[Series] If You Were My Boyfriend – Chapter 1

if-you-were-my-boyfriend1

Title : If You Were My Boyfriend

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Main Cast :

Jessica SNSD

Kris EXO-M

Support Cast :

Tiffany SNSD

Krystal f(x)

Minho SHINee

Rating : PG

Length : Series

Genre : Romance

Author Note : Annyeong. Author balik lagi membawa FF EXOShiDae. Rencananya, FF ini mau dibikin jadi 2 versi. Yg pertama versi-nya Jessica, yg kedua versi-nya Kris. Itu pun kalo sempet bikin. Hehehe. Ya udah, deh, buat para readers, Happy reading…<img

***

“Kau akan segera dijodohkan, Sooyeon.”

“MWO???” Jessica membelalakkan kedua matanya karena terkejut mendengar ucapan Umma-nya. “D-dijodohkan, Umma? T-tapi, aku kan, masih berusia 23 tahun.”, elak Jessica.

“Memangnya, Umma harus menunggu sampai kapan lagi untuk melihatmu memiliki kekasih, hah?”, tanya Ny. Jung sambil tetap sibuk dengan buku bacaan di hadapannya.

“Tapi, aku kan, belum siap untuk menikah!”, tegas Jessica.

Tiba-tiba, terdengar suara tawa dari ruang sebelah. “Siapa juga yang ingin melihatmu menikah, eonni?”, tanya Krystal, adik Jessica dengan nada menyindir, sambil terus melangkah menuju ruang keluarga.

“Umma hanya ingin melihat kau punya kekasih, bukan menikahkanmu.”

“Nah, kan? Hahaha.” Krystal kembali tertawa.

PLUK!

“Diam kau!”, bentak Jessica sambil melempar bantal di dekatnya. Jessica pun mengerucutkan bibirnya karena kesal.

Sementara itu, Krystal masih tertawa, lalu merebahkan tubuhnya di salah satu sofa di ruangan tersebut. “Jadi, eonni akan segera dijodohkan, ya? Dengan siapa, Umma?”

“Dengan anak teman Umma. Katanya, dia anak yang sangat tampan. Dia juga sudah sukses. Benar-benar menantu idaman, pokoknya.”, jelas Ny. Jung.

Jessica mendesah berat. “Kenapa harus sampai dijodohkan segala, Umma? Umma pikir, aku tidak bisa mencari kekasih sendiri?”

“Kalau kau bisa, kau pasti sudah membawanya ke hadapan kami.”, balas Ny. Jung. “Umurmu sudah 23 tahun, tapi tak ada satu pun namja yang kau kenalkan sebagai kekasihmu.”

“Benar, tuh!”, celetuk Krystal. “Aku saja yang lebih muda dari eonni, sudah mendapat kekasih. Tampan pula!”, imbuh Krystal.

“Yak! Kau ini kan, memang mengalami penuaan dini.”, ledek Jessica, lalu menyeringai puas.

“Terserah eonni saja.” Krystal mengangkat bahu, sambil membuang muka. “Bilang saja, kalau eonni tidak laku-laku.”

“Yak! Apa katamu, Jung Soo Jung???”

“Jessica.”, panggil Ny. Jung memperingatkan putri sulungnya untuk tidak mengejar Krystal yang melenggang pergi meninggalkan ruang keluarga.

Lagi-lagi, Jessica mengerucutkan bibirnya.

“Intinya, kau harus menerima perjodohan ini. Mengerti??”

***

“MWO?? Dijodohkan??”

Jessica langsung menutup kedua telinganya, karena teriakan sahabatnya, Tiffany. “Jangan berteriak seperti itu! Aku belum tuli!”

“Mian, mian.” Tiffany menundukkan kepalanya berkali-kali. “Jadi, kau benar-benar akan dijodohkan?”, tanya Tiffany, kali ini dengan volume yang sudah dikecilkan.

“Mm-hmm.” Jessica mengangguk lemah.

“Dengan siapa?”

“Anak teman Umma.”

“Siapa namanya?”

“Mana kutahu.”, jawab Jessica enteng.

“Kau ini bagaimana, sih?”, tanya Tiffany kesal.

“Umma belum memberitahuku dan aku juga belum sempat bertanya. Aku kan, langsung pergi ke apartemenmu setelah Umma marah-marah karena aku masih menolaknya saja.”, jelas Jessica.

“Mwo? Jadi sebenarnya, kau ini masih buron, ya?”

“Buron? Kau ini bicara apa, sih? AKu kan, bukan penjahat.”

“Yak! Cepat keluar dari apartemenku!”, perintah Tiffany, sambil mendorong-dorong tubuh Jessica.

“Apa-apaan, sih?” Jessica nampak bingung.

“Aku tidak ingin dibunuh Umma-mu hanya karena telah membantu putrinya ini kabur dari rumah.”, jelas Tiffany, sambil tetap berusaha mendorong tubuh Jessica. “Sudah, sana! Cepat pergi dari sini!”

“Huh, dasar! Kau ini sama menyebalkannya dengan Umma.”, gerutu Jessica. “Baiklah, kalau begitu. Aku pergi dulu.”, ucap Jessica ketus, lalu mulai menyusuri lorong apartemen.

“Hei, hei! Ngomong-ngomong kau mau pergi kemana?”

Jessica mendadak berhenti dan kembali menghadap Tiffany. “Ke New York.”, jawab Jessica sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu lari sekuat tenaga.

“Yak, Jung Sooyeon! Jangan gila!”, teriak Tiffany.

“ARGH! Dasar Tiffany babo! Kenapa aku malah membiarkannya pergi begitu saja? Seharusnya, kutahan saja dia di apartemenku.”

***

“Ke New York??”

Krystal dan Minho, kekasihnya, terbelalak tak percaya mendengar penuturan Tiffany.

“Benar.” Tiffany hanya bisa mengangguk lesu.

“Apa Jessica Noona benar-benar senekat itu?”, gumam Minho, masih tak percaya.

“Eonni benar-benar sudah gila. Cari mati, dia!”, seru Krystal, sambil geleng-geleng kepala. “Lalu, bagaimana ini? Bagaimana caranya untuk memberitahukan masalah ini pada Umma? Di rumah saja, Umma sudah kelimpungan mencari Jessica Eonni. Sekarang, dia malah pergi ke New York. Benar-benar merepotkan.”, ucap Krystal.

“Tunggu, tunggu.” Minho seolah mendapat pencerahan di otaknya. “Memangnya, kalian punya saudara yang tinggal di New York?”, tanya Minho pada Krystal.

“Tidak.”

“Apa Jessica Noona punya teman yang tinggal disana?”

“Kurasa juga tidak.”

“Hah!” Minho mendesah keras dan menyandarkan tubuhnya yang tegang ke sofa.

“Kenapa, Minho?”

“Itu artinya, Jessica Noona tidak akan mungkin senekat itu. Mungkin ia hanya menggertak.”, jawab Minho santai.

“Ah, benar juga!”, timpal Krystal, setuju.

“Hei, hei! Aku ini sudah tahu benar dengan sifat Jessica. Ia bisa bertindak sangat nekat dan sangat bodoh jika itu diperlukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Meskipun ia belum tentu tahu jika keputusan yang diambil itu benar.”, tutur Tiffany.

“Ah, benar-benar. Kadang, eonni-ku itu memang sangat bodoh.”, timpal Krystal. “Hua! Lalu, bagaimana ini??”

Tiba-tiba saja, Minho mengambil kunci mobilnya dan bangkit dari duduknya.

“Mau kemana?”, tanya Tiffany pada Minho.

“Tentu saja, ke bandara. Setidaknya, kita harus memastikannya sendiri, bukan?”

***

“Namanya Jessica Jung atau Jung Sooyeon.”

Tiffany, Krystal, dan Minho sama-sama memasang tampang cemas, saat menanti salah satu petugas dihadapannya tengah mengecek nama Jessica pada sebuah komputer.

Kini, mereka bertiga telah berada di bandara untuk memastikan keberadaan Jessica, sesuai dengan usulan Minho.

“Tuan…”, panggil petugas tersebut.

Mereka bertiga pun menghadap ke arah petugas tersebut dengan cepat. “Iya?”

“Memang benar, ada salah satu penumpang bernama Jessica Jung yang mendaftar pada sebuah penerbangan ke New York hari ini.”, jawab petugas tersebut.

“Kapan keberangkatannya?”, tanya Minho cemas.

Petugas itu tersenyum penuh arti.

Minho tahu betul arti senyuman itu. Nampaknya, bukan pertanda baik.

“Pesawat baru saja berangkat sekitar 15 menit yang lalu.”

***

“Ke New York???”

Tiffany, Krystal dan Minho hanya bisa tertunduk lesu saat melihat Ny. Jung yang sedang berada di puncak amarahnya.

“Tenanglah, Yeobo.” Tn. Jung nampak berusaha menenangkan istrinya itu. Ternyata, Tn. Jung memiliki pengendalian diri yang lebih baik di banding istrinya.

“Bagaimana mungkin aku bisa tenang, sementara putriku sedang sendirian di dunia luar yang sangat kejam?”, tanya Ny. Jung, terdengar begitu frustasi.

“Aku tahu, yeobo. Tapi kau harus percaya bahwa Jessica baik-baik saja. Semoga Tuhan bisa menyelamatkan Jessica.”, ucap Tn. Jung.

“Tapi, bagaimanapun juga, Jessica adalah gadis yang sangat kekanakan. AKu takut kalau dia sampai kenapa-napa atau bertindak bodoh.”

DEG!

Tiffany, Krystal dan Minho seolah tersadar betapa Jessica adalah gadis yang sangat kekanakan dan polos.

“Kita harus segera melakukan sesuatu, yeobo.”, ucap Ny. Jung pada Tn. Jung. “Kita harus segera menyusul Jessica ke New York.”

Tn. Jung nampak berpikir keras. Tak mungkin, ia meninggalkan seluruh pekerjaannya di Seoul begitu saja. Meski ia punya banyak bawahan yang bisa diandalkan, tapi ada beberapa proyek penting yang harus ia tangani sendiri. “Aku tidak mungkin meninggalkan seluruh pekerjaanku disini, yeobo.”

“Kalau begitu, biar aku saja yang pergi dengan anak-anak.”

“MWO??”

***

“Arraseo, Abeoji.”

“Bagaimana, Oppa?”, tanya Krsytal, sambil menatap cemas ke arah Minho yang baru saja menyelesaikan sambungan teleponnya dengan Tn. Jung.

“Beres. Umma-mu sudah berhasil ditangani.”, jawab Minho, nampak lesu.

“Jadi, kita benar-benar akan berangkat ke New York hari ini?”, tanya Tiffany.

“Tentu saja. Siapa lagi yang bisa pergi kesana selain kita?”, balas Minho.

“Hei! Sebenarnya, aku tidak bisa pergi kesana, babo.”, celetuk Tiffany.

“Hei, Noona! Noona-lah yang sudah menyebabkan kita semua ada disini sekarang. Ingat?”, tanya Minho dengan nada kesal.

“Yak! Tap-”

“Ya, ya! Sudahlah! Kenapa harus bertengkar segala, sih?” Krystal berusaha menengahi pertengakaran Minho dan Tiffany. “Anggap saja ini sebuah keberuntungan, sehingga kita bisa berlibur ke New York secara gratis.”

“Ya, ya. Hilangnya Jessica benar-benar sebuah keberuntungan, sekaligus bencana.”

TBC

Nah, nah. Gimana nih, FF-ku ini? Jelek-kah? Bagus-kah? Ditunggu comment-nya, yaa.

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s