[Series] If You Were My Boyfriend – Chapter 2

if-you-were-my-boyfriend1

Title : If You Were My Boyfriend

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Main Cast :

Jessica SNSD

Kris EXO-M

Support Cast :

Tiffany SNSD

Krystal f(x)

Minho SHINee

Rating : PG

Length : Series

Genre : Romance

Author Note : Tadda! Akhirnya, bisa publish chap 2 dr FF ini. Publish-nya rada nelat, soalnya hrs nunggu yg If You Were My Girlfriend dulu. Hehehe.

Oiya, sama mau jelasin sekalian. Jadi, If You Were My Boyfriend itu diambil dr sisi Jessica dan orang-orang terdekatnya. Jadi nggak melulu dari sisi-nya Jessica. Begitu, lhoo…

Ya udah, deh. Nggak bakalan kebanyakan omong lagi, silakan lanjut dibaca readers

***

“Welcome to New York.”

Jessica hanya melemparkan senyuman sekilas kepada petugas bandara yang akan mengecek paspor-nya. Lalu, matanya bergerak liar ke arah sekitarnya. Memandangi suasana sekitarnya yang tidak terlalu ramai.

Sepertinya, petugas bandara tersebut juga tidak berniat melakukan percakapan basa-basi dengan Jessica, karena melihat sikap Jessica yang acuh tak acuh.

Sesungguhnya, bersikap acuh sama sekali bukanlah gaya Jessica. Hanya saja, ia merasa pikirannya sedang kosong setelah melakukan perjalanan panjang tak terduga dari Seoul ke New York. Kalau saja dalam keadaan normal, ia pasti sudah melonjak bahagia karena tiba di salah satu kota yang selalu membuatnya terpukau. Bayangan untuk berbelanja berbagai macam jenis pakaian, tas, sepatu dan aksesoris lainnya sudah pasti tergambar dengan jelas di pikirannya.

Sayangnya, saat ini, ia sama sekali tak bisa berpikir jernih. Keputusan untuk pergi ke New York hanya untuk melarikan diri dari perjodohan yang disiapkan Umma-nya adalah keputusan terbodoh yang pernah diambilnya. Meski tak jarang ia melakukan hal-hal konyol, tapi kali ini, keputusan ini adalah keputusan terkonyol seumur hidupnya.

Bagaimana tidak. Ia terbang ke New York tanpa persiapan apapun, bahkan hanya membawa beberapa potong pakaian yang tersedia di apartemen pribadinya yang sudah jarang ia tempati. Ia bahkan sudah tidak ingat berapa lembar uang yang ia bawa untuk pergi ke New York. Ia belum sempat memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah ia sampai di New York, dimana ia akan tinggal selama di New York, apa yang akan ia makan, dan masih banyak lagi hal sepele yang belum sempat ia pikirkan.

Yang sempat ia pikirkan hanya satu. Selamat dari perjodohan tersebut.

Sekarang, Jessica tak begitu yakin dengan keputusannya sendiri.

Apakah sebuah acara perjodohan di sebuah restaurant mewah, dengan makanan lezat, serta gaun cantik yang dikenakannya masih jauh lebih baik daripada rencana kabur ini?

Saat ini, segala keputusan yang telah diambil terasa salah di mata Jessica sendiri.

“Here is your passport, Miss Jung.”

Lamunan Jessica buyar setelah mendengar teguran petugas bandara yang baru saja mengecek passport-nya. Jessica mengambil passport-nya, sambil menyunggingkan senyuman tipis.

“Have a nice moment.”, ucap si petugas bandara lagi, membalas senyuman Jessica.

Jessica melangkahkan kakinya keluar dari bandara. Matanya tertuju pada suasana di sekitar bandara. Ia mulai mendesah pelan.

“God,” Jessica menarik nafas, “save my life.”

***

“Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah sampai di New York nanti?”

Minho yang baru saja menyandarkan punggungnya pada jok pesawat, terpaksa bangkit kembali dan menoleh ke arah Tiffany yang duduk di samping kanannya. “Maaf, Noona?” Minho tidak bisa mendengar suara Tiffany dengan cukup jelas, karena pikirannya barusan melayang entah kemana.

Tiffany mendesah kesal. “Apa yang akan kita lakukan setelah sampai di New York nanti?”, tanya Tiffany mengulang pertanyaannya.

“O-oh.” Minho kembali menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya, seolah berpikir. “Kita harus memastikan pada pihak bandara bahwa Jessica Noona sudah sampai di bandara dengan selamat. Kita juga bisa mencoba bertanya pada mereka, siapa tahu, mereka mengetahui kemana perginya Jessica Noona.”, tutur Minho masih tetap memejamkan matanya.

“Lalu?”

“Kita bisa bertanya pada penumpang lainnya atau orang-orang di sekitar bandara yang mungkin sempat melihat Jessica dan setidaknya, memberikan petunjuk pada kita.”, lanjut Minho.

Tiffany mengangguk-angguk paham. “Kalau seandainya kita tidak berhasil?”, tanya Tiffany.

“Lupakan saja pencarian itu dan mari bersenang-senang.”, celetuk Krystal penuh semangat.

PLETAK!

“Appo.”, rintih Krystal, setelah mendapat satu jitakan dari kekasihnya.

“Jangan bicara yang aneh-aneh begitu, Krys.”, perintah Minho dengan nada yang dibuat setenang mungkin.

“Ki…” Belum sempat Krystal melanjutkan ucapannya, Tiffany sudah menyeringai horror padanya.

“Bicara yang aneh-aneh lagi, kulempar kau ke bawah sana.”, ancam Tiffany sambil menunjuk ke arah jendela.

Krystal pun memilih untuk kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda, memandangi pemandangan di sekitar pesawat, lewat jendela di sampingnya.

“Jadi, bagaimana?”, tanya Tiffany, kembali ke topik pembicaraan.

Minho tersenyum ke arah Tiffany. “Menyusuri kota New York, minta tolong pada pihak kepolisian setempat.” Minho menggantungkan kalimatnya, lalu memandang ke atas. “Lakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk menemukan Jessica Noona.”, lanjutnya.

“Kau gila.” Tiffany mengalihkan pandangannya, sambil menyilangkan tangan di depan dada.

“Kau tahu sendiri kan, Noona, kalau Tn. Jung meminta kita sendiri yang menemukan Jessica Noona?”, tanya Minho mengingatkan.

“Bukankah Tn. Jung bisa saja meminta anak buahnya mencari tahu keberadaan Jessica? Kenapa harus kita juga, sih?” Tiffany menggerutu kesal, sambil tetap memalingkan wajahnya.

“Kalau Tn. Jung sampai meminta bantuan anak buahnya, hal ini bisa menjadi skandal besar yang bisa menghancurkan reputasi keluarga mereka.”, jelas Minho sedikit berbisik, berusaha agar suaranya tak bisa didengar oleh Krystal.

Tiffany terbelalak kaget mendengar penuturan Minho barusan. Ia tak menyangka kalau di usianya yang masih muda, Minho bisa berpikir sejauh itu. Yah, mungkin wajar saja, karena Minho adalah salah satu pewaris keluarga Choi yang kaya raya itu. “Ini benar-benar sudah kelewatan. Ini gila!”, pekik Tiffany frustasi.

“Memang hanya Jessica Noona yang bisa membuat seluruh orang di dunia gila karenanya.”

***

“Aku lapar.”

Jessica menyeret kakinya, menyusuri jalanan kota New York yang agak lengang pada sore hari ini. Ia masih bingung harus pergi kemana, karena ia sama sekali tak punya saudara atau pun kenalan di New York. Mengingat kalau orang tuanya yang membatasi jaringan pertemanannya.

Sesekali, Jessica menatap ke arah ponsel yang ada dalam genggamannya. Separuh hatinya menyuruhnya untuk segera menelpon keluarganya yang ada di Seoul dan meminta bantuan. Namun, bagian hati yang lainnya menolak dengan keras.

Untuk apa ia pergi sejauh ini, jika pada akhirnya, ia akan mengemis pada orang tuanya agar dipulangkan ke Seoul? Ingin membuat mereka tertawa dengan puas di atas kekonyolanmu ini? Jawabannya adalah TIDAK. Ia TIDAK akan kembali. Setidaknya, untuk sementara waktu ini. Biarkan mereka saja yang mencarinya.

Tapi, muncul suatu pertanyaan di otaknya. Kalau seandainya keluarganya sedang mencarinya, kenapa tak ada satu pun panggilan ke nomornya? Apa mereka benar-benar sudah tidak menganggap Jessica sebagai bagian dari mereka lagi? Benarkah Ayahnya memang sekejam ini, bahkan pada anak-anaknya? Benarkah ibunya sudah terlalu membencinya karena menjadi anak yang pembangkang? Apakah Krystal sudah tidak bersedia memiliki kakak yang tak laku-laku juga? Apa Tiffany juga sudah merasa bosan dengan sikapnya yang kekanakan?

Jessica mendesah keras. Air matanya sudah mendesak untuk keluar saat memikirkan hal itu. Entah kenapa, begitu sesak rasanya.

“Baiklah, kalau begitu. Mungkin, sudah saatnya, aku harus berjuang sendiri.”, ucap Jessica pada dirinya sendiri.

***

“Akhirnya.”

Jessica nampak lega saat berhasil menemukan sebuah supermarket. Ya, setidaknya, ia bisa membeli sepotong roti untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan. Sesungguhnya, ia sudah berkali-kali melewati rumah makan atau semacamnya. Namun, alasan keuangan menjadi halangan baginya untuk membeli makan di tempat semacam itu.

Jessica merasa bahwa dirinya sedang dipandangi.

Dan benar saja. Ada seorang pria tampan yang memiliki wajah Asia sedang memandang ke arahnya. Jessica nampak salah tingkah. Apalagi, saat pria tersebut melemparkan sebuah senyuman ke arahnya. Senyuman yang menentramkan jiwanya yang sedang kacau saat ini. Tak disadarinya, pipi Jessica sudah bersemu merah.

Setelah tersenyum, pria itu melangkah masuk ke dalam supermarket tersebut.

Sepeninggalnya pria itu, Jessica membalik badannya ragu. Ia merasakan kehangatan tengah menyelimuti dadanya. Ia memegang dadanya dan merasakan detak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

“Jantungku sayang, jangan melompat, ya?” Sebuah senyuman kembali terukir manis di wajah Jessica.

***

“Inikah yang namanya jatuh cinta?”

Jessica terus berjalan tak menentu, sambil bergumam sendiri dan tetap merasakan detak jantungnya yang semakin tidak teratur itu.

Ini adalah pertama kali dalam hidupnya ia merasakan hal semacam ini. Benar-benar membahagiakan.

Jessica terlalu larut dalam pikirannya sendiri, sampai ia tak menyadari bahwa hari sudah gelap dan ia juga belum makan. Ia sudah tidak memedulikan perutnya yang meronta-ronta ingin diberi makan. Karena terlalu bahagia, Jessica tidak jadi masuk ke dalam supermarket tadi dan malah berjalan lagi tanpa arah yang jelas.

Tapi, saat ini, perutnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Perutnya terasa sangat sakit dan perih. Jessica meremas perutnya sendiri, berharap rasa sakit itu bisa segera hilang.

Pandangan matanya mulai mengabur, namun ia berusaha untuk tetap berjalan dan mencari bantuan. Matanya menangkap siluet seorang pria yang sedang mendekat ke arahnya. Ia mempercepat langkahnya agar bisa segera minta tolong.

Namun, sebelum mulutnya sempat mengeluarkan sepatah kata pun, pandangannya sudah menggelap.

TBC

***

Gimana nih, chap 2 dari FF ini, readers? Makin baguskah? Atau malah makin jelek? Dilanjut atau enggak? Semuanya terserah readers, deh.

Just leave your comments ^^

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s