[Oneshot] Chili

Chili

Title : Chili

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Cast :

–          Sunny SNSD

–          Min Seok EXO-M

–          Chanyeol EXO-K

–          Sooyoung SNSD

Length : Oneshoot

Rating : G

Genre : Romance, Friendship, Humor (humor? Author juga nggak begitu yakin, deh. Hehe)

Author Note : FF yg terinspirasi setelah makan bakso dengan sambal yg pedesnya minta ampun. Hehe.

***

“Aku benci kau, Park Chanyeol!!!”

Sunny melempar smartphone-nya asal ke arah tumpukan kertas di atas meja. Ia pun menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi kerjanya dan melipat kedua tangannya di depan dada, sambil memasang tampang yang kesal.

Soyoung mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan sikap deskmate-nya  itu. “Ada apa denganmu?”, tanya Sooyoung heran.

Sunny mendesis pelan. “Kau tahu, pagi-pagi buta, Chanyeol menganggu tidurku yang begitu nyenyak hanya karena ingin mengajakku makan siang. Dan sekarang, ia malah seenaknya membatalkan rencana, karena ada client-nya yang rewel itu.”, cerocos Sunny dengan nada yang terdengar jengkel.

Sooyoung mendesah pelan, lalu meregangkan otot-ototnya yang mulai terasa kaku karena terus terpaku pada layar monitor di hadapannya sedari tadi. “Harusnya, kau bisa bersikap sabar dan dewasa, Sunny-ah. Lagipula, ini semua dilakukannya hanya untuk masa depan kalian, bukan?”

“Tapi, tidak harus mengorbankan waktu bersama kami setiap saat, bukan?”, balas Sunny, nampak masih tidak terima.

Sooyoung bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Sunny. “Kupikir, kau hanya perlu untuk mendinginkan pikiranmu dulu.”, ucap Sooyoung menyarankan, sambil menyentuh kedua pundak Sunny.

Sunny menatap tajam ke arah Sooyoung. Ia nampak berpikir keras. “Baiklah, kalau begitu.” Sunny memalingkan wajahnya dan segera menyambar tas kerjanya yang tergeletak di atas meja kerjanya yang nampak berantakan.

“K-kau mau kemana, Sunny-ah?”, tanya Sooyoung heran.

“Tentu saja mendinginkan kepala.”, jawab Sunny enteng, sambil mengambil smartphone yang sempat ia lempar tadi.

“Tapi, kenapa harus bawa tas segala? Bukannya hanya ke pantry?”

Sunny terkekeh pelan. “Pantry?” Ia kembali tertawa. “Aku akan pergi ke Chili Restaurant.”, imbuhnya.

“Chili Restaurant?”, pekik Sooyoung. “Ya! Kau ini mau mendinginkan atau malah memanaskan suasana?”, racau Sooyoung, pada Sunny yang sudah melangkah pergi. “Dan siapa yang akan mengerjakan pekerjaanmu ini??”

“Tentu saja kau, deskmate-ku yang terbaik.”, balas Sunny santai, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sooyoung.

***

“Sayang sekali. Hari ini, restaurant sangat penuh, Nona.”

Sunny celingukan ke dalam Chili Restaurant yang memang nampak penuh dengan lautan manusia itu. “Memangnya, benar-benar tak ada satu pun kursi yang tersisa?”, gumam Sunny, seolah tak percaya.

“Maafkan kami, Nona. Tapi, siang ini, café ini memang sedang sangat ramai.”, tegas pelayan Chili Restaurant. “Kalau Anda tetap ingin masuk, Anda harus mendaftar di waiting list kami.”, lanjutnya sambil menyodorkan buku waiting list pada Sunny.

Sunny tetap celingukan dan mendadak muncul ide di otaknya. Ia mengambil ancang-ancang dan berlari sekuat tenaga ke dalam café yang penuh sesak itu. Ia menuju ke salah satu meja yang berada di sisi kanan café tersebut.

Si pelayan tadi berteriak-teriak ke arah Sunny yang ngotot masuk ke dalam.

Sunny pun tiba di meja yang ditujunya. Meja yang ditempati seorang pria yang masih membaca buku menu, sehingga wajahnya tidak terlihat. Dengan lancang, Sunny menarik buku itu dari wajah si pria dan betapa terkejutnya Sunny.

Ya Tuhan! Imut sekali pria ini!, puji Sunny dalam hati.

“Hai! Masih ingat padaku?”

***

“Hai! Masih ingat padaku?”

Minseok merasa agak jengkel, saat buku menu yang sedang ia baca ditarik dengan paksa. Ia mendongak dan mendapati seorang gadis telah berdiri di hadapannya dan menyapanya. “Eh? Siapa kau?”, tanya Minseok heran.

Gadis itu mengambil kursi dan duduk di hadapan Minseok. “Aku Soonkyu. Lee Soonkyu. Masa kau lupa, sih?”, kata gadis itu. “Kau Kim Minseok, bukan?”, tanya gadis itu memastikan.

“Benar.” Minseok menjawab dengan nada ragu. Keningnya berkerut, menunjukkan bahwa ia sedang berpikir keras. Mencoba mengingat, apakah ia pernah mengenal gadis ini. Tapi sayangnya, ia sama sekali tak bisa mengingatnya.

“Maaf mengganggu, Tuan. Apakah Anda ingin kami menyuruh Nona ini pergi?”, tanya pelayan yang tadi mengejar gadis itu.

Minseok menatap ke arah pelayan tersebut. Berpikir sejenak, lalu menjawab, “Tak apa. Gadis ini bersamaku.”, jawab Minseok mantap.

“Baiklah.” Pelayan itu melangkahkan kakinya, meninggalkan meja Minseok.

“Jadi, kau ini siapa?”, tanya Minseok, dengan nada agak kesal.

“Lee Soonkyu. Kau bisa memanggilku Sunny.”, jawab gadis bernama Sunny itu.

“Lee Soonkyu? Sunny?” Minseok masih berpikir. “Memangnya, dimana kita saling kenal?”

“Baru saja. Di café ini. Kau sudah lupa, ya?”, balas Sunny.

“Sial!” Minseok mengumpat pelan. “Jadi, sebenarnya kau tidak mengenalku?”

Sunny tersenyum manis.

“Tapi, darimana kau bisa tahu namaku, heh?”, tanya Minseok.

“Tidak perlu jadi sejenius Einstein untuk mengetahui namamu, Minseok-ah.”, ucap Sunny. “Itu.” Sunny menunjuk ke arah tanda pengenal yang masih menggantung di jas kerja-nya.

Minseok menghela napas. “Bodoh.”, gumam Minseok. “Jadi, kau berpura-pura mengenalku agar bisa mendapat tempat duduk di café ini?”, tuduh Minseok.

“Tentu saja.”, jawab Sunny enteng sambil membolak-balik buku menu.

Minseok sedikit geram dengan sikap Sunny yang seenaknya itu. “Kenapa kau memilihku?”

“Karena kulihat, hanya kau yang duduk disini sendiri.”, jawab Sunny, tanpa melirik sedikitpun ke arah Minseok.

“Kalau ternyata aku sedang menunggu kekasihku, bagaimana?”, tanya Minseok.

Sunny menutup buku menu dan menatap ke arah manik mata Minseok. “Aku berlari ke meja ini bukannya tanpa perhitungan, Tn. Kim. Dalam kamus setiap wanita, tidak ada kata terlambat dalam menghadiri sebuah kencan. Sementara Anda duduk sendiri saja disini. Lagipula, wajah Anda sama sekali tidak menunjukkan bahwa Anda sedang menanti seseorang.”, tutur Sunny. “Kalaupun Anda sedang menunggu seseorang, apalagi itu adalah kekasih Anda, saya yakin Anda sudah mengusir saya sejak tadi. Mana mungkin ada seseorang yang mau kencannya diganggu orang tak dikenal sepertiku?”, lanjutnya.

Minseok mendesah pelan. Cerdik sekali, gadis ini, puji Minseok dalam hati. “Baiklah. Kau menang, Sunny.”

Sunny hanya tersenyum dan kembali membaca buku menu di hadapannya.

Minseok mengikuti apa yang dilakukan Sunny. Ia tak mau mendebat gadis ini lebih lama, karena tak ingin jam makan siang-nya terbuang percuma.

Sesekali, Minseok mencuri pandang ke arah Sunny. Ia merasa belum pernah menemukan gadis yang se-unik Sunny. Tingkahnya benar-benar unik dan lucu.

“Kau sudah memesan sesuatu?”, tanya Sunny, membuyarkan lamunan Minseok.

“Eh?” Minseok langsung menoleh ke arah Sunny. “Sudah. Biar kupanggil pelayannya, ya?”, tawar Minseok, lalu memanggil pelayan café tersebut.

“Apa yang ingin Anda pesan, Tuan dan Nona?”, tanya pelayan itu, sambil bersiap menuliskan sesuatu di notes kecilnya.

“A…”

“Aku pesan seporsi makanan yang paling pedas disini dan jus cabai (author ngasal -_-“).”, sela Sunny cepat, sebelum Minseok sempat mengucapkan pesanannya.

Minseok membulatkan matanya, mendengar pesanan Sunny.

Nampaknya, si pelayan juga terkejut. Tapi, ia segera menuliskan pesanan Sunny. “Bagaimana dengan Anda, Tuan?”

“Saya pesan steak daging saja. Dan segelas lemon tea.”, ucap Minseok.

Pelayan itu mencatat pesanan Minseok dengan cepat. Dan segera meninggalkan meja tersebut.

‘Kau tidak sedang sakit, kan?”, tanya Minseok heran.

“Sakit?” Sunny menautkan alisnya.

“Iya. Kau pesan sesuatu yang pedas di hari yang panas seperti ini. Kau ingin tubuhmu terbakar?”, tanya Minseok.

“Biar saja. AKu suda terbakar dari tadi, kok.”, balas Sunny ketus.

Minseok kembali mendesah menanggapi sikap Sunny itu. Nampaknya, Sunny bukan tipe orang yang suka diajak bicara. Jadi, Minseok pun memutuskan diam dan mengutak-atik ponselnya.

“Kau tahu, tadi pagi, kekasihku menelponku, mengganggu tidurku yang amat sangat nyenyak, hanya untuk mengajakku makan siang bersama. Tapi kau tahu apa? Dia malah membatalkannya. Menyebalkan sekali, sih.”, keluh Sunny, setelah hening sekian lama.

Minseok memperhatikan Sunny yang meluapkan kekesalannya. Ia mulai bingung dengan sikap Sunny. Tadi, Sunny bersikap seolah tak mau diajak bicara. Sekarang, ia malah yang mulai berceloteh.

“Kau tahu, aku sangat benci dengan pria yang dengan mudahnya membatalkan janji. Apa kau seperti itu, Minseok-ah?” Sunny berbicara pada Minseok seolah mereka adalah teman akrab.

“Entahlah. Kurasa tidak.”, jawab Minseok ragu.

“Baguslah.”, gumam Sunny. “Bagaimana jadinya, kalau seorang pria tidak bisa menepati janjinya? Bisa jadi, ia membatalkan pernikahannya yang tinggal menghitung menit, bukan?” Sunny masih bersemangat melanjutkan celotehannya.

Minseok hanya mengangguk, menyetujui. “Lalu, kau masih bersama dengan pria itu?”

Sunny menggembungkan pipinya. “Sialnya, begitu. Entah kenapa, pria yang sangat menyebalkan sepertinya, selalu bisa membuatku nyaman untuk terus bersama.”, kata Sunny jujur.

“Begitukah?” Minseok nampak tak percaya.

‘Kau pasti belum pernah berpacaran, ya?”, tebak Sunny.

Minseok terkekeh. “Belum pernah ada yang serius. Mungkin, hanya kencan-kencan saja.”

“Kau playboy, ya?”, celetuk Sunny.

Minseok kembali tertawa. “Bukan. Malahan, akulah yang dipermainkan para wanita.”, jelas Minseok.

“Oh, benar juga tebakanku.” Sunny mengangguk-angguk. “Wajah sepertimu memang tak pantas menjadi seorang playboy. Kau terlalu imut, sih.”, celetuk Sunny.

“Eh? Imut?” Minseok membulatkan matanya dengan sempurna.

“Jangan berlebihan. Tapi, kau masih kalah tampan dengan kekasihku.”, elak Sunny.

“Huh? Kekasihmu? Bagus juga aku. Aku imut, seperti yang kau bilang. Tidak pernah menyakiti perasaan wanita. Aku juga selalu menepati janji, kok.”, jelas Minseok. “Jadi, bagaimana? Mau mempertimbangkanku sebagai kekasihmu?”, tawar Minseok dengan nada menggoda.

“Oh, tidak. Terima kasih. Sudah kubilang kan, kalau pria yang menjengkelkan itu selalu membuatku nyaman.”, balas Sunny ketus. “Kupikir, kau tak cukup menjengkelkan untukku.”

Minseok kembali tertawa.

“Kenapa kau hobi tertawa sih?” Sunny nampak jengkel dengan sikap Minseok yang sering tertawa itu.

“Kau unik. Aku belum pernah bertemu gadis seperti dirimu.”

***

“Kau unik. Aku belum pernah bertemu gadis seperti dirimu.”

Sunny membulatkan matanya, setelah mendengar ucapan Minseok. Ia tahu betul, tipikal berbagai pria di dunia ini. Kekasihnya, Park Chanyeol adalah tipe pria tukang gombal yang seenaknya mengumbar rayuan disana-sini.

Tapi seharusnya, Kim Minseok, pria asing yang duduk di hadapannya ini sangatlah berbeda. Dari penampilannya dan apa yang ia ceritakan tadi tentang kehidupan cintanya, dapat disimpulkan bahwa Minseok bukan tipe pria tukan gombal. Jelas sekali, dari penampilannya, terlihat bahwa dia adalah tipe pria yang begitu elegan dan tidak akan mengumbar rayuan pada sembarang wanita. Itu artinya, Sunny bukanlah wanita sembarangan bagi Minseok.

“Unik? Maksudmu?” Sunny segera bersikap normal, seolah ia tak terkejut dengan apa yang diucapkan Minseok barusan.

“Unik. Kau berbeda. Kau benar-benar menarik, Sunny-ah.”, jawab Minseok.

“Kau bermaksud meledekku?”

“Tidak.”, jawab Minseok cepat. “Kebanyakan gadis yang kutemui itu, rata-rata selalu menjaga image-nya di hadapan pria. Sementara kau tidak. Kau bahkan rela berpura-pura mengenalku, lalu duduk semeja dengan pria asing sepertiku. Bahkan, kau menceritakan masalahmu padaku. Kau juga terkesan cuek dan tidak peduli dengan sikapmu yang ketus itu justru akan dianggap aneh olehku.”, tutur Minseok panjang lebar. “Ditambah, kau juga sangat cerdas.”

Sunny merasa pipinya panas saat itu juga. Tapi, ia sama sekali tak berniat menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan semburat merah yang sudah muncul di pipinya. “Dasar tukang gombal!” Hanya ledekan yang bisa keluar dari mulut Sunny.

“Aku tidak menggombal.”, elak Minseok.

Sunny mendesah keras. “Kalaupun kau tidak menggombal, memangnya apa yang kau harapkan? Kau tidak berharap kalau aku akan menerima lamaranmu tadi, kan?”, tanya Sunny ketus.

“Ini pesanan kalian, Tuan dan Nona.” Tiba-tiba saja, seorang pelayan datang dan menginterupsi perbincangan ‘pedas’ antara Sunny dan Minseok. Pelayan tersebut meletakkan pesanan Sunny dan Minseok di atas meja.

Minseok sudah menerima sepiring steak dan segelas lemon tea. Sementara itu, di hadapan Sunny, sudah ada kepiting utuh yang berwarna merah, nampak sangat pedas dengan beberapa cabai yang mengelilinginya (author ngasal lagi), juga segelas jus cabe.

“Kau benar-benar makan itu semua, Sunny-ah?”, tanya Minseok.

GULP. Sunny menelan ludahnya sendiri. Ya Tuhan! Apa aku memang pesan ini, ya?, batinnya dalam hati. Tadi, ia memang sedang terbawa emosi, sehingga ingin sekali makan yang pedas-pedas. Tapi sekarang, suasana hatinya sudah dingin, semenjak ada Minseok di dekatnya.

“Sunny-ah! Sunny-ah!” Minseok melambaikan tangannya di depan Sunny, membuat Sunny tersadar dari lamunannya.

“Eh, iya?”

“Kenapa kau ragu untuk menghabiskan makanan ini, ya?”, tebak Minseok.

“Ah, tidak apa, kok. Lagipula, si sialan itu juga belum menelponku lagi atau apa. Aku akan menghabiskannya, Minseok-ah. Tenang saja.”, jawab Sunny mantap. Lalu, bersiap untuk makan.

***

Minseok menyuapkan sepotong steak ke dalam mulutnya, sambil terus memandang waspada ke arah gadis yang duduk di depannya. Sunny masih baru akan memakan kepitingnya yang diyakini Minseok super duper pedas.

Sunny mulai mengunyah makanannya. Seketika, wajahnya mulai berubah memerah karena rasa pedas yang dirasakan lidahnya. “Hah… Hah… Air… Air…”

“Kau minum saja punyaku.” Minseok segera menyodorkan segelas lemon tea miliknya yang sama sekali tidak pedas, tidak seperti jus cabe yang dipesan Sunny.

Sunny segera menenggak lemon tea tersebut, bahkan sampai habis. “Pedas, pedas.” Sunny mengibaskan tangannya, di depan mulutnya. Rasanya, mulutnya seperti sedang terbakar.

“Pelayan! Tolong ambilkan air putih. Cepat!”, perintah Minseok pada pelayan Chili Restaurant, yang segera menyiapkan pesanan Minseok.

Minseok melirik sekilas ke arah Sunny yang hendak mengambil jus cabe-nya. “Eits! Jangan diminum!”, larang Minseok, sambil menepis tangan Sunny pelan. “Air putihnya akan segera datang.”, jelas Minseok.

“Ini Tuan, air putih yang Anda minta.” Seorang pelayan datang membawa sebotol besar air putih. Pelayan itu nampak khawatir, sama seperti Minseok.

Minseok segera menuang air putih tersebut ke dalam gelas lemon tea-nya tadi. Dengan sigap, Sunny meraih gelas itu dan meminumnya lagi. Sunny terus melakukannya, sampai menghabiskan sekitar 4 gelas air putih.

“Bagaimana? Sudah baikan?”, tanya Minseok, sambil menyentuh bahu Sunny.

Sunny hanya mengangguk, merasakan sisa rasa pedas di lidahnya.

Minseok kembali duduk di tempatnya. Matanya melirik ke arah sekitarnya. Beberapa orang masih mencuri pandang ke arah mejanya, karena keributan yang terjadi barusan.

“Tak kusangka akan begini jadinya.”, gumam Sunny pelan, tapi masih bisa terdengar oleh telinga Minseok.

“Kalau kau tidak mengalaminya sendiri, kau tidak akan pernah tahu, Sunny-ah.”, komentar Minseok.

Sunny tertunduk.

“Jadi, bagaimana? Sudah merasa terbakar?”, goda Minseok.

Sunny memukul pelan lengan Minseok. “Jangan meledekku!”, pinta Sunny kesal.

Girls’ Generation make you feel the heat

Tiba-tiba saja, reff lagu The Boys mengalun.

“Ponselku.”, ucap Sunny, sambil merogoh ke dalam tas-nya. Sunny melirik sekilas ke arah layar ponselnya dan berteriak, “Chanyeol menelponku Minseok-ah!”

***

“Chanyeol menelponku Minseok-ah!”

Sunny segera menerima panggilan tersebut. “Yoboseyo?”

“Sunny-ah. Aku benar-benar minta maaf karena kita batal makan siang bersama.”

“Hmm.”

“Jangan marah padaku ya, Sunny-ah.”

“Tergantung.”

“Aku akan lakukan apapun yang kau mau. Aku berjanji.”

“Jinjja?”

“Ne. Tapi jangan marah lagi, ne?”

“Ne. Asal kau tepati janjimu kali ini.”

“Tentu. Jadi, kau mau apa?”

“Traktir aku belanja di Hyundai Department Store, sekarang juga!”

“Baiklah. Kujemput kau dimana?”

“Di persimpangan Chili Restaurant.”

“Baik. Tunggu aku, chagi. Bye.”

Sunny memutuskan sambungan teleponnya dengan wajah sumringah.

“Bagaimana? Lowongan masih tersedia untukku?”, goda Minseok lagi.

“Ish! Tidak! Aku sudah baikan dengannya.”, balas Sunny sambil memasukkan kembali ponsel ke dalam tas-nya.

“Benarkah? Hanya dengan traktiran belanja sepuasnya di Hyundai?”, tanya Minseok.

“Yeah. Begitulah. Kebetulan, sedang ada banyak barang dalam shopping list-ku.”, tutur Sunny.

“O-oh.” Minseok mengangguk saja.

“Terima kasih atas waktu yang sangat menyenangkan, Minseok-ah. Aku harus pergi sekarang.”, kata Sunny sambil bangkit dari duduknya. “Kuharap kita bertemu lagi.”, lanjutnya, lalu mengulas senyum.

Minseok hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Entah kenapa, ia tak ingin melepas gadis itu pergi begitu saja. Tapi, suaranya tertahan.

“Aku pergi dulu, Minseok-ah.” Sunny kembali tersenyum. Lalu, ia pun mulai melangkah pergi dari meja mereka menuju pintu Chili Restaurant.

Minseok terus memandang kepergian Sunny dengan berbagai hal yang memenuhi pikirannya. Tiba-tiba saja, ia merasa dorongan yang kuat untuk menahan Sunny sebelum pergi terlalu jauh. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Sunny-ah! Tunggu dulu!”

***

“Sunny-ah! Tunggu dulu!”

Minseok terus berlari, mengejar sosok Sunny yang semakin menjauh dari Chili Restaurant. “Aish! Kemana sih, gadis itu?”, gerutu Minseok, sambil tetap mengedarkan pandangannya, mencari sosok Sunny.

“Ah! Itu dia!” Minseok merasa lega saat mendapati Sunny yang hendak menyebrang.

Minseok pun berlari sekuat tenaga, berharap ia berhasil mencapai Sunny sebelum ia sempat menyebrangi jalanan.

GREP!

Minseok berhasil meraih lengan kiri Sunny dan menariknya mendekat.

“Minseok-ah? Ada apa?” Sunny mengerjapkan matanya, kebingungan dengan sikap Minseok.

“Hosh. Ada yang, hosh, ingin kubicarakan padamu.” Minseok masih berusaha mengatur nafasnya.

“Bicara apa?” Sunny semakin bingung.

“Em, itu.” Minseok bingung, cara untuk mengatakannya. Jujur, ia belum pernah melakukan hal semacam ini. Tapi, ia harus melakukannya demi Sunny.

“Apa?”, desak Sunny.

“Tapi, kau jangan marah padaku, ya?”

“Ne.”

“Itu…” Minseok kembali terdiam. “Ada cabe nyangkut di gigimu.”, ucap Minseok.

“Mwo? Benarkah?” Sunny segera mengambil cermin dari dalam tas dan memeriksa giginya sendiri. Sunny segera membersihkannya, tanpa sepengetahuan Minseok. Ia mengecek kembali giginya, yang kini sudah terlihat putih bersih, tanpa warna lain yang menyangkut disana. “Ah. Gomawo, Minseok-ah. Kau benar-benar penyelamat hidupku.” Sunny langsung memeluk tubuh Minseok, karena lega.

“Cheonma.”, balas Minseok.

“Maaf. Aku harus pergi. Aku takut kalau kekasihku sudah menunggu.”, ucap Sunny, sambil melepaskan pelukannya pada tubuh Minseok. “Sekali lagi, gomawo, ne? Annyeong, Minseok-ah.”, pamit Sunny, lalu bersiap menyebrang.

“Ne. Annyeong.”, balas Minseok senang. “Hati-hati di jalan, ya!”, pesan Minseok.

Sunny menoleh sebentar, sambil tersenyum ke arahnya.

Minseok merasa begitu lega karena akhirnya ia bisa mengatakannya juga. “Hah. Akhirnya, aku bisa mengatakannya juga.”

END

***

Gimana nih, FF Oneshoot yang gaje bin ajaib ini?

Saya minta maaf kalo masih ada typos yang berserakan nggak karuan.

Saya mohon maaf kalo jalan ceritanya aneh dan nggak menarik.

Saya juga minta maaf, kalo endingnya nggak sesuai harapan. Saya memang hobi ngerjain readers #plakk

Tapi, bagaimanapun pendapat readers, ditunggu comment-nya loh. Hehe ^_^

Love,

Jung Minrin

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s