[Series] The Shadow – Chapter 1

BI0sZPMCQAAucs_

The Shadow

Chapter 1

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

Yunho || Changmin || Jaejoong || Yoochun || Junsu

Length : Series || Rating : PG || Genre : Family, Friendship, Sad, Fantasy

Thanks to @YunhoWorldIndo for sharing the pic of Yunho. It’s so awesome  :)

***

“Aku ingin kalian semua enyah dari muka bumi!”

Dan Yunho meneriakkannya, tepat ketika bintang jatuh melintas.

***

“Jaejoong, Yoochun, dan Junsu telah menyatakan untuk keluar dari DBSK dan SM Entertainment. Bagaimana pendapat Anda, Yunho-ssi?”

Yunho sama sekali tidak merespons pertanyaan yang tetap dilontarkan oleh Netizen kepadanya. Sebaliknya, ia menegakkan tubuhnya dan berjalan dengan angkuhnya, menerobos sekumpulan netizen yang mengerumuninya. Tubuhnya yang tinggi dan besar memang memudahkan segalanya. Ia mudah bebas dari perangkap para netizen dan segera memasuki mobil jemputan dari SM Entertainment.

Yunho mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang, menyandarkan punggungnya yang lebar pada sandaran jok mobil. Matanya terpejam, mencoba merilekskan tubuh dan pikirannya.

“Anda ingin kemana hari ini, Yunho-ssi?” tanya supir pada Yunho.

Yunho hanya terdiam, tak memberi respons apapun.

Dan itu hanya berarti satu hal.

Bawa aku pergi sejauh mungkin.

***

Changmin menggigit bibir bawahnya. Tangannya meremas selembar kertas―entah berisi apa―untuk melampiaskan rasa kesalnya.

Oke, Changmin memang mendapat julukan evil maknae, tapi ia tidak suka melampiaskan kekesalannya dengan hal-hal yang tidak berguna, misalnya membanting barang atau marah-marah pada orang lain. Ia berusaha menekan seluruh kekesalannya hingga ke dasar, sehingga tak meletup-letup lagi.

“Aish, bocah itu kemana pula?” gerutu Manager Hyung yang sibuk mondar-mandir di dalam dorm DBSK, sambil menempelkan ponselnya ke telinga. Wajahnya nampak begitu cemas.

Changmin membalik tubuhnya dan menatap Manager Hyung. “Hyung,” panggil Changmin lirih. Kepalanya tertunduk.

Manager Hyung menghentikan langkahnya dan menatap Changmin lekat-lekat. Ia segera menurunkan ponselnya dari telinganya. “Ada apa, Min?” tanyanya dengan suara yang bergetar.

Changmin mendongakkan kepalanya perlahan. Ia tersenyum tipis. “Tak perlu mencari Yunho Hyung. Sepertinya, dia butuh waktu untuk sendiri, Hyung,” jelas Changmin.

Manager Hyung mengernyit. “Tapi ini…”

“Gwaenchana, Hyung,” potong Changmin. “Semuanya akan baik-baik saja,” ucap Changmin meyakinkan, meski suaranya sedikit bergetar. Ia tersenyum manis.

Manager Hyung semakin tidak mengerti dengan tingkah Changmin, membuatnya semakin khawatir. “Kau yakin, Shim Changmin?” tanya Manager Hyung cemas.

Changmin mengangguk pelan, sambil senantiasa tersenyum. “Lebih baik, Hyung kembali ke kantor saja. Orang-orang disana pasti lebih membutuhkan Hyung,” usul Changmin.

Manager Hyung nampak masih meragukan Changmin.

“Tenang saja, aku dan Yunho Hyung,” Changmin menggigit bibir bawahnya, “kami pasti akan baik-baik saja.” Lagi-lagi, Changmin tersenyum.

Manager Hyung mendesah berat. Ia tahu betul bahwa Changmin memang keras kepala, meski nada bicaranya terkesan tidak sedang ngotot. Jadi, ia memutuskan untuk percaya pada Changmin. “Arrasseo. Aku pergi dulu, Min,” ucapnya. “Kalau ada sesuatu, cepat hubungi aku, ne?”

“Pasti, Hyung.” Changmin mengangguk.

Manager Hyung sempat menepuk pundak Changmin dan berbisik, “Kadang, hal-hal berat menimpa orang-orang berhati besar,” sebelum ia pergi.

Dan Changmin hanya membalasnya dengan senyuman kecil.

Manager Hyung telah pergi meninggalkan Changmin di dalam dorm seorang diri.

Changmin merutuki ucapannya sendiri. Sepertinya, semuanya tak akan baik-baik saja.

Karena detik berikutnya, tubuh Changmin merosot di atas lantai. Matanya meneteskan setitik air mata.

Semuanya tidak baik-baik saja.

Semuanya telah berubah.

***

Yunho menghirup udara sebanyak-banyaknya, selagi ia masih diberikan kesempatan untuk hidup. Mata musangnya memandang ke sekeliling. Dilihatnya hamparan pasir putih yang indah dan debur ombak yang menghantam tepian pantai.

Ya, Yunho sedang berada di pantai. Tapi, ia tidak tahu, pantai apa itu.

Sepanjang perjalanan tadi, Yunho hanya memejamkan matanya.

Tidak, ia tidak tertidur. Hanya ingin merilekskan tubuh dan pikiran.

Tapi yah, setidaknya, Yunho merasa senang dengan kejutan yang diberikan supirnya hari ini. Suatu pemandangan indah yang menenangkan.

Terlalu banyak yang dipikirkan Yunho saat ini.

Kenapa semua ini terjadi pada kami?

Kenapa mereka memutuskan untuk meninggalkan kami?

Kenapa…?

Kenapa…?

Kenapa…?

Sungguh, Yunho tak habis pikir, dengan kenyataan yang harus diterimanya. Ketiga rekannya memutuskan untuk keluar dari DBSK dan SM Entertainment.

Belum lagi, sama sekali tidak ada pembicaraan tentang hal ini sebelumnya.

Semuanya datang tiba-tiba. Seperti tsunami yang menghantam daratan dengan cepat dan tak terduga.

Dan berita itu muncul dengan cepat dan menghancurkan perasaannya.

Sungguh miris.

Apakah tahun-tahun ini sama sekali tak berarti bagi mereka?

Apakah segala perjuangan mereka yang menjadikan DBSK tegak berdiri sebagai King of K-Pop itu hanya kesia-siaan belaka?

Tak tahukah mereka, bahwa Yunho berani bersumpah pada langit bahwa ia telah menyimpan dan membalut rapi setiap kenangan indah diantara mereka berlima? Tak tahukah?

Yunho merasa dirinya sama sekali tak berarti. Ia adalah leader yang gagal bagi keempat member lainnya.

Yunho menjatuhkan tubuhnya, sehingga duduk bersimpuh di atas hamparan pasir putih. Kepalanya terdongak. Kedua mata musangnya menatap ke arah hamparan langit berwarna kemerahan.

Merah.

Cassiopeia.

BigEast.

Tidak adakah artinya itu semua?

Tiba-tiba, Yunho menitikan air matanya.

Persetan dengan setiap orang yang menganggapnya sebagai namja yang menyedihkan.

Bagi Yunho, semua kejadian yang menimpanya ini lebih buruk dari menyedihkan.

Yunho merasa hancur sekarang.

***

Alarm jam tangan Changmin berbunyi memenuhi dorm.

Dengan enggan, Changmin pun membuka matanya. Dalam hati, ia berdoa, ‘Semoga apapun yang telah kualami tadi hanyalah mimpi.

Changmin mengusap wajahnya yang kusut. Ia pun berjalan gontai ke arah kamar mandi, berniat membasuh wajahnya. Ia menatap pantulan wajahnya yang terlihat menyedihkan di cermin kamar mandi.

Tenang, Shim Changmin. Itu semua hanya mimpi. Hanya mimpi.’ Dalam hati, Changmin terus merapalkan kalimat itu.

Changmin membasuh wajahnya dengan air keran. Segar rasanya dan wajahnya tidak seburuk tadi, meski gurat-gurat kelelahan masih tercetak di wajahnya. Tiba-tiba, ia teringat dengan mimpinya ketika tertidur tadi. Ia masih ingat dengan jelas setiap detail dalam mimpinya. Tentang masa kecilnya yang indah. Impiannya untuk menjadi seorang bintang terkenal. Perjuangannya selama mengikuti training di SM Entertainment. Debutnya bersama DBSK. Dan segala gemerlap dunia selebritas yang mengelilingi hidupnya saat ini.

Hingga akhirnya, bunyi alarm jamnya yang membangunkan Changmin dari mimpi indahnya.

Changmin tersenyum ke arah pantulan wajahnya. “Semuanya baik-baik saja dan akan selalu begitu,” ucapnya mantap pada pantulan dirinya di cermin.

DRRT~ DRRT~

Changmin merasa ponsel dalam sakunya bergetar beberapa kali. Sepertinya ada panggilan masuk. Changmin segera merogoh saku celana panjangnya dan mengambil ponselnya. Dilihatnya nama Yunho Hyung di layar ponselnya dan ia segera menekan tombol ‘Answer’.

“Yoboseyo?”

Min, kau masih di dorm?

“Ne, Hyung,” balas Changmin. “Waeyo?” tanya Changmin heran.

Aniyo. Kau baik-baik saja, kan?

“Ne. Aku baru saja istirahat,” jelas Changmin.

Baguslah. Lebih baik, kau berada di dorm sampai pemberitahuan dari kantor atau Manager Hyung.” Yunho menarik nafas di seberang sana. “Mian, kalau aku tak bisa pulang malam ini, Min. Aku harus menenangkan diriku.

Changmin mengernyit. “Menenangkan diri?”

Yunho mendesah berat. “Ne, Min. Aku tahu, ini semua berat bagi kita berdua,” Yunho kembali menarik nafas dalam-dalam. “tapi aku rasa, kita butuh waktu sendiri-sendiri saat ini. Bukannya aku ingin lepas dari tanggung jawabku sebagai seorang leader. Hanya saja,”

Changmin tak percaya dengan apa yang diucapkan Yunho. ‘Apakah itu tadi bukan mimpi? Kepergian ketiga Hyung itu adalah kenyataan?’ Detik-detik selanjutnya, Changmin tidak lagi mendengarkan ucapan Yunho. Pikirannya telah melayang-layang.

Lagi-lagi, tubuhnya merosot di atas lantai.

Itu semua bukan mimpi. Dan semua tidak baik-baik saja.

***

PIP!

Yunho mematikan sambungan teleponnya dengan Changmin. Yunho menyadari bahwa dongsaeng-nya itu tak merespons ucapannya. Mungkin, Changmin kembali terguncang atas kenyataan yang dihadapinya. Yah, setidaknya, bagi Yunho itu akan jauh lebih baik, dibandingkan menyaksikan Changmin yang bersikap seolah-olah ia tegar menghadapi semua ini, padahal hatinya seperti ditusuk ribuan pedang.

Yunho kembali menatap ke arah langit yang telah berubah warna menjadi gelap. Malam itu, langit ditaburi oleh bintang-bintang. Hamparan bintang yang menghiasi langit seolah mengejeknya.

Kau hanya seorang diri, Jung Yunho!

Ah, Yunho pasti sudah gila. Merasa bahwa bintang-bintang itu mengejeknya, bahkan meneriakinya. Sama sekali tidak logis, bukan?

“Memangnya, kenapa kalau aku seorang diri, hah?!” Dan kini, Yunho malah meneriaki bintang-bintang yang bertaburan.

Imajinasi Yunho semakin liar saja. Seperti ada suara yang membalasnya. Kau ditinggalkan oleh orang-orang yang kau percaya, Jung! Sungguh menyedihkan!

Sungguh menyedihkan!

Yunho semakin geram. “Dengar, ya? Aku tak butuh siapapun!” seru Yunho sombong. “Aku ingin kalian semua enyah dari muka bumi!”

Dan Yunho meneriakkannya, tepat ketika bintang jatuh melintas.

***

Changmin terbangun dari tidurnya yang sama sekali tak nyenyak dengan perasaan yang kacau. Tidurnya semalam hanya diganggu oleh pikiran-pikiran tentang kenyataan yang sedang ia hadapi.

Changmin memutuskan segera beranjak dari ranjangnya dan membersihkan tubuhnya, mengharap kejernihan pikirannya.

Namun, sebelum Changmin sempat melangkah ke kamar mandi, ponselnya bergetar. Ia segera mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Tulisan ‘Manager Hyung’ tertera di layar ponselnya. Ia pun segera memencet tombol ‘Answer’ dan menempelkan ponsel ke telinga.

“Yoboseyo, Hyung?”

Changmin!” Manager Hyung seperti tercekat, ketakutan, atau semacamnya.

Changmin mengernyit bingung. “Ada apa, Hyung?”

Yunho. Jung Yunho.”

Changmin semaki tak mengerti. Kerutan di dahinya bertambah. “Ada apa dengan Yunho Hyung?” tanya Changmin penasaran. ia khawatir, jika sesuatu terjadi pada Hyung-nya itu.

Yunho…”

“Mwo?!”

Dan Changmin merasa seolah Tuhan sedang mempermainkan takdirnya.

TBC

***

Dee lagi seneng banget bikin fic DBSK :’D

Sebelumnya emang udah sering, tapi genre-nya romance. Kalo yang ini, genre-nya lebih ke Family dan Friendship.

Semoga kalian suka🙂

Love,

Jung Minrin

P.S. Nggak bosen-bosennya ngingetin, Always keep the faith to all Cassiopeia and BigEast :’)

2 responses to “[Series] The Shadow – Chapter 1

  1. Aku suka eon!!
    Ada apa dengan Yunho? Pasti bukan berita bagus kan?😀
    Oke lanjut ke chap 2!!

Mind to Leave Your Trail?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s