilang saja, kalau kau sebenarnya tidak ingin bersamaku disini, kan?”, tanya Kris.

“Ah, tidak, kok!” Tao menggeleng cepat. “Aku kan, hanya penasaran. Aneh saja, menurutku.”, jelas Tao.

“Kau sendiri, kenapa tidak ikut liburan kesana?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Ge.”

“Jawab pertanyaanku dulu.”, perintah Kris.

Tao memutar bola matanya bosan. “Aku sudah bosan, Ge.”, jawab Tao. “Lagipula, beberapa bulan yang lalu kan, aku baru saja berkunjung kesana. Sementara, aku sudah jarang berkeliling kota New York. Jadi, aku memilih untuk tinggal saja.”, jelas Tao.

“O-oh.”

“Member yang lain juga sengaja menempatkanku disini, kalau saja, kau pulang dan butuh seorang teman.”, lanjut Tao, lalu nyengir.

Kris menatap datar ke arah Tao. “Ngomong-ngomong, kenapa tak ada satu pun yang memberitahuku tentang kepergian ini?”

Tao menggaruk kepalanya yang tak gatal, tanda bingung. “Bukannya, Sehun sudah mengirimimu e-mail, ya?”

“Huh! Entahlah.” Kris tak mau ambil pusing, karena toh, semuanya sudah terjadi. Kris kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.

“Nah, sekarang giliran Kris Gege menjawab pertanyaanku.” Tao mengingatkan. “Kenapa Kris Gege tidak pergi ke Seoul saja?”, tanya Tao, mengulang pertanyaan.

Kris menggeram pelan. “Sudah kubilang, aku malas.” Suara Kris memang pelan, tapi tersirat ketegasan di dalamnya. “Sudahlah. Pergi sana! Buatkan aku makanan!”

***

“Ya Tuhan. Ampunilah Paman Soo Man yang memiliki anak asuh seperti dia.”

Tao bergumam sendiri sepanjang jalannya menuju ke salah satu supermarket yang dekat dengan apartemen Kris.

Barusan, Kris menyuruhnya untuk membuat masakan tanpa bahan apapun.

Ah, maksudnya, Kris tidak punya bahan makanan apapun, namun menyuruh Tao membuatkannya masakan.

‘Memangnya, aku peri, apa?’, sungut Tao dalam hati.

Selama bertahun-tahun Tao mengenal Kris, ia tak pernah tahu sikap Kris yang semenjengkelkan ini. Benar-benar menyebalkan, menyusahkan dan merepotkan. Kris adalah orang yang memiliki pengendalian diri dan emosi paling baik yang pernah Tao kenal. Tao yakin, dengan sikap yang ditunjukkannya akhir-akhir ini, Kris pasti sedang dihadapkan masalah yang pelik. Hanya saja, Kris masih belum mau menceritakan masalah itu.

‘Tak apalah. Aku akan mencobanya.’, janji Tao dalam hati.

Tao melanjutkan langkahnya dengan semangat untuk memperbaiki suasana hati Kris, menuju supermarket yang sudah nampak di ujung jalan.

Ah, mungkin kalian bertanya-tanya, tentang penampilan Tao sekarang, ya?

Tao memang merupakan salah satu member dari boyband terkenal di seluruh penjuru dunia yang memiliki fans yang tak sedikit. Namun, fans yang ada di Amerika dan Eropa tidak bersikap berlebihan ketika bertemu dengan idola mereka di jalanan. Warga Amerika dan Eropa memang terkenal individualis dan memberikan privasi kepada orang lain. Jadi, Tao tidak perlu khawatir dengan gangguan dari fans.

Bisa disimpulkan bahwa Tao mengenakan pakaian santai, tanpa perlu mengenakan jaket tebal, kaca mata dan masker yang biasa ia kenakan saat ia masih di China atau Korea.

Tao sudah tiba, tepat di depan supermarket yang ia tuju. Tao menoleh ke arah belakang saat mendapati seorang gadis yang berdiri tak jauh darinya juga sedang memandang ke dalam supermarket, lewat jendela supermarket.

Gadis itu cantik, sepertinya orang Asia, entah bagian mana, Tao tidak mengerti. Gadis cantik itu nampak sangat bahagia dan senang, karena ia sedang mengembangkan sebuah senyuman yang indah. Gadis itu nampak terkejut saat mendapati Tao tengah memandang ke arahnya.

Tao pun tersenyum ke arah gadis itu, yang sukses membuat pipi gadis itu bersemu merah. Tao memberi isyarat bahwa ia akan masuk ke supermarket tersebut.

Gadis itu pun nampak makin salah tingkah dengan sikap Tao barusan.

Tao mengangkat bahunya ringan, lalu berbalik dan masuk ke dalam supermarket, memulai acara belanjanya.

“Gadis yang cantik dan menarik.”, gumam Tao.

***

Seorang pria yang sedang mengenakan jaket tebal dan tudung jaket itu tengah menyusuri jalanan yang sepi dan gelap. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kedua saku jaketnya dan berjalan dengan cepat.

Tidak ada yang bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Wajahnya tertutup oleh tudung jaket yang dikenakannya dan karena kurangnya cahaya yang menerangi.

Dari kejauhan matanya bisa menangkap sosok seorang gadis yang tengah berjalan sempoyongan ke arahnya, entah karena apa. Mabuk, mungkin.

Awalnya, pria itu memang tidak terlalu peduli dengan gadis itu. Lalu, saat pria itu semakin dekat dengan gadis itu, ia merasa… Entahlah.

Tiba-tiba saja, gadis itu terjatuh, tepat di depan pria itu. Pria itu menangkap tubuh ramping gadis itu dengan sigap dan tersenyum misterius.

“Hai, Cantik.”

 TBC

***

Gimana pendapatnya tentang FF ini, readers? Makin aneh, ya? Makin gaje, ya?

Yah, apapun pendapatnya, akan saya terima, kok. Just leave your comment ^^

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s