[Series] If You Were My Boyfriend – Chapter 3

if-you-were-my-boyfriend1

Title : If You Were My Boyfriend

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Main Cast :

Jessica SNSD

Kris EXO-M

Support Cast :

Tiffany SNSD

Tao EXO-M

Krystal f(x)

Minho SHINee

Rating : PG

Length : Series

Genre : Romance

***

“Nggh…”

Sinar matahari mulai masuk lewat celah-celah jendela kamar yang luas dan nampak elegan itu. Jessica merasa silau di balik matanya. Tangannya secara spontan menutupi kedua matanya yang terasa silau.

Jessica mulai bangkit dari tidurnya, sambil mencoba membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang menyorot matanya.

Jessica memegangi kepalanya yang terasa pusing setelah dipakai untuk bergerak barusan.

Jessica sedikit terkejut saat memandangi ruangan di sekelilingnya. Ia nampak asing di tempat itu. “Dimana aku?”, tanyanya dengan suara yang serak.

Jessica mulai bingung dan cemas. Ia khawatir kalau ia sedang ‘ditolong’ orang yang salah. Jessica pun mengusahakan dirinya sendiri untuk segera bangkit dari ranjang dan menuju ke arah pintu kamar tersebut. Jalannya sedikit limbung, mengingat kondisinya yang masih lemah karena belum sempat makan dan kepalanya yang masih terasa pusing.

Jessica memegang kenop pintu kamar tersebut dan merasa begitu lega, saat mendapati dirinya tidak terkunci dalam ruangan tersebut. Ia belum berani keluar dari kamar dan hanya bisa melongokkan kepalanya dari ambang pintu, memandangi sekitarnya.

Jelas sekali kalau itu bukan sebuah rumah, melainkan apartemen. Meski hanya apartemen, apartemen itu cukup luas dan juga mewah. Semuanya bisa terlihat dari perabot yang mengisi apartemen tersebut dan juga kamar yang tadi Jessica tempati. Apartemen itu bahkan jauh lebih bagus dari apartemen yang dibelikan orang tuanya, yang notabene seorang pengusaha, untuk dirinya di Seoul. Ia yakin, bahwa orang yang memiliki apartemen itu sama sekali bukan orang sembarangan.

Setelah merasa bahwa apartemen itu cukup sepi dan tak ada penghuni lain selain dirinya, Jessica pun mulai melangkah ke ruangan lain yang nampak seperti ruangan nonton TV. Jessica berjalan perlahan di ruangan tersebut, dan memerhatikan setiap detail-nya, yang mungkin bisa memberinya sedikit petunjuk tentang pemilik apartemen tersebut. Tapi, nampaknya sia-sia saja. Tak ada satu pun keterangan yang bisa ia dapatkan. Bahkan, sebuah foto saja tak ada. Jessica pun menyimpulkan bahwa pemilik apartemen tersebut memang orang yang kaya, namun memiliki masalah dengan kepercayadirian.

Jessica merasakan tenggorokannya yang begitu kering dan begitu haus. Ia pun mulai berputar-putar, mencari dapur, dengan langkah yang pelan, seperti seseorang yang mengendap-endap untuk mencuri. Ia merasa tak nyaman jika harus berkeliaran di apartemen milik orang yang asing, meski secara tidak langsung, saat si pemilik apartemen membawa Jessica ke apartemennya, itu berarti bahwa ia telah mengijinkan Jessica berkeliaran di dalam apartemennya.

Akhirnya, Jessica pun menemukan dapur yang ia cari dan segera menghambur ke arah kulkas, mencari air dingin. Diambil sebotol air mineral dari dalam kulkas dan menenggaknya secara perlahan. Seolah ia ingin merasakan aliran air tersebut dalam tenggorokannya. Begitu segarnya.

Secara tiba-tiba,

BYUR!

Jessica menyemprotkan air yang sudah masuk dalam mulutnya ke arah pintu kulkas. Ia spontan menyemburkan airnya, saat mendapati selembar foto yang tertempel di depan kulkas. Ia mengenali pria yang berada di dalam foto itu.

Pria itu… Pria itu…

Pria yang ditemuinya di depan supermarket, kan? Pria yang sempat tersenyum pada Jessica, kan? Pria yang berhasil membuat Jessica jatuh cinta, kan? Pria yang telah membuatnya lupa untuk makan dan akhirnya pingsan, kan?

Ya Tuhan! Jessica merasa ia ingin pingsan lagi, saat itu juga.

***

“New York! I’m coming!”

Minho hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan memalukan kekasihnya itu. Kadang, ia heran, kenapa ia bisa memilih sosok Krystal yang konyol itu, sebagai kekasihnya? Yah, tapi kalau ditimbang-timbang, keluarga Jung memang terkenal konyol dan selalu bersikap heboh. Betapa konyolnya, keputusan yang telah diambil calon kakak iparnya dengan kabur ke New York. Lalu, betapa calon ibu mertuanya yang ngotot untuk menyusul putri sulungnya ke New York. Benar-benar keluarga yang unik, bukan? Ya, sekaligus keluarga yang memiliki medan magnet yang mampu menarik banyak orang untuk dekat dengan mereka. Seperti Krystal yang berhasil menarik perhatian Minho yang terkenal cool itu.

PLETAK!

“Appo, Eonni!”, rintih Krystal yang mendapat jitakan dari Tiffany. Entah sudah keberapa kali, ia mendapat jitakan saat bersama dengan Minho dan Tiffany, karena berbagai tingkah dan celetukannya yang konyol dan aneh itu. Entah kenapa, Minho justru lebih memihak pada Tiffany untuk memusuhinya. “Oppa, kau tak lihat aku dijitak oleh nenek sihir itu?”, tanya Krystal manja, sambil bersembunyi dibalik tubuh tinggi Minho.

Minho terkikik geli melihat tingkah kekanakan Krystal dan Tiffany. Tiba-tiba saja, Minho kembali teringat pada Jessica. Ia ingat betul, kalau Jessica yang jomblo itu sering mengganggu kencannya dengan Krystal. Yang berarti, kalau Jessica ikut, Tiffany yang juga jomblo sejati itu juga akan menguntit mereka. Betapa gilanya Minho saat harus menghadapi tiga yeoja yang sama-sama gila itu. Saat ini, ia benar-benar merindukan saat-saat itu. Ia benar-benar berharap, mereka bertiga berhasil menemukan Jessica dan membawanya kembali dalam keadaan selamat, agar mereka bisa melewati hari-hari bersama.

“Kalian ini benar-benar selalu berhasil membuat kita jadi pusat perhatian, ya?”, sindiri Minho, setengah berbisik pada dua yeoja tersebut.

“Eh?” Tiffany segera mengedarkan pandangannya dan mendapati beberapa pasang mata telah menatap aneh pada mereka. Ia membungkukkan badannya beberapa kali, tanda maaf karena membuat ‘kericuhan’ di bandara. Tentu saja, Tiffany tak ingin dianggap menjadi orang Asia gila yang nyasar ke New York.

“Ini semua gara-gara Eonni.”, tuduh Krystal.

“Aku? Kau yang memulai!”, balas Tiffany, dengan nada yang dipelankan.

“Sudahlah. Jangan bersikap kekanakan.”, lerai Minho. “Kalau ingin melanjutkan perdebatan kalian, lakukan saja di hotel.”

“Mwo? Hotel? Kita akan menginap di hotel? Hotel yang mewah kan, Oppa?”, tanya Krystal kegirangan.

“Jangan harap, kau bisa bersantai begitu tiba. Ingatlah bahwa kita harus menemukan Jessica Noona.”

***

“Kau tidak apa-apa?”

Jessica hanya menggeleng lemas pada pria di hadapannya. Sungguh, otaknya masih belum bisa bekerja dengan baik, apalagi harus mencerna rentetan kejadian mengejutkan yang baru saja ia hadapi, semenjak ia tiba di New York.

Apakah ini semua memang sudah ditakdirkan? Atau hanya kebetulan? Ah, Jessica hanya tak ingin berharap lebih.

Jessica pun menatap ke arah pria yang berjongkok di hadapannya. Tatapannya menyorotkan kekhawatiran. Tapi entah kenapa, tatapan mata itu berhasil membuat hati Jessica merasa tentram, seolah bahwa ia akan baik-baik saja disampingnya.

“Minumlah lagi.”, perintah pria itu, sambil menyodoroka sebotol air mineral untuk Jessica.

Jessica menenggak minuman tersebut, sambil tetap mengawasi pria di hadapannya. Ia memperhatikan setiap lekuk wajah pria itu dari jarak yang dekat, terlampau dekat malah, untuk ukuran orang yang tidak saling kenal.

Ada sesuatu yang menarik perhatian Jessica dari wajah pria itu.

Kantung matanya yang menambah kesan ketegasan di wajah pria itu.

Tunggu dulu, kantung mata? Apa dia kurang tidur? Hanya karena ia menunggui Jessica semalaman? Atau karena ia tak bisa tidur di ranjangnya yang ditempati Jessica? Ah, Jessica tak ingin berharap lebih lagi.

“Kau baik-baik saja?” Jessica menyudahi minumnya.

Pria itu ikut terduduk di atas lantai dapur, sambil tertawa pelan. “Harusnya, aku yang tanya begitu padamu? Kau baik-baik saja?”

“Jawab saja aku!”, balas Jessica, ngotot.

Pria itu masih tertawa pelan. “Aku baik-baik saja. Memangnya, kenapa kau sampai menanyakan keadaanku? Jelas-jelas, kau yang tiba disini dengan keadaan yang mengenaskan.”

Jessica cemberut saat pria itu menyebut kata mengenaskan. Benarkah ia separah itu? “Kantung matamu itu.” Jessica menunjuk ke arah kantung mata pria tersebut.

“Oh, ini?” Pria itu ikut menunjuk kantung matanya sendiri. “Aku menderita insomnia.”

Jessica hanya ber-oh-ria.

“Jadi, bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja?”, tanya pria itu lagi.

“Ya.”, jawab Jessica, sambil memainkan botol di tangannya.

“Tapi, kenapa kau sampai menyemburkan air yang tadi kau minum, bahkan sampai terduduk disini, hm?”, todong pria itu.

“Aku hanya terkejut saat melihat fotomu itu.”, ucap Jessica. “Tak kusangka, aku bertemu lagi denganmu.”, kata Jessica lirih.

“Aku juga tidak menyangka.” Pria itu mengangguk setuju. “Nampaknya, kita memang berjodoh.” Pria itu tertawa.

Jessica hanya tertunduk dan ikut tertawa, terkesan dipaksakan. Ia yakin, kalau pria itu hanya bercanda.

“Ngomong-ngomong, siapa namamu?”, tanya pria itu.

“Jessica. Namaku Jessica.”, jawab Jessica, masih tertunduk.

“Jessica? Kau tidak kelihatan seperti orang Amerika.”, komentar pria itu.

“Memang. Aku orang Korea.” Lalu, Jessica mendongakkan kepalanya. “Kau sendiri? Kau juga tidak terlihat seperti orang Amerika, kok!”

Pria itu nampak terkejut, lalu segera mengendalikan dirinya sendiri. “Ya. Aku memang orang Cina.”, jelas pria itu. “Oh, ya. Aku belum mengenalkan namaku. Namaku Huang Zhi Tao. Kau bisa memanggilku Tao.”, kata pria bernama Tao itu.

“Tao.”, gumam Jessica.

Dang wo cheng zuo zhe feng

Zai ni de shi jie jiang luo

Terdengar sebuah lagu mengalun. Tao nampak merogoh sakunya, mengambil ponselnya. Ia melihat sekilas ponselnya, lalu berkata, “Aku mengangkat telepon dulu, ya?”

Jessica mengangguk bingung. Ia heran, kenapa Tao harus meminta ijin pada orang asing sepertinya?

Jessica mendengar Tao berbicara lewat ponselnya, seolah sedang berdebat, tapi nada suaranya dibuat pelan. Mungkin, ia tak ingin mengganggu Jessica. Suara Tao memang tidak terlalu pelan untuk didengar Jessica. Tapi, Tao berbicara dalam bahasa Cina yang tidak Jessica mengerti. Ia hanya mendengar Tao terus mengulang kata ‘gege’, yang diketahui Jessica memiliki arti kakak laki-laki.

Apa mungkin Tao sedang bicara dengan kakak laki-lakinya? Setampan apa kakak laki-laki Tao? Ish! Jessica! Jauhkan pikiran konyolmu itu!, batin Jessica, sambil memejamkan matanya dan menggeleng dengan kuat.

“Kau kenapa?” Tao sudah berada di hadapan Jessica. “Ada yang sakit?”

“Tidak! Tidak apa-apa!” Jessica merasa dirinya begitu konyol.

“Oh ya. Aku sedang ada keperluan di luar. Kau tidak apa-apa kan, jika kutinggal?”, ijin Tao.

“Tentu saja, tidak apa-apa.”, jawab Jessica mantap. “Selama kau juga rela apartemenmu ini disusupi orang asing sepertiku.”

Tao tertawa. “Kau bukan penyusup. Aku sendiri yang mengijinkanmu untuk berada disini, kan?”

Jessica mengangguk.

“Baiklah. Aku pergi dulu, ya? Setelah aku pulang, kau harus menceritakan segalanya padaku. Kalau kau lapar, aku sudah membelikan makanan untukmu. Siapa tahu, ada yang kau suka. Makanannya kutaruh di ruang tamu.”, jelas Tao panjang lebar.

Jessica hanya mengangguk patuh.

“Ayo kubantu!” Tao mengulurkan tangannya.

Jessica menatap Tao bingung.

“Memangnya, kau mau duduk disana sepanjang hari?”

Jessica pun segera meraih tangan Tao dan bangkit dari duduknya.

“Aku pergi dulu.” Tao pun segera pergi meninggalkan Jessica yang masih berdiri mematung, menatap kepergiannya dari dapur itu, dari apartemen tersebut.

Setelah mendengar suara pintu tertutup, Jessica pun melangkah ke ruang tamu untuk mencari makanan yang dimaksud Tao.

Jessica spontan membulatkan mulut dan matanya saat menatap ke arah meja di ruang tamu tersebut.

“Ya Tuhan! Apa dia pikir, aku serakus itu?”

***

“Jadi, apa yang akan kita lakukan?”

Minho masih sibuk dengan pikirannya sendiri semenjak ia tiba di kamar hotelnya, memikirkan strategi yang harus dilakukannya untuk mencari Jessica. Yang ada di pikirannya adalah bahwa mereka bertiga harus berusaha sendiri untuk menemukan Jessica.

Bertanya pada setiap orang di New York, sepertinya bukan ide yang baik, karena bisa membongkar masalah yang ditutupi oleh Tn. Jung. Apalagi, sampai bertanya pada pihak kepolisian New York. Itu bisa menjadi berita besar dan akan membahayakan keadaan Jessica. Jadi, Minho harus menghindari betul untuk berhubungan dengan kepolisian.

Lalu, apa yang harus ia lakukan?

“Minho.”, panggil Tiffany.

Minho tersadar dari lamunan panjangnya dan mengerjap bingung ke arah Tiffany. “Apa, Noona?”

“Apa yang harus kita lakukan?”, tanya Tiffany lagi.

“Umm.” Krystal nampak ingin bicara, tapi ia takut kalau ia bicara dan malah mendapat dua jitakan sekaligus.

“Kau ingin mengatakan sesuatu, Krys?”, tanya Minho.

“Iya.”

“Kalau begitu, katakanlah.”, perintah Minho.

“Tapi, berjanjilah, jangan menjitakku lagi, ya?”

Minho mengangguk, sementara Tiffany memutar bola matanya bosan.

“Bagaimana kalau kita makan dulu? Tidak baik kan, berpikir dengan perut kosong?”, usul Krystal.

“Jung Soo…”

“Sudahlah, Noona. Kurasa, usulan Krystal ada benarnya juga. Lebih baik, kita turun ke bawah dan mencari makanan.”

***

“Huh! Kenyang sekali, rasanya!”

Jessica menepuk-nepuk perutnya sendiri yang sudah terlihat lebih berisi. Secara tak sadar, ternyata ia berhasil menghabiskan 8 kotak makanan yang disiapkan oleh Tao.

Jessica mulai merasa ngantuk lagi. Ia memang selalu begitu. Setiap kali perutnya terasa kenyang, rasa kantuk akan selalu menghampirinya.

Jessica nyaris memejamkan matanya, saat mendengar suara pintu yang dibuka.

KRIET…

Jessica menyipitkan matanya, melihat orang yang masuk ke dalam apartemen tersebut. Ia pikir, orang tersebut adalah Tao. Tapi, postur tubuhnya saja sudah berbeda. Postur tubuhnya terlihat lebih tinggi. Selain itu, warna rambutnya berbeda dengan warna rambut milik Tao yang hitam itu.

“Siapa dia?” Jessica mencoba bangkit dari duduknya dan mencari tempat persembunyian, sambil tetap mengawasi pria yang tengah melepas sepatu dan jaketnya.

Jessica tak yakin kalau pria itu adalah seorang penjahat. Untuk ukuran seorang penjahat, pria itu terlalu tenang dan memperhatikan aturan, serta kerapian.

Jessica mengambil sebuah buku tebal yang tergeletak di atas meja, di sampingnya. Bersiap untuk memukul pria misterius tersebut.

Pria itu melangkah mendekat ke arah Jessica.

BRUK!

“Ya! Kenapa kau memukulku?”, tanya pria itu kesal, karena tersungkur setelah mendapat pukulan di tengkuknya.

Jessica heran, kenapa pria itu tidak langsung pingsan saja, sih?

“Kau siapa?”, tanya Jessica, sambil bersiap mengayunkan buku tebalnya lagi.

“K-kau tidak tahu siapa aku?”

TBC

***

Mian ya, readers kalau mendadak TBC, di saat yang nggak tepat. Emang biar bikin penasaran, kok. Hehe.

Gimana nih? Ini udah saya panjangin, loh! Tapi dikit. Hehe.

Trus, gimana isinya? Makin bagus, nggak?

Mohon, komennya, ya?

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s