[Oneshot] Saranghae = I Love You

Saranghae

Title : Saraghae = I Love You

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Cast :

Kris EXO-M

Sooyoung SNSD

Jessica SNSD

Suho EXO-K

Genre : Romance, Friendship, School Life

Length : Oneshoot

Author Note : Annyeong, readers. Di FF kali ini, author nawa inovasi baru, nih. Jadi, di FF ini kebanyakan percakapannya pake Bhs. Inggris. Tapi, author pake kalimat yg gampang dimengerti, kok. Soalnya, author sendiri kan, msh blm mahir. Jadi, kalo ada kesalahan, mohon maaf ya, readers. Author jg butuh koreksi-nya. Hehe<img

***

“We will move to Seoul, Kris.”

Kris langsung menoleh ke arah Ny. Wu, ibunya yang duduk di samping kanannya. “What?! Seoul?”, tanya Kris, tak percaya. “Are you sure, Mom?”

“Of course!”, jawab Ny. Wu mantap, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah dibacanya itu.

“Why?”, tanya Kris heran, setengah bergumam.

“Your dad have to move there.”, jelas Ny. Wu.

“So, it means we have to move there, too?”

“Of course, Dear.”, jawab Ny. Wu santai. “Why, Kris? What’s the matter?”, tanya Ny. Wu, kali ini memalingkan wajahnya dari buku yang ia baca, lalu menatap dalam ke arah Kris.

Karena ditatap ibunya, Kris pun memalingkan wajahnya dan menatap ke arah langit-langit rumah. “I don’t know, Mom. I just…” Kris membiarkan kalimatnya menggantung begitu saja di dalam ruang keluarga Wu yang luas dan tampak sepi itu. “I can’t explain it.” Kris hanya bisa tertunduk lesu setelah mengucapkannya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat mengetahui bahwa ia harus pindah ke Seoul. Namun, ia tak bisa mengungkapkannya.

“It’s okay, Dear.” Ny. Wu mendekat ke arah putra tunggalnya itu dan mengusap pelan punggungnya. “I still remember when you didn’t want to move here. But finally, you get used to it, right?” Ny. Wu teringat kembali pada kejadian saat keluarga mereka harus pindah dari Cina ke Kanada. Awalnya, Kris memang sempat menolak. Tapi, lama-kelamaan, Kris mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di Kanada. “The only thing you need is the time.”, ucap Ny. Wu menyimpulkan.

“Hmm.” Kris hanya bisa bergumam dan kembali menatap langit-langit.

I don’t know, Mom. I just feel empty, batin Kris dalam hati.

***

“Who will pick us up?”

Kris dan kedua orang tuanya masih sibuk mengambil tas mereka. Kris hanya membawa sebuah ransel yang diisi beberapa potong pakaiannya. Awalnya, Ny. Wu sempat menyuruhnya untuk membawa lebih banyak pakaian lagi. Namun, Kris menolak dan memilih untuk membeli pakaian baru di Seoul, nantinya. Saat ia berada di Seoul, bukankah ia juga harus menyesuaikan pakaiannya juga, bukan?

Selain pakaian, Kris tidak membawa barang-barang lainnya. Mungkin, hanya ponsel dan laptop kesayangannya. Sementara itu, gadget lainnya masih bisa ia beli saat sudah tiba di Seoul.

“Someone from my office.”, jawab Tn. Wu sambil mulai menarik kopernya.

“O-oh.” Kris hanya mengangguk-angguk paham.

Kris mulai berjalan, mengikuti kedua orang tuanya dari belakang. Ia tak ingin berjalan terlalu cepat. Ia ingin menikmati suasana bandara Incheon. Maklum, ini adalah pertama kali bagi dirinya berada di bandara Incheon.

“Kris!”

Saat sudah tiba di gerbang kedatangan, Kris mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. Meski ia tak yakin, bahwa yang dipanggil itu benar-benar dirinya, tapi ia berusaha memastikan. Matanya mencari-cari asal suara itu kesana kemari. Tiba-tiba, ia menangkap sesosok gadis cantik yang melambaikan tangan ke arahnya. Sosok gadis itu nampak tak asing baginya.

Karena sudah berhasil mendapat perhatian Kris, gadis itu mulai berjalan mendekat ke arah Kris. “Kris, do you still remember me?”, tanya gadis canti itu sambil menyunggingkan senyumannya.

***

“Surprised?”

Kris sama sekali tak mengedipkan matanya, saat menatap ke arah gadis itu—Choi Sooyoung—yang sedang duduk di hadapannya. Kris masih begitu terkejut dan sangat senang, sampai ia tak memperhatikan dan merespons pertanyaan Sooyoung.

“Kris?” Sooyoung mulai mengguncang bahu Kris pelan.

“Eh?” Kris mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. “Did you say something, Soo?”

Sooyoung tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya tersebut. “Are you so surprised that you can’t hear my question?” tanya Sooyoung dengan nada menggoda.

Kris tertawa gugup. “O-of course, Soo.”, jawab Kris terbata. “I just can’t imagine this, Soo.”, ucap Kris, sambil menundukkan kepalanya.

Kris dan Sooyoung saling mengenal saat mereka sama-sama masih tinggal di Kanada. Saat itu, Kris adalah seorang pendatang yang tinggal tepat di sampan rumah Sooyoung. Sooyoung yang juga merupakan warga pindahan merasa bernasib sama dengan Kris. Jadi, sejak perkenalan pertama mereka, Sooyoung ingin menjadi sahabat Kris untuk selamanya. Sementara itu, Kris juga selalu merasa senang dengan kehadiran Sooyoung di sampingnya. Bahkan, Sooyoung-lah yang membuat Kris jatuh cinta pada Kanada, tempat kelahirannya sendiri. Itulah sebabnya, sejak saat itu, Kris tak mau dipisahkan dengan Sooyoung. Begitu pula sebaliknya.

Saat keluarga Sooyoung harus kembali ke Seoul, sesungguhnya Sooyoung dan Kris sama-sama tidak rela. Tapi, Sooyoung yang nampak lebih mudah menerima kenyataan berusaha untuk meyakinkan pada Kris bahwa mereka tetap bersahabat meski terpisahkan jarak. Namun, Kris tidak terima dan membuat Sooyoung pun jengkel. Sooyoung bahkan sudah bersumpah kalau dia tidak ingin bertemu dengan Kris lagi, jika Kris masih bersikap kekanakan seperti itu. AKhirnya, sejak saat itu pun, Sooyoung memutuskan hubungannya dengan Kris dan hal itu membuat Kris galau bukan main. Namun, ia sadar bahwa cepat atau lambat ia harus mampu menerima kenyataan dan mengubah sikapnya itu. Alhasil, Kris pun berhasil menjalani hidupnya lagi, meski masih dihantui oleh baying-bayang Sooyoung.

“Are you still angry with me?”, tanya Kris memastikan.

“Of course not, Kris.”, balas Sooyoung mantap.

Kris mendesah pelan. “I think, we will never meet again.”, gumam Kris.

“But we meet again, right?”

“Yes, it’s…” Kris mendongak, seolah berusaha mencari jawaban di atas sana. “It’s a miracle.”, lanjut Kris, akhirnya.

***

“H-hello, Friends!”

Kris sedang berdiri di depan kelas barunya, sambil memasang wajah dan senyumnya yang terkesan begitu kaku. Kris sadar bahwa ia sama sekali tak cocok untuk berbicara di hadapan banyak orang.

“Hi!!” Seluruh murid di kelas tersebut membalas sapaan Kris dengan kompak, mirip seperti kelompok paduan suara yang sudah terlatih.

“My name is Wu Yi Fan, but you can call me Kris.” Kris melanjutkan perkenalannya. “I’m a Chinese and I come from Kanada.”, jelas Kris. “I only can speak English and Mandarin. I really sorry about that. So, I really need your help to teach me Korean.”, ucap Kris. “This is the end of my introduction. Thank you.” Kris membungkukkan badannya sekilas.

PLOK, PLOK, PLOK!

Terdengar suara tepukan yang membahana di dalam kelas. “Nice introduction, Kris.”, puji Park Seonsaengnim, guru kelasnya. “Okay, you can sit over there,” Park Seonsaengnim menunjuk ke arah bangku kosong disamping seorang pemuda, “beside Joon Myeon.”

Kris menatap ke arah Park Seonsaengnim sambil tersenyum, sebelum mulai melangkah ke arah bangku yang dimaksud Park Seonsaengnim.

“Hello, Kris.”, sapa pemuda yang menjadi teman sebangku Kris. “My name is Kim Joon Myeon. But you can call me Suho.” Suho mengulurkan tangan kanannya.

Kris menjabat tangan Suho. “Kris.”

“Nice to meet you, Kris.”

“Nice too meet you too, Suho.”

***

“That’s the first time, you speak more than 5 sentences in front of many people!”

Kris mengaduk-aduk minuman di hadapannya, sambil tersenyum sendiri mendengar kehebohan sahabatnya itu. Sesungguhnya, Kris ingin sekali menanggapi perkataan Sooyoung dengan segera. Namun, ia masih menahannya.

Kris meminum minummannya lewat sedotan. “You’re too excited, Soo.”, respons Kris.

Sooyoung menggeleng heran. “Of course. You speak… Mmm, let me count.” Sooyoung mulai memainkan jemari lentiknya, menghitung. “7 sentences. Yes! You speak 7 sentences! That’s great, Kris.”, puji Sooyoung lagi, sambil menunjukkan 7 jemarinya yang berdiri tegak tepat di depan wajah Kris.

Kris hanya tersenyum geli melihat tingkah menggemaskan Sooyoung. Ingin sekali rasanya mencubit kedua pipi gadis itu, tapi diurungkannya niatnya itu.

“Hi, Kris!”

Kris menoleh saat ada seseorang yang memanggil namanya, sekaligus menepuk pundaknya. Didapatinya Suho, teman sebangkunya, yang sedang berdiri di belakangnya sambil tersenyum padanya. “Hi!”, balas Kris.

“You don’t want to say hello to me?”, tanya Sooyoung, sambil mengerucutkan bibirnya, karena kesal.

“O-oh!” Suho terkejut saat mendapati Sooyoung duduk dengan manis di hadapan Kris. “Hi, Soo!”, sapa Suho, akhirnya.

“Hmm.” Sooyoung langsung membuang mukanya karena kesal.

“Come on, girl.” Suho mendekat ke arah Sooyoung dan mencubit hidung mancung Sooyoung, lalu duduk di sampingnya. “Jangan marah begitu.”, rayu Suho dalam bahasa Korea.

“Aku akan memaafkanmu asal kau traktir aku dulu.”, rajuk Sooyoung.

“Ya, ya. Baiklah.”, balas Suho malas.

“Yeay!”, seru Sooyoung senang.

“Jadi, kau mau memaafkanku?”, tanya Suho, penuh harap.

“Tentu!”

Sementara Sooyoung dan Suho sibuk berbincang dalam bahasa Korea, Kris hanya bisa menatap mereka berdua dengan tatapan linglung. Tentu saja, ia kan, tak paham dengan bahasa Korea. Ia merasa seperti diacuhkan. Meski begitu, ia tetap diam saja, dan terfokus pada es-es dalam minumannya yang sudah mencair.

“Oh, Kris! We’re so sorry.”, ucap Sooyoung, sambil menepuk pelan lengan Kris.

Kris yang tersadar dari lamunannya, hanya bisa mengerjap bingung ke arah Sooyoung dan Suho. “W-what do you apologize for?”, tanya Kris.

“We’re so sorry for forgetting you here. You must be angry.”, ucap Sooyoung dengan nada yang penuh penyesalan.

“O-oh, no. It’s okay, Soo. I can understand the situation.”, balas Kris dengan gaya yang agak salah tingkah karena telah membuat Sooyoung merasa bersalah pada dirinya.

“Hey! I have an idea!”, celetuk Suho.

“What kind of idea, Mr. Kim?”, tanya Sooyoung, lalu menatap ke arah Suho.

“Listen to me.”, pinta Suho. “Kris don’t understand Korean, right?”, tanya Suho memastikan.

Kris dan Sooyoung mengangguk bersamaan.

“So, we have to help him!”, seru Suho.

PLETAK!

“What are you doing?” Suho nampak kesal setelah mendapat jitakan di kepalanya dari Sooyoung.

“That’s a-have-to-do thing, Suho. I also have tried to teach him.”, jelas Sooyoung, nampak kesal.

Suho mendengus. “Listen to me first.”, perintah Suho lagi. “We can invite him to join English Club. So, he will understand Korean more easily.”, jelas Suho.

“W-wait! English Club? What do you mean, Suho? I am good enough at English.”, tutur Kris.

“I know. But, at least you can understand the meaning of English word in Korean, right?”, balas Suho, merasa puas dengan usulnya.

“Yes, you’re right, Suho!” Sooyoung nampak setuju. “Kris, you have to try this.”, usul Sooyoung, sambil mengguncang lengan Kris pelan.

Kris terdiam sejenak sambil terus memandang wajah Sooyoung yang nampak penuh harap. “O-okay. I will try it.”, jawab Kris, akhirnya.

“Good decision, Kris.”, ucap Suho sambil menepuk pundak Kris.

“But, who will accompany me? I don’t know another person here, but you! Remember?”, tanya Kris.

Sooyoung dan Suho saling menatap.

“Sorry, Kris. Both of us have joined Theatre Club.”, ucap Sooyoung penuh penyesalan. “But, it’s okay. I will tell my friend that you will join that club, so she will accompany you there.”, tutur Sooyoung. “She is Jessica. She is a nice girl. You must like her.”

***

“How’s life, Kris?”

Kris terhenti di anak tangga ketiga saat mendengar suara ibunya. “Not bad, Mom.”, balas Kris, lalu mulai melanjutkan langkahnya lagi.

“Only that?”, tanya Ny. Jung, seolah tak percaya.

“Hmm.”

“Nothing interesting?”, tanya Ny. Jung lagi.

Kris terdiam sejenak. Mengingat seluruh kegiatannya di sekolah. “Nothing, Mom.” Kris langsung berjalan semakin cepat, sampai sampai di lantai 2 rumahnya.

Entah kenapa, rasanya kembali hampa.

Bagi Kris, semuanya sudah berubah.

***

“Jadi, bagaimana? Kau sudah hafal dengan dialog-nya?”

Kris hanya bisa memutar bola matanya malas, saat lagi-lagi, ia diacuhkan oleh kedua temannya, Sooyoung dan Suho. Sooyoung dan Suho sedang asyik membicarakan tentang klub teater mereka.

Sesungguhnya, Sooyoung dan Suho sama-sama fasih dalam menggunakan Bahasa Inggris. Hanya saja, mereka merasa risih jika harus menggunakan Bahasa Inggris, setiap di depan Kris. Lagipula, sebenarnya, Kris juga sudah mengijinkan mereka berdua untuk berbicara Bahasa Korea saja. Tapi, ia juga tetap merasa jengkel jika tidak diajak ngobrol seperti sekarang.

Kris pun mencoba mengalihkan perhatiannya dari kedua makhluk di hadapannya yang membuat matanya panas ke beberapa kumpulan murid perempuan yang asyik berbincang sambil mencuri pandang ke arahnya. Gadis-gadis itu nampak salah tingkah, setelah merasa diperhatikan oleh Kris. Kris pun hanya melemparkan senyuman tipis ke arah mereka dan sukses membuat pipi-pipi gadis-gadis itu merona merah.

Lalu, Kris pun hanya bisa tertunduk menghadapi tingkah lucu gadis-gadis itu. “Ugh. Finally, it’s rather complicated.”, gumam Kris yang bahkan tak didengar oleh kedua sahabatnya.

***

“So, are you Wu Yi Fan?”

“Kris.”, ralat Kris cepat, sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruang klub Bahasa Inggris.

Gadis pendek di hadapan Kris mendongak ke arah Kris yang meralat ucapannya. “O-okay. Kris.” Gadis itu mengulang nama Kris. “Well, my name is Jung Soo Yeon. You can call me Jessica.” Gadis itu memberitahukan namanya, sambil mengecek beberapa lembar kertas di tangannya.

“Jessica.”, gumam Kris. “Nice name.”

“Pardon me?”

“O-oh. Nothing.” Kris langsung menggeleng cepat, tak menyadari dengan ucapannya barusan.

Jessica nampak sedikit salah tingkah, karena samar-samar mendengar Kris memuji namanya. “Okay. I think you can take a sit over there, Kris.” Jessica menunjuk salah satu tempat duduk di barisan terdepan di ruangan itu.

Kris mengikuti arah jari telunjuk Jessica dan nampak terkejut. Ruangan itu masih kosong, tapi kenapa Jessica justru menyuruhnya untuk duduk di barisan terdepan. “I’m not sure, Jess. I think, I can sit in the other row.”, balas Kris, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Oh, okay. It’s up to you.” Jessica nampak bersalah karena Kris menolak usulannya.

Kris pun langsung menuju salah satu bangku yang dipilihnya. Sementara itu, Jessica menuju salah satu meja, seperti meja untuk guru, hanya saja lebih luas. Seperti yang pernah Kris lihat di sekolahnya, meja itu biasa digunakan oleh Ketua Klub.

So, Jessica is the captain?, batin Kris dalam hati.

Untuk mengusir kecanggungannya yang hanya berdua dengan Jessica di dalam ruangan itu, Kris pun memilih mengeluarkan buku serta i-Pod-nya. Ia memasang earphone dan mulai mendengarkan lagu yang mulai mengalun lembut. Lalu, ia mulai membuka dan membaca bukunya.

Tak lama, matanya kembali menatap ke arah Jessica yang nampak sibuk mencari sesuatu di meja yang sudah nampak berantakan dengan berbagai kertas dan alat tulis lainnya. Kris melepas earphone-nya dan mendekat ke arah Jessica.

“Are you looking for something?”, tanya Kris, berusaha peduli.

Jessica nampak terkejut dengan kehadiran Kris di sampingnya. “O-oh. Yeah.”, jawab Jessica, lalu mulai mencari kembali.

“May I help you?”

“Sure.”, jawab Jessica. “I’m looking for a proposal to the headmaster. It’s about English Festival we will hold next month.”, jelas Jessica sambil sibuk mencari kertas itu lagi.

“Oh.” Kris pun mulai mencari kertas tersebut. Hanya saja, caranya berbeda dari yang dilakukan Jessica. Jika Jessica cenderung memberantakkan kertas-kertas dan alat tulis di meja, Kris justru memilah-milah kertas-kertas di meja dengan teliti. Tak lama, “Is it the proposal you mean?”, tanya Kris sambil menunjukkan secarik kertas.

“Ah, syukurlah. Akhirnya ketemu juga.”, ucap Jessica.

Kris memang tak mengerti dengan ucapan Jessica, tapi ia tahu bahwa Jessica nampak begitu lega dari ekspresi wajahnya.

“Thank you very much, Kris. Thank you.”, ucap Jessica sambil mengguncang tubuh Kris pelan.

Kris hanya bisa tersenyum canggung menanggapi ucapan Jessica. “N-never mind.”

“I always like this. Careless. But Siwon always here to help me. He was the captain of this club before. But he have to move to Basketball Club.”, jelas Jessica.

“Oh.” Kris mengangguk paham. “Don’t worry, Jess. I’ll be there to help you.”

***

“We’re so sorry, Kris.”

Kris hanya bisa mengangguk pasrah mendengar ucapan tersebut. Lagi-lagi, Kris merasa terabaikan oleh kedua sahabatnya. Sudah cukup bagi Kris, diabaikan selama berada diantara Sooyoung dan Suho. Dan saat ini, Kris sudah bosan karena selalu diabaikan.

Kris baru saja meminta tolong pada Sooyoung dan Suho untuk menemaninya ke toko buku, tapi mereka tidak bisa karena sibuk mengikuti latihan drama.

Yah, mungkin Kris hanya merasa cemburu.

“It’s okay.”, balas Kris bohong. Sesungguhnya ingin sekali Kris berteriak, It’s not okay at all!

Kris melirik jam tangannya. “I think, I have to go now.”, ucap Kris. “See you.”

Kris pun melangkah meninggalkan Sooyoung dan Suho. Kris melewati lorong-lorong untuk menuju ke gerbang sekolah. Namun, kakinya mendadak terhenti saat melihat pintu ruang klub Bahasa Inggris masih terbuka. “Jessica?”, panggil Kris saat mendapati Jessica yang masih berkutat di depan laptopnya, nampak bingung.

“O-oh. Hi, Kris!”, balas Jessica, sambil melempar senyuman.

“Why are you still here?”, tanya Kris, lalu berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Mm, I have to prepare my presentation tomorrow.”, jelas Jessica.

“I see.”, respons Kris, sambil mengangguk mengerti. “You look so confused. Do you need some help?”

“U-um. Yes.”, jawab Jessica ragu.

“May I help you?”

Jessica mengangguk sambil tersenyum.

Kris pun mulai mengutak-atik bahan presentasi yang sedang disiapkan Jessica di dalam laptopnya. Jessica takjub melihat Kris yang cekatan dalam menyelesaikan presentasinya. Tak sampai 20 menit, Kris berhasil menyelesaikan presentasi tersebut.

“Thank you very much, Kris. You really help me.”, ucap Jessica.

Kris hanya bisa tersenyum.

“Can I do something for you?” Jessica mencoba menawarkan bantuan untuk Kris.

Kris berpikir sejenak. “W-would you please accompany me to the book store?”, tanya Kris ragu.

***

“I think you are his girlfriend.”

Kris tertawa renyah mendengar pendapat Jessica, sambil sibuk membaca sinopsis buku di tangannya. “No. We’re just friends.”, balas Kris.

“But, you are always together.”, timpal Jessica lagi, nampak masih ngotot dengan pendapatnya bahwa Sooyoung adalah kekasih Kris.

Kris kembali tertawa. “Friends can be always together, right?”

“But you’re a boy, and she is a girl. I just…” Jessica tak melanjutkan kata-katanya.

Sementara itu, Kris masih tertawa melihat Jessica yang masih ngotot dengan pendapatnya itu. Tiba-tiba saja, Kris berhenti tertawa dan meletakkan tangan kanannya pada puncak kepala Jessica. “Stop it, Jess.”

Jessica langsung mendongak dan nampak salah tingkah karena perlakuan tersebut.

“Just believe in me. I’m not with Soo.”, jawab Kris mantap.

***

“You look so close with Jessica.”

Kris membelalakkan kedua matanya saat mendengar celetukan Sooyoung yang tiba-tiba. “Close?”

“Yes. I saw you with her all the day yesterday.”, tutur Sooyoung.

“I just help her to manage English Club. You know, she really needs help because Siwon has quitted from that club.”, jelas Kris.

“Oh, Siwon. I see.”, komentar Sooyoung. “But does it mean that you have to be with her all the day? You know, I was so lonely without you.”, ucap Sooyoung.

Kris membelalakkan matanya. Sooyoung was lonely without me? Is it real? Or just a dream?, batin Kris dalam hati.

“I was so lonely, Kris.”, tegas Sooyoung, seolah mampu mendengar suara batin Kris.

Kris bingung harus merespons seperti apa. Ia memang sudah menyukai Sooyoung sejak lama. Ah, bukan sekedar suka, mungkin cinta. Ya, Kris telah jatuh cinta pada Sooyoung, sahabatnya sendiri. Tapi, ia belum pernah berani untuk menyatakan perasaannya, karena takut jika ia akan ditolak dan itu akan merusak persahabatan mereka.

Tapi, kenyataan apa yang didapat Kris sekarang? Apa ungkapan Sooyoung barusan menyatakan bahwa Sooyoung menganggap Kris seperti Kris menganggap Sooyoung sebagai orang yang dicintainya?

***

“Soo, I have something to tell to you.”

Sooyoung yang sedang asyik melukis sketsa di buku gambarnya di atas padang rumput, langsung menoleh saat mendengar suara Kris, pemuda yang duduk tepat di sampingnya. Kris sama sekali tidak memandang Sooyoung, melainkan hanya menatap langit di atasnya.

“What do you want to say, Kris?”, tanya Sooyoung.

“You know, we have been friends for many years.” Kris memulai pembicaraannya.

“Yeah.”

“I’ve liked you since the first time we meet in Canada.”, tutur Kris dengan lancar.

Sooyoung hanya mengerjapkan matanya beberapa kali mendengar penuturan Kris barusan.

Kris pun melanjutkan, “You were always be with me at that time. We played together, talked each other. We’re just like,” Kris menggantungkan kalimatnya. “Yeah, you know.”

Sooyoung mengangguk mengerti.

“But one day, you had to move to Seoul. Actually, I couldn’t live without you.”, lanjut Kris.

“Me too, Kris.”, timpal Sooyoung, yang tak mampu mengalihkan pandangan matanya dari Kris.

“I was so surprised when you say that you will hate me forever if I couldn’t receive this. I think, you really hate me, Soo.”, lanjut Kris.

“I never hate you, Kris.”, gumam Sooyoung.

“Then, I think, God gave me a miracle. I met you in Seoul and you change everything in my life.”, tutur Kris. Kris memutar kepalanya sehingga menghadap ke arah Sooyoung. “I think that it’s our destiny.”, ucap Kris memberitahu. “Destiny that we will live together, complete each other, as life partners.”

Sooyoung mengerjap bingung. “W-what do you mean, Kris?”

Kris meraih tangan Sooyoung dan menggenggamnya erat. “I love you so much, Soo. Will you be my girlfriend?”

Sooyoung tersenyum canggung. “I love you too, Kris.”, balas Sooyoung. “But, I think, we can’t be more than just friends. I think our destiny is becoming friends.”, tutur Sooyoung mantap. “You know, I’ve ever think this too, Kris. I thought you should be my boyfriend or something like that. But…” Sooyoung menggantungkan kalimatnya. “I just can’t imagine how I can life without you if one day we break and then, hate each other.”

Kris menatap mata Sooyoung. Ia baru menyadari hal tersebut. Apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti ia akan kehilangan seorang gadis seperti Sooyoung dalam hidupnya? Gadis periang yang selalu saja menyalurkan kebahagiaan padanya? “You’re right, Soo.” Kris melepaskan genggaman tangannya dan kembali menatap ke arah langit biru.

“But you have to promise me.” Sooyoung menginterupsi dan berhasil membuat Kris menatap kembali ke arahnya.

“What?”

“After this, you have to find a girlfriend. Deal?”

***

“Kau kelihatan begitu dekat dengannya, Soo Yeon.”

Kris melirik ke kegaduhan yang terjadi di meja ketua klub Bahasa Inggris. Nampak Jessica yang sedang dikerumuni dengan murid perempuan lainnya. Nampaknya, mereka sedang sibuk membicarakan sesuatu. Yah, kebiasaan para gadis. Bergosip.

Sialnya, Kris hanya bisa mendengarkan suara-suara mereka, tanpa mengerti sepatah katapun dari ucapan mereka. Kris memang sudah mengerti beberapa kata dalam Bahasa Korea, hanya saja mereka berbicara terlalu cepat, sehingga sangat sulit bagi Kris untuk memahaminya. Tapi toh, mungkin apa yang dikatakan mereka tidak terlalu penting buatnya, jadi ia memutuskan untuk kembali pada buku bacaannya dan mengabaikan kegaduhan tersebut.

Tak lama, setelah membaca beberapa potong kalimat di dalam buku, Kris diinterupsi oleh sebuah suara. “Kris?”

“Yeah?” Kris mendongak dan mendapati Jessica yang sudah berdiri di sampingnya. Sementara itu, gadis lainnya masih sibuk berbincang sambil mencuri pandang ke arah Kris dan Jessica.

“I need to talk to you.”, ucap Jessica.

“Sure.”

“But, it’s not now.”, sanggah Jessica.

“So?” Kris menaikkan kedua alisnya.

“Can we make it after school?”

***

“So, what do you want to say?”

Kris membuka percakapan diantara dirinya dan Jessica setelah hanya berdiam diri selama perjalanan mereka menuju taman sekolah mereka yang sepi itu.

Kris jadi heran dengan tingkah laku gadis di sampingnya yang nampak aneh sedari tadi. Tak biasanya, Jessica nampak tidak bersemangat seperti sekarang ini. Hanya diam saja sedari tadi. Padahal, Jessica selalu banyak bicara. Bagi Kris, Jessica adalah Sooyoung kedua dalam hidupnya. Hanya saja, ia nampak lebih kekanakan dibanding Sooyoung.

“U-um.” Jessica menggaruk tengkuknya canggung. “Saranghae, Kris.”

Kris mengerutkan keningnya. “I’m sorry, Jess. But, I…”

Belum sempat Kris menyelesaikan kata-katanya, Jessica sudah berlari meninggalkannya seorang diri di taman itu. Jessica berlari sekuat tenaga, sambil menutup sebagian wajahnya dengan tangan.

“What happens to her?” Saat ini, Kris benar-benar bingung dengan sikap Jessica.

***

“What? She said that you?”

Kris langsung menutup kedua telinganya, agar terlindung agar terlindung dari suara Sooyoung yang memekakkan telinga. “Your voice really hurts me, Soo.”

“It’s a surprised, Kris.”, ucap Sooyoung, nampak senang. “A girl like Jessica says that she loves you. That’s a miracle, Kris.”, lanjut Sooyoung.

“W-wait! W-what do you say?”, tanya Kris, menunjukkan wajah horornya.

“Eh?”

“Do you say that Jessica loves me?”

“Of course! She said ‘Saranghae’, right? Don’t you kn…” Sooyoung menghentikan ucapannya. “Ya Tuhan! Ya ampun! Kris! Kau bodoh sekali! Bodoh! Bodoh! Dasar Kris bodoh!”

Kris hanya bisa mengerutkan keningnya saat mendengar Sooyoung yang mengumpat dalam Bahasa Korea sambil memukulkan tangannya ke atas meja berulang kali. Kris mendengar kata ‘babo’ diucapkan Sooyoung berkali-kali. Itu artinya ‘bodoh’. Memang, siapa yang dikatai bodoh oleh Sooyoung?, piker Kris dalam hati.

“Hey! What’s wrong, Soo?”, tanya Kris bingung.

“Then, what’s your answer?” Sooyoung malah balik bertanya.

“Well, I said, ‘I’m sorry, Jess’. But, before I can finish my sentence, she ran away.”, jelas Kris santai.

PLETAK!

“What are you doing, Soo?” Kris nampak geram setelah mendapat jitakan dari Sooyoung.

“You are so stupid, Kris. Saranghae means I Love You.”, jelas Sooyoung. “When you say sorry, she would think that you jilt her.”, tutur Sooyoung. “That’s why, she directly ran away after you said that. She must be very ashamed.”, lanjutnya.

“Oh, my God!” Kris mengacak rambutnya frustasi. “Why does it happen to me?!”

***

“Gwaenchana?”

Jessica terlonjak kaget saat mendapati Kris sedang menyapanya sambil menepuk pundaknya pelan. Selain kaget dengan kehadiran Kris yang mendadak, Jessica juga terkejut kalau Kris sudah mulai bisa menggunakan Bahasa Korea. “G-gwaenchana.”, balas Jessica, kelihatan gugup, lalu tertunduk malu.

Kris pun mengambil duduk tepat disamping Jessica.

Lagi-lagi, Jessica terkejut dengan sikap Kris barusan. “Mianhae, Kris. Aku harus pergi.”, ucap Jessica sambil mengemasi barang-barangnya.

“Will you go?”, tanya Kris.

“Bukannya aku sudah mengatakannya padamu?” Jessica balik bertanya.

“I’m sorry, Jess.”

Jessica merasakan suatu kejadian yang tak asing bagi dirinya itu kembali terjadi padanya. Saat ia menyatakan perasaan sukanya pada Kris dan Kris mengucapkan kata maaf. Kalimat yang diucapkan Jessica saat ini sangat persis dengan yang diucapkannya waktu itu. Nada bicaranya juga sama sekali tak berbeda.

“But…”

Oh, kenangan itu lagi. Apa Kris berniat mempermainkan perasaan Jessica dengan mengucapkan kata demi kata, seperti yang diucapkannya waktu itu. Apa mungkin Jessica juga harus berlari meninggalkan Kris seorang diri agar membuat adegan ini terkesan dramatis.

“This time, don’t go. Don’t leave me alone again.”, pinta Kris sambil meraih lengan Jessica. “You need to listen to my explanation.”

“What will you explain, Kris? Isn’t it clear for us? I said I love you and you said…” Jessica meledak, namun ia tak bisa menyelesaikan kalimatnya.

“What did I say, Jess? I apologized to you, because I couldn’t understand what you say.”, tutur Kris. “But I just feel so warm when you say it. I just feel warm when you say ‘Saranghae’, although I don’t understand the meaning.”, jelas Kris. “That’s why, now I understand about that feeling. I know it after I know the meaning that word. I know that I also fall in love with you.”, lanjut Kris yang sukses membuat mata Jessica terbelalak karena terkejut.

 “Would you please to accompany me to live this life and teach me how the love is?”, tanya Kris.

Jessica menutup mulutnya. Masih tidak percaya. “A-are you serious?”

Kris tersenyum penuh arti.

“It’s not a dream, right?”

“No.”

Seketika, Jessica merasakan air matanya tumpah karena terharu. “I will, Kris.”, jawab Jessica, akhirnya. “I will accompany you, including teaching you about love.”, lanjut Jessica. “About how to say ‘Saranghae’.”, imbuhnya, sambil diikuti tawa kecil.

Kris ikut tertawa. “You don’t need teach me how to say ‘Saranghae’.”, balas Kris. “Sometimes, love can be clearly heard without any words.”

END

***

Huwaa! Akhirnya, selesai juga FF ini. Walaupun cuman Oneshoot, tapi sumpah, bikin Author sampe frustasi bikinnya. (siapa juga yg nanya? -_-“)

FF ini muncul karena kegaluan Author pada suatu hari. Awalnya, mikir kalo ceritanya bakalan bagus. Tapi, semakin ke tengah, eh, kok gak yakin lagi, yaa? Tapi, akhirnya, aku publish juga. Daripada hasil kegalauanku ini hanya bisa menuh-menuhi laptop, mending di-publish aja, supaya bisa dapet komen dari readers.

Untuk para readers, mohon comment-nya ya! Baik kritik maupun saran, akan saya terima, kok. Sumpah! Saya lagi butuh dukungan dari para readers. Bener-bener lagi frustasi dan desparate, nih. Hehe.

Sekali lagi, mohon maaf kalo Bahasa Inggris saya kacau nggak ketulungan dan typos yang bertebaran dimana-mana. Jadi, saya mohon review-nya juga dari readers untuk membetulkan bahasa Inggris saya.

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s