[Ficlet] Traffic Jam

Traffic Jam

Title : Traffic Jam

Author : Idwinaya / Jung Minrin (@reddsky_10)

Cast :

SNSD Sooyoung

Length : Ficlet

Rating : G

Genre : Romance, Friendship, Fluff

Happy reading!

***

TIN! TIN! TIN!

Choi Sooyoung membunyikan klakson mobilnya berulang kali dengan perasaan jengkel, namun mobil di hadapannya tetap tidak bergerak. Sooyoung menurunkan kaca jendela mobilnya, lantas melongokkan kepalanya keluar.

Macet.

Inilah yang harus dilalui Sooyoung selama setahun belakangan ini di Tokyo. Sejak memutuskan pindah ke Tokyo, tak pernah satu hari pun dalam hidupnya, Sooyoung melewatkan suasana macet di jalanan. Bahkan, kalau dikalkulasi secara rinci, Sooyoung menghabiskan lebih banyak waktunya di jalanan, terjebak dalam kemacetan.

Oh, kalian pasti bertanya-tanya. Kenapa Tokyo masih berkutat dengan masalah kemacetan, padahal seperti yang kita tahu, Jepang merupakan salah satu negara pencetus transportasi canggih, magnetic levitation?

Well, inilah yang tidak banyak diketahui orang. Beberapa jalan protokol―dan sialnya, yang harus dilewati Sooyoung setiap hari―masih mengalami kemacetan yang agak sulit ditanggulangi.

Lantas, kenapa Sooyoung tidak memilih naik kereta maglev saja?

Jawabannya mudah. Sooyoung adalah seorang desainer muda yang harus membawa banyak barang setiap harinya. Membawa banyak barang di kereta sangat boros tempat dan rawan pencurian, sehingga naik mobil merupakan pilihan terbaik―dalam kasus ini.

Bahkan, karena masalah ini, Sooyoung sempat berpikir kalau sebaiknya ia tinggal di butiknya saja. Tapi sayangnya, hidup bagi Sooyoung tidaklah semudah itu. Ia tak mungkin meninggalkan Oppa-nya―yang buta pengalaman dalam melakukan pekerjaan rumah―seorang diri di apartemen yang sekarang mereka tinggali.

Sooyoung menoleh ke arah samping kanannya dan menemukan beberapa penjual makanan di pinggir jalan. Sebutlah Sooyoung seorang food monster, karena ia tak akan pernah peduli. Baginya, yang paling penting adalah ia akan makan setiap kali merasa lapar dan ia tak peduli meski itu akan berpengaruh pada postur tubuhnya, toh tubuhnya tetap ramping meski makan banyak.

Tanpa pikir panjang lagi, Sooyoung pun memutuskan untuk melompat turun dari mobilnya dan berlarian ke arah para penjual makanan tersebut. Beberapa orang yang jengah menanti kemacetan, nampaknya juga memutuskan untuk mampir dan menikmati makanan.

Sooyoung menghampiri salah satu penjual makanan yang menjual dorayaki. (author nyerah, karena cuma kenal dorayaki)

“Bibi, aku pesan sepuluh dorayaki”, pesan Sooyoung pada bibi penjual dorayaki.

Bibi penjual dorayaki itu tersenyum sambil mengangguk. Tangannya dengan lincah mengambilkan berbagai macam pesanan yang dipesan pembelinya.

Sembari menunggu, Sooyoung memutuskan untuk duduk di salah satu kursi kosong yang disediakan disana. Karena penjual makanan seperti ini sangat ramai, maka para pengunjungnya harus rela berbagi tempat dengan pengunjung lainnya.

Secara tak terduga, Sooyoung duduk tepat di depan lelaki tampan yang mengenakan kemeja berwarna biru tua. Lelaki itu nampak begitu tenang dan bersahaja. Membuat Sooyoung kagum padanya.

“Permisi, bolehkah aku duduk disini?”, tanya Sooyoung sopan.

Namja itu mendongak, lalu tersenyum tipis, ketika matanya bertemu dengan mata Sooyoung. “Tentu saja. Silakan.”, balasnya dengan suara beratnya.

Sooyoung tersenyum lebar, lalu duduk di hadapan lelaki tampan itu. Diam-diam, Sooyoung mencuri pandang ke arah lelaki tampan itu.

Lelaki itu sedang memperhatikan ponselnya dengan seksama. Berdasar penampilan dan gadget yang dibawa lelaki itu, nampaknya dia bukanlah orang sembarangan. Pasti dia adalah seorang manager, direktur, atau semacamnya.

Sooyoung memutuskan melihat ke sekelilingnya. Orang-orang mencoba melupakan masalah kemacetan yang harus mereka hadapi dan menikmati makanan mereka sambil bercanda dengan teman-teman mereka.

Sementara, Sooyoung?

Yah, ia hanya bisa menunggu pesanannya, sambil celingukan kesana kemari. Ia tak mungkin mengajak berbincang orang asing di hadapannya itu. Tidak! Bukan karena Sooyoung tak berani mengajak bicara orang asing. Hanya saja, ia merasa lelaki itu menyukai ketenangan dan tak ingin privasinya diganggun oleh orang asing seperti dirinya.

“Makanan Anda sudah siap, Nona.”, kata bibi penjual dorayaki, sambil menghidangkan pesanan Sooyoung.

“Arigatou gozaimasu.”, ucap Sooyoung senang, sambil menerima pesanannya. “Itadakimasu!”, seru Sooyoung semangat, lalu mulai melahap dorayakinya.

Terdengar suara tawa kecil di telinga Sooyoung. Sooyoung pun mendongak. Lelaki tampan itu tertawa. Tapi, dia menertawakan siapa?

“Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu, ya?”, tanya Sooyoung polos.

Lelaki itu masih tertawa. “Kau kelihatan seperti anak kecil.”, gurau lelaki itu.

“Heh?” Sooyoung memiringkan kepalanya dengan heran.

“Ah, jangan marah. Aku hanya bercanda.”, sela lelaki itu cepat.

Sooyoung tertunduk malu, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mulai melanjutkan makanannya dengan ragu. Ia merasa atmosfir canggung menyelimuti keduanya. “K-kau tidak makan?”, tanya Sooyoung takut-takut.

“Aku sudah selesai.”, jawab lelaki itu.

“Oh.” Sooyoung mengangguk mengerti. “Kemacetan yang sangat menyebalkan, eoh?”, ucap Sooyoung lagi.

“Eh?”

“Setiap hari, aku harus melewati kemacetan ini. Menghabiskan 3-4 jam dalam sehari di jalanan.” Sooyoung memulai berceloteh. “Aku sampai bosan sendiri.”, desahnya pelan. “Kadang, aku menyesal, kenapa aku harus pindah ke Tokyo. Tapi, kembali ke Seoul bukanlah pilihan yang baik, karena Oppa-ku adalah makhluk paling mengenaskan di muka bumi ini.”

Oke, Sooyoung mulai melantur sekarang. Bahkan, ia membahas tentang Oppa-nya di hadapan orang asing. Oh, bagaimana kalau Oppa-nya sampai mendengar hal ini?

“Asal kau tahu saja, Oppa-ku sama sekali tidak bisa melakukan satu pun pekerjaan rumah tangga. Apartemennya selalu berantakan. Bahkan, saat aku menyuruhnya untuk memasak air, dia malah membuat panci yang digunakan untuk memasak air menjadi gosong.”, lanjut Sooyoung.

Oh, untung saja, Oppa Sooyoung tidak sedang berada disana, saat Sooyoung menceritakan aibnya.

Lelaki itu tertawa kecil, saat mendengar celotehan Sooyoung yang mirip dengan anak kecil. Lelaki itu seolah memiliki magnet tersendiri, sehingga mampu menarik Sooyoung untuk ikut menertawakan ucapannya sendiri.

Di sela  tawa mereka, sebuah dering ponsel menginterupsi.

“Ah, maaf. Ponselku berbunyi.”, ucap lelaki itu.

Sooyoung tersenyum tipis.

Lelaki itu pun menjauh dari Sooyoung untuk mengangkat panggilan.

Sooyoung hanya terdiam, memandang sosok lelaki itu yang nampak begitu sempurna. Selama ini, bagi Sooyoung, hanya Oppa-nya-lah yang nampak paling sempurna. Tapi ternyata, lelaki ini memiliki pesona yang mengalahkan Oppa-nya.

Tak lama, lelaki itu kembali menghampiri Sooyoung. “Kurasa, aku harus kembali kesana.”, ucap lelaki itu sambil menunjuk ke arah kemacetan yang masih panjang.

“Oh?” Sooyoung menaikkan kedua alisnya. “Kau pergi sekarang? Di tengah kemacetan seperti sekarang?”, tanya Sooyoung heran.

“Kurasa, aku harus berjalan. Lagipula, tujuanku tidak terlalu jauh.”, tutur lelaki itu.

“Mobilmu?”

“Seseorang akan mengambilnya nanti.”, jawab lelaki itu. “Terima kasih atas waktunya. Ini menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan untukku.”, ucapnya.

Pipi Sooyoung merona merah. “Ah, iya. Aku juga senang bisa bertemu denganmu.”, balas Sooyoung malu-malu.

“Baiklah, kalau begitu. Kuharap, kita bertemu lagi suatu saat nanti. Selamat tinggal.”, ucap lelaki itu, sambil tersenyum.

Sooyoung membalasnya dengan senyuman tulus, ikut mengamini ucapan si lelaki. Ya, semoga aku bertemu dengannya lagi.

Lelaki itu tersenyum kembali, lalu memutuskan untuk benar-benar pergi meninggalkan Sooyoung.

Mata Sooyoung tak bisa beralih sedikitpun dari sosok lelaki tersebut, hingga lelaki tersebut benar-benar menghilang dari pandangan matanya. Sooyoung tertunduk, dan kembali menikmati sisa makanannya dengan perasaan yang tak menentu.

Setelah sukses menghabiskan dorayaki yang dipesannya, Sooyoung pun segera menghampiri penjualnya dan menuntaskan pembayarannya.

Sooyoung pun segera kembali ke mobilnya, karena nampaknya, antrian mobil itu sudah mulai bergerak lagi. Tapi, ada sesuatu yang mengejutkannya, ketika ia berada di samping mobilnya.

“Ya Tuhan! Ban mobilku bocor lagi?!”, seru Sooyoung kaget saat mendapati ban mobilnya yang sudah kempes, tanpa udara sedikitpun.

Oh, malangnya Choi Sooyoung~

END

***

Well, it’s not end here, absolutely🙂

I’ll update the sequel as soon as possible ^^

Curious bout the guy? Just read the sequel :p

Love,

Jung Minrin

5 responses to “[Ficlet] Traffic Jam

  1. wow that’s a misterious boy🙂
    keren thor (y)
    oh ya, dikit masukan nih🙂 kalo ceritanya bakal berlanjut ke pertemuan lagi, ada baiknya kalimat perpisahannya jadi “sampai jumpa / see you” kalo “selamat tinggal / goodbye” dalam b.inggris kan artinya tuh bener” salam perpisahan yg terakhir & gabakal ketemu lagi. udah itu aja🙂 keep it up yaa ^^

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s