[Series] If You Were My Girlfriend – Chapter 1

if-you-were-my-girlf

Title : If You Were My Girlfriend

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Main Cast :

Kris EXO-M

Jessica SNSD

Support Cast :

Tao EXO-M

Rating : PG

Length : Series

Genre : Romance

Poster : pearlshafirablue

Author Note : Annyeong. Masih inget sama FF-ku yg judulnya If You Were My Boyfriend, gak? Nah, readers, ini adalah FF tersebut diambil dr sisi Kris. Semoga FF ini bisa menjadi bacaan yg menarik dan menghibur untuk semua. Happy Reading ^o^

***

“Kau benar-benar akan ambil cuti, Ge?”

Kris menatap malas ke arah Tao yang terus melontarkan pertanyaan yang sama sepanjang hari ini. “Kuingatkan padamu ya, aku sudah mengatakan ini 138 kali. AKU BENAR-BENAR AKAN AMBIL CUTI.”, tegas Kris geram. “Awas saja, kalau kau bertanya lagi, tak segan-segan, akan kujejalkan cacing ke mulutmu itu.”, ancam Kris, lalu membuang muka.

Tao hanya bisa menatap horror ke arah Kris. “Yah, aku kan, hanya ingin memastikan, Ge.”, gumam Tao, sambil mengaduk-aduk kopinya. “Tumben sekali, kau mau ambil cuti dan memilih liburan ke Cina. Padahal, member lainnya sedang semangat bekerja. Biasanya kau juga lebih memilih untuk bekerja, kan?”, kata Tao.

“Kau sendiri? Kenapa hanya menganggur saja disini? Mengganggu acara melamunku saja.”, gerutu Kris kesal.

Tao nyengir. “Seminggu penuh kemarin, aku sudah sibuk dengan berbagai variety show dan pemotretan. Dan minggu ini, aku sedang kosong.”, jelas Tao. “Ayo, Ge. Jangan mencoba membalikkan pertanyaan, ya. Ayo jawab pertanyaanku!”, perintah Tao.

“Yak! Beraninya, kau memerintahku, hm?”

“Ya sudah, kalau tidak mau cerita.”, balas Tao, lalu menghabiskan kopinya yang tinggal separuh dengan cepat. “Kris Gege benar-benar menyebalkan.”, gumam Tao sambil bangkit dari tempat duduknya.

Kris hanya bisa melemparkan tatapan aneh karena tingkah Tao yang menurutnya aneh.

“Aku pulang dulu, Ge.”, pamit Tao ketus.

Kris mendesah pelan, sambil menyandarkan punggungnya di kursi. “Apakah aku benar-benar semenyebalkan itu?”

***

“Do you need something else, Sir?”

Kris menatap pramugari di hadapannya, lalu menggeleng sambil tersenyum. Pramugari itu pun berlalu meninggalkan Kris.

Saat ini, Kris sedang berada di dalam pesawat untuk terbang ke Cina. Setidaknya, selama setahun sekali, Kris mengunjungi keluarganya yang rata-rata tinggal di Cina.

Sementara itu, Kris justru menetap di New York karena pekerjaannya. Ya. Pekerjaannya sebagai salah satu member boyband terkenal di dunia. Apa lagi kalau bukan EXO. Semenjak 3 tahun yang lalu, EXO berhasil go international, bahkan kebanyakan penggemarnya berada di dataran Amerika dan Eropa. Itulah sebabnya, mereka memilih untuk menetap di Amerika, karena mereka memiliki pekerjaan yang lebih banyak disana dibandingkan di Asia. Dan EXO hanya akan kembali ke Asia jika ada tawaran pekerjaan yang amat sangat khusus dan spesial.

Kembali ke Cina sudah menjadi kegiatan tahunan yang dilakukan oleh Kris. Ya, seperti mudik ke kampung halaman. Sesungguhnya, Kris kurang suka jika harus kembali ke Cina. Kadang, ia meminta keluarganya untuk menjenguknya di Amerika. Tapi biasanya, mereka justru membalas, “Siapa yang merindukan siapa? Dan kenapa malah kami yang disuruh kesana?”

Kris sudah bosan dengan sikap keras kepala keluarganya itu. Jadi, daripada harus berdebat, Kris pun memilih untuk mengalah saja.

Tapi kadang, ibunya yang overprotektif itu juga sering memintanya, atau mungkin lebih tepatnya memaksanya untuk kembali ke Cina.

Untuk apa?

Untuk dijodohkan. Ny. Wu, ibu Kris, memang terobsesi untuk melihat Kris memiliki seorang kekasih, lalu menikah dan memiliki anak. Namun, Kris selalu beralasan bahwa ia masih ingin fokus pada karirnya.

Anehnya, Kris justru mengabaikan bagian ini, saat ia memutuskan untuk mengambil cuti kerja dan pergi Cina. Ia sudah tidak peduli dengan berbagai perjodohan yang mungkin akan dihadapinya. Mungkin saja, Kris sudah kebal dan memilih menyerah saja. Atau, ia hanya sedang lari dari masalah yang ia hadapi saat ini?

Entahlah, Kris malas beradu dengan pikirannya sendiri.

Kris melirik ke arah jam tangannya. “Perjalanan masih sangat panjang.”, gumam Kris, lalu mulai memejamkan matanya.

Ya. Perjalanan Kris memang masih sangat panjang.

***

“Pergi kemana, ya?”

Kris sedang berpikir keras. Kemana ia akan pergi sekarang?

Ia masih belum ingin pergi ke rumah orang tuanya dan ingin berjalan-jalan terlebih dulu. Tapi, kemana?

Tiba-tiba saja, Kris merasakan perutnya keroncongan. “Ah, aku lupa, kalau aku belum makan.”, gumam Kris sambil memegangi perutnya. “Aku jadi rindu masakan Ibu.” Kris mendadak teringat dengan masakan Ibunya yang tiada duanya. Kris pun memutuskan untuk mengunjungi rumah orang tuanya saja.

Kris menghampiri sebuah taksi. “Pak, bisakah Anda mengantar saya ke alamat ini?”

***

“M-maaf? Anda ingin bertemu dengan keluarga Wu, ya?”

Kris menoleh ke arah suara tersebut. Seorang wanita seusia ibunya, menghampirinya dan nampak simpatik pada Kris yang tengah berdiri di depan rumah orang tuanya. “Em, sesungguhnya, saya adalah anak dari keluarga Wu. Perkenalkan, nama saya Wu Yi Fan.” Kris mengulurkan tangannya pada wanita tersebut.

“O-oh. Wu Yi Fan? Yang artis itu, ya?”

Kris mengangguk sambil tersenyum. “Maaf, apakah Anda tahu, kemana perginya keluarga Wu?”, tanya Kris sopan.

Wanita itu memberikan tatapan menyelidik ke arah Kris. “Kenapa tidak menelpon mereka saja?”

“Saya ingin memberikan mereka kejutan.”, jawab Kris bohong.

Wanita itu tersenyum simpul. Sayang sekali, tapi sepertinya, keluarga Wu memang sedang tidak ada di rumah. AKu juga belum bertemu ibumu dari tadi pagi.”, tuturnya.

“Oh, begitu.” Kris mengangguk paham. “Apakah Anda tahu, kapan kira-kira mereka akan kembali?”

“Entahlah.” Wanita itu mengangkat bahunya.

“Ah, baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu. Selamat sore.” Kris membungkukkan badannya, lalu mulai berjalan meninggalkan rumah orang tuanya.

“Hah! Sial sekali kau, Wu Yi Fan!”, gerutu Kris.

***

“Kau ada di Cina?!”

Kris segera menjauhkan ponselnya dari telinganya. “Jangan berteriak begitu, Bu.”, gumam Kris pelan.

“Yah, bagaimana tidak? Ibu kan, terkejut.”, ucap Ny. Wu, membela diri. “Tumben sekali, kau tidak memberi kabar, Kris?”, tanya Ny. Wu heran.

Kris bingung harus menjawab apa. “Hanya ingin membuat kejutan.”, jawab Kris bohong.

“Jangan membual, Kris.”, tegur Ny. Wu.

“Nah, sekarang Ibu dimana, sih? Aku sudah dua kali datang ke rumah, tapi tak ada siapa-siapa.”, tutur Kris.

“Ah, ya ampun, Kris!” Ny. Wu berseru di seberang sana.

“Ada apa, Bu?”, tanya Kris, bingung.

“Ibu lupa memberitahumu.”, ucap Ny. Wu dengan nada yang penuh penyesalan. “Ibu dan yang lainnya sedang ada di Seoul untuk berlibur. Maaf ya, Kris.”, jelas Ny. Wu.

Kris melengos. “S-seoul?”

“Ibu benar-benar minta maaf ya, Kris.”, mohon Ny. Wu.

“B-baiklah, Bu. Tak apa.”, ucap Kris. “Ya sudah, Bu. Nikmati liburan kalian. Aku titip salam pada yang lainnya, ya?”

“Baik, Kris. Jaga dirimu baik-baik, ya?”

“Ya.”

Kris segera memutuskan sambungan teleponnya. Ia mendesah berat. Ingin sekali rasanya, ia berteriak-teriak untuk melepaskan kekesalannya. Namun, ia sadar diri kalau ia sedang di tempat umun, dimana semua orang telah menyadarinya sebagai seorang super star. Tentu saja, ia tak ingin bertindak konyol seperti itu dan dianggap sudah gila.

Kris pun memutuskan untuk kembali mengutak-atik ponselnya. Ia memencet beberapa tombol angka, nampak akan menghubungi seseorang.

“Aku akan kembali ke New York, hari ini juga.”

TBC

***

Gimana nih, FF-nya? Mian ya, kalo jelek, gaje dan kependekan.

Okelah. Apapun hasilnya, dimohon comment-nya dari para readers, ya? Baik kritik dan saran akan saya terima untuk kemajuan FF ini n.n

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s